Fenomena Rachel Dolezal yang mencuat pada bulan Juni 2015 merupakan salah satu peristiwa paling provokatif dalam sejarah politik identitas kontemporer di Amerika Serikat. Sebagai seorang aktivis hak sipil yang menjabat sebagai Presiden National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) cabang Spokane, Washington, Dolezal telah membangun reputasi yang solid sebagai suara bagi komunitas Afrika-Amerika. Namun, pengungkapan oleh orang tua biologisnya bahwa ia adalah seorang wanita kulit putih dengan garis keturunan Eropa (Jerman dan Ceko) memicu badai kontroversi yang melintasi batas-batas sosiologi, filsafat, dan hukum. Kasus ini bukan sekadar skandal penipuan identitas personal, melainkan sebuah titik kritis yang memaksa masyarakat global untuk memeriksa kembali fondasi dari apa yang kita sebut sebagai “ras”. Intrik utama dalam kasus ini berpusat pada klaim Dolezal mengenai identitas “trans-rasial”—sebuah konsep yang ia gunakan untuk menyamakan pengalamannya dengan individu transgender, di mana perasaan internal mengenai identitas dianggap lebih valid daripada penanda biologis atau genealogis saat lahir.
Kronologi Krisis dan Dekonstruksi Karakter Rachel Dolezal
Krisis ini bermula ketika Jeff Humphrey, seorang reporter dari stasiun televisi lokal KXLY, menunjukkan sebuah foto pria kulit hitam kepada Dolezal dan bertanya, “Apakah ini ayahmu?” Dolezal menjawab “Ya,” namun ketika Humphrey bertanya lebih lanjut, “Apakah Anda benar-benar Afrika-Amerika?”, Dolezal memberikan jawaban yang kemudian menjadi sangat terkenal: “Saya tidak mengerti pertanyaannya”. Kejadian ini segera diikuti oleh pernyataan dari orang tua biologisnya, Ruthanne dan Larry Dolezal, yang merilis foto-foto masa kecil Rachel yang menunjukkan seorang anak perempuan berkulit pucat, berambut pirang, dan bermata biru. Pengungkapan ini meruntuhkan narasi yang telah dibangun Dolezal selama bertahun-tahun, termasuk klaim bahwa ia lahir di sebuah tipi (tenda tradisional Indian) dan bahwa ia telah menjadi korban kejahatan rasial yang berulang.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa Dolezal telah secara sistematis mengubah penampilannya melalui teknik penggelapan kulit (tanning), penggunaan rambut palsu dengan tekstur Afrika (box braids, dreadlocks), dan adopsi dialek serta gaya komunikasi yang identik dengan komunitas kulit hitam. Transformasi ini bukan hanya bersifat estetika tetapi juga fungsional; ia menjabat sebagai instruktur studi Afrika di Eastern Washington University dan memimpin komisi ombudsman kepolisian yang menangani kasus-kasus diskriminasi rasial.
| Tahapan Transformasi Rachel Dolezal | Deskripsi Aktivitas dan Manifestasi Identitas | Dampak pada Legitimasi Sosial |
| Masa Kecil di Montana | Tumbuh dalam keluarga Kristen fundamentalis; orang tua mengadopsi empat anak kulit hitam. | Awal disosiasi dari identitas kulit putih dan identifikasi dengan saudara angkat. |
| Pendidikan Howard University (2002) | Menggugat Howard atas diskriminasi terhadap mahasiswa kulit putih (dirinya sendiri). | Menunjukkan posisi identitas kulit putih yang masih disadari saat itu. |
| Periode Idaho/Spokane (2005-2015) | Mulai menggunakan “glow” (warna kulit gelap) dan kepang rambut; mengklaim ayah kulit hitam. | Memperoleh jabatan strategis di NAACP dan lembaga hak sipil. |
| Pasca-Pengungkapan (2015-sekarang) | Mengubah nama menjadi Nkechi Amare Diallo; tetap mengidentifikasi sebagai kulit hitam. | Kehilangan jabatan publik namun menjadi ikon perdebatan trans-rasial. |
Penting untuk dicatat bahwa sebelum “menyamar” sebagai kulit hitam, Dolezal pernah menggunakan sistem hukum untuk membela haknya sebagai wanita kulit putih. Pada tahun 2002, ia menggugat Howard University, sebuah universitas sejarah kulit hitam (HBCU), dengan tuduhan bahwa universitas tersebut mendiskriminasi dirinya berdasarkan ras saat ia menjadi mahasiswa pascasarjana seni. Gugatan tersebut mengklaim bahwa ia ditolak mendapatkan bantuan keuangan dan posisi asisten pengajar karena ia berkulit putih. Kegagalan gugatan ini sering kali dilihat oleh para analis sebagai titik balik di mana Dolezal menyadari bahwa identitas kulit putih tidak memberikan keuntungan dalam ruang-ruang aktivisme progresif yang ia minati, yang kemudian mendorongnya untuk “bertransisi” secara rasial.
