Pulau Sumatera, yang terbagi secara alami oleh rangkaian Pegunungan Bukit Barisan, memiliki dua ekosistem pesisir yang sangat kontras: pantai barat yang menghadap Samudra Hindia dan pantai timur yang berbatasan dengan Selat Malaka. Laporan ini menyajikan analisis komparatif mendalam mengenai karakteristik fisik, geologis, dan potensi sumber daya alam dari kedua wilayah tersebut. Pantai barat dicirikan oleh topografi yang curam, geologi tektonik aktif, dan kedalaman laut yang tiba-tiba, yang menghasilkan risiko bencana geologis yang tinggi, namun di saat yang sama, menciptakan potensi energi terbarukan yang melimpah dan kekayaan perikanan laut dalam. Sebaliknya, pantai timur adalah cekungan sedimen yang stabil, dicirikan oleh dataran rendah yang luas, lahan basah, dan sungai-sungai besar yang kaya endapan. Kondisi ini menjadi fondasi bagi ekonomi yang didominasi oleh energi fosil, perkebunan skala besar, dan akuakultur.

Analisis mendalam ini mengungkapkan bahwa karakteristik fisik setiap wilayah secara langsung membentuk peluang dan tantangan ekonominya. Di pantai barat, risiko gempa dan tsunami yang tinggi menuntut strategi pembangunan yang fokus pada mitigasi bencana dan pemanfaatan potensi alamnya melalui pariwisata petualangan dan pengembangan energi terbarukan. Sementara itu, di pantai timur, tantangan utama adalah degradasi lingkungan akibat eksploitasi yang tidak berkelanjutan dan kesenjangan ekonomi. Solusinya terletak pada transisi menuju pengelolaan sumber daya yang lebih teratur dan promosi akuakultur serta perkebunan yang ramah lingkungan. Kesimpulan utama dari laporan ini adalah bahwa tidak ada pendekatan tunggal untuk pembangunan di Sumatera; pemahaman yang bernuansa tentang profil unik setiap pesisir sangat krusial untuk merancang strategi pembangunan yang cerdas dan berkelanjutan di masa depan.

Geografi dan Konteks Makro Sumatera

Pulau Sumatera, pulau terbesar keenam di dunia, memiliki lanskap yang terbelah secara signifikan oleh Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari barat laut hingga tenggara. Pembagian geologis ini secara fundamental memisahkan pulau menjadi dua zona pesisir yang berbeda: pantai barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, dan pantai timur yang terlindung di balik pegunungan dan menghadap Selat Malaka. Kedua wilayah ini memiliki ciri geografis, ekologis, dan ekonomi yang sangat berbeda, yang menjadi inti dari laporan ini.

Secara administratif, pantai barat Sumatera mencakup sejumlah provinsi, di mana Sumatera Barat (Sumatera Barat) menjadi salah satu wilayah kuncinya. Provinsi lain yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dari utara ke selatan termasuk Aceh dan Bengkulu. Di sisi lain, wilayah pantai timur merupakan tempat bagi provinsi-provinsi seperti Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Wacana untuk memekarkan wilayah, seperti gagasan pembentukan “Provinsi Pantai Timur Sumatera” di Sumatera Utara, menunjukkan adanya aspirasi pembangunan regional yang unik dan spesifik untuk wilayah ini.

Tujuan, Ruang Lingkup, dan Metodologi

Tujuan utama laporan ini adalah untuk menyajikan analisis komparatif yang komprehensif mengenai karakteristik dan potensi alam di pantai barat dan pantai timur Sumatera. Laporan ini akan melampaui deskripsi permukaan, dengan menggali hubungan sebab-akibat antara kondisi fisik, geologi, hidrologi, dan pola pembangunan ekonomi di kedua wilayah.

Ruang lingkup laporan mencakup empat aspek utama: (1) karakteristik fisik dan geologi, (2) potensi sumber daya alam di sektor energi, perikanan, dan pertanian, (3) tantangan dan risiko pembangunan, dan (4) implikasi strategis untuk pembangunan berkelanjutan. Metodologi yang digunakan adalah analisis literatur dari berbagai sumber, termasuk laporan teknis, publikasi akademik, dan artikel berita, untuk membangun narasi yang koheren dan didukung oleh bukti. Laporan ini dirancang untuk memberikan wawasan yang mendalam bagi para pembuat kebijakan, investor, akademisi, dan publik yang tertarik pada dinamika pembangunan regional di Sumatera.

