Dunia internasional terbangun dalam keadaan terkejut pada akhir Januari 2026 ketika struktur kekuasaan militer Tiongkok, yang biasanya tertutup rapat, menunjukkan tanda-tanda keretakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berawal dari hilangnya kursi secara mencolok dalam sesi studi tingkat tinggi pada 20 Januari 2026, rumor mengenai kejatuhan sosok-sosok paling berpengaruh di Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mulai menyebar dengan cepat dari Beijing ke pusat-pusat intelijen global. Empat hari kemudian, pada 24 Januari 2026, pemerintah Tiongkok melalui kantor berita Xinhua mengonfirmasi apa yang telah lama menjadi ketakutan terbesar para pengamat stabilitas regional: Jenderal Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) yang paling senior dan sekutu lama Xi Jinping, secara resmi berada di bawah penyelidikan atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”. Bersamanya, Jenderal Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan yang mengawasi perencanaan tempur, juga dijatuhkan dari posisinya.

Peristiwa ini bukan sekadar pergantian personel rutin; ini adalah dekapitasi terhadap kepemimpinan operasional militer terbesar di dunia di tengah meningkatnya ketegangan global. Zhang Youxia, seorang veteran perang tahun 1979 yang dihormati dan memiliki hubungan keluarga yang dalam dengan Xi Jinping, selama ini dianggap sebagai “tembok pelindung” terakhir bagi kepemimpinan Xi di dalam militer. Kejatuhannya menandai berakhirnya era “princeling” di militer dan transisi penuh menuju apa yang oleh para analis disebut sebagai “Maximum Xi,” sebuah kondisi di mana otoritas militer dikonsentrasikan sepenuhnya di tangan satu orang, tanpa penyeimbang atau penasihat independen. Laporan ini akan menginvestigasi apakah pembersihan ini merupakan upaya tulus untuk memberantas korupsi yang melumpuhkan kemampuan nuklir Tiongkok, ataukah sebuah manuver politik untuk menggagalkan upaya kudeta di tengah ketidakpercayaan yang mendalam di jantung Partai Komunis China (CCP).

Kronologi Krisis Januari 2026: Dari Absensi hingga Penangkapan

Krisis ini mulai terungkap ke publik melalui serangkaian anomali protokol politik yang sangat terperinci. Pada tanggal 20 Januari 2026, saat sesi studi nasional untuk pejabat provinsi dan kementerian, ketidakhadiran Zhang Youxia menjadi sinyal pertama bagi para analis intelijen bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di Zhongnanhai. Meskipun laporan resmi awalnya mencoba menutupi absensi tersebut dengan menyatakan bahwa kedua Wakil Ketua CMC hadir, bukti rekaman visual menunjukkan sebaliknya: kursi Zhang Youxia kosong.

Penyelidikan mendalam menunjukkan bahwa Jenderal Zhang sebenarnya telah ditangkap lebih awal, tepatnya pada 19 Januari 2026. Pengumuman publik yang menyusul pada hari Sabtu, 24 Januari, dilakukan segera setelah pengarahan internal tertutup bagi perwira tinggi militer, di mana tuduhan terhadap Zhang dan Liu Zhenli dibacakan. Narasi resmi yang diterbitkan oleh PLA Daily menggunakan bahasa yang sangat keras, menuduh para jenderal tersebut telah “menginjak-injak dan merusak” sistem tanggung jawab ketua CMC, sebuah kode untuk ketidakpatuhan terhadap perintah langsung Xi Jinping.

Tabel 1: Kronologi Kejatuhan Kepemimpinan Militer Tiongkok (Januari 2026)

Tanggal Peristiwa Dampak Langsung
16 Januari 2026 Pertemuan Xi Jinping dengan PM Kanada Mark Carney Fokus pada stabilitas domestik sebelum pengumuman besar.
18 Januari 2026 Rumor konfrontasi fisik di hotel elit pemimpin CCP Spekulasi mengenai upaya kudeta yang gagal.
19 Januari 2026 Penangkapan Jenderal Zhang Youxia Dekapitasi kepemimpinan senior CMC.
20 Januari 2026 Absensi Zhang di Sesi Studi Nasional Sinyal publik pertama mengenai krisis internal.
23 Januari 2026 Pengarahan tertutup untuk perwira senior Penyebaran detail mengenai tuduhan spionase nuklir.
24 Januari 2026 Pengumuman Resmi Investigasi Konfirmasi kejatuhan Zhang Youxia dan Liu Zhenli.

