Fenomena sosial yang dikenal sebagai Gin Craze di London selama paruh pertama abad ke-18 merupakan salah satu periode paling destruktif namun transformatif dalam sejarah perkotaan Inggris. Antara tahun 1700 dan 1751, konsumsi minuman keras jenis gin meningkat secara eksponensial, memicu krisis kesehatan masyarakat, keruntuhan tatanan sosial, dan tantangan legislatif yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Parlemen Inggris. Fenomena ini bukan sekadar masalah kecanduan massal, melainkan hasil dari konvergensi unik antara kebijakan geopolitik, surplus agrikultur, dan urbanisasi yang cepat di bawah bayang-bayang awal Revolusi Industri. Gin, yang awalnya diperkenalkan sebagai obat-obatan, berevolusi menjadi “candu bagi rakyat” yang mampu meruntuhkan sendi-sendi kehidupan keluarga, sehingga mendapatkan julukan mengerikan sebagai “Mother’s Ruin” atau Ibu yang Menghancurkan.
Landasan Geopolitik dan Kebijakan Proteksionisme Ekonomi
Akar dari Gin Craze dapat ditelusuri kembali ke peristiwa Revolusi Agung tahun 1688, ketika William of Orange, seorang pangeran Belanda, naik takhta Inggris. Kenaikan takhta ini membawa pergeseran drastis dalam hubungan luar negeri Inggris, terutama permusuhan yang mendalam terhadap Prancis yang Katolik. Sebagai bagian dari strategi perang ekonomi selama Perang Sembilan Tahun (1689–1697), pemerintah Inggris melarang impor anggur dan brendi Prancis, yang selama ini menjadi konsumsi utama kelas elit. Untuk mengisi kekosongan pasar tersebut dan memperkuat kemandirian ekonomi, pemerintah mendorong produksi distilasi domestik yang menggunakan biji-bijian Inggris sebagai bahan baku utamanya.
Kebijakan perlindungan ekonomi ini diperkuat dengan pengesahan Distillers Act tahun 1690, yang secara efektif mematahkan monopoli London Company of Distillers dan mengizinkan siapa pun untuk mendistilasi alkohol dari gandum Inggris setelah memberikan pemberitahuan publik selama sepuluh hari. Langkah ini bertujuan strategis untuk mendukung para tuan tanah (landowners) dan petani dengan menciptakan pasar baru bagi surplus gandum, gandum hitam (rye), dan jelai (barley) yang melimpah akibat kemajuan teknik pertanian. Akibatnya, gin, yang merupakan adaptasi dari minuman Belanda bernama genever, menjadi simbol loyalitas patriotik sekaligus komoditas ekonomi yang sangat menguntungkan bagi kas negara.
| Faktor Pendorong Ekonomi Awal | Implikasi Terhadap Produksi Gin |
| Surplus Biji-bijian Domestik | Penurunan harga bahan baku mentah yang drastis, memungkinkan distilasi massal dengan biaya rendah. |
| Larangan Impor Produk Prancis | Menghilangkan kompetisi dari brendi dan anggur asing, menciptakan monopoli pasar domestik bagi spiritus biji-bijian. |
| Deregulasi Distilasi (1690) | Memungkinkan ribuan penyulingan rumahan berskala kecil muncul di gang-gang sempit London tanpa lisensi ketat. |
| Kebijakan Fiskal | Pajak rendah dikenakan pada gin (2 pence per galon) dibandingkan dengan bir kuat (4 shilling 9 pence), menjadikannya pilihan ekonomi rasional bagi si miskin. |
| Penurunan Harga Pangan Global | Meningkatkan pendapatan sisa (disposable income) masyarakat kelas bawah yang kemudian dialokasikan untuk konsumsi alkohol. |
Pertumbuhan ini dipercepat oleh jatuhnya harga biji-bijian di awal abad ke-18, yang membuat biaya produksi gin menjadi sangat murah sehingga harganya lebih terjangkau daripada bir berkualitas atau bahkan air bersih di lingkungan perkotaan yang padat. Seiring dengan masuknya ribuan migran dari pedesaan ke London untuk mencari peluang kerja di era pra-industri, gin menawarkan pelarian sementara dari kenyataan pahit berupa kemiskinan, kelaparan, dan kondisi hidup yang tidak higienis di pemukiman kumuh.
