Konstruksi sistem “Kredit Sosial Ekonomi” mewakili pergeseran fundamental dalam tata kelola sosiopolitik kontemporer, di mana integritas moral dan partisipasi komunitas tidak lagi dipandang sekadar sebagai kewajiban sipil yang bersifat abstrak, melainkan sebagai aset likuid yang dapat dikonversi menjadi keuntungan ekonomi nyata. Terinspirasi oleh eksperimen ambisius di Asia Timur, khususnya sistem kredit sosial di Tiongkok, kebijakan ini mengusulkan sebuah kerangka kerja di mana perilaku pro-sosial—seperti mengajar di desa terpencil, mendonasikan darah, atau merawat warga lansia—diberi nilai numerik yang dapat membuka akses terhadap privilese ekonomi, termasuk suku bunga pinjaman yang lebih rendah atau prioritas pendaftaran di lembaga pendidikan unggulan. Namun, di balik janji efisiensi dan peningkatan kepercayaan sosial, sistem ini menyimpan kompleksitas etis yang mendalam, sering kali dikritik sebagai bentuk “kapitalisme terpimpin” yang memungkinkan negara melakukan penetrasi kontrol secara masif ke dalam ruang privat warga negara, sehingga mengancam otonomi individu dan kebebasan sipil.

Genealogi dan Evolusi Filosofis Kredit Sosial di Asia Timur

Akar dari sistem kredit sosial tidak dapat dipisahkan dari tradisi tata kelola di Asia Timur yang menekankan pada harmoni sosial dan tanggung jawab kolektif. Di Tiongkok, konsep xinyong (信用) yang merujuk pada kepercayaan dan integritas, telah berevolusi dari etika Konfusianisme tradisional menjadi mekanisme pengawasan digital yang canggih. Pada awalnya, upaya ini dimulai pada 1980-an sebagai respons terhadap kebutuhan sistem pemeringkatan kredit perbankan, terutama bagi warga pedesaan dan pelaku usaha kecil yang tidak memiliki dokumentasi finansial formal. Namun, seiring dengan pesatnya digitalisasi, fokus sistem ini meluas melampaui kemampuan bayar utang (solvabilitas) menuju penilaian komprehensif atas kepatuhan hukum dan perilaku moral.

Tabel berikut menunjukkan evolusi sistem kredit sosial dari aspek perbankan murni hingga menjadi instrumen tata kelola sosial yang komprehensif.

Era/Tahap Fokus Utama Mekanisme Data Tujuan Strategis
1980-an – 1990-an Kredit Perbankan Tradisional Catatan pinjaman bank, riwayat pembayaran Membangun infrastruktur keuangan bagi usaha kecil dan petani
2000-an Manajemen Sosial Berbasis Grid Pelaporan manual, pemantauan komunitas Meningkatkan komunikasi antar birokrasi keamanan publik
2014 – 2020 Perencanaan Nasional SCS Integrasi data lintas departemen, algoritma perilaku Menciptakan masyarakat “berintegritas” dan memberantas penipuan
2021 – Sekarang Integrasi Digital & AI Real-time surveillance, facial recognition, big data Konsolidasi kekuasaan politik dan efisiensi birokrasi melalui data

Sejarah ini menunjukkan bahwa sistem kredit sosial di Asia Timur bukan sekadar inovasi teknologi tiba-tiba, melainkan merupakan kelanjutan dari ambisi negara untuk memodelkan perilaku manusia sesuai dengan kepentingan otoritas. Dalam konteks Taiwan, keberhasilan agraria melalui model pembangunan negara yang kuat juga memberikan fondasi bagi pemikiran bahwa intervensi strategis negara dalam komunitas lokal adalah kunci modernitas.

Arsitektur Teknis dan Mekanisme Konversi Modal Sosial

Sistem Kredit Sosial Ekonomi beroperasi melalui proses ekstraksi data massal yang kemudian diproses menggunakan algoritma untuk menghasilkan skor atau peringkat tertentu. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk catatan kriminal, transaksi keuangan, interaksi di media sosial, hingga perilaku harian di ruang publik yang ditangkap melalui kamera pengawas. Di beberapa wilayah percontohan seperti Meritown (Rongcheng), setiap warga dewasa diberikan skor dasar, biasanya 1.000 poin, yang akan berfluktuasi berdasarkan tindakan mereka.

