Eksistensi Joan of Arc dalam panggung sejarah Eropa abad ke-15 merupakan salah satu anomali paling signifikan yang menantang struktur kekuasaan feodal, hierarki gerejawi, dan norma gender pada masanya. Munculnya seorang gadis desa remaja dari Domrémy yang buta huruf namun mampu menggerakkan roda peperangan besar antara Prancis dan Inggris bukan sekadar peristiwa militer, melainkan sebuah guncangan tektonik terhadap fondasi sosiopolitik abad pertengahan. Melalui klaim wahyu ilahi, Joan mampu menembus batasan kaku yang memisahkan kelas jelata dari bangsawan, serta perempuan dari ranah maskulin peperangan dan teologi. Analisis komprehensif ini akan mengeksplorasi bagaimana iman radikal Joan berfungsi sebagai katalisator bagi kebangkitan nasionalisme Prancis, sekaligus menjadi pemicu bagi kehancurannya sendiri di tangan otoritas yang merasa terancam oleh ketiadaan perantara antara dirinya dan Tuhan.
Landasan Geopolitik: Prancis di Ambang Kepunahan (1412–1428)
Konteks historis kemunculan Joan of Arc tidak dapat dipisahkan dari keputusasaan yang menyelimuti Prancis selama tahap akhir Perang Seratus Tahun. Sejak invasi William sang Penakluk pada tahun 1066, klaim raja-raja Inggris atas tanah Prancis telah menjadi sumber konflik yang berkepanjangan. Namun, pada awal abad ke-15, Prancis tidak hanya menghadapi ancaman eksternal dari Inggris, tetapi juga kehancuran internal akibat perang saudara antara faksi Armagnac, yang setia kepada Dauphin Charles VII, dan faksi Burgundia yang bersekutu dengan Inggris. Perang saudara ini menciptakan vakum otoritas yang dimanfaatkan secara maksimal oleh Inggris di bawah pimpinan Henry V.
Perjanjian Troyes pada tahun 1420 menjadi titik nadir kedaulatan Prancis. Perjanjian ini secara efektif membongkar kedaulatan Prancis dengan mengakui Henry V dari Inggris sebagai pewaris sah takhta Prancis, yang secara otomatis menyingkirkan Dauphin Charles dari garis suksesi. Kematian Charles VI, yang dikenal sebagai “Sang Gila” karena gangguan mentalnya yang parah—termasuk keyakinan bahwa dirinya terbuat dari kaca—meninggalkan krisis legitimasi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Prancis pada saat itu bukan lagi sebuah negara kesatuan, melainkan kumpulan wilayah yang terfragmentasi dan berada di bawah subordinasi kekuasaan asing.
| Data Geopolitik Prancis dan Inggris (Sekitar 1429) | |
| Kategori | Keterangan |
| Populasi Prancis | Est. 11,7 juta jiwa |
| Populasi Inggris | Est. 2,7 juta jiwa |
| Faksi Utama Prancis | Armagnac (Pro-Charles VII) vs. Burgundia (Pro-Inggris) |
| Situs Penobatan Tradisional | Reims (Dikuasai Inggris/Burgundia hingga 1429) |
| Pusat Kekuasaan Charles VII | Chinon (Wilayah Loire) |
| Titik Strategis Pengepungan | Orléans (Gerbang menuju Prancis Selatan) |
Pengepungan Orléans yang dimulai pada Oktober 1428 merupakan manifestasi fisik dari ancaman kepunahan kedaulatan Charles VII. Kota ini adalah benteng terakhir yang menghalangi pasukan Inggris untuk menguasai wilayah selatan Prancis yang masih setia kepada Armagnac. Kegagalan militer yang beruntun telah menghancurkan moral pasukan Prancis, menciptakan atmosfer keputusasaan kolektif yang mendalam. Dalam pandangan rakyat jelata, hanya intervensi ilahi yang mampu menyelamatkan Prancis dari kehancuran total.
