Dalam lanskap kontemporer yang jenuh oleh data, gambar tidak lagi sekadar berfungsi sebagai representasi pasif dari realitas, melainkan telah bermutasi menjadi infrastruktur aktif yang membentuk, mengawasi, dan mengoperasikan kekuasaan global. Hito Steyerl, seorang seniman video, pembuat film dokumenter esai, dan pemikir media terkemuka, berdiri di garda terdepan dalam membongkar mekanisme ini melalui praktik artistik dan teoretis yang tajam. Melalui metodologi yang menggabungkan arkeologi media, dokumenter forensik, dan montase spekulatif, Steyerl menyingkap bagaimana piksel dan algoritma terjerat dalam sirkuit kapitalisme finansial, militerisme, dan pengawasan biopolitik. Laporan ini akan membedah secara mendalam evolusi pemikiran Steyerl, mulai dari ontologi “gambar buruk” hingga kritik terbarunya terhadap kecerdasan artifisial (AI) sebagai instrumen “kebodohan artifisial” dan kerusakan ekologis.

Arkeologi Subjektivitas Digital dan Migrasi Gambar

Memahami kontribusi Steyerl memerlukan penelusuran terhadap akar intelektualnya yang melintasi batas geografis dan disiplin ilmu. Lahir di Munich pada tahun 1966 dengan latar belakang budaya Jerman-Jepang, masa mudanya di Bavaria yang konservatif dan otoriter memicu insting awalnya untuk mengungkap tabu-tabu institusional. Pengalaman dikeluarkannya Steyerl dari sekolah pada usia 15 tahun setelah terlibat dalam aksi squatting anarkis menjadi pertemuan pertamanya dengan surveilans pemerintah, sebuah tema yang kelak mendominasi seluruh kanon karyanya. Pendidikan formalnya di Institut Gambar Bergerak Jepang di bawah asuhan Shohei Imamura, diikuti oleh studi film di Munich dan pencapaian PhD dalam filsafat di Academy of Fine Arts Vienna, membentuk fondasi unik di mana ketajaman visual bertemu dengan ketegasan dialektis.

Karya-karya awal Steyerl, seperti November (2004), menandai pergeseran krusial dari dokumenter tradisional menuju esai film spekulatif yang mengeksplorasi kehidupan setelah kematian dari gambar-gambar yang bermigrasi. Dalam narasi yang personal namun politis ini, Steyerl melacak sejarah temannya, Andrea Wolf, yang berubah dari seorang aktor dalam film seni bela diri remaja menjadi ikon martir bagi perjuangan Kurdi setelah kematiannya. Di sini, Steyerl menunjukkan bahwa subjek manusia di era globalisasi tidak lagi memiliki kedaulatan atas citranya sendiri; gambar tersebut “diseret” melintasi perbatasan, didekontekstualisasi, dan dipersenjatai oleh berbagai faksi kekuasaan. Hal ini menciptakan kondisi “pascaperwakilan” di mana gambar bukan lagi cermin dari individu, melainkan objek yang bergerak dalam sirkulasi global yang tak terkendali.

Steyerl secara eksplisit mengakui pengaruh Harun Farocki dalam metodologinya, terutama terkait konsep “gambar operasional”—gambar yang tidak dibuat untuk menghibur atau menginformasikan, melainkan sebagai bagian dari operasi teknis atau militer. Namun, Steyerl juga menunjuk sejarawan film Helmut Färber sebagai pengaruh yang lebih langsung dalam mengajarkan “disiplin penglihatan” yang berbasis presisi sejarah film. Melalui sintesis pengaruh ini, Steyerl mengembangkan bahasa visual yang menggunakan antarmuka, filter, dan lapisan digital untuk menunjukkan bagaimana kekuasaan beroperasi di balik layar smartphone dan monitor pengawas.

