Era abad ketujuh belas menandai pergeseran seismik dalam sejarah pemikiran manusia, sebuah transisi dari pandangan dunia kualitatif Aristotelian menuju presisi kuantitatif yang mendefinisikan modernitas. Di pusat transformasi ini berdiri Sir Isaac Newton, seorang polimatik yang karyanya tidak hanya menyatukan hukum-hukum gerak bumi dan langit tetapi juga merumuskan metodologi bagi penyelidikan ilmiah masa depan. Newton bukan sekadar seorang fisikawan dalam pengertian kontemporer; ia adalah seorang filsuf alam yang melihat alam semesta sebagai mekanisme yang diatur oleh hukum-hukum ilahi yang konsisten, yang dapat diuraikan melalui matematika dan eksperimentasi yang ketat. Laporan ini akan menguraikan secara mendalam profil kehidupan Newton, evolusi karyanya dalam matematika, mekanika, dan optika, serta aspek-aspek yang lebih personal namun krusial seperti studinya dalam alkimia dan teologi yang membentuk visi dunia secara keseluruhan.
Evolusi Biografis: Dari Woolsthorpe ke Puncak Akademis
Kehidupan Isaac Newton dapat dianalisis melalui tiga fase utama yang masing-masing mencerminkan peran sosial dan intelektual yang berbeda: masa pembentukan di Lincolnshire, masa kejayaan akademis di Universitas Cambridge, dan masa pelayanan publik yang berpengaruh di London. Lahir prematur pada hari Natal tahun 1642 di Woolsthorpe Manor, Newton menghadapi awal kehidupan yang penuh tantangan; ayahnya meninggal tiga bulan sebelum ia lahir, dan ibunya, Hannah Ayscough, menikah kembali dengan seorang pendeta kaya, Barnabas Smith, ketika Isaac baru berusia dua tahun. Pengabaian emosional yang dialaminya selama masa kanak-kanak, di mana ia ditinggalkan dalam asuhan neneknya sementara ibunya tinggal bersama ayah tirinya, sering dianggap sebagai akar dari kepribadiannya yang soliter, kompetitif, dan sering kali paranoid di masa dewasa.
Pendidikan formal Newton dimulai di Free Grammar School di Grantham. Meskipun laporan sekolah awalnya mendeskripsikannya sebagai murid yang “lalai” dan “kurang perhatian,” bakat mekanisnya mulai muncul melalui pembuatan model-model mesin yang rumit, seperti jam matahari dan kincir angin. Pada tahun 1661, ia memasuki Trinity College, Cambridge, sebagai seorang sizar—status mahasiswa yang kurang mampu yang harus bekerja sebagai pelayan bagi mahasiswa lain untuk membiayai studinya. Di Cambridge, Newton terpapar pada filsafat Aristoteles yang dominan, namun ia secara mandiri mengejar studi tentang filsuf mekanis modern seperti René Descartes dan Pierre Gassendi, yang memandang realitas fisik sebagai kumpulan partikel materi dalam gerak.
Tahun-tahun wabah pes (1665–1667) memaksa Universitas Cambridge ditutup, dan Newton kembali ke Woolsthorpe. Periode isolasi ini menjadi annus mirabilis atau tahun keajaiban, di mana ia meletakkan dasar bagi teori gravitasi, optika, dan kalkulus. Sekembalinya ke Cambridge, ia terpilih menjadi Fellow di Trinity College dan pada tahun 1669, dalam usia 26 tahun, ia diangkat menjadi Lucasian Professor of Mathematics, menggantikan Isaac Barrow. Jabatan ini memberinya kebebasan intelektual untuk menyempurnakan penemuan-penemuannya yang akan mengubah wajah sains dunia.
