Atlantis, kota yang hilang yang diceritakan tenggelam ke dalam kedalaman laut, adalah salah satu mitos paling kuat dan abadi dalam sejarah manusia. Legenda ini telah menjadi inspirasi tak terbatas bagi para penjelajah, seniman, penulis, dan peneliti amatir selama berabad-abad. Misterinya memicu perdebatan yang terus-menerus antara mereka yang mencari bukti fisik keberadaannya dan mereka yang memandangnya sebagai sebuah kisah alegoris. Narasi ini tidak hanya tentang peradaban yang kaya yang dihancurkan oleh bencana alam, tetapi juga tentang perdebatan yang lebih dalam antara fakta dan fiksi, ilmu pengetahuan dan spekulasi, serta moralitas dan kesombongan.

Tulisan ini bertujuan untuk mengurai misteri Atlantis secara holistik, memisahkan antara narasi asli yang diuraikan oleh Plato, interpretasi modern yang keliru, dan dampaknya yang tak terhapuskan pada budaya manusia. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin, yang mengintegrasikan analisis tekstual dari karya Plato, wawasan dari para sejarawan klasik, temuan geologi dan arkeologi, serta teori-teori dari bidang studi budaya. Dengan menempatkan legenda ini dalam konteks yang tepat, tulisan ini berupaya memberikan pemahaman yang bernuansa dan berbasis bukti tentang mengapa kisah Atlantis tetap begitu memikat hingga hari ini, meskipun tidak ada bukti konkret yang mendukungnya.

Fondasi Plato: Kisah Filosofis, Bukan Sejarah

Atlantis dalam Karya Plato: Sumber Utama dan Konteks Awal

Satu-satunya sumber primer dan paling kuno untuk legenda Atlantis adalah dialog-dialog yang ditulis oleh filsuf Yunani, Plato, sekitar 360 SM. Kisah ini diperkenalkan secara bertahap dalam dua karyanya, yaitu Timaeus dan Critias. Dalam dialog ini, Plato menggunakan narasi yang terstruktur seperti “cerita telepon” atau “kotak dalam kotak” untuk menyampaikan kisah tersebut. Cerita ini disampaikan oleh karakter bernama Critias, yang mengklaim telah mendengarnya dari kakeknya, yang pada gilirannya mendengarnya dari negarawan dan pembuat hukum Athena, Solon. Solon, selama perjalanannya ke Mesir, diceritakan telah menerima kisah ini dari seorang pendeta Mesir. Pendeta tersebut mengatakan bahwa kisah itu berasal dari catatan kuno Mesir yang berasal dari masa lampau.

Klaim bahwa cerita itu berasal dari catatan Mesir kuno adalah langkah retoris yang signifikan bagi Plato, karena hal itu memberikan kesan validitas historis pada narasi yang akan ia sampaikan. Namun, bagi para sejarawan, “cerita telepon” ini merupakan salah satu petunjuk terbesar yang menegaskan sifat fiktifnya. Petunjuk lain yang sangat penting adalah skala waktu yang disebutkan dalam dialog: pendeta Mesir mengklaim bahwa peradaban Atlantis dan perang antara Atlantis dan Athena kuno terjadi 9.000 tahun sebelum masa Solon. Ini berarti peristiwa tersebut terjadi ribuan tahun sebelum peradaban Athena bahkan ada, yang secara historis tidak mungkin. Faktanya, para ahli filologi dan ahli klasik saat ini sepakat bahwa legenda Atlantis adalah fiksi.

Anatomi Sebuah Alegori: Atlantis sebagai Eksperimen Pemikiran Plato

Plato bukanlah seorang sejarawan yang menulis catatan faktual; dia adalah seorang filsuf yang menggunakan narasi fiktif untuk tujuan pedagogis dan moral. Kisah Atlantis pada dasarnya berfungsi sebagai “eksperimen pemikiran” atau “parabel” untuk mengilustrasikan ide-ide idealnya tentang negara dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk menyampaikan pelajaran filosofis tentang kesombongan (hubris) dan kemerosotan moral suatu bangsa.

