Kabupaten Labuhanbatu, yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, dicirikan oleh lanskap geografis yang beragam, meliputi wilayah pesisir, sungai, dan dataran rendah. Keanekaragaman hayati di daerah ini memiliki peranan fundamental dalam menjaga keseimbangan ekosistem lokal dan global, sekaligus mendukung mata pencarian dan kekayaan budaya masyarakat setempat.Laporan ini disusun untuk mengidentifikasi dan menganalisis ragam flora dan fauna asli yang mendiami Kabupaten Labuhanbatu, dengan fokus pada status konservasi, peranan ekologis, serta tantangan dan upaya pelestarian yang sedang berlangsung.

Kawasan Konservasi dan Ekosistem Kunci di Labuhanbatu

Kabupaten Labuhanbatu memiliki beberapa kawasan yang secara formal ditetapkan sebagai area konservasi, serta berbagai tipe ekosistem yang menjadi habitat penting bagi flora dan fauna asli.

 Cagar Alam di Kabupaten Labuhanbatu

Provinsi Sumatera Utara memiliki sebelas cagar alam, dan tiga di antaranya berlokasi di Kabupaten Labuhanbatu. Kawasan-kawasan ini ditetapkan untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

  • Cagar Alam Batu Ginurit: Terletak di Desa Bandar Durian, Aek Natas, dengan luas 0,50 hektar, ditetapkan pada 17 September 1934. Flora yang dapat dijumpai di sini meliputi
    Aglaria abeagnoides (digoba), Pterocarpus indicus (angsana), Eugenia lepidocarpa (pangopa), Tetrameles nudiflora (binong), Canarium asperum (kenari), Arenga pinnata (aren), dan Jatropha curcas (jarak).
  • Cagar Alam Liang Balik: Berlokasi di Desa Kuala Beringin, Kualuh Hulu, dengan luas 0,31 hektar, ditetapkan pada 1 November 1936. Informasi spesifik mengenai flora dan fauna di Cagar Alam Liang Balik tidak tersedia secara rinci dalam materi riset, namun disebutkan jenis tumbuhan umum seperti akuatik, rumput, herba & semak, perambat, pohon, perdu, sikas, dan caudex.
  • Cagar Alam Sei Ledong: Memiliki luas 1.100 hektar, ditetapkan pada 27 Desember 1982. Meskipun disebutkan sebagai cagar alam di Labuhanbatu, detail spesifik flora dan fauna untuk Sei Ledong dalam materi riset ini mengacu pada penelitian di lokasi lain, seperti identifikasi krustasea di Teluk Klowe, Pulau Enggano.

Ukuran Cagar Alam Batu Ginurit (0,50 ha) dan Liang Balik (0,31 ha) yang sangat kecil menimbulkan pertanyaan mengenai kapasitasnya untuk konservasi keanekaragaman hayati secara efektif. Luas area yang terbatas ini, setara dengan kurang dari satu lapangan sepak bola standar, secara inheren membatasi kemampuannya untuk melindungi populasi spesies yang signifikan, terutama bagi spesies dengan jelajah luas atau kebutuhan habitat yang spesifik. Kawasan yang terfragmentasi dan terisolasi seperti ini sangat rentan terhadap efek tepi dan tekanan eksternal, sehingga peran strategisnya dalam konservasi keanekaragaman hayati pada skala lanskap yang lebih luas cenderung minimal. Meskipun mungkin berfungsi sebagai refugia bagi spesies yang sangat terlokalisasi atau sebagai situs edukasi, kontribusinya terhadap pengelolaan keanekaragaman hayati regional yang lebih besar perlu dievaluasi secara kritis.

Tabel 1: Kawasan Konservasi di Kabupaten Labuhanbatu

Nama Kawasan Lokasi Luas (hektar) Dasar Penetapan/Tahun Penetapan
Cagar Alam Batu Ginurit Desa Bandar Durian, Aek Natas 0,50 Zelfbestuur Besluit No. 390/1934 (17 Sep 1934)
Cagar Alam Liang Balik Desa Kuala Beringin, Kualuh Hulu 0,31 Zelfbestuur Besluit No. 221/1936 (1 Nov 1936)
Cagar Alam Sei Ledong Kabupaten Labuhanbatu 1.100 Keputusan Menteri Pertanian R.I. No. 923/Kpts/Um/12/82 (27 Des 1982)

Ekosistem Mangrove

Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang paling produktif dan vital di dunia, menyediakan berbagai layanan ekologis dan ekonomi. Di Kabupaten Labuhanbatu, ekosistem mangrove diidentifikasi sebagai pusat keanekaragaman hayati yang signifikan, menopang rantai makanan yang luas. Hutan mangrove di Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, merupakan salah satu area fokus penelitian terkait distribusi dan formasi vegetasi mangrove.

 Ekosistem Sungai dan Perairan Tawar

Kabupaten Labuhanbatu memiliki jaringan sungai yang penting, seperti Sungai Barumun, Sungai Bilah, Sungai Aekburu, dan muara Sungai Leidong. Perairan ini mendukung berbagai spesies akuatik. Penelitian telah dilakukan di Perairan Sungai Barumun, khususnya di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, untuk mengidentifikasi udang galah. Sungai Bilah juga dikenal sebagai habitat ikan terubuk. Studi makrozoobentos dilakukan di Sungai Aek Buru, Kabupaten Labuhanbatu Utara.

 Ekosistem Hutan Dataran Rendah

Meskipun tidak ada kawasan hutan dataran rendah spesifik yang diuraikan secara rinci dalam materi riset untuk Labuhanbatu, keberadaan spesies seperti Tapir Malaya di Labuhanbatu Selatan  dan referensi umum mengenai hutan di Sumatera Utara  mengindikasikan bahwa ekosistem hutan dataran rendah juga hadir dan mendukung keanekaragaman hayati yang penting.

Ragam Flora Asli Kabupaten Labuhanbatu

Flora asli Labuhanbatu mencakup berbagai jenis tumbuhan yang beradaptasi dengan ekosistem pesisir, sungai, dan daratan.

Spesies Mangrove Kunci

Ekosistem mangrove di Labuhanbatu kaya akan spesies. Beberapa spesies mangrove kunci yang teridentifikasi meliputi:

  • Avicennia alba
  • Aigeceras corniculatum
  • Rhizophora mucronata
  • Bruguiera parviflora (ditemukan di zona tengah mangrove)
  • Xylocarpus granatum (ditemukan di zona belakang, daratan)
  • Acrostichum aureum (ditemukan di zona belakang, daratan)
  • Excoecaria agallocha (ditemukan di zona belakang, daratan)

Analisis terhadap pola kepadatan vegetasi mangrove menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Data dari Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu, mengindikasikan bahwa meskipun terdapat peningkatan luas area dengan kepadatan vegetasi tertentu, luas area dengan kepadatan vegetasi “sangat padat” justru menurun sebesar 111,80 hektar selama periode 2002-2022. Pergeseran ini, di mana area yang sangat padat berkurang sementara area dengan kepadatan yang lebih rendah mungkin bertambah, dapat menunjukkan adanya degradasi pada bagian hutan mangrove yang paling matang dan kokoh. Mangrove yang padat dan dewasa memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menyediakan layanan ekologis vital, seperti penyerapan karbon, perlindungan pesisir, dan kompleksitas habitat. Penurunan kepadatan yang sangat tinggi dapat mengindikasikan gangguan ekosistem yang mengurangi kapasitasnya untuk mendukung keanekaragaman flora dan fauna serta menyediakan jasa lingkungan yang krusial.