Sosiologi Urbanisasi dan Degradasi Lingkungan London
London pada awal abad ke-18 adalah sebuah metropolis yang tumbuh tanpa kendali. Urbanisasi yang cepat membawa ribuan orang ke dalam lingkungan yang tidak memiliki infrastruktur sanitasi yang memadai. Di daerah-daerah seperti St. Giles, Holborn, dan East End, kepadatan penduduk mencapai tingkat yang sangat tinggi, dengan satu ruangan sempit terkadang dihuni oleh sepuluh hingga lima belas orang. Dalam konteks lingkungan yang mematikan ini, gin tidak hanya dikonsumsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai pengganti air minum yang sering kali terkontaminasi oleh patogen mematikan seperti kolera dan tifus.
Keunggulan logistik gin dibandingkan bir menjadi faktor kunci dalam penyebarannya yang cepat. Bir membutuhkan proses pembuatan yang lama, bahan baku yang besar, dan ruang penyimpanan yang luas, sementara gin dapat diproduksi di ruang bawah tanah yang kecil, garret, atau bahkan di dalam apartemen yang sesak menggunakan peralatan distilasi sederhana. Pada puncak krisis di tahun 1730, diperkirakan terdapat lebih dari 7.000 toko gin (dram shops) resmi di London, dengan ribuan lainnya beroperasi secara ilegal di balik pintu tertutup. Hal ini berarti satu dari setiap enam bangunan di wilayah tertentu di London menjual atau memproduksi gin.
Produk yang dikonsumsi pada masa itu sangat berbeda dengan standar kualitas modern. Karena absennya kontrol kualitas dan regulasi kesehatan, banyak penyuling amatir menggunakan alkohol mentah (spiritus) yang dipotong dengan bahan-bahan kimia berbahaya untuk meniru aroma juniper atau meningkatkan efek memabukkannya. Bahan-bahan seperti terpentin, asam sulfat (oil of vitriol), kapur, dan metanol sering kali ditambahkan ke dalam campuran, yang mengakibatkan kerusakan organ permanen, kebutaan, hingga kematian mendadak bagi konsumennya. Gin dengan kekuatan 160 proof (80% alkohol) bukanlah hal yang aneh, dan banyak orang mengonsumsinya dalam jumlah besar, terkadang hingga setengah liter per hari, yang setara dengan dosis mematikan bagi tubuh manusia normal.
Fenomena “Mother’s Ruin” dan Krisis Identitas Gender
Aspek yang paling provokatif dari Gin Craze adalah keterlibatan perempuan dalam konsumsi dan penjualan minuman tersebut secara masif. Sebelum era ini, budaya minum di Inggris sangat tersegregasi secara gender; kedai bir (alehouses) adalah ruang publik maskulin di mana perempuan jarang terlihat kecuali sebagai pelayan. Namun, toko gin (dram shops) bersifat lebih informal dan terbuka bagi semua lapisan masyarakat tanpa memandang gender. Untuk pertama kalinya dalam sejarah urban Inggris, perempuan kelas bawah ditemukan minum di tempat umum dalam skala besar, baik bersama pasangan mereka maupun dalam kelompok sosial sesama perempuan.
Keterlibatan perempuan ini memicu gelombang kepanikan moral di kalangan otoritas keagamaan dan kelas atas. Gin mulai mendapatkan berbagai julukan yang merendahkan seperti “Madam Geneva”, “Ladies’ Delight”, dan yang paling bertahan hingga hari ini, “Mother’s Ruin”. Istilah ini muncul karena gin dianggap secara langsung merusak insting keibuan dan menghancurkan struktur keluarga tradisional yang menjadi fondasi stabilitas nasional. Narasi publik pada masa itu dipenuhi dengan laporan tragis tentang ibu yang mengabaikan anak-anak mereka demi seteguk gin, membelanjakan uang makanan keluarga untuk alkohol, atau memberikan gin kepada bayi yang menangis agar mereka tertidur—sebuah tindakan yang sering kali berujung pada kematian anak akibat keracunan atau kegagalan pernapasan.
