Fenomena yang dikenal sebagai kapitalisme bencana merepresentasikan salah satu dinamika paling kontroversial dalam ekonomi politik kontemporer. Konsep ini, yang pertama kali diformulasikan secara mendalam oleh Naomi Klein dalam karyanya yang transformatif pada tahun 2007, The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism, mendalilkan bahwa elit politik dan ekonomi memanfaatkan momen krisis kolektif—baik itu bencana alam, perang, serangan teroris, atau krisis pasar—untuk memaksakan agenda pasar bebas radikal yang tidak akan pernah diterima oleh populasi dalam kondisi normal. Inti dari strategi ini adalah pemanfaatan disorientasi publik yang mengikuti trauma besar guna meluncurkan apa yang disebut sebagai “terapi syok” ekonomi, yang mencakup privatisasi layanan publik, deregulasi besar-besaran, dan pemotongan anggaran sosial.
Laporan ini akan membedah secara komprehensif mekanisme kapitalisme bencana, mengeksplorasi bagaimana korporasi besar merambah wilayah pasca-bencana untuk melakukan privatisasi layanan esensial, mengeksploitasi kelangkaan sumber daya, dan memicu deregulasi lingkungan demi keuntungan investasi jangka panjang. Dengan menggunakan studi kasus global dari tsunami Samudra Hindia hingga krisis air di Amerika Latin, analisis ini akan menunjukkan bahwa rekonstruksi pasca-bencana sering kali bukan tentang pemulihan kesejahteraan warga lokal, melainkan tentang pengalihan aset publik ke tangan swasta dalam sebuah ekosistem yang disebut sebagai “kompleks kapitalisme bencana”.
Genealogi Doktrin Syok dan Ideologi Lembaran Bersih
Akar intelektual dari kapitalisme bencana bersemi di departemen ekonomi Universitas Chicago di bawah kepemimpinan Milton Friedman. Friedman dan para pengikutnya, yang dikenal sebagai “Chicago Boys,” meyakini bahwa pasar bebas yang murni hanya dapat diwujudkan jika struktur ekonomi lama dihancurkan sepenuhnya untuk menciptakan “lembaran bersih” (blank slate). Strategi ini didasarkan pada premis bahwa masyarakat yang sedang berada dalam kondisi syok akibat bencana akan kehilangan kapasitas untuk melakukan resistensi politik yang koheren, sehingga memungkinkan para reformis pro-korporasi untuk menulis ulang aturan main ekonomi tanpa hambatan demokrasi yang berarti.
Klein menarik paralel yang sangat tajam antara taktik ekonomi ini dengan eksperimen psikiatri kontroversial yang dilakukan oleh Dr. Ewen Cameron pada tahun 1950-an. Didanai sebagian oleh CIA, Cameron menggunakan terapi syok elektrokonvulsif yang ekstrem untuk “menghapus” kepribadian pasien dengan harapan dapat membangun kembali identitas mereka dari nol. Dalam analogi makroekonomi, krisis nasional berfungsi sebagai kejutan listrik bagi tubuh politik, menghancurkan tatanan sosial yang ada sehingga kebijakan neoliberal—seperti penghapusan subsidi, privatisasi industri strategis, dan deregulasi tenaga kerja—dapat diimplementasikan dengan kecepatan yang melumpuhkan perdebatan publik.
Evolusi dari Kediktatoran Militer ke Bencana Alam
Implementasi awal dari doktrin ini terjadi di Amerika Latin, terutama di Chile setelah kudeta militer tahun 1973 yang menggulingkan Presiden Salvador Allende. Di bawah rezim Jenderal Augusto Pinochet, Chile menjadi laboratorium hidup bagi teori-teori Friedman. Syok politik akibat kudeta dan penindasan fisik (termasuk penyiksaan dan penghilangan paksa) digunakan untuk memuluskan transisi menuju ekonomi pasar bebas yang radikal. Pola ini kemudian bermigrasi dari krisis politik ke krisis alam dan krisis ekonomi lainnya, seperti runtuhnya Uni Soviet pada 1990-an dan krisis finansial Asia 1997, di mana lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia sering kali menuntut privatisasi aset negara sebagai syarat bantuan darurat.
