Narasi sejarah politik Barat sering kali menempatkan Niccolò Machiavelli dalam posisi yang paradoksal. Di satu sisi, ia diakui sebagai bapak ilmu politik modern yang melepaskan disiplin tersebut dari belenggu teologi dan moralitas spekulatif; di sisi lain, namanya telah menjadi sinonim bagi amoralitas, pengkhianatan, dan manipulasi sistematis. Dari Florence abad ke-16 hingga koridor kekuasaan di Washington dan Berlin saat ini, gagasan Machiavelli tentang efektivitas kekuasaan terus memicu perdebatan sengit mengenai apakah stabilitas negara dapat membenarkan tindakan yang secara moral dianggap jahat. Laporan ini mengeksplorasi kehidupan Machiavelli di tengah kekacauan Renaisans Italia, membedah teks-teks utamanya, dan menganalisis tesis yang menyatakan bahwa buku paling kontroversialnya, Il Principe (Sang Pangeran), mungkin bukanlah panduan bagi para diktator, melainkan sebuah peringatan patriotik bagi rakyat yang terjepit di bawah sepatu lars kekuatan asing.

Konteks Geopolitik: Italia sebagai Medan Tempur Bangsa-Bangsa

Untuk memahami pemikiran Machiavelli, seseorang harus memahami penderitaan Italia pada akhir abad ke-15. Italia saat itu bukan merupakan entitas politik yang bersatu, melainkan kumpulan negara-kota yang kaya namun lemah secara militer, yang terus-menerus terjebak dalam siklus persaingan internal dan intervensi asing. Florence, kota kelahiran Machiavelli, berada di jantung ketidakstabilan ini.

Struktur Kekuasaan di Semenanjung Italia

Pada tahun 1469, tahun kelahiran Machiavelli, Italia secara teoritis berada di bawah “keseimbangan kekuasaan” yang rapuh yang dirancang oleh Lorenzo de’ Medici melalui Perdamaian Lodi. Namun, keseimbangan ini hancur pada tahun 1494 ketika Raja Charles VIII dari Prancis melintasi Pegunungan Alpen, memulai periode “Perang Italia” yang akan berlangsung selama beberapa dekade dan mengubah semenanjung tersebut menjadi daerah jajahan bagi Prancis, Spanyol, dan Kekaisaran Romawi Suci.

Negara Kekuatan Utama Italia (Abad ke-15) Karakteristik Politik Hubungan dengan Machiavelli
Republik Florence Pusat budaya dan perbankan; sering berganti antara kekuasaan Medici dan sistem republik. Tempat kelahiran dan dasar karier diplomatiknya.
Negara-Negara Kepausan Dipimpin oleh Paus yang ambisius secara teritorial; pusat intrik agama dan politik. Menjadi subjek kritik tajam karena dianggap sebagai penghambat persatuan Italia.
Kerajaan Napoli Monarki di selatan yang sering diperebutkan oleh Prancis dan Spanyol. Contoh ketidakstabilan suksesi yang sering dianalisis dalam karyanya.
Kadipaten Milan Kekuatan militer dan industri di utara; sering dipimpin oleh keluarga Sforza. Model bagi analisis Machiavelli tentang pangeran yang merebut kekuasaan melalui kekuatan.
Republik Venesia Kekuatan maritim dengan sistem oligarki yang sangat stabil. Dikagumi karena stabilitasnya namun dikritik karena ketergantungan pada tentara bayaran.

Ketidakmampuan Italia untuk bersatu melawan “barbarian” (sebutan Machiavelli untuk pasukan asing) menciptakan luka mendalam pada harga diri nasional dan intelektual para pemikir zamannya. Disintegrasi ini menjadi latar belakang bagi semua tulisan Machiavelli yang menekankan pada perlunya pemimpin yang kuat dan militer nasional yang mandiri.

Formasi Intelektual dan Karier Diplomatik

Niccolò di Bernardo dei Machiavelli lahir pada 3 Mei 1469, dari keluarga yang memiliki silsilah bangsawan namun kekurangan sumber daya finansial. Ayahnya, Bernardo, adalah seorang ahli hukum yang sangat mencintai literatur klasik. Meskipun keluarga mereka tidak mampu memiliki banyak buku, Bernardo berhasil mengamankan salinan sejarah Romawi karya Livy, yang nantinya akan menjadi dasar bagi karya terbesar Machiavelli, Discorsi.