Secara ekonomi, industri gin memberikan peluang mobilitas yang tidak biasa bagi perempuan kelas bawah. Menjual gin di sudut jalan atau dari jendela rumah membutuhkan modal yang sangat minim, menjadikannya strategi bertahan hidup yang krusial bagi janda, istri yang ditinggalkan, atau migran perempuan lajang yang tidak memiliki akses ke serikat pekerja formal. Meskipun perempuan hanya menyumbang kurang dari 20% dari pengecer besar, mereka menyumbang hampir 70% dari total terdakwa dalam kasus pelanggaran hukum minuman keras setelah pengetatan regulasi tahun 1736. Hal ini menunjukkan adanya penargetan sistematis terhadap perempuan miskin oleh sistem peradilan yang melihat kemandirian ekonomi mereka melalui alkohol sebagai ancaman terhadap tatanan patriarki.
| Dampak Sosial Terhadap Perempuan dan Anak | Manifestasi Klinis dan Sosial |
| Penurunan Angka Kelahiran | Gin dikaitkan dengan infertilitas pada perempuan dan impotensi pada laki-laki. |
| Sindrom Alkohol Janin (FAS) | Banyak bayi lahir dengan cacat fisik dan mental akibat paparan alkohol kronis di dalam rahim. |
| Pengabaian Anak dan Infantisida | Kasus ibu yang menjual pakaian atau makanan anak demi gin meningkat tajam di wilayah slum. |
| Prostitusi Terpaksa | Banyak perempuan terjebak dalam lingkaran prostitusi untuk membiayai ketergantungan mereka terhadap gin. |
| Kematian Bayi (Infant Mortality) | Hingga 75% bayi di London meninggal sebelum mencapai usia lima tahun antara 1730-1749. |
Studi Kasus: Tragedi Judith Defour dan Simbolisme Keruntuhan Moral
Salah satu peristiwa yang paling mengguncang nurani publik dan menjadi titik balik bagi gerakan antialkohol adalah kasus hukum Judith Defour pada tahun 1734. Judith, seorang buruh pemintal sutra yang telah bekerja selama lebih dari satu dekade namun terperosok ke dalam kemiskinan dan alkoholisme, mengambil putrinya yang berusia dua tahun, Mary, dari panti asuhan (workhouse) untuk kunjungan singkat. Namun, didorong oleh kecanduan yang akut, Judith justru mencekik putrinya di sebuah parit di Bethnal Green, melepaskan pakaian baru yang diberikan oleh panti asuhan, dan menjual pakaian tersebut seharga beberapa penny.
Hasil penjualan baju tersebut, yang hanya berjumlah sekitar satu shilling empat pence, segera digunakan Judith dan temannya yang bernama Sukey untuk membeli gin. Mayat Mary ditemukan di parit, dan Judith segera ditangkap. Pengakuannya di pengadilan Old Bailey menjadi bukti nyata bagi para moralis bahwa gin telah menghapus rasa kemanusiaan dan cinta kasih paling dasar sekalipun. Kasus ini dianggap sebagai manifestasi dari “kematian Madam Geneva” dan memicu kemarahan luas dari kelas menengah dan aristokrasi yang menuntut tindakan tegas dari pemerintah. Judith Defour akhirnya dijatuhi hukuman gantung di Tyburn pada Maret 1734, tetapi namanya tetap abadi sebagai simbol dari kerusakan moral yang dibawa oleh epidemi gin.
