Donatien Alphonse François, Marquis de Sade (1740–1814), tetap menjadi salah satu sosok paling enigmatik dan provokatif dalam sejarah intelektual Barat. Sebagai seorang bangsawan Prancis yang hidup melintasi gejolak Ancien Régime dan Revolusi Prancis, Sade tidak sekadar menulis karya sastra; ia mengonstruksi sebuah sistem filosofis yang secara sistematis meruntuhkan asumsi-asumsi optimis Abad Pencerahan. Melalui penelusuran mendalam terhadap kekerasan ekstrem, seksualitas transgresif, dan nihilisme moral, Sade menantang batas antara kebebasan berekspresi dan penyimpangan kriminal, sebuah tegangan yang menempatkannya pada posisi yang unik: sebagai “Filsuf Kegelapan” yang bayang-bayangnya terus menghantui modernitas. Analisis ini akan mengeksplorasi bagaimana Sade, yang namanya menjadi etimologi bagi kata “sadisme”, menggunakan materialisme radikal untuk membenarkan dorongan paling destruktif dalam sifat manusia sebagai manifestasi dari hukum alam itu sendiri.
Ontologi Kegelapan: Akar Genealogis dan Formasi Intelektual
Memahami Marquis de Sade memerlukan dekonstruksi terhadap latar belakang aristokratnya yang kontradiktif. Lahir di Paris pada 2 Juni 1740, Sade berasal dari keluarga bangsawan kuno yang silsilahnya merentang hingga abad ke-13. Ayahnya adalah seorang diplomat di istana Louis XV, sementara ibunya merupakan dayang istana yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan. Struktur kelas ini memberikan Sade privilese yang luar biasa, namun juga menciptakan isolasi emosional. Setelah ibunya mencari perlindungan di biara dan ayahnya mengabaikannya, Sade dibesarkan oleh para pelayan yang menuruti setiap keinginannya, sebuah lingkungan yang oleh para biografer dianggap sebagai persemaian karakter yang pemberontak dan temperamental.
Pada usia empat tahun, Sade dikirim ke Avignon di bawah pengasuhan pamannya, Abbé de Sade. Sang paman, meskipun seorang pria gereja, dikenal karena gaya hidupnya yang sangat tidak teratur dan perpustakaannya yang kaya akan karya-karya pornografi serta filosofi radikal. Paparan awal terhadap “debauchery” atau kemerosotan moral di lingkungan klerikal ini memberikan dasar bagi kebencian mendalam Sade terhadap institusi agama dan kemunafikan moral. Pendidikan formalnya di Lycée Louis-le-Grand di Paris, yang dijalankan oleh Yesuit, justru memperkuat obsesinya terhadap kekerasan fisik; ia sering menjadi subjek hukuman korporal berat seperti flagelasi, sebuah pengalaman yang kemudian ia transformasikan menjadi elemen sentral dalam karya-karya erotisnya.
Karier militernya dimulai pada tahun 1754, di mana ia bertugas sebagai perwira selama Perang Tujuh Tahun. Pengalaman dalam perang kemungkinan besar memberikan validasi empiris bagi pandangannya bahwa kekerasan adalah hukum fundamental yang mengatur hubungan antarmanusia. Setelah perang berakhir pada tahun 1763, Sade dipaksa menikahi Renée-Pélagie de Montreuil untuk memperbaiki kondisi finansial keluarganya yang menurun. Meskipun pernikahan ini menghasilkan tiga anak dan Pélagie terbukti menjadi istri yang sangat setia—bahkan menjadi kaki tangan dalam beberapa skandal suaminya—Sade segera kembali ke dunia prostitusi dan eksperimentasi seksual yang melampaui norma sosial zamannya.