| Periode | Wilayah / Krisis | Mekanisme Syok | Kebijakan Utama yang Diimplementasikan |
| 1973 | Chile | Kudeta Militer | Privatisasi industri negara, penghapusan tarif, pemotongan belanja sosial. |
| 1982 | Inggris | Perang Falklands | Penguatan agenda neoliberal Margaret Thatcher melawan serikat buruh. |
| 1990-an | Rusia | Runtuhnya Uni Soviet | Swastanisasi aset publik secara besar-besaran, menciptakan oligarki. |
| 1997 | Asia Timur | Krisis Finansial | Penjualan perusahaan negara ke investor asing di bawah tekanan IMF. |
| 2003 | Irak | Perang & Invasi | Privatisasi minyak dan telekomunikasi melalui kontrak tanpa tender. |
| 2005 | New Orleans | Badai Katrina | Penghancuran perumahan publik dan privatisasi sekolah. |
Privatisasi Sumber Air dalam Konteks Krisis Kekeringan
Salah satu poin bahasan yang paling mendesak dalam kapitalisme bencana adalah komodifikasi sumber daya alam yang paling fundamental bagi kehidupan: air. Di tengah meningkatnya frekuensi kekeringan akibat perubahan iklim, akses terhadap air bersih telah bergeser dari hak asasi manusia menjadi komoditas pasar yang sangat menguntungkan bagi investor swasta. Para pendukung privatisasi sering kali berargumen bahwa sektor swasta membawa efisiensi dan teknologi yang tidak dimiliki oleh pemerintah yang kekurangan dana, namun realitas di lapangan sering kali menunjukkan hasil yang sebaliknya.
Kasus Chile: Hegemoni Pasar Air Jangka Panjang
Chile merupakan contoh paling ekstrem di mana hak atas air telah diprivatisasi sepenuhnya melalui Konstitusi 1980 yang diberlakukan selama era kediktatoran Pinochet. Sistem ini menciptakan pasar di mana hak penggunaan air diberikan secara permanen dan abadi kepada individu atau perusahaan, yang kemudian dapat diperjualbelikan seperti properti lainnya. Dampaknya terasa sangat mematikan selama periode “megadrought” (kekeringan besar) baru-baru ini.
Di lembah Aconcagua, wilayah yang sangat terdampak oleh kekurangan air, struktur tata kelola air tetap bersifat hierarkis dan eksklusif, di mana hanya pemegang hak air yang memiliki kekuatan pengambilan keputusan. Sektor agribisnis ekspor dan kehutanan menguasai 82% konsumsi air bersih, sementara petani kecil dan asosiasi air minum pedesaan (APR) harus berjuang untuk mendapatkan akses minimal. Meskipun ada reformasi undang-undang pada tahun 2022 yang bertujuan untuk memitigasi ketimpangan ini, hak air yang telah diberikan sebelum reformasi tetap tidak tersentuh, sehingga melestarikan ketidakadilan distribusi sumber daya di tengah krisis lingkungan yang semakin parah.
Eksploitasi Korporasi di Monterrey, Meksiko
Krisis air di Monterrey, Meksiko pada tahun 2022, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kapitalisme mengutamakan keuntungan korporasi di atas kebutuhan warga sipil selama bencana kekeringan. Ketika waduk-waduk kota mengering akibat fenomena La Niña dan perubahan iklim, penduduk di 400 lingkungan miskin kehilangan akses ke air keran selama lebih dari sebulan. Namun, di saat yang bersamaan, raksasa minuman global seperti Coca-Cola dan Heineken tetap diperbolehkan menyedot miliaran liter air dari akuifer yang sama untuk kepentingan industri mereka.
Ketimpangan ini menciptakan segregasi sosial yang tajam:
- Lingkungan Kaya: Tetap mendapatkan pasokan air hingga 12 jam sehari, memungkinkan mereka untuk menyiram halaman rumput dan mengisi kolam renang.
- Lingkungan Miskin: Harus bergantung pada truk tangki yang menyediakan air payau, dengan warga yang terpaksa membawa ember dalam jarak jauh di bawah terik matahari.
- Sektor Industri: Pabrik-pabrik besar yang memproduksi alat berat seperti Caterpillar dan Mercedes-Benz terus mengekstraksi air dari sumber daya yang terbatas, sering kali tanpa adanya pembatasan yang berarti dari pemerintah kota yang lumpuh secara finansial.
Situasi ini menunjukkan bahwa dalam ekosistem kapitalisme bencana, krisis tidak dipandang sebagai alasan untuk membagi beban secara adil, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat posisi pasar bagi mereka yang memiliki modal.
