Latar Belakang Geopolitik: Pergeseran Kekuatan dan Signifikansi Soft Power

Dalam lanskap hubungan internasional kontemporer, kemampuan suatu negara untuk memproyeksikan kekuatan tidak lagi semata-mata bergantung pada kapasitas militer atau ekonomi, yang dikenal sebagai hard power. Konsep soft power—kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui atraksi, bukan melalui paksaan atau pembayaran—telah menjadi komponen penting dari pengaruh global. Berbagai analisis geopolitik menunjukkan bahwa persaingan untuk mendapatkan pengaruh semakin ketat, dengan rival yang ramah maupun yang bermusuhan berinvestasi dalam inovasi cara mereka membangun kepercayaan dan daya tarik internasional.

Diplomasi budaya adalah jenis soft power yang mencakup pertukaran ide, informasi, seni, bahasa, dan aspek budaya lainnya di antara bangsa-bangsa dengan tujuan mendasar untuk membina saling pengertian. Tujuan strategisnya adalah agar masyarakat di negara asing dapat mengembangkan pemahaman terhadap cita-cita dan institusi negara donor, sehingga pada akhirnya membangun dukungan luas untuk tujuan ekonomi dan politik. Negara yang mengabaikan pemeliharaan soft power-nya berisiko menanggung kerugian strategis yang tak ternilai. Bahkan Indonesia sendiri memanfaatkan warisan budayanya, seperti batik dan gamelan (yang diakui UNESCO), sebagai alat diplomasi yang efektif untuk memperkuat pengaruhnya secara internasional.

Peningkatan tautan eksplisit antara program soft power—termasuk yang dioperasikan melalui institusi pendidikan seperti Confucius Institutes (CI) dan British Council (BC)—dengan kebijakan luar negeri dan tujuan ekonomi nasional, menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam diplomasi. Kegiatan soft power saat ini semakin terpusat dan dijadikan sebagai instrumen terkoordinasi dari proyeksi kekuatan negara. Oleh karena itu, institusi pendidikan asing tidak dapat lagi dilihat hanya sebagai lembaga filantropi, tetapi sebagai outpost (pos terdepan) kepentingan nasional asing yang dikelola secara strategis.

Definisi Kritis: Rekayasa Sosial melalui Bahasa dan Pendidikan

Rekayasa sosial, dalam konteks promosi bahasa dan pendidikan asing, mengacu pada upaya yang disengaja dan terencana oleh negara donor untuk membentuk struktur kognitif, orientasi nilai, dan disposisi ideologis masyarakat penerima dalam jangka panjang. Bahasa memainkan peran sentral sebagai medium kognitif. Pengajaran bahasa tidak netral; penguasaan bahasa asing memberikan akses pada seperangkat pengetahuan, nilai, dan kerangka berpikir tertentu. Dominasi bahasa utama global adalah bentuk hegemoni yang beroperasi secara lembut dan sulit dilawan.

Pendidikan berfungsi sebagai vektor nilai dan mekanisme utama pengembangan modal manusia (human capital). Melalui reformasi kurikulum, negara dapat mendistribusikan pengetahuan, keterampilan, dan disposisi yang diinginkan untuk menghadapi tantangan global. Rekayasa sosial intelektual terjadi ketika promosi bahasa dan sistem pendidikan asing menciptakan ketergantungan epistemologis, yang mengubah cara berpikir elit lokal sehingga mereka secara inheren lebih bersimpati, atau minimal lebih selaras, dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi negara donor. Model yang berbeda (CI dan BC) mencapai rekayasa ini melalui taktik yang berbeda: kooptasi kurikulum langsung atau standardisasi global.

Kerangka Analisis: Mekanisme Rekayasa Sosial Struktural

Analisis mendalam mengenai institusi promosi bahasa asing menunjukkan dua mekanisme utama rekayasa sosial yang beroperasi: Model Kooptasi Kurikuler dan Model Ketergantungan Struktural.

