Pasar modal di kawasan Asia Pasifik saat ini beroperasi di tengah lingkungan yang ditandai oleh divergensi ekonomi global dan ketegangan geopolitik. Meskipun volatilitas pasar yang substansial telah diamati, pasar modal regional secara kolektif menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan pertumbuhan, didorong oleh reformasi kebijakan yang spesifik di berbagai yurisdiksi.

Secara struktural, lanskap kapitalisasi pasar Asia telah mengalami pergeseran signifikan. Bursa Efek Shanghai (SSE) menempati posisi sentral, diakui sebagai bursa saham terbesar di Asia dan ketiga terbesar secara global. Kapitalisasi pasarnya melebihi US$6.41 triliun pada September 2024. Dominasi ini secara langsung mencerminkan kekuatan ekonomi Tiongkok Daratan, meskipun pasar ini masih diatur oleh kontrol akun modal yang ketat oleh otoritas Daratan, menjadikannya belum sepenuhnya terbuka bagi investor asing.

Poin Kunci dan Tren Struktural

Analisis mendalam terhadap bursa-bursa utama di Asia menunjukkan empat tren struktural utama yang memengaruhi alokasi modal institusional:

  • Akselerasi India: Penguatan posisi India di antara bursa terbesar dunia adalah perubahan struktural yang paling menonjol. Kapitalisasi pasar India telah melampaui Hong Kong, naik ke peringkat ke-4 global dengan nilai sekitar US4.33triliun,dibandingkanHongKongyangmencapaiUS4.29 triliun. Perpindahan ini menandai ketertarikan modal menuju pasar emerging India, didukung oleh prospek pertumbuhan domestik yang kuat dan inisiatif efisiensi operasional terdepan, seperti rencana penyelesaian T+1/T+0.
  • Reformasi Berbasis Nilai di Asia Utara: Jepang dan Korea Selatan secara aktif mengatasi masalah diskon valuasi historis—dikenal sebagai PBR (Price-to-Book Ratio) yang rendah di Jepang dan Korea Discount di Korea Selatan—melalui inisiatif tata kelola korporat yang berorientasi pada pemegang saham. Program-program seperti “Corporate Value-Up” Korea dan dorongan peningkatan PBR Jepang telah menjadi fokus utama, bertujuan untuk memaksa perusahaan meningkatkan pengembalian modal dan komunikasi dengan investor.
  • Tekanan Efisiensi Pasca-Perdagangan: Adopsi siklus penyelesaian T+1 di pasar Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan substansial pada pasar Asia Pasifik (APAC). Pasar APAC yang mayoritas beroperasi pada T+2 harus meningkatkan kecepatan proses afirmasi perdagangan, konversi valuta asing (FX), dan penarikan pinjaman sekuritas secara drastis dalam jendela waktu yang sangat singkat. Kegagalan dalam otomatisasi post-trade berisiko meningkatkan operational friction dan mengancam daya saing bursa regional.
  • Inovasi dan Keberlanjutan: Pusat keuangan seperti Singapura dan Hong Kong memimpin dalam mengintegrasikan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan mandat pelaporan yang ketat dan mengeksplorasi Distributed Ledger Technology (DLT)/tokenisasi untuk modernisasi infrastruktur penyelesaian, yang dipandang sebagai solusi untuk tantangan efisiensi T+1 di masa depan.

Perbandingan Kinerja, Skala, dan Profil Sektoral

Metrik Kapitalisasi Pasar dan Kinerja Indeks Acuan (YoY)

Kinerja bursa Asia hingga kuartal terakhir 2025 menunjukkan divergensi yang mencolok, dengan pasar Asia Utara mencatat kenaikan tertinggi, sebagian besar didorong oleh ekspektasi reformasi dan likuiditas global yang kuat.

Table 1: Kapitalisasi Pasar dan Kinerja Indeks Acuan Asia

Bursa/Negara Indeks Acuan Kapitalisasi Pasar Global (US$ T) Kinerja 1-Tahun (YoY) Tanggal Kinerja
Tiongkok (SSE) SHANGHAI Composite ~6.41 +18.88% Okt 2025
Jepang (TSE) JP225 ~6.5 +21.90% Okt 2025
India (NSE/BSE) SENSEX/NIFTY 50 ~4.33 +0.53% (Sensex) Okt 2025
Hong Kong (HKEX) HK50 ~4.29 +26.25% Okt 2025
Korea Selatan (KRX) KOSPI N/A +32.03% Sep 2025
Singapura (SGX) STI N/A +25.9% (Total Return) Sep 2025

