Latar Belakang dan Premis: Sains sebagai Barang Publik Global
Pengetahuan ilmiah adalah motor penggerak pembangunan berkelanjutan dan prasyarat fundamental untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta ketahanan sosial dan ekonomi global. Konteks ini menetapkan sains, yang didanai secara publik, sebagai barang publik global yang seharusnya dapat diakses oleh semua, terlepas dari lokasi geografis atau status ekonomi. Namun, analisis mendalam terhadap ekosistem komunikasi ilmiah dan penelitian global mengungkapkan adanya ketidakseimbangan struktural yang signifikan, yang dikenal sebagai Kesenjangan Pengetahuan Global.
Kesenjangan ini melampaui dikotomi geografis antara Global North (Negara Maju) dan Global South (Negara Berkembang). Kesenjangan ini merupakan representasi dari ketidakseimbangan struktural dalam hal alokasi sumber daya, pendanaan, kepemilikan hak cipta, dan penentuan agenda riset. Kegagalan sistemik untuk mendemokratisasikan akses terhadap pengetahuan secara efektif menghambat kemajuan sosial dan ekonomi di negara-negara yang paling membutuhkan intervensi berbasis bukti.
Mengukur Divisi: Manifestasi Kesenjangan Pengetahuan
Manifestasi dari kesenjangan ini terlihat jelas di berbagai sektor penting. Di bidang kesehatan, diperkirakan dua miliar orang di seluruh dunia masih kekurangan akses terhadap obat-obatan esensial dan vaksin. Meskipun ada beberapa tanda bahwa kesenjangan dalam kolaborasi penelitian farmasi mungkin mulai mengecil, jurang yang mengkhawatirkan tetap ada dalam pendanaan dan arah penelitian.
Selain isu akses, kesenjangan pengetahuan menciptakan “ketidakadilan diagnostik” dalam merespons krisis global, seperti perubahan iklim atau pandemi. Negara-negara Global South sering menjadi pihak yang paling rentan terhadap krisis ini, namun, karena kapasitas penelitian domestik yang rendah dan akses yang terbatas terhadap hasil riset global, solusi yang dikembangkan sering kali tidak memadai atau gagal terserap secara efektif. Sebagai contoh, meskipun Balitbangtan telah merilis varietas unggul tahan iklim seperti Inpari 42 Agritan, tingkat adopsi di lapangan tetap rendah karena keterbatasan dalam diseminasi teknologi dan lemahnya sistem penyuluhan pertanian. Situasi ini menggarisbawahi kegagalan sistem global untuk memberdayakan Global South agar bertindak sebagai produsen dan kontributor aktif, bukan hanya konsumen pasif, dari pengetahuan ilmiah. Kesenjangan ini, oleh karena itu, bukan sekadar masalah ketersediaan, tetapi masalah relevansi agenda riset dan kepemilikan intelektual.
Disparitas Struktural: Jurang Pendanaan, Infrastruktur, dan Agenda Riset
Ketidakseimbangan dalam ekosistem sains global berakar pada disparitas struktural yang mendalam terkait pendanaan penelitian, infrastruktur, dan dominasi penentuan agenda riset.
Dominasi Finansial: Analisis Pengeluaran R&D Bruto Domestik (GERD)
Konsentrasi sumber daya keuangan menjadi pendorong utama kesenjangan ini. Data menunjukkan ketidakseimbangan yang masif dalam Pengeluaran R&D Bruto Domestik (GERD) secara global.
Pada tahun 2021, Amerika Serikat mencapai GERD sebesar $806,0 miliar (menggunakan daya beli paritas/PPP), diikuti oleh Tiongkok dengan $667,6 miliar, Jepang $177,4 miliar, Jerman $153,7 miliar, Korea Selatan $119,6 miliar, Inggris $97,8 miliar, dan Prancis $77,2 miliar. Angka-angka ini mencerminkan dominasi absolut dari Global North (dan beberapa negara Asia Timur yang berkembang pesat) dalam pengeluaran riset.
Konsentrasi pendanaan yang signifikan ini memiliki implikasi kebijakan yang luas. Negara-negara yang menguasai pendanaan riset secara inheren mengendalikan arah penelitian global dan menentukan prioritas ilmiah, yang sering kali didorong oleh kebutuhan dan kepentingan ekonomi domestik mereka. Hal ini membuat negara-negara di Global South rentan terhadap agenda riset yang didorong oleh donor atau mitra, yang mungkin tidak secara optimal mengatasi tantangan lokal mereka.