Tabel 1: Kronologi Kehidupan dan Jabatan Utama Isaac Newton
| Tahun | Peristiwa / Jabatan | Lokasi | Deskripsi Singkat |
| 1642 | Kelahiran | Woolsthorpe | Lahir prematur dan yatim ayah. |
| 1661 | Masuk Trinity College | Cambridge | Masuk sebagai sizar (mahasiswa pelayan). |
| 1665-1667 | Masa Wabah (Annus Mirabilis) | Woolsthorpe | Pengembangan dasar kalkulus, gravitasi, dan optika. |
| 1669 | Lucasian Professor of Mathematics | Cambridge | Menggantikan Isaac Barrow pada usia 27 tahun. |
| 1672 | Terpilih sebagai Fellow Royal Society | London | Pengakuan atas penemuan teleskop reflektor. |
| 1689 | Anggota Parlemen (MP) | London | Mewakili Universitas Cambridge. |
| 1696 | Warden of the Royal Mint | London | Memulai reformasi mata uang Inggris. |
| 1699 | Master of the Royal Mint | London | Jabatan administratif tertinggi di Mint. |
| 1703 | Presiden Royal Society | London | Memimpin hingga kematiannya pada tahun 1727. |
| 1705 | Dianugerahi Gelar Kebangsawanan | Cambridge | Diberikan oleh Ratu Anne. |
Matematika: Bahasa Alam Semesta dan Penemuan Kalkulus
Pencapaian matematika Newton merupakan fondasi bagi seluruh fisika modern. Ia tidak hanya memajukan cabang-cabang matematika yang ada tetapi juga menciptakan alat-alat analisis baru untuk memecahkan masalah-masalah dinamis yang tidak dapat ditangani oleh matematika statis zaman kuno. Ketertarikan Newton pada matematika dimulai dari ketidakmampuannya memahami teks astrologi pada tahun 1663 karena kurangnya dasar geometri, yang mendorongnya untuk mempelajari naskah Euclid dan La Géométrie karya Descartes secara otodidak.
Teorema Binomial Umum dan Deret Tak Hingga
Salah satu terobosan awal Newton adalah generalisasi teorema binomial. Sebelum Newton, ekspansi $(P + PQ)^n$ hanya dipahami untuk pangkat bilangan bulat positif. Newton memperluas prinsip ini untuk mencakup eksponen pecahan dan negatif, yang memungkinkannya mengubah ekspresi matematika menjadi deret tak hingga. Kemampuan ini sangat krusial bagi pengembangan kalkulus karena memberikan metode untuk melakukan kuadratur (menentukan luas di bawah kurva) bagi fungsi-fungsi yang kompleks. Formula umum yang ia kembangkan adalah:
$$(P + PQ)^{m/n} = P^{m/n} + \frac{m}{n}AQ + \frac{\frac{m}{n}-1}{2}BQ + \frac{\frac{m}{n}-2}{3}CQ + \dots$$
Dalam rumus ini, $A$ mewakili suku pertama ($P^{m/n}$), $B$ mewakili suku kedua, dan seterusnya. Pendekatan ini merupakan lompatan radikal yang memungkinkan perhitungan presisi dalam astronomi dan mekanika.
Metode Fluksion (Kalkulus)
Newton mengembangkan apa yang ia sebut sebagai “metode fluksion” antara tahun 1664 dan 1666. Baginya, variabel matematika adalah “fluen” (sesuatu yang mengalir) dan laju perubahannya adalah “fluksion”. Newton menyadari bahwa masalah menentukan garis singgung pada kurva (diferensiasi) dan masalah menentukan luas di bawah kurva (integrasi) adalah operasi yang berkebalikan—sebuah prinsip yang sekarang dikenal sebagai Teorema Dasar Kalkulus.
Meskipun Newton mengembangkan kalkulus bertahun-tahun sebelum Gottfried Wilhelm Leibniz, ia sangat enggan untuk menerbitkan karyanya karena ketakutannya yang ekstrem terhadap kritik publik. Hal ini memicu sengketa prioritas yang sengit dan berkepanjangan yang membelah komunitas ilmiah Eropa. Meskipun saat ini keduanya diakui sebagai penemu independen, notasi Leibniz (seperti $dy/dx$) terbukti lebih praktis dan diadopsi secara luas di luar Inggris, sementara notasi titik Newton tetap digunakan terutama dalam mekanika fisika.
Klasifikasi Kurva Kubik dan Geometri Analitik
Newton juga memberikan kontribusi besar pada klasifikasi kurva geometris. Dalam risalahnya yang berjudul Enumeratio linearum tertii ordinis (1704), ia melakukan klasifikasi terhadap 72 spesies kurva bidang derajat ketiga. Ia mengidentifikasi empat kelas utama berdasarkan struktur persamaannya dan menunjukkan bahwa setiap kurva kubik dapat diperoleh melalui proyeksi sentral dari parabola divergen. Salah satu kelas yang ia teliti secara mendalam adalah parabola divergen dengan persamaan:
$$ay^2 = x(x^2 – 2bx + c), \quad a > 0$$
Newton membagi kelas ini menjadi lima spesies tergantung pada akar-akar persamaan kubik di sisi kanan, yang menghasilkan bentuk-bentuk grafis seperti lonceng dengan oval di puncaknya atau parabola yang berbentuk “neilian” atau semikubik. Meskipun penelitian selanjutnya oleh Euler dan Plücker menunjukkan bahwa Newton melewatkan beberapa spesies, karyanya tetap menjadi salah satu studi klasifikasi kurva paling komprehensif pada masanya.
