Paradigma Baru di Amerika Selatan: Munculnya Fenomena Javier Milei

Kemunculan Javier Milei sebagai Presiden Argentina pada Desember 2023 mewakili salah satu peristiwa politik paling transformatif dalam sejarah modern Amerika Latin. Dikenal dengan julukan “El Loco” yang telah melekat sejak masa kecilnya, Milei memenangkan mandat publik melalui narasi penghancuran total terhadap sistem politik konvensional yang ia istilahkan sebagai “kasta”. Sebagai seorang ekonom pengikut aliran Austria yang memproklamirkan diri sebagai anarko-kapitalis, Milei mengusulkan sebuah visi yang melampaui reformasi pasar biasa; ia mengadvokasi penghapusan peran negara dalam hampir semua aspek kehidupan ekonomi. Eksperimen “Shock Therapy” yang dijalankannya bukan sekadar upaya stabilisasi fiskal, melainkan sebuah restrukturisasi fundamental yang bertujuan untuk mengganti model ketergantungan negara selama beberapa dekade dengan mekanisme pasar yang murni dan tanpa hambatan.

Kondisi awal yang dihadapi oleh pemerintahan Milei adalah sebuah reruntuhan ekonomi yang mendalam, hasil dari kebijakan populisme Peronisme yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Argentina mewarisi inflasi tahunan yang melampaui 211%, cadangan devisa bersih yang berada di angka negatif sebesar $11,5 miliar, dan defisit fiskal yang telah menjadi penyakit kronis bagi bangsa tersebut. Dalam pandangan Milei, satu-satunya cara untuk menyelamatkan negara dari ambang hiperinflasi dan kebangkrutan total adalah dengan melakukan pemotongan radikal—sebuah tindakan yang secara visual ia simboliskan dengan memegang gergaji mesin (chainsaw) selama masa kampanye untuk mengilustrasikan niatnya memangkas birokrasi.

Eksperimen ini telah menarik perhatian global yang luar biasa, menempatkan Milei sebagai ikon baru bagi gerakan sayap kanan dan libertarian di seluruh dunia. Keberhasilan atau kegagalan model anarko-kapitalisme ini di Buenos Aires akan memberikan implikasi yang luas bagi kebijakan ekonomi global. Jika Milei berhasil menstabilkan ekonomi Argentina tanpa memicu kerusuhan sosial yang tak terkendali, model ini kemungkinan besar akan menjadi cetak biru bagi negara-negara lain yang sedang berjuang melawan krisis utang dan stagnasi birokrasi. Namun, taruhannya sangat tinggi; keberhasilan indikator makroekonomi seperti surplus anggaran saat ini harus dibayar mahal dengan lonjakan angka kemiskinan yang menyentuh lebih dari separuh populasi, menciptakan perdebatan sengit mengenai apakah stabilitas fiskal layak dicapai melalui penderitaan rakyat jelata.

Akar Masalah: Satu Abad Kemerosotan Argentina

Untuk memahami radikalisme kebijakan Milei, sangat penting untuk meninjau kembali lintasan sejarah ekonomi Argentina yang unik. Pada awal abad ke-20, Argentina adalah salah satu negara terkaya di dunia, dengan PDB per kapita yang melebihi Perancis dan Jerman, serta hampir dua kali lipat lebih makmur dibandingkan Spanyol. Kekayaan ini didorong oleh ekspor komoditas pertanian dan investasi asing yang besar. Namun, sejak tahun 1940-an, di bawah pengaruh Juan Domingo Perón, Argentina beralih ke model nasionalisme ekonomi yang menekankan pada substitusi impor, pengeluaran publik yang tidak terkendali, dan penguatan peran negara dalam industri.

Sistem Peronisme menciptakan struktur politik dan ekonomi yang mendorong pengeluaran publik tanpa batas dan overregulasi ekstrem. Selama dekade-dekade berikutnya, Argentina mengalami siklus krisis yang berulang, termasuk delapan kali gagal bayar utang (sovereign default) sejak kemerdekaannya. Krisis tahun 2001 tetap menjadi trauma nasional yang mendalam, di mana ekonomi menyusut sebesar 28% dan pengangguran mencapai 25%, yang menyebabkan jatuhnya kepercayaan terhadap institusi keuangan dan politik.

