Tulisan ini menyajikan analisis mendalam mengenai jejak historis, sosial, dan politik komunitas Yahudi di Indonesia. Selama berabad-abad, keberadaan mereka terjalin dalam mozaik budaya Nusantara, namun sering kali diselimuti oleh kesalahpahaman. Untuk mengurai narasi yang kompleks ini, penting untuk memulai dengan dekonstruksi terminologi kunci yang sering disalahartikan dan disamakan secara keliru.
Dekonstruksi Terminologi Kunci
Yudaisme dan ke-Yahudi-an adalah dua konsep yang berbeda secara fundamental. Yudaisme didefinisikan sebagai sebuah agama monoteistik yang dapat dipeluk oleh siapa saja melalui serangkaian upacara konversi. Sebaliknya, ke-Yahudi-an juga merujuk pada identitas etnis dan budaya yang diturunkan, sering kali melalui garis keturunan ibu. Perbedaan ini menjelaskan mengapa individu yang secara etnis bukan keturunan Yahudi dapat menjadi seorang Yahudi.
Terminologi lain yang krusial untuk dipisahkan adalah Zionisme dan Israel. Zionisme adalah sebuah ideologi politik yang muncul pada abad ke-19, mengadvokasi pembentukan negara Yahudi di tanah leluhur mereka sebagai respons terhadap antisemitisme yang merajalela di Eropa. Ideologi ini menarik bagi banyak Yahudi yang putus asa pasca-Holocaust, yang melihat Zionisme sebagai jalan untuk memiliki tanah air di mana mereka tidak lagi menjadi minoritas yang rentan. Sementara itu, Israel adalah entitas politik modern yang didirikan pada tahun 1948.
Di Indonesia, ketidakjelasan antara konsep-konsep ini sering kali memicu konflik dan stigmatisasi. Sentimen politik yang menentang Negara Israel dan kebijakannya, terutama terkait isu Palestina, sering kali diproyeksikan secara keliru kepada komunitas Yahudi lokal. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi minoritas untuk secara terbuka mengklaim identitas mereka dan merupakan salah satu hambatan terbesar bagi keberadaan mereka. Tulisan ini akan berupaya mengurai kekeliruan tersebut dengan menyajikan fakta-fakta historis secara terpisah dan kontekstual.
Jejak Awal dan Gelombang Migrasi
Kehadiran Yahudi di Nusantara memiliki akar yang jauh lebih tua dari yang umumnya dipahami. Jejak mereka tidak semata-mata produk dari kolonialisme, melainkan bagian dari jaringan perdagangan global yang telah ada sejak abad pertengahan.
Koneksi Abad Pertengahan: Jalur Dagang Global
Narasi mengenai keberadaan Yahudi di kepulauan ini dimulai jauh sebelum era kolonial. Sejarah mencatat jejak paling awal pada tahun 1290, ketika seorang pedagang dari Fustat, Mesir, yang diduga beragama Yahudi, meninggal di pelabuhan Barus, Sumatera Barat. Temuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa interaksi antara orang Yahudi dan Nusantara telah terjadi sejak abad ke-13, bahkan interaksi dengan kepulauan ini sudah ada sejak abad ke-10, menghasilkan keturunan campuran.
Keberadaan Yahudi pada era pra-kolonial ini menantang narasi umum yang mengasosiasikan kehadiran mereka secara eksklusif dengan kedatangan bangsa Eropa. Jejak-jejak awal ini mengindikasikan bahwa mereka kemungkinan adalah pedagang yang berasimilasi secara bertahap, menjadikannya sulit untuk dilacak secara komunal.