Karakteristik Fisik, Geologi, dan Lingkungan

Pantai Barat: Morfologi Curam dan Implikasi Tektonik Aktif

Pantai barat Sumatera memiliki karakteristik fisik yang sangat ditentukan oleh geologi tektonik aktif. Wilayah ini memiliki dataran rendah sempit di sepanjang pesisir, yang segera diikuti oleh dataran tinggi vulkanik yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan. Morfologi daratannya sangat curam, dengan kemiringan lereng bervariasi antara 0% hingga lebih dari 40%. Kerapatan kontur batimetri di perairan sekitarnya, terutama di selatan, menunjukkan kedalaman laut yang meningkat tajam, sebuah ciri khas dari wilayah yang aktif secara tektonik.

Kondisi geologis ini adalah konsekuensi langsung dari aktivitas tektonik regional. Pantai barat Sumatera berada di jalur Zona Subduksi Sumatera, di mana Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 50-60 mm per tahun. Pergerakan lempeng ini menjadi sumber utama gempa bumi dan berpotensi memicu tsunami besar. Selain zona subduksi, terdapat dua sistem sesar utama yang membelah pulau:

Mentawai Fault System (MFS) di laut, dan Sumatra Fault System (SFS) atau Sesar Sumatera yang membentang di daratan. Sesar-sesar aktif ini menjadi pemicu gempa bumi lokal dan risiko tanah longsor yang signifikan di wilayah pegunungan.

Aktivitas tektonik yang intens ini menciptakan dua tipe pantai yang berbeda. Pertama,  pantai berpasir landai, yang ditemukan di beberapa lokasi seperti di Pariaman dan Padang. Pantai jenis ini rentan terhadap inundasi tsunami karena kemiringan bibir pantai yang rendah. Kedua, pantai curam berbatu yang dicirikan oleh tebing-tebing tinggi yang tersusun dari batuan vulkanik. Pantai-pantai ini memiliki bentuk teluk dan kantong-kantong kecil. Ketinggian daratan pantai terhadap permukaan laut bervariasi, dengan beberapa area pemukiman yang sangat dekat dengan garis pantai, menjadikannya sangat rentan.

Pantai Timur: Morfologi Landai dan Cekungan Sedimen yang Stabil

Berbeda secara drastis dengan pantai barat, pantai timur Sumatera dicirikan oleh topografi yang sebagian besar landai hingga datar. Wilayah ini merupakan  lahan basah yang luas, yang sebagian besar terbentuk di sekitar muara sungai-sungai besar seperti Sungai Musi dan Sungai Batanghari. Geologi wilayah ini merupakan bagian dari cekungan sedimen (atau back-arc basin) yang meluas hingga ke Selat Malaka. Cekungan ini memiliki anomali Bouguer positif, yang menunjukkan kepadatan batuan yang lebih tinggi dan struktur geologis yang lebih stabil daripada zona pegunungan di barat.

Proses geologis di pantai timur didominasi oleh pengendapan sedimen. Sungai-sungai besar yang mengalir dari Pegunungan Bukit Barisan, seperti Sungai Musi dan Batanghari, bertindak sebagai pemasok sedimen utama ke wilayah pesisir. Aliran sedimen ini menyebabkan proses akresi (penambahan daratan) yang terus-menerus di area muara sungai. Proses tektonik yang terjadi di masa lalu, seperti sesar geser (strike-slip fault), telah membentuk struktur horst dan graben yang kemudian menjadi cekungan sedimentasi tempat endapan hidrokarbon terakumulasi.

Kondisi hidrologi di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh iklim monsun yang berubah arah dua kali dalam setahun. Hal ini mengakibatkan perubahan arah gelombang dan arus laut, yang berdampak pada dinamika pesisir. Gelombang yang didominasi oleh gelombang angin lokal (wind-sea) dan gelombang pasang (swell) secara bersamaan memengaruhi pergerakan sedimen di sepanjang garis pantai.

Wawasan Mendalam: Keterkaitan Karakteristik Fisik dengan Potensi dan Tantangan

Karakteristik fisik yang sangat berbeda antara pantai barat dan timur bukan hanya sekadar deskripsi geografis, melainkan fondasi yang menentukan potensi dan tantangan pembangunan.