| Fase Kehidupan Marquis de Sade | Periode | Peristiwa Kunci dan Dampak Intelektual |
| Formasi Awal | 1740–1763 | Pendidikan Yesuit dan paparan terhadap gaya hidup libertin pamannya; pembentukan obsesi terhadap flagelasi. |
| Eskalasi Skandal | 1763–1777 | Seri penangkapan akibat kekerasan seksual (Jeanne Testard, Rose Keller, Marseille); transisi dari libertinisme ke kriminalitas. |
| Incarserasi Utama | 1777–1790 | Penahanan di Vincennes dan Bastille; masa paling produktif dalam menulis naskah filosofis dan pornografi ekstrem. |
| Aktivitas Revolusioner | 1790–1801 | Keterlibatan politik sebagai republikan radikal; penulisan Justine dan Juliette; hampir dieksekusi selama Pemerintahan Teror. |
| Penjara Akhir | 1801–1814 | Penahanan permanen di Charenton oleh Napoleon; pementasan teater dengan pasien rumah sakit jiwa hingga wafat. |
Labirin Kriminalitas: Dekonstruksi Skandal dan Transgresi Sosial
Reputasi jahat Sade bukan sekadar mitos sastra; itu berakar pada serangkaian tindakan nyata yang melanggar hukum dan moralitas publik Prancis abad ke-18. Skandal pertama yang mencolok terjadi pada tahun 1763, hanya beberapa bulan setelah pernikahannya, ketika ia memaksa Jeanne Testard untuk melakukan tindakan yang dianggap sangat menghujat agama, termasuk menodai citra Kristus dan melakukan masturbasi ke dalam piala gereja. Penangkapan ini merupakan indikasi awal bahwa bagi Sade, seksualitas tidak dapat dipisahkan dari penghancuran simbol-simbol otoritas suci.
Transgresi yang lebih serius terjadi pada hari Paskah tahun 1768 dalam urusan Rose Keller. Sade membawa Keller ke kediamannya di Arcueil, mengikatnya, mencambuknya secara brutal, dan menurut laporan, membuat sayatan pada tubuhnya sebelum menuangkan lilin panas ke dalam luka tersebut. Meskipun Keller berhasil melarikan diri dan melaporkan kejadian tersebut, keluarga Sade menggunakan pengaruh dan uang untuk membungkam korban. Kejadian ini penting secara sosiologis karena menunjukkan bagaimana Sade memandang tubuh orang miskin sebagai komoditas untuk eksperimen rasa sakit.
Puncak dari kriminalitas publiknya adalah “Skandal Marseille” tahun 1772. Sade dan pelayannya, Latour, mengadakan pesta pora dengan empat pelacur, di mana ia memberikan permen yang mengandung cantharides (Spanish Fly), sejenis afrodisiak yang dalam dosis tinggi bertindak sebagai racun. Para wanita tersebut jatuh sakit parah, dan Sade dituduh melakukan peracunan serta sodomi—kejahatan yang saat itu membawa hukuman mati. Pelariannya ke Italia dan eksekusi simbolis terhadap patungnya (in effigy) oleh pengadilan Aix menandai titik di mana Sade secara resmi menjadi paria sosial.
Tindakan-tindakan ini menunjukkan pola psikologis yang konsisten: pencarian kenikmatan melalui dominasi absolut terhadap subjek yang rentan. “Episode Gadis-Gadis Kecil” di château La Coste pada tahun 1774, di mana Sade dan istrinya menyandera beberapa pelayan muda untuk aktivitas seksual kolektif selama enam minggu, memperkuat pandangan bahwa Sade sedang mencoba menciptakan mikrokosmos dari dunia yang ia tulis dalam bukunya—sebuah ruang tertutup di mana hukum moral tidak berlaku.
Penjara sebagai Laboratorium Intelektual: Estetika dan Mekanika Kejahatan
Sebagian besar kehidupan dewasa Sade dihabiskan dalam isolasi, namun penjara justru menjadi ruang pembebasan bagi imajinasinya. Di Vincennes dan kemudian Bastille, ia menghadapi kebosanan yang mencekik dengan menulis naskah-naskah yang sangat luas dan mendalam. Incarserasi ini memaksa Sade untuk mengalihkan hasrat fisiknya menjadi hasrat intelektual, mengubah dorongan predatornya menjadi sistem filosofis yang terstruktur.