Kontrak Pembangunan Kembali: Marjinalisasi Warga Lokal demi Pengembang Besar
Rekonstruksi pasca-bencana sering kali dipasarkan sebagai peluang untuk “membangun kembali dengan lebih baik” (build back better). Namun, dalam praktik kapitalisme bencana, proses ini sering kali menjadi kedok untuk pengalihan kepemilikan tanah dan pengusiran komunitas marginal guna memberi jalan bagi proyek-proyek komersial skala besar. Kontrak-kontrak pembangunan sering kali diberikan kepada perusahaan multinasional besar melalui proses yang tidak transparan, yang pada akhirnya mengecualikan tenaga kerja dan bisnis lokal.
Tsunami 2004: Penjarahan Lahan Pesisir di Thailand dan Sri Lanka
Pasca tsunami Samudra Hindia 2004, pemerintah di beberapa negara yang terdampak menggunakan alasan “keamanan publik” untuk menetapkan zona penyangga (buffer zones) di sepanjang pantai, yang secara efektif melarang warga asli untuk kembali ke rumah mereka. Di balik retorika keselamatan tersebut, terdapat agenda terselubung untuk mentransformasi wilayah pesisir menjadi destinasi wisata mewah.
| Negara / Lokasi | Target Pengembang | Taktik yang Digunakan | Dampak pada Warga Lokal |
| Khao Lak, Thailand | Resor Golf Mewah | Pemasangan pagar dan tanda dilarang melintas hanya satu hari setelah bencana; penggunaan dokumen palsu untuk mengklaim tanah. | Warga dilarang mengambil barang pribadi atau jenazah kerabat; dicap sebagai pendatang ilegal. |
| Ko Lanta, Thailand | Pariwisata Global | Penetapan zona penyangga 30m; bantuan darurat diberikan dengan syarat warga setuju untuk direlokasi. | Komunitas Moken (Gipsi Laut) kehilangan akses ke laut dan mata pencaharian tradisional mereka. |
| Arugam Bay, Sri Lanka | Pariwisata Mewah | Peluncuran rencana pembangunan “Reconstruction Towards Prosperity” yang memprioritaskan hotel daripada perumahan nelayan. | Warga dilarang membangun kembali infrastruktur desa; ancaman kekerasan digunakan untuk mencegah kepulangan. |
| Tamil Nadu, India | Destinasi Wisata | Pembatasan aktivitas penangkapan ikan dan konstruksi di zona baru yang dianggap “tidak aman”. | Tekanan tinggi untuk menjual hak tanah dengan harga rendah di bawah intimidasi. |
Di Sri Lanka, upaya privatisasi yang sebelumnya gagal melalui jalur legislatif normal tiba-tiba dihidupkan kembali hanya tiga minggu setelah tsunami. Krisis memberikan “tabula rasa” politik yang memungkinkan pemerintah untuk menyerahkan tanggung jawab pertumbuhan ekonomi kepada sektor swasta, mengabaikan kebutuhan dasar komunitas nelayan yang telah tinggal di sana selama generasi.
New Orleans Pasca-Katrina: Laboratorium Privatisasi Perkotaan
Setelah Badai Katrina menghantam New Orleans pada tahun 2005, kota tersebut menjadi subjek dari salah satu upaya rekayasa sosial dan ekonomi paling radikal dalam sejarah Amerika Serikat. Elit politik melihat kehancuran kota bukan sebagai tragedi kemanusiaan semata, melainkan sebagai kesempatan untuk membersihkan kota dari apa yang mereka anggap sebagai hambatan pembangunan, yaitu populasi kulit hitam yang miskin dan infrastruktur publik yang mahal.
Salah satu manifestasi paling nyata dari hal ini adalah di sektor pendidikan. Dalam waktu kurang dari dua tahun, sistem sekolah publik New Orleans hampir seluruhnya digantikan oleh sekolah piagam (charter schools) yang dikelola swasta. Sebelum Katrina, dewan sekolah mengelola 123 sekolah publik; setelah proses privatisasi yang didorong oleh krisis, hanya 4 sekolah publik yang tersisa. Seluruh guru sekolah publik dipecat, dan kontrak serikat pekerja dibiarkan kadaluwarsa.