Ras sebagai Konstruksi Sosial: Teori, Sains, dan Praktik
Inti dari argumen pembelaan diri Rachel Dolezal adalah bahwa ras adalah konstruksi sosial, sebuah ide yang secara luas diterima dalam sosiologi dan antropologi modern. Jika ras bukan merupakan entitas biologis yang tetap, maka Dolezal berpendapat bahwa individu memiliki agensi untuk mendefinisikan posisi rasial mereka sendiri berdasarkan pengalaman dan identifikasi budaya. Namun, terdapat perbedaan mendalam antara konsensus ilmiah mengenai ras dan cara Dolezal mengaplikasikan teori tersebut.
Secara ilmiah, manusia tidak memiliki ras biologis. Variasi genetik manusia lebih banyak ditemukan di dalam kelompok-kelompok yang dianggap sebagai “ras” daripada di antara kelompok-kelompok tersebut. Antropologi modern menegaskan bahwa kategori ras (seperti “Kulit Putih”, “Kulit Hitam”, “Asian”) adalah produk sejarah kolonialisme Eropa yang diciptakan untuk melegitimasi hierarki kekuasaan dan perbudakan. Dengan mendeklarasikan bagian-bagian dunia sebagai Terra Nullius (tanah tanpa orang) dan mengklasifikasikan penduduknya sebagai ras yang inferior, kolonialisme membangun struktur sosial yang menetap hingga hari ini.
| Perbandingan Definisi Ras | Pendekatan Biologis (Klasik/Pseudosains) | Pendekatan Konstruksi Sosial (Modern) |
| Dasar Kategorisasi | Sifat fisik yang diwariskan (warna kulit, bentuk tengkorak). | Proses sejarah, politik, dan hukum; kategori yang cair dan berubah. |
| Fungsi Utama | Membagi manusia ke dalam subspesies yang berbeda secara genetik. | Mempertahankan hierarki kekuasaan dan distribusi sumber daya. |
| Validitas Ilmiah | Ditolak oleh Human Genome Project dan antropologi fisik modern. | Diterima sebagai realitas sosiologis yang memiliki dampak biologis (stres, kesehatan). |
Masalah utama dalam penggunaan teori konstruksi sosial oleh Dolezal adalah pengabaiannya terhadap aspek “kekuasaan” dalam konstruksi tersebut. Ras memang dikonstruksi, tetapi tidak dikonstruksi secara sukarela oleh individu. Ras dipaksakan oleh masyarakat kepada individu berdasarkan penanda fisik dan garis keturunan. Sosiolog berargumen bahwa mengatakan “ras adalah konstruksi” tidak berarti ras tidak nyata atau bisa diubah semudah mengganti pakaian. Sebaliknya, ras adalah realitas sosial yang membatasi mobilitas individu dan menentukan tingkat kerentanan mereka terhadap kekerasan sistemik. Dolezal, dengan latar belakang kulit putihnya, memiliki privilese untuk “memilih” masuk ke dalam identitas kulit hitam, sebuah kemewahan yang tidak dimiliki oleh orang kulit hitam yang ingin melarikan diri dari rasisme melalui “passing”.
Debat Trans-rasial vs. Transgender: Analogi yang Patah
Salah satu aspek yang paling kontroversial dari kasus Dolezal adalah upayanya untuk menyamakan identitasnya dengan fenomena transgender. Ia mengklaim bahwa ia merasa dirinya kulit hitam “di dalam hati” meskipun lahir secara biologis kulit putih. Perdebatan ini mencapai puncaknya di dunia akademis ketika Rebecca Tuvel menerbitkan artikel “In Defense of Transracialism” di jurnal filsafat feminis Hypatia pada tahun 2017. Tuvel berpendapat bahwa jika masyarakat menerima keputusan individu transgender untuk mengubah jenis kelamin mereka berdasarkan identitas internal, maka secara logis masyarakat juga harus menerima individu “trans-rasial”.