Di pantai barat, kedekatan dengan zona subduksi dan keberadaan sistem sesar aktif secara langsung menjelaskan tingginya risiko gempa dan tsunami. Kerapatan kontur batimetri yang cepat menanjak, seperti di perairan Mukomuko , dapat mempercepat kedatangan gelombang tsunami ke daratan. Namun, kondisi geologis yang sama ini juga menciptakan Pegunungan Bukit Barisan yang kaya akan potensi energi terbarukan, seperti panas bumi dan hidro , dan topografi curam yang menciptakan perairan dalam ideal untuk perikanan pelagis laut lepas. Dengan demikian, bencana dan kekayaan adalah dua sisi dari satu kondisi geologis yang sama.

Sebaliknya, di pantai timur, kondisi geologis yang stabil dan topografi yang landai adalah prasyarat utama untuk pembentukan dataran aluvial dan lahan basah yang subur. Dukungan pasokan sedimen dari sungai-sungai besar dan kondisi hidrologi yang memungkinkan akresi secara historis menciptakan lingkungan yang sempurna untuk pengembangan sektor pertanian dan perkebunan skala besar, seperti yang telah terjadi sejak era kolonial. Kondisi ini juga menjadi lingkungan yang ideal untuk budidaya perikanan, seperti udang, yang membutuhkan lahan datar untuk tambak. Dengan kata lain, karakteristik fisik yang stabil di pantai timur menjadi fondasi bagi ekonomi ekstraktif dan agraris yang dominan.

Analisis Potensi Sumber Daya Alam dan Ekonomi Berbasis Pesisir

Sektor Energi: Kontras Energi Fosil vs. Terbarukan

Potensi energi di kedua pantai Sumatera mencerminkan perbedaan geologis yang mendasar. Pantai barat Sumatera, dengan topografi vulkanik dan tektonik aktifnya, memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Berdasarkan data Dinas ESDM Sumatera Barat (2021), potensi energi panas bumi (geotermal) mencapai 1,7 GWe, dengan proyek-proyek eksplorasi seperti sumur BNJ1-1 di Bonjol, Kabupaten Pasaman. Selain itu, potensi energi air (hidro) juga signifikan, sebesar 1,1 GW, yang telah dimanfaatkan di PLTA Danau Singkarak dan Maninjau. Ada juga potensi energi kinetik dari gelombang laut yang menghempas pantai, yang saat ini belum dimanfaatkan.

Di sisi lain, pantai timur Sumatera sangat kaya akan energi fosil. Wilayah ini merupakan penghasil minyak bumi dan gas alam terbesar di Indonesia. Ladang minyak bumi tersebar di beberapa daerah seperti Riau (Duri, Dumai) dan Sumatera Selatan (Plaju, Sungai Gerong). Cadangan gas alam yang melimpah juga ditemukan di Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir. Selain itu, cadangan batubara di Sumatera Selatan mencapai 18,13 miliar ton, dengan lokasi utama di Muara Enim dan Lahat. Kontras ini menunjukkan bahwa pergerakan lempeng di barat menciptakan sumber energi terbarukan, sementara kestabilan cekungan sedimen di timur memungkinkan akumulasi sumber daya energi fosil.

Sektor Kelautan dan Perikanan: Tangkap Laut Dalam vs. Akuakultur & Tangkap Laut Dangkal

Di pantai barat, potensi perikanan sebagian besar berfokus pada perikanan tangkap laut dalam di Samudra Hindia. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus di Kota Padang merupakan sentra perikanan utama di wilayah ini. Sumber daya ikan pelagis seperti tuna, cakalang, dan tenggiri merupakan target utama penangkapan. Berbagai alat tangkap digunakan, namun  handline (pancing ulur) menjadi alat yang paling efektif untuk menargetkan ikan tuna karena kemampuannya menjangkau kedalaman renang ikan tersebut. Produksi tuna di PPS Bungus sendiri menunjukkan fluktuasi, dari 51,45 ton pada tahun 2017 menjadi 102,64 ton pada tahun 2020, mencerminkan dinamika perikanan laut dalam.

Sementara itu, industri perikanan di pantai timur memiliki sejarah yang berbeda. Wilayah ini pernah menjadi pusat perikanan tangkap yang sangat produktif, diwakili oleh Bagan Siapi-Api di Riau yang pada era 1930-an merupakan kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia. Namun, kejayaan ini meredup akibat eksploitasi berlebihan dan praktik penangkapan yang tidak berkelanjutan, seperti penggunaan pukat harimau (trawl) yang merusak ekosistem dasar laut.