Indeks Korea Selatan (KOSPI) menunjukkan kenaikan tahunan yang paling impresif, sebesar +32.03% hingga September 2025, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 3420.23 poin. Kinerja tinggi ini diikuti oleh Indeks Hang Seng Hong Kong (HK50) sebesar +26.25% dan Indeks Jepang (JP225) sebesar +21.90%, yang juga mencapai rekor tertinggi pada Oktober 2025. Kinerja superior ini, terutama di Korea dan Jepang, bukan hanya fenomena siklus ekonomi, tetapi juga mencerminkan antisipasi investor institusional terhadap dampak positif reformasi tata kelola yang sedang berlangsung di kedua negara tersebut. Investor diyakini telah melakukan preemptive pricing terhadap janji perbaikan pengembalian modal.

Sebaliknya, meskipun kapitalisasi pasar India terus tumbuh dan melampaui Hong Kong , indeks acuan SENSEX hanya mencatat kenaikan tahunan yang relatif moderat sebesar +0.53% hingga Oktober 2025, menunjukkan bahwa valuasi telah mencapai tingkat yang matang, atau pasar sedang berkonsolidasi setelah reli yang panjang.

Profil Sektoral dan Perusahaan Blue-Chip

Struktur pasar Asia berbeda-beda, dipengaruhi oleh fokus ekonomi domestik masing-masing negara:

  • Tiongkok dan Hong Kong: Bursa Shanghai memiliki representasi sektor keuangan yang kuat, dengan empat dari sepuluh perusahaan terbesar Tiongkok merupakan bank-bank besar, kontras dengan dominasi teknologi di pasar Barat. Hong Kong Exchange (HKEX) mencantumkan perusahaan blue-chip seperti Xiaomi, CNOOC, dan AIA, mencakup teknologi, energi, dan asuransi.
  • Jepang: Sektor industri memegang dominasi yang kuat, mencakup 23% dari pasar saham Jepang. Sektor ini dipimpin oleh raksasa manufaktur global seperti Toyota.
  • India: Pasar India didukung oleh kinerja yang bervariasi, dipimpin oleh sektor Teknologi Informasi (IT) yang kuat, seperti Infosys dan TCS, serta sektor Perbankan dan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). Blue-chip di India mencakup perusahaan besar seperti Reliance Industries dan ICICI Bank.
  • Indonesia: Bursa Efek Indonesia (IDX) didorong oleh saham-saham heavyweight di sektor perbankan (misalnya, Bank Central Asia/BBCA) dan, semakin meningkat, energi terbarukan (misalnya, Barito Renewables Energy/BREN), yang mencerminkan upaya Indonesia dalam transisi energi dan kebutuhan modal.
  • Singapura: Straits Times Index (STI) melacak 30 perusahaan terbesar dan paling likuid. Sektor Real Estat (melalui REITs seperti Mapletree dan CapitaLand) serta perbankan memiliki peran dominan. REITs Singapura dikenal karena menawarkan dividen yang konsisten, menarik bagi investor yang mencari pendapatan stabil.

Kerangka Regulasi dan Akses Investor Asing

Akses bagi investor asing ke pasar saham Asia diatur melalui berbagai mekanisme, yang mencerminkan tingkat kontrol modal yang berbeda di setiap yurisdiksi.

Tiongkok Raya (Mainland dan Hong Kong): Kontrol Modal yang Dilonggarkan

Akses investor asing ke pasar Daratan Tiongkok (SSE dan SZSE) secara historis dibatasi oleh kontrol modal yang ketat.