Fenomenologi Visi: Panggilan dari Domrémy
Joan lahir sekitar tahun 1412 dalam sebuah keluarga petani properti di Domrémy, sebuah desa di timur laut Prancis yang terletak di perbatasan wilayah yang dikuasai Inggris. Meskipun dibesarkan dalam kesederhanaan pedesaan, Joan tumbuh di tengah konflik yang nyata; desanya pernah diserang oleh pasukan Burgundia pada tahun 1425, sebuah peristiwa yang kemungkinan besar memperkuat sentimen anti-Inggris dalam dirinya. Pada usia 13 tahun, Joan mulai mengklaim pengalaman mistis yang akan mengubah jalannya sejarah. Ia melaporkan mendengar suara-suara dan melihat penglihatan yang ia identifikasi sebagai Malaikat Agung Michael, Santa Catherine dari Alexandria, dan Santa Margaret dari Antioch.
Pilihan figur-figur surgawi ini memiliki makna sosiopolitik yang sangat dalam. Malaikat Agung Michael adalah tokoh pelindung bagi faksi Armagnac dan simbol perlawanan terhadap musuh-musuh Prancis. Sementara itu, Catherine dan Margaret adalah martir perawan yang dalam hagiografi Kristen dikenal karena keberanian mereka menantang otoritas duniawi demi ketaatan kepada Tuhan. Pesan yang mereka bawa kepada Joan sangat spesifik dan politis: ia diperintahkan untuk mengangkat pengepungan Orléans, mengantar Dauphin ke Reims untuk dinobatkan, dan mengusir Inggris dari Prancis.
Signifikansi teologis dari klaim Joan terletak pada hubungan “langsung” tanpa perantara klerus. Dalam masyarakat abad pertengahan yang sangat hierarkis, otoritas Gereja merupakan satu-satunya jalur yang sah untuk menafsirkan kehendak Tuhan. Dengan mengklaim komunikasi langsung, Joan secara implisit merongrong legitimasi institusional Gereja. Namun, bagi Charles VII dan rakyatnya, klaim ini menawarkan narasi penebusan: Prancis tidak ditinggalkan oleh Tuhan, melainkan sedang diuji, dan Joan adalah alat keselamatan yang dijanjikan dalam berbagai nubuatan populer tentang “Perawan dari Lorraine”.
Sisi Unik: Diplomasi Tanpa Pelatihan dan Ujian Poitiers
Salah satu pencapaian Joan yang paling luar biasa adalah kemampuannya, di usia yang sangat muda (17 tahun), untuk meyakinkan otoritas pria yang paling skeptis. Setelah dua kali ditolak oleh Robert de Baudricourt di Vaucouleurs, keteguhan hati Joan dan dukungan dari masyarakat setempat akhirnya membuahkan hasil berupa pengawalan ke istana Charles VII di Chinon. Perjalanan ini menuntut keberanian fisik dan mental, mengingat ia harus melintasi wilayah musuh dengan menyamar mengenakan pakaian pria untuk keamanan.
Pertemuan di Chinon pada Maret 1429 sering kali digambarkan sebagai momen mukjizat. Charles VII, yang merasa tidak yakin akan legitimasinya sendiri (karena tuduhan bahwa ia adalah anak haram), mencoba menguji Joan dengan menyamar di tengah kerumunan abdi dalemnya. Joan dilaporkan mampu mengenali sang Dauphin secara instan tanpa pernah melihat potretnya. Namun, bukti paling kuat yang meyakinkan Charles adalah sebuah pesan rahasia yang disampaikan Joan dalam percakapan pribadi. Meskipun isi percakapan tersebut tetap menjadi misteri, dampaknya sangat jelas: Charles memberikan dukungan penuh kepada misi Joan.