Tabel 2: Spesies Mangrove Kunci di Ekosistem Labuhanbatu dan Status Konservasi IUCN

Nama Ilmiah Nama Umum Status Konservasi IUCN
Avicennia alba Api-api Putih Least Concern (LC)
Aigeceras corniculatum Berus Mata Buaya (Tidak tersedia dalam materi riset)
Rhizophora mucronata Bakau Hitam Least Concern (LC)
Bruguiera parviflora Bakau Kecil (Tidak tersedia dalam materi riset)
Xylocarpus granatum Nyirih Batu (Tidak tersedia dalam materi riset)
Acrostichum aureum Paku Laut Emas (Tidak tersedia dalam materi riset)
Excoecaria agallocha Buta-buta (Tidak tersedia dalam materi riset)

Flora Hutan Dataran Rendah dan Spesies Lainnya

Selain mangrove, Labuhanbatu juga memiliki flora daratan yang signifikan.

  • Flora Cagar Alam Batu Ginurit: Seperti yang disebutkan sebelumnya, mencakup Aglaria abeagnoides, Pterocarpus indicus, Eugenia lepidocarpa, Tetrameles nudiflora, Canarium asperum, Arenga pinnata, dan Jatropha curcas.
  • Rotan (Calamus spp.): Ditemukan di Labuhanbatu Selatan, tumbuh di daerah lembab seperti pinggiran sungai. Rotan memiliki manfaat ekologis dan ekonomi, digunakan sebagai bahan baku anyaman dan dapat dikonsumsi saat muda.
  • Tumbuhan Obat Tradisional: Beberapa tumbuhan obat yang ditemukan di hutan dataran rendah (meskipun konteksnya Labuhanbatu Selatan, namun relevan untuk wilayah Labuhanbatu secara umum) termasuk Tabar-Tabar (Costus speciosus), Gelinggang (Cassia alata L), Bakung (Crinum asiaticum), Senggani (Malestoma), Sambiloto (Andrographis paniculata), Ciplukan (Physalis angualata), Bandotan (Ageratum), Daun Sirih (Piper betle), Bunga Raya (Hibiscus rosa sinensis), Belimbing Wuluh (Averhoa bilimbi L), Putri Malu (Mimosa padica), Daun Jarak (Ricinnus communis), Sawi Langit (Cyanthillium cinereum), Sirih Cina (Peperomia pellucida), Sembung Rambat (Mikania cordata), Calincing Tanah (Oxalis barrelieri), Daun Pusar (Hyptis brevipes), dan Senduduk Buluh (Clidemia hirta L.).

Meskipun terdapat informasi mengenai spesies flora spesifik di cagar alam dan ekosistem mangrove, serta beberapa tumbuhan obat dan rotan di wilayah Labuhanbatu, belum ada inventarisasi komprehensif mengenai flora asli hutan dataran rendah secara keseluruhan di Kabupaten Labuhanbatu. Banyak referensi flora di Sumatera Utara (seperti Anggrek Tien Soeharto, Bunga Bangkai, dan Kantong Semar) secara eksplisit berlokasi di kabupaten lain seperti Tapanuli Utara, Deli Serdang, Karo, atau Kerinci. Kesenjangan data ini menunjukkan bahwa pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman flora terestrial di Labuhanbatu masih memerlukan survei botani yang lebih terfokus dan menyeluruh di berbagai habitat daratan di seluruh wilayah tersebut.

 Status Konservasi Flora

Beberapa spesies mangrove kunci di Labuhanbatu, seperti Avicennia alba  dan

Rhizophora mucronata , saat ini terdaftar sebagai “Least Concern” (LC) dalam Daftar Merah IUCN. Meskipun status global mereka relatif aman, ekosistem mangrove secara umum menghadapi ancaman dari aktivitas manusia seperti pengembangan pesisir, pertanian, dan pembuatan tambak ikan, serta kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global.

Ragam Fauna Asli Kabupaten Labuhanbatu

Fauna asli di Kabupaten Labuhanbatu sangat beragam, mencerminkan kekayaan ekosistem akuatik, pesisir, dan terestrialnya.

Fauna Akuatik

  • Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii): Ditemukan di perairan Sungai Barumun, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, dengan populasi yang bervariasi dan dipengaruhi oleh kegiatan antropogenik. Udang galah memiliki nilai rasio kelamin jantan-betina yang bervariasi antar stasiun penelitian. Secara ekologi, udang galah adalah bagian penting dari rantai makanan dan memiliki nilai ekonomi sebagai mata pencarian. Status konservasi IUCN-nya adalah “Least Concern” (LC).
  • Ikan Terubuk (Tenualosa sp. / Tenualosa ilisha): Merupakan spesies ikan endemik dan dilindungi di Indonesia, banyak ditemukan di Labuhanbatu, khususnya di perairan Sei Berumun dan Sungai Bilah. Ikan ini memiliki signifikansi budaya yang tinggi bagi masyarakat Labuhanbatu, bahkan diabadikan dalam sastra “Syair Ikan Terubuk”. Penurunan hasil tangkapan ikan terubuk menjadi perhatian, mendorong upaya pengawasan dan sosialisasi regulasi.
  • Makrozoobentos: Studi di Sungai Aek Buru, Kabupaten Labuhanbatu Utara, mengidentifikasi 15 spesies makrozoobentos dari filum Mollusca, dengan Nerita albicilla memiliki kelimpahan relatif tertinggi. Keanekaragaman makrozoobentos di sungai ini dikategorikan sedang. Spesies lain yang ditemukan termasuk Scylla serrata, Cerithidea sp, Conus textile, Nerita lineata, Nassarius margaritifer, Vexillum curvilliratum, dan Periophthalmodom schlosseri.
  • Belangkas (Tachypleus gigas / Carcinoscorpius rotundicauda): Belangkas, atau mimi, merupakan hewan purba yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia, dengan populasinya di alam menghadapi ancaman kepunahan. Penelitian menunjukkan keberadaan belangkas di perairan Pantai Timur Sumatera Utara, termasuk Labuhanbatu, dengan hasil tangkapan yang bervariasi di beberapa stasiun pengamatan. Di Indonesia, ditemukan tiga dari empat jenis belangkas di dunia, yaitu Tachypleus gigas dan Carcinoscorpius rotundicauda. Spesies Carcinoscorpius rotundicauda dikenal sebagai “mimi mangrove” karena habitatnya yang sering ditemukan di ekosistem mangrove dengan substrat berlumpur. Ancaman terhadap populasi belangkas meliputi pencemaran perairan, degradasi habitat, dan penangkapan berlebih.