  • Program QFII/RQFII: Program Qualified Foreign Institutional Investor (QFII), yang dimulai pada tahun 2002, awalnya memberikan izin khusus kepada investor internasional berlisensi untuk berinvestasi dalam saham “A” berdenominasi Yuan. Meskipun pada awalnya program ini menetapkan kuota, pembatasan kuota tersebut telah dihapus pada tahun 2019, langkah yang secara signifikan memperluas akses asing ke pasar modal Daratan. Program Renminbi Qualified Foreign Institutional Investor (RQFII) menawarkan rute investasi langsung tanpa memerlukan konversi mata uang.
  • Mekanisme Stock Connect: Program ini memungkinkan akses langsung timbal balik antara investor di Hong Kong dan Daratan Tiongkok. Bagi institusi asing, program ini memungkinkan mereka mengakses pasar Shanghai dan Shenzhen melalui pembukaan akun perdagangan di Hong Kong. Mekanisme Stock Connect menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan QFII, meskipun lingkup produk keuangannya masih terbatas pada pasar sekunder untuk saham “A” yang memenuhi syarat, tidak termasuk SSE STAR Market.
  • Dilema Gateway Hong Kong: Perluasan akses langsung ke Daratan Tiongkok (penghapusan kuota QFII) bertepatan dengan kebangkitan India di peringkat kapitalisasi pasar global. Perkembangan ini menghadirkan tantangan kompetitif bagi Hong Kong. Meskipun Stock Connect tetap vital, liberalisasi Tiongkok dari atas dan munculnya alternatif likuid regional (India) menekan peran eksklusif Hong Kong sebagai gateway utama, memaksanya untuk berinvestasi dalam efisiensi operasional mutakhir untuk mempertahankan keunggulannya.

India: FPI dan Batasan Kepemilikan Sektoral

India mengatur investasi asing melalui Foreign Portfolio Investor (FPI) Regime.

  • Regime FPI: Investor institusional yang ada di bawah rezim Foreign Institutional Investor (FII) atau Sub Accounts (SA) diizinkan bertransisi ke FPI dan terus beroperasi hingga masa berlaku registrasi mereka habis.
  • Batasan Kepemilikan: Meskipun pasar India terbuka, Reserve Bank of India (RBI) memantau batas kepemilikan asing maksimum. Batasan ini mencakup investasi agregat (GDR/ADR/FDI/NRI/PIO/FII), dan untuk perusahaan tertentu, batasan ‘Caution’ (47%) atau ‘Ban’ dapat diterapkan jika batas kepemilikan maksimum telah tercapai. Mekanisme ini memastikan kontrol domestik tetap terjaga pada sektor-sektor strategis atau perusahaan-perusahaan utama.

Singapura: Keterbukaan Tinggi dengan Pengecualian Sektoral

Singapura dikenal dengan kerangka regulasi yang sangat terbuka dan ramah asing.

  • Akses Liberal: Tidak ada pembatasan perdagangan terhadap broker saham yang dimiliki asing, dan tidak ada batasan agregat pada modal yang disetor dari dealer anggota Singapore Exchange (SGX). Investor asing dapat berinvestasi melalui berbagai saluran, termasuk kepemilikan saham langsung di SGX, Exchange-Traded Funds (ETFs), dan Singapore Depository Receipts (SDRs).
  • Kontrol Sektoral: Kontrol regulasi yang ketat hanya diterapkan pada sektor-sektor sensitif, seperti perusahaan penyiaran dan penerbitan surat kabar. Misalnya, perusahaan penyiaran dikenakan batas kepemilikan asing 49% dan memerlukan persetujuan sebelumnya untuk direktur utama dan setidaknya setengah dari direktur harus warga negara Singapura.

Reformasi Tata Kelola dan Peningkatan Nilai Perusahaan

Dua pasar utama Asia Utara, Jepang dan Korea Selatan, secara proaktif mengambil langkah-langkah struktural untuk meningkatkan daya tarik pasar mereka bagi investor global, khususnya dengan mengatasi masalah valuasi rendah yang persisten.

Inisiatif Peningkatan PBR Jepang (TSE)

Tokyo Stock Exchange (TSE) telah berfokus pada masalah utama bahwa PBR dan ROE Jepang masih rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Eropa. Inisiatif ini adalah bagian dari restrukturisasi pasar yang lebih luas yang bertujuan untuk memberi insentif pada kreasi nilai korporat jangka menengah hingga panjang.

  • Tindakan yang Diminta: Perusahaan yang terdaftar di Pasar Prime dan Standard diminta untuk secara berkelanjutan:
    1. Mendapatkan pemahaman yang tepat tentang biaya modal dan profitabilitas mereka.
    2. Menganalisis dan mengevaluasi status pasar dan valuasi saat ini di dewan direksi.
    3. Mengembangkan kebijakan, target, dan inisiatif spesifik untuk perbaikan (misalnya, melalui pengembalian modal yang lebih baik kepada pemegang saham).
    4. Mengungkapkan informasi yang jelas tentang rencana perbaikan ini kepada investor dan memperbarui pengungkapan tersebut setidaknya setahun sekali.
  • Sentimen Investor Asing: Inisiatif TSE telah menarik perhatian internasional yang signifikan. Investor asing memandang permintaan ini sebagai “sangat positif” dan telah mengindikasikan bahwa ini adalah salah satu faktor kunci di balik niat mereka untuk meningkatkan alokasi modal ke saham Jepang.