Mekanika Klasik: Hukum Gerak dan Gravitasi Universal
Publikasi Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica pada tahun 1687 dianggap sebagai pencapaian tunggal terbesar dalam sejarah sains. Dalam karya ini, Newton melakukan unifikasi besar-besaran antara fenomena terestrial dan selestial, membuktikan bahwa hukum-hukum fisik yang sama berlaku di seluruh alam semesta. Dorongan untuk menulis Principia datang dari kunjungan Edmond Halley pada tahun 1684, yang menanyakan tentang bentuk orbit planet di bawah pengaruh gaya yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak.
Tiga Hukum Gerak Newton
Newton merumuskan tiga hukum yang mendefinisikan hubungan antara objek, gaya, dan gerak, yang menjadi dasar bagi mekanika klasik.
- Hukum Inersia: Setiap benda akan tetap dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan dalam satu garis lurus kecuali ia dipaksa untuk mengubah keadaan tersebut oleh gaya-gaya yang mengenainya. Hukum ini mematahkan pandangan Aristotelian bahwa gerakan memerlukan penggerak kontinu.
- Hukum Akselerasi: Perubahan gerak (momentum) sebanding dengan gaya yang diberikan dan terjadi sesuai arah garis lurus di mana gaya tersebut diberikan. Secara matematis dinyatakan sebagai $F = ma$, di mana gaya adalah hasil kali massa dan percepatan.
- Hukum Aksi-Reaksi: Untuk setiap aksi, selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Hukum ini menjelaskan bagaimana gaya bekerja secara berpasangan dalam sistem fisik.
Teori Gravitasi Universal
Pencapaian Newton yang paling ikonik adalah perumusan Hukum Gravitasi Universal. Ia menyimpulkan bahwa setiap partikel materi menarik setiap partikel lainnya dengan gaya yang berbanding lurus dengan hasil kali massa mereka dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara mereka. Gaya gravitasi ini diberikan oleh persamaan:
F = G \frac{m_1 m_2}{r^2}
Di mana $G$ adalah konstanta gravitasi. Dengan menggunakan deskripsi matematis ini, Newton mampu menurunkan Hukum Kepler tentang gerak planet, menjelaskan fenomena pasang surut air laut yang disebabkan oleh tarikan bulan dan matahari, serta menghitung trajektori komet. Ia membuktikan bahwa gravitasi adalah gaya universal yang menjaga keteraturan sistem tata surya, sekaligus membantah keraguan tentang heliosentrisitas.
Analisis Struktural Principia
Principia dibagi menjadi tiga buku yang secara sistematis membangun argumen dari dasar matematika hingga sistem dunia.
- Buku I (Gerak Benda): Menjelaskan gerakan benda dalam ruang hampa, berfokus pada dinamika partikel di bawah pengaruh gaya sentripetal.
- Buku II (Gerak Benda dalam Medium Penolak): Membahas gerakan dalam cairan dan gas. Di sini Newton meletakkan dasar bagi mekanika fluida, memperkenalkan konsep fluida Newtonian, dan melakukan perhitungan teoritis pertama tentang kecepatan suara.
- Buku III (Sistem Dunia): Menerapkan hukum-hukum gerak dan gravitasi pada observasi astronomis nyata. Newton membuktikan bahwa bumi berbentuk bulat pepat (oblate spheroid) dan memberikan perkiraan kuantitatif pertama tentang massa matahari.
Optika: Eksperimentalisme dan Sifat Cahaya
Berbeda dengan gaya deduktif dan matematis dalam Principia, karya Newton dalam optika yang tertuang dalam buku Opticks (1704) merupakan demonstrasi dari metode eksperimental yang ketat. Penelitiannya dalam bidang ini dimulai sejak tahun 1666 dan dipicu oleh usahanya untuk memperbaiki kualitas lensa teleskop.