Seiring menurunnya hasil tangkapan laut, fokus ekonomi beralih ke sektor lain, termasuk budidaya perikanan (akuakultur). Potensi besar ditemukan pada budidaya udang putih (Litopenaeus vannamei) di wilayah pesisir Lampung dan Sumatera Selatan. Spesies ini unggul dengan produktivitas tinggi (mencapai lebih dari 13.600 kg per hektar), ketahanan terhadap penyakit, dan rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio – FCR) yang rendah. Namun, pengembangan sektor ini tidak tanpa masalah, karena konversi lahan hutan bakau menjadi tambak telah menyebabkan abrasi pesisir dan kerusakan lingkungan yang signifikan.

Sektor Perkebunan dan Pariwisata

Potensi pariwisata di pantai barat Sumatera sangat beragam dan didukung oleh keindahan alam serta kondisi fisiknya. Wisatawan dapat menemukan pantai pasir putih dengan ombak yang ideal untuk berselancar, terutama di Kepulauan Mentawai yang dikenal sebagai surga bagi peselancar kelas dunia. Destinasi lain seperti Pulau Pamutusan dan Pulau Mandeh menawarkan panorama memukau dan aktivitas  trekking. Selain itu, wilayah ini memiliki daya tarik wisata alam berbasis darat, seperti air terjun di kaki Bukit Barisan dan danau-danau vulkanik.

Di pantai timur, sektor perkebunan skala besar adalah andalan ekonomi. Sumatera dikenal sebagai “gudangnya” kelapa sawit dan karet. Berdasarkan sejarahnya, perkebunan ini telah menjadi tulang punggung ekonomi regional sejak era kolonial Belanda, dengan Deli di Sumatera Utara menjadi salah satu pusat perkebunan tembakau terbesar. Selain kelapa sawit dan karet, komoditas lain seperti kopi, cengkeh, dan kayu manis juga ditemukan di beberapa daerah. Pariwisata di wilayah ini lebih berfokus pada ekowisata lahan basah dan wisata sejarah yang terkait dengan jalur perdagangan Selat Malaka.

Wawasan Mendalam: Dinamika Transisi Ekonomi dan Risiko Pembangunan

Analisis historis menunjukkan adanya dinamika transisi ekonomi yang signifikan di pantai timur. Kejayaan perikanan tangkap di Bagan Siapi-Api runtuh akibat eksploitasi berlebihan dan regulasi yang kurang efektif, yang tercermin dari penggunaan alat tangkap merusak seperti trawl. Seiring dengan menurunnya hasil tangkapan laut, fokus ekonomi beralih secara alami ke sektor lain, terutama perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahan. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan lahan datar yang luas di pantai timur memfasilitasi pergeseran ini, yang menjadi respons terhadap degradasi sumber daya maritim.

Perkembangan sektor akuakultur, khususnya budidaya udang, di pantai timur menghadirkan dilema pembangunan yang kompleks. Meskipun sektor ini memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi sebagai komoditas ekspor, pertumbuhan yang tidak terkontrol telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Konversi lahan hutan bakau menjadi tambak udang, misalnya, menyebabkan abrasi pesisir dan hilangnya habitat penting bagi biota laut alami. Ini adalah contoh nyata di mana pertumbuhan ekonomi jangka pendek berpotensi merusak fondasi ekologis yang menopang produktivitas jangka panjang, menciptakan kebutuhan mendesak akan kebijakan pengelolaan yang berkelanjutan.

Tantangan dan Risiko Pembangunan Berkelanjutan

Tantangan utama di pantai barat adalah risiko bencana geologis yang inheren. Wilayah ini sangat rawan terhadap gempa bumi dan tsunami akibat posisinya di atas zona subduksi dan sesar-sesar aktif. Topografi yang curam tidak hanya membuat pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan rel kereta api menjadi mahal dan rumit, tetapi juga membuatnya rentan terhadap bencana sekunder seperti tanah longsor. Keterbatasan infrastruktur ini dapat menghambat akses dan mengurangi daya tarik investasi, meskipun memiliki potensi sumber daya yang besar.

Tantangan di Pantai Timur: Degradasi Lingkungan dan Disparitas Ekonomi

Di pantai timur, tantangan utama berpusat pada pengelolaan sumber daya yang tidak berkelanjutan dan kesenjangan sosial. Eksploitasi berlebihan di sektor perikanan, seperti yang terjadi di masa lalu dengan penggunaan trawl, telah merusak ekosistem. Di sektor akuakultur, konversi lahan bakau untuk tambak udang menyebabkan abrasi pesisir dan hilangnya habitat penting. Selain itu, model pembangunan yang didominasi oleh perusahaan besar, baik di sektor perkebunan maupun akuakultur, telah menciptakan  “ekonomi dualistik” yang menghasilkan kesenjangan yang signifikan antara pengusaha kecil/tradisional dan korporasi besar, yang seringkali memiliki akses yang lebih baik ke informasi dan fasilitas.