Atlantis digambarkan sebagai antitesis langsung dari Athena yang ideal. Ia adalah kekaisaran angkatan laut yang sombong dan kuat dari barat, yang telah menaklukkan sebagian besar Eropa dan Libya. Peradaban ini sangat kaya dan berteknologi maju, dengan arsitektur yang mewah dan sistem irigasi yang canggih. Masyarakatnya, yang konon merupakan keturunan dewa Poseidon, pada awalnya mulia dan adil. Namun, seiring waktu, mereka menjadi serakah, tidak bermoral, dan haus kekuasaan. Keangkuhan mereka mencapai puncaknya ketika mereka melancarkan perang yang tidak beralasan untuk menaklukkan Athena.

Dalam narasi Plato, Athena yang jauh lebih kecil tetapi adil berhasil mengalahkan pasukan Atlantis sendirian, yang menjadi bukti keunggulan model negara Plato. Setelah kekalahan ini, para dewa, yang muak dengan kesombongan Atlantean, menghukum mereka. Seluruh pulau Atlantis, bersama dengan para prajurit Athena, tenggelam ke dalam laut akibat gempa bumi dan banjir yang dahsyat “dalam satu hari satu malam”.

Sifat ganda Atlantis—sebagai kisah yang dirancang secara cermat versus sebagai fakta yang disalahpahami—menunjukkan mengapa legenda ini begitu membingungkan bagi para pembaca modern. Filsuf dan audiens Yunani kuno pada masa Plato akan langsung menyadari bahwa ini adalah sebuah fiksi, sebuah alat retoris yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Kisah ini adalah cermin bagi Athena pada zamannya, yang juga mulai menunjukkan tanda-tanda imperialisme dan kemewahan yang Plato kritik. Dengan menciptakan Atlantis yang jahat, Plato memberikan peringatan keras kepada bangsanya tentang bahaya keserakahan dan kesombongan. Namun, pembaca yang datang jauh di kemudian hari, yang tidak memiliki konteks budaya dan filosofis ini, cenderung menganggapnya sebagai sebuah catatan sejarah yang telah lama terlupakan, yang kemudian memicu pencarian fisik yang tak berdasar selama berabad-abad.

Tabel 1: Gambaran Atlantis Menurut Plato

Fitur Deskripsi Plato
Lokasi Di luar “Pilar Heracles” (Selat Gibraltar), di Samudra Atlantik
Waktu 9.000 tahun sebelum masa Solon (sekitar 9600 SM)
Geografi Pulau pegunungan di utara dan dataran besar berbentuk bujur sangkar di selatan. Kota terdiri dari cincin-cincin konsentris dari air dan daratan
Masyarakat Peradaban adidaya maritim yang diperintah oleh keturunan dewa Poseidon. Kaya raya, berteknologi maju, dan memiliki arsitektur yang mewah
Kehancuran Tenggelam ke dasar laut akibat gempa bumi dan banjir yang dahsyat dalam “satu hari satu malam”

Dari Mitos ke Pencarian Realitas

Konsensus Akademis: Menegaskan Atlantis sebagai Fiksi

Meskipun legenda Atlantis telah memicu banyak spekulasi, konsensus yang berlaku di kalangan sejarawan, arkeolog, dan ahli klasik adalah bahwa Atlantis bukanlah entitas historis. Ia dianggap sebagai fiksi filosofis murni yang mencerminkan ide-ide Plato. Argumen yang mendukung pandangan ini sangat kuat. Tidak ada satu pun sumber sejarah dari zaman Plato atau sebelumnya yang menyebutkan keberadaan benua atau pulau yang tenggelam di Samudra Atlantik. Selain itu, tidak ada bukti geologi atau arkeologi tentang adanya peradaban kuno yang hilang secara tiba-tiba di lokasi yang dicurigai. Argumen paling kuat berasal dari Plato sendiri, yang menempatkan peristiwa ini 9.000 tahun sebelum masanya, sebuah tanggal yang tidak sesuai dengan peradaban manusia yang diketahui pada saat itu.

Teori Inspirasi yang Paling Populer: Letusan Thera dan Peradaban Minoa

Meskipun sebagian besar akademisi sepakat bahwa Atlantis tidak nyata, banyak yang berteori bahwa Plato mungkin terinspirasi oleh peristiwa sejarah nyata yang kemudian ia ubah untuk tujuan filosofisnya. Teori yang paling populer dan banyak dibahas adalah keterkaitan legenda Atlantis dengan peradaban Minoa di Kreta dan letusan gunung berapi dahsyat di pulau Thera (sekarang dikenal sebagai Santorini) sekitar 1600 SM.