Migrasi Era Kolonial: Antara Harapan dan Pelarian
Gelombang migrasi yang lebih terorganisir terjadi seiring dengan ekspedisi bangsa Eropa ke Asia Tenggara. Salah satu kelompok yang menonjol adalah Yahudi Marrano, yaitu Yahudi dari Spanyol atau Portugal yang dipaksa masuk Katolik selama Inkuisisi Spanyol. Mereka ikut dalam rombongan penjelajah Samudra dan memilih untuk membangun kehidupan baru di Asia Tenggara, di mana sebagian dari mereka kembali memeluk Yudaisme, sementara yang lain tetap menganut Katolik atau bahkan Islam.
Seiring berjalannya waktu, komunitas Yahudi di Hindia Belanda tumbuh lebih beragam. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, tiba gelombang Yahudi Sephardic dari Timur Tengah, seperti Irak, Yaman, Mesir, dan Suriah, yang kebanyakan terkonsentrasi di Surabaya dan Semarang. Bersamaan dengan itu, datang pula Yahudi Ashkenazi dari Eropa, termasuk Belanda, Jerman, dan Prancis, yang bekerja sebagai pedagang atau terkait dengan rezim kolonial. Komunitas ini, yang terdiri dari berbagai latar belakang, kelak membentuk fondasi kehidupan Yahudi yang lebih terorganisir di pusat-pusat kota kolonial.
Perkembangan Komunitas dan Kontribusi di Masa Kolonial
Pada masa kolonial, kehadiran Yahudi di Nusantara mulai menjadi lebih terstruktur, terutama di pusat-pusat ekonomi dan administrasi. Mereka berhasil membangun kehidupan komunal yang mapan, meskipun jumlahnya relatif kecil.
Pusat-Pusat Kehidupan dan Ekonomi
Orang-orang Yahudi di Batavia (sekarang Jakarta), Surabaya, dan Semarang menjadi pedagang dan pegawai pemerintah yang sukses. Di Batavia, banyak pedagang Yahudi menjual permata, jam tangan, dan kacamata. Beberapa di antaranya bahkan membuka toko di kawasan elite seperti Jalan Noordwijk (sekarang Jalan Juanda) dan Jalan Rijswijk (sekarang Jalan Veteran).
Salah satu figur yang menonjol dari masa VOC adalah Juda Leo Ezechiel Igel, atau yang lebih dikenal sebagai Leendert Miero. Ia adalah seorang penambang emas yang sukses dan memiliki properti luas di kawasan Pondok Gede. Kisahnya menunjukkan bahwa individu Yahudi telah berkontribusi pada perekonomian Hindia Belanda jauh sebelum komunitas terorganisir muncul.
Institusi Keagamaan dan Kehidupan Sosial
Komunitas Yahudi yang terorganisir pertama di Nusantara, Israelitische Gemeente Soerabaia (Jemaat Israel di Surabaya), didirikan pada tahun 1923 oleh sekelompok imigran Yahudi Irak. Komunitas ini memainkan peran penting dalam menyatukan berbagai kelompok Yahudi, baik Sephardic maupun Ashkenazi, yang datang dari beragam latar belakang. Awalnya, mereka menggunakan ruangan sewaan untuk ibadah, dan acara-acara penting seperti pernikahan sering kali diadakan di rumah pribadi. Pada tahun 1948, jemaat ini berhasil membeli sebuah rumah pribadi di Jalan Kayoon, Surabaya, dan mengubahnya menjadi sinagoge permanen. Tanda lain dari kehidupan komunal yang mapan adalah pendirian pemakaman khusus Yahudi di Surabaya pada tahun 1926, yang pada saat itu merupakan satu-satunya di Indonesia.
Sosok Kontroversial: Christiaan Snouck Hurgronje
Dalam pembahasan mengenai jejak Yahudi di Indonesia, nama Christiaan Snouck Hurgronje sering kali muncul. Seorang orientalis Belanda dan penasihat pemerintah kolonial yang terkenal, Snouck memiliki kakek dari pihak ibu yang berdarah Yahudi, tetapi keluarganya telah berasimilasi dan menjadi Protestan yang taat.