Namun, analogi ini menghadapi kritik keras dari komunitas trans dan sarjana teori ras kritis. Mereka mengemukakan beberapa poin utama mengapa analogi tersebut dianggap cacat secara fundamental:
- Akumulasi Ketidakadilan Antargenerasi: Ras adalah kategori yang melacak sejarah penderitaan dan akumulasi kekayaan secara antargenerasi (genealogis). Seseorang mewarisi dampak dari hukum Jim Crow atau perbudakan melalui garis keturunan mereka. Gender, meskipun memiliki sejarah penindasan, tidak diwariskan dengan cara yang sama; seorang anak perempuan dari ibu kulit putih tidak “mewarisi” seksisme melalui garis keturunan dalam cara yang identik dengan warisan ekonomi dan sosial rasisme.
- Kepemilikan Komunitas: Identitas rasial sangat bergantung pada pengakuan oleh komunitas tersebut. Seseorang dianggap kulit hitam bukan hanya karena ia merasa demikian, tetapi karena ia diterima sebagai bagian dari sejarah dan perjuangan kolektif komunitas kulit hitam. Dalam kasus transgender, hak untuk menentukan identitas diri lebih kuat diakui sebagai hak individu yang otonom (autologis).
- Privilese untuk Kembali: Seorang individu “trans-rasial” berkulit putih seperti Dolezal memiliki kemampuan untuk kembali ke privilese kulit putihnya kapan saja jika keadaan menjadi berbahaya. Sebaliknya, wanita trans sering kali menghadapi tingkat kekerasan dan diskriminasi yang lebih tinggi setelah transisi, tanpa kemampuan untuk “kembali” ke privilese pria dengan mudah.
| Dimensi Perbandingan | Transgender | Trans-rasial (Klaim Dolezal) |
| Dasar Identitas | Perasaan internal (autologis) yang didukung oleh diskursus medis/legal. | Perasaan internal yang sering dianggap mengabaikan sejarah keturunan (genealogis). |
| Pengalaman Penindasan | Mengalami misogini atau transmisogini setelah atau selama transisi. | Tidak mengalami rasisme antargenerasi atau trauma masa kecil sebagai kulit hitam. |
| Penerimaan Akademik | Diakui sebagai bidang studi yang valid dan didukung oleh aktivisme luas. | Ditolak secara luas; dianggap sebagai latihan teoretis yang mengabaikan pengalaman nyata. |
Reaksi terhadap artikel Tuvel di Hypatia sangat keras, hingga melibatkan surat terbuka yang ditandatangani oleh ratusan akademisi yang menuntut pencabutan artikel tersebut. Mereka menuduh Tuvel melakukan “kekerasan epistemik” karena ia menggunakan terminologi yang salah (seperti “transgenderism”) dan gagal merujuk pada karya-karya sarjana kulit berwarna (POC) dan wanita trans kulit hitam yang telah lama membahas kompleksitas ini. Peristiwa ini menunjukkan bahwa batas-batas antara ras dan gender tetap menjadi salah satu wilayah paling sensitif dalam pemikiran modern.
Apropriasi Budaya vs. Apresiasi Budaya: Membedah Motif Aktivisme
Pertanyaan krusial dalam kasus Dolezal adalah: mengapa masyarakat tetap marah meskipun ia telah menghabiskan sebagian besar masa dewasa dan kariernya untuk membela hak-hak orang kulit hitam? Banyak yang bertanya, bukankah dedikasi Dolezal pada NAACP dan pengajarannya tentang studi Afrika menunjukkan “apresiasi budaya” yang luar biasa?. Namun, para kritikus sosiologis melihat tindakan Dolezal sebagai bentuk “apropriasi budaya” yang paling ekstrem dan berbahaya.
Apropriasi budaya berbeda dengan apresiasi budaya dalam hal distribusi kekuasaan dan kejujuran. Dolezal dianggap melakukan apropriasi karena ia mengambil estetika, platform, dan otoritas dari komunitas yang tertindas demi keuntungan pribadinya, sambil menyembunyikan identitas aslinya yang penuh dengan privilese.