Peradaban Minoa, yang dinamai dari Raja Minos legendaris, adalah peradaban besar pertama di Eropa. Mereka adalah masyarakat maju dan berbasis maritim yang menguasai perdagangan di Laut Aegea, membangun istana-istana megah, jalan beraspal, dan memiliki bahasa tertulis. Peradaban ini tiba-tiba menghilang, dan banyak sejarawan percaya bahwa letusan gunung berapi di Thera yang sangat dahsyatlah yang menjadi penyebabnya. Letusan ini memicu gempa bumi dan tsunami besar yang menghancurkan peradaban Minoa di Kreta.

Ada beberapa kesamaan naratif yang mencolok antara legenda Atlantis dan peristiwa Thera-Minoa. Deskripsi Plato tentang Atlantis sebagai peradaban adidaya angkatan laut yang kuat dan canggih sangat mirip dengan peradaban Minoa. Kehancuran mendadak Atlantis akibat gempa bumi dan banjir mencerminkan nasib peradaban Minoa. Selain itu, topografi melingkar Thera setelah letusan juga memiliki kesamaan visual dengan kota Atlantis yang digambarkan Plato.

Namun, teori ini menghadapi kontra-argumen yang krusial, terutama terkait dengan kronologi. Ada kesenjangan waktu lebih dari 8.000 tahun antara tanggal yang diberikan Plato (sekitar 9600 SM) dan perkiraan ilmiah untuk letusan Thera (sekitar 1600 SM). Selain itu, ada keraguan apakah peradaban Yunani Klasik benar-benar memiliki ingatan historis tentang peristiwa yang terjadi ribuan tahun sebelumnya. Meskipun teori Thera-Minoa menawarkan narasi yang memikat, perbedaan kronologis yang fundamental ini menjadikannya mustahil sebagai catatan sejarah langsung. Namun, hal ini tidak mengecualikan kemungkinan bahwa Plato, melalui “cerita telepon” yang telah terdistorsi selama ribuan tahun, mungkin telah menggunakan memori samar-samar tentang bencana alam yang dahsyat ini sebagai inspirasi untuk alegorinya.

Tabel 2: Perbandingan Deskripsi Atlantis dan Peristiwa Letusan Thera

Fitur Deskripsi Atlantis Plato Peristiwa Thera/Peradaban Minoa
Lokasi Di luar Selat Gibraltar, Samudra Atlantik Laut Aegea, Mediterania
Waktu Sekitar 9600 SM (9.000 tahun sebelum Plato) Sekitar 1600 SM
Sifat Peradaban Adidaya maritim dan peradaban yang canggih Peradaban maritim besar pertama di Eropa
Geografi Pulau besar dengan dataran subur dan kota cincin Pulau Santorini yang hancur dengan kaldera melingkar
Kehancuran Tenggelam dalam satu hari satu malam akibat gempa dan banjir Hancur akibat letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami

Perjalanan Melintasi Teori-Teori Alternatif dan Pseudohistoris

Meskipun konsensus akademis menempatkan Atlantis sebagai fiksi, legenda ini terus menginspirasi teori-teori yang kurang didukung secara ilmiah, yang sering diklasifikasikan sebagai “pseudohistory.” Mitos modern tentang Atlantis sebagian besar dibentuk oleh buku tahun 1882 karya Ignatius L. Donnelly, seorang politisi dari Minnesota, yang berjudul Atlantis: The Antediluvian World. Donnelly menganggap kisah Plato sebagai sejarah faktual dan mengklaim bahwa Atlantis adalah asal dari semua peradaban kuno yang diketahui. Ide-ide yang kini diasosiasikan dengan Atlantis, seperti teknologi yang jauh melampaui masanya dan klaim bahwa Atlantis adalah Taman Eden, berasal dari karya Donnelly, bukan dari tulisan Plato. Karya Donnelly secara efektif menciptakan versi mitos yang jauh lebih dramatis dan sensasional.

Sejak saat itu, berbagai teori alternatif bermunculan, sebagian besar tanpa bukti kuat. Salah satu teori tersebut, yang dicetuskan oleh Charles Hapgood, mengklaim bahwa Atlantis terkubur di bawah lapisan es Antarktika. Teori ini didasarkan pada interpretasi yang salah terhadap Peta Piri Reis, sebuah peta dunia abad ke-16. Peta tersebut dianggap menunjukkan pantai Antarktika tanpa es, yang mengindikasikan adanya peradaban kuno yang memetakannya sebelum benua tersebut membeku. Namun, para ilmuwan telah membantah teori ini, menjelaskan bahwa “Antarktika” pada peta tersebut kemungkinan besar adalah representasi yang kurang akurat dari bagian bawah pantai Amerika Selatan.