Perannya di Hindia Belanda sangat signifikan, terutama sebagai ahli strategi dalam Perang Aceh. Untuk memahami masyarakat Aceh, ia bahkan berpura-pura masuk Islam dan mengambil nama Abdul Ghaffar. Snouck menganjurkan kebijakan divide et impera (adu domba) untuk memecah belah kaum ulama dan kaum adat. Ia juga mengusulkan operasi militer untuk melumpuhkan perlawanan rakyat, dibantu oleh jaringan mata-mata pribumi.
Penting untuk memisahkan warisan genetik dengan identitas budaya atau komunal. Snouck Hurgronje bukanlah representasi dari komunitas Yahudi di Nusantara. Ia adalah seorang Protestan taat yang memainkan peran sebagai seorang agen kolonial dan orientalis. Kasusnya menyoroti pentingnya membedakan antara latar belakang etnis seseorang dan tindakan individu dalam panggung sejarah dan politik.
Badai Perang, Kebangkitan Nasional, dan Eksodus
Masa-masa setelah Perang Dunia II menandai titik balik yang dramatis bagi komunitas Yahudi di Indonesia, yang mengalami trauma dan menghadapi keputusan sulit antara tinggal atau pergi.
Masa Sulit di Bawah Pendudukan Jepang
Pada tahun 1942, ketika tentara Jepang menduduki Hindia Belanda, diperkirakan ada sekitar 3.000 orang Yahudi di Indonesia. Mereka mengalami perlakuan yang sama dengan bangsa Eropa non-Yahudi lainnya: diburu, ditangkap, dan diinternir di kamp-kamp konsentrasi. Pada pertengahan tahun 1943, kerja sama antara Jepang dan Jerman berujung pada penangkapan semua orang Yahudi, termasuk yang berasal dari Irak, yang sebelumnya sempat diizinkan untuk tetap bebas. Pengalaman traumatis ini menjadi salah satu pendorong utama bagi mereka untuk mencari kehidupan yang lebih stabil di tempat lain.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Meskipun menghadapi kesulitan, beberapa keturunan Yahudi justru memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Charles Mussry dari Surabaya, seorang pengusaha bengkel keturunan Yahudi Irak. Ia tercatat berjuang bersama milisi nasionalis untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia. Selain itu, ada juga kisah
John Cohen, seorang Yahudi Komunis dari Australia yang menjalin kontak dengan pemuda pro-Republik Indonesia dan mengusahakan senjata untuk perjuangan mereka. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa loyalitas mereka sepenuhnya berada di pihak Indonesia, membantah stereotip yang mengaitkan mereka dengan kekuasaan kolonial.
Eksodus Massal dan Keterkaitannya dengan Zionisme
Setelah berdirinya Negara Israel pada tahun 1948, banyak anggota komunitas Yahudi di Indonesia beremigrasi, dan populasi mereka menurun drastis dalam satu dekade. Penurunan ini disebabkan oleh tiga faktor yang saling terkait.
Pertama, daya tarik ideologi Zionisme. Setelah Holocaust, Zionisme menawarkan harapan baru dan tanah air bagi diaspora Yahudi yang menjadi korban penyiksaan dan kekerasan di Eropa. Ide ini juga menarik bagi komunitas Yahudi di Bandung dan Surabaya, yang melihat Israel sebagai tempat untuk memulai hidup baru setelah trauma pendudukan Jepang.
Kedua, faktor politik lokal yang tidak stabil. Sentimen anti-Yahudi meningkat di Indonesia sebagai dampak dari konflik global, seperti Krisis Suez, serta kebijakan nasionalis pasca-kemerdekaan yang menargetkan warga negara asing. Lingkungan yang semakin tidak bersahabat ini mendorong banyak orang untuk beremigrasi.
