Kegagalan Pronatalisme Tradisional dan Krisis Demografi Abad ke-21

Dinamika kependudukan global saat ini berada pada titik nadir yang ditandai dengan penurunan tingkat kesuburan yang sistemik di hampir seluruh belahan dunia. Data menunjukkan bahwa tingkat kesuburan global—rata-rata jumlah kelahiran per perempuan—telah merosot tajam dari sekitar lima anak pada tahun 1950 menjadi hanya 2,2 pada tahun 2021. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan mencerminkan pergeseran struktural dalam cara masyarakat modern memandang reproduksi, keluarga, dan masa depan ekonomi. Pada tahun 2021, lebih dari 54% negara di dunia telah memiliki tingkat kesuburan di bawah level penggantian populasi sebesar 2,1. Di negara-negara seperti Korea Selatan, situasinya jauh lebih ekstrem dengan tingkat kesuburan di bawah 1,1 anak per perempuan, sebuah fenomena yang memicu peringatan akan “kolaps demografis” dan penyusutan angkatan kerja yang masif.

Sebagai respons, berbagai pemerintahan telah meluncurkan program insentif pro-natalis dengan biaya yang sangat besar. Korea Selatan telah menginvestasikan lebih dari $270 miliar selama dua dekade terakhir untuk kebijakan seperti subsidi perumahan, cuti parental berbayar, dan layanan penitipan anak. Namun, investasi ini secara konsisten gagal membalikkan tren penurunan. Kegagalan ini menunjukkan bahwa insentif finansial langsung sering kali tidak mampu mengatasi akar permasalahan yang jauh lebih dalam, seperti biaya hidup yang mencekik, ketidakpastian karier, dan ketimpangan gender dalam tanggung jawab domestik. Pasangan di negara maju sering kali menganggap memiliki anak sebagai risiko ekonomi yang dapat menurunkan kualitas hidup mereka secara signifikan.

Di sisi lain, dunia menghadapi ketimpangan yang mengerikan dalam kualitas hidup anak-anak yang sudah lahir. Sementara negara kaya berjuang “menyogok” warga mereka untuk bereproduksi, jutaan anak di wilayah Global South hidup dalam kemiskinan ekstrem, kelaparan, dan ketiadaan akses pendidikan. Kontradiksi global ini—di mana sumber daya dihabiskan untuk memicu kelahiran yang tidak diinginkan di satu sisi, sementara nyawa anak-anak yang sudah ada diabaikan di sisi lain—menjadi landasan bagi usulan kebijakan Moratorium Reproduksi dan Subsidi Anak Global. Kebijakan ini mengusulkan pengalihan fokus secara radikal: alih-alih mengejar pertumbuhan populasi secara kuantitatif, dunia harus memprioritaskan peningkatan kualitas hidup populasi yang sudah ada melalui redistribusi kekayaan global yang masif.

Tabel 1: Analisis Biaya dan Efektivitas Kebijakan Pro-Natalis di Berbagai Negara

Negara Total Investasi / Jenis Insentif Dampak Terhadap Tingkat Kesuburan Hambatan Utama yang Teridentifikasi
Korea Selatan $270 Miliar (Subsidi perumahan, tunjangan tunai). Tetap di bawah 1,1 (Terendah di dunia). Biaya perumahan tinggi, tekanan kerja ekstrem, ketimpangan gender.
Taiwan $3 Miliar (Cuti parental 80% gaji, bonus tunai). Gagal membalikkan tren penurunan. Kurangnya dukungan struktural jangka panjang di luar uang tunai.
Hongaria Pembebasan pajak seumur hidup untuk ibu dengan 4+ anak. Peningkatan marjinal, masih di bawah level penggantian. Keterbatasan pada kelompok demografi tertentu.
Polandia Zero Income Tax bagi orang tua dengan 2+ anak. Belum menunjukkan pembalikan tren jangka panjang. Inflasi dan biaya hidup yang terus meningkat.
Singapura Baby Bonus dan akun tabungan pembangunan anak. Rendah; biaya membesarkan anak tetap menjadi beban utama. Budaya kerja yang tidak fleksibel dan biaya hidup tinggi.