Krisis Demografi: Angka Kematian vs Angka Kelahiran
Dampak fisiologis dari Gin Craze tercermin secara eksplisit dalam data demografi London. Antara tahun 1723 dan 1757, London mengalami periode unik di mana angka kematian secara konsisten melampaui angka kelahiran, sebuah anomali yang biasanya hanya terjadi selama masa wabah besar atau bencana alam. Meskipun populasi London terus bertambah akibat arus migrasi dari luar, populasi “asli” kota tersebut secara efektif sedang menyusut akibat konsumsi alkohol yang merusak.
| Statistik Vital London (Estimasi 1720-1750) | Detail Statistik |
| Rasio Kematian Bayi | Di distrik termiskin, 3 dari 4 anak meninggal sebelum usia 5 tahun. |
| Total Kematian Tahunan (1721) | 26.139 jiwa dari populasi sekitar 650.000 (4% tingkat kematian). |
| Penyebab Utama ‘Konvulsi’ | 35% kematian anak dikategorikan sebagai konvulsi, sering kali akibat penarikan alkohol atau keracunan langsung. |
| Konsumsi Per Kapita (1743) | Rata-rata 2,2 galon (10 liter) gin murni per orang per tahun. |
| Peningkatan Pasien Rumah Sakit | Penerimaan di RS St. George naik dari 12.710 menjadi 38.147 per tahun karena penyakit terkait gin. |
Krisis ini menciptakan ketakutan di tingkat nasional bahwa Inggris akan kekurangan tenaga kerja untuk Revolusi Industri yang mulai tumbuh, serta kekurangan calon tentara yang sehat untuk mempertahankan kerajaan. Daniel Defoe mengeluhkan bahwa generasi anak-anak yang lahir dari ibu pecandu gin akan menjadi “generasi yang berkaki lemah” (spindle-shanked generation) yang tidak berguna bagi negara. Argumen demografis ini terbukti lebih efektif dalam menekan Parlemen untuk bertindak dibandingkan dengan argumen moral semata.
Perang Legislatif: Delapan Undang-Undang Gin (1729–1751)
Pemerintah Inggris terjebak dalam dilema yang rumit: di satu sisi, pajak alkohol menyumbang hingga 25% dari total pendapatan tahunan negara pada tahun 1730, yang sangat dibutuhkan untuk membiayai ambisi kekaisaran dan perang luar negeri. Di sisi lain, biaya sosial dari kecanduan massal—kriminalitas, beban kemiskinan, dan penurunan populasi—mulai melebihi pendapatan pajak tersebut. Sebagai tanggapan, Parlemen mengeluarkan serangkaian delapan undang-undang berbeda dalam upaya yang sering kali canggung dan tidak konsisten untuk menjinakkan “monster gin”.
Era Kegagalan: 1729 hingga 1738
Undang-Undang Gin pertama tahun 1729 mencoba memberlakukan pajak tinggi (5 shilling per galon) dan biaya lisensi ritel sebesar £20. Namun, para penyuling segera menemukan celah hukum dengan memproduksi alkohol tanpa campuran juniper, sehingga tidak memenuhi definisi hukum “gin”. Produk ini dijual dengan nama “Parliamentary Brandy”. Kegagalan ini diikuti oleh UU tahun 1733 yang melarang penjualan oleh pedagang kaki lima, yang justru memicu perubahan ribuan rumah tinggal menjadi toko gin pribadi.
Puncak represi terjadi dengan Gin Act 1736 yang secara efektif mencoba memberlakukan pelarangan total (quasi-prohibition) dengan menetapkan biaya lisensi selangit sebesar £50—setara dengan pendapatan 14 bulan bagi seorang pekerja terampil—dan pajak 20 shilling per galon. Hanya dua atau tiga lisensi resmi yang pernah dibeli selama masa berlakunya undang-undang ini. Sebaliknya, perdagangan gin justru pindah ke pasar gelap yang lebih berbahaya, di mana kualitas produk semakin menurun dan kekerasan terhadap informan pemerintah menjadi hal yang lumrah di jalanan.
Era Regulasi Pragmatis: 1743 hingga 1751
Setelah menyadari bahwa pelarangan total hanya memicu kerusuhan dan kriminalitas, Parlemen beralih ke pendekatan yang lebih moderat melalui UU tahun 1743, yang menurunkan biaya lisensi menjadi £1 tetapi menaikkan pajak di tingkat distiler utama. Ini adalah langkah pertama yang secara nyata mulai menurunkan konsumsi tanpa memicu pemberontakan massa. Puncaknya adalah Gin Act 1751, yang sering dianggap sebagai undang-undang yang akhirnya “memakukan peti mati” Gin Craze.