Model Kooptasi Kurikuler dan Normalisasi Ideologi

Kurikulum berfungsi sebagai medan tempur ideologis. Dalam konteks Tiongkok, reformasi kurikulumnya mencerminkan ketegangan antara tuntutan globalisasi (mempersiapkan siswa untuk bersaing secara global) dengan tujuan nasionalisme (mendorong identifikasi dan kebanggaan pada pencapaian dan budaya Tiongkok).

Salah satu mekanisme kooptasi yang paling kontroversial adalah filtrasi politik, atau sensor melalui ketidakhadiran diskursus. Confucius Institutes (CI), sebagai perpanjangan dari negara Tiongkok, sering dituduh memfilter atau menekan diskusi mengenai isu-isu politik sensitif seperti legitimasi negara Taiwan, asal usul Perang Korea, hak asasi manusia di Tiongkok, dan Tibet. Praktik ini menempatkan agenda negara asing di atas integritas skolastik dan hak fundamental universitas penerima.

Ancaman terhadap kedaulatan akademik terjadi ketika institusi di negara penerima mengizinkan CI untuk mengabaikan kebebasan akademik. Kebebasan akademik adalah prasyarat kedaulatan intelektual suatu bangsa. Kooptasi kurikulum oleh badan yang dikendalikan oleh negara asing dapat membatasi perdebatan, memengaruhi pemilihan teks, dan mengarahkan staf akademik sesuai dengan tujuan politik pemerintah Tiongkok.

Standardisasi dan Ketergantungan Struktural

British Council (BC) beroperasi menggunakan model rekayasa sosial yang berbeda, berfokus pada standardisasi global dan penciptaan ketergantungan struktural. BC adalah pakar dunia dalam pendidikan bahasa Inggris, ujian, dan pengembangan guru. Tujuannya, selain mempromosikan kolaborasi budaya , adalah mendapatkan pengakuan dunia luar atas nilai-nilai dan pencapaian masyarakat Inggris.

Ketergantungan struktural diciptakan melalui dominasi standar. BC mengelola dan mempromosikan sistem ujian yang menentukan akses ke pendidikan tinggi dan mobilitas profesional secara global (misalnya, IELTS). Standar ini menjadi gerbang yang tak terhindarkan. Melalui program Beasiswa GREAT, Inggris menawarkan pendanaan pascasarjana (£10.000) yang menargetkan mahasiswa dari negara tertentu, termasuk Indonesia, untuk belajar di universitas-universitas di Inggris. Program ini merupakan investasi jangka panjang dalam pembentukan jaringan loyalitas, memastikan bahwa elit masa depan negara penerima memiliki ikatan profesional dan sentimental yang kuat dengan sistem dan nilai-nilai Inggris.

Perbedaan mendasar dalam taktik: Jika CI menggunakan kontrol narasi (vertikal) untuk membatasi apa yang boleh dibicarakan, BC menggunakan penguncian struktural (horizontal). Standardisasi melalui BC memaksa negara-negara penerima untuk menyelaraskan diri dengan metodologi, kurikulum, dan secara implisit, sistem nilai yang ditanamkan melalui hegemoni bahasa Inggris.

Studi Kasus Tiongkok: Confucius Institutes (CI) dan Rekayasa Sosial Negara

Arsitektur Pengendalian dan Tautan Politik Eksplisit

Confucius Institutes (CI) didirikan pada tahun 2004 sebagai program promosi pendidikan dan budaya publik Tiongkok. Tujuan yang dinyatakan adalah mempromosikan bahasa dan budaya Tiongkok serta memfasilitasi pertukaran budaya. Organisasi ini didanai dan diatur oleh Chinese International Education Foundation (CIEF), sebuah organisasi nirlaba yang terorganisir di bawah pemerintah (GONGO) di bawah Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Struktur ini menunjukkan tingkat kontrol negara yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mitra Baratnya. Pengawasan institusi ini, yang dahulu di bawah Hanban, melibatkan anggota Politburo dan Wakil Perdana Menteri RRT. Integrasi politik tingkat tinggi ini mengindikasikan bahwa CI berfungsi sebagai perpanjangan langsung dari hard power politik RRT. CI bertujuan untuk melakukan pengajaran bahasa, penelitian yang relevan, pelatihan guru, dan yang terpenting, menyediakan konsultasi mengenai pendidikan, budaya, dan ekonomi Tiongkok.