Penciptaan Masterpiece Kegelapan: The 120 Days of Sodom
Karya paling monumental yang ditulis selama masa ini adalah Les 120 Journées de Sodome (1785). Ditulis pada gulungan kertas sepanjang 12 meter yang disembunyikan di dinding sel Bastille, novel ini merupakan katalogisasi mekanis dari 600 jenis perversi seksual. Struktur buku ini mencerminkan obsesi Sade terhadap keteraturan dan sistem; ia membagi narasi menjadi empat bulan, di mana kekerasan meningkat dari “hasrat sederhana” menjadi “hasrat mematikan”.
Dalam teks ini, Sade menggambarkan empat tokoh prototipe penindas—seorang adipati, uskup, hakim, dan bankir—yang mewakili pilar-pilar kekuasaan masyarakat. Dengan menempatkan mereka dalam lingkungan yang terisolasi sepenuhnya (Kastil Silling), Sade mengeksplorasi apa yang terjadi ketika kekuasaan tidak lagi memiliki hambatan eksternal. Hasilnya bukan sekadar pornografi, melainkan analisis sosiologis tentang bagaimana kekuasaan yang absolut cenderung menuju pada penghancuran total subjeknya. Teknik repetisi dalam buku ini, yang sering dikritik sebagai membosankan, sebenarnya berfungsi untuk melucuti kemanusiaan dari para korbannya, mengubah mereka menjadi objek dalam mesin kesenangan yang dingin.
Dialektika Materialisme dalam Dialogue Between a Priest and a Dying Man
Selain narasi fiksi, Sade merumuskan posisi filosofisnya dalam teks-teks seperti Dialogue entre un prêtre et un moribond (1782). Di sini, ia menyatakan ateisme radikal yang didasarkan pada materialisme mekanistik. Tokoh “Pria yang Sekarat” menolak sakramen terakhir, dengan berargumen bahwa tidak ada dosa karena manusia hanyalah mesin yang digerakkan oleh hukum fisika. Jika Tuhan tidak ada, maka moralitas hanyalah kontrak buatan yang tidak memiliki dasar dalam realitas objektif.
Sade membawa logika ini ke kesimpulan yang mengerikan: jika alam itu sendiri tidak peduli pada penderitaan dan secara konstan menghancurkan untuk menciptakan, maka manusia yang mengikuti dorongan destruktifnya sebenarnya sedang bertindak selaras dengan alam. Pandangan ini membalikkan idealisme Pencerahan yang melihat alam sebagai sumber harmoni; bagi Sade, alam adalah kekuatan yang amoral, dan satu-satunya “virtue” atau kebajikan sejati adalah kejujuran dalam mengikuti dorongan egoistik seseorang.
Sade dan Revolusi Prancis: Dialektika antara Teror dan Kebebasan
Revolusi Prancis tahun 1789 memberikan konteks politik yang nyata bagi teori-teori Sade tentang kekuasaan dan kekerasan. Pembebasannya dari rumah sakit jiwa Charenton pada tahun 1790 memungkinkan dia untuk berpartisipasi dalam eksperimen sosial yang paling radikal di zamannya. Secara lahiriah, Sade mengadopsi identitas republikan, menyebut dirinya “Louis Sade” dan bergabung dengan Section des Piques.
Paradoks Warga Negara Sade
Meskipun dalam tulisannya ia memuja kekejaman, tindakan politik Sade selama Revolusi menunjukkan ambivalensi yang mendalam. Ia menjabat sebagai juri dan sekretaris revolusioner, namun ia sering kali menunjukkan moderatisme yang berbahaya. Ia menggunakan posisinya untuk melindungi keluarga mertuanya, Montreuil, dari guillotine, meskipun merekalah yang telah menjebloskannya ke penjara selama bertahun-tahun. Sikap ini menunjukkan bahwa bagi Sade, kekerasan yang dilakukan oleh negara (teror yang terlembagakan) mungkin kurang menarik dibandingkan kekerasan individual yang dilakukan berdasarkan hasrat pribadi.