Eksperimen Prisma dan Teori Warna
Melalui serangkaian eksperimen dengan prisma di ruangan gelap, Newton menunjukkan bahwa cahaya putih bukanlah entitas tunggal yang murni, melainkan campuran dari spektrum warna yang berbeda. Ia menemukan bahwa setiap warna memiliki sudut refraksi (pembiasan) yang spesifik dan tetap. Eksperimen kuncinya, experimentum crucis, melibatkan isolasi satu warna dari spektrum dan melewatkannya melalui prisma kedua; karena warna tersebut tidak berubah lagi, Newton membuktikan bahwa warna adalah properti intrinsik cahaya, bukan hasil modifikasi cahaya oleh medium seperti yang diyakini sebelumnya. Newton mengidentifikasi tujuh warna utama: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
Penciptaan Teleskop Reflektor Newtonian
Kesadaran Newton bahwa lensa kaca selalu menghasilkan aberasi kromatik (pinggiran warna akibat pembiasan yang berbeda) mendorongnya untuk mencari alternatif. Pada tahun 1668, ia berhasil merancang dan membangun teleskop pantul (reflektor) pertama. Teleskop ini menggunakan cermin logam melengkung untuk mengumpulkan cahaya daripada lensa objektif, yang secara efektif menghilangkan aberasi kromatik dan memungkinkan desain instrumen yang jauh lebih kecil namun memiliki kekuatan perbesaran yang sama dengan teleskop refraktor yang panjang. Penemuan ini sangat revolusioner sehingga model aslinya yang hanya berukuran 6 inci dapat memperbesar objek hingga 40 kali lipat.
Fenomena Difraksi dan Teori Korpuscular
Dalam Opticks, Newton juga mengeksplorasi fenomena difraksi (yang ia sebut “infleksi”) dan apa yang sekarang dikenal sebagai “Cincin Newton”—pola interferensi yang terbentuk ketika lensa diletakkan di atas permukaan datar. Ia mengusulkan teori korpuscular cahaya, yang menyatakan bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel kecil yang dipancarkan oleh sumber bercahaya. Meskipun teori gelombang Huygens kemudian menjadi dominan, konsep Newton tentang sifat partikel cahaya memberikan inspirasi bagi pengembangan mekanika kuantum dan konsep dualitas gelombang-partikel di masa depan.
Alkimia: Pencarian “Prinsip Vital” di Laboratorium Rahasia
Salah satu dimensi kehidupan Newton yang paling lama disembunyikan dari publik adalah keterlibatannya yang mendalam dalam alkimia. Newton menulis lebih dari satu juta kata tentang subjek ini, yang ia anggap bukan sebagai takhayul, melainkan sebagai bagian integral dari filsafat alamnya. Baginya, alkimia adalah metode untuk memahami interaksi antara materi dan roh, serta mencari “prinsip aktif” yang mengatur kehidupan dan pertumbuhan di alam semesta.
Tujuan dan Eksperimen Alkimia
Newton menghabiskan waktu puluhan tahun di laboratoriumnya di Trinity College, melakukan eksperimen kimia yang intens dan berbahaya. Fokus utamanya adalah pencarian “Batu Filsuf” (Philosopher’s Stone), zat legendaris yang dipercayai dapat mengubah logam dasar menjadi emas dan memperpanjang hidup manusia. Ia menggunakan metode yang disebut “jalur kering” (dry path) yang menggunakan antimon sebagai bahan utama, sebuah teknik yang ia pelajari dari karya alkemis George Ripley.
Newton juga sangat tertarik pada fenomena yang ia sebut “Pohon Diana,” di mana perak tumbuh membentuk struktur seperti dahan pohon dalam larutan asam nitrat, yang baginya merupakan bukti bahwa logam memiliki semacam “kehidupan” atau daya vital. Ia percaya bahwa materi tidak bersifat pasif atau mati, melainkan diresapi oleh agen vital yang merupakan manifestasi langsung dari kekuatan Tuhan di dunia fisik.
