Analisis mendalam terhadap sejarah militer dan medis menunjukkan bahwa Unit 731 bukan sekadar anomali masa perang, melainkan manifestasi paling ekstrem dari apa yang terjadi ketika otoritas ilmiah bersatu dengan ultranasionalisme tanpa pengawasan etika. Sebagai departemen rahasia dalam Tentara Kekaisaran Jepang yang beroperasi selama Perang Dunia II, Unit 731 melakukan eksperimen manusia yang melampaui batas-batas kemanusiaan yang paling mendasar, mengubah ribuan subjek uji menjadi instrumen pengembangan senjata biologis dan kimia. Signifikansi historis dari unit ini tidak hanya terletak pada kekejaman yang dilakukannya di Manchuria, tetapi juga pada bagaimana data yang dihasilkan dari penderitaan tersebut menjadi komoditas berharga dalam politik kekuasaan global pascaperang, yang mengarah pada kesepakatan imunitas kontroversial antara Amerika Serikat dan para ilmuwan Jepang.

Genealogi Kekejaman: Visi Shirō Ishii dan Struktur Biopolitik Jepang

Pembentukan Unit 731 merupakan hasil dari ambisi seorang individu tunggal yang didukung oleh sistem militer yang haus akan keunggulan asimetris. Letnan Jenderal Shirō Ishii, seorang mikrobiolog yang cerdas namun amoral, mengidentifikasi potensi senjata biologis setelah mempelajari Protokol Jenewa 1925. Logika Ishii sangat paradoks: ia berargumen bahwa jika sebuah metode peperangan dilarang secara internasional, maka metode tersebut pastilah sangat efektif. Pandangan ini diterima oleh elit militer Jepang yang melihat senjata biologi sebagai alternatif murah bagi negara yang kekurangan sumber daya mineral namun memiliki keahlian medis yang maju.

Setelah melakukan eksplorasi selama dua tahun di berbagai lembaga penelitian di Eropa dan Amerika Serikat, Ishii kembali ke Jepang dengan keyakinan bahwa masa depan peperangan terletak pada penguasaan terhadap patogen. Pada tahun 1932, dengan dukungan menteri kesehatan saat itu, Koizumi Chikahiko, ia mendirikan laboratorium riset pencegahan epidemi di Tokyo yang kemudian berkembang menjadi jaringan luas fasilitas di wilayah pendudukan Manchuria. Pemilihan Manchuria sebagai pusat operasional didorong oleh kebutuhan akan kerahasiaan absolut dan akses tanpa batas terhadap subjek uji coba manusia, yang oleh staf unit disebut sebagai “aset tanpa biaya”.

Arsitektur dan Jaringan Operasional Unit 731

Fasilitas utama Unit 731 di Pingfang, dekat Harbin, merupakan kompleks raksasa yang mencakup lebih dari 150 bangunan dan mempekerjakan ribuan personel, termasuk ilmuwan dari universitas-universitas terkemuka di Jepang. Unit ini beroperasi dengan kedok “Departemen Pencegahan Epidemi dan Pemurnian Air Tentara Kwantung,” sebuah penyamaran birokrasi yang memungkinkan aliran dana dan peralatan medis kelas dunia tanpa menarik perhatian internasional.

Nama Unit Lokasi Peran Utama dalam Program
Unit 731 Pingfang (Harbin) Pusat komando, riset patogen utama, dan produksi massal bom biologi
Unit 100 Changchun Fokus pada senjata biologis veteriner dan kontaminasi tanaman
Unit 1644 Nanjing Penelitian lapangan epidemiologi dan eksperimen bedah
Unit 1855 Beijing Koordinasi logistik senjata bakteriologis regional
Unit 8604 Guangzhou Pengujian patogen tropis dan pemanfaatan tahanan perang

Struktur organisasi ini menunjukkan bahwa program Jepang bukanlah operasi marjinal, melainkan sistem yang terintegrasi secara nasional. Universitas-universitas di Jepang tidak hanya memasok tenaga ahli tetapi juga berfungsi sebagai laboratorium satelit, menciptakan siklus umpan balik di mana eksperimen manusia di Manchuria menginformasikan riset akademis di daratan Jepang.