| Ketentuan Utama Gin Act 1751 | Dampak Terhadap Struktur Pasar |
| Konsolidasi Industri | Melarang alat distilasi (stills) dengan kapasitas di bawah 1.800 liter, mematikan produksi rumahan ilegal. |
| Pengetatan Rantai Pasok | Distiler dilarang menjual langsung kepada pengecer tanpa lisensi. |
| Syarat Properti Pengecer | Lisensi hanya diberikan kepada usaha di properti dengan nilai sewa minimal £10 per tahun. |
| Larangan Kredit | Gin tidak boleh dijual dengan sistem kredit, dan utang akibat gin tidak dapat ditagih melalui pengadilan. |
| Promosi Alternatif | Pemerintah secara sadar mempromosikan bir dan teh sebagai minuman patriotik yang lebih sehat. |
Resistensi dan Evasion: Inovasi Mesin Penjual “Puss and Mew”
Ketidakmampuan aparat penegak hukum untuk mengontrol ribuan kedai ilegal melahirkan salah satu inovasi paling unik dalam sejarah perdagangan: mesin penjual otomatis pertama di dunia. Kapten Dudley Bradstreet, seorang petualang yang jeli melihat celah hukum, menyadari bahwa Gin Act 1736 memberikan otoritas kepada polisi untuk mendobrak pintu rumah hanya jika mereka memiliki saksi atau informan yang mengetahui nama penyewa yang melakukan transaksi ilegal di dalamnya secara tatap muka.
Bradstreet memasang tanda kayu berbentuk kucing hitam besar di jendela sebuah rumah di Blue Anchor Alley. Pelanggan akan mendekati tanda tersebut dan bertanya, “Puss, do you have any Gin?” (Kucing, apakah kamu punya gin?). Jika Bradstreet yang berada di dalam rumah menjawab dengan “Mew” (Meong), itu adalah tanda bahwa stok tersedia. Pelanggan kemudian memasukkan koin ke dalam mulut kucing tersebut, yang kemudian jatuh ke dalam melalui slot. Sebagai gantinya, Bradstreet akan menuangkan satu takaran gin melalui pipa timah yang tersembunyi di bawah kaki kucing, yang mengalir langsung ke mulut atau cangkir pelanggan di luar.
Karena transaksi ini dilakukan tanpa kontak fisik atau visual, informan tidak dapat mengidentifikasi pelaku di balik jendela tersebut, dan polisi tidak memiliki dasar hukum untuk melakukan penggerebekan. Sistem “Puss and Mew” ini menjadi fenomena viral di London, ditiru oleh ratusan pengecer lain, dan menjadi simbol ejekan terhadap upaya pemerintah yang dianggap tidak kompeten dalam menghentikan dahaga rakyat terhadap spiritus biji-bijian.
Kampanye Budaya: Propaganda Hogarth dan Visi Fielding
Keberhasilan legislasi tahun 1751 tidak lepas dari kampanye propaganda visual dan intelektual yang sangat terorganisir. William Hogarth, seniman satiris paling terkemuka di zamannya, merilis dua ukiran kayu yang dirancang untuk dilihat berdampingan: Beer Street dan Gin Lane. Karya-karya ini bukan sekadar seni, melainkan alat politik yang didanai secara implisit oleh kepentingan industri bir dan para reformis sosial.
Gin Lane menggambarkan distrik St. Giles sebagai neraka dunia: bangunan yang runtuh mencerminkan keruntuhan tatanan sosial, sementara penduduknya digambarkan kurus, gila, dan putus asa. Fokus utamanya adalah seorang perempuan dalam kondisi mabuk berat, dengan luka sifilis di kakinya, yang tidak sadar bahwa bayinya jatuh dari dekapannya menuju kematian di sebuah tangga bawah tanah kedai gin. Di latar belakang, pembuat peti mati adalah satu-satunya profesi yang berkembang pesat. Sebaliknya, Beer Street menunjukkan masyarakat Inggris yang ideal: sehat, berisi, bahagia, dan produktif berkat konsumsi bir nasional yang “sehat”.
