Fenomena tauromaquia atau adu banteng (corrida de toros) di Spanyol merupakan salah satu subjek perdebatan paling intens dalam diskursus kebudayaan Eropa modern, yang mencerminkan ketegangan antara pelestarian identitas sejarah dan transformasi nilai-nilai moral kontemporer. Sebagai sebuah praktik yang memiliki akar mendalam pada peradaban Mediterania kuno, adu banteng telah berkembang dari sekadar pertunjukan ketangkasan fisik menjadi sebuah ritual kompleks yang melibatkan dimensi simbolisme, estetika, ekonomi, dan politik nasional. Dalam beberapa dekade terakhir, ketegangan ini telah mencapai titik kulminasi baru, yang dipicu oleh pergeseran pandangan dunia dari generasi muda Spanyol yang lebih menekankan pada hak-hak hewan, serta intervensi politik yang semakin tegas dari pemerintah pusat maupun daerah otonom. Analisis ini mengeksplorasi secara menyeluruh anatomi adu banteng dari perspektif sejarah, fisiologi, hukum, dan sosiopolitik untuk memahami kedudukan praktik ini di abad ke-21.

Evolusi Historis dan Genealogi Simbolisme Banteng

Adu banteng di Semenanjung Iberia memiliki silsilah yang dapat ditarik kembali ke peradaban kuno, di mana banteng dipuja sebagai simbol kekuatan, kesuburan, dan kekuasaan. Ritual yang melibatkan banteng telah ada sejak zaman Kekaisaran Romawi, di mana tontonan publik di amfiteater seperti Colosseum sering kali menyertakan konfrontasi dengan hewan liar sebagai bentuk hiburan massa dan demonstrasi kontrol manusia atas alam. Pengaruh Romawi yang menyebar di seluruh Iberia membawa tradisi ritual terkait banteng yang kemudian berasimilasi dengan budaya lokal. Selama Abad Pertengahan, adu banteng berevolusi menjadi sebuah praktik yang lebih terstruktur, yang awalnya merupakan hiburan eksklusif bagi kaum bangsawan yang mendemonstrasikan keberanian mereka dengan menghadapi banteng dari atas punggung kuda.

Transformasi fundamental menuju bentuk modernnya terjadi pada abad ke-18. Francisco Romero, seorang matador legendaris dari Ronda, dikreditkan sebagai tokoh yang mengubah struktur pertunjukan dengan memperkenalkan penggunaan jubah merah (muleta) dan melakukan konfrontasi dengan berjalan kaki. Inovasi ini mengubah adu banteng dari sekadar latihan militer ksatria menjadi pertunjukan seni yang sangat bergaya, menggabungkan atletisitas dengan estetika koreografis. Sejak saat itu, banteng aduan atau toro de lidia mulai diseleksi secara genetik berdasarkan agresivitas dan stamina, menciptakan garis keturunan unik yang berbeda dari ternak komersial lainnya yang dipelihara untuk konsumsi massa.

Sepanjang sejarah Spanyol, adu banteng telah berfungsi sebagai pilar identitas nasional yang sangat kuat. Para penulis terkemuka seperti Ernest Hemingway, Federico García Lorca, dan Vicente Blasco Ibáñez telah mengabadikan drama di gelanggang sebagai refleksi dari nilai-nilai keberanian, kehormatan, dan penghormatan terhadap alam dalam karya-karya sastra mereka. Seniman besar seperti Francisco Goya dan Pablo Picasso juga mendokumentasikan intensitas visual dan emosional dari adu banteng dalam lukisan mereka, yang semakin memperkuat persepsi publik bahwa tauromaquia adalah sebuah bentuk seni pertunjukan yang terhormat. Namun, asosiasi politik adu banteng juga mengalami fluktuasi yang signifikan; di bawah rezim diktator Jenderal Franco (1939-1975), praktik ini dipromosikan secara agresif sebagai fiesta nacional untuk memperkuat sentralisme Spanyol, yang di kemudian hari menimbulkan resistensi di wilayah-wilayah dengan sentimen separatis seperti Catalonia.