Reduksi Kulit Hitam menjadi Estetika
Dolezal sering dikritik karena ia menyederhanakan identitas kulit hitam menjadi sekadar “pilihan gaya hidup”. Dengan menggunakan bronzer untuk menggelapkan kulit (yang ia sebut sebagai “glow”) dan menghabiskan ribuan jam untuk mengepang rambutnya, ia melakukan performa yang oleh banyak orang dianggap sebagai “blackface” modern. Blackface memiliki sejarah panjang yang menyakitkan di Amerika, di mana aktor kulit putih menggunakan riasan hitam untuk mengejek dan menstereotipkan orang kulit hitam dalam pertunjukan teater. Meskipun Dolezal berargumen bahwa tujuannya bukan untuk mengejek, tindakannya tetap dianggap menghina karena ia bisa “melepas” identitas tersebut (seperti meluruskan rambut atau membiarkan warna kulitnya kembali cerah) kapan pun ia mau, sementara orang kulit hitam asli harus menanggung konsekuensi rasial mereka secara permanen.
Mengambil Ruang dan Suara (Gatekeeping)
Sebagai Presiden NAACP, Dolezal tidak hanya menjadi pendukung, tetapi ia menjadi “suara” bagi orang kulit hitam. Ijeoma Oluo, seorang jurnalis kulit hitam, menulis bahwa kemarahan terhadap Dolezal muncul karena ia menduduki posisi yang seharusnya diisi oleh orang kulit hitam yang benar-benar mengalami diskriminasi sejak lahir. Dolezal bahkan dituduh melakukan “gatekeeping” atau menghalangi suara-suara kulit hitam yang lebih autentik. Misalnya, dalam kapasitasnya di NAACP, ia dilaporkan mencoba mencegah aktivis kulit hitam tertentu untuk berbicara, mengklaim bahwa ia lebih memahami isu tersebut dari perspektif “hitam”-nya yang palsu. Ini adalah perpanjangan dari privilese kulit putih: perasaan bahwa ia lebih kompeten dalam mendefinisikan pengalaman orang kulit hitam daripada orang kulit hitam itu sendiri.
Pemalsuan Trauma dan Kejahatan Rasial
Salah satu aspek paling meresahkan dari aktivisme Dolezal adalah klaim-klaimnya mengenai serangan rasial. Selama tinggal di Coeur d’Alene, Idaho—wilayah yang secara historis merupakan markas kelompok supremasi kulit putih Aryan Nations—dan kemudian di Spokane, Dolezal melaporkan setidaknya sembilan insiden kejahatan rasial terhadap dirinya, termasuk surat ancaman dan gantungan tali noose (simbol hukuman gantung rasis) di rumahnya. Namun, penyelidikan kepolisian menemukan bahwa banyak dari klaim ini tidak berdasar atau bahkan diduga dibuat-buat oleh Dolezal sendiri untuk memperkuat kredibilitasnya sebagai korban rasisme. Dengan memalsukan trauma, Dolezal dianggap telah mengkhianati jutaan orang kulit hitam yang benar-benar menghadapi ancaman kekerasan rasial setiap hari. Tindakan ini mengubah penderitaan nyata menjadi “lelucon” (farce) demi perhatian publik.
Sejarah “Passing” di Amerika: Kontras Hitam-ke-Putih vs. Putih-ke-Hitam
Untuk memahami kedalaman kemarahan publik, kasus Dolezal harus diletakkan dalam konteks sejarah “racial passing” di Amerika Serikat. Istilah “passing” biasanya merujuk pada individu dengan latar belakang Afrika-Amerika (mulatto atau keturunan campuran) yang memiliki fitur fisik yang cukup terang sehingga bisa dianggap sebagai orang kulit putih dalam masyarakat.
Antara abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20, ribuan orang kulit hitam melakukan “passing” sebagai kulit putih. Ini adalah sebuah “exile” atau pengasingan yang dipilih demi kelangsungan hidup. Melakukan “passing” sebagai kulit putih berarti mendapatkan akses ke pekerjaan, pendidikan, dan keselamatan fisik yang tidak mungkin didapatkan sebagai orang kulit hitam di bawah hukum segregasi Jim Crow. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal: mereka harus memutuskan hubungan dengan keluarga, teman, dan komunitas asli mereka selamanya karena takut identitas asli mereka terbongkar.