Dehumanisasi Sistematis: Fenomena Maruta

Elemen yang paling menentukan dari operasional Unit 731 adalah penggunaan istilah “Maruta” (log/kayu gelondongan) untuk merujuk pada subjek uji coba manusia. Penggunaan istilah ini bermula dari kedok fasilitas Pingfang sebagai pabrik penggergajian kayu, namun secara psikologis, istilah ini berfungsi untuk mereduksi manusia—termasuk warga sipil Cina, tahanan perang Soviet, Mongolia, dan Korea—menjadi sekadar objek material yang tidak memiliki hak atau jiwa.

Dehumanisasi ini bukan sekadar efek samping dari perang, melainkan strategi yang disengaja untuk meminimalkan beban moral para peneliti medis. Data menunjukkan bahwa para ilmuwan di Unit 731 seringkali memperlakukan kesehatan “Maruta” dengan sangat baik sebelum eksperimen dimulai, bukan karena empati, melainkan untuk memastikan bahwa hasil pengujian patogen mencerminkan reaksi tubuh manusia yang paling bugar, sehingga data yang dihasilkan lebih akurat secara ilmiah.

Eksperimen Penyakit Menular dan Evolusi Patogen

Tujuan utama Unit 731 adalah menciptakan epidemi buatan yang mematikan. Ribuan korban disuntik secara paksa dengan berbagai patogen, termasuk Yersinia pestis (pes), Bacillus anthracis (antraks), Vibrio cholerae (kolera), dan Salmonella typhi (tifus). Para peneliti memantau perkembangan infeksi secara real-time, mencatat gejala awal hingga fase terminal.

Dalam upaya memproduksi strain yang paling mematikan, para dokter memantau pasien untuk mencari timbulnya gejala tercepat dan perkembangan penyakit yang paling agresif. Jika seorang tahanan menunjukkan ketahanan terhadap suatu penyakit, mereka seringkali disuntik dengan patogen lain hingga mereka meninggal, atau dibunuh untuk autopsi guna memahami mekanisme pertahanan tubuh mereka. Tidak ada catatan tentang adanya korban yang selamat dari eksperimen di dalam fasilitas Pingfang; mereka yang tidak mati karena infeksi akan dieksekusi melalui suntikan mematikan atau dibedah hidup-hidup.

Vivisiksi Tanpa Anestesi: Puncak Kebrutalan Medis

Salah satu bentuk kejahatan paling ekstrem di Unit 731 adalah praktik vivisiksi atau pembedahan makhluk hidup pada manusia dalam kondisi sadar sepenuhnya. Para peneliti Jepang berpegang pada keyakinan pseudoscientific bahwa penggunaan anestesi akan mengubah parameter fisiologis tubuh, sehingga data yang diperoleh dari organ yang dibius dianggap “tidak murni” atau “tidak benar”.

Konsekuensinya, ribuan individu, termasuk wanita hamil dan anak-anak, dibedah sementara mereka masih bernapas dan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Autopsi segera dilakukan segera setelah gejala penyakit muncul untuk mengamati kerusakan organ internal sebelum proses dekomposisi dimulai. Mantan anggota unit bersaksi melihat tahanan yang organ dalamnya diangkat satu per satu sementara jantung mereka masih berdetak, sebuah prosedur yang dirancang untuk memberikan pemahaman anatomis yang tidak mungkin didapatkan dari mayat yang sudah mati.

Tipologi Eksperimen Bedah di Unit 731

Eksperimen bedah di fasilitas ini tidak terbatas pada studi penyakit, melainkan mencakup berbagai pengujian trauma fisik yang ekstrem:

  1. Amputasi dan Reattachment:Lengan atau kaki tahanan diamputasi dan terkadang dijahit kembali ke sisi tubuh yang berlawanan untuk mengamati sirkulasi darah dan proses penyembuhan jaringan dalam kondisi yang tidak wajar.
  2. Eksperimen Organ Vital:Pengangkatan sebagian paru-paru, hati, atau ginjal dilakukan untuk melihat berapa lama manusia bisa bertahan hidup dengan kapasitas organ yang berkurang.
  3. Trauma Senjata Api dan Ledakan:Tahanan digunakan sebagai target hidup untuk menguji efektivitas granat, bom, dan semburan api pada berbagai jarak dan sudut, diikuti dengan operasi segera untuk mempelajari pola luka dan penetrasi fragmen.
  4. Injeksi Cairan Asing:Korban disuntik dengan air laut, urine, atau darah hewan untuk mempelajari reaksi imunologis dan efek toksisitas cairan asing dalam sistem peredaran darah manusia.
Kategori Eksperimen Metode Pelaksanaan Tujuan Strategis
Vivisiksi Patologis Pembedahan tanpa bius pada fase infeksi aktif Studi perkembangan penyakit pada organ segar
Fisiologi Ekstrem Pemotongan anggota tubuh dan pemutusan saraf Pengembangan teknik bedah lapangan bagi tentara
Pengujian Balistik Eksposur terhadap ledakan dan proyektil Penilaian efektivitas senjata baru Jepang
Toksikologi Injeksi zat kimia dan bahan organik asing Studi tentang keracunan dan kegagalan sistemik