Di Indonesia, terdapat pula teori yang mengklaim bahwa Atlantis adalah benua yang hilang yang kini tenggelam di Laut Jawa, yang juga dikenal sebagai Sundaland. Teori ini dikemukakan oleh Dhani Irwanto yang menyatakan telah mengumpulkan “60 bukti” yang mendukung klaim tersebut. Meskipun klaim ini menarik, komunitas ilmiah global tidak mengakuinya dan menganggapnya spekulatif, karena kurangnya fakta keras dan argumen ilmiah yang luar biasa yang diperlukan untuk membuktikan keberadaan peradaban yang hilang.

Perkembangan ini menunjukkan sebuah siklus umpan balik di mana alegori asli Plato disalahartikan sebagai sejarah. Kesalahan interpretasi ini kemudian diambil alih oleh tokoh-tokoh seperti Donnelly, yang menambahkan detail-detail fiksi yang lebih sensasional. Versi yang lebih dramatis dan fantastis ini kemudian diabadikan dalam budaya populer, yang pada gilirannya memperkuat keyakinan publik bahwa Atlantis adalah peradaban yang benar-benar hilang dengan teknologi canggih. Hal ini memicu lebih banyak pencarian pseudoscientific dan mempertahankan mitos, meskipun bukti ilmiah yang kuat menentangnya.

Tabel 3: Analisis Komparatif Teori-Teori Atlantis Populer

Teori Proponen Utama Lokasi yang Diajukan Klaim Utama Kritik Ilmiah
Alegori Plato Plato Di luar Pilar Heracles, Samudra Atlantik Fiksi filosofis yang digunakan untuk tujuan moral Konsensus akademis: bukan catatan sejarah
Minoa/Thera Sejumlah arkeolog Laut Aegea, Mediterania Legenda terinspirasi oleh letusan gunung berapi Thera dan kehancuran peradaban Minoa Perbedaan waktu lebih dari 8.000 tahun antara klaim Plato dan peristiwa geologis
Ignatius L. Donnelly Ignatius L. Donnelly Samudra Atlantik Atlantis adalah ibu dari semua peradaban kuno dan memiliki teknologi canggih Dianggap sebagai pseudohistory; klaim tidak ada dalam tulisan Plato
Antarktika (Hapgood) Charles Hapgood Antarktika Benua beriklim sedang yang bergeser dan terkubur di bawah es Klaim berdasarkan kesalahan interpretasi peta Piri Reis; teori geologi dibantah
Sundaland (Indonesia) Dhani Irwanto Laut Jawa, Indonesia Atlantis terletak di nusantara, sesuai dengan deskripsi Plato tentang daerah tropis dan sumber daya alam Dianggap spekulatif; tidak diakui oleh komunitas ilmiah global

Warisan Abadi dan Pengaruh Budaya Atlantis

Pengaruh Legenda pada Sastra dan Filsafat

Meskipun legenda Atlantis tidak nyata, signifikansi budayanya tidak dapat dilebih-lebihkan. Kisah ini memiliki pengaruh yang luar biasa pada sastra dan filsafat pasca-Plato. Selama era Renaisans, narasi alegoris Atlantis diambil alih dan diinterpretasikan ulang oleh para penulis utopis. Contoh yang paling terkenal adalah New Atlantis karya Francis Bacon, yang mengubah Atlantis dari sebuah peradaban yang sombong menjadi sebuah masyarakat ilmiah yang ideal. Dalam karyanya, Bacon menggunakan Atlantis sebagai platform untuk mengeksplorasi visi-visinya tentang sebuah masyarakat yang didedikasikan untuk ilmu pengetahuan, penemuan, dan pengetahuan. Ini menunjukkan bagaimana legenda dapat diadaptasi untuk tujuan filosofis yang berbeda.