Tahap Evolusi Praktik Fokus Medium dan Teori Implikasi Filosofis
Dokumenter Esai (1990-an – 2004) Film 16mm, Super 8, Montase Dialektika Sejarah sebagai konstruksi gambar yang bermigrasi dan tidak stabil.
Sirkulasisme Digital (2005 – 2013) Video HD, Kompresi Digital, Internet Gambar sebagai komoditas resolusi rendah yang mereformasi subjektivitas.
Instalasi Imersif (2014 – 2019) Grid LED, Lingkungan Virtual, Arsitektur Museum Runtuhnya batas antara ruang fisik galeri dan ruang data virtual.
Kritik Algoritma & AI (2020 – Sekarang) Pembelajaran Mesin, Simulasi Live, Neural Networks AI sebagai alat “kebodohan artifisial” dan instrumen perang saudara planetari.

Dialektika “Gambar Buruk”: Dari Subversi ke Power Images

Esai Steyerl yang paling kanonik, In Defense of the Poor Image (2009), memberikan kerangka kerja teoretis untuk memahami ekonomi visual internet. Ia mendefinisikan “gambar buruk” (poor image) sebagai salinan yang sedang bergerak, sebuah artefak visual dengan resolusi rendah yang telah mengalami kompresi berkali-kali, di-rip secara ilegal, dan didistribusikan melalui saluran digital yang terfragmentasi. Gambar buruk adalah “lumpen proletar” dalam hierarki penampakan visual, yang sering kali dieksklusi dari kemegahan sinema resolusi tinggi dan institusi arsip formal.

Bagi Steyerl, kualitas rendah dari gambar-gambar ini bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan bukti dari kondisi eksistensinya yang penuh perjuangan. Gambar buruk memungkinkan sirkulasi pengetahuan yang dilarang, rekaman demonstrasi yang disensor, dan film-film eksperimental yang terlupakan untuk tetap hidup dalam bentuk “hantu” digital. Namun, terdapat ambivalensi yang melekat: kemudahan redistribusi ini juga membuat gambar buruk sangat rentan terhadap kooptasi oleh kapitalisme informasi yang haus akan intensitas dan perhatian singkat. Gambar buruk merepresentasikan “aura” baru di era digital—bukan aura keaslian yang hilang seperti dalam pemikiran Walter Benjamin, melainkan aura sirkulasi dan partisipasi massa.

Namun, seiring dengan matangnya infrastruktur digital, Steyerl mendeteksi transisi dari “gambar buruk” menuju “gambar kuasa” (power images). Jika gambar buruk bersifat emansipatoris karena sifatnya yang anonim dan kolektif, gambar kuasa didorong oleh algoritma pengawasan, rendering 3D canggih, dan kecerdasan artifisial yang dimiliki oleh korporasi besar dan entitas militer. Gambar-gambar ini memiliki “kekuatan destruktif” yang mampu menghapus populasi dari ruang urban melalui simulasi properti atau menargetkan individu dalam zona perang melalui pengenalan wajah otomatis. Fenomena terbaru yang disebutnya sebagai “poor power images” menunjukkan sintesis paradoks di mana teknologi AI yang sangat mahal sering kali menghasilkan output visual yang terlihat “miskin,” kaku, dan cacat secara anatomis, namun tetap memegang kekuasaan nyata atas nasib manusia.

Politik Proksi dan Krisis Kedaulatan dalam Demokrasi Algoritmik

Kritik Steyerl terhadap struktur kekuasaan global sangat terikat pada konsep “politik proksi” (proxy politics). Di dunia yang semakin dimediasi oleh bot, avatar, dan identitas digital, tindakan politik tidak lagi dilakukan oleh subjek yang berdaulat, melainkan melalui perantara atau proksi. Proksi ini berfungsi sebagai penyaring yang menambahkan kebisingan, distorsi, dan ambiguitas ke dalam geopolitik, memungkinkan negara atau korporasi untuk melakukan tindakan tanpa harus memikul tanggung jawab langsung.