| Jenis “Passing” | Arah Transisi | Motivasi Utama | Konsekuensi Sosial |
| Passing Tradisional | Hitam ke Putih. | Bertahan hidup (survival), menghindari kekerasan, akses ekonomi. | Kehilangan identitas asli, isolasi keluarga, ketakutan permanen. |
| Reverse Passing (Kasus Dolezal) | Putih ke Hitam. | Keuntungan politik, otoritas moral, legitimasi aktivisme. | Mendapatkan platform, dukungan komunitas (hingga terbongkar), kemarahan publik. |
Penelitian sosiologis menunjukkan bahwa sekitar 19% pria kulit hitam melakukan “passing” antara tahun 1880-1940. Sebaliknya, fenomena orang kulit putih yang mengaku kulit hitam sangat jarang terjadi dan hampir tidak pernah tercatat dalam sejarah hukum AS sebelum era modern. Kemarahan terhadap Dolezal berakar pada ketidakseimbangan ini. Ketika orang kulit hitam melakukan “passing” sebagai putih, mereka melakukannya untuk menghindari penindasan. Ketika Dolezal melakukan “reverse passing” sebagai kulit hitam, ia melakukannya untuk “mengonsumsi” identitas yang dianggapnya eksotis atau secara politik menguntungkan dalam lingkaran progresif, tanpa pernah menanggung beban sejarah penindasan yang sebenarnya.
Penipuan Kesejahteraan dan Realitas Sosioekonomi
Aspek lain yang memperkeruh reputasi Rachel Dolezal pasca-terungkapnya identitas aslinya adalah kasus hukum terkait penipuan kesejahteraan (welfare fraud). Pada tahun 2018, Dolezal (yang saat itu telah mengganti namanya secara legal menjadi Nkechi Amare Diallo) didakwa dengan tuduhan pencurian tingkat pertama, sumpah palsu, dan verifikasi palsu untuk mendapatkan bantuan publik.
Penyelidikan mengungkapkan bahwa antara Agustus 2015 hingga November 2017, Dolezal menerima bantuan pangan (food stamps) dan subsidi penitipan anak senilai hampir $9.000 dengan alasan ia tidak memiliki pendapatan tetap setelah dipecat dari pekerjaannya. Namun, catatan bank menunjukkan bahwa selama periode yang sama, ia mendepositokan lebih dari $83.000 ke rekeningnya, yang berasal dari hasil penjualan memoarnya, In Full Color: Finding My Place in a Black and White World, serta penjualan karya seni, sabun buatan tangan, dan biaya pembicara publik.
| Detail Kasus Penipuan Kesejahteraan | Data dan Angka | Sumber Pendapatan yang Tidak Dilaporkan |
| Periode Pelanggaran | Agustus 2015 – November 2017. | Penjualan Buku Memoar “In Full Color”. |
| Total Dana yang Disalahgunakan | ~$8.747 (bantuan pangan) + $100 (penitipan anak). | Penjualan karya seni dan kerajinan (sabun, boneka). |
| Total Deposit Rahasia | ~$83.924,96. | Biaya pembicara publik dan engagements. |
| Resolusi Hukum | Perjanjian diversi (diversion agreement), membayar restitusi, 120 jam kerja sosial. | Transaksi melalui akun PayPal. |
Kasus ini dianggap sebagai bukti tambahan bagi para kritikus bahwa Dolezal menggunakan identitas marginalitas (baik rasial maupun ekonomi) secara performatif. Sementara banyak orang kulit hitam benar-benar bergantung pada bantuan pemerintah untuk bertahan hidup di tengah kemiskinan sistemik, Dolezal dituduh memalsukan kemiskinannya untuk mendapatkan keuntungan lebih, sebuah tindakan yang mencerminkan privilese yang mendalam dan kurangnya integritas moral.
Pertanyaan Sentral: Garis Keturunan vs. Apa yang Kita Rasakan?
Diskusi mengenai Rachel Dolezal akhirnya membawa kita pada pertanyaan eksistensial tentang identitas manusia: Apakah kita didefinisikan oleh apa yang diwariskan kepada kita melalui biologi dan sejarah, atau oleh pilihan otonom kita sendiri? Di dunia Barat modern, terdapat pergeseran kuat menuju “identitas autologis”—ide bahwa individu adalah pencipta identitas mereka sendiri. Namun, kasus Dolezal menunjukkan bahwa dalam hal ras, “genealogi” (garis keturunan) tetap memiliki bobot moral dan sosial yang tidak dapat diabaikan.