Analisis terhadap data di atas menyiratkan bahwa model insentif pro-natalis saat ini menderita masalah “diminishing returns”. Uang tunai saja tidak cukup untuk mengubah keputusan reproduksi ketika biaya kesempatan (opportunity cost) dan risiko lingkungan dianggap terlalu tinggi. Oleh karena itu, kebijakan moratorium reproduksi menawarkan alternatif dengan memberikan insentif bagi mereka yang memilih untuk tidak menambah beban populasi, yang pada gilirannya memberikan ruang fiskal bagi investasi kualitas hidup global.

Sains Mitigasi Iklim: Logika di Balik Moratorium Reproduksi

Landasan paling provokatif dari moratorium reproduksi adalah keterkaitannya dengan sains iklim. Di tengah krisis pemanasan global, pertumbuhan populasi sering kali diabaikan dalam negosiasi iklim karena sensitivitas politiknya. Namun, data saintifik memberikan gambaran yang tak terbantahkan mengenai jejak karbon dari prokreasi manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Wynes dan Nicholas (2017) menyimpulkan bahwa memiliki satu anak lebih sedikit (one fewer child) merupakan tindakan individu yang paling berdampak pada pengurangan emisi karbon di negara maju.

Penelitian tersebut mengalkulasi bahwa rata-rata pengurangan emisi dari tindakan ini mencapai 58,6 ton ekuivalen CO2 (tCO2e) per tahun. Angka ini dihitung berdasarkan akumulasi emisi dari anak tersebut dan seluruh keturunannya di masa depan, yang kemudian dibebankan secara proporsional kepada orang tua. Sebagai perbandingan, tindakan ramah lingkungan lainnya yang sering dipromosikan pemerintah, seperti daur ulang atau penggantian bola lampu, memiliki dampak yang hampir tidak berarti jika dibandingkan dengan keputusan reproduksi.

Tabel 2: Perbandingan Dampak Mitigasi Emisi Karbon Individu (Negara Maju)

Tindakan Mitigasi Penghematan CO2e (Ton/Tahun) Rasio Efektivitas Terhadap Daur Ulang
Memiliki Satu Anak Lebih Sedikit 58,6. 279x lebih efektif.
Hidup Bebas Kendaraan Bermotor 2,4. 11x lebih efektif.
Menghindari Satu Penerbangan Transatlantik (PP) 1,6. 8x lebih efektif.
Diet Berbasis Tanaman (Vegetarian/Vegan) 0,8. 4x lebih efektif.
Mengganti Mobil Listrik ke Tanpa Mobil 1,15. 5x lebih efektif.
Daur Ulang Komprehensif 0,21. Dasar Perbandingan (1x)
Mengganti Bola Lampu ke LED <0,1. <0,5x

Implikasi dari data ini sangat mendalam. Di negara-negara dengan emisi per kapita tinggi seperti Amerika Serikat atau Australia (rata-rata 16 ton per orang), satu kelahiran tambahan membawa beban ekologis yang sangat berat bagi atmosfer bumi. Sebaliknya, di banyak negara miskin, emisi per kapita sangat rendah, namun mereka justru menanggung dampak terburuk dari perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi negara kaya.

Moratorium reproduksi, dalam konteks ini, bukan sekadar kebijakan kependudukan, melainkan instrumen kompensasi iklim. Dengan memberikan insentif finansial kepada pasangan di negara beremisi tinggi untuk tetap tidak memiliki anak, dunia secara efektif “membeli” pengurangan emisi yang jauh lebih besar dan lebih cepat daripada investasi teknologi hijau mana pun saat ini. Dana yang dihemat dari subsidi pro-natalis yang gagal kemudian dialihkan untuk membantu anak-anak di wilayah termiskin beradaptasi dengan dampak iklim, menciptakan siklus keadilan prokreasi yang manusiawi secara ekonomi.

Argumen filosofis yang mendukung pandangan ini, seperti yang dikemukakan oleh Sarah Conly, menyatakan bahwa hak untuk bereproduksi tidak boleh dianggap sebagai hak mutlak yang mengabaikan kepentingan masyarakat luas dan keberlanjutan planet. Conly berpendapat bahwa ketika populasi manusia sudah melampaui kapasitas daya dukung lingkungan, kewajiban kita untuk tidak membahayakan orang lain (non-harm principle) harus diutamakan. Dalam perspektif ini, moratorium reproduksi sukarela yang didukung insentif finansial dipandang sebagai jalan tengah yang menghormati otonomi individu sekaligus memenuhi tanggung jawab ekologis global.

