Tulisan ini menyajikan analisis komparatif yang terperinci antara Pencerahan Eropa, yang diwakili oleh pemikir seminal seperti John Locke, Voltaire, dan Immanuel Kant, dan tiga gerakan modernisasi transformatif di luar Eropa: Reformasi Tanzimat di Kekaisaran Ottoman, Restorasi Meiji di Jepang, dan gerakan kemerdekaan di Amerika Latin. Tujuan utama adalah untuk menguji sejauh mana idealisme universal yang muncul dari Eropa diadaptasi, dibengkokkan, atau ditolak oleh kekuatan geopolitik dan struktur kekuasaan lokal.

Epistemologi dan Etika Pencerahan Eropa: Fondasi Universalitas

Pencerahan Eropa, yang dikenal sebagai Abad Akal Budi, merupakan gerakan intelektual dan budaya yang dominan pada abad kedelapan belas yang bermula di Prancis sebelum menyebar ke seluruh Eropa Barat. Gerakan ini ditandai dengan penekanan pada akal (reason) di atas takhayul (superstition) dan ilmu pengetahuan di atas keyakinan buta. Para filsuf Pencerahan melihat diri mereka sebagai elit progresif yang berjuang melawan irasionalitas, kesewenang-wenangan, dan obskurantisme pada abad-abad sebelumnya. Dalam politik dan ekonomi, tujuannya secara umum adalah kemenangan borjuis atas struktur kekuasaan lama yang diwakili oleh bangsawan dan ulama.

Tiga Pilar Filosofis sebagai Tolok Ukur Universalitas

Tiga tokoh sentral menyediakan tolok ukur filosofis untuk ide-ide universalitas yang kemudian akan diekspor dan diadaptasi secara global:

John Locke: Hak Kodrati dan Kedaulatan Rakyat

John Locke adalah pendukung utama konsep hak kodrati, yang mencakup hak atas kehidupan, kebebasan (liberty), dan properti. Filosofinya secara fundamental menantang monarki absolut, meletakkan dasar bagi kontrak sosial, dan menuntut bahwa pemerintahan harus dibatasi dan didasarkan pada persetujuan yang diperintah. Locke menyediakan kerangka legitimasi politik baru yang menjadi dasar bagi Deklarasi Kemerdekaan Amerika.

Voltaire: Toleransi dan Kebebasan Ekspresi

Voltaire terkenal karena memperjuangkan kebebasan berbicara dan toleransi beragama, seringkali menyalurkan kritiknya terhadap dogma dan agama yang terorganisir. Ia adalah pendukung kosmopolitanisme, di mana para pemikir melihat diri mereka sebagai warga dunia yang aktif terlibat. Perjuangannya melawan penganiayaan agama dan politik  meletakkan tuntutan universal untuk masyarakat yang terbuka, rasional, dan menghargai perbedaan pandangan.

Immanuel Kant: Etika Rasional dan Imperatif Kategoris

Immanuel Kant berkontribusi pada Pencerahan dengan memperkenalkan konsep imperatif kategoris, yang merupakan hukum moral universal yang memandu perilaku etis. Bagi Kant, Pencerahan adalah tindakan berani untuk menggunakan akal seseorang, yang disimpulkan dalam frasa sapere aude (beranilah berpikir sendiri). Konsepnya menegaskan bahwa tatanan sosial dan perilaku moral harus didasarkan pada akal universal, bukan pada tradisi tertentu atau perintah yang diturunkan.

Akal sebagai Senjata Emansipasi Internal

Pencerahan Eropa pada intinya adalah gerakan emansipasi internal. Para filsuf ini berjuang dalam lingkup Eropa untuk menghancurkan struktur kekuasaan internal—yaitu, Gereja dan institusi monarki—yang mereka anggap sebagai sumber irasionalitas. Keyakinan ini didukung oleh ide Progressivism, yakni keyakinan bahwa manusia dapat mencapai kemajuan linier tak terbatas dari waktu ke waktu melalui akal dan observasi.

