Eksistensi Haile Selassie I dalam panggung sejarah dunia merupakan sebuah studi kasus yang mendalam mengenai bagaimana personifikasi kekuasaan politik dapat bersinggungan dengan deifikasi spiritual transnasional. Sebagai Kaisar Etiopia yang memerintah dari tahun 1930 hingga 1974, ia bukan sekadar kepala negara dari sebuah negara di Tanduk Afrika; ia adalah representasi hidup dari Dinasti Salomon yang diklaim telah bertahan selama tiga milenium. Di kancah internasional, Selassie diakui sebagai pahlawan anti-kolonialisme dan internasionalisme, sosok yang berdiri teguh di hadapan Liga Bangsa-Bangsa untuk menentang agresi fasis Italia. Namun, di balik kemegahan diplomatik tersebut, terdapat lapisan kontradiksi yang sangat kontras: seorang Kaisar Kristen Ortodoks yang saleh yang secara tidak sengaja menjadi Tuhan bagi gerakan Rastafari di Jamaika, serta seorang penguasa absolut yang terjebak dalam sistem feodal yang ia coba modernisasi namun justru akhirnya melumat takhtanya sendiri. Laporan ini akan membedah secara komprehensif perjalanan hidup, ideologi, kebijakan, hingga kejatuhan tragis sang Kaisar, dengan fokus pada paradoks antara citranya sebagai “Singa Penakluk dari Suku Yehuda” dengan realitas kelaparan rakyat yang mengakhiri kekuasaannya.

Genealogi Solomonic dan Fondasi Legitimasi Kekaisaran

Legitimasi Haile Selassie I berakar pada narasi sejarah dan religius yang sangat kuat di Etiopia. Ia adalah keturunan ke-225 dari garis keturunan yang dirunut kembali ke Raja Salomo (Solomon) dari Israel dan Ratu Syeba (Makeda) dari Etiopia. Narasi ini secara formal didokumentasikan dalam Kebra Negast (Kemuliaan Para Raja), sebuah teks kuno yang menjadi landasan teologis bagi konsep kedaulatan Etiopia. Menurut tradisi ini, putra Salomo dan Syeba, Menelik I, membawa Tabut Perjanjian ke Etiopia, yang secara efektif mentransfer status “Bangsa Terpilih” dari Israel ke Etiopia.

Bagi Haile Selassie, silsilah ini bukan sekadar kebanggaan keluarga, melainkan instrumen politik utama untuk menyatukan wilayah-wilayah Etiopia yang beragam dan bersifat feodal. Sebagai putra dari Ras Makonnen, sepupu dan penasihat utama Kaisar Menelik II, Selassie lahir di Ejersa Goro pada 23 Juli 1892 dengan nama Tafari Makonnen. Sejak usia dini, ia dididik dalam tradisi gereja Ortodoks serta ilmu pengetahuan modern melalui tutor privat Eropa, sebuah persiapan yang menjadikannya sosok hibrida antara tradisi kuno dan visi modern.

Gelar Haile Selassie I Makna dan Signifikansi
Haile Selassie “Kekuatan Tritunggal” (Nama takhta setelah penobatan).
Negusa Nagast “Raja dari Segala Raja”.
Mo’a Anbessa Ze’imnegede Yihuda “Singa Penakluk dari Suku Yehuda”.
Seyoume Igzi’abeher “Terpilih Tuhan”.
Janhoy “Yang Mulia” (Panggilan penghormatan oleh rakyat Etiopia).

Transformasi Menuju Kekuasaan: Periode Bupati dan Kaisar Baru

Jalan Tafari Makonnen menuju takhta tidaklah linier dan dipenuhi dengan intrik politik internal. Setelah wafatnya Menelik II pada 1913, Etiopia mengalami ketidakstabilan di bawah kepemimpinan Lij Iyasu, yang dianggap terlalu condong pada Islam, yang kemudian memicu kekhawatiran di kalangan bangsawan Kristen Ortodoks dan gereja. Pada 1916, Iyasu digulingkan dalam sebuah kudeta istana, dan Zewditu (putri Menelik II) diangkat sebagai Permaisuri, sementara Tafari ditunjuk sebagai Bupati (Enderase) dan ahli waris takhta.