Implikasi dan Rekomendasi Strategis untuk Masa Depan

Ringkasan Komparatif dalam Bentuk Tabel

Tabel berikut menyajikan perbandingan komprehensif dari karakteristik, potensi, dan tantangan yang telah dianalisis.

Karakteristik Pantai Barat (Samudra Hindia) Pantai Timur (Selat Malaka)
Geologi & Topografi Morfologi curam, Pegunungan Bukit Barisan, tektonik aktif dengan zona subduksi dan sesar Sumatera. Morfologi landai dan datar, berupa lahan basah dan dataran aluvial. Merupakan bagian dari cekungan sedimen yang stabil.
Potensi Energi Energi terbarukan yang melimpah dari panas bumi (1,7 GWe) dan hidro (1,1 GW). Energi fosil utama, termasuk minyak bumi, gas alam, dan cadangan batubara (18,13 miliar ton).
Potensi Kelautan & Perikanan Perikanan tangkap laut dalam (ikan pelagis seperti tuna dan cakalang). Budidaya perikanan (akuakultur) seperti udang putih (Litopenaeus vannamei) , serta perikanan tangkap di laut dangkal.
Potensi Pertanian & Perkebunan Sektor pertanian atau perkebunan skala besar tidak dominan. Perkebunan skala besar (kelapa sawit, karet, dan kopi).
Potensi Pariwisata Pariwisata petualangan dan alam, seperti selancar (Mentawai), trekking di bukit, dan wisata air terjun. Ekowisata lahan basah di muara sungai dan wisata sejarah terkait perdagangan.
Tantangan Utama Risiko bencana geologis (gempa, tsunami), serta keterbatasan infrastruktur akibat topografi curam. Degradasi lingkungan (abrasi, hilangnya mangrove) dan kesenjangan ekonomi antara pengusaha besar dan nelayan/petani tradisional.

Berdasarkan analisis ini, beberapa rekomendasi strategis dapat diusulkan:

  1. Prioritaskan Investasi Infrastruktur Mitigasi Bencana di Pantai Barat. Alokasi dana pemerintah dan investasi swasta harus diarahkan pada pembangunan infrastruktur yang tangguh, sistem transportasi yang lebih aman di daerah rawan longsor, dan teknologi peringatan dini untuk mengurangi kerentanan terhadap bencana geologis.
  2. Kembangkan Kebijakan Pembangunan Akuakultur Berkelanjutan di Pantai Timur. Pemerintah perlu memperkenalkan regulasi yang lebih ketat mengenai konversi lahan, mempromosikan praktik budidaya yang berkelanjutan, dan memberikan insentif bagi perusahaan yang mengintegrasikan konservasi mangrove dalam model bisnis mereka.
  3. Promosikan Pariwisata Berbasis Komunitas dan Energi Terbarukan. Di pantai barat, investasi harus didukung untuk pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan, yang dapat memberikan manfaat ekonomi langsung kepada penduduk lokal. Selain itu, investasi pada proyek energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan membangun fondasi untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau.

Kesimpulan

Pantai barat dan pantai timur Sumatera adalah entitas geografis dan ekonomis yang kontras, namun saling melengkapi dalam gambaran besar pembangunan Pulau Sumatera. Pantai barat, yang dibentuk oleh kekuatan tektonik, memiliki lanskap yang menantang namun kaya akan potensi energi terbarukan dan perikanan laut dalam, meskipun disertai risiko bencana yang tinggi. Sebaliknya, pantai timur, dengan geologinya yang stabil, menjadi pusat ekonomi agraris dan energi fosil, meskipun menghadapi tantangan degradasi lingkungan dan kesenjangan ekonomi.

Pembangunan di Sumatera tidak dapat didekati dengan satu model tunggal. Pemahaman yang mendalam tentang karakteristik unik dari masing-masing pesisir adalah kunci untuk merancang strategi yang cerdas, berkelanjutan, dan tangguh di masa depan. Dengan memprioritaskan mitigasi bencana dan pemanfaatan potensi terbarukan di barat, serta mendorong pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dan pembangunan yang inklusif di timur, Sumatera dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan berketahanan dalam menghadapi tantangan yang akan datang.