Mekanisme Subsidi “Anak Global”: Jembatan Ketimpangan Utara-Selatan

Inti dari usulan ini adalah pengalihan modal secara masif ke arah subsidi kehidupan bagi anak-anak di wilayah termiskin. Saat ini, dunia menyaksikan apa yang disebut sebagai “apartheid peluang” bagi anak-anak. Selama pandemi COVID-19, terlihat jelas betapa tidak adilnya distribusi sumber daya internasional: stimulus ekonomi di negara kaya dialokasikan ribuan dolar per anak, sementara bantuan multilateral untuk anak-anak di negara berpenghasilan rendah hanya mencapai sepersekian kecilnya.

Data dari kampanye “Justice for Africa” menunjukkan bahwa sejak 2015, kekayaan global tumbuh sebesar $12 triliun, namun di periode yang sama, jumlah anak yang putus sekolah di Afrika meningkat sebanyak 10 juta, dan 16 juta lebih anak terjerumus ke dalam pekerja anak. Ketimpangan ini diperparah oleh sistem keuangan global yang sering kali mendiskriminasi negara-negara miskin melalui beban utang dan sistem pajak internasional yang tidak adil.

Kebutuhan Dasar dan Intervensi Kualitas Hidup

Subsidi “Anak Global” akan dialokasikan untuk mengatasi masalah-masalah fundamental yang menghambat perkembangan anak di wilayah termiskin:

  1. Kesehatan dan Nutrisi: Di wilayah seperti Madagaskar, hampir 48,5% populasi mengalami kekurangan gizi, yang secara langsung berdampak pada tingkat stunting anak. Perubahan iklim memperburuk situasi ini melalui kekeringan ekstrem yang menghancurkan ketahanan pangan. Subsidi akan digunakan untuk menyediakan makanan pendamping ASI (MPASI) yang adekuat, air bersih, dan pengobatan penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC), di mana jutaan anak balita terpapar setiap tahunnya.
  2. Pendidikan: Diperkirakan 9,7 juta anak berisiko putus sekolah akibat krisis ekonomi dan pandemi. Dana dari moratorium akan dialokasikan untuk memastikan sekolah tetap terbuka, guru tetap dibayar, dan program perlindungan sosial diperluas agar anak-anak marginal dapat kembali belajar.
  3. Penghapusan Pekerja Anak: Peningkatan jumlah pekerja anak merupakan konsekuensi langsung dari kemiskinan ekstrem keluarga. Dengan memberikan manfaat tunai langsung (Global Child Benefit), beban ekonomi keluarga berkurang sehingga anak-anak dapat ditarik dari rantai pasok industri dan dikembalikan ke lingkungan pendidikan.

Tabel 3: Kesenjangan Sumber Daya Anak Global

Indikator Wilayah Berpenghasilan Tinggi Wilayah Berpenghasilan Rendah (Afrika/Asia Sebagian) Implikasi Kebijakan Subsidi
Alokasi Bantuan COVID-19 (per anak) ~$2.000. ~$60. Perlu penyamarataan melalui dana perlindungan global.
Akses Pendidikan (Risiko Drop-out) Sangat Rendah. Tinggi (10 Juta+ tambahan sejak 2015). Subsidi untuk memastikan sekolah gratis dan inklusif.
Prevalensi Pekerja Anak Minimal. Meningkat (16 Juta+ tambahan sejak 2015). Bantuan tunai untuk menggantikan pendapatan dari pekerja anak.
Stunting dan Malnutrisi Sangat Rendah. Sangat Tinggi (48,5% kurang gizi di beberapa area). Investasi pada nutrisi awal kehidupan (ECED).

Investasi pada pengembangan anak usia dini (Early Childhood Development/ECD) di Global South bukan hanya masalah moral, melainkan strategi ekonomi yang paling efisien. Setiap dolar yang diinvestasikan pada nutrisi dan pendidikan anak di masa kritis memberikan imbal balik jangka panjang bagi stabilitas ekonomi global dan pengurangan konflik. Subsidi “Anak Global” mengubah paradigma bantuan dari “belas kasihan” menjadi “hak fundamental” yang didanai secara sistemis melalui penghematan dari moratorium reproduksi di wilayah kaya.