Di sektor perumahan, Dewan Kota New Orleans memberikan suara bulat pada tahun 2007 untuk menghancurkan ribuan unit perumahan publik yang berpenghasilan rendah, meskipun banyak dari bangunan tersebut hanya mengalami kerusakan minimal. Kebijakan ini secara efektif mencegah kembalinya sebagian besar keluarga migran berpenghasilan rendah yang terpaksa mengungsi akibat badai. Sebagai gantinya, dana rekonstruksi federal yang mencapai miliaran dolar mengalir ke kontraktor besar seperti Halliburton dan Bechtel—perusahaan yang sama yang memperoleh keuntungan dari invasi Irak—sering kali melalui kontrak tanpa tender yang memiliki pengawasan biaya sangat minim.
Pemanfaatan Krisis untuk Deregulasi Lingkungan dan Perburuhan
Dalam ekosistem kapitalisme bencana, regulasi lingkungan dan perlindungan tenaga kerja sering kali digambarkan sebagai “birokrasi yang menghambat” atau “hambatan bagi pertumbuhan” yang harus disingkirkan demi mempercepat masuknya investasi. Krisis memberikan pembenaran politik untuk melakukan deregulasi yang dalam kondisi normal akan memicu kemarahan publik yang luar biasa.
Brasil: Eksploitasi Amazon Melalui “RUU Penghancuran”
Di Brasil, ketegangan antara ambisi iklim global dan kepentingan ekonomi nasional mencapai puncaknya dengan pengesahan apa yang oleh para aktivis disebut sebagai “RUU Penghancuran” (Devastation Bill) atau Lei nº 15.190 pada tahun 2025. Meskipun Brasil baru saja menjadi tuan rumah KTT Iklim COP30 dan secara performatif menjanjikan perlindungan bagi Amazon, badan legislatif yang didominasi oleh lobi agribisnis (FPA) justru meloloskan undang-undang yang secara drastis melemahkan perizinan lingkungan.
Beberapa poin krusial dari deregulasi ini meliputi:
- Izin Melalui Deklarasi Mandiri: Perusahaan dapat memperoleh izin untuk proyek-proyek berdampak tinggi hanya dengan menyatakan kepatuhan secara mandiri, tanpa perlu melalui penilaian dampak lingkungan yang ketat oleh pihak ketiga atau badan pemerintah.
- Legalisasi Retroaktif: Properti yang telah ditebang secara ilegal atau tanpa lisensi sebelum undang-undang ini berlaku dapat dilegalkan secara otomatis tanpa kewajiban untuk merestorasi lahan tersebut.
- Pengecualian Infrastruktur Strategis: Proyek-proyek besar seperti bendungan, jalan raya, dan infrastruktur energi yang dianggap “strategis” oleh pemerintah dapat melewati proses tinjauan lingkungan yang minimal.
- Pembatasan Konsultasi Adat: Undang-undang ini mempersempit hak komunitas adat dan lokal untuk berkonsultasi, terutama bagi mereka yang tidak memiliki sertifikat tanah formal, yang sering kali merupakan kelompok yang paling rentan terhadap eksploitasi lahan.
Dampaknya sangat nyata: deforestasi di Amazon melonjak 92% pada Mei 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bagaimana struktur politik yang dipengaruhi oleh lobi korporasi memanfaatkan kebutuhan akan “pemulihan ekonomi” pasca-pandemi dan krisis energi untuk membongkar perlindungan ekosistem yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Deregulasi dalam Tanggap Bencana di Amerika Serikat dan Filipina
Pola serupa terlihat di Amerika Serikat selama berbagai administrasi. Misalnya, setelah serangan 11 September, sistem pengecualian dari hukum lingkungan dimanfaatkan sepenuhnya untuk mempercepat pembersihan dan rekonstruksi Ground Zero, sering kali dengan mengabaikan standar pembuangan limbah berbahaya yang berlaku. Di bawah pemerintahan Reagan dan kemudian Trump, krisis ekonomi sering kali digunakan sebagai alasan untuk memangkas anggaran EPA (Environmental Protection Agency) dan mencabut peraturan polusi udara dan air dengan dalih untuk menyeimbangkan biaya masyarakat.
Di Filipina, pasca Topan Haiyan, meskipun pemerintah secara retoris menekankan pembangunan yang tahan iklim, implementasi di lapangan justru sering kali melibatkan deregulasi terhadap perlindungan tenaga kerja. Program ketenagakerjaan darurat yang didukung oleh organisasi internasional seperti ILO memang menciptakan ribuan pekerjaan jangka pendek, namun tantangan jangka panjang tetap ada bagi jutaan pekerja yang kehilangan sumber pendapatan primer mereka dan terjerumus ke dalam kerentanan ekonomi yang lebih dalam tanpa jaminan perlindungan sosial yang memadai.