Program Corporate Value-Up Korea Selatan

Korea Selatan, yang secara konsisten menghadapi Korea Discount, meluncurkan Corporate Value-Up Program pada Februari 2024. Program ini secara eksplisit meniru kesuksesan reformasi serupa di Jepang sejak 2013.

  • Tujuan Strategis: Tujuan utamanya adalah meningkatkan valuasi saham domestik yang secara historis diperdagangkan lebih rendah dibandingkan dengan rekan-rekan pasar maju dan berkembang.
  • Tiga Pilar Utama: Program ini didasarkan pada insentif (seperti manfaat pajak) bagi perusahaan yang secara sukarela meningkatkan nilai, dukungan bagi investor untuk menilai kinerja (termasuk pembuatan “Korea Value-Up Index”), dan pembentukan sistem pendukung untuk implementasi jangka panjang.
  • Peluang dan Tantangan Implementasi: Analisis pasar menunjukkan bahwa perbaikan tata kelola ini berpotensi membuka peluang investasi di sektor-sektor yang didominasi oleh holding companies dan sektor otomotif, serta, pada tingkat lebih rendah, di sektor keuangan dan telekomunikasi. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen nyata dari Chaebol (konglomerat keluarga) yang secara tradisional kurang responsif terhadap tekanan pemegang saham minoritas dibandingkan korporasi Jepang. Program ini harus berhasil bertransisi dari janji sukarela menjadi standar yang diinternalisasi dan menghasilkan tindakan korporat yang nyata—seperti peningkatan dividen atau pembelian kembali saham—untuk membenarkan re-rating valuasi yang telah dilakukan oleh pasar yang bullish pada tahun 2025.

Infrastruktur Operasional dan Efisiensi Pasca-Perdagangan

Jam Perdagangan dan Akses Alternatif

Setiap bursa di Asia memiliki jadwal perdagangan yang disesuaikan dengan regulasi dan zona waktu lokal:

  • Jepang (TSE): Sesi Lelang utama terdiri dari sesi pagi (09:00–11:30 JST) dan sesi sore (12:30–15:30 JST). TSE juga mengoperasikan sistem perdagangan ToSTNeT yang menyediakan perdagangan saham tunggal di luar jam lelang normal (8:20–18:00).
  • Indonesia (IDX): Operasi dibagi menjadi Sesi 1 (09.00–12.00 WIB) dan Sesi 2 (13.30–15.00 WIB) pada hari kerja biasa. IDX juga menggunakan periode pra-pembukaan dan pra-penutupan (non-cancellation period) untuk mengatur harga eksekusi.
  • Korea Selatan (KRX): Pasar Korea sedang bertransformasi dengan pengenalan Alternative Trading System (ATS) seperti Nextrade, yang disetujui pada Februari 2025 dan mulai beroperasi pada Maret 2025. ATS ini diharapkan dapat memperpanjang jam perdagangan di luar sesi reguler (misalnya, pasar pra-pembukaan antara 08:00 dan 08:50), meningkatkan fleksibilitas dan persaingan.

Siklus Penyelesaian (Settlement Cycle) dan Dampak T+1 Global

Mayoritas pasar Asia, termasuk Hong Kong (HKEX), Jepang (TSE), dan Korea Selatan (KRX), secara tradisional beroperasi pada siklus penyelesaian T+2 (dua hari kerja setelah tanggal perdagangan). Namun, perubahan global telah menciptakan tekanan mendesak.

  • Pergeseran Global: Keputusan AS, Kanada, dan Meksiko untuk beralih ke siklus penyelesaian T+1 (satu hari kerja setelah perdagangan) pada Mei 2024 telah mengubah dinamika operasional global.
  • T+0 India: India merupakan pioneer di APAC, yang kini menawarkan penyelesaian same-day (T+0) secara opsional. Keunggulan operasional ini memberikan keuntungan kompetitif yang substansial.
  • Kompresi Waktu di APAC: Perpindahan AS ke T+1 menciptakan tekanan waktu yang ekstrem bagi investor institusional global yang beroperasi dari Asia. Di bawah T+2, proses kritis seperti alokasi perdagangan, afirmasi, dan konversi FX memiliki waktu hingga 24 jam setelah penutupan pasar AS. Namun, di bawah T+1, waktu yang tersedia berkurang drastis, menjadi hanya 3 hingga 5 jam untuk penyelesaian tugas-tugas ini.
  • Implikasi Daya Saing: Bursa di Asia yang lambat bertransisi ke T+1 berisiko meningkatkan gesekan operasional dan biaya modal bagi investor global. Oleh karena itu, percepatan siklus penyelesaian menjadi penentu daya saing utama. HKEX telah mengakui urgensi ini dan berencana menerbitkan white paper pada paruh pertama 2025 untuk memimpin diskusi pasar tentang siklus penyelesaian yang paling sesuai untuk Hong Kong. Solusi operasional jangka panjang melibatkan peningkatan otomatisasi, integrasi platform, dan pemanfaatan basis data Standing Settlement Instructions (SSIs) yang terpusat.