Steyerl berargumen bahwa demokrasi kontemporer telah bermutasi menjadi sistem “pascaperwakilan” yang bekerja mirip dengan algoritma fotografi pada smartphone. Alih-alih mewakili kepentingan rakyat secara proporsional, sistem ini menggunakan statistik untuk membersihkan “kebisingan” (perbedaan pendapat) dan memperkuat data yang sudah ada berdasarkan probabilitas masa lalu. Dalam paradigma ini, hal-hal yang tidak terduga atau revolusioner menjadi sulit terjadi karena mereka tidak ada dalam database pelatihan algoritma tersebut. Akibatnya, kita menyaksikan munculnya “militia pasca-representasi,” bot Twitter yang berfungsi sebagai tentara politik, dan warga negara yang diperlakukan sebagai “non-playable characters” (NPC) dalam simulasi kekuasaan global.

Institusi seni sendiri tidak luput dari dinamika proksi ini. Melalui pameran dan tulisan seperti Duty Free Art, Steyerl menyoroti bagaimana museum kontemporer sering kali berfungsi sebagai proksi bagi kepentingan finansial dan militer. Ia menunjuk pada fenomena “freeports”—gudang penyimpanan bebas pajak yang sangat aman—di mana karya seni bernilai jutaan dolar disimpan sebagai aset spekulatif yang tidak pernah dilihat publik, mirip dengan uang dalam sistem perbankan bayangan. Dalam konteks ini, seni menjadi mata uang dalam pasar masa depan global yang terlepas dari nilai estetika atau edukasi aslinya.

Konsep Kunci Mekanisme Operasional Implikasi bagi Kekuasaan
Sirkulasisme Prioritas pada peluncuran dan percepatan gambar daripada pembuatannya. Nilai ditentukan oleh kecepatan aliran data, bukan kebenaran atau estetika.
Politik Proksi Penggunaan bot, skrip, dan perantara untuk melakukan tindakan politik. Anonimitas pelaku dan hilangnya akuntabilitas dalam konflik global.
Pascaperwakilan Algoritma memprediksi perilaku warga berdasarkan data historis. Hilangnya ruang untuk peristiwa yang benar-benar baru atau tak terduga dalam demokrasi.
Instrumental Irrationality Pemanfaatan kekacauan dan kesalahan algoritmik untuk keuntungan politik. Normalisasi keadaan darurat permanen dan manipulasi afektif massa.

Kebodohan Artifisial: AI sebagai Instrumen “Enshittification”

Dalam beberapa tahun terakhir, Steyerl memusatkan perhatiannya pada fenomena Kecerdasan Artifisial (AI), yang ia sebut dengan istilah provokatif “artificial stupidity” (kebodohan artifisial). Ia menolak narasi utopis Silicon Valley tentang AI sebagai kecerdasan super; sebaliknya, ia melihat AI sebagai sistem yang berbasis pada korelasi statistik kasar yang sering kali mereproduksi bias sejarah dan prasangka kelas dengan cara yang sangat efisien. Steyerl secara khusus menyoroti akar statistik modern yang tertanam dalam eugenika—misalnya melalui karya Francis Galton—dan bagaimana logika ini tetap hidup dalam algoritma pengenalan wajah yang digunakan untuk menindas kelompok minoritas, seperti masyarakat Uyghur di Cina.

Kritik Steyerl terhadap AI juga menyentuh aspek estetika melalui konsep “AI slop” atau sampah digital. Generator gambar seperti DALL-E atau Midjourney menghasilkan visual yang didasarkan pada probabilitas rata-rata dari triliunan gambar yang ada, yang mengakibatkan stagnasi kreatif dan penghapusan orisinalitas. Ia menciptakan istilah “re-enchatment” (sebuah permainan kata dari re-enchantment) untuk mendeskripsikan kondisi di mana manusia dipaksa berinteraksi dengan chatbot yang tampak magis namun sebenarnya berfungsi untuk menindas dan mengeksploitasi tenaga kerja kreatif melalui “enshittification” produk-produk digital.

Sangat mengkhawatirkan bagi Steyerl adalah bagaimana AI telah diintegrasikan ke dalam “logika militer-industri.” Ia mengacu pada sistem seperti “Lavender” dan “Where’s Daddy” yang digunakan dalam konflik bersenjata modern di Gaza dan tempat lain untuk menargetkan individu secara otomatis. Sistem-sistem ini tidak hanya membunuh, tetapi juga “merendahkan martabat manusia” dengan mengubah kematian menjadi titik data yang diproses tanpa penilaian moral manusia. Baginya, AI bukan sekadar alat, melainkan lingkungan “da/mage-making” yang secara aktif merusak struktur sosial dan ekologis planet ini.