Untuk mengilustrasikan skala kesenjangan pendanaan, data GERD (Gross Domestic Expenditures on R&D) pada negara-negara berkinerja tinggi pada tahun 2021 dapat dibandingkan:
Tabel 1: Perbandingan Pengeluaran R&D Bruto Domestik (GERD) Negara Terpilih (2021, Miliar USD PPP)
| Negara/Ekonomi | GERD (Miliar USD PPP) |
| Amerika Serikat | 806.0 |
| Tiongkok | 667.6 |
| Jepang | 177.4 |
| Jerman | 153.7 |
| Korea Selatan | 119.6 |
| Inggris Raya | 97.8 |
| Prancis | 77.2 |
Perbedaan skala investasi ini menjelaskan mengapa kapasitas dan output riset global terkonsentrasi di segelintir yurisdiksi. Tanpa investasi strategis dan mandiri yang signifikan dari negara-negara Global South, ketergantungan pada arah riset Global North akan terus berlanjut.
Bias Agenda Riset: Kasus Farmasi dan Penyakit Terabaikan
Disparitas pendanaan memiliki konsekuensi langsung terhadap relevansi agenda penelitian global. Dalam sektor farmasi, misalnya, penelitian didorong oleh profitabilitas pasar negara berpendapatan tinggi. Akibatnya, perhatian riset relatif rendah pada penyakit yang secara primer memengaruhi Global South, seperti malaria atau tuberkulosis.
Meskipun negara-negara Global South mendapat manfaat dari obat-obatan yang awalnya dikembangkan untuk pasar berpendapatan tinggi, kurangnya penelitian yang berfokus pada penyakit tropis dan terabaikan menunjukkan adanya “ketidaksesuaian pasar” (market non-conformance). Kapitalisme ilmiah yang didorong oleh motif profitabilitas pasar Global North secara inheren mengabaikan tantangan kesehatan yang paling mendesak di negara-negara berkembang. Hal ini bukan hanya masalah etika, tetapi juga menciptakan inefisiensi yang signifikan dalam penanganan krisis kesehatan global, menghambat upaya kemanusiaan untuk mencapai SDG terkait kesehatan.
Krisis Infrastruktur Ganda: Fisik dan Digital
Pelaksanaan penelitian yang berkualitas di Global South terhambat oleh krisis infrastruktur ganda—baik fisik maupun digital. Dari segi fisik, banyak institusi kekurangan laboratorium modern, peralatan canggih, dan sistem pemeliharaan yang memadai.
Namun, dalam era digital, pentingnya infrastruktur digital semakin meningkat. Infrastruktur Publik Digital (DPI), yang mencakup sistem identitas digital, pembayaran, dan pertukaran data, adalah fondasi penting bagi ekosistem riset yang modern. Pembangunan DPI yang efektif dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di negara-negara Global South sebesar 20–33 persen pada tahun 2030.
Meskipun demikian, keberhasilan intervensi digital tidak dapat dijamin hanya dengan investasi teknologi. Sebuah paradoks muncul, yaitu bahwa efektivitas infrastruktur digital sangat bergantung pada “Infrastruktur Manusia”. Infrastruktur manusia ini mencakup SDM yang kompeten, jaringan kelembagaan, dan tata kelola lokal yang kuat. Infrastruktur manusia harus secara aktif “dikonfigurasi” dan “dilatih”; ia tidak dapat dianggap sudah tersedia secara otomatis. Kelemahan dalam aspek SDM dan tata kelola lokal dapat menyebabkan infrastruktur digital dan inisiatif penelitian “terurai” (unravelled), yang pada akhirnya merusak upaya penyediaan layanan berkelanjutan. Oleh karena itu, investasi yang berhasil dalam penelitian di Global South harus bersifat ganda: mendukung teknologi canggih dan secara bersamaan memperkuat kapasitas dan keterampilan manusia yang dibutuhkan untuk mengelola dan memanfaatkannya.
Akses Terbatas dan Model Paywall: Hambatan Utama Diseminasi Pengetahuan
Paywalls: Mekanisme Isolasi Institusi dan Peneliti Global South
Model penerbitan ilmiah tradisional yang didasarkan pada langganan berbayar (paywalls) dan hak cipta yang ketat adalah salah satu hambatan paling signifikan yang memperburuk Kesenjangan Pengetahuan Global.