Likuiditas Pasar: Rasio Perputaran dan Nilai Perdagangan Harian

Likuiditas pasar, yang diukur melalui rasio perputaran (nilai total saham yang diperdagangkan terhadap kapitalisasi pasar rata-rata) , menunjukkan dinamika yang berbeda di seluruh Asia.

  • Asia Tenggara: Vietnam dan Thailand mencatat rasio perputaran tertinggi di Asia Tenggara pada tahun 2022 (95.25% dan 79.13% berturut-turut), mengungguli Hong Kong (62.38%) dan India (49.81%). Rasio tinggi ini menunjukkan volume perdagangan yang sangat aktif relatif terhadap kapitalisasi pasar, yang dapat mengindikasikan likuiditas yang mendalam atau tingkat spekulasi yang lebih tinggi di pasar yang lebih kecil. Indonesia dan Malaysia memiliki rasio perputaran yang lebih rendah (31.93% dan 28.98%), menunjukkan ruang untuk peningkatan likuiditas dan kedalaman pasar.
  • Nilai Transaksi Harian Rata-Rata (ADTV): Hong Kong mencatat nilai penyelesaian harian rata-rata yang sangat besar, mencapai HK296.91miliarpadaFebruari2025,denganvolumeperdaganganhariantertinggimencapailebihdariHK621 miliar. Pasar Jepang juga menunjukkan nilai perdagangan harian yang signifikan, dengan nilai perdagangan tunai (cash equities) rata-rata mencapai JPY 5.7 triliun di FY2024. Di Indonesia, nilai perdagangan harian rata-rata mencapai IDR13.703,5 miliar pada akhir Desember 2024, didukung oleh pertumbuhan jumlah investor retail.

Masa Depan Pasar Modal Asia: Teknologi dan Keberlanjutan

Inisiatif strategis di kawasan ini berfokus pada integrasi standar ESG dan adopsi teknologi finansial mutakhir, khususnya Distributed Ledger Technology (DLT) atau blockchain.

 Pengarusutamaan ESG dan Keterbukaan Keberlanjutan

Bursa efek Asia didorong untuk mengadopsi Target Sustainable Development Goal (SDG) 12.6 PBB, yang menyerukan integrasi informasi keberlanjutan ke dalam siklus pelaporan perusahaan.

  • Standar Singapura: Singapura berada di garis depan regulasi ESG. Perusahaan besar yang terdaftar di SGX diwajibkan untuk mengungkapkan metrik iklim sesuai dengan standar International Sustainability Standards Board (ISSB). Inisiatif ini melangkah lebih jauh: mulai Tahun Fiskal 2027, akan diwajibkan asuransi terbatas eksternal untuk emisi gas rumah kaca Scope 1 dan 2, yang secara signifikan akan meningkatkan kredibilitas dan keandalan data yang dilaporkan. Persyaratan pelaporan yang ketat ini juga akan diperluas ke perusahaan non-terdaftar (NLCos) yang besar.
  • Tiongkok: Bursa saham Tiongkok telah menerbitkan pedoman pelaporan ESG yang mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi terkait tata kelola, strategi, dan prosedur manajemen risiko yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan.

Inovasi DLT (Blockchain) dan Tokenisasi

Singapura dan Hong Kong memimpin dalam menguji teknologi blockchain untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan produk baru.