Radang Dingin dan Pengujian Batas Ketahanan Manusia

Bagi militer Jepang, Manchuria bukan hanya laboratorium bakteriologis, tetapi juga tempat pengujian untuk kondisi iklim ekstrem. Dr. Yoshimura Hisato, seorang fisiolog terkemuka di Unit 731, melakukan studi sistematis tentang radang dingin (frostbite) yang melibatkan penyiksaan terhadap ratusan subjek. Korban dibawa ke luar ruangan dalam suhu di bawah nol derajat Celsius dengan anggota tubuh mereka dibasahi air hingga membeku padat.

Saksi melaporkan bahwa anggota tubuh para korban akan mengeluarkan suara seperti kayu yang dipukul saat diketuk dengan tongkat setelah membeku. Yoshimura kemudian menguji berbagai metode pencairan kembali anggota tubuh tersebut, mulai dari perendaman dalam air panas, paparan api terbuka, hingga membiarkan anggota tubuh tersebut mencair secara alami untuk melihat seberapa cepat jaringan akan membusuk. Meskipun sangat biadab, data dari eksperimen ini menghasilkan kesimpulan medis bahwa cara terbaik untuk menangani radang dingin adalah perendaman dalam air dengan suhu antara 37.8∘C (100 F) dan 50∘C (122 F), bukan dengan menggosok anggota tubuh yang merupakan metode tradisional saat itu.

Eksperimen Tekanan Udara dan Gaya Gravitasi

Untuk kepentingan angkatan udara, Unit 731 menggunakan kamar vakum untuk mensimulasikan kondisi di ketinggian ekstrem. Tahanan dimasukkan ke dalam ruangan di mana tekanan udara diturunkan secara bertahap hingga tubuh mereka mulai membengkak dan pembuluh darah pecah. Dalam banyak kasus, pengujian dilanjutkan hingga organ dalam korban keluar dari rongga tubuh karena perbedaan tekanan yang ekstrem.

Eksperimen centrifuge juga dilakukan untuk mempelajari efek gaya G pada pilot. Manusia diputar dengan kecepatan tinggi hingga mereka kehilangan kesadaran atau meninggal karena perdarahan otak atau kegagalan sirkulasi, yang biasanya terjadi pada tingkat 10 hingga 15 G. Data ini dikumpulkan dengan presisi matematika untuk menentukan batas fisik manusia yang akan diinformasikan pada desain pesawat tempur Jepang.

Eksperimen Seksual dan Kekerasan Terhadap Wanita dan Anak-anak

Kebrutalan Unit 731 tidak mengenal batas usia atau jenis kelamin. Militer Jepang memiliki minat besar dalam memahami transmisi sifilis dan gonore untuk melindungi pasukan mereka. Subjek uji coba diperintahkan untuk melakukan tindakan pemerkosaan terhadap sesama tahanan di bawah pengawasan dokter untuk memastikan penularan penyakit terjadi secara terkendali. Setelah terinfeksi, korban diamati secara berkala tanpa pengobatan untuk melihat perjalanan penyakit hingga tahap akhir.

Wanita yang menjadi tahanan seringkali dihamili secara paksa, baik melalui pemerkosaan oleh staf unit maupun sesama tahanan, untuk tujuan eksperimen reproduksi. Para dokter melakukan vivisiksi pada ibu hamil untuk memeriksa efek patogen pada janin yang sedang berkembang. Bayi yang lahir di dalam unit tersebut juga tidak luput dari eksperimen; ada laporan tentang pembedahan hidup-hidup pada bayi untuk mengumpulkan data tentang perkembangan sistem imun anak-anak.