CI sebagai Alat Dukungan Geopolitik dan Ekonomi

CI adalah platform utama diplomasi publik Tiongkok yang dirancang untuk meningkatkan reputasinya di panggung internasional dan mewujudkan “Chinese Dream”. Keberhasilan diplomasi publik Tiongkok melalui CI di Indonesia, misalnya, dinilai didorong oleh engagement yang intensif melalui berbagai kegiatan, termasuk mendirikan pusat penelitian budaya dan terlibat dalam kegiatan seperti Kompetisi Chinese Bridge.

Selain tujuan budaya, penempatan CI seringkali terikat pada tujuan geopolitik dan ekonomi yang lebih besar. Kehadiran CI secara strategis mendukung kepentingan ekonomi, terlihat dari kaitannya dengan koridor ekonomi dan rencana pembangunan infrastruktur RRT, seperti yang disoroti dalam konteks Mandalay, Myanmar. Ini memperkuat pandangan bahwa promosi bahasa Mandarin adalah prasyarat untuk keterlibatan ekonomi Tiongkok yang lebih dalam dan luas di luar negeri. Ekspansi CI telah sangat agresif di Global South. Di Afrika, jumlah Confucius Institutes telah mencapai 48, melampaui kehadiran pusat budaya AS (40) dan UK (38), menunjukkan fokus Tiongkok dalam membangun pengaruh yang cepat di negara-negara berkembang.

Pelanggaran Kedaulatan Akademik dan Praktik Sensor

CI telah menjadi subjek kritik keras di Barat karena praktik yang mengancam kebebasan akademik dan integritas skolastik. American Association of University Professors (AAUP) telah mendesak universitas-universitas di Amerika Serikat dan Kanada untuk mempertimbangkan kembali kemitraan mereka, menuduh CI berfungsi sebagai lengan negara Tiongkok yang diizinkan untuk mengabaikan kebebasan akademik. Kritik utama mencakup penyebaran propaganda, pengawasan terhadap mahasiswa Tiongkok di luar negeri, dan upaya untuk memajukan agenda politik pemerintah Tiongkok mengenai isu-isu kontroversial.

Kekhawatiran unik muncul karena, tidak seperti institusi budaya Barat lainnya (misalnya Alliance Française atau Goethe-Institut), banyak CI beroperasi langsung di dalam kampus universitas mitra. Integrasi ini, yang sering kali disertai dengan klausul non-disclosure dan konsesi yang tidak dapat diterima terhadap tujuan politik Tiongkok, memungkinkan kontrol langsung atas staf akademik dan kurikulum, sehingga mengancam otonomi perguruan tinggi tuan rumah.

Meskipun kritik keras terjadi di Barat, penelitian dari Asia Tenggara dan Pasifik menunjukkan bahwa di wilayah tersebut, CI sering dilihat lebih positif, terutama berfungsi sebagai sumber daya budaya bagi diaspora Tiongkok atau sebagai gerbang menuju peluang ekonomi. Namun, analisis di Indonesia menemukan bahwa upaya diplomasi publik melalui CI belum sepenuhnya berhasil meningkatkan citra nasional Tiongkok secara signifikan, karena sentimen anti-Cina masih ada. Hal ini menciptakan dilema kebijakan bagi negara penerima: mereka harus menimbang manfaat fungsional (akses bahasa, peluang ekonomi) yang ditawarkan CI terhadap risiko kedaulatan intelektual yang ditimbulkan oleh model operasi CI yang terkontrol secara politis.

Studi Kasus Inggris: British Council (BC) dan Warisan Pengaruh Budaya

Mandat dan Integrasi Kebijakan Luar Negeri UK

British Council (BC) mewakili model soft power yang lebih mapan, yang secara historis memiliki kehadiran luas di banyak wilayah. British Council Indonesia Foundation berfokus pada keahlian dalam pendidikan bahasa Inggris, ujian (termasuk IELTS), dan pengembangan guru. Tujuan utama BC adalah untuk mendapatkan pengakuan dunia luar atas nilai-nilai dan pencapaian masyarakat Inggris , serta mendukung kolaborasi internasional melalui sektor seni dan kebudayaan, seperti melalui program Connections Through Culture.