Atlantis dalam Pop Culture: Dari Fiksi Ilmiah hingga Hiburan Modern

Atlantis telah menjadi tema sentral dalam berbagai media modern, mulai dari film bisu awal hingga film-film superhero modern. Film bisu Denmark tahun 1913 berjudul  Atlantis terinspirasi oleh tragedi tenggelamnya RMS Titanic, yang menunjukkan bagaimana legenda ini dapat digunakan untuk menceritakan kisah-kisah modern tentang bencana. Dalam fiksi ilmiah dan fantasi, Atlantis sering digambarkan sebagai peradaban yang sangat maju secara teknologi, sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Donnelly, bukan oleh Plato. Contohnya termasuk film-film seperti Atlantis: The Lost Continent (1961) dan film animasi Disney Atlantis: The Lost Empire (2001). Film-film superhero modern, seperti Aquaman (2018) dan sekuelnya, Aquaman and the Lost Kingdom (2023), juga menampilkan Atlantis sebagai peradaban bawah laut yang kuat, menyoroti aspek-aspek arogan dan invasif yang diambil dari narasi Plato. Transformasi ini menunjukkan bagaimana budaya populer sering kali mengambil versi mitos yang lebih dramatis dan sensasional, yang lebih berakar pada pseudohistory Donnelly daripada alegori asli Plato, yang menekankan pada kehancuran moral sebagai sebuah pelajaran.

Atlantis sebagai Arketipe: Sebuah Perbandingan dengan Legenda Benua yang Hilang Lainnya

Legenda tentang peradaban yang tenggelam di laut tidak unik bagi Yunani. Keberadaan mitos serupa di budaya lain menunjukkan bahwa ini adalah arketipe universal dalam kesadaran kolektif manusia. Salah satu contoh paling kuat adalah legenda Kumari Kandam, sebuah benua mitos yang tenggelam dalam tradisi Tamil. Mirip dengan Atlantis, Kumari Kandam digambarkan sebagai peradaban kuno dan maju yang dihancurkan oleh bencana alam dan banjir besar. Kisah ini juga dianggap sebagai asal-usul peradaban bagi budaya Tamil. Kedua legenda ini bahkan memiliki kesamaan tanggal, yaitu ribuan tahun yang lalu.

Kesamaan narasi ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang asal-usul legenda semacam itu. Mitos-mitos ini mungkin lahir dari ingatan yang samar-samar dan terdistorsi tentang peristiwa geologis nyata, seperti kenaikan permukaan laut pasca-zaman es yang menenggelamkan permukiman pesisir. Ingatan tentang bencana alam yang dahsyat ini kemudian diisi dengan makna moral tentang kesombongan, hukuman ilahi, dan kerapuhan peradaban. Oleh karena itu, Atlantis, sama seperti Kumari Kandam, tidak harus ada secara fisik untuk memiliki makna. Keduanya adalah cerminan dari kecemasan dan aspirasi manusia secara universal, tentang siklus kehancuran dan penciptaan ulang.

Kesimpulan

Analisis yang dilakukan secara komprehensif terhadap misteri Atlantis menunjukkan bahwa pencarian fisik untuk kota yang hilang itu adalah pengejaran yang salah arah. Nilai abadi dari legenda ini tidak terletak pada apakah ia nyata atau tidak, tetapi pada kekuatan naratifnya sebagai sebuah alegori. Kisah Atlantis adalah salah satu mitos terkuat yang pernah diciptakan karena, pada akhirnya, ia adalah sebuah teka-teki tentang diri kita sendiri. Ia mencerminkan kekhawatiran kita tentang kesombongan, kelemahan, dan siklus naik turunnya peradaban. Plato menggunakan Atlantis sebagai sebuah cermin untuk mengkritik masyarakatnya dan memperingatkan tentang bahaya kekuasaan dan kemewahan yang tidak diimbangi dengan moralitas dan keadilan.

Para pembaca modern sering kali salah menafsirkan pesan Plato, mengubah sebuah eksperimen filosofis menjadi sebuah misteri sejarah. Namun, meskipun bukti arkeologis dan geologis membantah keberadaannya, legenda Atlantis tetap relevan karena ia adalah pengingat abadi bahwa kemajuan dan kekuasaan tanpa etika pada akhirnya akan menuju kehancuran. Inilah alasan mengapa cerita ini, yang lahir dari visi seorang filsuf, terus mempesona dan menginspirasi kita hingga hari ini.