Ketidakmampuan Sade untuk sepenuhnya selaras dengan Teror Jacobin akhirnya menyebabkan penahanan kembali pada tahun 1794. Ia melihat bahwa Revolusi, dalam upayanya untuk menciptakan tatanan baru, telah menciptakan mesin pembunuh yang lebih dingin dan impersonal daripada tirani monarki. Baginya, guillotine adalah kegagalan imajinasi; itu adalah pembunuhan tanpa kesenangan, kekerasan tanpa gairah. Pengalaman ini memperkuat nihilismenya, yang ia tuangkan dalam karya-karya pasca-revolusi seperti La Philosophie dans le boudoir (1795).
Antitesis Kebajikan: Justine dan Juliette
Karya-karya paling terkenal Sade, Justine (1791) dan Juliette (1797), berfungsi sebagai narasi ganda yang mengeksplorasi nasib individu dalam masyarakat yang amoral. Justine menceritakan penderitaan tanpa henti dari seorang wanita yang mencoba mempertahankan kebajikan Kristen dan moralitas tradisional. Setiap kali Justine bertindak secara bajik, ia justru dihukum, diperkosa, atau dikhianati. Sebaliknya, saudara perempuannya, Juliette, merangkul kejahatan, ateisme, dan kekejaman, yang membawanya pada kekayaan, kekuasaan, dan kebahagiaan.
Pesan Sade melalui kedua tokoh ini sangat jelas: di dunia yang diatur oleh materi dan kekuatan, “kebajikan” adalah kelemahan psikologis yang menyebabkan penghancuran diri. Kontroversi yang dihasilkan oleh buku-buku ini sangat besar sehingga Napoleon Bonaparte memerintahkan penangkapan Sade pada tahun 1801 setelah menemukan salinan naskah tersebut. Napoleon, yang berusaha memulihkan tatanan moral tradisional untuk memperkuat kekuasaannya, melihat Sade bukan hanya sebagai penulis cabul, tetapi sebagai ancaman ideologis terhadap stabilitas negara.
| Perbandingan Karakter Utama sebagai Alegori Filosofis | ||
| Karakter | Prinsip Dasar | Hasil Akhir dalam Narasi |
| Justine | Kebajikan, iman pada Tuhan, kepatuhan hukum. | Penderitaan terus-menerus dan kematian tragis oleh petir. |
| Juliette | Libertinisme, ateisme, dominasi hasrat. | Keberhasilan sosial, kekayaan, dan kepuasan hidup. |
| Penindas (Contoh: Dom Severino) | Materialisme radikal, penolakan belas kasih. | Kepuasan seksual dan kekuasaan absolut tanpa hukuman. |
Metafisika Kejahatan: Materialisme Ekstrem dan Penolakan Transendensi
Inti dari keunikan Sade terletak pada argumennya tentang alam. Ia berargumen bahwa manusia tidak memiliki kewajiban moral karena alam itu sendiri tidak memiliki moralitas. Pandangan ini merupakan radikalisasi dari filsafat materialis Pencerahan seperti yang dikemukakan oleh La Mettrie dalam L’Homme Machine. Sade melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa jika alam memerlukan penghancuran untuk melakukan regenerasi, maka kejahatan adalah kebutuhan kosmis.
Alam sebagai Kejam dan Indiferen
Sade menulis: “Kita tidak lagi bersalah dalam mengikuti impuls primitif yang mengatur kita daripada Sungai Nil karena banjirnya atau laut karena gelombangnya”. Dengan menganalogikan hasrat manusia dengan fenomena alam, ia mencoba menghilangkan konsep tanggung jawab moral. Dalam pandangannya, kemarahan, kebencian, dan nafsu untuk menyakiti adalah “suara alam” yang berbicara melalui manusia.