Namun, fokus yang kuat pada emansipasi internal Eropa ini seringkali menyebabkan para pemikir Pencerahan menghadapi kontradiksi ketika idealisme mereka bertemu dengan realitas material di luar Eropa. Meskipun secara teoritis mendukung kesetaraan, mereka seringkali terpecah antara keyakinan akan otonomi individu dan keinginan untuk tatanan sosial yang rasional, yang dapat mencakup gradasi dalam pangkat. Perpecahan ini menghasilkan rasionalisasi kontradiktif, di mana isu-isu seperti perbudakan dapat dipertahankan berdasarkan utilitas ekonomi, inferioritas rasial, atau relativisme etika. Oleh karena itu, universalisme Pencerahan, bahkan di tangan pencetusnya, terbukti rapuh ketika berhadapan dengan kepentingan kekuasaan dan kekayaan.

Mekanisme Adaptasi dan Respon Defensif: Pencerahan di Tengah Krisis

Di luar Eropa, ide-ide yang terkait dengan Pencerahan—liberalisme, konstitusionalisme, nasionalisme—tidak diadopsi terutama sebagai program filosofis untuk emansipasi individu dari negara. Sebaliknya, ide-ide ini diadopsi sebagai seperangkat alat instrumental untuk modernisasi, yang diperlukan untuk menghadapi tekanan geopolitik dan ancaman kolonialisme dari kekuatan Eropa sendiri.

Tekanan Eksternal sebagai Katalis Utama

Di Kekaisaran Ottoman, serangkaian reformasi yang dikenal sebagai Tanzimat merupakan respons langsung terhadap tantangan internal (inefisiensi administrasi) dan tekanan eksternal dari kekuatan Eropa. Reformasi ini bertujuan untuk memerangi kemunduran ekonomi dan hilangnya wilayah secara bertahap , serta untuk menghentikan disintegrasi kekaisaran yang tampak tak terhindarkan.

Di Jepang, Restorasi Meiji pada tahun 1868 adalah respons cepat dan terencana untuk mengubah negara yang lemah secara militer dan agraris menjadi kekuatan yang setara dengan Barat, menyusul ancaman yang ditimbulkan oleh kedatangan Komodor Perry. Modernisasi di Jepang didorong oleh tekad untuk menghindari nasib kolonial.

Perbedaan mendasar dalam tujuan ini menghasilkan pergeseran prioritas yang signifikan. Jika Locke mendirikan negara untuk melindungi kebebasan dan properti individu, gerakan di luar Eropa mengadopsi struktur Pencerahan (seperti birokrasi, hukum terpusat, dan parlemen) terutama untuk melindungi kedaulatan nasional dan integritas wilayah dari ancaman luar. Ini adalah pergeseran kritis dari filosofi hak asasi ke filosofi kekuatan negara.

Modernitas yang Dibingkai Ulang: Reformasi Tanzimat Ottoman (1839–1876)

Reformasi Tanzimat, yang dimulai pada tahun 1839 dengan Edict of Gülhane, merupakan upaya besar-besaran untuk merestrukturisasi administrasi, militer, dan masyarakat Ottoman, didorong oleh cita-cita Barat tentang liberalisme dan konstitusionalisme.

Ambisi Liberal versus Kebutuhan Sentralisasi

Tujuan Tanzimat adalah sentralisasi pemerintahan, pembaruan militer, dan peningkatan efisiensi. Reformasi ini mencerminkan semangat Pencerahan dengan menjanjikan hak hukum dan kesetaraan bagi semua subjek kekaisaran tanpa memandang agama atau etnis. Upaya untuk menerapkan kode hukum yang terpusat dan universal, menggantikan hukum komunal, secara eksplisit mencerminkan dorongan Kantian untuk tatanan rasional dan tuntutan Lockean untuk kesetaraan di hadapan hukum.