Struktur Penilaian Perilaku

Penilaian dalam sistem ini sangat terperinci, mencakup hampir seluruh aspek kehidupan individu. Perilaku yang dianggap meningkatkan “kepercayaan” sosial akan menambah poin, sementara perilaku “antisosial” akan mengurangi skor tersebut secara drastis.

Kategori Perilaku Tindakan Spesifik Dampak Poin (Estimasi/Model)
Pembangunan Komunitas Mengajar di desa terpencil atau kerja sukarela +30 hingga +50 poin
Kesejahteraan Lansia Merawat anggota keluarga lanjut usia Menambah skor integritas moral
Kesehatan Publik Donor darah atau aktivitas amal Peningkatan skor secara bertahap
Ketaatan Hukum Pelanggaran lalu lintas (lampu merah/parkir liar) -5 hingga -20 poin
Integritas Digital Menyebarkan rumor atau informasi palsu online Pengurangan skor signifikan dan risiko blacklist
Kepatuhan Yudisial Gagal mematuhi perintah pengadilan (debtor) Reduksi skor instan ke level terendah (Level D)

Mekanisme ini mengubah setiap tindakan warga negara menjadi transaksi kuantitatif. Di Meritown, terdapat 389 aturan penilaian, di mana mayoritas (265 aturan) justru berfokus pada hukuman bagi perilaku buruk. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini secara inheren dirancang sebagai instrumen pendisiplinan daripada sekadar sistem penghargaan. Integrasi data ini memungkinkan negara untuk menangani apa yang disebut sebagai “asimetri informasi,” di mana otoritas dapat mengetahui secara pasti siapa individu yang dianggap patuh dan siapa yang dianggap sebagai beban bagi ketertiban sosial.

Likuiditas Sosial: Mengonversi Perilaku menjadi Keuntungan Ekonomi

Keunikan sistem ini terletak pada kemampuannya untuk mencairkan (liquidate) modal sosial menjadi manfaat material. Bagi individu yang memiliki skor tinggi (sering dikategorikan sebagai tingkat AAA atau AA), sistem menyediakan berbagai “jalur hijau” dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Hal ini menciptakan insentif yang kuat bagi warga untuk menyelaraskan perilaku mereka dengan standar yang ditetapkan negara demi mencapai mobilitas kelas yang lebih cepat.

Manfaat bagi Pemilik Skor Tinggi

Warga negara dengan “kredit sosial” yang unggul mendapatkan akses yang tidak dimiliki oleh warga biasa, yang secara efektif berfungsi sebagai eskalator bagi posisi ekonomi mereka.

  1. Akses Finansial: Individu dengan skor tinggi dapat menikmati bunga pinjaman yang lebih rendah, proses persetujuan kredit yang lebih cepat, dan batas pinjaman yang lebih tinggi. Ini sangat krusial bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang ingin memulai usaha namun tidak memiliki agunan fisik tradisional.
  2. Layanan Publik Prioritas: Keuntungan mencakup waktu tunggu yang lebih singkat di rumah sakit, akses gratis ke fasilitas kebugaran, dan diskon untuk transportasi publik atau biaya utilitas seperti listrik dan air.
  3. Kesempatan Pendidikan dan Karier: Skor tinggi memberikan prioritas dalam penerimaan di sekolah-sekolah unggulan bagi anak-anak serta peluang promosi yang lebih cepat di lingkungan kerja, terutama di sektor pemerintahan.
  4. Kemudahan Hidup Harian: Fasilitas seperti sewa sepeda atau mobil tanpa deposit, serta kemampuan untuk memesan hotel berbintang tanpa uang muka, merupakan bagian dari insentif bagi mereka yang dianggap “terpercaya” oleh sistem.

Konsekuensi bagi Pemilik Skor Rendah

Sebaliknya, individu dengan skor rendah menghadapi pembatasan yang melumpuhkan kemampuan mereka untuk berfungsi secara ekonomi dan sosial, sebuah kondisi yang sering disebut sebagai perlakuan terhadap “warga negara kelas dua”.