Gabungan dari trauma masa perang, daya tarik global dari Zionisme, dan gejolak politik di Indonesia menjelaskan mengapa populasi Yahudi yang mapan bisa nyaris hilang dalam satu dekade. Kombinasi faktor ‘penarik’ (daya tarik Israel) dan ‘pendorong’ (trauma dan sentimen anti-Yahudi di Indonesia) secara efektif mengosongkan komunitas yang telah ada selama berabad-abad.
Sebuah Oase di Sulawesi Utara: Kisah Komunitas Kontemporer
Di tengah hampir hilangnya jejak Yahudi di sebagian besar Indonesia, terdapat sebuah anomali yang mencolok di Sulawesi Utara. Wilayah ini menjadi satu-satunya tempat di mana komunitas Yahudi modern dapat beroperasi secara terbuka dan bahkan membangun institusi keagamaan.
Kebangkitan di Tondano dan Manado
Manado, yang dikenal sebagai “benteng Kristen” dengan populasi yang secara historis memiliki warisan Belanda yang kuat, telah menciptakan lingkungan yang secara unik toleran terhadap minoritas non-Islam. Lingkungan ini sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia, di mana sentimen anti-Yahudi lebih dominan. Kontras ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap minoritas sangat bergantung pada dinamika sosial dan demografi lokal.
Figur Kunci dan Simbol Kebangkitan
Kebangkitan komunitas ini tidak lepas dari peran figur-figur kunci seperti Yaakov Baruch, seorang pria muda yang menemukan kembali warisan Yahudinya setelah dibesarkan sebagai seorang Kristen. Dengan bantuan seorang pria non-Yahudi, Yaakov berhasil mendirikan Sinagoge Sha’ar Hashamayim di Tondano pada tahun 2004, yang kini menjadi satu-satunya sinagoge yang berfungsi di Indonesia.
Keterbukaan komunitas ini juga diwujudkan melalui pembangunan Tugu Menorah di Manado, yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Tugu ini, yang didirikan dengan restu pemerintah daerah, telah menjadi simbol toleransi dan identitas Yahudi yang terbuka, sangat kontras dengan penghancuran sinagoge di Surabaya di tengah sentimen anti-Israel. Ini menunjukkan bahwa ketika identitas agama dan budaya Yahudi dapat terisolasi dari konflik politik internasional, ia dapat hidup berdampingan dengan damai.
Dilema Identitas dan Kontroversi Publik
Meskipun terdapat kisah-kisah kebangkitan, komunitas Yahudi di Indonesia secara keseluruhan menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait dilema identitas dan kontroversi politik yang sering kali membayangi keberadaan mereka.
Tantangan Administrasi dan Stereotip
Salah satu tantangan nyata adalah masalah birokrasi, terutama terkait Kartu Tanda Penduduk (KTP). Karena Yudaisme tidak diakui secara resmi sebagai salah satu dari enam agama yang disahkan oleh pemerintah, penganutnya terpaksa mencantumkan agama lain di KTP, sering kali memilih Kristen karena alasan kemudahan dan menghindari masalah sosial. Komunitas seperti The United Indonesian Jewish Community (UIJC) di Jakarta mencerminkan kenyataan ini, di mana banyak anggotanya adalah keturunan Yahudi yang telah berasimilasi ke dalam agama lain.
Studi Kasus Kontroversial
Dua kasus kontroversial menyoroti betapa rentannya keberadaan komunitas Yahudi terhadap sentimen politik di Indonesia.
Pertama, Penghancuran Sinagoge Surabaya. Sinagoge yang didirikan pada tahun 1923 dan menjadi sinagoge permanen pada 1948 ini dihancurkan secara kontroversial pada tahun 2013. Penghancuran ini terjadi di tengah protes anti-Israel dan penolakan pemerintah daerah untuk menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya. Kasus ini menunjukkan secara gamblang bagaimana sentimen politik dapat secara langsung mengakibatkan hilangnya warisan sejarah dan budaya.