Pengalaman di Kanselir Kedua

Karier politik Machiavelli dimulai secara serius pada tahun 1498, segera setelah jatuhnya Girolamo Savonarola, biarawan radikal yang sempat menguasai Florence. Pada usia 29 tahun, Machiavelli diangkat sebagai Sekretaris Kanselir Kedua Republik Florence, sebuah posisi yang memberinya tanggung jawab atas urusan diplomatik dan militer. Selama 14 tahun bertugas, ia melakukan lebih dari 40 misi diplomatik yang memberinya kesempatan unik untuk mengamati anatomi kekuasaan secara langsung.

Dua figur utama yang ia temui selama misi ini sangat memengaruhi pemikirannya:

  1. Raja Louis XII dari Prancis: Machiavelli belajar tentang pentingnya sentralisasi kekuasaan dan bahaya jika seorang pangeran tidak memiliki militer yang setia di negaranya sendiri.
  2. Cesare Borgia: Putra Paus Alexander VI yang ambisius ini menjadi model utama bagi pangeran baru dalam Il Principe. Machiavelli menyaksikan bagaimana Borgia menggunakan kekejaman yang terukur dan tipu muslihat yang cemerlang untuk menstabilkan wilayah Romagna yang kacau.

Hubungan dengan Leonardo da Vinci

Salah satu detail unik dalam karier Machiavelli adalah kolaborasinya dengan Leonardo da Vinci. Pada tahun 1502, saat bertugas sebagai diplomat untuk Cesare Borgia, Machiavelli bertemu dengan Leonardo yang bekerja sebagai arsitek dan insinyur militer Borgia. Beberapa sejarawan berspekulasi bahwa percakapan mereka mengenai kontrol terhadap alam (seperti rencana mengalihkan aliran sungai Arno untuk melemahkan Pisa) memengaruhi konsep Machiavelli tentang fortuna sebagai sungai yang harus dikendalikan melalui bendungan virtù.

Kejatuhan, Penyiksaan, dan Lahirnya “Sang Pangeran”

Keberuntungan Machiavelli berbalik pada tahun 1512 ketika pasukan Spanyol yang didukung oleh Liga Suci memulihkan kekuasaan keluarga Medici di Florence. Republik yang ia layani selama lebih dari satu dekade runtuh dalam semalam. Machiavelli tidak hanya dipecat dari jabatannya tetapi juga dituduh terlibat dalam konspirasi melawan Medici pada tahun 1513.

Ia ditangkap dan menjalani penyiksaan strappado—sebuah metode di mana tangan korban diikat ke belakang, tubuh diangkat ke udara, dan kemudian dijatuhkan secara tiba-tiba untuk memutuskan sendi bahu. Meskipun mengalami penderitaan fisik yang luar biasa, Machiavelli tidak memberikan pengakuan, yang menunjukkan ketangguhan karakter yang ia sebut sebagai virtù. Setelah dibebaskan melalui amnesti umum, ia diasingkan ke rumah kecil ayahnya di San Casciano, di mana dalam kemiskinan dan isolasi politik, ia menulis Il Principe.

Penulisan sebagai Upaya Penyelamatan Karier

Il Principe ditulis pada akhir tahun 1513 bukan sebagai risalah akademis, melainkan sebagai “surat lamaran kerja” kepada Lorenzo di Piero de’ Medici. Machiavelli berusaha menunjukkan bahwa pengetahuannya yang diperoleh melalui “pengalaman panjang tentang urusan modern dan studi terus-menerus tentang urusan kuno” sangat berharga bagi penguasa baru untuk mempertahankan stabilitas di Florence. Ironisnya, Lorenzo mengabaikan buku tersebut, lebih tertarik pada anjing pemburu yang diberikan orang lain, dan Machiavelli tetap berada dalam ketidakpastian profesional selama sisa hidupnya.

Analisis Kedalaman Il Principe: Kebenaran yang Efektif

Karya Machiavelli yang paling terkenal ini menandai perpecahan radikal dengan tradisi filsafat politik Barat yang sudah ada sejak Plato dan Aristoteles. Jika para filsuf sebelumnya berbicara tentang bagaimana manusia seharusnya hidup, Machiavelli berfokus pada bagaimana manusia benar-benar hidup dalam kenyataan pahit.