Kebijakan-kebijakan populis di bawah pemerintahan Kirchner dan Fernández (2003-2015, 2019-2023) memperburuk ketidakseimbangan struktural ini. Melalui belanja publik yang masif untuk subsidi energi dan transportasi, serta kontrol mata uang yang ketat (cepo cambiario), pemerintah mencoba mempertahankan konsumsi domestik tetapi dengan mengorbankan stabilitas jangka panjang. Akibatnya, pada tahun 2023, Argentina terjebak dalam kondisi stagflasi klasik: kontraksi ekonomi yang bersamaan dengan inflasi yang berakselerasi, menciptakan lingkungan di mana tabungan masyarakat menguap dan investasi asing menghilang.

Periode Ekonomi Karakteristik Utama Dampak Jangka Panjang
Zaman Keemasan (1880–1940s) Ekspor gandum/ternak, investasi Inggris/Perancis Salah satu negara terkaya di dunia; PDB per kapita ~80% dari level AS
Era Perón (1945–1955) Nasionalisasi bank/industri, penguatan serikat buruh Inflasi rata-rata 26%; stagnasi akibat kemerosotan harga komoditas
Krisis Utang & Hiperinflasi (1976–1990s) Utang membengkak, inflasi 344% pada 1983 Kebangkrutan negara; hiperinflasi mencapai puncaknya pada 1989-1990
Konvertibilitas (1991–2001) Pegging peso ke dolar AS, privatisasi Inflasi turun ke satu digit, namun berakhir dengan default besar tahun 2001
Era Populisme Modern (2003–2023) Belanja publik masif, subsidi, kontrol mata uang Inflasi >200%; cadangan devisa negatif; kemiskinan sistemik

Landasan Ideologi: Anarko-Kapitalisme dalam Praktik Politik

Kebijakan ekonomi Javier Milei berakar kuat pada prinsip-prinsip Sekolah Austria, khususnya pemikiran Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, dan Murray Rothbard. Inti dari ideologi ini adalah keyakinan absolut bahwa pasar bebas adalah satu-satunya sistem yang secara moral dapat dibenarkan untuk mengorganisir masyarakat dan memerangi kemiskinan. Milei memandang negara bukan sebagai pelindung kepentingan publik, melainkan sebagai organisasi kriminal yang menggunakan kekerasan sistemik melalui pajak untuk merampas kekayaan individu yang bekerja keras.

Sebagai seorang anarko-kapitalis, Milei secara teoritis mendukung penghapusan negara sepenuhnya. Namun, dalam kapasitasnya sebagai presiden, ia mengadopsi pendekatan “liberalisme otoritarian” atau minarkisme, di mana peran negara dibatasi secara ketat hanya pada fungsi keamanan, penegakan hukum, dan perlindungan hak milik pribadi. Pandangannya yang individualistis menolak konsep keadilan sosial, yang ia anggap sebagai ketidakadilan karena melibatkan redistribusi kekayaan secara paksa dari mereka yang produktif kepada mereka yang dianggap parasit oleh sistem birokrasi.

Efektivitas retorika Milei terletak pada kemampuannya untuk mengubah krisis ekonomi menjadi narasi moral tentang kegagalan elit yang ia sebut sebagai “kasta”. Dengan menggunakan media sosial dan penampilan yang flamboyan—termasuk alter ego “General Ancap”—Milei berhasil membangun hubungan emosional dengan pemilih muda dan kelas pekerja yang merasa dikhianati oleh kegagalan janji-janji Peronisme. Dukungan ini memberikan Milei mandat untuk menjalankan apa yang ia sebut sebagai “Deep Chainsaw” terhadap birokrasi federal, sebuah proses yang ia anggap sebagai pembersihan yang diperlukan untuk memulihkan kebebasan individu.

Gergaji Mesin Struktural: Perombakan Kabinet dan Birokrasi

Segera setelah mengambil sumpah jabatan pada 10 Desember 2023, Milei mengeluarkan dekrit pertamanya yang secara drastis mengubah struktur eksekutif federal Argentina. Langkah yang paling mencolok adalah pengurangan jumlah kementerian dari 18 kementerian yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya menjadi hanya 9 kementerian. Restrukturisasi ini bukan sekadar upaya penghematan anggaran secara dangkal, melainkan langkah strategis untuk memusatkan kekuasaan dan menghapus departemen yang dianggap sebagai pusat pemborosan atau penyebaran ideologi kiri.