Kaitan dengan Gravitasi dan Rahasia Intelektual
Para sejarawan sains berpendapat bahwa pemahaman Newton tentang gaya tarik-menarik gravitasi (aksi pada jarak jauh tanpa kontak fisik) mungkin dipengaruhi oleh ide-ide alkimia tentang daya tarik dan simpati antar zat. Karena praktik alkimia ilegal di Inggris pada masa itu dan sering dikaitkan dengan penipuan, Newton menjaga studinya tetap rahasia, menulis catatan laboratoriumnya dalam bahasa sandi dan simbol-simbol esoteris. Kematiannya meninggalkan ribuan halaman manuskrip alkimia yang baru mulai dipelajari secara serius oleh para sarjana di abad ke-20.
Teologi dan Hermeneutika: Penguraian Kode Ilahi dalam Alkitab
Bagi Newton, alam semesta dan Alkitab adalah dua buku yang ditulis oleh Tuhan yang sama, dan keduanya dapat dipahami melalui metode analisis yang serupa. Ia memandang dirinya sebagai bagian dari kelompok terpilih yang ditugaskan untuk memulihkan kebenaran agama kuno yang telah rusak oleh penyimpangan manusia.
Penolakan terhadap Trinitas dan Arianisme
Melalui studi mendalam terhadap naskah-naskah kuno dan tulisan para Bapa Gereja, Newton sampai pada kesimpulan teologis yang sangat radikal: doktrin Trinitas (Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan) adalah hasil dari korupsi teks suci pada abad keempat. Ia menganut pandangan Arianisme, yang percaya bahwa Tuhan Bapa adalah satu-satunya entitas yang mahakuasa dan Yesus adalah ciptaan-Nya yang tidak setara. Keyakinan ini sangat berbahaya secara hukum dan politik pada masa itu; jika terungkap, Newton dapat kehilangan jabatan Lucasian-nya di Cambridge, karena aturan universitas mengharuskan pemegang jabatan tersebut untuk ditahbiskan dalam Gereja Anglikan dan menerima doktrin Trinitas.
Tabel 2: Karya Teologis dan Kronologis Utama Newton
| Judul Karya | Publikasi | Konten Utama |
| An Historical Account of Two Notable Corruptions of Scripture | 1754 (Post.) | Kritik teks terhadap interpolasi Trinitarian dalam 1 Yohanes 5:7 dan 1 Timotius 3:16. |
| Observations upon the Prophecies of Daniel and the Apocalypse of St. John | 1733 (Post.) | Penafsiran nubuat Alkitab sebagai peta jalan sejarah masa depan. |
| The Chronology of Ancient Kingdoms Amended | 1728 (Post.) | Upaya mereformasi sejarah kuno menggunakan data astronomis untuk menetapkan tanggal-tanggal kunci. |
| Rules for interpreting the words & language in Scripture | Tidak Terbit | Panduan metodologis untuk menafsirkan bahasa simbolis dalam teks suci. |
Nubuat 2060 dan Eskatologi
Newton menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba memecahkan kode dalam Kitab Daniel dan Kitab Wahyu. Ia menghitung bahwa krisis eskatologis dunia—yang ia interpretasikan sebagai kejatuhan institusi gereja yang korup dan dimulainya pemerintahan milenial Kristus—tidak akan terjadi sebelum tahun 2060. Perhitungan ini didasarkan pada penambahan periode 1.260 tahun (angka yang sering muncul dalam Alkitab) ke tahun 800 M, saat penobatan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi Suci yang ia anggap sebagai awal dari dominasi kepausan.
Penting untuk dicatat bahwa Newton bukan seorang “penentu tanggal” yang fanatik. Ia menyatakan bahwa ia menyebutkan angka 2060 bukan untuk memastikan kapan kiamat akan tiba, tetapi justru untuk meredam spekulasi dari orang-orang yang sering memprediksi akhir dunia secara serampangan, yang menurutnya hanya akan mendiskreditkan Alkitab ketika prediksi tersebut gagal. Bagi Newton, sejarah dunia adalah drama ilahi yang sudah direncanakan sebelumnya, dan tugas filsuf adalah untuk mengamati pemenuhannya tanpa kepongahan.
Kehidupan di London: Pelayanan Publik dan Administrasi Negara
Pada tahun 1696, dalam usia lima puluhan, Newton meninggalkan kehidupan kontemplatif di Cambridge untuk mengambil posisi sebagai Warden (Pengawas) dan kemudian Master (Kepala) dari Royal Mint di London. Perpindahan ini tidak hanya mengubah status sosialnya menjadi seorang pejabat negara yang berpengaruh, tetapi juga memberinya kesempatan untuk menerapkan ketelitian ilmiahnya pada masalah-masalah ekonomi nasional.