Pemisahan Moralitas dari Politik

Tesis utama Machiavelli adalah bahwa efektivitas politik dan moralitas pribadi adalah dua domain yang terpisah dan sering kali bertentangan. Seorang pemimpin yang berusaha untuk menjadi “baik” dalam segala hal di dunia yang dipenuhi oleh orang-orang jahat pasti akan hancur.

Konsep Kunci Machiavelli Definisi Operasional dalam Politik Implikasi bagi Pemimpin
Virtù Bukan kebajikan moral, melainkan kelincahan, keberanian, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan situasi. Pemimpin harus tahu kapan harus menjadi baik dan kapan harus “masuk ke dalam kejahatan” jika diperlukan.
Fortuna Nasib atau keberuntungan yang tidak dapat diprediksi; sering kali digambarkan sebagai kekuatan destruktif. Pangeran harus membangun “bendungan” melalui persiapan militer dan hukum sebelum nasib buruk melanda.
Necessità Kebutuhan mendesak yang memaksa pemimpin untuk bertindak di luar norma moral demi keselamatan negara. Tindakan kekerasan atau penipuan dapat dibenarkan jika itu adalah satu-satunya cara untuk mencegah anarki.
Verità Effettuale Kebenaran yang efektif; analisis politik berdasarkan hasil nyata, bukan cita-cita utopis. Menolak teori-teori tentang “republik imajiner” demi stabilitas negara yang konkret.

Metafora Singa dan Rubah

Dalam Bab XVIII, Machiavelli menyarankan agar seorang pangeran meniru dua binatang: singa dan rubah. Singa tidak bisa membela diri dari jerat, dan rubah tidak bisa membela diri dari serigala. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus menjadi rubah untuk mengenali jerat (kecerdikan) dan singa untuk menakuti serigala (kekuatan fisik). Nasihat ini meruntuhkan cita-cita ksatria abad pertengahan yang menekankan kehormatan di atas segalanya. Bagi Machiavelli, seorang penguasa yang memegang janji tetapi kehilangan negaranya adalah penguasa yang gagal.

Kontradiksi yang Membingungkan: Discorsi dan Republikanisme

Sering kali diabaikan oleh pembaca kasual, Machiavelli juga menulis Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Diskursus tentang Sepuluh Buku Pertama Titus Livius). Jika Il Principe tampak seperti buku pegangan bagi diktator, Discorsi adalah pembelaan yang berapi-api terhadap sistem republik dan kebebasan sipil.

Rakyat sebagai Penjaga Kebebasan

Dalam Discorsi, Machiavelli berargumen bahwa massa secara kolektif lebih bijaksana dan lebih stabil daripada seorang pangeran tunggal. Ia menyatakan bahwa pemerintahan oleh rakyat jauh lebih baik daripada pemerintahan oleh individu, selama rakyat tersebut memiliki virtù sipil dan tidak korup.

Perbedaan antara kedua buku ini sering dijelaskan melalui konteks penggunaannya:

  1. Kepangeranan (Il Principe): Diperlukan dalam situasi krisis, transisi, atau saat mendirikan negara baru dari kekacauan total. Di sini, otoritas tunggal yang kuat sangat penting untuk memulihkan ketertiban.
  2. Republik (Discorsi): Bentuk pemerintahan yang paling stabil dan ideal untuk jangka panjang setelah fondasi negara diletakkan. Republik memungkinkan ekspansi negara dan partisipasi rakyat yang memperkuat kekuatan nasional.

Machiavelli berpendapat bahwa konflik antara kelas sosial (seperti antara kaum plebeian dan bangsawan di Roma kuno) sebenarnya merupakan mesin kemajuan yang menciptakan hukum-hukum baru yang melindungi kebebasan. Pemikiran ini sangat maju pada masanya, di mana konflik biasanya dianggap sebagai tanda kegagalan politik.

Machiavelli sebagai Patriot yang Putus Asa

Fokus tulisan ini adalah menggali sisi lain Machiavelli bukan sebagai individu yang haus darah, melainkan sebagai seorang patriot yang hancur melihat Italia terpecah belah. Bab terakhir Il Principe, yang sering dianggap sebagai tambahan emosional, berjudul “Eksortasi untuk Membebaskan Italia dari Tangan Orang Barbar”.