  • HKEX dan Penyelesaian Pasca-Perdagangan: HKEX tengah mengembangkan solusi prototipe DLT yang dirancang untuk memungkinkan sinkronisasi real-time status pasca-perdagangan antara manajer aset, broker, kustodian, dan HK Securities Clearing Company. Tujuannya adalah untuk meningkatkan arus investor asing melalui Stock Connect dengan mengurangi gesekan operasional yang disebabkan oleh perbedaan zona waktu dan siklus penyelesaian T+2.
  • Project Guardian Singapura: Monetary Authority of Singapore (MAS) telah berkolaborasi dengan Financial Services Agency (FSA) Jepang dalam Project Guardian. Proyek ini bertujuan untuk menguji kelayakan tokenisasi aset melalui eksperimen pilot, yang saat ini mencakup fixed income, valuta asing, dan asset & wealth management. Konsep deposit tokenization juga mendapatkan perhatian sebagai alternatif yang lebih stabil terhadap stablecoins yang bergejolak.

Upaya dalam DLT dan tokenisasi ini merupakan langkah strategis untuk memposisikan bursa-bursa ini bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi sebagai Innovation Hubs yang mampu menyediakan infrastruktur keuangan masa depan. Jika sukses, DLT dapat menawarkan penyelesaian yang hampir seketika, secara efektif mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh perpindahan global menuju T+1.

Kesimpulan dan Rekomendasi StrategisAnalisis komprehensif terhadap bursa-bursa efek utama di Asia menunjukkan adanya landskap yang kompleks, ditandai oleh pergeseran struktural dalam kekuasaan modal dan dorongan mendesak untuk modernisasi tata kelola dan operasional.

Matriks Risiko dan Peluang Regional

  • Pasar Valuasi Ulang (Jepang dan Korea Selatan): Kinerja indeks yang kuat di tahun 2025 menunjukkan bahwa investor global secara aktif mengakumulasi posisi, mengantisipasi perbaikan tata kelola korporat yang signifikan. Risiko utama adalah governance fatigue—kegagalan implementasi kebijakan (terutama di Korea Selatan) yang dapat memicu re-rating negatif dan koreksi harga yang tajam. Peluangnya terletak pada peningkatan pengembalian modal yang berkelanjutan yang dapat mengubah struktur valuasi perusahaan-perusahaan dengan PBR rendah.
  • Pasar Likuiditas dan Akses (Tiongkok dan Hong Kong): Hong Kong menghadapi tekanan kompetitif karena liberalisasi akses Daratan (penghapusan kuota QFII) dan pertumbuhan India. HKEX harus bergantung pada keunggulan operasionalnya. Peluang utamanya terletak pada inisiatif DLT yang sedang dikembangkan, yang jika berhasil, dapat menjadikan HKEX pemimpin dalam penyelesaian pasca-perdagangan yang dipercepat, menarik flow modal yang sensitif terhadap efisiensi T+1.
  • Pasar Efisiensi dan Pertumbuhan (India): India menawarkan peluang pertumbuhan domestik yang unggul dan keunggulan operasional yang signifikan dengan menawarkan penyelesaian T+0 opsional. Risiko utama di pasar India adalah valuasi yang tinggi (P/E tinggi) yang dapat membatasi potensi kenaikan, namun efisiensi pasca-perdagangan yang superior menjadikannya pasar yang sangat menarik bagi modal institusional global.

Implikasi Operasional dan Regulasi bagi Investor Institusional

Perpindahan global menuju T+1 telah mengubah standar operasional, menjadikan efisiensi sebagai faktor penggerak utama alokasi modal:

  1. Prioritas Otomasi Post-Trade: Investor harus segera memprioritaskan peningkatan otomatisasi, khususnya untuk proses afirmasi perdagangan dan konversi FX. Mengandalkan proses manual atau solusi yang tidak terpusat di Asia akan menjadi tidak berkelanjutan dalam lingkungan T+1 yang ketat. Pemanfaatan centralized, automated database untuk Standing Settlement Instructions (SSIs) menjadi penting untuk menghindari kegagalan perdagangan.
  2. Pemantauan Implementasi Tata Kelola: Keputusan alokasi di Jepang dan Korea harus berhati-hati, memantau rilis tahunan perusahaan mengenai rencana perbaikan PBR. Investor harus menuntut bukti nyata dari peningkatan pengembalian modal, bukan sekadar janji reformasi.
  3. Tolok Ukur ESG dan DLT: Singapura (SGX/MAS) menetapkan tolok ukur regional dan global untuk pelaporan ESG (standar ISSB dan asuransi eksternal Scope 1/2) serta inovasi DLT (Project Guardian). Standar ini harus digunakan oleh investor institusional untuk menilai kemajuan modernisasi bursa-bursa Asia lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 62 = 65
Powered by MathCaptcha