BC merupakan pemain kunci dalam kelompok non-pemerintah terkemuka yang mewakili organisasi soft power di Inggris Raya, UK Soft Power Group (UKSPG). Laporan terbaru menggarisbawahi bahwa kebijakan soft power dan hubungan budaya Inggris semakin eksplisit terkait dengan prioritas kebijakan luar negeri nasional, tujuan ekonomi, dan kebutuhan untuk mempromosikan nilai-nilai seperti hak asasi manusia dan demokrasi. Dengan demikian, BC beroperasi sebagai badan semi-otonom (arm’s length body) yang mempertahankan tingkat kredibilitas netralitas budaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan CI, meskipun tujuannya tetap selaras erat dengan kepentingan strategis dan ekonomi Inggris.

Mekanisme Rekayasa Sosial melalui Hegemoni Standar

Mekanisme rekayasa sosial BC sangat efektif karena ia beroperasi pada tingkat struktural, menciptakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari di pasar global. Standardisasi adalah instrumen kuncinya. Dengan mengelola dan mempromosikan standar ujian bahasa Inggris global yang diterima secara universal (misalnya IELTS) , BC memastikan bahwa sistem pendidikan dan bahasa Inggris UK tetap menjadi gerbang penting untuk mobilitas akademis dan profesional di seluruh dunia.

Rekayasa elite merupakan strategi pelengkap. Program Beasiswa GREAT  adalah contoh investasi jangka panjang yang ditujukan untuk kelompok elite intelektual di negara-negara mitra. Dengan mendanai studi pascasarjana di Inggris, BC membantu menanamkan pemahaman yang mendalam mengenai institusi, budaya, dan sistem nilai Inggris pada pemimpin masa depan negara penerima. Hal ini secara bertahap membentuk orientasi kebijakan elit tersebut untuk lebih selaras dengan kepentingan UK di masa depan.

Dalam membedakan taktik, jika CI berupaya menyuntikkan pengaruh melalui kontrol narasi langsung (vertikal) di dalam infrastruktur akademik, BC menerapkan rekayasa sosial melalui penguncian struktural (horizontal). Dominasi standarnya secara otomatis mengarahkan aspirasi karir dan mobilitas elit lokal menuju kerangka nilai dan institusi UK/Barat. BC jarang dikritik atas isu sensor akademik karena biasanya beroperasi di pusat independen, namun modelnya menghadapi kritik geopolitik terkait potensi neokolonialisme budaya dan pemeliharaan asimetri kekuatan global.

Analisis Komparatif Model Rekayasa Sosial CI dan BC

Perbandingan Confucius Institutes dan British Council mengungkapkan dua pendekatan yang sangat berbeda dalam pelaksanaan diplomasi budaya strategis. Meskipun keduanya merupakan instrumen soft power negara untuk menanamkan pengaruh jangka panjang, perbedaan struktural mereka menentukan tingkat risiko dan efektivitas taktis di negara penerima.

Perbedaan Struktur Organisasi dan Otonomi Institusional

Perbedaan paling mencolok terletak pada tingkat pengendalian negara. CI adalah entitas yang sangat dikendalikan oleh negara (GONGO) dengan pengawasan politik tingkat tertinggi. Kontrol sentral ini memungkinkan Tiongkok untuk mengejar tujuan strategis jangka pendek, seperti mendukung inisiatif Belt and Road Initiative (BRI). Namun, integrasi politik yang mendalam ini juga menelanjangi CI terhadap tuduhan propaganda dan sensor, melemahkan kredibilitasnya sebagai lembaga budaya murni.

Sebaliknya, British Council beroperasi sebagai badan semi-otonom (arm’s length body) yang memungkinkannya mempertahankan kredibilitas netralitas yang lebih besar di mata publik. Meskipun tujuannya selaras dengan kebijakan luar negeri dan ekonomi Inggris , jarak operasionalnya dari pemerintah pusat mengurangi kerentanan terhadap tuduhan intervensi politik langsung di kampus.