Anatomi Pertunjukan: Ritualitas dan Estetika Tercios

Adu banteng modern bukanlah sebuah pertarungan tanpa aturan, melainkan sebuah drama yang terbagi secara ketat menjadi tiga babak atau tercios, yang masing-masing memiliki fungsi teknik, estetika, dan simbolis tertentu dalam proses “menaklukkan” banteng.

Tahap Pertama: Tercio de Varas

Tahap pembukaan dimulai dengan masuknya banteng ke dalam gelanggang, di mana hewan tersebut pertama kali dihadapi oleh matador dan asistennya dengan jubah besar berwarna kuning dan ungu yang disebut capote. Fokus utama pada tahap ini adalah Tercio de Varas, di mana seorang picador yang menunggang kuda menusukkan tombak (lance) ke otot leher banteng. Dari sudut pandang pendukung, ini adalah pengujian keberanian banteng dalam menghadapi serangan. Namun, secara teknis, tindakan ini bertujuan untuk melemahkan otot-otot yang menopang leher banteng agar hewan tersebut cenderung menundukkan kepalanya, sebuah posisi yang diperlukan bagi matador untuk melakukan serangan terakhir dengan pedang secara aman. Luka yang ditimbulkan oleh tombak ini bisa mencapai kedalaman 30 cm, menghancurkan pembuluh darah dan menyebabkan kehilangan volume darah yang signifikan.

Tahap Kedua: Tercio de Banderillas

Pada babak kedua, asisten matador yang disebut banderilleros berlari ke arah banteng tanpa pelindung selain ketangkasan mereka sendiri untuk menancapkan enam buah tongkat berujung tajam dan berwarna-warni yang disebut banderillas ke bahu atau punuk hewan tersebut. Secara estetika, babak ini menonjolkan ritme dan koordinasi fisik manusia. Namun, dari perspektif fisiologis, banderillas dirancang untuk terus bergerak di dalam luka saat banteng melakukan gerakan, yang menyebabkan robekan otot tambahan dan perdarahan yang terus-menerus. Tahap ini bertujuan untuk memicu respons agresif banteng setelah kelelahan di babak pertama, sekaligus memastikan bahwa otot-ototnya tetap terstimulasi meskipun telah mengalami cedera berat.

Tahap Ketiga: Tercio de Muerte

Puncak dari pertunjukan ini adalah Tercio de Muerte atau babak kematian. Matador menggunakan jubah merah yang lebih kecil (muleta) untuk memandu banteng dalam serangkaian gerakan artistik yang disebut faena. Di sini, estetika mencapai puncaknya melalui manuver seperti Verónica, di mana matador harus menunjukkan ketenangan absolut dengan kaki yang seolah-olah terpaku di tanah sementara banteng melewati tubuhnya dengan sangat dekat. Kualitas pertunjukan diukur dari kemampuan matador untuk “merasakan” ritme banteng dan mengendalikannya melalui gerakan pergelangan tangan yang halus. Pertunjukan diakhiri dengan estocada, yaitu penusukan pedang secara presisi di antara tulang belikat banteng dengan tujuan menembus jantung atau paru-paru. Jika matador gagal membunuh secara instan, seorang algojo akan menggunakan pisau pendek (puntilla) untuk memutus sumsum tulang belakang banteng.

Tahap (Tercio) Pelaku Utama Instrumen Utama Tujuan Teknis dan Estetika
Tercio de Varas Picador (berkuda) Tombak (Lance) Melemahkan otot leher agar banteng menundukkan kepala.
Tercio de Banderillas Banderilleros Banderillas Memicu agresivitas melalui stimulasi nyeri pada bahu.
Tercio de Muerte Matador Muleta & Pedang Pertunjukan artistik faena dan eksekusi akhir (estocada).