Investigasi ini telah mengosongkan hampir seluruh kursi di Komisi Militer Pusat yang biasanya beranggotakan tujuh orang. Hingga akhir Januari 2026, hanya tersisa dua orang: Xi Jinping sendiri dan Jenderal Zhang Shengmin, yang kebetulan adalah kepala badan anti-korupsi militer. Struktur ini menciptakan kekosongan kepemimpinan yang berbahaya, mengingat Zhang Youxia dan Liu Zhenli adalah satu-satunya perwira tinggi tersisa dengan pengalaman tempur nyata dari konflik perbatasan dengan Vietnam di masa lalu.

Skandal Nuklir dan Tuduhan Spionase CIA

Fokus utama dari penyelidikan terhadap Zhang Youxia berpusat pada kegagalan operasional dan korupsi sistemik dalam Pasukan Roket (Rocket Force) dan pengadaan perangkat keras militer. Tuduhan yang paling mengejutkan, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal, adalah bahwa Zhang telah membocorkan “data teknis inti” mengenai program senjata nuklir Tiongkok kepada Amerika Serikat. Tuduhan ini, jika benar, akan menjadi pelanggaran keamanan paling signifikan dalam sejarah Tiongkok modern.

Penyelidikan ini memiliki keterkaitan langsung dengan kejatuhan Gu Jun, mantan manajer umum China National Nuclear Corp (CNNC), sebuah BUMN raksasa yang mengelola program nuklir militer dan sipil. Laporan internal menunjukkan bahwa bukti yang memberatkan Zhang Youxia muncul dari interogasi terhadap Gu Jun, yang diduga mengungkap jaringan di mana rahasia nuklir diperdagangkan untuk keuntungan pribadi atau perlindungan politik. Konteks teknis dari skandal ini berakar pada temuan tahun 2023 bahwa beberapa rudal balistik Tiongkok ditemukan tidak layak pakai, dengan laporan yang mengindikasikan penggunaan air alih-alih bahan bakar dan cacat pada tutup silo rudal di Xinjiang. Sebagai mantan kepala Departemen Pengembangan Peralatan (EDD) yang mengawasi pengadaan sejak 2012, Zhang Youxia dianggap bertanggung jawab penuh atas “kerusakan pada pembangunan kemampuan tempur” ini.

Analisis Risiko Kesiapan Nuklir Tiongkok

Tuduhan kebocoran rahasia nuklir menciptakan keraguan mendalam mengenai efektivitas pencegahan nuklir Tiongkok. Jika CIA memang memiliki akses ke data teknis rudal Dongfeng (DF), maka keunggulan strategis Tiongkok di Pasifik dapat dinetralkan oleh sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. Dari perspektif Xi Jinping, korupsi di Pasukan Roket bukan sekadar pencurian uang negara, melainkan tindakan pengkhianatan yang secara langsung melemahkan posisinya dalam negosiasi global dan rencana reunifikasi Taiwan.

Rumor mengenai CIA yang merekrut video berbahasa Mandarin untuk infiltrasi ke dalam PLA juga menambah ketegangan dalam penyelidikan ini. Meskipun para analis seperti Neil Thomas menyatakan skeptisisme terhadap kemungkinan seorang jenderal seperti Zhang menjual rahasia negara di usia 75 tahun, atmosfer paranoia di Beijing telah membuat tuduhan spionase menjadi alat politik yang sangat efektif untuk membungkam oposisi internal.