Selama masa jabatannya sebagai Bupati (1916–1930), Tafari memulai agenda modernisasi yang agresif untuk memperkuat otoritas pusat dan mengurangi kekuasaan para bangsawan lokal (Mesafint). Ia secara bertahap menghapuskan sistem perpajakan feodal dan memperluas layanan sipil yang digaji, sebuah langkah radikal dalam masyarakat yang masih sangat bergantung pada upeti tanah. Puncak dari perjalanan ini terjadi pada 2 November 1930, ketika ia dimahkotai sebagai Kaisar Haile Selassie I dalam sebuah upacara megah yang dihadiri oleh perwakilan dari seluruh dunia, sebuah acara yang memakan waktu persiapan selama tujuh bulan dan bertujuan untuk memproyeksikan citra Etiopia sebagai negara berdaulat di tengah era kolonialisme.

Penobatan tersebut bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga titik awal bagi perubahan konstitusional yang signifikan. Pada 1931, Selassie memperkenalkan konstitusi tertulis pertama Etiopia. Meskipun konstitusi ini secara formal menciptakan struktur pemerintahan modern, tujuannya tetaplah sentralisasi kekuasaan absolut di tangan Kaisar. Selassie memandang modernisasi bukan sebagai demokratisasi, melainkan sebagai cara untuk membangun pertahanan nasional dan efisiensi birokrasi agar Etiopia tetap merdeka.

Perlawanan Terhadap Fasisme Italia dan Kepemimpinan di Liga Bangsa-Bangsa

Ujian terbesar bagi kepemimpinan Haile Selassie terjadi pada tahun 1935 ketika Italia, di bawah rezim fasis Benito Mussolini, menginvasi Etiopia. Invasi ini merupakan kelanjutan dari ambisi kolonial Italia yang sebelumnya telah dipermalukan dalam Pertempuran Adwa pada 1896. Meskipun Etiopia berjuang dengan keberanian yang luar biasa, tentara Selassie tidak sebanding dengan persenjataan modern Italia yang menggunakan tank, pesawat terbang, dan yang paling mengerikan, senjata kimia berupa gas mustard.

Kaisar memimpin perlawanan di medan perang secara langsung sebelum akhirnya terpaksa mengasingkan diri ke Inggris pada Mei 1936. Di pengasingan, Selassie tidak menyerah pada kedaulatan negaranya. Pada 30 Juni 1936, ia menyampaikan pidato bersejarah di hadapan majelis Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa. Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Amharik, ia mengutuk ketidakadilan agresi Italia dan pengkhianatan komunitas internasional terhadap janji keamanan kolektif.

Peringatan Selassie sangatlah profetik: ia menyatakan bahwa agresi terhadap Etiopia hanyalah awal dari ancaman yang lebih besar bagi perdamaian dunia. Ia menegaskan bahwa moralitas internasional sedang dipertaruhkan, dan kegagalan untuk membantu Etiopia akan membawa malapetaka bagi negara-negara kecil lainnya. Kutipannya yang terkenal, “Hari ini kami, besok kalian,” terbukti menjadi kenyataan ketika Perang Dunia II meletus hanya tiga tahun kemudian. Pidato ini menjadikan Selassie ikon anti-fasis global dan “Man of the Year” versi majalah TIME tahun 1935.

Tanggal Penting Perang Italo-Ethiopia II Peristiwa
3 Oktober 1935 Pasukan Italia menginvasi Etiopia tanpa deklarasi perang resmi.
5 Mei 1936 Pasukan Italia menduduki Addis Ababa; Selassie meninggalkan negara.
30 Juni 1936 Pidato bersejarah Selassie di Liga Bangsa-Bangsa, Jenewa.
19 Januari 1941 Kampanye pembebasan dimulai oleh pasukan Inggris dan Etiopia.
5 Mei 1941 Selassie kembali ke Addis Ababa tepat lima tahun setelah kejatuhannya.

Deifikasi Transnasional: Haile Selassie dan Gerakan Rastafari

Paradoks paling mencolok dalam kehidupan Haile Selassie adalah deifikasinya oleh jutaan orang di luar negeri, terutama di Jamaika, sebuah fenomena yang dimulai tanpa campur tangan aktif dari Kaisar sendiri. Gerakan Rastafari muncul pada tahun 1930-an, terinspirasi oleh ajaran aktivis kulit hitam Marcus Garvey yang menubuatkan akan lahirnya seorang raja kulit hitam di Afrika yang akan membebaskan diaspora kulit hitam dari penindasan “Babilonia” (Barat). Ketika Selassie dimahkotai dengan gelar “Singa Penakluk dari Suku Yehuda” dan “Raja dari Segala Raja,” para penganut Rastafari melihatnya sebagai pemenuhan nubuatan alkitabiah tentang reinkarnasi Kristus atau Mesias kulit hitam.