Debat Etika: Antara Eugenika Baru dan Otonomi Reproduksi

Aspek yang paling kontroversial dari kebijakan ini adalah tuduhan bahwa ia merupakan bentuk “eugenika baru” (new eugenics). Secara historis, eugenika adalah gerakan yang berupaya “memperbaiki” ras manusia melalui pembiakan selektif dan sterilisasi paksa terhadap kelompok yang dianggap “inferior”. Kritik terhadap moratorium reproduksi berpendapat bahwa penggunaan insentif finansial untuk menekan angka kelahiran dapat secara tidak proporsional menargetkan kelompok miskin atau minoritas yang secara ekonomi lebih rentan terhadap “suapan” uang tunai.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh preseden sejarah di mana kebijakan kependudukan sering kali berujung pada pelanggaran hak asasi manusia, seperti sterilisasi paksa di India atau kebijakan satu anak di Tiongkok. Kritikus berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mencampuri ranah pribadi prokreasi, dan bahwa setiap individu harus memiliki kebebasan penuh untuk memutuskan ukuran keluarganya tanpa tekanan ekonomi.

Namun, pendukung moratorium reproduksi dan gerakan “Fair Start” menolak label eugenika tersebut. Mereka berpendapat bahwa model tradisional—di mana anak-anak dilahirkan ke dalam kemiskinan ekstrem tanpa jaminan masa depan—adalah bentuk ketidakadilan yang sebenarnya. Fokus dialihkan dari “hak orang tua untuk memproduksi anak sebanyak mungkin” menjadi “hak setiap anak untuk lahir dengan awal yang adil (fair start)”.

Analisis etika kontemporer juga menyoroti bahwa dalam sistem ekonomi saat ini, kebebasan reproduksi sebenarnya sudah terdistorsi oleh faktor ekonomi. Banyak orang di negara maju ingin memiliki anak tetapi tidak mampu secara finansial, sementara di negara miskin, banyak yang memiliki anak karena kurangnya akses ke kontrasepsi dan jaring pengaman sosial. Moratorium reproduksi yang disertai subsidi global bertujuan untuk menyelaraskan kembali kondisi ini: memberikan insentif bagi mereka yang bersedia menunda atau meniadakan reproduksi demi iklim, sembari memberikan kekuatan ekonomi bagi keluarga miskin untuk mengasuh anak-anak mereka dengan layak.

Selain itu, terdapat perdebatan mengenai nilai-nilai agama dan budaya tradisional. Di banyak masyarakat, memiliki banyak anak dianggap sebagai kewajiban spiritual atau jaminan sosial di hari tua. Kebijakan moratorium sering kali dipandang sebagai produk pemikiran Barat yang sekuler dan individualis yang tidak memahami realitas sosiokultural di belahan dunia lain. Untuk mengatasi hal ini, kebijakan tersebut harus dirancang sebagai program sukarela yang berbasis pada hak, bukan pemaksaan, dan harus disertai dengan pembangunan infrastruktur sosial (seperti dana pensiun universal) sehingga anak-anak tidak lagi menjadi satu-satunya “asuransi” bagi hari tua orang tua mereka.

Arsitektur Keuangan Internasional dan Mekanisme Pendanaan

Keberhasilan kebijakan Moratorium Reproduksi dan Subsidi Anak Global sangat bergantung pada reformasi arsitektur keuangan global. Sumber daya finansial yang dibutuhkan untuk memberikan subsidi global yang “masif” tidak dapat hanya mengandalkan anggaran bantuan luar negeri (ODA) yang selama ini sering tidak memenuhi target. Dibutuhkan mekanisme pendanaan yang lebih otomatis, transparan, dan mengikat secara hukum.