Eksortasi untuk Penebus Italia

Dalam bab ini, nada Machiavelli berubah dari analitis-dingin menjadi puitis-emosional. Ia membandingkan kondisi Italia yang terinjak-injak dengan perbudakan bangsa Israel di Mesir. Ia menyerukan munculnya seorang “penebus” yang dapat menyatukan Italia dan mengusir kekuatan asing. Baginya, semua taktik manipulatif yang ia sarankan dalam bab-bab sebelumnya hanyalah alat untuk mencapai tujuan suci ini: kemerdekaan Italia.

Ia mengakhiri bukunya dengan mengutip puisi patriotik Petrarch: “Kebajikan akan mengangkat senjata melawan amukan, dan pertempuran akan singkat; karena keberanian kuno di hati Italia belum mati.”.

Reformasi Militer: Keadilan di Ujung Pedang

Kecintaan Machiavelli pada tanah airnya paling jelas terlihat dalam upayanya mereformasi militer Florence. Ia sangat membenci penggunaan tentara bayaran (condottieri), yang ia anggap pengecut, serakah, dan penyebab utama kejatuhan Italia. Ia menghabiskan bertahun-tahun mencoba meyakinkan pemerintah untuk membentuk milisi warga negara yang dipersenjatai sendiri—orang-orang yang bertempur demi keluarga dan kota mereka, bukan demi emas.

Meskipun milisinya gagal melawan tentara Spanyol yang superior di Prato pada tahun 1512, keyakinan Machiavelli pada “rakyat yang bersenjata” tetap tak tergoyahkan. Baginya, sebuah negara yang bebas harus mampu membela dirinya sendiri tanpa bergantung pada bantuan luar.

Teori “Sang Pangeran” sebagai Satir dan Peringatan

Salah satu interpretasi yang paling menarik dalam sejarah pemikiran politik adalah bahwa Il Principe sebenarnya bukanlah nasihat bagi para tiran, melainkan sebuah tindakan subversif untuk memperingatkan rakyat tentang cara kerja tirani.

Pandangan Rousseau dan Mattingly

Jean-Jacques Rousseau secara eksplisit menyatakan bahwa Machiavelli adalah seorang warga negara yang baik yang terpaksa menyembunyikan cintanya pada kebebasan di bawah kekuasaan Medici. Dengan menuliskan secara mendetail kekejaman yang harus dilakukan seorang pangeran untuk mempertahankan kekuasaan, Machiavelli sebenarnya “membuka tabir” istana kepada rakyat, menunjukkan betapa mengerikannya seorang penguasa absolut itu.

Garrett Mattingly, seorang sarjana modern, mendukung teori ini dengan menyebut Il Principe sebagai sebuah satir yang cerdas. Ia berpendapat bahwa memilih Cesare Borgia sebagai model—seorang pemimpin yang meskipun kejam namun akhirnya gagal total—adalah cara Machiavelli untuk mengejek para pangeran zamannya. Mattingly menekankan bahwa bagi seorang republikan sejati seperti Machiavelli, mustahil ia secara tulus mengagumi seorang “penjahat” seperti Borgia kecuali dengan tujuan ironi.

Teori “Menjebak Pangeran” oleh Mary Dietz

Sarjana Mary Dietz mengajukan tesis yang lebih spesifik dalam karyanya “Trapping the Prince.” Ia berargumen bahwa nasihat Machiavelli kepada Lorenzo de’ Medici sebenarnya dirancang untuk menghancurkan keluarga Medici.

  1. Tinggal di Kota yang Ditaklukkan: Machiavelli menyarankan pangeran untuk tinggal di Florence, di tengah-tengah rakyat yang membenci mereka. Dietz berpendapat ini akan membuat Medici lebih mudah menjadi sasaran pembunuhan atau pemberontakan.
  2. Mempersenjatai Rakyat: Nasihat ini, menurut Dietz, ditujukan agar rakyat Florence yang pro-republik memiliki sarana militer untuk menggulingkan Medici ketika kesempatan itu tiba.
  3. Menghindari Benteng: Dengan menyarankan pangeran untuk tidak membangun benteng, Machiavelli memastikan bahwa penguasa tidak akan memiliki perlindungan fisik dari kemarahan rakyat.