Posisi ini sangatlah canggung bagi Selassie. Sebagai seorang pemimpin Gereja Kristen Ortodoks Etiopia yang taat, ia memandang dirinya sebagai manusia biasa yang dipilih Tuhan untuk memimpin, bukan sebagai Tuhan itu sendiri. Namun, ia juga menyadari bahwa dukungan diaspora kulit hitam sangat penting bagi kedaulatan Etiopia, terutama selama masa pendudukan Italia. Selassie membalas dukungan ini dengan memberikan hibah tanah seluas 500 hektar di Shashamane kepada “orang-orang kulit hitam di Barat” yang telah mendukung Etiopia selama perang. Shashamane hingga kini menjadi titik pusat spiritual bagi komunitas Rastafari di Afrika.

Kunjungan Selassie ke Jamaika pada 21 April 1966—yang kini dirayakan sebagai Grounation Day—merupakan salah satu peristiwa paling emosional dalam sejarah gerakan ini. Sekitar 100.000 penganut Rastafari memenuhi bandara Palisadoes di Kingston, mengabaikan semua protokol keamanan untuk menyentuh pesawat atau pakaian sang Kaisar yang mereka anggap sebagai Jah (Tuhan). Selassie dilaporkan meneteskan air mata melihat pengabdian luar biasa tersebut, dan meskipun ia secara pribadi menolak klaim ketuhanannya dalam wawancara selanjutnya, ia memperlakukan para penatua Rastafari dengan rasa hormat yang mendalam, bahkan menganugerahkan medali emas kepada mereka.

Visi Pan-Afrikanisme dan Diplomasi Asia-Afrika

Di kancah internasional, Haile Selassie memosisikan Etiopia sebagai mercusuar kemerdekaan Afrika. Ia menjadi tokoh sentral dalam pembentukan Organisasi Persatuan Afrika (OAU) pada tahun 1963, di mana ia terpilih sebagai ketua pertamanya. Visi internasionalis Selassie melampaui benua Afrika, yang dibuktikan dengan partisipasi aktifnya dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Meskipun delegasi Etiopia bersikap cukup diplomatis di Bandung, kehadiran mereka menegaskan peran Etiopia sebagai jembatan antara dua benua yang sedang bangkit melawan kolonialisme.

Hubungan Selassie dengan Indonesia semakin dipererat melalui kunjungan kenegaraannya ke Jakarta dan Yogyakarta pada Juli 1958. Presiden Sukarno menyambutnya dengan resepsi megah di Istana Merdeka dan memujinya sebagai pemimpin spiritual dan simbol perlawanan terhadap penindasan. Selassie menunjukkan rasa hormat yang besar terhadap keragaman budaya Indonesia dengan mengunjungi Candi Borobudur dan berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia, di mana ia menekankan bahwa kekuatan bangsa-bangsa pascakolonial terletak pada pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Tonggak Sejarah Diplomasi Etiopia-Indonesia Detail Peristiwa
Konferensi Bandung (1955) Etiopia hadir sebagai salah satu negara Afrika merdeka yang mendukung solidaritas Afro-Asia.
Kunjungan Jakarta (1958) Pertemuan puncak dengan Presiden Sukarno; penandatanganan perjanjian pertukaran budaya.
Kunjungan Yogyakarta (1958) Selassie mengunjungi Borobudur dan berdiskusi dengan kaum intelektual tentang kemerdekaan.
Solidaritas PBB Etiopia dan Indonesia secara konsisten saling mendukung dalam isu-isu dekolonisasi.

Kontroversi Gaya Hidup Istana: Kemewahan di Tengah Kemiskinan

Sementara Haile Selassie dipuji di luar negeri, ketegangan di dalam negeri mulai meningkat akibat perbedaan yang mencolok antara gaya hidup elit kekaisaran dan realitas ekonomi rakyat jelata. Selassie mengelola istananya dengan kemegahan yang sangat teratur dan kaku, sebuah warisan dari sistem feodal yang telah bertahan berabad-abad. Wartawan Ryszard Kapuściński mendokumentasikan bagaimana kaisar dikelilingi oleh para pembantu yang memiliki tugas-tugas yang sangat spesifik dan terkadang absurd, seperti “pembawa bantal” yang bertugas memastikan kaki kaisar tidak tergantung saat duduk di takhta besar.