Konflik Struktural: Rasionalitas Hukum versus Sistem Millet

Kekaisaran Ottoman secara historis diatur melalui sistem Millet, di mana komunitas-komunitas pengakuan (Muslim, Kristen, Yahudi) diberikan otonomi signifikan atas hukum pribadi mereka, diatur oleh pengadilan dan hukum agama mereka sendiri. Ini adalah sistem pluralisme agama pra-modern yang memungkinkan koeksistensi berbagai komunitas.

Ketika Tanzimat berusaha menerapkan uniformitas hukum—suatu persyaratan utama dari liberalisme Pencerahan—hal itu secara langsung menyerang fondasi sistem Millet. Tuntutan Pencerahan untuk kesetaraan (dengan menghilangkan perbedaan hukum komunal) di Ottoman dirasakan sebagai penindasan terhadap identitas komunal yang sudah lama diakui. Hal ini menciptakan dilema: kesetaraan yang diilhami Pencerahan menuntut uniformitas, sementara di Ottoman, perbedaan hukum adalah fondasi koeksistensi. Upaya ini, yang dimaksudkan untuk memperkuat persatuan, justru memicu sentimen nasionalis di kalangan kelompok etnis yang mencari otonomi atau kemerdekaan, mempercepat disintegrasi kekaisaran setelah Perang Dunia I.

Resistensi Tradisionalis dan Regresi Otoritarian

Reformasi yang berasal dari Barat mendapat perlawanan sengit dari Ulama dan Janissaries, yang melihatnya sebagai bidah (inovasi yang dilarang). Sultan Selim III bahkan digulingkan karena memperkenalkan sistem militer ala Barat (Nizam-i Cedit). Meskipun ada upaya modernisasi yang progresif, upaya-upaya ini menemui kegagalan ketika Sultan Abdul Hamid II kemudian menangguhkan konstitusi yang telah dijanjikan dan memusatkan kekuasaan total. Hal ini menunjukkan bahwa ide-ide liberal Pencerahan tidak mampu mengakar dalam menghadapi konservatisme yang kuat dan kebutuhan internal untuk kekuasaan absolut guna menahan tekanan luar.

Modernisasi Insinyur dan Kekuatan Nasional: Restorasi Meiji Jepang (1868)

Restorasi Meiji merupakan kasus adopsi ide-ide Pencerahan yang sangat pragmatis dan instrumental. Nama Kaisar, Meiji, berarti “pemerintahan yang tercerahkan” , menunjukkan pengakuan simbolis terhadap modernitas. Tujuan utama Restorasi adalah membangun negara yang terpusat, birokratis, dan kuat secara militer dan industri untuk bersaing dengan Barat.

Adopsi Selektif dan Pragmatisme

Jepang secara cepat mengimpor teknologi, mereformasi pendidikan, dan membangun sektor industri dan militer berdasarkan model terbaru dari Barat. Meskipun Jepang mengadopsi rasionalitas Kantian untuk membangun tatanan yang sangat efisien—seperti sistem transportasi dan komunikasi yang maju —ide-ide Lockean tentang hak individu mutlak dan kedaulatan rakyat dikesampingkan.

Konstitusi Meiji (1889): Sinkretisme Konstitusional

Konstitusi Meiji didasarkan pada model campuran (semi-konstitusional dan monarki absolut) dari Jerman dan Inggris. Konstitusi ini memperkenalkan Parlemen bikameral, Diet, dan menjabarkan hak-hak sipil. Namun, Konstitusi Meiji adalah sintesis yang disengaja antara modernitas dan tradisi nasional (Kokutai).

Konstitusi ini secara teoritis menempatkan Kaisar sebagai kepala negara yang memerintah dengan nasihat menteri , tetapi secara praktis menjamin bahwa kekuasaan inti tetap berada di luar kendali rakyat. Yang penting, Perdana Menteri dan Kabinet tidak harus dipilih dari anggota parlemen yang terpilih. Ini adalah penolakan sadar terhadap prinsip kedaulatan rakyat Lockean. Konstitusi Meiji menggunakan struktur Pencerahan untuk menutupi inti otoritarian yang kuat, memastikan bahwa modernisasi melayani tujuan kekuatan militer dan stabilitas elit. Kontradiksi yang melekat antara otoritas Kaisar dan pemerintahan demokratis ini pada akhirnya terbukti menjadi kelemahan yang dieksploitasi oleh kelompok militer pada tahun 1930-an.