Interpretasi ini mengubah posisi Machiavelli dari seorang pelayan tirani menjadi seorang agen rahasia republikanisme yang menggunakan kecerdasan intelektualnya untuk memulihkan kebebasan kotanya.

Kontroversi: Mengapa Gereja Katolik Melarang Machiavelli?

Kejujuran dingin Machiavelli tentang peran agama dalam politik membuatnya menjadi sasaran empuk otoritas agama. Pada tahun 1559, karya-karyanya secara resmi dimasukkan ke dalam Index Librorum Prohibitorum (Indeks Buku Terlarang) oleh Paus Paul IV.

Kritik terhadap Institusi dan Doktrin

Alasan utama kebencian Gereja terhadap Machiavelli bukanlah ateismenya—karena ia sendiri sering menyebut Tuhan—melainkan pandangannya bahwa agama hanyalah alat kontrol sosial yang berguna bagi stabilitas negara. Machiavelli melontarkan kritik pedas terhadap Kepausan:

  • Penyebab Disunifikasi: Ia menyalahkan Gereja karena menjaga Italia tetap terpecah. Kepausan memiliki wilayah yang cukup besar untuk mencegah persatuan, tetapi tidak cukup kuat untuk menyatukan seluruh Italia.
  • Kelemahan Karakter: Ia berpendapat bahwa etika Kristen yang menekankan kerendahan hati dan penderitaan telah membuat dunia menjadi “feminin” dan lemah, sehingga mudah dikuasai oleh orang-orang jahat. Ia lebih memuja agama Romawi kuno yang menekankan keperkasaan fisik dan kebesaran jiwa.
Sejarah Indeks Buku Terlarang (Index Librorum Prohibitorum) Tahun/Peristiwa Dampak bagi Machiavelli
Penemuan Mesin Cetak 1440-an Memungkinkan penyebaran ide-ide radikal seperti ide Machiavelli secara massal.
Konsili Trente 1545-1563 Menetapkan perlunya sensor ketat terhadap karya-karya yang dianggap heretik atau amoral.
Publikasi Indeks Pertama 1559 Karya Machiavelli secara resmi dilarang bagi seluruh umat Katolik.
Munculnya Istilah “Machiavellian” Abad ke-16 Menjadi kata sifat peyoratif untuk menunjukkan kelicikan yang “setan”.
Penghapusan Indeks 1966 Gereja secara resmi menghentikan praktik daftar buku terlarang setelah Konsili Vatikan II.

Warisan di Inggris dan Mitos “Old Nick”

Di Inggris era Elizabeth dan Jacobean, reputasi Machiavelli berkembang menjadi sesuatu yang hampir bersifat supranatural. Meskipun Il Principe tidak diterjemahkan secara resmi ke dalam bahasa Inggris sampai tahun 1640, gagasan-gagasannya menyebar melalui salinan bajakan dan ulasan-ulasan kritis dari Prancis.

Machiavelli di Panggung Shakespeare

Ada sekitar 400 referensi tentang Machiavelli dalam literatur Elizabethan. Christopher Marlowe, dalam drama The Jew of Malta, memunculkan tokoh “Machiavel” sebagai narator yang berkata, “Aku menganggap agama hanyalah mainan kekanak-kanakan, dan percaya bahwa tidak ada dosa selain ketidaktahuan”.

William Shakespeare juga menciptakan karakter “Machiavellian” yang paling sempurna dalam sosok Richard III, yang digambarkan sebagai penguasa yang licik, kejam, dan tidak berperasaan. Stereotipe ini begitu kuat sehingga nama depan Machiavelli, Niccolò, secara populer dikaitkan dengan “Old Nick,” julukan untuk setan dalam budaya Inggris—meskipun secara etimologis ini adalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja.

Abad Pencerahan dan Anti-Machiavellianisme Munafik

Pada abad ke-18, Frederick II dari Prusia (Frederick Agung) menulis sebuah sanggahan terkenal terhadap Machiavelli berjudul Anti-Machiavel, yang disunting dan diterbitkan oleh Voltaire. Frederick berargumen bahwa seorang raja haruslah menjadi pelayan utama bagi rakyatnya dan harus mematuhi prinsip-prinsip moralitas.