Simbol paling mencolok dari kemewahan ini adalah koleksi singa peliharaan sang Kaisar, terutama singa bernama Mochuria dan Mollua. Di saat rakyat jelata berjuang untuk mendapatkan makanan dasar, beredar cerita bahwa singa-singa kekaisaran diberi makan daging segar dalam jumlah besar setiap hari. Kontras ini menjadi alat propaganda yang sangat efektif bagi kelompok oposisi, terutama dari kalangan mahasiswa dan intelektual yang terinspirasi oleh ideologi Marxisme. Kritik terhadap Kaisar tidak hanya tertuju pada kemewahan pribadinya, tetapi juga pada kegagalannya dalam melakukan reformasi tanah yang krusial bagi kesejahteraan mayoritas petani Etiopia.

Selassie dianggap terjebak dalam delusi kekuasaan suci, di mana ia memandang dirinya sebagai “ayah” bagi bangsa yang tidak boleh dipertanyakan. Meskipun ia membangun sekolah dan rumah sakit, otoritasnya tetaplah otokratis dan illiberal. Ketidakmampuannya untuk bertransisi dari penguasa absolut menjadi raja konstitusional yang modern menciptakan vakum kepemimpinan yang berbahaya saat krisis melanda.

Tragedi Kelaparan Wollo dan Skandal Penutupan Informasi

Kejatuhan Haile Selassie dipicu secara langsung oleh bencana kelaparan yang melanda provinsi Wollo dan Tigray antara tahun 1972 dan 1974. Kelaparan ini mengakibatkan kematian antara 40.000 hingga 200.000 orang, tergantung pada sumber data yang digunakan. Namun, yang lebih merusak reputasi Kaisar daripada bencana alam itu sendiri adalah cara pemerintahannya menangani krisis tersebut.

Pemerintah kekaisaran melakukan upaya sistematis untuk menyembunyikan informasi tentang kelaparan tersebut dari publik domestik dan internasional. Pejabat tinggi khawatir bahwa pengakuan akan adanya kelaparan akan merusak citra Etiopia sebagai negara yang sedang berkembang dan mempermalukan kedaulatan Kaisar. Bahkan ketika laporan dari organisasi internasional seperti UNICEF mulai masuk, pemerintah Selassie sering kali menolaknya atau menganggap kelaparan tersebut sebagai masalah keamanan wilayah daripada krisis kemanusiaan.

Skandal ini terbongkar secara global melalui dokumenter televisi jurnalis Inggris Jonathan Dimbleby yang berjudul The Unknown Famine (Kelaparan yang Tidak Diketahui) pada Oktober 1973. Film ini menampilkan gambar-gambar yang sangat kontras dan menyakitkan: petani yang sekarat karena kelaparan di wilayah utara disandingkan dengan rekaman pesta perayaan ulang tahun ke-80 Kaisar Selassie yang mewah. Ekspos ini memicu kemarahan luas di kalangan mahasiswa, tentara, dan kelas menengah di Addis Ababa, yang melihat pemerintahan Selassie telah kehilangan legitimasi moral untuk memerintah.

Fakta Kelaparan Wollo (1972–1974) Rincian
Wilayah Terdampak Utama Provinsi Wollo dan Tigray.
Estimasi Korban Jiwa Antara 40.000 hingga 200.000 orang tewas.
Penyebab Struktural Sistem sewa tanah feodal yang memaksa petani menyerahkan hasil panen meski gagal panen.
Respons Pemerintah Pengabaian laporan selama lebih dari 300 hari dan penutupan informasi.
Dampak Politik Menjadi katalisator utama Revolusi Etiopia 1974.

Revolusi 1974: Runtuhnya Takhta Singa

Tahun 1974 menjadi tahun penghakiman bagi monarki Etiopia. Kerusuhan dimulai dengan aksi protes mahasiswa dan serangkaian mutiny dalam tubuh militer yang dipicu oleh gaji yang rendah, inflasi akibat krisis minyak global, dan kemarahan atas penanganan kelaparan. Sebuah komite koordinasi militer yang dikenal sebagai Derg secara bertahap mengambil alih fungsi-fungsi pemerintahan sambil tetap berpura-pura setia kepada Kaisar pada awalnya.

Namun, radikalisme di dalam militer dengan cepat meningkat. Pada 12 September 1974, Haile Selassie secara resmi digulingkan dalam sebuah kudeta yang relatif tidak berdarah pada hari itu. Kaisar yang dulunya dipertuankan itu dibawa keluar dari Istana Jubilee menggunakan mobil Volkswagen Beetle tua menuju penahanan di barak militer. Jatuhnya Selassie menandai berakhirnya Dinasti Salomon yang telah memerintah selama ribuan tahun.