Namun, dukungan raja tidaklah cukup tanpa legitimasi agama. Charles mengirim Joan ke Poitiers untuk diperiksa oleh komisi teolog dan ahli hukum kanonik. Pemeriksaan yang berlangsung selama tiga minggu ini bertujuan untuk memastikan bahwa suara-suara Joan tidak berasal dari setan. Dalam interogasi yang melelahkan tersebut, Joan menunjukkan kecerdasan retoris yang luar biasa. Ketika ditanya mengapa Tuhan membutuhkan tentara jika Dia ingin membebaskan Prancis, Joan menjawab: “Tentara akan berperang, dan Tuhan akan memberikan kemenangan”. Komisi tersebut akhirnya menyatakan tidak menemukan kesalahan pada diri Joan, hanya kemurnian, ketaatan, dan karakter Kristen yang teladan.
| Hasil Pemeriksaan Teologis Poitiers (Maret 1429) | |
| Kriteria Pemeriksaan | Temuan Komisi |
| Karakter Moral | Sempurna, saleh, dan rendah hati |
| Status Perawan | Dikonfirmasi oleh pemeriksaan fisik (Sangat krusial untuk nubuatan) |
| Kelayakan Misi | Tidak ada bahaya teologis; disarankan untuk memberi dukungan militer |
| Retorika | Mampu menjawab jebakan logika dengan kesederhanaan yang mendalam |
Sains Perang Joan: Inovasi Taktis dan Kepemimpinan Karismatik
Mitos yang sering kali menggambarkan Joan hanya sebagai simbol moral mengabaikan kecakapannya yang nyata dalam aspek teknis peperangan. Joan of Arc bukanlah sekadar maskot; ia adalah seorang komandan lapangan yang agresif dan memiliki pemahaman intuitif tentang strategi militer modern pada masanya, khususnya dalam penggunaan artileri.
Sebelum kedatangan Joan, para jenderal Prancis terjebak dalam paradigma defensif yang kaku dan trauma akibat kekalahan-kekalahan besar seperti Agincourt. Joan membawa perspektif luar yang radikal: ia memahami bahwa Prancis memiliki keunggulan jumlah personel dan sumber daya domestik yang dapat dimobilisasi jika moral mereka dipulihkan. Ia memperkenalkan gaya perang ofensif yang mengabaikan tradisi negosiasi yang bertele-tele, lebih memilih serangan frontal yang cepat dan menentukan.
Salah satu kontribusi paling signifikan Joan adalah dalam penempatan dan penggunaan artileri bubuk mesiu. Duke of Alençon, salah satu komandan tertinggi Charles VII, memberikan kesaksian bahwa Joan memiliki keahlian yang menakjubkan dalam menempatkan meriam—suatu keterampilan yang biasanya hanya dimiliki oleh kapten berpengalaman selama puluhan tahun. Joan menggeser fungsi meriam dari sekadar alat penakut menjadi senjata pengepungan yang efektif untuk menghancurkan dinding benteng dan menciptakan celah bagi serangan infanteri.
| Analisis Taktis Militer Joan of Arc | |
| Aspek Taktis | Inovasi Joan |
| Penggunaan Artileri | Konsentrasi tembakan pada satu titik untuk menciptakan breccia (celah) |
| Formasi Tempur | Agresivitas tinggi; memimpin dari barisan paling depan dengan panji |
| Reformasi Moral | Melarang perjudian, makian, dan mengusir pelacur dari kamp militer |
| Intelijen | Menuntut serangan segera sebelum musuh sempat mengonsolidasi posisi |
| Dampak Psikologis | Mengubah persepsi tentara Inggris dari “tak terkalahkan” menjadi “ketakutan” |
Di Orléans, keberanian Joan menjadi faktor penentu. Meskipun terluka oleh anak panah di bahu saat menyerang benteng Les Tourelles, ia menolak untuk meninggalkan medan tempur dan justru memimpin serangan final yang berhasil mengusir Inggris dari kota tersebut hanya dalam waktu sembilan hari. Keberhasilan ini diikuti oleh kemenangan telak di Pertempuran Patay, di mana pasukan kavaleri Prancis berhasil menghancurkan korps pemanah panjang Inggris yang legendaris sebelum mereka sempat mengatur posisi pertahanan. Kemenangan-kemenangan ini membuka jalan menuju Reims, di mana Charles VII akhirnya dinobatkan sebagai Raja Prancis yang sah pada Juli 1429, dengan Joan berdiri di sampingnya memegang panji kemenangan.