 

Daftar Pustaka :

  1. What did Plato say about Atlantis? – WisdomShort.com, accessed September 22, 2025, https://wisdomshort.com/philosophers/plato/on-atlantis
  2. Plato’s Atlantis as Told in His Socratic Dialogues – ThoughtCo, accessed September 22, 2025, https://www.thoughtco.com/platos-atlantis-from-the-timaeus-119667
  3. Pembuktian Teori Plato tentang Misteri Atlantis, Kota yang Hilang …, accessed September 22, 2025, https://nationalgeographic.grid.id/read/133972634/pembuktian-teori-plato-tentang-misteri-atlantis-kota-yang-hilang?page=all
  4. Atlantis | Description & Legend | Britannica, accessed September 22, 2025, https://www.britannica.com/topic/Atlantis-legendary-island
  5. Asal-usul Atlantis, Pulau yang Mengemuka dalam Aquaman – Tirto.id, accessed September 22, 2025, https://tirto.id/asal-usul-atlantis-pulau-yang-mengemuka-dalam-aquaman-dcxW
  6. Teori Konspirasi Letak Kota Atlantis yang Misterius – Citizen6 Liputan6.com, accessed September 22, 2025, https://www.liputan6.com/citizen6/read/5495795/teori-konspirasi-letak-kota-atlantis-yang-misterius
  7. Atlantis, Negeri di Laut Jawa – Mongabay, accessed September 22, 2025, https://mongabay.co.id/2021/02/02/atlantis-negeri-di-laut-jawa/
  8. What happened to Kumari Kandam/Mu/Atlantis if they did exist? Did they exist? – Reddit, accessed September 22, 2025, https://www.reddit.com/r/UnresolvedMysteries/comments/2conkf/what_happened_to_kumari_kandammuatlantis_if_they/
  9. 6 Teori Terpopuler tentang Atlantis, Mana yang Kamu Percaya? – IDN Times, accessed September 22, 2025, https://www.idntimes.com/science/discovery/teori-terpopuler-tentang-atlantis-00-jx89k-l82kxk
  10. Thera, Crete and Atlantis: Is the Minoan hypothesis valid?, accessed September 22, 2025, https://www.arcus-atlantis.org.uk/atlantis/thera-crete-and-atlantis.html
  11. Sinking Atlantis | The Fall of the Minoans | Secrets of the Dead – PBS, accessed September 22, 2025, https://www.pbs.org/wnet/secrets/the-fall-of-the-minoans/61/
  12. Is Santorini the Real Atlantis? Exploring the Myth & Evidence, accessed September 22, 2025, https://www.santorini-view.com/santorini-the-legend-of-atlantis/
  13. was Santorini the land of Atlantis?, accessed September 22, 2025, https://www.in-santorini.com/atlantis_santorini.html
  14. Atlantis: The Antediluvian World (1882) By: Ignatius Donnelly: Illustrated….Ignatius Loyola Donnelly (November 3, 1831 – January 1, 1901) was a U.S. Congressman, populist writer, and amateur scientist. – Barnes & Noble, accessed September 22, 2025, https://www.barnesandnoble.com/w/atlantis-ignatius-donnelly/1129043155
  15. The baffling Piri Reis Map of 1513: It showed Antarctica centuries before discovery, but without its ice cap | The Vintage News, accessed September 22, 2025, https://www.thevintagenews.com/2018/01/11/piri-reis-map-of-1513-2/
  16. Undeniable! 60 Proofs of Atlantis in Indonesia – Series Indonesia: The Heirs of Atlantis Part I, accessed September 22, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=v74CJzXXHcw
  17. Legenda 3 Benua yang Hilang dalam Sejarah Dunia – Kompas.com, accessed September 22, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2023/08/30/220000579/legenda-3-benua-yang-hilang-dalam-sejarah-dunia?page=all
  18. Films About Atlantis – Moria, accessed September 22, 2025, https://www.moriareviews.com/films-about-atlantis
  19. Peradaban Tertua di Dunia dan Benua Kumari Kandam yang Hilang – Semua Halaman – National Geographic Indonesia, accessed September 22, 2025, https://nationalgeographic.grid.id/read/132761703/peradaban-tertua-di-dunia-dan-benua-kumari-kandam-yang-hilang?page=all
  20. Kumari Kandam | Sundaland: Cradle of Civilizations, accessed September 22, 2025, https://atlantisjavasea.com/2016/04/09/kumari-kandam/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

84 − = 81
Powered by MathCaptcha