Kementerian-kementerian seperti Kebudayaan, Pendidikan, Tenaga Kerja, dan Pengembangan Sosial digabungkan menjadi satu entitas baru yang disebut “Kementerian Modal Manusia” (Ministerio de Capital Humano). Di bawah kepemimpinan Sandra Pettovello, super-kementerian ini mengendalikan porsi yang sangat besar dari anggaran negara dengan tujuan untuk menyederhanakan birokrasi dan mengalihkan fokus dari bantuan sosial murni menjadi peningkatan kapasitas individu. Sementara itu, fungsi-fungsi infrastruktur, transportasi, dan energi dikonsolidasikan ke dalam Kementerian Ekonomi untuk memastikan sinkronisasi total dengan target penghematan fiskal.

Kementerian Sebelum Desember 2023 Nasib di Bawah Pemerintahan Milei Kementerian Baru / Pengganti
Kementerian Kebudayaan Dihapuskan / Menjadi Sekretariat Kementerian Modal Manusia
Kementerian Pendidikan Dihapuskan / Menjadi Sekretariat Kementerian Modal Manusia
Kementerian Tenaga Kerja Dihapuskan / Menjadi Sekretariat Kementerian Modal Manusia
Kementerian Pengembangan Sosial Dihapuskan / Menjadi Sekretariat Kementerian Modal Manusia
Kementerian Pekerjaan Umum Dihapuskan / Digabungkan Kementerian Ekonomi (awalnya Infrastruktur)
Kementerian Perhubungan Dihapuskan / Digabungkan Kementerian Ekonomi (awalnya Infrastruktur)
Kementerian Lingkungan Hidup Dihapuskan Sepenuhnya Diintegrasikan ke Kementerian Dalam Negeri
Kementerian Perempuan, Gender & Keragaman Dihapuskan Sepenuhnya Dibubarkan pada Juni 2024
Kementerian Sains, Teknologi & Inovasi Dihapuskan Sepenuhnya Diintegrasikan ke Kantor Kabinet

Selain penghapusan kementerian, Milei juga menutup lebih dari 200 kantor pemerintahan dan entitas negara yang dianggap tidak produktif. Lebih dari 42.000 pegawai negeri diberhentikan dalam tahun pertama, dan proyek infrastruktur publik di seluruh negeri dibekukan total. Strategi ini dirancang untuk mencapai apa yang disebut Milei sebagai “Zero Deficit,” di mana pengeluaran negara tidak boleh melebihi pendapatannya, tanpa pengecualian.

Strategi “Shock Therapy”: Stabilisasi Makroekonomi dan Disinflasi

Inti dari eksperimen Milei adalah keyakinan bahwa inflasi adalah fenomena moneter yang disebabkan oleh defisit fiskal. Oleh karena itu, obat yang diberikan adalah “terapi kejut” yang keras untuk menstabilkan harga dan memulihkan kepercayaan pada mata uang. Langkah pertama yang diambil adalah devaluasi peso sebesar lebih dari 50% untuk menyesuaikan nilai tukar resmi dengan realitas pasar, yang diikuti dengan skema depresiasi bulanan terkontrol sebesar 2% (crawling peg).

Kebijakan fiskal yang diterapkan sangat agresif. Pemerintah berhasil memangkas anggaran negara sebesar 30% dalam waktu singkat dan mencapai keseimbangan anggaran hanya satu bulan setelah menjabat. Pada tahun 2024, Argentina mencatatkan surplus fiskal pertamanya dalam 14 tahun sebesar 1,8% dari PDB, sebuah pencapaian yang oleh para investor dianggap sebagai “keajaiban” mengingat kondisi awal yang begitu buruk. Surplus ini dipertahankan pada tahun 2025 dengan surplus primer sebesar 1,4% dan surplus fiskal keseluruhan sebesar 0,2% dari PDB.