Kontroversi Gender dan Pakaian Pria: Antara Keamanan dan Teologi
Guncangan paling kaku terhadap struktur kekuasaan pria yang dilakukan Joan bukan hanya di medan perang, melainkan dalam pilihannya untuk mengenakan pakaian pria. Bagi masyarakat abad pertengahan, pakaian bukan sekadar mode, melainkan penanda status sosial dan kodrat ilahi yang tidak boleh dilanggar. Tuduhan penyesatan (heresy) terhadap Joan sebagian besar berpusat pada pelanggaran terhadap instruksi Alkitab yang melarang pertukaran pakaian antara laki-laki dan perempuan.
Namun, bagi Joan, pakaian pria adalah sebuah keniscayaan praktis dan strategis. Pertama, dalam konteks militer, pakaian tersebut memungkinkannya mengenakan baju besi dengan benar dan bergerak lincah di atas kuda. Kedua, dan yang lebih penting, pakaian pria yang diikat erat dengan tali-tali yang kompleks berfungsi sebagai perisai fisik terhadap ancaman kekerasan seksual. Jean de Novelonpont, salah satu pendamping awalnya, mencatat bahwa penggunaan pakaian pria dianggap wajar untuk melindungi kehormatan seorang perawan yang harus tinggal dan tidur di antara ribuan tentara laki-laki.
Perspektif akademis modern melihat tindakan ini sebagai tantangan terhadap biner gender tradisional. Joan tidak hanya sekadar “menyamar” menjadi laki-laki; ia menciptakan identitas baru sebagai “Sang Perawan” (La Pucelle) yang melampaui batasan jenis kelamin. Ia menolak untuk didefinisikan oleh peran domestik perempuan namun juga tidak sepenuhnya mengadopsi identitas laki-laki secara biologis. Keteguhannya untuk mempertahankan gaya rambut “bowl cut” dan pakaian maskulin bahkan di bawah ancaman hukuman mati menunjukkan bahwa bagi Joan, identitas ini adalah bagian integral dari misi ilahinya yang tidak dapat dikompromikan oleh otoritas manusia mana pun.
Dinamika Pengkhianatan: Kejatuhan di Compiègne dan Inaksi Charles VII
Tragedi Joan of Arc memuncak bukan karena kekalahan di medan perang oleh musuh, melainkan karena pergeseran prioritas politik di istana yang ia selamatkan. Setelah penobatan di Reims, pengaruh Joan mulai dianggap sebagai beban oleh faksi moderat di istana Charles VII yang lebih memilih jalur negosiasi dengan faksi Burgundia. Charles sendiri, yang sifat aslinya cenderung ragu-ragu dan mudah dipengaruhi, mulai menjauhkan diri dari strategi perang total yang diusung Joan.
Pada 23 Mei 1430, saat memimpin serangan kecil untuk membantu kota Compiègne, Joan terjebak dalam sebuah peristiwa yang hingga kini masih diperdebatkan sebagai ketidaksengajaan atau pengkhianatan terencana. Ketika pasukan Prancis terpaksa mundur ke dalam kota, gubernur Compiègne, Guillaume de Flavy, memerintahkan penutupan gerbang kota dan pengangkatan jembatan sebelum Joan sempat masuk. Joan ditinggalkan sendirian di luar gerbang dan akhirnya ditangkap oleh pasukan Burgundia di bawah pimpinan Jean de Luxembourg.
Yang paling mengejutkan dalam sejarah adalah reaksi—atau ketiadaan reaksi—dari Charles VII. Meskipun Joan adalah pahlawan nasional yang telah memberikan mahkota kepadanya, Charles tidak melakukan upaya tebusan atau diplomasi untuk menyelamatkannya. Ada beberapa spekulasi mengenai hal ini: Charles mungkin merasa iri dengan popularitas Joan yang melampaui dirinya, atau ia mungkin melihat Joan sebagai liabilitas politik yang dapat merusak proses perdamaian dengan faksi Burgundia. Setelah berbulan-bulan berpindah tangan sebagai tawanan perang, Joan akhirnya dijual kepada pihak Inggris seharga 10.000 livres—sebuah nilai yang sangat besar, menunjukkan betapa berharganya ia sebagai simbol politik di mata musuh.