Faksionalisme Militer: Kehancuran Geng Shaanxi dan Fujian

Untuk memahami dinamika pembersihan ini, sangat penting untuk melihat peta faksi di dalam PLA. Hingga tahun 2025, militer Tiongkok didominasi oleh dua kelompok kepentingan utama yang memperebutkan anggaran dan pengaruh strategis: “Geng Shaanxi” yang dipimpin oleh Zhang Youxia dan “Geng Fujian” yang dipimpin oleh He Weidong.

Geng Shaanxi, yang memiliki akar sejarah yang kuat melalui hubungan keluarga dengan Xi Jinping (ayah Zhang dan ayah Xi adalah kamerad selama Perang Saudara), mewakili kepentingan Angkatan Darat tradisional dan industri pertahanan lama. Sementara itu, Geng Fujian adalah kelompok yang lebih muda yang naik melalui Tentara Grup ke-31 di Provinsi Fujian, tempat Xi menghabiskan bertahun-tahun karir politiknya. Kelompok Fujian ini sangat berfokus pada modernisasi angkatan laut dan rencana invasi Taiwan.

Tabel 2: Perbandingan Faksi Militer dan Status Pasca-Pembersihan 2026

Atribut Geng Shaanxi (Shaanxi Gang) Geng Fujian (Fujian Gang)
Pemimpin Utama Zhang Youxia, Zhang Shengmin He Weidong, Miao Hua
Basis Kekuatan Angkatan Darat, Industri Peralatan Angkatan Laut, Komando Teater Timur
Fokus Strategis Pertahanan Kontinental, Nuklir Amfibi, Taiwan, Laut China Selatan
Hubungan dengan Xi Aliansi Sejarah/Keluarga Aliansi Karir/Provinsi
Nasib Akhir Dekapitasi (Januari 2026) Dekapitasi (Oktober 2025)

Pembersihan besar-besaran terhadap Geng Fujian pada Oktober 2025, yang melibatkan pengusiran sembilan jenderal termasuk He Weidong dan Miao Hua, awalnya memberikan kesan bahwa Zhang Youxia telah memenangkan perjuangan faksi tersebut. Muncul spekulasi bahwa Zhang mungkin telah memfasilitasi kejatuhan faksi Fujian untuk melindungi dominasi Angkatan Darat atas anggaran militer yang menyusut. Namun, kejatuhan Zhang sendiri hanya berselang beberapa bulan kemudian menunjukkan bahwa Xi Jinping sedang melakukan strategi “pembersihan dua arah.” Dengan menyingkirkan pemimpin dari kedua faksi, Xi memastikan bahwa tidak ada jaringan patronase yang tersisa di dalam PLA yang dapat menantang perintahnya.

Isu Kudeta: Langkah Preventif atau Respons Terhadap Ancaman Nyata?

Pertanyaan sentral yang menghantui Beijing adalah apakah pemecatan Zhang Youxia merupakan respons terhadap upaya kudeta yang nyata atau sekadar langkah preventif terhadap potensi ketidaksetiaan. Muncul laporan dari sumber-sumber pembangkang dan media sosial mengenai operasi penangkapan dramatis di sebuah hotel pemimpin CCP di pinggiran Beijing sekitar tanggal 18 Januari 2026. Klaim ini menyebutkan adanya baku tembak antara pasukan keamanan kepresidenan (Garda Pusat) dan unit militer yang setia kepada faksi Zhang, yang mengakibatkan korban jiwa di kedua belah pihak.

Walaupun klaim kekerasan fisik ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh intelijen Barat, dasar politik untuk ketegangan ini sangat nyata. Zhang Youxia, dengan otoritasnya atas 15 departemen CMC dan kesetiaan mendalam dari jajaran perwira menengah yang ia promosikan selama bertahun-tahun, secara teknis adalah satu-satunya orang di Tiongkok yang memiliki kekuatan militer untuk menantang Xi secara langsung. Editorial PLA Daily yang menuduh Zhang “merusak sistem tanggung jawab ketua” menunjukkan bahwa ada ketidaksepakatan fundamental mengenai arah militer negara. Analis menyarankan bahwa Zhang mungkin telah menyatakan keraguan mengenai kesiapan operasional PLA untuk invasi Taiwan pada tahun 2027, sebuah pandangan yang mungkin dianggap oleh Xi sebagai bentuk sabotase politik atau awal dari pembangkangan militer.