Keberhasilan fiskal ini berdampak langsung pada penurunan inflasi. Dari tingkat bulanan sebesar 25,5% pada Desember 2023, inflasi melambat secara dramatis menjadi 2,7% pada Oktober 2024 dan terus menurun hingga mencapai tingkat tahunan sebesar 31,5% pada akhir 2025. Meskipun angka ini masih tinggi menurut standar internasional, ini adalah tingkat inflasi terendah di Argentina dalam delapan tahun terakhir. Pemerintah mengklaim bahwa stabilitas ini adalah satu-satunya jalan menuju kemakmuran jangka panjang, karena inflasi adalah pajak yang paling kejam bagi kaum miskin.

Indikator Makroekonomi Level 2023 (Warisan) Level 2024 (Eksperimen) Proyeksi / Hasil 2025
Inflasi Tahunan 211,4% 117,8% 31,5%
Saldo Fiskal (% PDB) Defisit 2,9% Surplus 0,3% Surplus 0,2%
Pertumbuhan PDB Resesi Kontraksi Rebound 4,5%
Cadangan Devisa Negatif $11,5 Miliar Meningkat Stabilisasi
Suku Bunga Sangat Tinggi Penurunan Bertahap Normalisasi

Realitas yang Pahit: Lonjakan Kemiskinan di Tengah Surplus Anggaran

Meskipun indikator makroekonomi menunjukkan perbaikan yang mengesankan, biaya sosial dari “Shock Therapy” ini sangatlah besar. Argentina saat ini menghadapi kontradiksi yang mencolok: surplus anggaran yang bersejarah berdampingan dengan angka kemiskinan yang melonjak drastis. Pada pertengahan 2024, angka kemiskinan di Argentina mencapai 52,9%, naik dari sekitar 41,7% pada akhir 2023. Ini berarti lebih dari separuh populasi kini hidup di bawah garis kemiskinan, dengan angka kemiskinan ekstrem—mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dasar—mencapai 18,1%.

Dampak paling parah dirasakan oleh anak-anak, di mana dua per tiga anak di bawah usia 14 tahun kini hidup dalam kemiskinan. Lonjakan ini disebabkan oleh kombinasi devaluasi mata uang yang menghancurkan daya beli, penghapusan kontrol harga pada kebutuhan pokok, dan pembekuan upah serta pensiun yang tidak mampu mengejar kenaikan harga. Pensiunan, khususnya, telah mengalami penurunan nilai riil pensiun mereka lebih dari 30%, yang memaksa banyak dari mereka untuk memilih antara membeli obat-obatan atau makanan.

Pemerintah berargumen bahwa penderitaan ini adalah “pengorbanan yang diperlukan” untuk membersihkan mess yang ditinggalkan oleh pemerintahan sebelumnya. Sebagai langkah mitigasi, Milei menggandakan daya beli program Tunjangan Anak Universal (AUH), yang memberikan bantuan langsung kepada lebih dari empat juta anak. Namun, bantuan ini sering dianggap tidak cukup karena pemerintah secara bersamaan menghentikan pendanaan untuk dapur umum komunitas, dengan alasan adanya korupsi dalam organisasi sosial yang mengelolanya. Ketegangan antara angka-angka makro yang berkilauan dan perut kosong di jalanan Buenos Aires menjadi pusat kontroversi yang mengancam keberlangsungan sosial dari eksperimen ini.

Deregulasi Radikal: Menghapus Hambatan untuk Pertumbuhan

Salah satu pilar utama dari visi Milei adalah deregulasi ekonomi yang agresif. Sejak menjabat, pemerintah telah menerapkan rata-rata dua deregulasi per hari, sebuah kecepatan yang belum pernah terlihat dalam sejarah modern. Strategi ini didasarkan pada asumsi bahwa hambatan birokrasi dan perizinan adalah penyebab utama rendahnya produktivitas di Argentina. Dengan menghapus aturan-aturan tersebut, Milei berharap dapat memicu ledakan investasi swasta yang akan menggantikan peran negara sebagai mesin pertumbuhan.