Namun, sejarah mencatat ironi yang luar biasa. Tak lama setelah menerbitkan buku yang mengutuk manipulasi politik tersebut, Frederick naik takhta dan segera melancarkan serangan terhadap wilayah Silesia, mengkhianati perjanjian internasional dan bertindak tepat seperti pangeran baru yang ia kutuk dalam tulisannya. Voltaire sendiri kemudian menyindir bahwa cara terbaik untuk menjadi Machiavellian adalah dengan menulis buku yang menentang Machiavelli.

Pengaruh Modern: Dari Realpolitik hingga Kissinger

Revolusi intelektual yang dimulai oleh Machiavelli tetap hidup dalam teori hubungan internasional modern. Konsep Raison d’État (Alasan Negara), yang memprioritaskan kepentingan nasional di atas norma moral atau hukum internasional, berakar langsung pada pemikirannya.

Otto von Bismarck dan Henry Kissinger

Otto von Bismarck, tokoh kunci penyatuan Jerman, sering dianggap sebagai murid Machiavelli yang paling sukses. Ia menggunakan diplomasi yang rumit, aliansi yang fleksibel, dan kekuatan militer untuk menciptakan kekaisaran Jerman, sering kali dengan mengabaikan prinsip-prinsip liberal.

Di era Perang Dingin, Henry Kissinger mengadopsi pendekatan serupa. Sebagai seorang penganut Realpolitik, Kissinger percaya bahwa stabilitas global bergantung pada keseimbangan kekuatan antara negara-negara besar, bukan pada upaya penyebaran ideologi atau moralitas universal. Kritik terhadap Kissinger sering kali menggunakan label “Machiavellian” untuk menggambarkan kebijakan luar negerinya yang dianggap mengabaikan hak asasi manusia demi keuntungan strategis.

Perbandingan Realpolitik Klasik vs Modern Karakteristik Utama Tokoh Utama
Renaissance Realism Fokus pada kelangsungan hidup negara-kota dalam anarki Italia. Niccolò Machiavelli, Cesare Borgia.
Kalsik Realpolitik Penggunaan “darah dan besi” untuk penyatuan nasional. Otto von Bismarck.
Modern Realism Keseimbangan kekuatan global di bawah ancaman nuklir. Henry Kissinger, Hans Morgenthau.

Kesimpulan: Guru bagi Para Tiran atau Guru bagi Rakyat?

Menilai Machiavelli sebagai “guru bagi para tiran” adalah sebuah simplifikasi yang mengabaikan kompleksitas kehidupan dan karyanya. Melalui analisis mendalam terhadap karier diplomatiknya, kegagalannya di medan perang, dan penderitaannya di ruang penyiksaan, muncul gambaran seorang pria yang cintanya pada Florence dan Italia melampaui rasa takutnya akan neraka.

Ia memang memisahkan politik dari moralitas pribadi, namun ia melakukannya bukan karena kebencian terhadap kebaikan, melainkan karena pengakuannya terhadap sifat tragis kekuasaan: bahwa untuk melindungi yang baik (negara, hukum, kedamaian), seseorang terkadang harus menggunakan tangan yang kotor. Jika Il Principe adalah panduan untuk kekejaman, maka itu adalah kekejaman yang digunakan untuk mengakhiri kekejaman yang lebih besar—anarki dan pendudukan asing.

Machiavelli mungkin paling baik dipahami sebagai seorang dokter politik yang memberikan diagnosis jujur dan pahit tentang penyakit yang menyerang tubuh negaranya. Seperti yang dikatakan oleh Lord Bacon, “Kita berhutang budi kepada Machiavelli dan penulis sejenisnya, yang menulis tentang apa yang dilakukan manusia, bukan apa yang seharusnya mereka lakukan”. Pada akhirnya, apakah ia seorang patriot atau penjahat, Machiavelli tetap menjadi sosok yang paling jujur dalam sejarah pemikiran Barat, yang mengingatkan kita bahwa kebebasan dan keamanan tidak pernah datang secara gratis, melainkan sering kali dibayar dengan beban hati yang paling berat dari mereka yang memimpin.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 6 =
Powered by MathCaptcha