Taktik Pengaruh: Sensor Kurikuler vs. Ketergantungan Struktural

Taktik pengaruh CI dapat digambarkan sebagai Inside-Out: mereka menyuntikkan pengaruh dengan menempatkan diri secara fisik di dalam infrastruktur akademik (kooptasi di kampus universitas) dan menggunakan kontrol langsung atas kurikulum dan staf untuk membatasi diskursus pada isu-isu sensitif.

Sebaliknya, taktik BC adalah Outside-In: mereka menyuntikkan pengaruh dari luar melalui penguasaan standardisasi global (ujian dan akreditasi)  dan investasi pada elite lokal melalui program beasiswa yang menciptakan insentif pasar yang kuat. Dampak BC adalah menciptakan ketergantungan mobilitas dan profesionalisme pada standar Inggris.

Model CI yang sangat politis membuatnya rentan terhadap sentimen anti-Cina , yang dapat memicu penolakan di negara penerima. Sementara itu, model BC yang berfokus pada fungsionalitas dan standar global cenderung lebih stabil, karena negara penerima melihat standar tersebut sebagai prasyarat netral untuk sukses global, meskipun standar tersebut mengikat mereka pada kepentingan geopolitik Inggris/Barat.

Tabel I: Perbandingan Model Soft Power: Confucius Institutes (CI) dan British Council (BC)

Aspek Komparatif Confucius Institutes (CI) British Council (BC)
Model Organisasi GONGO (Government-Organized NGO); Kontrol Ketat Pemerintah (CCP) Arm’s Length Body; Selaras dengan Kebijakan Luar Negeri UK
Fokus Pengaruh Pengajaran Bahasa Mandarin dan Promosi Citra Tiongkok/Nasionalisme Standardisasi Bahasa Inggris (ELT/IELTS) dan Pembangunan Jaringan Elite
Taktik Rekayasa Sosial Kooptasi Kurikuler dan Sensor Langsung Isu Politik (ex: Taiwan, Tibet) Ketergantungan Struktural dan Pembentukan Jaringan Alumni Elite
Lokasi Khas Integrasi Langsung di Kampus Universitas Mitra Pusat Bahasa Independen dan Kemitraan Program
Kritik Utama Pelanggaran Kebebasan Akademik; Propaganda; Spionase Potensi Neokolonialisme Budaya; Pengikatan pada Standar UK/Barat

Dampak Terhadap Kedaulatan Negara Penerima dan Rekomendasi Kebijakan

Kedaulatan Intelektual dan Kebebasan Akademik

Dampak paling serius dari model rekayasa sosial, terutama model CI, adalah erosi kedaulatan intelektual negara penerima. Kritik yang diajukan oleh akademisi di AS dan Kanada menegaskan bahwa kemitraan dengan CI dapat menempatkan agenda negara asing di atas prinsip kebebasan akademik. Kebebasan akademik adalah benteng pertahanan utama universitas. Jika negara penerima gagal merawat dan menjaga kebebasan akademik di tingkat kampus , ia akan menjadi rentan terhadap tekanan, terror, dan intimidasi yang didorong oleh kekuatan asing.

Mekanisme kooptasi finansial memainkan peran penting. CI beroperasi melalui pembiayaan bersama antara CIEF dan institusi tuan rumah. Ketergantungan finansial ini dapat melemahkan kemampuan universitas lokal untuk menegaskan kontrol unilateral atas kurikulum dan rekrutmen staf. Universita-universitas lokal dipaksa untuk memilih antara insentif pendanaan dan integritas akademik mereka.

Strategi Mitigasi Terhadap Rekayasa Sosial Asing

Untuk menanggapi ancaman terhadap kedaulatan intelektual, negara penerima perlu mengambil langkah-langkah kebijakan proaktif yang berfokus pada transparansi dan kontrol unilateral.