Ekosistem sungai di Labuhanbatu menghadapi tekanan ganda yang mengancam keanekaragaman hayati akuatiknya. Pertama, populasi udang galah di Sungai Barumun secara langsung dipengaruhi oleh tingginya kegiatan antropogenik. Selain itu, perairan Rawa Sungai Barumun telah mengalami gangguan akibat perubahan fungsi lahan dan pencemaran, yang berdampak pada keanekaragaman ikan. Kedua, penemuan ikan ‘aligator gar’ (Atractosteus spatula), spesies predator non-asli dari Benua Amerika, di Sungai Bilah menunjukkan adanya ancaman dari spesies invasif yang dapat berdampak buruk pada ekosistem sungai asli. Kombinasi antara degradasi habitat akibat aktivitas manusia dan introduksi spesies predator invasif menciptakan tantangan konservasi yang kompleks. Strategi pengelolaan perlu mencakup tidak hanya mitigasi dampak langsung seperti polusi dan perubahan tata guna lahan, tetapi juga langkah-langkah pencegahan dan pengendalian yang kuat terhadap penyebaran spesies invasif untuk melindungi fauna asli.

Fauna Mangrove

Ekosistem mangrove di Labuhanbatu menjadi habitat bagi berbagai jenis fauna. Tabel 3 menyajikan fauna kunci yang teridentifikasi di ekosistem mangrove Labuhanbatu:

Tabel 3: Fauna Kunci di Ekosistem Mangrove Labuhanbatu

Kategori Fauna Nama Ilmiah (jika tersedia) Nama Umum Peran Ekologis/Catatan Penting
Krustasea Scylla spp. Kepiting Bakau Fauna kunci, bagian dari rantai makanan mangrove
Metaplax sp. Kepiting Oranye Penghuni hutan mangrove
Labuanium vittatum Kepiting Ungu Pemanjat Penghuni hutan mangrove
Ilyoplax sp. Kepiting Semapor Penghuni hutan mangrove
Alpheus sp. Udang Pistol Melindungi diri dengan capitannya yang berbunyi seperti pistol
Moluska Cerithidea sp Siput Bagian dari makrozoobentos mangrove
Conus textile Siput Bagian dari makrozoobentos mangrove
Nerita lineata Siput Bagian dari makrozoobentos mangrove
Nassarius margaritifer Siput Bagian dari makrozoobentos mangrove
Vexillum curvilliratum Siput Bagian dari makrozoobentos mangrove
Ikan Periophthalmus sp. Ikan Gelodok Dapat hidup di air dan lumpur mangrove
Mugilidae Ikan Belanak Penghuni hutan mangrove
Jack Ikan Kuwe Lilin Penghuni hutan mangrove
Snappers Ikan Kakap Penghuni hutan mangrove
Bonefish Bandeng Celurut Penghuni hutan mangrove
Mamalia Prionailurus viverrinus Kucing Bakau Perenang handal, predator ikan dan mamalia kecil
Reptil Saltwater crocodile Buaya Air Asin Predator di ekosistem mangrove
Emoia atrocostata Kadal Hidup di pesisir pantai dan ekosistem mangrove
Ular air, ular mangrove, ular tambak Penghuni ekosistem mangrove
Burung & Monyet Berbagai jenis Burung, Monyet Tempat berlindung dan mencari makan

Serangga

Keanekaragaman serangga di Labuhanbatu mencakup spesies hama di lahan pertanian dan perkebunan.

  • Serangga Hama Padi: Penelitian di lahan persawahan Desa Sidua Dua, Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, mengidentifikasi 13 jenis serangga hama dari 10 famili. Spesies yang ditemukan antara lain Tettigonia sp., Sogatella furcifera, Nephotettix virescens, Cofana spectra, Atractomorpha crenulata, Erotides sp., Leptocorisa acuta, Aulacophora indica, Chrysochus cobaltinus, Silba capsicarum, Hercostomus germanus, Cnaphalocrosis medinalis, dan Scirpophaga incertulas. Indeks keanekaragaman serangga hama padi di daerah ini dikategorikan sedang, menunjukkan penyebaran jenis yang merata tanpa dominasi spesies tertentu.
  • Serangga Hama Kelapa Sawit: Di perkebunan kelapa sawit di Labuhanbatu Utara, ditemukan berbagai serangga hama seperti Ulat Api (Setothosea asigna), Ulat Kantong (Metisa plana), Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros), Kumbang Adoretus (Adoretus compressus), Belalang (Valanga nigricornis), dan Jangkrik (Gryllidae).Serangan ulat api dan ulat kantong menyebabkan kerusakan signifikan pada daun kelapa sawit.
  • Kumbang Lembing: Ratusan ribu serangga Kumbang Lembing menyerang pemukiman warga Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu. Serangga ini aktif di malam hari dan menyerang tanaman padi.

Reptil dan Amfibi

Informasi spesifik mengenai reptil dan amfibi asli Labuhanbatu dalam materi riset ini terbatas.

  • Reptil: Selain buaya dan kadal di ekosistem mangrove , disebutkan juga ular air, ular mangrove, dan ular tambak. Penampakan buaya di Kualuh Hilir, Labuhanbatu Utara, juga dilaporkan, dengan petugas BBKSDA Sumatera Utara memasang perangkap.
  • Amfibi: Materi riset tidak menyediakan daftar spesies amfibi spesifik untuk Kabupaten Labuhanbatu. Beberapa referensi tentang amfibi di Sumatera Utara umumnya merujuk pada Taman Nasional Batang Gadis atau lokasi lain di luar Labuhanbatu.

Mamalia dan Burung

  • Tapir Malaya (Tapirus indicus): Ditemukan di Labuhanbatu Selatan, menunjukkan keberadaan habitat hutan yang mendukung mamalia besar. Tapir yang masuk pemukiman warga telah dievakuasi dan direhabilitasi di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary.
  • Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae): Meskipun tidak ada konfirmasi langsung tentang populasi harimau di Labuhanbatu dalam materi riset, keberadaannya di Sumatera Utara  dan statusnya sebagai spesies kritis  menunjukkan potensi habitat atau koridor di wilayah yang berbatasan dengan Labuhanbatu. Mangsa utamanya meliputi babi hutan, rusa sambar, kijang, dan kancil.
  • Orangutan Sumatera (Pongo abelii): Populasinya tersebar di Sumatera Utara, termasuk di wilayah Barumun , yang berdekatan dengan Labuhanbatu. Orangutan Sumatera dikategorikan kritis (critically endangered).
  • Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus): Ditemukan di hutan mangrove.
  • Burung: Berbagai jenis burung menghuni ekosistem mangrove. Mengenai Beo Nias (Gracula religiosa robusta), meskipun merupakan fauna endemik Sumatera Utara, habitat aslinya adalah Pulau Nias , bukan Labuhanbatu.