Konsekuensi dari pemikiran ini adalah nihilisme moral yang absolut. Sade menyatakan bahwa kata “wakil” dan “kebajikan” hanyalah makna lokal yang bergantung pada adat istiadat dan iklim. Apa yang dianggap kejahatan di satu tempat bisa menjadi kebajikan di tempat lain. Dengan merelatifkan moralitas secara total, ia membuka pintu bagi pembenaran atas tindakan apa pun, selama tindakan tersebut memberikan kenikmatan bagi subjeknya.
Transgresi sebagai Bentuk Kebebasan
Bagi Sade, kebebasan sejati hanya dapat dicapai melalui transgresi—pelanggaran terhadap batas-batas yang ditetapkan oleh masyarakat dan agama. Ia percaya bahwa imajinasi adalah satu-satunya ruang di mana manusia benar-benar bebas, dan imajinasi itu secara alami tertarik pada disfungsi dan kekacauan. “Imajinasi adalah musuh dari semua norma, pemuja dari semua kekacauan,” tulisnya. Dalam konteks ini, kekerasan seksual bukan sekadar pemuasan nafsu, melainkan tindakan metafisik untuk menegaskan kedaulatan individu atas individu lain dan atas hukum sosial.
Patologisasi Hasrat: Dari “Dosa” Menuju “Sadisme” Klinis
Warisan Sade yang paling tahan lama mungkin bukan di perpustakaan filsafat, melainkan di klinik psikiatri. Pada abad ke-19, seiring dengan munculnya seksologi sebagai sains, perilaku yang digambarkan Sade mulai diklasifikasikan sebagai patologi medis daripada sekadar “dosa” atau “kejahatan”.
Peran Richard von Krafft-Ebing
Richard von Krafft-Ebing, dalam karyanya yang monumental Psychopathia Sexualis (1886), adalah orang yang pertama kali menggunakan nama Sade untuk menamai fenomena “sadisme”. Krafft-Ebing mendefinisikan sadisme sebagai hubungan antara gairah seksual dengan tindakan kekejaman fisik terhadap orang lain. Dengan melakukan ini, ia memindahkan diskusi tentang Sade dari ranah moralitas dan hukum ke ranah medis.
Analisis medis ini mengungkapkan bahwa perilaku Sadean sering kali melibatkan ritualisasi dan repetisi, karakteristik yang sekarang dikaitkan dengan gangguan kepribadian antisosial dan parafilia. Krafft-Ebing mencatat bahwa bagi penderita sadisme, kepuasan yang diperoleh dari dominasi dan pemberian rasa sakit sering kali lebih besar daripada kepuasan seksual tradisional. Ini selaras dengan deskripsi Sade sendiri tentang “vibrasi jiwa” yang dihasilkan oleh kejutan dari penderitaan objek.
Evolusi Diagnostik
Seiring waktu, definisi sadisme berkembang dalam literatur medis seperti DSM dan ICD. Meskipun awalnya dilihat sebagai penyimpangan yang jarang, studi modern menunjukkan bahwa elemen-elemen sadistik dapat ditemukan dalam berbagai tingkat dalam perilaku manusia, dari agresi mikro hingga kejahatan serial yang terorganisir. Sade, dengan kejujurannya yang brutal, telah memetakan wilayah psikologis yang sebelumnya tidak berani diakui oleh sains.