Model langganan ini menciptakan “kesenjangan informasi yang lebar” antara institusi di negara maju yang kaya sumber daya dengan institusi di negara berkembang yang kekurangan dana. Ketika institusi di Global South tidak mampu membayar biaya langganan jurnal dan buku teks yang mahal, peneliti dan pendidik lokal menjadi terisolasi dari diskursus ilmiah global. Isolasi ini bukan hanya masalah ketidaknyamanan, tetapi secara fundamental menghambat kemampuan peneliti lokal untuk memverifikasi temuan, membangun di atas pengetahuan global, dan yang paling penting, menghasilkan kekayaan intelektual baru yang relevan dengan konteks sosial dan lingkungan lokal. Akses yang setara terhadap hasil penelitian ilmiah merupakan prasyarat fundamental bagi pembangunan yang berkelanjutan, dan paywalls secara langsung menghancurkan prasyarat tersebut.
Paradoks Gold Open Access: Munculnya “APC Barrier” (Hambatan Biaya Penulis)
Gerakan Akses Terbuka (Open Access/OA) bertujuan mengatasi masalah paywall, namun model Gold Open Access (OA Emas) secara ironis menciptakan bentuk ketidaksetaraan baru. Gold OA menyediakan akses bebas segera yang didanai melalui Biaya Pemrosesan Artikel (APC) yang dibebankan kepada penulis atau institusi mereka.
Biaya APC ini telah menciptakan “APC Barrier”. Bagi peneliti di negara-negara dengan sumber daya terbatas, biaya APC bisa melumpuhkan. Sebagai contoh, biaya APC untuk memublikasikan satu makalah di jurnal Gold OA dapat setara dengan gaji beberapa bulan seorang akademisi di negara seperti Bangladesh. Beban finansial ini secara signifikan menghalangi akademisi Global South untuk memublikasikan karya mereka di jurnal-jurnal internasional berstandar tinggi, bahkan jika opsi pengabaian biaya (waiver) secara teknis tersedia (aksesibilitas dan kesadaran terhadap waiver seringkali rendah).
Akibatnya, Gold OA hanya melayani minoritas peneliti dunia yang didanai dengan baik, dan bukannya mendemokratisasi pengetahuan, model ini justru meningkatkan ketidaksetaraan dalam seluruh ekosistem komunikasi ilmiah. Peneliti dari Global South seringkali terdorong untuk memublikasikan hasil risetnya di jurnal-jurnal yang diterbitkan secara lokal, yang, meskipun penting secara kontekstual, mungkin memiliki visibilitas global yang lebih rendah.
Open Access (OA) sebagai Pilar Demokratisasi Sains
Pergeseran paradigma menuju model keterbukaan yang inklusif dan berkelanjutan, melalui Akses Terbuka (OA), Sumber Daya Pendidikan Terbuka (OER), dan Sumber Terbuka (OS), sangat diperlukan untuk mencapai demokratisasi pengetahuan.
Tiga Pilar Utama Akses Terbuka: Model Kebijakan Komparatif
Akses Terbuka didefinisikan tidak hanya sebagai akses gratis (free of charge) tetapi juga sebagai hak untuk menggunakan ulang karya tersebut secara ekstensif, yang sangat penting untuk diseminasi pengetahuan yang didanai publik. Terdapat tiga model utama OA yang memiliki mekanisme pendanaan dan jalur diseminasi yang berbeda:
- Gold Open Access:Menyediakan akses gratis segera, umumnya didanai melalui APC dari penulis atau institusi.
- Green Open Access (Self-Archiving):Memungkinkan penulis mendepositkan versi karya (seperti preprint atau manuskrip yang diterima) di repositori terbuka, seringkali setelah periode embargo yang ditetapkan penerbit.
- Diamond Open Access:Model yang menghilangkan baik APC maupun biaya langganan, menjadikannya sepenuhnya gratis untuk penulis maupun pembaca. Model ini didanai oleh konsorsium institusi, pemerintah, atau hibah.