Indikator Ketegangan di Beijing (Januari 2026)

Laporan mengenai penyitaan perangkat seluler dari ribuan perwira yang terkait dengan Zhang dan Liu Zhenli menunjukkan skala paranoia yang luar biasa di dalam rezim. Langkah ini biasanya dilakukan hanya ketika ada kecurigaan mengenai konspirasi politik yang luas atau “klik politik” yang terorganisir. Probabilitas kudeta sebelum akhir 2026 mungkin dinilai rendah oleh pasar prediksi (sekitar $\text{Probabilitas} = 2\%$), namun bagi Xi Jinping, risiko sekecil apa pun terhadap “senjata” (kontrol militer) adalah sesuatu yang tidak dapat ditoleransi.

Hubungan Kepercayaan Pemimpin dan Stabilitas Militer

Pembersihan sistemik sejak 2023 hingga 2026 telah menciptakan apa yang disebut sebagai krisis kepercayaan di jantung kekuatan militer Tiongkok. Dari 81 jenderal yang dipromosikan oleh Xi sejak Oktober 2022, setidaknya 14 telah diberhentikan dan 23 lainnya telah “menghilang” dari pandangan publik. Fenomena ini menciptakan masalah “Jenderal Schrodinger”: perwira tinggi yang secara teknis memimpin komando namun secara praktis lumpuh karena ketakutan akan menjadi target investigasi berikutnya.

Kehilangan Zhang Youxia, yang selama ini berfungsi sebagai penghubung antara Xi dan faksi-faksi lama PLA, berarti Xi kini memimpin militer tanpa mediator yang kredibel. Hal ini memiliki implikasi serius bagi stabilitas negara adidaya:

  1. Vakum Nasihat Militer: Tanpa perwira berpengalaman tempur di CMC, Xi dikelilingi oleh “loyalis yang tidak kompeten” yang mungkin hanya memberikan laporan yang menyenangkan (yes-men) daripada penilaian militer yang jujur.
  2. Degradasi Moral: Penangkapan massal dan audit terhadap karir masa lalu (seperti penugasan Zhang di Shenyang tahun 2007-2012) membuat setiap perwira merasa terancam, yang pada gilirannya mengalihkan fokus mereka dari pelatihan tempur ke kelangsungan hidup politik.
  3. Ketidakstabilan Rantai Komando: Dengan CMC yang hampir kosong, mekanisme pengambilan keputusan untuk krisis mendadak (seperti konflik di Laut China Selatan atau perbatasan India) menjadi sangat sentralistik dan lamban.

Tabel 3: Dampak Pembersihan terhadap Struktur Komando PLA

Komponen Komando Kondisi Sebelum Pembersihan Kondisi Januari 2026
Anggota CMC 7 Anggota (Lengkap) 2 Anggota (Xi & Zhang Shengmin).
Pengalaman Tempur Tersedia pada kepemimpinan puncak Nol di tingkat CMC.
Pengambilan Keputusan Kolektif dengan pengaruh Ketua Absolutisme Tunggal (Maximum Xi).
Fokus Perwira Modernisasi & Latihan Kelangsungan Hidup Politik & Audit.

Kerapuhan di Balik Dinding Tebal: Seberapa Kuat Cengkeraman Xi?

Pembersihan Zhang Youxia adalah demonstrasi kekuatan sekaligus pengakuan akan kelemahan. Di satu sisi, kemampuan Xi untuk menjatuhkan sosok sekuat Zhang tanpa memicu pemberontakan terbuka menunjukkan bahwa kendalinya atas badan intelijen dan keamanan militer tetap sangat kuat. Namun, kebutuhan untuk terus-menerus membersihkan lingkaran dalamnya—orang-orang yang ia pilih sendiri pada tahun 2022—menunjukkan bahwa ia tidak pernah merasa benar-benar aman.