Retorika Kemerdekaan dan Realitas Hierarki: Gerakan Kemerdekaan Amerika Latin

Gerakan kemerdekaan Amerika Latin didorong oleh gelombang idealisme “kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan” dari Revolusi Amerika dan Prancis.

Pencerahan sebagai Pemicu Politik

Elit criollo (orang Amerika kelahiran Spanyol) memanfaatkan ide-ide Pencerahan, terutama kedaulatan rakyat Locke, untuk melegitimasi perjuangan mereka melawan monopoli kekuasaan kolonial Spanyol. Figur seperti Simón Bolívar menafsirkan Pencerahan dan mengembangkan idealisme untuk membebaskan Amerika Spanyol. Bolívar secara konsisten menyerukan kebebasan dan kesetaraan, termasuk emansipasi budak.

Kesenjangan Liberalisme: Pemimpin dan Kekuasaan Elit

Meskipun retorika Pencerahan mendominasi, aplikasi praktisnya dipengaruhi oleh keinginan elit criollo untuk mempertahankan tatanan sosial yang ada. Analisis menunjukkan bahwa meskipun Pencerahan menjanjikan kebebasan, para elit yang mengadopsinya seringkali terpecah antara otonomi individu dan keinginan untuk tatanan sosial yang rasional dengan gradasi pangkat yang jelas.

Inilah kontradiksi sentral: Bolívar, di satu sisi, menyerukan kesetaraan untuk semua tetapi, di sisi lain, membenarkan konsentrasi otoritas pada kelompok elit terpelajar. Elit ini secara selektif menafsirkan Pencerahan, bahkan mengarahkan optimisme progresifnya menjadi semacam Darwinisme Sosial yang melihat kemajuan dalam kaitannya dengan “pemenang dan pecundang,” yang digunakan untuk membenarkan penindasan minoritas dan masyarakat adat.

Batasan Sosial: Universalitas yang Gagal

Tuntutan universalisme etis Kantian (termasuk kecaman terhadap perbudakan) gagal dalam menghadapi kepentingan ekonomi. Elit menggunakan rasionalisasi berdasarkan utilitas atau inferioritas rasial untuk mempertahankan perbudakan. Oleh karena itu, gerakan kemerdekaan Amerika Latin berhasil dalam revolusi politik (mencapai kedaulatan negara) tetapi gagal total dalam revolusi sosial. Struktur sosioekonomi kolonial, yang sangat hierarkis dan tidak setara, sebagian besar tetap utuh bahkan setelah kemerdekaan. Hal ini menciptakan kesenjangan permanen antara cita-cita kebebasan Pencerahan dan kenyataan praktis bagi sebagian besar indios, mestizos, negros, dan mulatos. Hak properti Lockean dipertahankan dengan kuat oleh elit, sedangkan hak individu universal lainnya dibatasi.

Perbandingan Sintesis: Kontinuitas, Konflik, dan Konsekuensi Global

Kontinuitas dan Adopsi Instrumental

Di semua kasus non-Eropa, terdapat adopsi rasionalisme instrumental. Semua gerakan mengakui bahwa untuk bersaing di panggung global, mereka harus mengadopsi sistem yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, birokrasi, dan pendidikan yang merupakan warisan Pencerahan.

Konflik Kunci: Tujuan Pencerahan yang Terbalik

Perbedaan paling mendasar antara Pencerahan Eropa dan adaptasinya di luar Eropa terletak pada tujuan akhir:

  1. Eropa:Pencerahan berfungsi sebagai cara untuk membatasi kekuasaan monarki dan agama, mendirikan negara liberal yang menjamin hak individu (Lockean).
  2. Luar Eropa:Ide-ide Pencerahan berfungsi sebagai cara untuk memperkuat kekuasaan negara untuk mencapai tujuan geopolitik—yakni kelangsungan hidup dan kekuatan militer (Meiji, Tanzimat).