Beberapa pencapaian signifikan dalam deregulasi mencakup:

  • Pasar Perumahan: Milei mencabut undang-undang kontrol sewa yang sebelumnya membuat pemilik enggan menyewakan properti mereka. Hasilnya, pasokan apartemen yang tersedia untuk disewakan di Buenos Aires meningkat tiga kali lipat dan harga sewa secara riil turun sekitar 50%.
  • Sektor Penerbangan: Kebijakan “Open Skies” baru memungkinkan persaingan yang lebih besar, menghapuskan monopoli maskapai negara dalam layanan bandara, dan mengizinkan maskapai asing untuk beroperasi lebih bebas di rute domestik.
  • Perdagangan Luar Negeri: Penghapusan sistem lisensi impor yang rumit telah menyebabkan penurunan harga barang konsumen secara signifikan, termasuk penurunan 20% pada harga pakaian dan 35% pada peralatan rumah tangga.
  • Hukum Ketenagakerjaan: Reformasi baru memberikan fleksibilitas bagi pengusaha untuk mempekerjakan pekerja lepas dan kontraktor tanpa persyaratan pendaftaran “karyawan” yang mahal, serta menurunkan biaya pesangon untuk mendorong penciptaan lapangan kerja formal.

Meskipun deregulasi ini disambut baik oleh sektor bisnis, para kritikus memperingatkan bahwa penghapusan perlindungan tenaga kerja dapat menyebabkan peningkatan ketidakpastian bagi pekerja. Namun, bagi Milei, kebebasan kontrak adalah hak fundamental yang tidak boleh dibatasi oleh negara, dan pasar adalah penilai terbaik untuk nilai dari tenaga kerja maupun barang.

Benturan dengan Serikat Buruh: Perlawanan Terhadap Reformasi

Keberhasilan implementasi reformasi Milei sangat bergantung pada kemampuannya untuk menundukkan perlawanan dari serikat pekerja Argentina yang terkenal kuat dan terorganisir, terutama Confederación General del Trabajo (CGT). Sepanjang tahun 2024 dan awal 2025, Argentina dilanda gelombang pemogokan umum yang melumpuhkan transportasi, layanan publik, dan industri manufaktur. Pemogokan ini merupakan respons langsung terhadap kebijakan penghematan dan rencana privatisasi perusahaan negara.

Salah satu titik konflik utama adalah “Hukum Dasar” (Ley de Bases) dan dekrit darurat yang mencakup reformasi ketenagakerjaan radikal. Reformasi ini mencakup usulan untuk memperbolehkan hari kerja hingga 12 jam dalam kondisi tertentu dan membatasi hak untuk mogok bagi pekerja di sektor-sektor esensial. Serikat buruh memandang langkah ini sebagai serangan langsung terhadap hak-hak yang telah mereka perjuangkan selama puluhan tahun, sementara pemerintah menganggap aturan lama sebagai “penghambat” yang membuat pengusaha takut untuk mempekerjakan orang baru.

Pemerintah menanggapi perlawanan ini dengan tangan besi melalui protokol keamanan baru yang melarang penutupan jalan (piquetes). Protokol ini memberikan kekuasaan kepada pasukan keamanan untuk membubarkan demonstran secara paksa dan mengancam akan memotong bantuan sosial bagi mereka yang berpartisipasi dalam blokade jalan. Meskipun ada tekanan besar dari jalanan, Milei tetap tidak bergeming, menyatakan bahwa “tidak ada alternatif” selain kejutan ekonomi, dan menyebut para pemimpin serikat buruh sebagai bagian dari “kasta” yang berusaha melindungi hak istimewa mereka sendiri di atas kepentingan rakyat banyak.

Detail Pemogokan Umum (April 2025) Dampak dan Cakupan
Transportasi Kereta api, kereta bawah tanah, dan bus di Buenos Aires berhenti total
Penerbangan Bandara Jorge Newbery dan Ezeiza kosong; penerbangan domestik/internasional dibatalkan
Layanan Publik Bank ditutup; rumah sakit hanya melayani keadaan darurat; pengumpulan sampah dihentikan
Biaya Ekonomi Pemerintah memperkirakan kerugian sebesar $880 juta dalam satu hari
Motivasi Serikat Menuntut pembatalan PHK di lembaga negara dan kenaikan upah yang sesuai inflasi

Perbandingan Global: Margaret Thatcher dari Pampas atau Fenomena Unik?