Tabel 2: Analisis Komparatif Model Akses Terbuka (OA) Utama
| Model OA | Akses Pembaca | Biaya Penulis (APC) | Sumber Pendanaan | Implikasi bagi Global South |
| Gold OA | Gratis dan Segera | Tinggi/Ada | Penulis/Institusi | Menciptakan “APC Barrier,” diskriminatif terhadap penulis berdana rendah. |
| Green OA | Gratis (biasanya setelah embargo) | Tidak Ada | Institusi Repositori/Penulis | Solusi praktis, tetapi akses mungkin tertunda oleh embargo penerbit. |
| Diamond OA | Gratis dan Segera | Tidak Ada | Institusi, Konsorsium, Hibah Pemerintah | Model paling inklusif secara teoretis; memerlukan dukungan pendanaan institusional substansial. |
Model Gold OA, dengan fokusnya pada APC, terbukti kontradiktif dengan tujuan inklusivitas di Global South. Analisis kebijakan harus mengarahkan dorongan menuju model Diamond OA dan Green OA yang didukung oleh mandat repositori yang kuat, sehingga memastikan bahwa pendanaan publik menghasilkan pengetahuan yang benar-benar terbuka untuk publik.
Peran Revolusioner Server Pre-print dalam Diseminasi Cepat
Server pre-print memainkan peran transformatif dalam mempercepat komunikasi ilmiah dan mendemokratisasi pengetahuan, terutama dengan mengatasi batasan waktu yang sering melekat pada proses tinjauan sejawat formal dan embargo Green OA. Platform seperti arXiv dan bioRxiv (server pre-print untuk biologi) menyediakan akses segera terhadap hasil penelitian sebelum publikasi jurnal formal.
Fungsi pre-print melampaui kecepatan diseminasi. Mereka meningkatkan transparansi ilmiah dengan memungkinkan pembaca menambahkan komentar publik, yang harus mematuhi standar wacana profesional normal. Hal ini memicu validasi dan kritik cepat dari komunitas ilmiah global. Selain itu, bioRxiv mengategorikan artikel sebagai Hasil Baru (New Results), Hasil Konfirmasi (Confirmatory Results), atau Hasil Kontradiktif (Contradictory Results), yang menambah dimensi penting pada diskursus ilmiah mengenai replikasi dan integritas penelitian.
Penulis yang menggunakan platform pre-print mempertahankan hak cipta dan dapat memilih opsi penggunaan ulang yang fleksibel (seperti lisensi Creative Commons). Adanya penerimaan luas dari sebagian besar jurnal riset yang mengizinkan pemostingan di server pre-print sebelum publikasi menunjukkan integrasi model ini ke dalam ekosistem ilmiah arus utama. Dalam konteks Global South, pre-print memberikan solusi cepat dan bebas biaya untuk memperoleh visibilitas global, tanpa dibatasi oleh paywalls atau APC barriers.
Sinergi Keterbukaan: OA, OER, dan OS
Demokratisasi pengetahuan yang sesungguhnya adalah hasil dari sinergi tiga gerakan utama: Akses Terbuka (OA), Sumber Daya Pendidikan Terbuka (Open Educational Resources/OER), dan Sumber Terbuka (Open Source/OS).
OA memastikan akses ke hasil penelitian; OER memastikan akses ke materi pembelajaran; dan OS menyediakan alat dan platform yang dapat disesuaikan dan digunakan ulang. Integrasi ketiga pilar ini diperlukan untuk menciptakan sistem yang secara inheren inklusif dan berkelanjutan, mampu memberikan dampak maksimal pada pembangunan sosial dan ekonomi di negara-negara berkembang.
Pembinaan Kapasitas dan Penguatan Representasi Ilmiah Global South
Mengatasi Kesenjangan Pengetahuan Global memerlukan lebih dari sekadar menghilangkan paywalls; ini membutuhkan investasi strategis dalam Sumber Daya Manusia (SDM) dan penguatan representasi ilmiah Global South agar suara dan agenda mereka tercermin secara seimbang dalam isu-isu global.
Strategi Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Penelitian
Peningkatan kapasitas ilmiah harus didorong melalui kemitraan strategis dan pelatihan yang ditargetkan. Program beasiswa non-gelar luar negeri, seperti short course, memberikan akses penting dan pengalaman global, memungkinkan dosen dan mahasiswa meningkatkan wawasan akademik dan memperluas kolaborasi lintas batas. Keterlibatan aktif dalam kegiatan akademik dan riset di perguruan tinggi mitra di luar negeri merupakan transfer keahlian yang vital.