Kompleks Kapitalisme Bencana: Ekosistem Ekonomi Baru
Salah satu kontribusi paling signifikan dari analisis Klein adalah identifikasi terhadap apa yang ia sebut sebagai “kompleks kapitalisme bencana”. Ini bukan sekadar kumpulan perusahaan yang oportunistik, melainkan sebuah industri baru yang terintegrasi sepenuhnya, di mana batas antara fungsi publik dan swasta menjadi kabur. Industri ini mencakup sektor keamanan tanah air (homeland security), rekonstruksi bencana, dan perang yang diprivatisasi.
Industri ini beroperasi melalui mekanisme “pintu berputar” (revolving door), di mana pejabat pemerintah yang merancang kebijakan bantuan bencana kemudian pindah menjadi eksekutif di perusahaan-perusahaan yang memenangkan kontrak tersebut. Akibatnya, negara bergeser dari peran sebagai penyedia bantuan langsung kepada korban bencana menjadi pengelola dan koordinator kontrak swasta.
Pergeseran Peran FEMA dan USAID
Transformasi ini terlihat jelas dalam cara kerja lembaga-lembaga bantuan besar:
- FEMA (Federal Emergency Management Agency): Setelah pembentukan Departemen Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2002, FEMA direorganisasi menjadi pembeli dan pengatur layanan swasta daripada penyedia layanan langsung. Dalam penanganan Badai Katrina, FEMA mengeluarkan lebih dari $5,5 miliar untuk perumahan pabrikan (trailer) yang kemudian ditemukan mengandung kadar formaldehida berbahaya dan terbukti tidak efektif sebagai solusi perumahan permanen.
- USAID (U.S. Agency for International Development): Dalam proyek rekonstruksi tsunami di Indonesia dan Sri Lanka, USAID menghabiskan ratusan juta dolar untuk “proyek tanda tangan” seperti jalan raya sepanjang 150 mil di Aceh dan jembatan di Sri Lanka. Meskipun proyek-proyek ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas bantuan AS, mereka sering kali menghadapi lonjakan biaya yang besar dan keterlambatan jadwal karena ketergantungan pada kontraktor teknik besar daripada memberdayakan kapasitas konstruksi lokal secara maksimal.
| Lembaga | Peran Tradisional | Peran dalam Kapitalisme Bencana | Contoh Kegagalan / Kontroversi |
| FEMA | Penyedia bantuan darurat langsung. | Manajer kontrak untuk perusahaan swasta. | Formaldehida dalam trailer perumahan darurat. |
| USAID | Bantuan pembangunan jangka panjang. | Pelaksana proyek infrastruktur visibilitas tinggi. | Kenaikan biaya 40% pada proyek jembatan Sri Lanka. |
| PREPA | Utilitas listrik publik di Puerto Rico. | Entitas pengelola kontrak pasca-privatisasi. | Kegagalan stabilisasi jaringan oleh LUMA Energy meskipun biaya naik. |
| Bank Dunia | Pembiayaan pembangunan ekonomi. | Penuntut reformasi struktural neoliberal sebagai syarat bantuan. | Penekanan pada privatisasi sektor energi global. |
Dampak Jangka Panjang: Ketimpangan dan Erosi Demokrasi
Kapitalisme bencana bukan hanya tentang eksploitasi ekonomi jangka pendek, melainkan tentang pengubahan struktur sosial secara permanen yang memicu ketimpangan yang terlembagakan. Bencana cenderung memberikan dampak yang tidak proporsional bagi kelompok termiskin dalam masyarakat. Meskipun kerugian aset fisik mereka mungkin kecil secara nominal dibandingkan dengan elit kaya, kerugian kesejahteraan mereka jauh lebih besar karena ketiadaan cadangan finansial dan akses ke jaring pengaman sosial.
Kerentanan Terhadap Bencana Masa Depan
Studi menunjukkan bahwa setiap kerugian aset sebesar $1 akibat bencana menghasilkan kerugian kesejahteraan yang setara dengan penurunan konsumsi nasional sebesar $2. Namun, distribusi kerugian ini sangat timpang:
- Kuintil pendapatan termiskin di setiap negara hanya menanggung 9% dari kerugian aset nasional, namun mereka harus menanggung 33% dari total kerugian kesejahteraan.