Pengembangan dan Penggunaan Senjata Biologis di Lapangan

Penelitian di dalam laboratorium Pingfang diterjemahkan menjadi aksi militer yang mematikan di wilayah Cina yang luas. Shirō Ishii mengembangkan metode penyebaran patogen melalui udara menggunakan kutu yang terinfeksi pes. Kutu-kutu ini diproduksi secara massal dan dijatuhkan dari pesawat tempur Jepang dalam “bom porselen” yang dirancang khusus untuk pecah pada ketinggian tertentu tanpa membakar isi biologisnya.

Eksperimen lapangan dilakukan di kota-kota seperti Ningbo (1940), Changde (1941), dan provinsi Zhejiang serta Hunan (1940-1942). Pesawat Jepang menjatuhkan gandum dan sereal yang terkontaminasi kutu pes, memicu wabah yang menewaskan puluhan ribu warga sipil Cina. Selain itu, sumber air dan pasokan makanan penduduk lokal seringkali dikontaminasi dengan bakteri kolera dan tifus sebagai bagian dari operasi pemusnahan massal yang terkoordinasi.

Operasi Lapangan Tahun Metode Penyebaran Estimasi Dampak
Serangan Ningbo 1940 Penjatuhan kutu pes dari udara Wabah pes lokal yang mematikan
Serangan Changde 1941 Aerosol dan kutu terinfeksi Kematian massal warga sipil
Kampanye Zhejiang 1942 Kontaminasi sumur dan makanan Epidemi kolera dan tifus luas

Laporan menunjukkan bahwa Unit 731 bertanggung jawab atas kematian antara 200.000 hingga 500.000 orang melalui penggunaan senjata biologis di lapangan, di luar ribuan yang tewas di dalam fasilitas eksperimen itu sendiri.

Runtuhnya Kekaisaran dan Operasi Penghancuran Bukti

Pada bulan Agustus 1945, saat Uni Soviet memulai invasi ke Manchuria dan kekalahan Jepang sudah dipastikan, Jenderal Ishii memberikan perintah untuk melikuidasi seluruh operasional Unit 731. Protokol penghancuran bukti dilakukan dengan efisiensi militer yang dingin: sisa tahanan yang masih hidup dieksekusi secara massal menggunakan gas beracun atau racun kimia, dan mayat mereka dikremasi. Bangunan-bangunan utama diledakkan untuk menyembunyikan desain fasilitas penelitian yang mengerikan tersebut.

Staf unit diperintahkan untuk melarikan diri kembali ke Jepang dan dilarang keras untuk membicarakan aktivitas mereka. Namun, Ishii dan beberapa asisten seniornya berhasil mengamankan salinan mikrofilm dari catatan penelitian dan ribuan slide jaringan tubuh manusia sebagai modal untuk negosiasi masa depan. Pelarian ini menandai awal dari salah satu penutupan kejahatan perang paling sistematis dalam sejarah modern.

Kesepakatan Imunitas: Kompromi Etika Amerika Serikat

Setelah Jepang menyerah, otoritas pendudukan Amerika Serikat di bawah Jenderal Douglas MacArthur dengan cepat menyadari nilai dari data Unit 731. Para ilmuwan dari Chemical Corps Angkatan Darat AS, termasuk mereka dari Fort Detrick, dikirim untuk menginterogasi Ishii dan rekan-rekannya. Mereka menemukan bahwa Jepang telah mencapai apa yang tidak berani dilakukan oleh bangsa lain: pengujian senjata biologis secara sistematis pada manusia hidup.

Amerika Serikat menghadapi dilema moral: menuntut Ishii atas kejahatan kemanusiaan atau mengamankan datanya untuk kepentingan nasional di awal Perang Dingin. Pilihan jatuh pada yang terakhir. Dalam sebuah kesepakatan rahasia yang disetujui oleh Presiden Truman, imunitas penuh diberikan kepada para pemimpin Unit 731 sebagai imbalan atas akses eksklusif ke data eksperimen manusia mereka. AS ingin memastikan bahwa data berharga ini tidak jatuh ke tangan Uni Soviet.