Kekejaman segera menyusul jatuhnya monarki. Pada 23 November 1974, Derg melakukan eksekusi tanpa peradilan terhadap 60 pejabat tinggi kekaisaran, termasuk dua mantan perdana menteri, bangsawan senior, dan perwira tinggi militer. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai “Sabtu Hitam” atau “Pembantaian Enam Puluh,” menandai dimulainya era “Red Terror” (Teror Merah) di bawah pimpinan Mengistu Haile Mariam, sebuah periode kekerasan negara yang menargetkan siapa pun yang dianggap sebagai musuh revolusi.

Kematian Misterius dan Akhir Sebuah Era

Haile Selassie I meninggal dunia pada 27 August 1975 dalam usia 83 tahun, saat masih berada dalam tahanan rumah di istananya. Radio pemerintah mengumumkan bahwa kaisar meninggal karena kegagalan pernapasan setelah operasi prostat yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Namun, versi resmi ini segera diragukan oleh dokter pribadinya dan keluarga kekaisaran yang menyatakan bahwa kaisar berada dalam kesehatan yang cukup baik sebelum kematiannya yang mendadak.

Setelah runtuhnya rezim Derg pada tahun 1991, kebenaran yang mengerikan mulai terungkap. Bukti-bukti yang muncul selama persidangan mantan anggota Derg menunjukkan bahwa Haile Selassie sebenarnya telah dibunuh atas perintah militer. Beberapa laporan menyebutkan bahwa ia dibekap dengan bantal basah atau dicekik di tempat tidurnya. Jenazahnya ditemukan terkubur secara rahasia di bawah toilet kantor di kompleks istana, sebuah tindakan yang dimaksudkan untuk merendahkan kaisar bahkan setelah kematiannya.

Prosesi pemakaman ulang yang layak baru dapat dilaksanakan pada 5 November 2000, tepat 25 tahun setelah kematiannya. Ribuan rakyat Etiopia, bersama delegasi dari gerakan Rastafari seluruh dunia termasuk tokoh seperti Rita Marley, mengiringi peti jenazah sang Kaisar menuju Katedral Tritunggal Mahakudus di Addis Ababa. Meskipun pemerintah Etiopia saat itu menolak memberikan status pemakaman kenegaraan secara resmi, upacara tersebut tetap menjadi peristiwa emosional yang menandai penutupan babak monarki dalam sejarah Etiopia.

Kesimpulan: Warisan yang Terbagi antara Mitologi dan Realitas

Haile Selassie I tetap menjadi salah satu tokoh paling polarisasi dalam sejarah modern. Di satu sisi, ia adalah ikon internasional yang berhasil membawa Etiopia dari keterisolasian abad pertengahan menuju modernitas, sosok yang memberikan suara bagi bangsa-bangsa terjajah di panggung dunia. Perannya dalam gerakan Pan-Afrikanisme dan dukungannya terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa kulit hitam memberikan martabat yang tak terukur bagi diaspora Afrika. Bagi penganut Rastafari, ia melampaui sejarah dan politik; ia adalah simbol keilahian yang abadi.

Namun, di sisi lain, ia adalah contoh tragis dari seorang penguasa yang gagal beradaptasi dengan perubahan zaman yang ia ciptakan sendiri. Modernisasinya yang bersifat top-down gagal menyentuh akar rumput, dan kesetiannya pada struktur kekuasaan feodal menciptakan ketimpangan yang fatal. Kontradiksi antara hidup dalam kemewahan ekstrem di istana—dengan singa-singa yang kenyang akan daging—sementara rakyatnya mati kelaparan di provinsi Wollo, tetap menjadi noda hitam yang meruntuhkan kesucian gelarnya sebagai “Terpilih Tuhan”. Haile Selassie I berakhir bukan hanya sebagai Kaisar terakhir Etiopia, tetapi sebagai pengingat sejarah tentang bagaimana teokrasi dan tradisi kuno dapat hancur ketika mereka gagal memenuhi janji dasar keadilan dan kemanusiaan bagi rakyatnya. Walaupun monarkinya telah runtuh, “Singa dari Yehuda” ini tetap hidup dalam lagu, doa, dan perdebatan sejarah yang akan terus bergema di seluruh dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

55 − 45 =
Powered by MathCaptcha