Persidangan di Rouen: Manipulasi Hukum Gereja dan Intrik Politik
Persidangan Joan of Arc di Rouen (1431) merupakan salah satu proses hukum paling terdokumentasi sekaligus paling bias dalam sejarah abad pertengahan. Inggris sangat membutuhkan vonis bersalah terhadap Joan untuk membuktikan bahwa kemenangan Prancis adalah hasil dari sihir setan, sehingga secara otomatis mendelegitimasi penobatan Charles VII. Persidangan ini dipimpin oleh Pierre Cauchon, Uskup Beauvais yang merupakan sekutu setia Inggris, dan dilaksanakan di bawah tekanan militer Inggris di Rouen.
Joan menghadapi serangkaian interogasi yang dirancang untuk menjebaknya dalam kesalahan doktrinal yang fatal. Sebagai seorang gadis desa yang buta huruf, ia harus berhadapan dengan puluhan teolog dan ahli hukum lulusan Universitas Paris yang terlatih dalam logika skolastik. Namun, transkrip persidangan menunjukkan bahwa Joan sering kali mengungguli para pemeriksanya dengan jawaban-jawaban yang brilian. Contoh yang paling terkenal adalah ketika ia ditanya apakah ia berada dalam keadaan “rahmat Tuhan” (God’s grace). Pertanyaan ini adalah jebakan teologis: jika ia menjawab ya, ia bersalah karena kesombongan (karena tidak ada yang bisa memastikan rahmat Tuhan); jika ia menjawab tidak, ia mengakui dirinya berdosa. Joan menjawab: “Jika saya tidak berada dalam rahmat-Nya, semoga Tuhan menempatkan saya di sana; jika saya berada di sana, semoga Dia tetap menjaga saya di sana”. Jawaban ini membuat para hakimnya terdiam karena ketepatan teologisnya yang sempurna.
Meskipun demikian, vonis sudah ditentukan sebelum persidangan dimulai. Joan didakwa atas 70 pasal, yang kemudian diringkas menjadi 12 artikel utama, termasuk tuduhan penyesatan karena klaim hubungan langsung dengan Tuhan dan pelanggaran gender karena berpakaian pria. Di bawah ancaman siksaan api dan kelelahan mental, Joan sempat menandatangani formulir abjurasi atau pencabutan klaim. Namun, setelah kembali ke penjara dan menghadapi upaya kekerasan seksual oleh penjaga Inggris, ia kembali mengenakan pakaian pria—sebuah tindakan yang digunakan Cauchon untuk menyatakannya sebagai “heretik yang kambuh” (relapsed heretic). Hukuman mati pun dijatuhkan.
Martir di Atas Api: Detik-Detik Terakhir di Rouen
Pada pagi hari tanggal 30 Mei 1431, Joan of Arc dibawa ke Old Market Square di Rouen untuk dieksekusi. Bahkan dalam menghadapi kematian yang mengerikan, Joan menunjukkan keteguhan iman yang mengguncang para penontonnya. Ia meminta seorang pendeta untuk memegang salib prosesi di depannya agar ia bisa menatap Kristus hingga akhir hayatnya. Saat api mulai berkobar, ia berkali-kali meneriakkan nama “Yesus”.
Kematiannya segera menimbulkan rasa bersalah yang mendalam di kalangan mereka yang terlibat. Penulis catatan sejarah melaporkan bahwa bahkan algojo yang bertugas merasa ngeri dan takut akan dikutuk karena telah membakar seorang wanita yang saleh. Abu jenazahnya dibuang ke Sungai Seine untuk mencegah munculnya relikui atau tempat ziarah, namun tindakan ini gagal mengubur pengaruhnya. Sebaliknya, eksekusi tersebut mengubah Joan dari seorang pemimpin militer menjadi martir nasional yang menginspirasi kebangkitan total Prancis dalam dekade-dekade berikutnya.
Dekonstruksi Medis Modern: Mencari Penjelasan Rasional di Balik Suara
Dalam upaya memahami Joan of Arc dari perspektif modern, sains kedokteran telah mengajukan berbagai diagnosis potensial untuk menjelaskan suara-suara dan visi yang ia alami. Meskipun upaya ini sering kali bersifat spekulatif karena keterbatasan bukti fisik, analisis terhadap transkrip persidangan memberikan beberapa petunjuk yang menarik.