Analisis Dampak AI menurut Steyerl (Buku: Medium Hot, 2025)

  • Pemanasan Media: Steyerl meminjam konsep Marshall McLuhan tentang media “panas” dan “dingin,” berargumen bahwa feed media sosial saat ini telah “terlalu panas” (overheated), membakar perhatian manusia dan sumber daya alam secara simultan.
  • Ekstraksi Tenaga Kerja: Di balik kemilau AI, terdapat tentara pekerja murah di zona konflik seperti Suriah dan Palestina yang melakukan pekerjaan manual “clickwork” untuk melatih algoritma agar dapat mengenali gambar kekerasan.
  • Jejak Karbon: Infrastruktur AI memerlukan konsumsi listrik yang masif, menjadikannya salah satu kontributor utama bagi kerusakan iklim yang sering kali disembunyikan oleh perusahaan teknologi raksasa di balik retorika “cloud” yang tampak immaterial.
  • Irrasionalitas Instrumental: Berbeda dengan rasionalitas tradisional yang mencari efisiensi, AI modern sering kali menggunakan irrasionalitas—seperti disinformasi algoritmik—untuk memicu kekacauan yang menguntungkan rezim otoriter dan fasisme yang sedang bangkit.

Ruang Fisik dan Arsitektur Eksistensi Digital

Meskipun Steyerl dikenal karena fokusnya pada dunia digital, ia sangat menekankan pentingnya ruang arsitektural fisik dalam instalasinya. Baginya, galeri atau museum bukan sekadar tempat untuk menampilkan video, melainkan bagian integral dari karya itu sendiri yang tidak dapat digantikan oleh ruang virtual atau VR. Arsitektur instalasi Steyerl sering kali menantang persepsi tradisional tentang “di dalam” dan “di luar,” menggunakan grid LED, perancah baja, dan kursi pantai untuk menciptakan lingkungan yang memaksa penonton merasakan beban materialitas dari data yang mereka konsumsi.

Dalam karya Factory of the Sun (2015), penonton ditempatkan di dalam grid cahaya yang terinspirasi oleh estetika film sci-fi Tron, yang secara fisik menghubungkan ruang fisik galeri dengan dunia virtual film tersebut. Hal ini menciptakan perasaan “terkepung” oleh gambar, di mana penonton tidak lagi memiliki jarak yang aman untuk melakukan observasi kritis, melainkan menjadi bagian dari sirkuit produksi cahaya dan nilai. Steyerl menggunakan metafora “permukaan” daripada “gambar” untuk mengajak kita menyelidiki tekstur material dari layar smartphone dan monitor kita, di mana kekerasan dan modal finansial benar-benar bersinggungan.

Keterlibatan Steyerl dengan arsitektur juga bersifat politis melalui kritik terhadap “neurocurating” dan pengawasan di dalam museum. Ia memprediksi masa depan di mana lukisan-lukisan akan mengawasi audiensnya melalui pelacakan mata untuk menilai popularitas atau mendeteksi aktivitas yang dianggap mencurigakan oleh sistem keamanan. Dengan demikian, museum bertransformasi dari situs pencerahan menjadi situs militerisasi dan privatisasi, di mana batas antara audiens dan data pengawasan menjadi sepenuhnya kabur.

Metodologi “Dokumenter Forensik” dan Montase Mimpi

Praktik artistik Steyerl sering kali dideskripsikan sebagai “dokumenter forensik” yang dicampur dengan “montase mimpi”. Metodologi ini tidak bertujuan untuk menunjukkan kebenaran objektif secara naif, melainkan untuk melakukan penyelidikan reflektif terhadap sirkulasi gambar dan informasi. Steyerl sering memposisikan dirinya sendiri di tengah panggung sebagai suara investigasi, menempatkan tubuhnya di antara dokumen primer dan situs alegoris di mana arus keinginan, kontrol, dan modal berpotongan.