| Evolusi Konseptual Terminus “Sadisme” | ||
| Era | Perspektif | Definisi/Interpretasi |
| Abad ke-18 | Teologis/Hukum | Kejahatan penodaan agama, sodomi, dan kekerasan kriminal. |
| Akhir Abad ke-19 | Psikiatri Awal (Krafft-Ebing) | Patologi seksual yang menghubungkan gairah dengan kekejaman fisik. |
| Abad ke-20 | Psikoanalisis (Freud/Lacan) | Ekspresi dorongan kematian (Thanatos) dan dinamika kekuasaan dalam libido. |
| Kontemporer | Klinis/Forensik | Gangguan preferensi seksual yang melibatkan penderitaan non-konsensus. |
Resepsi Intelektual Abad ke-20: Beauvoir, Foucault, dan Kaum Surealis
Setelah dilarang dan dianggap tabu selama hampir satu abad, karya Sade mengalami rehabilitasi intelektual besar-besaran di abad ke-20. Ia tidak lagi dilihat sebagai sekadar monster, melainkan sebagai nabi modernitas yang mengungkap kebenaran yang tidak nyaman tentang keinginan manusia.
Simone de Beauvoir: Must We Burn Sade?
Dalam esai klasiknya, Must We Burn Sade? (1951), Simone de Beauvoir menawarkan analisis eksistensialis yang menempatkan Sade sebagai “moralis besar”. Beauvoir berargumen bahwa Sade mengasumsikan ambiguitas kondisi manusia secara ekstrem. Dengan memilih untuk mengeksekusi hasratnya secara sadar, Sade mengubah “fakta biologis” menjadi “pilihan etis”. Namun, Beauvoir juga mengkritik Sade karena kegagalannya untuk mencapai “Liyan” (The Other). Bagi Sade, orang lain hanyalah objek untuk dimanipulasi, yang menyebabkan ia terjebak dalam “keperawanan abadi” atau ketidakmampuan untuk benar-benar berhubungan secara timbal balik dengan manusia lain.
Michel Foucault dan Sejarah Kegilaan
Michel Foucault melihat Sade sebagai tokoh kunci dalam pergeseran pemahaman Barat tentang kegilaan dan nalar. Dalam Histoire de la folie (Madness and Civilization), Foucault berpendapat bahwa pada akhir abad ke-18, nalar mencoba menjinakkan “ketidakteraturan” dengan mengurungnya. Sade adalah orang yang mengembalikan “ketidakteraturan” itu ke dalam bahasa sastra yang sangat terorganisir. Foucault melihat dalam karya Sade dan lukisan Goya sebuah pengakuan bahwa Barat bisa melampaui rasionya sendiri melalui kekerasan. Sade mewakili kebebasan absolut yang berbahaya, sebuah ruang di mana manusia menghadapi “kekosongan” yang mendominasi alam.
Pengaruh pada Kaum Surealis
Bagi kelompok Surealis, Sade adalah pahlawan revolusioner yang membebaskan hasrat dari penindasan borjuis. Guillaume Apollinaire menyebutnya sebagai “semangat paling bebas yang pernah ada”. Seniman seperti Man Ray, Salvador Dalí, dan sutradara Luis Buñuel menggunakan tema-tema Sadean untuk mengeksplorasi dorongan bawah sadar yang agresif. Mereka melihat dalam sadisme sebuah metode untuk menghancurkan institusi tradisional seperti keluarga, gereja, dan negara.
Penjara Terakhir dan Warisan di Charenton
Tahun-tahun terakhir Sade di rumah sakit jiwa Charenton (1801–1814) merupakan salah satu periode paling menarik dalam sejarah teater dan psikiatri. Di bawah pengawasan M. Coulmier, Sade diberikan kebebasan untuk mementaskan drama dengan para pasien sebagai aktor. Pementasan ini bukan sekadar terapi; itu adalah spektakel sosial di mana elit Paris datang untuk melihat “sang Marquis yang jahat” mengarahkan orang-orang gila.