Dunia internasional sering kali mencoba mengkategorikan Milei dengan membandingkannya dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Margaret Thatcher. Kemiripan dalam filosofi ekonomi sangat mencolok: keduanya melihat inflasi sebagai “naga” yang harus dibunuh melalui disiplin moneter yang ketat dan pengurangan kekuasaan serikat pekerja. Namun, perbedaan konteks antara Inggris tahun 1979 dan Argentina tahun 2023 sangatlah fundamental. Thatcher memerintah sebuah demokrasi industri yang matang dengan lembaga-lembaga yang relatif stabil, sementara Milei memimpin sebuah negara yang berada di tengah reruntuhan ekonomi dengan sejarah krisis yang kronis.

Selain Thatcher, eksperimen Milei juga dapat dibandingkan dengan “Shock Therapy” di Eropa Timur pasca-Soviet, seperti Rencana Balcerowicz di Polandia. Dalam kedua kasus tersebut, transisi cepat dari ekonomi yang sangat diatur menuju pasar bebas memicu penderitaan awal yang luar biasa sebelum mencapai stabilitas. Perbedaan utama adalah bahwa Polandia melakukan transisi dari sistem ekonomi komando secara total, sedangkan Milei mencoba membongkar sistem populisme demokratis yang telah berurat akar dalam budaya politik Argentina selama 80 tahun.

Milei juga merupakan bagian dari kebangkitan gerakan sayap kanan global, yang berbagi skeptisisme mendalam terhadap tata kelola global dan lembaga internasional. Penyelarasannya dengan tokoh-tokoh seperti Donald Trump di Amerika Serikat dan para pemimpin partai sayap kanan di Eropa menunjukkan bahwa eksperimen Argentina adalah bagian dari tren yang lebih besar untuk menantang tatanan liberal internasional. Jika Milei berhasil, ia akan memberikan kredibilitas baru bagi ideologi libertarian yang selama ini sering dianggap sebagai teori pinggiran dalam praktik pemerintahan nasional.

Dimensi Perbandingan Margaret Thatcher (Inggris) Javier Milei (Argentina)
Landasan Teoretis Monetarisme (Milton Friedman) Sekolah Austria (Hayek/Rothbard)
Musuh Utama Serikat Buruh Tambang “La Casta” (Elit Politik)
Kebijakan Moneter Mempertahankan Kedaulatan Pound Usulan Dolarisasi / Hapus Bank Sentral
Kekuatan Politik Mayoritas Parlemen yang Solid Koalisi Minoritas (Memerintah lewat Dekrit)
Jaring Pengaman Mempertahankan NHS & Dasar Kesejahteraan Pemangkasan Drastis Program Sosial

Reorientasi Geopolitik: Aliansi Baru dan Penolakan Globalisme

Di bawah kepemimpinan Milei, kebijakan luar negeri Argentina telah berubah secara radikal. Ia telah mengalihkan fokus negara dari blok Selatan dan mitra tradisional seperti China dan Brasil, menuju keselarasan penuh dengan Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel. Keputusannya untuk menolak keanggotaan Argentina dalam blok BRICS adalah pernyataan simbolis yang kuat bahwa Argentina tidak lagi ingin diasosiasikan dengan blok ekonomi yang didominasi oleh kekuatan otokratis.

Perubahan geopolitik ini mencakup:

  • Dukungan Terhadap NATO: Milei telah menyatakan minatnya untuk menjadikan Argentina sebagai “mitra global” NATO dan telah memberikan dukungan vokal kepada Ukraina dalam konflik melawan Rusia.
  • Skeptisisme Terhadap Agenda 2030: Di forum-forum internasional, delegasi Argentina kini sering memberikan suara menentang resolusi yang berkaitan dengan perubahan iklim dan kesetaraan gender, yang dianggap Milei sebagai bagian dari “agenda sosialis global”.
  • Ketegangan Regional: Hubungannya dengan Presiden Brasil, Lula da Silva, tetap beku, yang secara efektif menghambat kemajuan dalam blok perdagangan Mercosur, meskipun ada minat bersama untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa.

Kedekatannya dengan Donald Trump sangat terlihat, terutama dengan undangan Milei untuk bergabung dalam inisiatif perdamaian internasional (“Board of Peace”) yang dipimpin oleh Trump. Milei memandang dirinya sebagai bagian dari garda depan yang akan membebaskan dunia dari apa yang ia sebut sebagai “virus kolektivisme”. Keselarasan ideologis ini tidak hanya membawa dukungan politik tetapi juga membantu Argentina dalam negosiasi dengan IMF, di mana Amerika Serikat memegang pengaruh yang signifikan.