Gaya montasenya sangat dipengaruhi oleh tradisi film esai abad ke-20, namun ia membawanya ke tingkat ekstrem melalui “lonjakan konseptual” (conceptual jumps) yang tidak selalu dapat dibenarkan secara linear. Ia menggunakan humor satiris, ironi, dan estetika video musik atau berita kabel untuk membungkus teori-teori filosofis yang berat. Dalam film seperti In Free Fall (2010), ia melacak sejarah pesawat Boeing yang jatuh, menghubungkannya dengan krisis ekonomi global, volatilitas industri gambar bergerak, dan spektakularisasi krisis. Penggunaan “wipes” (transisi layar) dalam karyanya bukan sekadar pilihan gaya, melainkan simbol politik dari penghapusan dan penggantian populasi, seperti dalam desain urban yang menggusur lingkungan kelas pekerja untuk real estat mewah.

Elemen Metodologi Fungsi Estetika Tujuan Filosofis
Penyelidikan Forensik Penggunaan wawancara dan data arsip. Menelusuri rantai materialitas di balik abstraksi digital.
Montase Dialektika Penjajaran gambar yang kontradiktif. Membangun bentuk pemikiran yang melampaui ilustrasi tesis.
Humor Satiris Parodi instruksional dan spoof berita. Meruntuhkan otoritas institusi dan membuat teori lebih aksesibel.
Dokumenter Fiksi Pencampuran fakta dengan skenario spekulatif. Menantang paradigma kebenaran yang diatur secara politik.

Studi Kasus: Instalasi-Instalasi Monumental

Untuk memahami kedalaman wawasan Steyerl, kita harus memeriksa bagaimana teori-teori ini diwujudkan dalam instalasi-instalasi spesifik yang telah dipamerkan di institusi terkemuka dunia seperti MoMA, Venice Biennale, dan Centre Pompidou.

Factory of the Sun (2015)

Karya yang memulai debutnya di Paviliun Jerman pada Venice Biennale ke-56 ini merupakan instalasi video imersif yang mengeksplorasi hubungan antara agensi individu, kepentingan ekonomi, dan kekuasaan yang tak terlihat di era teknologi. Video berdurasi 23 menit ini mencampuradukkan berbagai genre: berita kabel, dokumenter, video game, surveilans drone, dan video tari YouTube. Narasi utamanya berfokus pada sekelompok pekerja yang dipaksa menari di studio motion capture untuk menghasilkan “sinar matahari buatan” bagi entitas korporat. Di sini, cahaya bukan lagi sumber kehidupan alami, melainkan komoditas yang diekstraksi dari aktivitas manusia yang dikuantifikasi.

SocialSim (2020)

SocialSim meneliti hubungan antara pembelajaran mesin, otoritarianisme, dan prediksi perilaku manusia. Di tengah pandemi COVID-19, Steyerl menggunakan simulasi komputer yang menampilkan polisi yang menari (atau memberontak) sebagai metafora untuk “kebodohan digital” di mana algoritma sering kali salah mengidentifikasi individu dan melakukan karantina pada orang yang salah. Karya ini menunjukkan bagaimana masa depan diprediksi melalui versi masa lalu yang dikuantifikasi, di mana penyimpangan standar sering kali dihapus karena membuat prediksi menjadi kurang konklusif.

Liquidity, Inc. (2014)

Instalasi ini menggunakan motif air untuk menghubungkan arus uang, informasi, dan cuaca di era digital. Dengan fokus pada biografi Jason Wood—seorang penasihat keuangan yang kehilangan pekerjaannya dalam krisis 2008 dan menjadi petarung MMA—Steyerl membangun argumen tentang fleksibilitas subjektivitas di bawah tekanan ekonomi. Penonton duduk di atas struktur yang menyerupai rakit, menciptakan pengalaman fisik dari ketidakpastian finansial dan “kejatuhan bebas” subjek dalam sistem kapitalisme likuid.