Beberapa proposal kunci untuk mendanai inisiatif ini meliputi:

  1. Dana Perlindungan Sosial Global (Global Social Protection Fund): Pembentukan dana internasional yang khusus dialokasikan untuk mendanai “lantai perlindungan sosial” bagi anak-anak di negara-negara LDC (Least Developed Countries). Dana ini akan didukung oleh pengalihan subsidi pro-natalis dari negara-negara maju yang berpartisipasi dalam moratorium reproduksi.
  2. Reformasi Hak Menarik Khusus (SDR) IMF: Penggunaan instrumen likuiditas global seperti SDR untuk memberikan dukungan langsung bagi program kesejahteraan anak di Global South. Saat ini, distribusi SDR sangat bias ke negara kaya; reformasi diperlukan agar dana tersebut mengalir secara adil ke wilayah dengan populasi muda yang tinggi.
  3. Pajak Progresif Global dan Pajak Barang Mewah: Penerapan sistem pajak internasional untuk perusahaan multinasional dan barang mewah global guna menambah kas dana subsidi anak. Hal ini bertujuan untuk menangkap kekayaan yang sering kali lolos dari yurisdiksi nasional melalui penghindaran pajak.
  4. Penghapusan Utang (Debt Cancellation): Banyak negara miskin menghabiskan lebih banyak anggaran untuk membayar bunga utang luar negeri daripada untuk pendidikan atau kesehatan anak mereka. Penghapusan utang bagi negara-negara termiskin akan memberikan ruang fiskal yang diperlukan untuk mengimplementasikan subsidi anak secara domestik.

Tabel 4: Potensi Mekanisme Pendanaan Global

Instrumen Keuangan Sumber Dana Target Penggunaan Status Saat Ini / Hambatan
SDR IMF (Special Drawing Rights) Cadangan internasional IMF. Perlindungan sosial darurat dan jangka panjang. Sangat timpang ($2.000 vs $60 per anak).
Global Social Protection Fund Pajak karbon & pengalihan subsidi pro-natalis. Manfaat anak universal (Global Child Benefit). Masih dalam tahap usulan kebijakan PBB.
Pajak Barang Mewah Transaksi barang mewah internasional. Pendanaan ECD dan nutrisi anak. Membutuhkan koordinasi pajak global yang rumit.
Debt-for-Children Swaps Restrukturisasi utang bilateral/multilateral. Peningkatan anggaran pendidikan & kesehatan lokal. Terbatas pada beberapa kasus percontohan.

Pelibatan Bank Pembangunan Multilateral (MDBs) juga krusial. World Bank melalui proyek-proyek seperti Early Learning Partnership (ELP) telah mulai menyalurkan dana untuk pengasuhan anak, namun skalanya masih jauh dari kebutuhan global. MDBs perlu mereorientasi fokus mereka untuk memprioritaskan layanan yang bermanfaat bagi “barang publik global” (global public goods), termasuk populasi masa depan dan keberlanjutan iklim.

Transformasi Sosiokultural dan Masa Depan Populasi

Mengadopsi moratorium reproduksi menuntut perubahan besar dalam norma sosiokultural. Selama berabad-abad, pertumbuhan populasi dipandang sebagai indikator kekuatan nasional dan kemakmuran ekonomi. Namun, di era “Antroposen”, paradigma ini harus diubah menjadi “pertumbuhan kualitas di atas kuantitas”.

Bagi individu di negara maju, memilih untuk tidak memiliki anak biologis dapat difasilitasi melalui promosi alternatif pembentukan keluarga, seperti adopsi. Namun, adopsi sendiri harus direformasi dari sekadar “solusi bagi pasangan tanpa anak” menjadi tindakan perlindungan hak anak yang berpusat pada kepentingan terbaik anak tersebut. Dengan menempatkan kesejahteraan anak-anak yang sudah lahir sebagai prioritas utama, masyarakat dapat menavigasi kompleksitas budaya dan hukum seputar pengasuhan anak.

Selain itu, peran laki-laki dalam tanggung jawab domestik harus ditingkatkan. Banyak kasus ketidakmauan perempuan untuk memiliki anak di negara maju berakar pada keengganan laki-laki untuk berbagi beban pengasuhan secara adil. Transformasi maskulinitas dan kebijakan tempat kerja yang fleksibel adalah prasyarat agar kebijakan kependudukan apa pun—baik yang membatasi maupun yang mendukung kelahiran—dapat berjalan secara manusiawi.