Di tingkat kebijakan domestik, pembentukan dan penguatan pendanaan penelitian yang stabil sangat penting, misalnya melalui Dana Abadi Penelitian (DAPL). Dana ini harus diarahkan untuk mendukung riset yang relevan dengan konteks nasional dan global, mengurangi ketergantungan pada fluktuasi pendanaan internasional.
Namun, strategi capacity building tidak boleh berhenti pada pendanaan formal atau pengadaan alat. Keberhasilan intervensi riset sangat bergantung pada pengembangan “Infrastruktur Manusia”. Ini termasuk pembentukan jaringan mentorship yang kuat dan terstruktur. Infrastruktur manusia ini harus secara aktif “dikonfigurasi” dan “dilatih” untuk memastikan keberlanjutan. Investasi dalam mentorship yang bertujuan mentransfer kepemilikan riset ke institusi lokal adalah kunci untuk mencegah kegagalan sistem ketika dukungan digital atau donor ditarik.
Pentingnya Inklusivitas Epistemologis: Integrasi Pengetahuan Lokal
Untuk memastikan relevansi riset terhadap tantangan lokal dan meningkatkan adopsi inovasi, sangat penting untuk mengintegrasikan Kearifan Lokal dan Pribumi dengan penelitian ilmiah modern. Integrasi ini sangat menjanjikan dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Pengakuan terhadap Etnosains—pengetahuan ilmiah yang berasal dari budaya dan tradisi lokal—adalah langkah penting dalam strategi pendidikan dan penelitian. Dengan menerapkan integrasi etnosains, penelitian dapat menjadi lebih relevan dan dapat diadopsi secara kontekstual, yang secara langsung mengatasi masalah kegagalan diseminasi teknologi. Contohnya, kegagalan adopsi varietas tanaman unggul tahan iklim (seperti Inpari 42 Agritan) disebabkan oleh lemahnya sistem penyuluhan dan diseminasi , menunjukkan adanya celah antara inovasi teknis dan kemampuan petani dalam mengakses dan menerapkannya.
Fokus pada inklusivitas epistemologis ini merupakan langkah penting dalam membongkar coloniality of knowledge—struktur sistemik yang secara historis menempatkan pengetahuan Global North sebagai standar universal yang dominan. Memvalidasi dan mengintegrasikan tradisi ilmiah lokal tidak hanya merupakan masalah etika, tetapi juga masalah validitas ilmiah, karena solusi yang dikembangkan harus sesuai dengan realitas ekologis dan sosial Global South.
Dampak Representasi Tidak Seimbang pada Kebijakan Global
Kurangnya kapasitas dan representasi yang seimbang di Global South berdampak buruk pada kemampuan mereka untuk merespons dan membentuk kebijakan global terkait krisis.
Dalam konteks Perubahan Iklim, meskipun mekanisme global telah dikembangkan—seperti Dana Kerugian dan Kerusakan khusus serta pengoperasionalan Santiago Network on Loss and Damage (SNLD) untuk menyediakan bantuan teknis kepada negara-negara berkembang yang rentan —kemampuan negara-negara penerima untuk mengakses, mengelola, dan mengoperasionalisasi bantuan ini sangat bergantung pada pengetahuan dan kapasitas tata kelola domestik. Jika kapasitas riset dan kebijakan lokal lemah, bantuan teknis internasional akan sulit terserap secara optimal.
Di sektor Ketahanan Pangan, ketergantungan pada impor pangan dan input produksi (seperti pupuk) membuat Indonesia sangat rentan terhadap disrupsi rantai pasok global akibat konflik geopolitik. Keterbatasan dalam diseminasi teknologi dan lemahnya sistem penyuluhan menghambat adopsi solusi lokal seperti varietas tahan iklim. Negara-negara yang mampu memperkuat kapasitas penelitian dan implementasi lokalnya, seperti India dengan sistem e-subsidy berbasis Aadhaar yang mampu mengurangi kebocoran hingga 30 persen , menunjukkan bahwa penguatan pengetahuan dan tata kelola domestik adalah kunci untuk mengatasi risiko global.