Laporan Sanders, Thompson, dan Fell: Validasi Ilmiah Atas Kekejaman

Interogasi AS terhadap personel Jepang menghasilkan beberapa laporan kunci yang mendokumentasikan skala program tersebut:

  1. Laporan Sanders (1945):Letnan Kolonel Murray Sanders mengonfirmasi keberadaan program senjata biologi Jepang dan merekomendasikan agar data tersebut diamankan untuk kepentingan militer AS.
  2. Laporan Thompson (1946):Arvo Thompson memberikan rincian teknis tentang fasilitas Pingfang dan jenis-jenis bom bakteriologis yang dikembangkan oleh Ishii.
  3. Laporan Fell dan Hill (1947):Norbert Fell dan Edwin Hill menegaskan bahwa data Jepang yang diperoleh melalui eksperimen manusia adalah “unik” dan memberikan informasi yang tidak mungkin didapatkan di laboratorium AS karena batasan etis.
Dokumen Tanggal Temuan Utama Rekomendasi
Memorandum Sanders September 1945 Identifikasi awal program BW Jepang Pengamanan data untuk riset masa depan AS
Laporan Thompson Maret 1946 Deskripsi fisik fasilitas Harbin Analisis sistem pengiriman patogen
Memorandum War Dept 1947 Nilai strategis data eksperimen manusia Pemberian imunitas penuh kepada Ishii

Keputusan untuk memberikan imunitas ini secara efektif merusak prinsip-prinsip yang ditegakkan dalam Pengadilan Nuremberg. Sementara dokter Nazi dihukum gantung atas eksperimen yang jauh lebih kecil skalanya, dokter Jepang dari Unit 731 diizinkan kembali ke masyarakat dan bahkan menduduki posisi tinggi di pemerintahan dan universitas pascaperang.

Persidangan Khabarovsk dan Penolakan Sebagai Propaganda

Uni Soviet, yang menangkap beberapa anggota Unit 731 di Manchuria, melakukan persidangan terbuka di Khabarovsk pada tahun 1949. Dua belas terdakwa dijatuhi hukuman kerja paksa antara dua hingga 25 tahun. Meskipun bukti yang diajukan dalam persidangan tersebut—termasuk kesaksian tentang bom pes dan vivisiksi—terbukti sangat akurat, Amerika Serikat dan sekutu Baratnya mengabaikan seluruh proses tersebut sebagai “propaganda komunis”.

Kerahasiaan yang dipaksakan oleh AS untuk melindungi kesepakatan imunitas mereka menyebabkan kejahatan Unit 731 tetap tersembunyi dari narasi sejarah publik dunia selama hampir empat dekade. Keadilan bagi ratusan ribu korban Unit 731 dikorbankan demi keunggulan intelijen dalam persaingan nuklir dan biologi selama Perang Dingin.

Warisan Tersembunyi: Pengaruh Data Unit 731 dalam Sains Modern

Salah satu perdebatan paling tajam dalam bioetika modern adalah penggunaan data yang diperoleh secara tidak etis dari Unit 731. Terdapat indikasi bahwa data Jepang tentang penyakit menular dan radang dingin telah diintegrasikan ke dalam literatur medis Barat, seringkali tanpa mencantumkan asal-usulnya yang berdarah.

Kasus Frostbite dan Penyakit Menular di Fort Detrick

Setelah perang, beberapa data Unit 731 dilaporkan digunakan dalam pengembangan program pertahanan biologis di Fort Detrick, Maryland. Data tersebut mencakup detail tentang dosis infeksi manusia yang tepat untuk berbagai patogen, informasi yang sangat penting untuk perancangan vaksin dan agen perang biologi. Kritik menyatakan bahwa pemanfaatan data ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap martabat para korban, mengubah penderitaan mereka menjadi utilitas bagi kekuatan militer baru.

Sejarawan dan ahli etika seperti Ruth Faden dan Jing-Bao Nie berpendapat bahwa keheningan mengenai Unit 731 telah merusak fondasi etika medis internasional. Hal ini menciptakan preseden di mana kepentingan keamanan nasional dapat mengesampingkan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang bersifat universal.

Dinamika Pengakuan dan Penyangkalan di Jepang dan Cina

Sikap pemerintah Jepang terhadap Unit 731 telah mengalami evolusi yang lambat dan menyakitkan. Selama beberapa dekade, Tokyo secara konsisten membantah keberadaan program tersebut. Baru pada tahun 1980-an, di bawah tekanan bukti dokumenter yang semakin banyak dan kesaksian dari mantan anggota unit yang merasa bersalah, pemerintah mulai memberikan pengakuan terbatas.