Kehadiran mamalia besar seperti Tapir Malaya di Labuhanbatu Selatan, serta distribusi Orangutan Sumatera di wilayah Barumun yang berbatasan, dan Harimau Sumatera di Sumatera Utara secara lebih luas, menggarisbawahi pentingnya konektivitas lanskap untuk konservasi spesies-spesies ini. Mamalia besar memerlukan wilayah jelajah yang luas untuk mencari makan, berkembang biak, dan menjaga keragaman genetik. Mengingat ukuran beberapa cagar alam di Labuhanbatu yang relatif kecil, kawasan lindung yang terisolasi saja tidak akan cukup untuk menopang populasi yang lestari. Oleh karena itu, upaya konservasi yang efektif bagi spesies ikonik dan seringkali terancam punah ini harus mengadopsi pendekatan skala lanskap yang mempertimbangkan koridor ekologis antarhabitat yang terfragmentasi, bahkan melintasi batas-batas administratif, untuk mendorong kolaborasi konservasi regional.

Status Konservasi Fauna

Tabel 4 menyajikan spesies fauna asli signifikan di Labuhanbatu dan status konservasinya:

Tabel 4: Spesies Fauna Asli Signifikan di Labuhanbatu dan Status Konservasi

Kategori Fauna Nama Ilmiah Nama Umum Status Konservasi IUCN Status Nasional (PP 7/1999 & Permen LHK P.106/2018 Lokasi Spesifik di Labuhanbatu (jika ada)
Ikan Macrobrachium rosenbergii Udang Galah Least Concern (LC) Sungai Barumun, Labuhanbatu Selatan
Tenualosa sp. / Tenualosa ilisha Ikan Terubuk (Tidak tersedia dalam materi riset) Dilindungi Sei Berumun, Sungai Bilah
Arthropoda (Chelicera) Tachypleus gigas / Carcinoscorpius rotundicauda Belangkas / Mimi Data Deficient (DD) Dilindungi Perairan Pantai Timur Sumatera Utara (termasuk Labuhanbatu), ekosistem mangrove
Mamalia Tapirus indicus Tapir Malaya Critically Endangered (CR) Dilindungi (PP 7/1999) Labuhanbatu Selatan
Panthera tigris sumatrae Harimau Sumatera Critically Endangered (CR) Dilindungi (PP 7/1999, Permen LHK P.106/2018) Sumatera Utara (potensi koridor di Labuhanbatu)
Pongo abelii Orangutan Sumatera Critically Endangered (CR) Dilindungi (PP 7/1999) Barumun (berdekatan dengan Labuhanbatu)
Prionailurus viverrinus Kucing Bakau (Tidak tersedia dalam materi riset) Dilindungi (PP 7/1999) Hutan mangrove Labuhanbatu
Reptil Saltwater crocodile Buaya Air Asin (Tidak tersedia dalam materi riset) Dilindungi (PP 7/1999) Ekosistem mangrove, Kualuh Hilir
Serangga Setothosea asigna Ulat Api (Tidak tersedia dalam materi riset) Perkebunan kelapa sawit Labuhanbatu Utara
Metisa plana Ulat Kantong (Tidak tersedia dalam materi riset) Perkebunan kelapa sawit Labuhanbatu Utara
Oryctes rhinoceros Kumbang Tanduk (Tidak tersedia dalam materi riset) Perkebunan kelapa sawit Labuhanbatu Utara
Kumbang Lembing Kumbang Lembing (Tidak tersedia dalam materi riset) Pemukiman Rantauprapat, menyerang padi

Terdapat perbedaan mencolok antara status konservasi global dan tekanan lokal yang dihadapi oleh spesies di Labuhanbatu. Sebagai contoh, Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) dan spesies mangrove seperti Avicennia alba serta Rhizophora mucronata terdaftar sebagai “Least Concern” (LC) oleh IUCN. Namun, di tingkat lokal, populasi udang galah di Sungai Barumun secara eksplisit terpengaruh oleh “tingginya kegiatan antropogenik”. Demikian pula, Ikan Terubuk, meskipun dilindungi secara nasional , mengalami penurunan hasil tangkapan akibat penangkapan yang kurang berkelanjutan. Konversi lahan mangrove yang masif untuk perkebunan kelapa sawit  juga memberikan tekanan signifikan pada spesies mangrove, terlepas dari status globalnya yang “Least Concern.” Perbedaan ini menunjukkan bahwa status konservasi global suatu spesies tidak selalu mencerminkan kerentanan atau tekanan yang dihadapinya di tingkat lokal atau regional. Aktivitas antropogenik lokal, konversi habitat, dan eksploitasi berlebihan dapat berdampak parah pada populasi, bahkan spesies yang secara global dianggap tidak terancam. Oleh karena itu, diperlukan penilaian ekologis dan perencanaan konservasi yang lebih terperinci di tingkat lokal, karena hanya dengan pemahaman yang mendalam tentang ancaman dan tekanan setempat, intervensi pengelolaan yang disesuaikan dapat dirumuskan secara efektif.

Peran Ekologis Spesies Kunci

Beberapa spesies di Labuhanbatu memiliki peran ekologis yang signifikan dalam menjaga fungsi dan kesehatan ekosistem.

Kontribusi terhadap Keseimbangan Ekosistem

  • Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii): Berperan penting sebagai bagian dari komponen rantai makanan di perairan, berkontribusi pada transfer energi dan nutrisi dalam ekosistem sungai.
  • Mangrove: Ekosistem mangrove secara keseluruhan memiliki beragam fungsi ekologivital:
  • Pencegah Intrusi Air Laut dan Abrasi/Erosi Pantai: Akar bakau yang efisien mengendapkan lumpur dan melindungi tanah pesisir dari pengikisan ombak dan perembesan air laut ke daratan.
  • Penyaring Alami: Akar mangrove mempercepat penguraian limbah organik dan bahan kimia seperti minyak dan deterjen, serta menghalangi angin laut kencang.
  • Habitat dan Sumber Makanan: Menjadi tempat tinggal dan sumber makanan bagi berbagai hewan darat (biawak, kura-kura, monyet, burung, ular) dan laut (ikan, udang, kepiting, siput). Akar tongkat mangrove menjadi area nursery bagi ikan dan invertebrata, menyediakan perlindungan dari predator dan nutrisi.
  • Pembentukan Pulau dan Stabilisasi Pesisir: Endapan dan tanah yang ditahan mangrove berkontribusi pada perluasan garis pantai dan memungkinkan tumbuhan terestrial berkembang.
  • Tapir Malaya (Tapirus indicus): Dikenal sebagai “tukang kebun hutan” atau “insinyur ekosistem.” Mereka adalah penyebar benih (seed disperser) yang vital, memakan berbagai buah dan menyebarkan biji melalui kotoran di lokasi berbeda, membantu regenerasi hutan. Pergerakan mereka juga menciptakan “lorong tapir” yang memfasilitasi pergerakan satwa lain dan membantu aerasi tanah.
  • Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus): Sebagai predator, kucing bakau berperan dalam mengendalikan populasi satwa mangsanya, seperti ikan, burung kecil, krustasea, dan mamalia kecil, yang pada gilirannya mempengaruhi vegetasi dan ekosistem secara keseluruhan.