Jenis Pembatasan Dampak Spesifik terhadap Individu
Mobilitas Geografis Larangan membeli tiket pesawat dan kereta api cepat
Hambatan Profesional Ketidaklayakan untuk posisi manajemen atau pekerjaan pemerintah
Akses Pendidikan Anak-anak dilarang masuk ke sekolah swasta atau universitas pilihan
Sanksi Digital Kecepatan internet yang diperlambat (throttling)
Shaming Publik Foto dan identitas dipajang di layar publik atau billboard kota

Kasus pengacara Li Xiaolin menggambarkan bagaimana sistem ini dapat beroperasi secara arbitrer; ia masuk daftar hitam dan dilarang membeli tiket pesawat hanya karena pengadilan menganggap permintaan maafnya dalam kasus hukum “tidak tulus”. Konsekuensi ini menunjukkan bahwa sistem kredit sosial tidak hanya mengatur ekonomi, tetapi juga mendefinisikan batas-batas kebebasan bergerak dan hak-hak dasar manusia.

Dinamika Mobilitas Kelas dan Keadilan Sosial

Secara teoretis, sistem kredit sosial ekonomi dipromosikan sebagai alat untuk mempromosikan mobilitas kelas yang adil dengan memberikan kesempatan bagi mereka yang kaya akan modal sosial tetapi miskin modal finansial. Namun, analisis data dari program percontohan menunjukkan adanya pola yang justru memperkuat hierarki kelas yang sudah ada.

Kesenjangan Urban-Rural dalam Penilaian

Data dari kota percontohan Meritown mengungkapkan disparitas yang mencolok dalam cara poin didistribusikan di antara kelompok populasi yang berbeda. Penduduk perkotaan dan pegawai pemerintah secara sistematis memiliki lebih banyak peluang untuk meningkatkan skor mereka melalui aktivitas yang mudah diakses di kota, sementara penduduk pedesaan lebih sering menghadapi hukuman.

Kelompok Populasi Peluang Imbalan (Poin Positif) Risiko Hukuman (Poin Negatif)
Pegawai Pemerintah Sangat Tinggi (Bonus tahunan wajib) Sedang (Pengawasan internal intensif)
Penduduk Perkotaan 48% dari total peluang imbalan 12% dari total risiko hukuman
Penduduk Pedesaan 6% dari total peluang imbalan 28% dari total risiko hukuman

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa definisi “perilaku beradab” yang dianut oleh sistem cenderung mencerminkan nilai-nilai dan kemudahan akses masyarakat elit perkotaan. Sebagai contoh, melakukan kerja sukarela selama puluhan jam mungkin mudah bagi mahasiswa atau pensiunan di kota dengan transportasi yang baik, namun sangat sulit bagi buruh tani di desa terpencil yang harus bekerja fisik sepanjang hari untuk bertahan hidup. Akibatnya, sistem ini berisiko menjadi instrumen marginalisasi baru bagi kelompok masyarakat yang secara struktural sudah tidak beruntung.

Tekanan Psikologis dan Stres Sosial

Mobilitas kelas yang didorong oleh skor perilaku juga membawa beban psikologis yang signifikan. Penelitian di Tiongkok kontemporer menunjukkan bahwa individu yang berada dalam lintasan mobilitas “jatuh ke dalam kemiskinan” melaporkan tingkat stres yang paling tinggi, namun bahkan mereka yang berada di kelas menengah merasa tertekan oleh pengawasan konstan atas perilaku mereka. Ketakutan akan kehilangan poin yang dapat berdampak pada masa depan anak sekolah menciptakan kondisi “kegelisahan sosial” yang meluas, di mana warga merasa harus terus-menerus menunjukkan performa sosial demi keamanan ekonomi keluarga mereka.

Kontroversi Etis: Kapitalisme Terpimpin dan Kematian Kebebasan

Kritik utama terhadap sistem ini adalah pergeserannya menuju apa yang disebut sebagai “kapitalisme terpimpin” (guided capitalism). Dalam model ini, pasar tidak lagi berfungsi sebagai arena otonom bagi pertukaran ekonomi, melainkan menjadi perpanjangan tangan dari ideologi negara. Negara menggunakan insentif ekonomi untuk memaksa warga mengikuti norma-norma perilaku tertentu yang dianggap menguntungkan penguasa, termasuk pembungkaman terhadap perbedaan pendapat politik.