Struktur kekuasaan CCP menjadi semakin rapuh karena tidak ada lagi institusi penyeimbang. Tradisi kepemimpinan kolektif telah sepenuhnya dihancurkan, menyisakan sistem yang sangat bergantung pada kesehatan dan penilaian pribadi Xi Jinping. Jika terjadi kegagalan militer atau krisis ekonomi yang parah, tidak ada lagi lapisan penyangga (buffer) antara pemimpin tertinggi dan kegagalan sistem tersebut. Para analis berpendapat bahwa militer Tiongkok sekarang lebih patuh namun lebih “getas” (brittle); mereka akan mengikuti perintah apa pun, namun mungkin akan hancur jika menghadapi tekanan tak terduga di medan perang karena hilangnya inisiatif dan kepemimpinan yang berani.

Implikasi Regional: Taiwan, Rusia, dan India

Ketidakstabilan internal di Beijing memiliki riak yang luas di seluruh Asia dan dunia. Bagi Taiwan, krisis di CMC mungkin memberikan ruang napas jangka pendek karena PLA yang sedang dalam kekacauan kepemimpinan akan ragu untuk meluncurkan operasi amfibi yang sangat kompleks. Namun, dalam jangka panjang, militer yang “dibersihkan” mungkin akan menjadi instrumen yang lebih tajam dan patuh jika Xi memutuskan untuk menyerang, karena tidak ada lagi jenderal yang berani mengatakan “tidak”.

Di sisi lain, hubungan China-Rusia juga terpengaruh. Zhang Youxia adalah arsitek utama kerja sama militer dengan Moskow dan memiliki hubungan pribadi yang erat dengan kepemimpinan militer Rusia. Kejatuhannya dapat memperlambat koordinasi dalam produksi senjata bersama dan latihan militer terpadu di saat Rusia sangat membutuhkan dukungan Tiongkok dalam perang di Ukraina. Terakhir, di perbatasan India (LAC), ketidakpastian komando di Beijing dapat meningkatkan risiko eskalasi yang tidak disengaja oleh komandan lapangan yang mencoba membuktikan loyalitas mereka kepada Xi melalui tindakan agresif di perbatasan.

Kesimpulan: Ujian Terakhir Loyalitas

Pembersihan militer pada Januari 2026 menandai titik balik krusial dalam sejarah Tiongkok modern. Keputusan Xi Jinping untuk mengorbankan Zhang Youxia—rekan princeling-nya dan pilar terakhir stabilitas militer—menunjukkan bahwa rezim ini telah memasuki fase di mana loyalitas absolut melampaui segala pertimbangan lainnya, termasuk kompetensi tempur dan hubungan sejarah yang dalam. Investigasi atas korupsi nuklir dan kebocoran rahasia ke CIA hampir pasti memiliki dasar faktual dalam hal kegagalan teknis peralatan, namun waktu dan cara penjatuhannya adalah langkah preventif politik untuk memastikan bahwa tidak ada bayang-bayang kudeta yang dapat tumbuh di dalam tembok Zhongnanhai.

Struktur kekuasaan di balik dinding tebal Partai Komunis China saat ini tampak sangat kokoh dalam otoritasnya tetapi sangat rapuh dalam legitimasinya. Dengan mengosongkan Komisi Militer Pusat dan mengandalkan paranoia sebagai alat kontrol, Xi Jinping telah menciptakan militer yang mungkin sangat disiplin namun kehilangan jiwa operasionalnya. Bagi komunitas internasional, tahun 2026 akan menjadi tahun penuh ketidakpastian di mana militer sebuah negara adidaya sedang berjuang melawan dirinya sendiri, menciptakan risiko salah perhitungan yang dapat mengubah peta geopolitik dunia selamanya. Kerapuhan struktur kekuasaan ini bukan terletak pada kemungkinan pemberontakan rakyat, melainkan pada ketidakstabilan di puncak piramida di mana setiap jenderal kini hidup dalam bayang-bayang audit dan investigasi, menunggu giliran mereka untuk menjadi “Jenderal Schrodinger” berikutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 11 = 15
Powered by MathCaptcha