Di Global South, fokus utamanya adalah pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan akses kesehatan. Sejarah menunjukkan bahwa cara paling efektif untuk menurunkan tingkat kelahiran secara sukarela dan meningkatkan kualitas hidup adalah melalui pendidikan perempuan dan penurunan angka kematian bayi. Ketika orang tua yakin bahwa anak-anak mereka akan bertahan hidup dan sukses berkat subsidi “Anak Global”, dorongan untuk memiliki banyak anak sebagai “asuransi” akan berkurang dengan sendirinya.

Implikasi Geopolitik dan Keamanan Global

Kebijakan ini juga memiliki dimensi keamanan global. Ketimpangan ekstrem dan ketiadaan peluang bagi populasi muda di Global South sering kali menjadi pemicu migrasi massal, ketidakstabilan politik, dan radikalisme. Dengan memberikan masa depan yang layak bagi anak-anak di wilayah asalnya melalui subsidi global, dunia secara tidak langsung berinvestasi dalam stabilitas geopolitik jangka panjang.

Namun, negara-negara maju mungkin akan merasa terancam oleh penyusutan populasi domestik mereka, terutama terkait dengan beban dana pensiun dan daya saing ekonomi. Solusi jangka panjangnya bukan dengan memaksa kelahiran baru, melainkan melalui otomatisasi industri, peningkatan produktivitas, dan sistem imigrasi yang dikelola dengan baik dari wilayah yang masih memiliki surplus populasi. Moratorium reproduksi di satu sisi dan subsidi anak di sisi lain menciptakan sistem keseimbangan global di mana sumber daya dialokasikan ke tempat yang paling membutuhkannya.

Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Moratorium Reproduksi dan Subsidi Anak Global menawarkan visi yang radikal namun sangat koheren untuk menjawab tantangan ganda krisis iklim dan ketimpangan ekonomi global. Melalui pengalihan dana dari insentif pro-natalis yang tidak efektif ke arah perlindungan sosial anak universal, kebijakan ini mewujudkan prinsip “keadilan intergenerasi” yang nyata.

Berikut adalah beberapa rekomendasi strategis untuk implementasi kebijakan ini:

  1. Legitimasi Saintifik dan Transparansi Data: Komunitas internasional harus secara jujur mengakui data mengenai dampak ekologis prokreasi dan kegagalan kebijakan pro-natalis saat ini. Literasi mengenai jejak karbon reproduksi perlu ditingkatkan dalam kurikulum pendidikan tanpa unsur paksaan.
  2. Pembentukan Otoritas Dana Global: Diperlukan badan di bawah naungan PBB (seperti melalui sinergi ILO, UNICEF, dan IMF) untuk mengelola Dana Perlindungan Sosial Global guna memastikan redistribusi subsidi dilakukan secara transparan dan bebas korupsi.
  3. Perlindungan Hak Asasi dan Otonomi: Kebijakan ini harus tetap berbasis insentif sukarela. Segala bentuk pemaksaan medis atau tekanan yang bersifat diskriminatif harus dilarang keras untuk menghindari pengulangan tragedi eugenika masa lalu.
  4. Fokus pada Kualitas Hidup (Human Development Index): Indikator keberhasilan nasional harus bergeser dari pertumbuhan PDB atau jumlah penduduk ke indikator kesejahteraan anak, tingkat nutrisi, dan kualitas lingkungan.
  5. Reformasi Struktural Ekonomi: Subsidi harus dibarengi dengan reformasi harga perumahan, fleksibilitas kerja, dan sistem pensiun yang tidak bergantung pada pertumbuhan populasi tanpa henti.

Pada akhirnya, moratorium reproduksi bukanlah tentang “mengakhiri kemanusiaan”, melainkan tentang “menyelamatkan kemanusiaan” dengan cara yang paling bertanggung jawab secara ekologis dan paling adil secara ekonomi. Dengan memberikan nilai lebih pada nyawa yang sudah ada, kita menghormati martabat setiap anak dan memastikan bahwa planet ini tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang. Pengalihan fokus dari kuantitas ke kualitas adalah satu-satunya jalan menuju keberlanjutan di dunia yang semakin rapuh ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 2 =
Powered by MathCaptcha