Pergeseran dari Rule of Law ke Rule of Trust

Para ahli hukum memberikan peringatan keras mengenai transisi dari supremasi hukum (Rule of Law) ke supremasi kepercayaan (Rule of Trust). Dalam sistem hukum tradisional, pelanggaran harus didefinisikan secara eksplisit, dan hukuman harus bersifat proporsional terhadap kejahatan tersebut. Sebaliknya, “Rule of Trust” mengandalkan konsep “kepercayaan” yang kabur dan arbitrer.

Konsep ini berbahaya karena beberapa alasan:

  1. Hukuman Bersama (Joint Punishment): Satu pelanggaran kecil (misalnya jaywalking atau gagal membayar denda tepat waktu) dapat memicu serangkaian sanksi di berbagai area yang tidak terkait, seperti larangan bepergian atau penurunan akses kredit.
  2. Ketidakjelasan Indikator: Banyak aturan dalam sistem kredit sosial didasarkan pada diskresi pejabat lokal, yang dapat mengubah indikator penilaian berdasarkan prioritas politik saat itu, seperti kepatuhan terhadap kebijakan nol-COVID atau kampanye kebersihan tertentu.
  3. Pelanggaran Privasi Masif: Untuk memberikan penilaian yang akurat, negara harus melakukan intrusi ke dalam data privat warga, mulai dari riwayat pencarian internet hingga interaksi sosial paling pribadi, yang sering kali dilakukan tanpa persetujuan yang bermakna dari individu.

Sistem ini dianggap mematikan kebebasan individu karena mengubah warga negara menjadi subjek yang selalu diawasi dan dinilai. Kritikus berpendapat bahwa perilaku moral yang dilakukan karena takut akan penurunan skor atau demi mengejar imbalan ekonomi bukanlah moralitas yang sejati, melainkan sekadar transaksi pasar yang oportunistik.

Dimensi Psikologis: Efek Crowding Out pada Perilaku Altruistik

Salah satu dampak sosiologis paling merusak dari pemberian insentif ekonomi untuk perilaku sosial adalah fenomena “Crowding Out Effect” atau pemusnahan motivasi intrinsik. Teori ini, yang dikembangkan oleh ekonom seperti Bruno Frey dan psikolog seperti Edward Deci, menyatakan bahwa ketika imbalan eksternal (seperti poin kredit atau uang) diperkenalkan untuk tugas yang biasanya dilakukan karena dorongan moral atau sukarela, keinginan internal individu untuk melakukan tugas tersebut justru akan menurun.

Mekanisme Pemusnahan Motivasi

Pemberian imbalan ekonomi mengubah persepsi individu terhadap aktivitas sosial dari “kewajiban moral” menjadi “pekerjaan berbayar”.

Aspek Motivasi Sebelum Insentif Ekonomi Setelah Insentif (Kredit Sosial)
Sifat Tindakan Altruistik, sukarela, tulus Transaksional, wajib demi skor, strategis
Sumber Kepuasan Kebanggaan pribadi, pengakuan sosial Keuntungan finansial, akses layanan
Dampak Jangka Panjang Partisipasi berkelanjutan karena nilai moral Partisipasi berhenti jika insentif dihapus
Persepsi Publik Dianggap sebagai “orang baik” Dianggap sebagai “pemburu poin”

Sebagai contoh, penelitian mengenai donor darah menunjukkan bahwa ketika kompensasi finansial diberikan, jumlah donor sering kali justru menurun karena individu tidak lagi merasa tindakan mereka sebagai kontribusi mulia bagi kemanusiaan, melainkan sebagai penjualan cairan tubuh. Dalam konteks kredit sosial, jika seseorang merawat lansia hanya untuk mendapatkan bunga pinjaman rendah, maka kualitas perhatian dan kasih sayang yang diberikan kemungkinan besar akan menurun karena fokus utamanya adalah memenuhi kuota poin. Hal ini menciptakan masyarakat yang secara lahiriah tampak patuh dan pro-sosial, namun secara batiniah mengalami kekosongan empati dan integritas moral yang tulus.

Perbandingan Regional: Model Sukarela vs. Model Wajib di Asia Timur

Meskipun Tiongkok sering menjadi sorotan utama, pendekatan Asia Timur terhadap insentif perilaku sebenarnya sangat bervariasi, berkisar dari sistem yang dikendalikan negara secara ketat hingga inisiatif berbasis komunitas yang bersifat sukarela.