 

Daftar Pustaka :

  1. PEMETAAN INDEKS KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA, accessed on September 18, 2025, https://lrsdkp.litbang.kkp.go.id/informasi-dan-dokumentasi/setiap-saat/paper?download=18:ramdhan-m-husrin-s-sudirman-n-al-tanto-t-2012-pemetaan-ideks-kerentanan-pesisir-terhadap-perubahan-iklim-di-sumbar-dan-sekitarnya-jurnal-segara-vol-8-no-2-p-107-115-138-issn-1907-0659&start=20
  2. Daftar Lengkap 38 Provinsi di Indonesia Beserta Ibu Kotanya!, accessed on September 18, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/research/20240827111434-128-566672/daftar-lengkap-38-provinsi-di-indonesia-beserta-ibu-kotanya
  3. Digagas, Pembentukan Provinsi Pantai Timur Sumatera – JPNN.com, accessed on September 18, 2025, https://www.jpnn.com/news/digagas-pembentukan-provinsi-pantai-timur-sumatera
  4. Pantai Timur OKI Dan Kikim Area Lahat Resmi Masuk Prolegnas Pemekaran Daerah -, accessed on September 18, 2025, https://sekilasmedia.com/2025/09/pantai-timur-oki-dan-kikim-area-lahat-resmi-masuk-prolegnas-pemekaran-daerah/
  5. 2 BAB II II GAMBARAN UMUM DAERAH, accessed on September 18, 2025, https://dp3ap2kb.sumbarprov.go.id/images/2022/12/file/2__Bab_II_final_compressed.pdf
  6. Mengapa Sumatera Barat Rawan Gempa Bumi? – Pusat Krisis, accessed on September 18, 2025, https://pusatkrisis.kemkes.go.id/mengapa-sumatera-barat-rawan-gempa-bumi
  7. Pantai Timur Sumatera: Lahan Basah di Muara Sungai Besar …, accessed on September 18, 2025, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/pantai-timur-sumatera-lahan-basah-di-muara-sungai-besar/
  8. Geo-Dynamics – Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, accessed on September 18, 2025, https://jgsm.geologi.esdm.go.id/index.php/JGSM/article/view/293/264
  9. geologi dan analisis tektonik daerah kampar sumatra tengah – ANALISIS TANAH LAPUKAN FORMASI BALIKPAPAN, accessed on September 18, 2025, https://jurnal.unpad.ac.id/bsc/article/download/8162/3734
  10. Medco Power Tajak Sumur Perdana di Proyek Bonjol, Sumatera Barat – Bisnis Liputan6.com, accessed on September 18, 2025, https://www.liputan6.com/bisnis/read/6158426/medco-power-tajak-sumur-perdana-di-proyek-bonjol-sumatera-barat
  11. Potensi Energi Terbarukan Sumbar, Pakar UNAND: Mesti ada Usaha Untuk Meningkatkan Jumlah Pemakaian, accessed on September 18, 2025, https://www.unand.ac.id/2023/387-pakar-unand-energi-terbarukan-sumbar
  12. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu daerah di …, accessed on September 18, 2025, https://repository.unja.ac.id/55115/2/BAB%20I.pdf
  13. POTENSI USAHA BUDIDAYA UDANG PUTIH (Litopenaeus …, accessed on September 18, 2025, https://repository.ut.ac.id/2484/1/fmipa201056.pdf
  14. Web – Tentang Sumatera Barat – Kemenag Sumbar, accessed on September 18, 2025, https://sumbar.kemenag.go.id/berita/post/tentang-sumatera-barat
  15. Emas Biru dari Sumatera: Menyelami Potensi Perikanan …, accessed on September 18, 2025, https://sumatranomics.com/artikel-blog/emas-biru-dari-sumatera-menyelami-potensi-perikanan-berkelanjutan/
  16. 14 Wisata Pantai di Padang Menikmati Keindahan Alam – BAMS -, accessed on September 18, 2025, https://bams.jambiprov.go.id/14-wisata-pantai-di-padang-menikmati-keindahan-alam/
  17. Ragam Potensi Desa Wisata di Sumatera Barat, accessed on September 18, 2025, https://kemenparekraf.go.id/hasil-pencarian/ragam-potensi-desa-wisata-di-sumatera-barat

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 1 =
Powered by MathCaptcha