Epilepsi Lobus Temporal (TLE)
Hipotesis yang paling banyak diterima di kalangan neurolog adalah Idiopathic Partial Epilepsy with Auditory Features. Penderita TLE sering mengalami halusinasi auditori yang sangat nyata, terkadang disertai visi cahaya terang, yang sangat mirip dengan deskripsi Joan tentang kedatangan suara-suaranya yang sering disertai cahaya. Fakta bahwa suara-suaranya sering dipicu oleh bunyi lonceng gereja atau rangsangan auditori tertentu juga sesuai dengan pemicu klasik serangan kejang epilepsi. Namun, kritikus teori ini menunjukkan bahwa suara-suara Joan tidaklah acak atau tidak logis, melainkan memberikan instruksi strategis dan konsisten selama bertahun-tahun—suatu hal yang jarang ditemukan dalam kasus epilepsi murni.
Skizofrenia dan Gangguan Psikotik
Skizofrenia sering diajukan sebagai penjelasan karena adanya halusinasi auditori dan visi religius yang megah. Namun, diagnosis ini menghadapi tantangan besar karena tingkat fungsional Joan yang sangat tinggi. Penderita skizofrenia yang tidak diobati biasanya mengalami kemerosotan kognitif yang cepat, kehilangan kemampuan untuk berargumen secara logis, dan perilaku yang tidak teratur. Sebaliknya, Joan menunjukkan kecerdasan luar biasa, ketajaman retorika di pengadilan, dan kemampuan untuk mengelola logistik militer yang kompleks.
Kondisi Medis Lainnya
Beberapa peneliti juga mengeksplorasi kemungkinan Tuberkulosis Bovine yang dapat menyebabkan lesi kalsifikasi di lobus temporal, atau Anoreksia Nervosa yang berkaitan dengan fenomena “Holy Anorexia” di abad pertengahan. Joan dilaporkan tidak mengalami menstruasi (amenore), yang dalam pandangan pendukungnya adalah tanda kemurnian, namun secara medis dapat dijelaskan oleh stres ekstrem, asupan kalori yang sangat rendah, dan aktivitas fisik yang berat.
| Analisis Diferensial Diagnosis Modern terhadap Joan of Arc | ||
| Kondisi | Bukti Mendukung | Kelemahan Teori |
| Epilepsi Lobus Temporal | Suara dipicu lonceng; halusinasi cahaya; episode singkat | Isi pesan terlalu kompleks dan koheren untuk kejang acak |
| Skizofrenia | Halusinasi terus-menerus; wahyu kebesaran | Tidak ada disorganisasi kognitif; performa militer luar biasa |
| Autism Spectrum (ASD) | Sifat penyendiri; single-mindedness; sulit memahami mind-reading orang lain | Mampu memobilisasi massa dan memimpin tentara melalui karisma |
| Anoreksia Nervosa | Makan sangat sedikit; amenore; kontrol diri ekstrem | Tidak ada distorsi citra tubuh; motivasi bersifat teologis |
Pada akhirnya, diagnosis tunggal mungkin tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan Joan. Seperti yang dicatat oleh beberapa ahli, kemungkinan besar Joan memiliki profil neurodevelopmental yang unik yang berinteraksi secara kuat dengan lingkungan religius dan krisis politik abad ke-15.
Perjalanan Menuju Kekudusan: Rehabilitasi 1456 dan Kanonisasi 1920
Keadilan bagi Joan baru mulai ditegakkan setelah Prancis berhasil memenangkan perang. Charles VII menyadari bahwa legitimasinya sebagai raja akan selalu cacat jika pahlawan yang mengantarnya ke takhta tetap dianggap sebagai seorang penyihir dan heretik. Pada tahun 1455, di bawah perlindungan Paus Callixtus III, Persidangan Nullitas (Rehabilitation Trial) dibuka. Penyelidikan ini mengumpulkan kesaksian dari 115 saksi hidup, termasuk ibu Joan, Isabelle Romée, yang memberikan pembelaan emosional untuk membersihkan nama putrinya.