Jepang: Sistem Bank Waktu dan Partisipasi Komunitas

Jepang menawarkan alternatif yang lebih lunak melalui mekanisme “Time-Dollar” atau bank waktu, seperti yang dioperasikan oleh Nippon Active Life Club (NALC). Dalam sistem ini, warga senior yang masih aktif membantu lansia lainnya dalam tugas-tugas rumah tangga atau perawatan kebun. Setiap jam kerja sukarela dicatat sebagai satu poin yang dapat “ditabung” dan digunakan di masa depan ketika sukarelawan tersebut membutuhkan bantuan serupa untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Perbedaan fundamentalnya adalah:

  • Kemandirian dari Negara: Sistem ini dijalankan oleh organisasi non-profit, bukan birokrasi pusat.
  • Tanpa Hukuman: Tidak ada sanksi ekonomi atau pembatasan hak bagi mereka yang memilih untuk tidak berpartisipasi.
  • Fokus pada Timbal Balik (Reciprocity): Tujuannya adalah memperkuat modal sosial komunitas, bukan pengawasan perilaku.

Korea Selatan: Integrasi dalam Pendidikan dan CSR

Di Korea Selatan, insentif untuk pembangunan komunitas lebih banyak ditemukan dalam sistem pendidikan tinggi dan program Corporate Social Responsibility (CSR). Universitas Nasional Seoul (SNU) memberikan kredit akademik formal bagi mahasiswa yang menyelesaikan kursus layanan sosial. Perusahaan teknologi seperti KT menggunakan platform video conference untuk menghubungkan pensiunan ahli dengan anak-anak dari kelompok rentan sebagai mentor. Meskipun menggunakan teknologi tinggi, inisiatif ini umumnya tidak terikat pada skor kredit tunggal yang menentukan kelayakan seseorang untuk naik pesawat atau mendapatkan pinjaman, melainkan berfungsi sebagai bagian dari pengembangan karier dan pengakuan sosial yang lebih tradisional.

Patologi Sistem: Korupsi, Manipulasi, dan Ketimpangan Baru

Salah satu janji utama sistem kredit sosial ekonomi adalah pengurangan korupsi melalui transparansi data. Namun, bukti dari lapangan menunjukkan bahwa sistem ini justru membuka peluang bagi jenis korupsi baru yang berkaitan dengan manipulasi algoritma dan data.

Korupsi dalam Input Data dan Skor

Karena sistem ini sangat mengandalkan laporan dari pejabat lokal atau komite komunitas, kekuasaan untuk menentukan “kebaikan” seseorang menjadi terpusat di tangan birokrat tingkat bawah. Hal ini sering kali disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Jenis Korupsi Mekanisme dalam Sistem Kredit Sosial Dampak terhadap Keadilan
Bribery (Suap) Membayar pejabat untuk menghapus catatan buruk atau menambah poin palsu Orang kaya dapat “membeli” integritas sosial mereka sementara orang miskin tetap terhukum.
Nepotisme Memberikan skor tinggi kepada keluarga atau rekan bisnis pejabat Memperkuat dominasi elit lokal dalam struktur sosial.
Manipulasi Tender Mengatur kriteria skor agar hanya perusahaan tertentu yang menang dalam lelang pengadaan 65% lelang publik di Tiongkok terindikasi manipulasi aturan skor demi keuntungan pihak tertentu.
Guanxi (Koneksi) Menggunakan hubungan pribadi untuk menghindari masuk ke dalam daftar hitam (blacklist) Menghancurkan prinsip kesetaraan di depan hukum.

Data menunjukkan bahwa meskipun kampanye anti-korupsi telah dilakukan secara masif, praktik suap tetap endemik. Pada tahun 2017, sekitar 26% responden di Tiongkok melaporkan masih membayar suap saat mengakses layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan—layanan yang seharusnya dikelola secara objektif melalui sistem kredit sosial. Hal ini membuktikan bahwa teknologi canggih tidak dengan sendirinya menghapus patologi birokrasi, tetapi justru dapat memberikan alat baru bagi mereka yang berkuasa untuk memeras warga atau memanipulasi pasar demi keuntungan pribadi.