Risiko di Depan Mata: Keberlanjutan Politik dan Tantangan 2026

Meskipun pencapaian tahun pertama Milei mengejutkan banyak pakar, risiko kegagalan tetap membayangi. Tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan dukungan populer saat efek dari pemotongan subsidi energi dan transportasi mulai dirasakan sepenuhnya oleh kelas menengah. Anggaran tahun 2026 yang diusulkan Milei adalah yang terkecil dalam 30 tahun terakhir, dengan fokus utama tetap pada pengurangan defisit melalui pemotongan lebih lanjut pada gaji sektor publik dan subsidi provinsi.

Beberapa risiko kritis yang diidentifikasi oleh para analis meliputi:

  1. Fragmentasi Politik: Tanpa kontrol atas Kongres, Milei harus terus bernegosiasi dengan gubernur provinsi yang telah kehilangan 93,8% transfer modal dari pemerintah pusat. Ketegangan ini dapat menyebabkan kebuntuan legislatif yang menghambat reformasi lebih lanjut.
  2. Kesenjangan Nilai Tukar: Kebijakan pemerintah untuk menjaga nilai tukar peso tetap kuat guna meredam inflasi dapat merusak daya saing ekspor dan menguras cadangan devisa jika tidak dikelola dengan hati-hati.
  3. Krisis Sosial: Meskipun kemiskinan mulai menurun di akhir 2025, tingkat pengangguran tetap tinggi dan sektor manufaktur domestik menderita akibat persaingan dari impor murah. Jika penderitaan rakyat jelata melampaui ambang batas kesabaran, risiko protes yang lebih anarkis atau “ledakan sosial” menjadi sangat nyata.
  4. Ketergantungan pada Figuritas: Keberhasilan eksperimen ini sangat bergantung pada kepribadian Milei. Jika popularitasnya merosot, koalisi rapuh yang mendukungnya di parlemen kemungkinan besar akan meninggalkannya, yang dapat memicu ketidakpastian politik baru di Argentina.

Kesimpulan: Penyelamat atau Penghancur?

Eksperimen Javier Milei di Argentina adalah sebuah laboratorium ekonomi berskala nasional yang paling radikal di dunia saat ini. Dari satu perspektif, Milei adalah penyelamat yang melakukan “bedah besar tanpa anestesi” untuk menyelamatkan pasien yang sekarat akibat dekade-dekade malpraktik ekonomi populisme. Keberhasilannya mencapai surplus fiskal dan menurunkan inflasi dari tingkat hiperinflasi menjadi terkendali adalah bukti bahwa disiplin pasar dapat memberikan hasil nyata dalam waktu singkat.

Namun, dari perspektif lain, ia adalah penghancur jaring pengaman sosial yang telah melindungi jutaan orang Argentina dari kemiskinan ekstrem. Biaya manusia dari eksperimen ini sangatlah nyata, tercermin dalam jutaan orang yang jatuh ke bawah garis kemiskinan dan degradasi layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Perdebatan mengenai apakah surplus anggaran layak dicapai dengan mengorbankan nutrisi anak-anak dan kesejahteraan lansia tetap menjadi pertanyaan moral yang mendalam bagi masyarakat Argentina.

Hasil akhir dari eksperimen “Gergaji Mesin” ini kemungkinan baru akan terlihat sepenuhnya pada tahun 2026 dan seterusnya. Jika Argentina dapat melakukan transisi menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, Milei akan tercatat sebagai revolusioner yang berhasil mengubah arah sejarah bangsanya. Namun, jika penderitaan rakyat jelata terus berlanjut tanpa perbaikan kualitas hidup yang nyata, eksperimen ini berisiko berakhir sebagai kegagalan tragis lainnya dalam sejarah panjang krisis Argentina. Dunia sedang memperhatikan, karena keberhasilan atau kegagalan Milei akan menentukan apakah anarko-kapitalisme adalah solusi masa depan atau sekadar ilusi berbahaya di tengah keputusasaan ekonomi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 5 =
Powered by MathCaptcha