Reformasi Mata Uang dan Great Recoinage
Saat Newton tiba di Mint, sistem keuangan Inggris sedang berada di ambang keruntuhan. Sebagian besar koin perak yang beredar adalah koin lama dari masa Elizabeth I yang sudah aus atau dikikis tepiannya oleh penjahat. Newton mengawasi operasi logistik raksasa yang dikenal sebagai Great Recoinage (1696–1699), yang menarik seluruh koin perak lama dan menggantinya dengan koin baru yang dicetak dengan mesin dan memiliki tepian bergerigi untuk mencegah kecurangan.
Ia melakukan studi “waktu dan gerak” untuk meningkatkan efisiensi produksi di Mint dan memastikan koin yang diproduksi memiliki berat dan kadar kemurnian yang sangat presisi. Dedikasinya pada akurasi membuat Inggris memiliki standar mata uang yang paling tepercaya di dunia pada masa itu.
Penumpasan Kejahatan: Kasus William Chaloner
Tugas Newton di Mint juga mencakup fungsi penegakan hukum terhadap pemalsu uang (counterfeiters), yang saat itu dianggap sebagai pelaku pengkhianatan terhadap negara. Newton tidak hanya duduk di balik meja; ia melakukan penyelidikan langsung, menyamar ke tempat-tempat kumuh London, dan secara pribadi mewawancarai lebih dari seratus saksi dan informan.
Kasus paling terkenal adalah perseteruannya dengan William Chaloner, seorang pemalsu koin yang sangat cerdik dan licin. Chaloner bahkan sempat mencoba menyuap parlemen untuk menyerang integritas Mint dan menuduh Newton tidak kompeten. Newton mengejar Chaloner dengan ketekunan yang menakutkan, mengumpulkan bukti melalui informan di dalam penjara, dan akhirnya berhasil menyeret Chaloner ke tiang gantungan pada Maret 1699. Keberhasilan ini mengukuhkan posisi Newton sebagai otoritas publik yang tak tergoyahkan.
Tabel 3: Aktivitas dan Pencapaian Administratif di London
| Aktivitas | Dampak / Hasil | Detail |
| Great Recoinage | Pemulihan stabilitas ekonomi | Penggantian koin perak lama senilai £7 juta dalam 3 tahun. |
| Penuntutan William Chaloner | Pemberantasan pemalsuan | Eksekusi pemalsu paling terkenal di Inggris pada 1699. |
| Penetapan Harga Guinea | Transisi ke Standar Emas | Laporan 1717 yang menetapkan nilai emas guinea pada 21 shilling. |
| Presidensi Royal Society | Revitalisasi Sains Inggris | Memimpin selama 24 tahun, memulihkan keuangan dan aktivitas eksperimen. |
| Penyatuan Koin (Act of Union) | Standardisasi Mata Uang | Penyesuaian mata uang Skotlandia dengan standar Inggris pada 1707. |
Ekonomi dan Keterlibatan Sosial: Gelembung Saham dan Bayang-Bayang Kolonialisme
Meskipun Newton adalah seorang jenius dalam matematika dan fisika, ia tetap merupakan produk dari masanya dan tidak luput dari dinamika ekonomi global yang kompleks pada abad ke-18.
Tragedi South Sea Bubble
Pada tahun 1720, Newton mengalami kerugian finansial yang signifikan dalam peristiwa South Sea Bubble, salah satu krisis pasar saham pertama di dunia. South Sea Company adalah perusahaan publik-swasta yang memiliki monopoli atas perdagangan (terutama budak) dengan koloni Spanyol di Amerika. Newton awalnya berinvestasi dan berhasil keluar dengan keuntungan besar (£20.000), namun ia kemudian tergoda oleh euforia pasar dan membeli kembali saham di puncak harga sebelum gelembung itu pecah. Ia dilaporkan kehilangan jumlah yang setara dengan £40 juta dalam nilai mata uang hari ini, sebuah peristiwa yang membuatnya enggan mendengar nama “South Sea” di sisa hidupnya.