 Signifikansi Budaya dan Ekonomi

  • Ikan Terubuk (Tenualosa sp.): Selain nilai ekologis, ikan terubuk memiliki signifikansi budaya yang mendalam bagi masyarakat Labuhanbatu, terbukti dari keberadaannya dalam sastra Melayu Labuhanbatu, seperti “Syair Ikan Terubuk”. Telur ikan terubuk juga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.
  • Udang Galah: Selain sebagai bagian dari rantai makanan, udang galah juga merupakan mata pencarian penting bagi masyarakat setempat.
  • Rotan: Memiliki banyak manfaat bagi manusia, baik untuk dikonsumsi maupun sebagai bahan baku anyaman untuk perkakas rumah tangga, keranjang, dan kerajinan lainnya.
  • Mangrove: Selain fungsi ekologis, hutan mangrove juga menjadi sumber pendapatan bagi nelayan sebagai tempat pembibitan ikan dan udang, serta berpotensi sebagai lokasi ekowisata.

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati di Kabupaten Labuhanbatu menghadapi berbagai ancaman serius, sebagian besar berasal dari aktivitas antropogenik.

 Dampak Aktivitas Antropogenik

  • Perkebunan Kelapa Sawit dan Deforestasi: Kabupaten Labuhanbatu terkenal dengan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet. Pengembangan kelapa sawit diidentifikasi sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap keanekaragaman hayati tropis, bertanggung jawab atas tingginya angka deforestasi dan hilangnya hutan. Lahan bekas hutan bakau juga disita dan ditumbangkan untuk kebun sawit. Kebakaran lahan, yang sering terkait dengan perkebunan kelapa sawit, menyebabkan kerusakan ekosistem dan pengurangan keanekaragaman hayati, khususnya mamalia.

Ketergantungan ekonomi Labuhanbatu pada perkebunan kelapa sawit menciptakan serangkaian dampak kausal yang signifikan terhadap keanekaragaman hayati lokal. Keterkenalan kabupaten ini dengan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet  secara langsung mendorong deforestasi dan hilangnya hutan tropis, yang memiliki dampak negatif yang sangat signifikan terhadap keanekaragaman hayati. Konversi ini bahkan mencakup penyitaan dan penumbangan bekas hutan bakau untuk dijadikan kebun sawit. Selanjutnya, praktik yang terkait dengan perkebunan kelapa sawit, seperti pembukaan lahan dengan pembakaran, memperparah kerusakan ekosistem dan mengurangi keanekaragaman hayati, terutama mamalia. Selain itu, perubahan fungsi lahan dan pencemaran, yang seringkali berasal dari pabrik kelapa sawit, telah mengganggu ekosistem Rawa Sungai Barumun dan keanekaragaman ikannya. Rantai kausalitas ini menunjukkan bagaimana satu aktivitas ekonomi dominan dapat memicu serangkaian dampak lingkungan negatif yang meluas di berbagai ekosistem.

  • Pencemaran Lingkungan: Perubahan fungsi lahan dan pencemaran, terutama dari pabrik kelapa sawit, telah mengganggu ekosistem Rawa Sungai Barumun, berdampak pada keanekaragaman ikan. Masalah penanganan sampah juga menjadi isu serius di Kota Rantauprapat, Labuhanbatu, yang dapat berkontribusi pada pencemaran.
  • Perburuan Liar dan Over-eksploitasi: Populasi udang galah dipengaruhi oleh kegiatan antropogenik. Ikan terubuk mengalami penurunan hasil tangkapan oleh nelayan, yang disebabkan oleh kegiatan penangkapan yang kurang berkelanjutan. Perburuan liar juga menjadi ancaman bagi spesies dilindungi seperti penyu.

Spesies Invasif

Penemuan ikan ‘aligator gar’ (Atractosteus spatula) di Sungai Bilah, yang merupakan hewan pemangsa non-asli dari Benua Amerika, menunjukkan ancaman potensial terhadap ekosistem sungai asli karena sifatnya sebagai predator.

 Upaya Konservasi dan Pengelolaan

Meskipun menghadapi berbagai ancaman, terdapat upaya konservasi dan pengelolaan keanekaragaman hayati di Labuhanbatu yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Inisiatif Konservasi yang Ada

  • Kawasan Konservasi Formal: Keberadaan Cagar Alam Batu Ginurit, Liang Balik, dan Sei Ledong  menunjukkan komitmen terhadap perlindungan habitat, meskipun luasnya bervariasi.
  • Penegakan Hukum: Upaya penegakan hukum termasuk penyitaan ribuan hektar bekas hutan bakau yang telah ditumbangkan untuk kebun sawit, serta penyitaan alat berat yang digunakan dalam kegiatan ilegal.
  • Regulasi Lokal: Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu telah menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 15 Tahun 2010 tentang Kawasan Suaka Perikanan Ikan Terubuk, menunjukkan upaya lokal untuk melindungi spesies kunci ini.
  • Program Kemitraan Swasta-LSM: Program seperti BIPOSC (Biodiversity and Integrated Pest Management in Oil Palm Smallholders Conservation), kolaborasi antara Musim Mas, Livelihoods Funds (L3F), SNV Indonesia, dan ICRAF, mendorong pekebun swadaya di Labuhanbatu untuk menerapkan perkebunan regeneratif. Ini termasuk pemasangan sarang burung hantu untuk meningkatkan populasi predator alami hama, mengurangi penggunaan pupuk kimia.
  • Komitmen Perusahaan: Perusahaan seperti ANJ Group memiliki komitmen keberlanjutan, termasuk program pemantauan keanekaragaman hayati, konservasi lahan gambut (tanpa pengembangan baru), pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), dan tanpa pembakaran lahan.