Analisis Masa Depan: Dampak Sosiopolitik Jangka Panjang

Implementasi sistem kredit sosial ekonomi yang mengubah perilaku menjadi aset likuid akan membawa perubahan permanen pada struktur masyarakat. Kita sedang menyaksikan lahirnya apa yang disebut sebagai “masyarakat berperingkat” (ranked society) di mana nilai kemanusiaan seseorang ditentukan oleh angka di layar komputer.

Risiko Munculnya Fragmentasi Sosial

Salah satu efek samping yang jarang dibahas adalah kecenderungan individu untuk memutus hubungan sosial dengan mereka yang memiliki skor rendah agar tidak ikut “tercemar.” Penelitian menunjukkan bahwa jika skor kredit sosial didasarkan pada data jaringan sosial (siapa teman Anda), maka orang akan cenderung membentuk sub-jaringan yang sangat homogen dan mengeksklusi mereka yang memiliki risiko kredit tinggi. Ini berpotensi menghancurkan kohesi sosial dan menciptakan ghetto digital di mana kelompok dengan skor rendah terjebak dalam siklus kemiskinan dan isolasi sosial tanpa jalan keluar.

Legitimasi Negara melalui Teknologi

Dari sudut pandang penguasa, sistem ini adalah alat yang sangat efektif untuk mempertahankan legitimasi. Dengan memberikan penghargaan kepada mereka yang patuh dan menghukum mereka yang dianggap “tidak tertib,” negara dapat menciptakan ilusi stabilitas dan harmoni tanpa perlu melakukan reformasi politik yang fundamental. Namun, ketergantungan pada teknologi ini juga membuat negara rentan terhadap kegagalan sistem, serangan siber, atau ketidakpuasan publik jika algoritma dianggap terlalu tidak adil atau bias.

Kesimpulan: Keseimbangan antara Insentif dan Otonomi

Gagasan untuk mengubah pembangunan komunitas menjadi aset ekonomi melalui sistem “Kredit Sosial Ekonomi” adalah sebuah pedang bermata dua yang memerlukan kehati-hatian luar biasa dalam penerapannya. Di satu sisi, kemampuan sistem ini untuk memberikan akses finansial dan pendidikan kepada mereka yang berkontribusi secara sosial menawarkan potensi besar bagi mobilitas kelas yang lebih dinamis dan inklusif. Inisiatif seperti mengajar di desa terpencil atau merawat lansia memang layak mendapatkan pengakuan konkret dari negara dan pasar.

Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh eksperimen di Asia Timur, risiko yang menyertainya sangatlah besar. Transformasi perilaku sosial menjadi aset likuid tidak boleh mengorbankan privasi individu atau memberikan kontrol yang tidak terbatas kepada negara atas kehidupan pribadi warga negaranya. Sistem yang terlalu punitif dan arbitrer justru akan memperlebar kesenjangan urban-rural dan menciptakan kelas sosial baru yang didasarkan pada kepatuhan ideologis daripada produktivitas atau kebajikan murni.

Keberhasilan kebijakan semacam ini di masa depan akan bergantung pada tiga pilar utama:

  1. Transparansi dan Akuntabilitas Algoritma: Warga harus memiliki hak untuk mengetahui bagaimana skor mereka dihitung dan memiliki mekanisme banding yang independen untuk memperbaiki kesalahan data.
  2. Perlindungan Motivasi Intrinsik: Insentif ekonomi harus dirancang sedemikian rupa agar tidak memusnahkan semangat altruisme dan rasa kewajiban sipil yang tulus dalam masyarakat.
  3. Supremasi Hukum atas Kepercayaan: Sistem penghargaan sosial harus tetap tunduk pada prinsip hukum yang proporsional, di mana hukuman tidak boleh melampaui batas pelanggaran yang dilakukan dan hak dasar manusia tetap tidak dapat diganggu gugat terlepas dari skor kredit yang dimiliki.

Pada akhirnya, sistem kredit sosial ekonomi harus berfungsi sebagai alat pemberdayaan manusia, bukan sebagai instrumen “kapitalisme terpimpin” yang mengubah warga negara menjadi bidak dalam permainan data negara yang dingin. Mobilitas kelas yang sejati hanya dapat tercapai dalam masyarakat yang menghargai martabat manusia di atas sekadar angka-angka dalam basis data digital.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

41 + = 50
Powered by MathCaptcha