  1. Regulasi Kontrak dan Kontrol Unilateral: Negara harus menetapkan standar wajib bahwa universitas memiliki kontrol penuh dan tidak dapat diganggu gugat (unilateral control) atas semua masalah akademik, termasuk penentuan kurikulum, pemilihan teks, dan rekrutmen pengajar program bahasa asing di kampus. Semua kontrak dengan badan-badan seperti CI harus dinegosiasikan ulang untuk menghapus klausul kerahasiaan (non-disclosure clauses) dan memastikan transparansi operasional, sehingga mencegah pengaruh politik terselubung atau spionase.
  2. Investasi pada Soft Power Domestik: Pertahanan utama terhadap dominasi budaya asing adalah penguatan strategi diplomasi publik dan budaya nasional. Misalnya, posisi Mesir di Timur Tengah diperkuat oleh aset peradaban dan kebesaran Al Azhar sebagai institusi keagamaan terkemuka. Kegagalan memelihara aset tersebut akan mengakibatkan kerugian soft power yang besar. Negara harus memperkuat promosi warisan budaya (seperti pengakuan UNESCO) sebagai alat diplomasi strategis yang memelihara identitas nasional.
  3. Standardisasi dan Pembangunan Kapasitas Bahasa Nasional: Untuk mengurangi ketergantungan struktural pada standar bahasa asing (seperti standar BC), negara harus meningkatkan investasi dalam pembangunan kapasitas domestik, khususnya dalam pelatihan guru bahasa nasional dan internasional non-donor. Memastikan bahwa sistem pendidikan tinggi nasional mampu merespons tuntutan global tanpa harus sepenuhnya tunduk pada standar asing adalah kunci untuk mempertahankan kedaulatan pendidikan.

Tabel II: Kerangka Resiliensi Kebijakan terhadap Soft Power Pendidikan Asing

Area Kebijakan Tujuan Strategis Rekomendasi Aksi
Kedaulatan Akademik Menghilangkan sensor dan memastikan kebebasan berekspresi. Wajibkan kontrol unilateral universitas lokal atas kurikulum, staf, dan pengujian; Hapus klausul non-disclosure.
Transparansi Operasional Mencegah spionase dan pengaruh politik terselubung. Audit berkala terhadap pendanaan dan aktivitas operasional CI/BC di dalam kampus; Transparansi sumber pendanaan.
Pembangunan Kapasitas Domestik Mengurangi ketergantungan pada standar dan guru asing. Peningkatan signifikan investasi dalam pelatihan guru bahasa nasional dan internasional (non-donor).
Soft Power Nasional Mempertahankan kebanggaan dan identitas nasional. Memperkuat promosi warisan budaya sebagai alat diplomasi strategis dan memperkuat institusi pendidikan nasional yang ikonik.

Kesimpulan

Analisis terhadap Confucius Institutes Tiongkok dan British Council Inggris menunjukkan bahwa promosi bahasa dan pendidikan asing secara inheren melibatkan rekayasa sosial strategis. Institusi-institusi ini menawarkan peluang pendidikan yang berharga, tetapi pada saat yang sama, mereka secara sistematis berfungsi sebagai instrumen untuk menanamkan pengaruh politik dan budaya negara donor dalam jangka waktu yang panjang.

Confucius Institutes mewakili model yang sangat terkontrol dan terintegrasi secara politik, yang menimbulkan risiko langsung dan akut terhadap kedaulatan akademik melalui kooptasi kurikulum dan sensor. British Council, di sisi lain, mewakili model yang berorientasi pada pasar dan standar global, yang menimbulkan risiko yang lebih halus namun lebih struktural: ketergantungan yang mengikat elit masa depan negara penerima pada sistem dan nilai Inggris.

Di masa depan, persaingan antara dua model ini—model kontrol narasi Tiongkok dan model hegemoni standar Inggris—akan terus meningkat. Kemampuan negara penerima untuk merespons ancaman ini akan bergantung pada dua faktor utama: tingkat resiliensi akademik internalnya (yaitu, menjaga kebebasan akademik) dan kemauan politiknya untuk menegakkan transparansi serta kontrol unilateral atas program-program yang beroperasi di dalam wilayahnya. Kegagalan untuk membedah dan memitigasi risiko rekayasa sosial ini akan mengakibatkan erosi kedaulatan kognitif dan pembentukan elite yang secara tidak sadar memprioritaskan kepentingan asing di atas kepentingan nasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 2 = 6
Powered by MathCaptcha