Analisis ini diperkuat oleh tulisan Henry Fielding, seorang hakim di Middlesex, dalam karyanya An Enquiry into the Causes of the Late Increase of Robbers. Fielding memberikan bukti empiris dari ruang sidangnya bahwa gin adalah akar penyebab dari lonjakan angka perampokan dan pembunuhan di London. Fielding berargumen bahwa jika ketersediaan gin tidak segera dibatasi, bangsa Inggris akan segera kehabisan rakyat jelata yang mampu bekerja atau berperang. Kombinasi antara visual horor Hogarth dan logika hukum Fielding menciptakan tekanan politik yang tidak dapat diabaikan lagi oleh Parlemen.
Akhir Era: Peran Faktor Ekonomi dan Pergeseran Budaya
Meskipun Gin Act 1751 memberikan kerangka kerja regulasi yang kuat, banyak sejarawan berpendapat bahwa akhir dari Gin Craze sebenarnya dipicu oleh faktor ekonomi yang berada di luar kendali legislatif. Antara tahun 1757 dan 1760, Inggris mengalami serangkaian kegagalan panen yang sangat parah akibat cuaca ekstrem. Kelangkaan gandum menyebabkan harga roti dan biji-bijian melonjak tinggi, yang secara otomatis membuat biaya produksi alkohol menjadi tidak terjangkau bagi para penyuling kecil.
Pemerintah mengambil langkah drastis dengan melarang penggunaan biji-bijian domestik untuk distilasi guna memprioritaskan pasokan makanan bagi penduduk yang mulai menderita kelaparan. Pada saat yang sama, upah riil para pekerja di London menurun drastis, sehingga konsumsi gin—yang tadinya merupakan kemewahan murah—menjadi pengeluaran yang tidak mungkin lagi dilakukan oleh kelas bawah. Ketika panen kembali membaik di tahun 1760-an, selera masyarakat London mulai bergeser. Kebangkitan gerakan keagamaan seperti Methodisme yang mengedepankan nilai kesederhanaan (temperance) serta meningkatnya popularitas minuman baru seperti teh dan kopi mulai menggantikan posisi gin sebagai ritual sosial harian.
Gin akhirnya bertransformasi dari spiritus berbahaya di jalanan menjadi minuman kelas menengah yang lebih terhormat. Merek-merek besar yang muncul pada akhir abad ke-18—seperti Gordon’s (1769) dan Plymouth Gin (1793)—fokus pada kualitas distilasi dan keamanan produk, yang sangat kontras dengan cairan beracun di era Gin Craze. Era “Mother’s Ruin” pun berakhir, meninggalkan warisan berupa sistem regulasi alkohol yang masih menjadi dasar bagi kebijakan kesehatan masyarakat di Inggris hingga hari ini.
Kesimpulan: Warisan Sosial dan Relevansi Modern
Epidemi gin di London abad ke-18 merupakan bukti nyata tentang bagaimana kebijakan ekonomi yang tidak terencana—seperti deregulasi distilasi massal demi kepentingan fiskal jangka pendek—dapat menyebabkan kerusakan sosial yang masif dan berkelanjutan. Krisis ini menghancurkan mitos bahwa masyarakat secara otomatis akan mengatur dirinya sendiri dalam menghadapi komoditas yang bersifat adiktif. Fenomena “Mother’s Ruin” menggarisbawahi kerentanan populasi urban yang miskin dalam menghadapi zat yang menjanjikan pelarian dari penderitaan fisik dan psikologis.
Delapan undang-undang yang dikeluarkan Parlemen menunjukkan proses pembelajaran yang menyakitkan bagi negara: dari upaya pelarangan total yang gagal hingga adopsi regulasi pragmatis yang menargetkan kualitas produksi dan struktur ritel. Gin Craze berakhir bukan hanya karena hukum, melainkan melalui kombinasi antara tekanan regulasi, perubahan kondisi ekonomi agrikultur, dan pergeseran norma sosial budaya yang dipicu oleh propaganda yang efektif. Sejarah ini tetap menjadi referensi penting bagi para pembuat kebijakan modern dalam mengelola tantangan kesehatan masyarakat terkait zat adiktif di lingkungan urban yang padat dan dinamis.