Perspektif Kedokteran Hewan: Analisis Penderitaan Fisiologis

Perdebatan mengenai apakah adu banteng merupakan seni atau penyiksaan sering kali berbenturan pada interpretasi rasa sakit yang dialami oleh hewan tersebut. Para pendukung sering mengeklaim bahwa karena lonjakan adrenalin dan endorfin yang sangat tinggi, banteng tidak merasakan sakit dengan cara yang sama seperti manusia. Namun, bukti klinis dari para ahli veteriner yang berafiliasi dengan organisasi seperti AVATMA memberikan gambaran yang sangat kontras mengenai kondisi fisiologis banteng selama pertunjukan.

Analisis biokimia menunjukkan bahwa banteng mengalami stres metabolik yang ekstrem, yang ditandai dengan fenomena acidosis metabolik karena akumulasi laktat dalam darah akibat aktivitas otot yang intens tanpa oksigenasi yang cukup.Terjadi pula ketidakseimbangan elektrolit yang parah, termasuk hypercalcaemia, hypermagnesaemia, dan hyperphosphataemia. Secara fisik, penusukan tombak pada babak pertama sering kali mengenai saraf aksesori dan pleksus brakialis (segmen tulang belakang C5 hingga T1), yang secara langsung merusak kemampuan lokomotif kaki depan banteng.

Kematian banteng di gelanggang sering kali merupakan proses yang lambat dan menyakitkan. Meskipun matador menargetkan jantung, pedang lebih sering menembus pleura atau paru-paru, menyebabkan perdarahan luas di rongga dada yang mengakibatkan asfiksia. Hewan tersebut sering terlihat mengeluarkan darah dari mulut dan hidung karena menghirup darahnya sendiri (bronchoaspiration). Yang paling krusial dari perspektif etika adalah temuan bahwa batang otak dan korteks serebral sering kali tetap utuh hingga akhir, yang berarti banteng kemungkinan besar tetap dalam keadaan sadar penuh saat mengalami sesak napas atau saat saraf motoriknya diputus secara manual oleh puntilla. Stres psikologis akibat suara bising penonton, lingkungan yang asing, dan isolasi sosial juga memicu pelepasan kortisol dan katekolamin yang mengonfirmasi adanya tingkat ketakutan dan kecemasan yang sangat tinggi.

Landasan Hukum dan Perlindungan Warisan Budaya

Status hukum adu banteng di Spanyol merupakan subjek yang sangat kompleks, yang mencerminkan pertempuran antara kedaulatan negara dan otonomi daerah. Pada tahun 2013, di bawah tekanan dari para pendukung tradisi, Pemerintah Spanyol mengesahkan Undang-Undang 18/2013 yang menetapkan Tauromaquia sebagai Warisan Budaya Bangsa (Patrimonio Cultural). Undang-undang ini mewajibkan seluruh otoritas publik untuk menjamin pelestarian, perlindungan, dan promosi adu banteng di seluruh wilayah nasional, dengan argumen bahwa praktik tersebut merupakan bagian integral dari budaya tradisional rakyat Spanyol yang patut dilindungi berdasarkan Pasal 46 Konstitusi Spanyol.

Penetapan ini memiliki implikasi hukum yang luas, terutama dalam membatalkan upaya pelarangan di tingkat daerah. Ketika Parlemen Catalonia memutuskan untuk melarang adu banteng pada tahun 2010, Mahkamah Konstitusi Spanyol membatalkan keputusan tersebut pada tahun 2016 dengan alasan bahwa daerah tidak memiliki wewenang untuk melarang sebuah kegiatan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional. Meskipun demikian, beberapa wilayah tetap melakukan perlawanan hukum yang kreatif; Kepulauan Balearik, misalnya, mengesahkan undang-undang yang membatasi durasi pertunjukan menjadi 10 menit dan melarang penggunaan instrumen tajam serta pembunuhan banteng di arena, yang secara praktis menghilangkan elemen inti dari corrida tradisional.