Inisiatif-inisiatif ini mencerminkan pergeseran penting dalam paradigma konservasi di Labuhanbatu. Ancaman signifikan dari ekspansi kelapa sawit dan praktik terkait seperti deforestasi dan pembakaran lahan  telah mendorong munculnya pendekatan yang lebih proaktif. Program BIPOSC, sebagai contoh, adalah kolaborasi multi-pihak yang berfokus pada perkebunan regeneratif dan pengelolaan hama terpadu, termasuk penggunaan kontrol biologis seperti burung hantu. Demikian pula, komitmen keberlanjutan dari perusahaan seperti ANJ Group, yang mencakup pemantauan keanekaragaman hayati, tidak mengembangkan lahan gambut, dan mengurangi emisi gas rumah kaca , menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi hanya mengandalkan kawasan lindung terisolasi atau tindakan hukuman. Sebaliknya, pendekatan ini melibatkan sektor swasta dan masyarakat lokal secara langsung dalam praktik-praktik berkelanjutan di dalam lanskap produksi itu sendiri. Hal ini menunjukkan pengakuan bahwa konservasi yang efektif harus meluas ke luar batas-batas kawasan lindung formal dan mengintegrasikan praktik-praktik yang lebih ramah lingkungan dalam kegiatan ekonomi utama, menawarkan model yang menjanjikan untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian ekologi.

Peran Pemerintah dan Komunitas

  • Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut): BBKSDA Sumut bertanggung jawab atas pengelolaan cagar alam seperti Sei Ledong dan Batu Ginurit. Mereka juga aktif dalam penyadartahuan masyarakat tentang perlindungan tumbuhan dan satwa liar (TSL), serta penanganan konflik warga dengan satwa, seperti penampakan buaya di Kualuh Hilir.
  • Masyarakat: Peran serta masyarakat dalam pengawasan sumber daya ikan, khususnya ikan terubuk, sangat dibutuhkan untuk keberlanjutan spesies tersebut.

Kesimpulan dan Rekomendasi

 Ringkasan

Kabupaten Labuhanbatu merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang kaya, terutama di ekosistem mangrove dan sungai. Spesies kunci seperti udang galah, ikan terubuk, dan belangkas memiliki peran ekologis dan budaya yang signifikan. Namun, keanekaragaman hayati ini menghadapi tekanan besar dari ekspansi perkebunan kelapa sawit, deforestasi, pencemaran, dan spesies invasif. Meskipun ada upaya konservasi melalui cagar alam dan regulasi lokal, skala ancaman memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi. Terdapat perbedaan antara status konservasi global beberapa spesies yang dianggap “Least Concern” dan tekanan signifikan yang mereka hadapi di tingkat lokal. Selain itu, terdapat kesenjangan data yang signifikan dalam inventarisasi flora asli hutan dataran rendah.

Rekomendasi untuk Konservasi dan Penelitian Lanjutan

Berdasarkan temuan ini, beberapa rekomendasi dapat diajukan untuk meningkatkan upaya konservasi dan pengelolaan keanekaragaman hayati di Kabupaten Labuhanbatu:

  • Peningkatan Efektivitas Kawasan Konservasi: Mengkaji ulang dan memperluas kawasan konservasi yang ada, terutama Cagar Alam Batu Ginurit dan Liang Balik yang luasnya sangat kecil, serta memastikan konektivitas habitat antar kawasan untuk mendukung populasi spesies yang lebih besar dan proses ekologis.
  • Inventarisasi dan Pemantauan Komprehensif: Melakukan studi inventarisasi flora dan fauna secara lebih menyeluruh di seluruh ekosistem Labuhanbatu, khususnya hutan dataran rendah dan perairan, untuk mengisi kesenjangan data yang ada. Pemantauan populasi spesies kunci dan terancam punah secara berkelanjutan sangat penting untuk melacak tren dan efektivitas intervensi konservasi.
  • Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan: Mendorong praktik perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan (regeneratif, tanpa pembakaran, pengelolaan hama terpadu) dan memitigasi dampak negatifnya terhadap keanekaragaman hayati melalui kebijakan yang kuat dan insentif bagi petani dan perusahaan.
  • Pengendalian Spesies Invasif: Mengembangkan strategi yang efektif untuk mendeteksi, mengendalikan, dan memberantas spesies invasif seperti ikan ‘aligator gar’ guna melindungi ekosistem akuatik asli dari gangguan predator.
  • Penguatan Penegakan Hukum dan Regulasi: Memperkuat penegakan hukum terhadap perburuan liar, perdagangan ilegal, dan konversi lahan ilegal. Memastikan implementasi efektif regulasi perlindungan spesies, seperti Peraturan Bupati tentang Kawasan Suaka Perikanan Ikan Terubuk, dengan pengawasan yang ketat dan sanksi yang tegas.
  • Edukasi dan Pelibatan Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan peranan ekologisnya. Melibatkan komunitas lokal secara aktif dalam upaya konservasi, termasuk program rehabilitasi ekosistem, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan pelaporan konflik satwa liar.
  • Penelitian Lebih Lanjut: Mengadakan penelitian mendalam tentang dampak jangka panjang perubahan iklim dan kegiatan antropogenik terhadap keanekaragaman hayati Labuhanbatu, serta mengidentifikasi potensi solusi berbasis alam yang dapat diterapkan untuk restorasi dan konservasi.

 

Daftar Pustaka :