Power Plants (2019)

Pameran di Serpentine Galleries ini menampilkan video yang dihasilkan AI menggunakan jaringan saraf yang dilatih pada lagu-lagu protes dan data ekologi. Tanaman-tanaman digital ini—yang ditampilkan pada panel LED di atas struktur perancah baja—menawarkan prediksi spekulatif tentang masa depan alternatif. Karya ini secara eksplisit menghubungkan “kekuatan” (power) dalam arti listrik, kekuasaan politik, dan energi biologis, menunjukkan bahwa setiap piksel yang kita lihat di layar sebenarnya mengonsumsi energi nyata dan memengaruhi iklim planet secara fisik.

Antara Ketunggalan dan Ketakterlihatan: Strategi Refusal

Dalam menghadapi dunia yang terpetakan secara total oleh satelit dan sensor, Steyerl tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan taktik “penolakan” (refusal). Dalam karyanya yang terkenal, How Not to Be Seen: A Fucking Didactic Educational.MOV File (2013), ia memberikan instruksi satir tentang cara menghilang: misalnya dengan “menjadi tidak terlihat dengan menjadi gambar” atau “menyatu ke dalam dunia yang terbuat dari gambar”. Humor ini menyembunyikan pesan serius tentang kedaulatan tubuh di tengah surveilans digital yang omnipresen.

Steyerl juga mempraktikkan penolakan dalam kehidupan nyatanya. Pada tahun 2021, ia menolak penghargaan Federal Cross of Merit dari pemerintah Jerman sebagai protes atas penanganan krisis pandemi yang dianggapnya lebih memihak pada sektor komersial daripada budaya dan pendidikan. Ia juga terus mendorong penggunaan infrastruktur alternatif seperti data commons dan teknologi sumber terbuka untuk merebut kembali kedaulatan atas data dari tangan Big Tech.

Melalui platform seperti carrier-bag.net, Steyerl mempromosikan pendekatan “Carrier Bag” terhadap teknologi—sebuah konsep yang dipinjam dari Ursula K. Le Guin—yang menekankan pada alat-alat untuk bertahan hidup, berbagi, dan bercerita secara kolektif, alih-alih senjata untuk dominasi. Strategi ini mengajak kita untuk mencari “celah dalam sistem” dan memanfaatkan kegagalan atau glitch mesin sebagai momen kebebasan subjektif.

Kesimpulan: Menghuni Kontradiksi di Ambang Kejatuhan Bebas

Hito Steyerl telah membuktikan dirinya sebagai pemikir yang paling mampu menerjemahkan kompleksitas abstrak dari ekonomi data menjadi pengalaman visual dan spasial yang provokatif. Melalui perjalanan dari “gambar buruk” yang subversif hingga kritik terhadap “kebodohan artifisial” AI, ia secara konsisten menunjukkan bahwa gambar di era kita bukan sekadar cermin, melainkan medan pertempuran.

Analisis Steyerl terhadap “da/mage-making” dalam produksi AI mengingatkan kita bahwa setiap kemajuan teknologi membawa konsekuensi material yang berat bagi planet dan tenaga kerja yang tersembunyi. Namun, alih-alih terjebak dalam nostalgia akan masa lalu yang lebih sederhana, Steyerl mendesak kita untuk tetap “berada di dalam medium” dan bernegosiasi dengan kontradiksi-kontradiksi yang ada. Di tengah kondisi “kejatuhan bebas” tanpa landasan metafisika yang stabil, seni bagi Steyerl adalah alat untuk “melihat, mendengar, dan menginterpretasi dengan presisi” guna menemukan bentuk aktivitas baru yang menyatukan seni, politik, dan terapi untuk mengaktifkan kembali sensibilitas kemanusiaan kita. Pada akhirnya, karya Steyerl adalah sebuah ajakan untuk tidak hanya menjadi spectator dari kehancuran, melainkan menjadi agen yang mampu meretas jaringan kekuasaan global melalui kreativitas, opasitas, dan solidaritas kolektif.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

37 + = 38
Powered by MathCaptcha