Status hukum adu banteng di berbagai wilayah utama dapat dirangkum sebagai berikut:

Wilayah Otonom Status Hukum (Hingga 2025) Dinamika Regulasi
Spanyol (Nasional) Warisan Budaya (UU 18/2013) Negara wajib melindungi dan mempromosikan secara aktif.
Kepulauan Canary Dilarang sejak 1991 Larangan pertama di Spanyol, masih dihormati hingga kini.
Catalonia Larangan dibatalkan Mahkamah Secara administratif legal, namun minat publik sangat rendah.
Kepulauan Balearik Dibatasi secara teknis Melarang pembunuhan dan penggunaan senjata tajam di arena.
Galicia Legal Oposisi publik sangat tinggi, melebihi 80% dalam survei.

Dimensi Ekonomi dan Perdebatan Subsidi Publik

Salah satu argumen utama yang diajukan oleh industri adu banteng untuk mempertahankan eksistensinya adalah kontribusi ekonominya yang signifikan terhadap negara. Para pendukung mengeklaim bahwa industri ini menghasilkan pendapatan hingga $2 miliar per tahun dan menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 100.000 orang. Selain itu, pembiakan banteng aduan dianggap memiliki manfaat ekologis karena melindungi lahan Dehesa—ekosistem padang rumput berhutan yang unik di Spanyol—dari risiko urbanisasi atau konversi menjadi lapangan golf.

Namun, kritik tajam muncul mengenai ketergantungan industri ini pada dana publik untuk bertahan hidup. Laporan independen memperkirakan bahwa otoritas Spanyol di berbagai tingkat (pusat, daerah otonom, provinsi, dan kota) menghabiskan sekitar €571 juta per tahun untuk mensubsidi adu banteng. Subsidi ini digunakan untuk berbagai hal, mulai dari renovasi gelanggang adu banteng, pemberian penghargaan, hingga dukungan untuk sekolah-sekolah matador dan pembelian tiket oleh dewan kota untuk didistribusikan secara gratis. Tanpa dukungan finansial ini, banyak pengamat berpendapat bahwa adu banteng akan segera menghadapi kebangkrutan karena pendapatan dari penjualan tiket saja sering kali tidak mencukupi untuk menutup biaya operasional satu sesi pertunjukan yang bisa mencapai €60.000 hingga €600.000.

Di tingkat internasional, penggunaan dana Uni Eropa juga menjadi sumber kontroversi. Diperkirakan Uni Eropa menyalurkan sekitar €129,6 juta hingga €200 juta per tahun melalui Kebijakan Pertanian Bersama (Common Agricultural Policy – CAP) kepada peternak banteng aduan.Dana ini diberikan berdasarkan luas lahan pertanian yang digunakan, bukan berdasarkan tujuan akhir hewan yang dipelihara di atasnya. Meskipun Parlemen Eropa telah memberikan suara untuk menghentikan subsidi bagi peternakan yang ditujukan untuk kegiatan adu banteng yang mematikan, implementasinya tetap sulit karena kurangnya kompetensi resmi Uni Eropa dalam urusan kesejahteraan hewan yang terkait dengan tradisi budaya.

Pergeseran Opini Publik dan Peran Generasi Muda

Data statistik terbaru menunjukkan adanya pergeseran yang sangat tajam dalam persepsi sosial masyarakat Spanyol terhadap adu banteng. Berdasarkan survei dari Kementerian Kebudayaan dan lembaga independen lainnya pada tahun 2024-2025, sekitar 68% hingga 78% warga Spanyol menyatakan tidak memiliki ketertarikan atau bahkan secara aktif menolak adu banteng. Di beberapa wilayah, penolakan ini bahkan lebih ekstrem; survei menunjukkan bahwa lebih dari 80% populasi di Catalonia, Galicia, dan Kepulauan Canary menunjukkan tingkat ketertarikan yang sangat rendah.