  1. Uraian Singkat Keberadaan Hutan Mangrove di … – Labuhanbatu, diakses Agustus 4, 2025, https://labuhanbatu.com/2025/07/12/uraian-singkat-keberadaan-hutan-mangrove-di-kabupaten-labuhanbatu/
  2. Identifikasi Potensi Wisata Ekosistem Mangrove Kesatuan …, diakses Agustus 4, 2025, https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/44638
  3. Taman Nasional – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 4, 2025, https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/taman-nasional
  4. batu ginurit – Cagar Alam – Plantamor, diakses Agustus 4, 2025, https://plantamor.com/conservation/ca/5/batu-ginurit
  5. liang balik – Cagar Alam – Plantamor, diakses Agustus 4, 2025, https://plantamor.com/konservasi/ca/10/liang-balik
  6. Daftar cagar alam di Indonesia | S1 | Terakreditasi | Universitas STEKOM Semarang, diakses Agustus 4, 2025, https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Daftar_cagar_alam_di_Indonesia
  7. Konservasi Hayati,16 (2): 85-91, Oktober (2020) – eJournal UNIB, diakses Agustus 4, 2025, https://ejournal.unib.ac.id/hayati/article/download/12472/6446/32743
  8. RASIO JENIS KELAMIN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) PADA KONDISI PERAIRAN SUNGAI BARUMUN KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN | Konservasi Hayati – eJournal UNIB, diakses Agustus 4, 2025, https://ejournal.unib.ac.id/index.php/hayati/article/view/12472
  9. Di Sumatera Utara, Ikan Air Tawar Semakin Langka – Kompasiana.com, diakses Agustus 4, 2025, https://www.kompasiana.com/maskurabdullah/5a83b3b3caf7db2d274c6552/di-sumut-ikan-sungai-semakin-langka
  10. Keanekaragaman Jenis Makrozoobenthos di Sungai Aek Buru | BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains – IPM2KPE Journal Management System, diakses Agustus 4, 2025, https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/BIOEDUSAINS/article/view/5358
  11. Kagetnya Warga Labuhan Batu Selatan, Lihat Tapir Masuk Permukiman – Mongabay, diakses Agustus 4, 2025, https://mongabay.co.id/2017/12/20/kagetnya-warga-labuhan-batu-selatan-lihat-tapir-masuk-permukiman/
  12. 10 Flora dan Fauna Endemik yang Menghuni Hutan di Sumut, diakses Agustus 4, 2025, https://sumut.idntimes.com/life/education/10-flora-dan-fauna-endemik-yang-menghuni-hutan-di-sumut-00-f4z9n-xmvqc3
  13. Flora dan Fauna – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 4, 2025, https://www.sumutprov.go.id/artikel/artikel/flora-dan-fauna
  14. Rhizophora mucronata Lam. – GBIF, diakses Agustus 4, 2025, https://www.gbif.org/species/3086527
  15. karakterisasi morfologi tanaman rotan di labuhanbatu sumatera utara morphological characterization of – CORE, diakses Agustus 4, 2025, https://core.ac.uk/download/539280458.pdf
  16. Andri Tommy Sipahutar – Eksplorasi Dan Identifikasi Tumbuhan Obat Tradisional Di Desa Hasang… – Repository UMA, diakses Agustus 4, 2025, https://repositori.uma.ac.id/jspui/bitstream/123456789/23576/2/188210037%20-%20Andri%20Tommy%20Sipahutar%20-%20Fulltext.pdf
  17. Warga Sibolangit dihebohkan tumbuhnya bunga bangkai langka – ANTARA News Sumatera Utara, diakses Agustus 4, 2025, https://sumut.antaranews.com/berita/268488/warga-sibolangit-dihebohkan-tumbuhnya-bunga-bangkai-langka/?fullsite=true&m=false
  18. Bunga Bangkai Mekar di Tapanuli Tengah – Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem – ksdae, diakses Agustus 4, 2025, https://ksdae.menlhk.go.id/info/3667/bunga-bangkai-mekar-di-tapanuli-tengah.html
  19. Eksplorasi Kantong Semar (Nepenthes spp) di Kawasan Hulu Air Lempur Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci – Repository Unja, diakses Agustus 4, 2025, https://repository.unja.ac.id/18493/1/Kantong%20semar%20di%20lempur%20Juni%202018.pdf
  20. KEANEKARAGAMAN KANTUNG SEMAR (Nepenthes sp.) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SIBUATAN KECAMATAN MEREK, KABUPATEN KARO, SUMATERA – Repository UMA, diakses Agustus 4, 2025, https://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/15597/1/Ria%20Asma%20Neli%20-%20168700013%20-%20Fulltext.pdf
  21. BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi Volume 6 No. 1, Juni 2024 p-ISSN, diakses Agustus 4, 2025, https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/biocons/article/download/1733/1594/7195
  22. Udang galah – Nusantara Food Biodiversity, diakses Agustus 4, 2025, https://nusantarafoodbiodiversity.org/data/udang-galah-70zvdz2tel33fct
  23. Amazing Species: Giant River Prawn – Amazon S3, diakses Agustus 4, 2025, http://s3.amazonaws.com/iucnredlist-newcms/staging/amazing-species/macrobrachium-rosenbergii/pdfs/original/macrobrachium-rosenbergii.pdf?1466625061
  24. Terubuk Ikan Betuah Kebanggaan Labuhanbatu – portalriau.com | Berita Riau Terkini, diakses Agustus 4, 2025, https://portalriau.com/peristiwa/terubuk-ikan-betuah-kebanggaan-labuhanbatu
  25. Uraian Ragam Hias/Motif Khas yang Menggambarkan Identitas, diakses Agustus 4, 2025, https://adenasution.com/uraian-ragam-hias-khas-yang-menggambarkan-identitas-daerah-kabupaten-labuhanbatu/
  26. The Terubuk Fish in Bengkalis 19th to 20th Century: A Study of Animal History – Journal Regalia Institute, diakses Agustus 4, 2025, https://journals.regalia-institute.com/index.php/JPHR/article/download/38/12/427
  27. AGRISAINS: Jurnal Ilmiah Magister Agribisnis – Universitas Medan Area, diakses Agustus 4, 2025, https://jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/agrisains/article/download/250/202
  28. Fish Biodiversity in the Swamp Ecosystem of Barumun River Area – Journal Unhas, diakses Agustus 4, 2025, https://journal.unhas.ac.id/index.php/ijoab/article/view/10222/5456
  29. Warga Rantauprapat dapat ikan aligator di Sungai Bilah – ANTARA News Sumatera Utara, diakses Agustus 4, 2025, https://sumut.antaranews.com/berita/236156/warga-rantauprapat-dapat-ikan-aligator-di-sungai-bilah
  30. 10 Hewan-hewan di Hutan Bakau dan Mangrove (Update 2022) – LindungiHutan, diakses Agustus 4, 2025, https://lindungihutan.com/blog/10-hewan-yang-tinggal-di-hutan-mangrove/
  31. Nasib Kucing Bakau, Minim Perhatian dan Penelitian – Mongabay, diakses Agustus 4, 2025, https://mongabay.co.id/2020/06/16/nasib-kucing-bakau-minim-perhatian-dan-penelitian/
  32. JURNAL SAINS AGRO – Universitas Muara Bungo, diakses Agustus 4, 2025, https://ojs.umb-bungo.ac.id/index.php/saingro/article/viewFile/1758/1445
  33. Keanekaragaman Serangga Hama Pada Tanaman Padi (Oryza …, diakses Agustus 4, 2025, http://repository.uinsu.ac.id/11162/
  34. Diversity Of Insect Pests In Rice Plant (Oryza Sativa L) in The Rice Fields Of South Kualuh District, North Labuhanbatu | International Journal of Science, Technology & Management, diakses Agustus 4, 2025, https://ijstm.inarah.co.id/index.php/ijstm/article/view/217