Konsekuensinya, prinsip inti Lockean tentang hak alami dan kedaulatan rakyat harus diabaikan (Meiji) atau hanya diterapkan pada kelas penguasa (Amerika Latin).

Batasan Sosial dan Ideologis

Tabel Perbandingan Fokus Modernisasi Global

Gerakan Tujuan Utama (Ala Pencerahan) Prioritas Utama Sebenarnya Penerapan Hak Individu (Locke/Voltaire) Hubungan dengan Tradisi Lokal
Pencerahan Eropa Hak Kodrati, Kedaulatan Rakyat, Toleransi Emansipasi Intelektual dari Dogma Tinggi; Dianggap mutlak, fondasi liberalisme klasik. Menggulingkan monarki absolut & dogma agama
Tanzimat Ottoman Kesetaraan Hukum, Konstitusionalisme Sentralisasi & Keutuhan Wilayah Parsial; Dibatasi oleh otoritas Sultan (Otoritarianisme Reaksioner) Konflik tajam dengan sistem Millet & Ulama, memicu nasionalisme etnis
Restorasi Meiji Pemerintahan Perwakilan, Hukum Modern Kekuatan Nasional & Industrialisasi Cepat Rendah/Instrumental; Ditundukkan pada kepentingan Kokutai/Kaisar Digunakan sebagai alat untuk memperkuat tradisi sentral (Kaisar) dan mencapai kekuatan militer
Kemerdekaan Amerika Latin Kedaulatan, Kebebasan Politik Kekuasaan Elit Criollo & Kestabilan Regional Retoris; Gagal menghilangkan perbudakan/hierarki sosial bagi kelas bawah Mengadopsi retorika tetapi mempertahankan struktur sosioekonomi kolonial, membatasi kesetaraan

Kesimpulan

Pencerahan Eropa, melalui ide-ide universalnya, adalah katalis yang tak terhindarkan bagi modernitas global dan telah meletakkan warisan intelektual untuk gerakan-gerakan abad ke-19 seperti liberalisme dan sosialisme. Namun, analisis perbandingan menunjukkan bahwa di luar konteks Eropa, ideologi Pencerahan tidak berfungsi sebagai cetak biru tunggal, melainkan sebagai bahan mentah yang dibentuk oleh urgensi geopolitik dan kepentingan kekuasaan lokal.

Gerakan-gerakan di luar Eropa mewakili bentuk-bentuk modernitas jamak yang berbeda:

  1. Meijiberhasil mencapai modernisasi struktural dan militer yang cepat dengan sengaja menolak liberalisme penuh demi Kokutai dan kekuatan negara yang terpusat, mengorbankan kedaulatan rakyat.
  2. Tanzimatgagal mengintegrasikan ide kesetaraan Pencerahan karena tuntutan uniformitasnya secara fundamental bertentangan dengan sistem pluralistik pra-modern (Millet), yang justru memicu konflik nasionalis dan mempercepat keruntuhan.
  3. Amerika Latinmengalami kegagalan revolusi sosial karena elit criollo secara hipokrit menafsirkan retorika kebebasan untuk mempertahankan hierarki rasial dan sosial yang menindas, menjamin hak properti (Locke) sambil mengabaikan etika universal (Kant).

Kontradiksi terbesar Pencerahan di luar Eropa adalah bahwa ide-ide filosofis yang dimaksudkan untuk membebaskan individu dari kekuasaan absolut seringkali digunakan, dan diubah, untuk memperkuat atau melegitimasi kekuasaan negara yang otoriter atau oligarki sosial yang baru merdeka. Hasilnya adalah bahwa cahaya Pencerahan yang universal—yang seharusnya datang dari pengetahuan yang diperoleh—seringkali disaring melalui lensa kepentingan nasionalistik dan kelas, hanya menjadi “cahaya dari luar” yang diadopsi demi kelangsungan hidup bangsa, bukan demi emansipasi menyeluruh umat manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

48 − 44 =
Powered by MathCaptcha