Fenomena yang paling menarik terjadi pada demografi muda. Secara historis, pendukung adu banteng adalah kelompok usia tua. Namun, data terbaru menunjukkan adanya kenaikan anomali dalam kehadiran di kalangan usia 15-24 tahun. Analis berpendapat bahwa kenaikan ini bersifat artifisial, yang dipicu oleh kebijakan pemerintah pusat seperti Bono Cultural Joven—voucher kebudayaan senilai €400 yang diberikan kepada warga negara yang baru menginjak usia 18 tahun. Masuknya tiket adu banteng sebagai salah satu produk kebudayaan yang dapat dibeli dengan voucher ini dianggap sebagai strategi “penggantian generasi paksa” untuk menyelamatkan industri yang secara alami sedang kehilangan penggemarnya. Meskipun demikian, di luar kelompok yang memanfaatkan voucher tersebut, mayoritas pemuda Spanyol (sekitar 92%) menganggap praktik seperti perburuan sebagai hal yang tidak perlu dan melihat adu banteng sebagai bentuk kekerasan yang anakronistis.

Berikut adalah data tingkat ketertarikan masyarakat Spanyol terhadap adu banteng berdasarkan kelompok usia dan latar belakang:

Kelompok Demografis Tingkat Ketertarikan Rendah (0-2/10) Sikap Terhadap Pelarangan
Umum (Nasional) 68% – 78% 54% – 58% mendukung pelarangan total.
Usia 15-24 Tahun Tinggi (namun kehadiran naik karena voucher) Mayoritas menganggap bukan sebagai budaya.
Usia >65 Tahun Lebih rendah penolakannya 45% mendukung pencabutan perlindungan hukum.
Pemilik Hewan Peliharaan Sangat Tinggi 30% lebih cenderung menolak adu banteng.
Pendidikan Tinggi Tinggi 22% lebih kritis dibandingkan pendidikan dasar.

Eskalasi Politik 2024-2026: Ernest Urtasun dan Gerakan #NoEsMiCultura

Periode antara tahun 2024 hingga awal 2026 menandai salah satu fase paling konfrontatif dalam sejarah politik tauromaquia di Spanyol. Ernest Urtasun, Menteri Kebudayaan dari partai sayap kiri Sumar, telah mengambil langkah-langkah administratif yang berani untuk memisahkan negara dari promosi adu banteng. Pada Mei 2024, Urtasun secara resmi menghapuskan Penghargaan Nasional untuk Adu Banteng (Premio Nacional de Tauromaquia), dengan alasan bahwa penghargaan pemerintah harus mencerminkan nilai-nilai masyarakat saat ini yang semakin peduli pada kesejahteraan hewan. Keputusan ini memicu badai politik; Partai Populer (PP) dan partai sayap kanan Vox mengecam langkah tersebut sebagai serangan terhadap kebebasan budaya dan menggunakan mayoritas mereka di Senat untuk tetap menyelenggarakan penghargaan serupa secara mandiri.

Di tingkat masyarakat sipil, gerakan penolakan mencapai puncaknya melalui Inisiatif Legislatif Populer (ILP) bertajuk #NoEsMiCultura. Gerakan ini berhasil mengumpulkan 664.777 tanda tangan warga yang divalidasi—jumlah yang jauh melampaui syarat minimal 500.000 tanda tangan untuk memaksa debat parlemen. Tujuan utama dari ILP ini adalah untuk mencabut UU 18/2013 yang memberikan perlindungan warisan budaya pada adu banteng, sehingga memungkinkan setiap pemerintah daerah untuk melarang praktik tersebut sesuai dengan kehendak rakyat setempat.

Namun, dinamika politik di tingkat nasional tetap sangat cair. Pada 7 Oktober 2025, Kongres Deputi Spanyol memutuskan untuk tidak mempertimbangkan ILP tersebut. Keputusan ini dimungkinkan karena Partai Sosialis (PSOE) pimpinan Perdana Menteri Pedro Sánchez memilih untuk abstain, sebuah langkah yang dianalisis sebagai upaya strategis untuk menghindari kerugian politik di wilayah yang masih memiliki tradisi adu banteng yang kuat, seperti Andalusia, menjelang pemilihan regional tahun 2026. Meskipun gagal secara legislatif, keberhasilan mengumpulkan ratusan ribu tanda tangan menunjukkan bahwa adu banteng bukan lagi merupakan simbol pemersatu bangsa, melainkan garis pemisah ideologis yang dalam.