- Negara-negara berpenghasilan rendah mengalami kerugian kesejahteraan yang 67% lebih besar per dolar aset yang hilang dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi.
- Waktu yang dibutuhkan bagi kelompok miskin untuk pulih dari bencana 56% lebih lama dibandingkan kelompok kaya.
Kapitalisme bencana memperburuk siklus ini dengan cara menarik dana publik dari layanan sosial untuk membiayai kontrak-kontrak swasta yang mahal. Hal ini menciptakan kondisi di mana masyarakat menjadi semakin kurang siap menghadapi bencana berikutnya. Di New Orleans, penghancuran lahan basah oleh industri minyak dan gas—yang merupakan buffer alami terhadap badai—terus berlanjut demi kepentingan profit, yang pada gilirannya meningkatkan risiko badai dahsyat di masa depan.
Tantangan Terhadap Akuntabilitas Demokratis
Strategi doktrin syok secara inheren bersifat anti-demokratis karena ia melewati proses normal debat publik, konsultasi, dan persetujuan warga. Di wilayah-wilayah yang terdampak bencana, keputusan kritis mengenai bagaimana kota akan dibangun kembali atau siapa yang memiliki akses ke sumber daya air sering kali dibuat oleh komite ahli yang tidak dipilih atau oleh konsultan swasta yang jauh dari realitas kehidupan warga lokal.
Di Filipina, misalnya, kebijakan “No Build Zones” sering kali kurang melibatkan konsultasi antara pemerintah dan komunitas nelayan, yang mengakibatkan relokasi ke wilayah-wilayah yang jauh dari akses terhadap pekerjaan, sekolah, dan fasilitas sosial. Hal ini menciptakan keterasingan politik dan memperlemah kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara, yang merupakan elemen kunci dalam ketahanan bencana yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Melawan Hegemoni Kapitalisme Bencana
Analisis mendalam terhadap mekanisme kapitalisme bencana mengungkapkan bahwa krisis bukan sekadar gangguan dalam jalannya sistem ekonomi, melainkan alat strategis yang digunakan untuk mempercepat akumulasi modal dan restrukturisasi neoliberal. Dari privatisasi air di wilayah yang dilanda kekeringan hingga perampasan lahan pesisir pasca-tsunami, polanya tetap sama: memanfaatkan trauma kolektif untuk memaksakan kebijakan yang menguntungkan korporasi besar dengan mengorbankan hak-hak warga lokal.
Meskipun demikian, keberhasilan doktrin syok bukanlah sesuatu yang tak terelakkan. Gerakan sosial di seluruh dunia mulai mengembangkan apa yang bisa disebut sebagai “syok rakyat” (the people’s shock), di mana krisis digunakan sebagai momen untuk membangun solidaritas dan menuntut perubahan yang lebih adil. Di Chile, gerakan untuk mempertahankan air telah berhasil membawa isu ini ke tingkat konstitusional, sementara di New Orleans, komunitas-komunitas akar rumput terus berjuang untuk memulihkan perumahan publik dan sekolah yang berbasis komunitas.
Untuk melawan pengaruh kapitalisme bencana, diperlukan pendekatan yang mengutamakan:
- Transparansi dan Akuntabilitas: Kontrak rekonstruksi harus terbuka untuk pengawasan publik dan memprioritaskan keterlibatan bisnis serta tenaga kerja lokal.
- Perlindungan Ruang Publik: Layanan esensial seperti air dan energi harus tetap berada di bawah kendali publik guna menjamin akses universal, terutama di saat krisis iklim yang semakin parah.
- Kedaulatan Komunitas: Proses pembangunan kembali harus didorong oleh aspirasi warga lokal, dengan menghormati hak atas tanah dan sumber penghidupan tradisional mereka.
Hanya dengan membangun ketahanan demokratis yang kuat dan menolak narasi “tidak ada alternatif lain,” masyarakat dapat mematahkan cengkeraman kapitalisme bencana dan memastikan bahwa pembangunan kembali benar-benar ditujukan bagi kesejahteraan manusia, bukan sekadar untuk akumulasi keuntungan finansial. Pada akhirnya, kemampuan kita untuk tidak terkejut oleh strategi doktrin syok adalah langkah pertama menuju terciptanya dunia yang lebih adil dan tangguh di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.