  35. Kumbang Lembing serang pemukiman warga Labuhanbatu – Antara News sumut, diakses Agustus 4, 2025, https://sumut.antaranews.com/berita/300417/kumbang-lembing-serang-pemukiman-warga-labuhanbatu
  36. Penampakan Buaya, Petugas Pasang Perangkap – Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem – ksdae, diakses Agustus 4, 2025, https://ksdae.menlhk.go.id/info/12585/penampakan-buaya-petugas-pasang-perangkap.html
  37. Keanekaragaman Amfibi (Ordo Anura) Berdasarkan Tipe Habitat Di – Proceeding Universitas Negeri Semarang, diakses Agustus 4, 2025, https://proceeding.unnes.ac.id/index.php/semnasbiologi/article/download/784/692
  38. Buku-Panduan-lapangan-Amfibi-Di-Taman-Nasional-Batang-Gadis_FKR.pdf – drive.madina.go.id, diakses Agustus 4, 2025, https://drive.madina.go.id/wp-content/uploads/2023/06/Buku-Panduan-lapangan-Amfibi-Di-Taman-Nasional-Batang-Gadis_FKR.pdf
  39. Herpetofauna Species Inventory in The Ngalau Tarang Area, Agam Regency, West Sumatera Inventarisasi Jenis Herpetofauna Di Kawasa – Universitas Negeri Padang, diakses Agustus 4, 2025, https://serambibiologi.ppj.unp.ac.id/index.php/srmb/article/download/252/159/
  40. Amfibi – Hutan Harapan, diakses Agustus 4, 2025, https://hutanharapan.id/spesies-reptil-amfibi/amfibi/
  41. Kodok Sumatera (Duttaphrynus sumatranus) Amfibi Paling Langka – Alamendah’s Blog, diakses Agustus 4, 2025, https://alamendah.org/2015/11/11/kodok-sumatera-duttaphrynus-sumatranus-amfibi-paling-langka/
  42. Distribusi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Sekitar Kawasan Suaka Margasatwa Siranggas, Kabupaten Pakpak Bharat – Repositori USU, diakses Agustus 4, 2025, https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/44854
  43. 412-418 KEBERADAAN DISTRIBUSI HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae Pocock – Jurnal UMSB, diakses Agustus 4, 2025, https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/STROFOR/article/download/6035/4037
  44. ffippl_H – JDIH Provinsi Sumatera Utara, diakses Agustus 4, 2025, https://jdih.sumutprov.go.id/download-lampiran/2272/2023perdasumutprov11.pdf
  45. Orangutan Distribution in North Sumatera – Pusat Studi Satwa Primata, diakses Agustus 4, 2025, https://primata.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2020/11/JPI-V4N1-DESEMBER-2004-2.pdf
  46. Kondisi Terkini Populasi dan Habitat Orangutan – PPID | Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diakses Agustus 4, 2025, https://ppidklhk.com/berita/kondisi-terkini-populasi-dan-habitat-orangutan
  47. STUDI POPULASI DAN DISTRIBUSI SPESIES BURUNG BEO (Gracula religiosa robusta) DI KECAMATAN LAHUSA DAN KECAMATAN GOMO (NIAS-SUMATERA UTARA) – ETD UGM, diakses Agustus 4, 2025, https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/209716
  48. Mengungkap Peran Krusial Tapir Malaya bagi Regenerasi Hutan Hujan dan Ancaman di Balik Keunikannya – Centrea, diakses Agustus 4, 2025, https://www.centrea.id/ecowatch/661381231/mengungkap-peran-krusial-tapir-malaya-bagi-regenerasi-hutan-hujan-dan-ancaman-di-balik-keunikannya
  49. LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TANGGAL 27 JANUARI 1999 Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang, diakses Agustus 4, 2025, https://bbksdajatim.org/wp-content/uploads/2016/04/PP_7_1999_Pengawetan_TSL_Lampiran.pdf
  50. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 TENTANG PERUBAHAN KE – Mongabay, diakses Agustus 4, 2025, https://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2019/03/Permen-Jenis-Satwa-dan-Tumbuhan-Dilindungi.pdf
  51. konservasi : 4000 hektar bekas hutan bakau disita – Perpustakaan Kementerian Lingkungan Hidup, diakses Agustus 4, 2025, http://perpustakaan.menlhk.go.id/pustaka/home/index.php?page=detail_news&newsid=686
  52. Satwa Purba Tapir yang Hampir Terlupakan – RRI, diakses Agustus 4, 2025, https://rri.co.id/features/1717542/satwa-purba-tapir-yang-hampir-terlupakan?page=8
  53. Melepas Dua Kucing Kuwuk ke Habitat Alaminya – Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem – ksdae, diakses Agustus 4, 2025, https://ksdae.menlhk.go.id/info/10847/melepas-dua-kucing-kuwuk-ke-habitat-alaminya.html
  54. Kelapa sawit dan keanekaragaman hayati – IUCN Portals, diakses Agustus 4, 2025, https://portals.iucn.org/library/sites/library/files/documents/2018-027-Id.pdf
  55. Dampak Kebakaran Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Keanekaragaman Jenis Mamalia: Studi Kasus PT. RAJ, Sumatera Selatan | Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, diakses Agustus 4, 2025, https://ejournal.aptklhi.org/index.php/JPHKA/article/view/608
  56. Sampah Dimana-Mana, Kadis Lingkungan Hidup Labuhanbatu Layak Dicopot, diakses Agustus 4, 2025, https://monitorriau.com/news/detail/19513/sampah-dimanamana-kadis-lingkungan-hidup-labuhanbatu-layak-dicopot
  57. Dukung Keanekaragaman Hayati Laut, Agincourt Resources Siap, diakses Agustus 4, 2025, https://www.metro-online.co/2024/01/dukung-keanekaragaman-hayati-laut.html
  58. Program BIPOSC, Kolaborasi Musim Mas, L3F, SNV Indonesia, dan ICRAF Dorong Pekebun Swadaya di Labuhanbatu Terapkan Perkebunan Regeneratif, diakses Agustus 4, 2025, https://www.musimmas.com/id/sumber-daya/rilis-berita/program-biposc-kolaborasi-musim-mas-l3f-snv-indonesia-dan-icraf-dorong-pekebun-swadaya-di-labuhanbatu-terapkan-perkebunan-regeneratif/
  59. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi – ANJ Group, diakses Agustus 4, 2025, https://www.anj-group.com/id/conservation-1
  60. Penyadartahuan Masyarakat Labuhanbatu Utara Tentang TSL – Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem – ksdae, diakses Agustus 4, 2025, https://ksdae.menlhk.go.id/artikel/10247/penyadartahuan-masyarakat-labuhanbatu-utara-tentang-tsl.html
  61. HASIL TANGKAPAN BELANGKAS DI PERAIRAN PANTAI TIMUR SUMATERA UTARA, PASCA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN BERDASARKAN PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2018 | Khairul | JURNAL EDUSCIENCE, diakses Agustus 4, 2025, https://jurnal.ulb.ac.id/index.php/eduscience/article/view/985/0
  62. Korelasi Faktor Fisika Kimia Perairan terhadap Densitas Belangkas, diakses Agustus 4, 2025, https://doaj.org/article/ff11e2d863aa4a4e97568728bcd9e214
  63. Analisis Karakteristik Habitat dan Distribusi Spasial Belangkas (Tachypleus gigas) Juvenile di Perairan Teritip, Kota, diakses Agustus 4, 2025, https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ilmulingkungan/article/download/59617/pdf
  64. Identifikasi Jenis dan Analisis Hubungan Karakteristik Lingkungan Terhadap Kelimpahan Relatif Belangkas di Pantai Tanjung Bay Ka – Journal UBB, diakses Agustus 4, 2025, https://www.journal.ubb.ac.id/index.php/akuatik/article/download/4928/2552/17726
  65. IUCN Red List of Threatened Species, diakses Agustus 4, 2025, https://www.iucnredlist.org/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − 6 =
Powered by MathCaptcha