Epistemologi Sudut Pandang (Standpoint Epistemology)
Salah satu argumen filsafat terkuat melawan validitas identitas trans-rasial Dolezal berasal dari “epistemologi sudut pandang”, yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti Patricia Hill Collins. Teori ini menyatakan bahwa kelompok-kelompok marginal memiliki pengetahuan unik tentang dunia yang lahir dari pengalaman kolektif mereka menghadapi penindasan. Seseorang tidak dapat “merasakan” atau “mempelajari” pengetahuan ini; ia harus menjalaninya. Karena Dolezal dibesarkan sebagai anak kulit putih di Montana dengan segala privilese yang menyertainya, ia secara fundamental tidak memiliki “sudut pandang” kulit hitam. Klaimnya bahwa ia adalah kulit hitam dianggap menghapus nilai dari pengalaman hidup nyata orang kulit hitam yang tidak memiliki pilihan untuk menjadi “putih” saat kecil.
Identitas Naratif (Alasdair MacIntyre)
Perspektif lain adalah “identitas naratif” yang diusulkan oleh Alasdair MacIntyre. Menurut pandangan ini, identitas seseorang adalah cerita yang berlanjut sepanjang hidupnya. Meskipun seseorang dapat mengubah arah hidupnya, cerita tersebut harus memiliki konsistensi internal. Perubahan identitas Dolezal dianggap cacat karena ia tidak hanya mengubah masa depannya, tetapi ia “menulis ulang” masa lalunya dengan kebohongan. Ia menciptakan ayah palsu, masa kecil palsu, dan trauma palsu. Ini bukan transisi identitas yang jujur, melainkan fabrikasi naratif yang bertujuan untuk menipu masyarakat demi mendapatkan penerimaan dalam kelompok tertentu.
Implikasi Masa Depan: Identitas di Era Pasca-Dolezal (2024-2025)
Hampir satu dekade setelah krisis ini pertama kali pecah, dampaknya masih terasa dalam diskursus hak sipil dan politik identitas. Dunia tahun 2024-2025 melihat polarisasi yang semakin tajam mengenai isu-isu ini. Di satu sisi, terdapat dorongan untuk pengakuan yang lebih luas terhadap fluiditas identitas; di sisi lain, terdapat reaksi keras terhadap apa yang dianggap sebagai “kegilaan” identitas yang mengabaikan realitas objektif.
Kasus Dolezal telah menjadi “Rorschach test” atau tes persepsi bagi Amerika. Bagi kaum konservatif, Dolezal adalah bukti bahwa teori konstruksi sosial ras telah berjalan terlalu jauh dan menjadi absurd. Bagi kaum progresif, ia adalah pengingat yang menyakitkan bahwa privilese kulit putih bisa sangat licin sehingga ia dapat mencoba “mencuri” identitas korban untuk menjadi pahlawan bagi mereka.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri terus memperbarui standar pengumpulan data ras dan etnis. Pada tahun 2024, standar federal menggabungkan pertanyaan ras dan etnis menjadi satu kategori yang memungkinkan individu untuk memilih lebih dari satu identitas yang mencerminkan bagaimana mereka mengidentifikasi diri. Namun, sistem ini tetap didasarkan pada asumsi bahwa individu memberikan informasi yang jujur mengenai latar belakang mereka, bukan menciptakan identitas baru dari kekosongan genealogis.
Sintesis Akhir
Krisis identitas Rachel Dolezal mengajarkan kita bahwa meskipun ras adalah konstruksi sosial, konstruksi tersebut tertanam kuat dalam sejarah kekuasaan, penderitaan, dan perlawanan yang nyata. Identitas manusia bukanlah ruang hampa yang bisa diisi sesuka hati hanya berdasarkan keinginan internal. Kita adalah produk dari sejarah yang mendahului kita. Rachel Dolezal mungkin merasa dirinya kulit hitam “di dalam hati,” tetapi tanpa pengalaman hidup di bawah beban rasisme sistemik sejak lahir dan tanpa pengakuan dari komunitas yang ia klaim sebagai miliknya, identitas tersebut tetap merupakan sebuah performa—sebuah “masker” yang, meskipun dipakai dengan penuh dedikasi, tetap gagal menutupi privilese kulit putih yang menjadi fondasi aslinya. Pertanyaan apakah identitas ditentukan oleh garis keturunan atau perasaan hati tidak memiliki jawaban tunggal, namun dalam kasus ras, garis keturunan berfungsi sebagai jangkar moral yang mencegah identitas menjadi sekadar komoditas yang bisa dibeli atau dipalsukan oleh mereka yang berkuasa.