Kedua, Penolakan Museum Holocaust di Minahasa. Pada tahun 2022, fraksi PKS di DPR mendesak pemerintah untuk menutup Museum Holocaust yang didirikan oleh komunitas Yahudi di Minahasa. Alasan penolakan tersebut bukan karena penolakan terhadap sejarah Holocaust, melainkan karena proyeksi sentimen anti-Israel. Anggota DPR tersebut menyatakan bahwa “pembuat museum (Bangsa Yahudi Israel) saat ini sedang melakukan kekejaman-kekejaman kepada rakyat Palestina”.
Dua kasus ini menunjukkan bahwa di benak sebagian besar masyarakat Indonesia, tidak ada perbedaan antara Yahudi sebagai etnis/agama, Zionisme sebagai ideologi, dan Israel sebagai entitas politik. Identitas Yahudi di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari konflik di Timur Tengah, menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi minoritas untuk secara terbuka mengklaim identitas mereka.
Kesimpulan
Jejak Yahudi di Nusantara adalah sebuah mosaik sejarah yang rumit dan multi-dimensi. Narasi mereka mencakup kehadiran pedagang kuno, komunitas kolonial yang terorganisir, pejuang kemerdekaan, dan komunitas modern yang menghadapi tantangan identitas. Komunitas ini sangat heterogen, terdiri dari berbagai latar belakang seperti Ashkenazi, Sephardic, Marrano, Yahudi Irak, dan Yaman.
Warisan fisik dari keberadaan mereka sebagian besar telah menghilang, seperti yang disaksikan dalam kasus Sinagoge Surabaya. Namun, beberapa jejak masih bertahan, seperti beberapa pemakaman Yahudi di Aceh, Semarang, Surabaya, Pangkalpinang, Palembang, dan Sulawesi Utara , serta nama-nama keluarga yang mengidentifikasi kembali akar mereka.
Prospek masa depan komunitas Yahudi di Indonesia kemungkinan akan tetap terfragmentasi. Komunitas yang sangat kecil ini akan terus tersebar dan sebagian besar terasimilasi, dengan “oase” seperti Manado menjadi satu-satunya tempat di mana identitas mereka dapat ditampilkan secara terbuka.
Untuk masa depan, ada kebutuhan krusial bagi masyarakat Indonesia untuk memisahkan isu-isu keagamaan dan etnis dari politik luar negeri. Pengaburan terminologi telah merusak pemahaman publik dan menciptakan iklim yang tidak bersahabat bagi komunitas yang telah ada selama berabad-abad ini.
Lampiran: Tabel Data
Tabel 1: Kronologi Penting Kehadiran Yahudi di Nusantara
| Tahun | Peristiwa |
| Abad ke-10 | Interaksi awal antara orang Yahudi dan Nusantara. |
| 1290 | Seorang pedagang Yahudi dari Mesir meninggal di Barus, Sumatera Barat. |
| 1923 | Pendirian Israelitische Gemeente Soerabaia, komunitas Yahudi terorganisir pertama. |
| 1926 | Pembentukan pemakaman Yahudi di Surabaya. |
| 1942-1945 | Sekitar 3.000 orang Yahudi diinternir oleh Jepang. |
| 1948 | Berdirinya Negara Israel; awal eksodus massal komunitas Yahudi dari Indonesia. |
| 2013 | Penghancuran Sinagoge Surabaya. |
| 2014 | Pembukaan Sinagoge di Jayapura. |
| 2022 | Kontroversi seputar Museum Holocaust di Minahasa. |
Tabel 2: Nilai Perdagangan Indonesia-Israel (2018-2022) dalam Juta USD
| Tahun | Ekspor RI ke Israel (US$) | Impor RI dari Israel (US$) |
| 2018 | 123,000,000 | 46,700,000 |
| 2019 | 120,600,000 | 25,300,000 |
| 2020 | 157,500,000 | 56,500,000 |
| 2021 | 162,900,000 | 26,500,000 |
| 2022 | 185,600,000 | 47,800,000 |