Tabel 3: Kerangka Strategis Peningkatan Kapasitas Ilmiah Global South
| Area Fokus | Tujuan Strategis | Contoh Inisiatif Operasional | Relevansi Utama |
| Sumber Daya Manusia (SDM) | Meningkatkan wawasan global dan keahlian spesialis. | Program beasiswa non-gelar luar negeri (short course), Pertukaran Dosen/Peneliti. | Transfer keahlian dan perluasan jejaring kolaborasi. |
| Infrastruktur Manusia | Memastikan keberlanjutan program riset digital dan fisik. | Program mentorship terstruktur; Pelatihan konfigurasi dan manajemen tata kelola riset. | Mengatasi risiko infrastruktur digital “terurai” (unravelled). |
| Pendanaan Mandiri | Mengurangi ketergantungan pada donor; fokus pada isu lokal. | Pembentukan dan penguatan Dana Abadi Penelitian (DAPL). | Stabilitas pendanaan domestik; kontrol agenda riset lokal. |
| Inklusivitas Epistemologis | Memastikan relevansi kontekstual dan adopsi inovasi. | Mewajibkan integrasi Etnosains dan Kearifan Lokal dalam kurikulum dan proyek riset. | Meningkatkan adopsi teknologi (misalnya varietas tahan iklim). |
Kesimpulan
Analisis komprehensif ini menegaskan bahwa Kesenjangan Pengetahuan Global merupakan masalah multidimensi yang melibatkan defisit pendanaan struktural, bias yang mengakar dalam agenda riset (terlihat jelas dalam studi penyakit terabaikan), dan hambatan akses yang disengaja yang diciptakan oleh paywalls dan paradoks “APC Barrier” dalam model Gold Open Access. Konsentrasi kapasitas penelitian dan pendanaan di Global North secara fundamental menghambat kemampuan Global South untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan secara kontekstual dan untuk merespons krisis global secara efektif.
Solusi untuk defisit demokrasi pengetahuan ini tidak dapat bersifat tunggal. Hal ini memerlukan pergeseran kebijakan yang berani menuju model Akses Terbuka yang berkelanjutan, dikombinasikan dengan investasi yang disengaja dalam kapasitas ilmiah dan penguatan infrastruktur manusia di negara-negara berkembang.
Untuk menjembatani Kesenjangan Pengetahuan Global dan memastikan sains berfungsi sebagai barang publik yang inklusif, rekomendasi kebijakan strategis berikut disajikan kepada funders (lembaga pendanaan) dan institusi internasional:
- Mandat Global Diamond OA:Lembaga pendanaan riset internasional dan nasional harus secara progresif mengalihkan dukungan finansial dari penerbitan berbasis langganan atau berbasis APC (Gold OA) ke model Diamond Open Access (APC-free) atau model repositori (Green OA) yang didukung mandat yang kuat. Pendanaan publik harus secara eksplisit mewajibkan hasil riset didiseminasi melalui jalur yang tidak diskriminatif, menghapuskan beban biaya bagi penulis di Global South.
- Investasi Terfokus pada Infrastruktur Ganda:Alokasi dana riset harus memasukkan pembangunan Infrastruktur Publik Digital (DPI) yang terbuka dan aman serta, yang lebih krusial, investasi substansial dalam penguatan Human Infrastructure. Ini berarti mendukung pelatihan, mentorship, dan penguatan tata kelola institusional lokal untuk memastikan bahwa investasi teknologi dapat dikonfigurasi, dikelola, dan dipertahankan oleh talenta domestik.
- Reformasi Agenda Riset Melalui Skema Pendanaan Bersama:Lembaga pendanaan harus memprioritaskan skema pendanaan bersama (co-funding) yang mewajibkan kemitraan yang seimbang antara Global North dan Global South. Program ini harus secara eksplisit diarahkan untuk mengatasi penyakit terabaikan dan tantangan lokal yang didorong oleh Global South, seperti adaptasi terhadap perubahan iklim dan ketahanan pangan.
- Kebijakan Inklusivitas Epistemologis:Institusi riset dan funders internasional harus mewajibkan integrasi dan pengakuan formal terhadap Pengetahuan Lokal dan Etnosains dalam perancangan dan pelaksanaan proyek riset. Langkah ini memastikan relevansi kontekstual dan meningkatkan tingkat adopsi inovasi ilmiah di tingkat komunitas, mengatasi pemisahan antara inovasi dan implementasi lapangan.
- Program Kolaborasi Berbasis Capacity BuildingSeimbang: Mengembangkan program kemitraan yang tidak hanya berfokus pada output publikasi, tetapi pada transfer keahlian dan mentorship jangka panjang (misalnya, melalui program pelatihan non-gelar yang terstruktur ), dengan tujuan akhir mentransfer kepemilikan dan otonomi riset sepenuhnya ke institusi Global South.