Vonis pada 7 Juli 1456 secara resmi membatalkan hukuman tahun 1431, menyatakannya sebagai hasil dari proses yang penuh dengan kecurangan, intimidasi, dan kesalahan hukum. Meskipun ia telah dibersihkan dari tuduhan kejahatan, Joan tetap menjadi sosok “santo rakyat” selama berabad-abad sebelum akhirnya diakui secara resmi oleh Vatikan.
Kanonisasi Joan of Arc pada 16 Mei 1920 oleh Paus Benedictus XV merupakan peristiwa politik dan agama yang signifikan di abad ke-20. Di tengah gejolak pasca-Perang Dunia I, Prancis membutuhkan simbol persatuan nasional, dan Gereja Katolik ingin memperkuat hubungannya dengan negara Prancis yang sekuler. Joan dikanonisasikan sebagai perawan yang melambangkan integritas moral dan pengabdian kepada tanah air, mengukuhkan posisinya sebagai pelindung abadi Prancis.
Warisan: Ikon Feminisme, Nasionalisme, dan Iman Radikal
Warisan Joan of Arc terus ditarik-ulur oleh berbagai spektrum ideologi. Sebagai pahlawan nasional, ia dianggap sebagai sosok yang melahirkan konsep nasionalisme modern, mengubah loyalitas dari sekadar kepada tuan tanah (feodal) menjadi kepada konsep bangsa dan negara. Bagi gerakan feminis, ia adalah pionir yang menghancurkan batasan gender, membuktikan bahwa seorang perempuan mampu memimpin dalam arena yang paling maskulin sekalipun tanpa harus mengorbankan integritasnya.
Namun, pelajaran paling mendalam dari kisah Joan of Arc adalah tentang kekuatan iman yang radikal dalam mengguncang struktur kekuasaan. Iman Joan bukan hanya masalah spiritualitas pribadi, melainkan sebuah kekuatan politik yang mampu memobilisasi massa dan menakut-nakuti imperium. Di dunia yang dikuasai oleh laki-laki, pedang, dan dogma gerejawi, seorang gadis desa remaja mampu berdiri tegak dan menyatakan bahwa kebenaran yang ia dengar langsung dari Tuhan lebih tinggi daripada instruksi raja atau ancaman inkuisisi.
Joan of Arc tetap menjadi sosok yang tidak dapat dipenjarakan dalam satu kategori. Ia adalah martir, pemimpin militer, penderita gangguan (mungkin), namun di atas semua itu, ia adalah bukti sejarah bahwa keberanian individu yang dipicu oleh keyakinan yang tak tergoyahkan dapat mengubah arah sejarah dunia. Pengkhianatannya oleh raja yang ia selamatkan dan eksekusinya oleh musuh yang ia kalahkan hanya memperkuat statusnya sebagai salah satu figur paling tragis sekaligus paling agung dalam peradaban manusia.
| Transformasi Citra Joan of Arc dalam Sejarah | |
| Era | Persepsi Dominan |
| 1431 | Heretik, penyihir, dan wanita yang menyimpang dari kodrat |
| 1456 | Korban inkuisisi yang tidak adil; pahlawan nasional yang direhabilitasi |
| Abad ke-19 | Simbol Romantisisme; pejuang kebebasan melawan tirani asing |
| 1920-Sekarang | Santa Katolik; ikon feminis; lambang persatuan Prancis |
| Perspektif Medis | Objek studi kasus neurologi dan psikiatri modern |
Eksplorasi terhadap kehidupan Joan of Arc (1412–1431) memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana sebuah entitas yang tampaknya tidak berdaya—seorang gadis desa tanpa pendidikan—dapat menjadi ancaman paling eksistensial bagi struktur kekuasaan yang telah mapan selama berabad-abad. Melalui iman radikalnya, ia memaksa dunia untuk mendefinisikan ulang batas-batas antara yang ilahi dan manusiawi, antara laki-laki dan perempuan, serta antara penguasa dan rakyat.