Kontradiksi Lingkungan: Mitos dan Realitas Ekosistem Dehesa

Industri adu banteng sering kali menggunakan argumen lingkungan sebagai mekanisme pertahanan terakhir. Mereka mengeklaim bahwa pembiakan toro de lidia adalah “penjaga” ekosistem Dehesa, sebuah sistem agrosilvopastoral yang melindungi keanekaragaman hayati Spanyol. Luas lahan yang digunakan untuk peternakan banteng aduan diperkirakan mencapai 540.000 hektar, di mana kepadatan ternak yang sangat rendah memungkinkan lebih dari 150 spesies burung dan hewan liar lainnya berkembang biak tanpa gangguan. Dikatakan pula bahwa banteng aduan menjalani kehidupan yang “terhormat” di alam terbuka selama empat tahun sebelum akhirnya menghadapi ajalnya di arena, sebuah kualitas hidup yang jauh lebih baik dibandingkan hewan ternak industri lainnya.

Namun, para aktivis lingkungan dan organisasi seperti FAADA memberikan perspektif kritis terhadap klaim ini. Mereka berpendapat bahwa Dehesa bukanlah sebuah ekosistem alami, melainkan lingkungan yang diciptakan dan dikelola secara intensif oleh manusia melalui penebangan hutan asli untuk kepentingan peternakan. Selain itu, argumen bahwa kelestarian lingkungan harus bergantung pada praktik yang melibatkan penderitaan hewan dianggap sebagai sebuah paradoks moral yang tidak dapat diterima. Kritik tersebut menekankan bahwa lahan-lahan tersebut tetap dapat dilestarikan melalui model pertanian ekologis, ekowisata, atau perlindungan spesies asli lainnya tanpa harus melibatkan tradisi pembunuhan hewan di depan publik.

Kesimpulan: Analisis Masa Depan Tauromaquia

Adu banteng di Spanyol saat ini berada pada persimpangan jalan sejarah yang kritis. Di satu sisi, praktik ini tetap memiliki landasan hukum yang kuat melalui status Warisan Budaya Nasional dan dukungan dari faksi-faksi politik konservatif yang melihatnya sebagai simbol kedaulatan identitas Spanyol. Di sisi lain, legitimasi sosialnya sedang mengalami erosi yang cepat, yang didorong oleh kesadaran etika baru di kalangan generasi muda dan penolakan terhadap penggunaan dana publik untuk kegiatan yang dianggap kejam.

Analisis mendalam terhadap data fisiologis, sosiologis, dan politik menunjukkan bahwa adu banteng tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai sebuah seni pertunjukan yang terhormat secara universal. Transformasinya menjadi subjek pertentangan politik menunjukkan bahwa Tauromaquia telah kehilangan fungsinya sebagai ritus kolektif yang menyatukan masyarakat. Sebaliknya, ia telah menjadi simbol dari sebuah peradaban yang sedang berjuang untuk mendefinisikan kembali hubungannya dengan alam dan makhluk hidup lainnya.

Masa depan adu banteng di Spanyol kemungkinan besar akan ditentukan oleh dua faktor utama: keberlanjutan subsidi ekonomi dan perubahan peta politik di tingkat nasional. Jika perlindungan hukum UU 18/2013 berhasil dicabut di masa depan, maka fragmentasi hukum di tingkat daerah akan segera terjadi, yang kemungkinan besar akan menyebabkan penghentian adu banteng di sebagian besar wilayah Spanyol. Pada akhirnya, pergeseran dari sebuah tradisi yang mengagungkan dominasi manusia atas hewan menuju sebuah budaya yang lebih empatik tampaknya merupakan sebuah proses evolusi yang tidak dapat dihindari, meskipun perlawanan dari para penjaga tradisi akan tetap berlangsung selama beberapa tahun ke depan. Spanyol di tahun 2026 dan seterusnya akan terus menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa melakukan negosiasi ulang antara warisan sejarahnya yang berdarah dan aspirasi moralnya untuk masa depan yang lebih compasif.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

91 − = 83
Powered by MathCaptcha