Aktivitas ini diabadikan dalam drama Peter Weiss, The Persecution and Assassination of Jean-Paul Marat as Performed by the Inmates of the Asylum of Charenton Under the Direction of the Marquis de Sade (Marat/Sade). Drama ini mengeksplorasi konflik antara revolusi sosial Marat dan individualisme nihilistik Sade. Dalam narasi Weiss, Sade berdiri sebagai pengamat yang sinis, yang percaya bahwa revolusi politik tidak akan pernah bisa membebaskan manusia jika hasrat batiniah mereka tetap terpenjara.
Sade meninggal di Charenton pada 2 Desember 1814, meninggalkan instruksi agar makamnya tidak ditandai dan tubuhnya dibiarkan membusuk tanpa upacara. Namun, upayanya untuk menghilang secara fisik gagal total; secara intelektual, ia justru menjadi kehadiran yang tak terelakkan dalam diskursus modern tentang seksualitas, kekuasaan, dan batas-batasan kemanusiaan.
Sintesis Akhir: Pembebas Pikiran atau Predator Filosofis?
Menilai Marquis de Sade memerlukan penyeimbangan antara pencapaian intelektualnya yang revolusioner dan kejahatannya yang nyata dan mengerikan.
Argumen sebagai Pembebas
Sade dapat dilihat sebagai pembebas pikiran karena ia adalah orang pertama yang secara jujur dan sistematis memetakan geografi hasrat manusia yang paling gelap. Ia meruntuhkan ilusi Pencerahan bahwa manusia adalah makhluk yang secara alami rasional dan baik. Dengan melakukan hal ini, ia memberikan dasar bagi psikoanalisis modern dan filsafat eksistensialis untuk memahami manusia dalam totalitasnya, termasuk kapasitas mereka untuk kekejaman. Pengaruhnya pada seni modern menunjukkan bahwa ia telah memberikan bahasa bagi ekspresi penderitaan dan hasrat yang sebelumnya tidak terkatakan.
Argumen sebagai Predator
Namun, sulit untuk mengabaikan bahwa seluruh sistem filosofis Sade dibangun untuk membenarkan tindakan predator terhadap mereka yang lebih lemah. Sebagaimana dikemukakan oleh Michel Onfray, memuja Sade sebagai pahlawan intelektual sering kali mengabaikan penderitaan nyata dari korbannya, seperti Rose Keller. Sade menggunakan bahasa filsafat sebagai perisai untuk melindungi tindakannya yang sebenarnya adalah ekspresi dari patologi klinis yang merusak. Dalam dunianya, kebebasan individu yang satu berarti perbudakan total bagi individu yang lain—sebuah visi kebebasan yang bersifat parasit dan destruktif.
Kesimpulan
Marquis de Sade tetap menjadi cermin yang meresahkan bagi peradaban Barat. Jika Pencerahan adalah upaya untuk membawa cahaya ke dalam kegelapan ketidaktahuan, Sade adalah pengingat bahwa cahaya itu sendiri dapat mengungkap pemandangan yang mengerikan di dalam jiwa manusia. Ia berargumen bahwa jika kita benar-benar menginginkan kebebasan absolut tanpa Tuhan dan tanpa moralitas agama, maka kita harus siap menghadapi konsekuensi dari hasrat kita yang paling kejam.
Debat mengenai apakah ia adalah seorang pembebas atau predator mungkin tidak akan pernah berakhir karena Sade memang mewujudkan keduanya secara bersamaan. Ia membebaskan wacana intelektual dari sensor moral, namun ia juga melegitimasi eksploitasi manusia sebagai produk dari hukum alam. Warisannya memaksa kita untuk terus mengevaluasi batasan antara ekspresi artistik dan tanggung jawab sosial, serta mempertanyakan apakah peradaban benar-benar mampu menjinakkan “insting kejam” yang menurut Sade adalah inti dari kemanusiaan kita. Di tengah dunia modern yang masih bergulat dengan kekerasan ekstrem dan manipulasi kekuasaan, suara dari “Filsuf Kegelapan” ini tetap relevan sebagai peringatan tentang apa yang terjadi ketika rasio manusia dilepaskan sepenuhnya dari kompas empati.