Keterkaitan dengan Perdagangan Budak
Penelitian sejarah kontemporer menyoroti bahwa kekayaan Newton dan posisinya sebagai pejabat negara tidak terlepas dari ekonomi yang bergantung pada perbudakan. Sebagai Master of the Mint, Newton mengawasi masuknya emas dalam jumlah besar dari Brasil, yang ditambang oleh orang-orang Afrika yang diperbudak di bawah kendali Portugis. Dalam korespondensinya pada tahun 1701 dan 1717, ia mengakui bahwa pasokan emas Inggris sangat bergantung pada perdagangan dengan Hindia Barat dan Portugal.
Selain itu, posisinya sebagai eksekutor aset dan investor dalam South Sea Company serta keterkaitannya dengan East India Company menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari elit yang mendapat manfaat finansial dari sistem perdagangan transatlantik yang melibatkan perbudakan. Meskipun tindakannya mungkin dianggap biasa dalam norma sosial abad ke-18, fakta ini memberikan nuansa yang lebih manusiawi dan kompleks pada warisan Newton sebagai tokoh Pencerahan.
Warisan dan Transisi Intelektual: Menuju Fisika Modern
Newton meninggal pada Maret 1727 dan dimakamkan di Westminster Abbey sebagai pahlawan nasional. Warisannya tidak hanya terletak pada hukum-hukum fisikanya tetapi juga pada transformasi metodologi ilmiah itu sendiri, dari spekulasi kualitatif menuju analisis kuantitatif yang ketat.
Dampak pada Era Pencerahan
Filsafat Newtonian menjadi fondasi bagi Era Pencerahan di Eropa. Melalui tulisan-tulisan Voltaire, ide-ide Newton tentang alam semesta yang diatur oleh hukum-hukum rasional disebarluaskan ke seluruh benua, menantang otoritas tradisional dan mempromosikan pandangan dunia yang berbasis pada observasi dan eksperimen. Konsep Newton tentang hukum alam yang universal mengilhami para pemikir lain, seperti John Locke dalam filsafat politik dan Adam Smith dalam ekonomi, untuk mencari hukum-hukum yang mengatur masyarakat manusia dengan cara yang sama seperti hukum gravitasi mengatur benda-benda langit.
Dari Newton ke Einstein
Mekanika Newtonian mendominasi sains selama lebih dari dua abad hingga kemunculan teori relativitas Albert Einstein di awal abad ke-20. Meskipun Einstein menunjukkan bahwa hukum-hukum Newton memiliki keterbatasan pada kecepatan mendekati cahaya dan pada medan gravitasi yang sangat kuat, ia tetap menganggap karya Newton sebagai titik awal yang tak terelakkan. Newton memberikan kerangka kerja di mana waktu dan ruang bersifat absolut; Einstein melunakkan absolutisme ini menjadi ruang-waktu yang melengkung, namun ia tetap menggunakan prinsip-prinsip dasar kalkulus dan dinamika yang diciptakan oleh Newton. Newton sering dikutip menyatakan bahwa jika ia melihat lebih jauh, itu karena ia “berdiri di atas bahu raksasa”—sekarang, sains modern berdiri di atas bahu Newton.
Kesimpulan: Sintesis Polimatik yang Tak Tertandingi
Sir Isaac Newton adalah arsitek utama dari dunia modern. Melalui unifikasi matematika dan fisika dalam Principia, ia memberikan kunci untuk memahami tatanan kosmos. Melalui eksperimennya dalam Opticks, ia membuka rahasia cahaya dan warna. Namun, kekuatan penuh intelektualitasnya hanya dapat dipahami jika kita juga melihat studinya dalam alkimia dan teologi, yang menunjukkan seorang manusia yang berusaha menyatukan semua cabang pengetahuan—fisik, kimiawi, sejarah, dan spiritual—ke dalam satu sintesis besar yang memuliakan penciptaan Ilahi.
Meskipun ia memiliki sisi kepribadian yang sulit dan terlibat dalam struktur ekonomi yang kontroversial, pencapaian intelektualnya tetap tidak tertandingi dalam sejarah manusia. Newton bukan sekadar seorang ilmuwan; ia adalah penjelajah samudera kebenaran yang luas, yang berhasil menemukan kerikil-kerikil pengetahuan yang paling berharga untuk diberikan kepada umat manusia, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada setiap aspek peradaban kita. Sebagaimana yang dicatat oleh para pengagumnya di masa Pencerahan, alam semesta mungkin tersembunyi dalam kegelapan, hingga Tuhan berkata “Jadilah Newton,” dan seketika semuanya menjadi terang.