Pada tahun 2002, Pengadilan Distrik Tokyo mengeluarkan keputusan bersejarah yang mengakui bahwa Tentara Kekaisaran Jepang memang melakukan perang biologi di Cina dan menyebabkan penderitaan massal. Namun, pengadilan tersebut menolak memberikan kompensasi finansial kepada para korban atau keluarga mereka, dengan alasan bahwa kewajiban tersebut telah diselesaikan melalui perjanjian pascaperang. Hingga hari ini, Jepang belum memberikan permintaan maaf resmi yang memuaskan bagi para korban Unit 731, yang tetap menjadi hambatan utama dalam hubungan diplomatik dengan Cina.

Arsip Terbaru dan Fakta yang Tidak Terbantahkan (2025-2026)

Laporan terbaru pada bulan Desember 2025 mencatat bahwa Cina telah menerima kumpulan bukti arsip baru dari Rusia yang berkaitan dengan aktivitas Unit 731. Dokumen-dokumen ini mencakup catatan persidangan, laporan investigasi Soviet awal, dan kesaksian dari lebih dari 200 individu yang terkait dengan unit tersebut. Bukti-bukti ini menegaskan kembali bahwa perang biologi Jepang adalah kejahatan yang disponsori negara, terorganisir, dan sistematis, bukan sekadar tindakan oknum militer tertentu.

Informasi ini memberikan “rantai bukti yang saling berhubungan” yang tidak menyisakan ruang bagi penyangkalan sejarah lebih lanjut. Fakta bahwa arsip-arsip ini masih terus muncul menunjukkan betapa luas dan mendalamnya operasi rahasia ini di masa lalu.

Pelajaran untuk Masa Depan: Etika Medis dan Kewaspadaan Ilmiah

Kasus Unit 731 berfungsi sebagai peringatan keras bagi komunitas ilmiah global tentang bahayanya ilmu pengetahuan yang dilepaskan dari kompas moral. Ahli pendidikan medis menekankan pentingnya mengajarkan sejarah Unit 731 di sekolah-sekolah kedokteran untuk membangun “kewaspadaan etis” di kalangan calon profesional kesehatan. Fokus yang selama ini terlalu berat pada kejahatan Nazi di Eropa seringkali mengabaikan kekejaman serupa di Asia, menciptakan “amnesia selektif” yang dapat membahayakan integritas profesi medis di tingkat global.

Mengintegrasikan sejarah Unit 731 ke dalam kurikulum bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga tentang memahami mekanisme psikologis dan birokrasi yang memungkinkan dokter—yang seharusnya menjadi penyembuh—menjadi agen kematian. Dehumanisasi subjek, subordinasi etika di bawah kepentingan negara, dan daya tarik kemajuan ilmiah tanpa batas adalah risiko yang tetap relevan dalam era bioteknologi modern.

Kesimpulan

Unit 731 mewakili titik nadir dalam sejarah medis modern, di mana kejeniusan ilmiah digunakan untuk memfasilitasi kekejaman massal. Skala eksperimen manusia di Manchuria dan penggunaan senjata biologis terhadap warga sipil merupakan luka mendalam yang belum sepenuhnya pulih dalam ingatan kolektif Asia. Kontroversi pascaperang mengenai kesepakatan imunitas Amerika Serikat telah menambah lapisan ketidakadilan, mengaburkan kebenaran demi kepentingan strategis.

Analisis sejarah yang jujur dan berkelanjutan, didukung oleh penemuan dokumen baru seperti arsip Rusia tahun 2025, sangat penting untuk memberikan keadilan bagi para korban dan memastikan bahwa prinsip-prinsip etika medis tidak akan pernah lagi dikorbankan demi “kemajuan” atau “keamanan”. Dunia harus tetap waspada terhadap godaan untuk mereduksi manusia menjadi sekadar data, dan memastikan bahwa sains selalu beroperasi dalam kerangka martabat kemanusiaan yang mutlak. Warisan kelam Unit 731 adalah pengingat abadi bahwa kemajuan tanpa nurani hanyalah sebuah bentuk barbarisme yang canggih.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 19 = 22
Powered by MathCaptcha