Sejarah ilmu pengetahuan modern sering kali mencatat penemuan besar sebagai hasil dari kemajuan teknologi yang linier, namun dalam kasus Alan Mathison Turing, narasi tersebut bergeser menjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam. Alan Turing bukan sekadar seorang matematikawan; ia adalah arsitek utama di balik kemenangan intelektual Sekutu dalam Perang Dunia II dan visiuner yang meletakkan batu pertama bagi dunia komputasi dan kecerdasan buatan yang kita huni saat ini. Namun, ironi yang menyelimuti hidupnya adalah bagaimana sebuah bangsa yang ia selamatkan dari ambang kehancuran total justru berbalik menghancurkannya karena identitas personal yang dianggap menyimpang oleh norma sosial pada masanya. Laporan ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup Turing, mulai dari kontribusi kriptografisnya yang mematikan di Bletchley Park hingga visi biologisnya yang mendahului zaman, serta bagaimana mekanisme diskriminasi institusional melumpuhkan potensi salah satu pemikir paling brilian dalam sejarah manusia.

Formasi Intelektual dan Akar Kejeniusan yang Tidak Konvensional

Kejeniusan Alan Turing tidak muncul dari kepatuhan terhadap sistem pendidikan tradisional, melainkan dari dorongan internal yang sering kali berbenturan dengan standar akademis saat itu. Lahir pada tahun 1912, Turing menunjukkan tanda-tanda keunggulan intelektual yang eksentrik sejak usia dini. Salah satu anekdot yang paling mencolok mengenai determinasi pribadinya terjadi pada hari pertama sekolahnya di Sherborne School pada tahun 1926. Akibat Pemogokan Umum (General Strike) yang melumpuhkan sistem transportasi Inggris, Turing remaja memutuskan untuk bersepeda sejauh 60 mil sendirian dan bermalam di sebuah penginapan hanya agar tidak melewatkan hari pertamanya.

Meskipun memiliki determinasi yang luar biasa, Turing sering kali dianggap sebagai siswa yang bermasalah oleh guru-gurunya. Catatan sekolahnya menunjukkan bahwa ia mendapatkan nilai yang biasa-biasa saja dalam mata pelajaran klasik, yang saat itu dianggap sebagai standar pendidikan bagi seorang pria terhormat. Guru bahasa Inggrisnya bahkan mengeluhkan tulisan tangannya yang buruk dan “ketidaktelitian yang tidak tergoyahkan,” sementara para pengajarnya merasa frustrasi karena ia lebih suka mengeksplorasi konsep sains secara mandiri daripada mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan. Kurangnya minatnya pada diskusi keagamaan dan penolakannya untuk mengikuti norma-norma penulisan yang rapi sering kali membuat ibunya, Ethel Turing, merasa malu dan khawatir bahwa anaknya tidak akan memiliki karier yang sukses.

Katalisator utama bagi perkembangan intelektual dan emosional Turing adalah persahabatannya dengan Christopher Morcom di Sherborne. Morcom adalah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi kecerdasan matematis Turing, dan kematian mendadak Morcom akibat tuberkulosis sapi pada tahun 1930 meninggalkan luka mendalam yang mengubah pandangan dunia Turing. Tragedi ini mendorong Turing menuju materialisme dan ateisme, karena ia mulai mencari jawaban tentang bagaimana roh manusia bisa eksis atau bertahan setelah kematian melalui lensa sains dan logika. Dalam surat-suratnya kepada ibu Morcom, Turing mengungkapkan keyakinannya bahwa roh mungkin secara eternitas terhubung dengan materi, sebuah pemikiran awal yang nantinya akan berkembang menjadi eksplorasi tentang hubungan antara perangkat lunak (logika) dan perangkat keras (mesin).

Arsitektur Komputasi: Mesin Universal dan Logika Turing

Sebelum terlibat dalam upaya perang, Turing telah melakukan revolusi dalam bidang logika matematika yang akan menjadi fondasi bagi seluruh industri komputer modern. Dalam esainya yang bersejarah pada tahun 1936, “On Computable Numbers,” ia memperkenalkan konsep “Universal Turing Machine” (UTM). Pada saat itu, komputer adalah istilah yang merujuk pada manusia yang melakukan perhitungan numerik. Turing mengajukan hipotesis bahwa apa pun yang dilakukan oleh seorang “komputer manusia” dapat dilakukan oleh sebuah mesin yang mengikuti seperangkat instruksi tetap.

Konsep UTM adalah sebuah abstraksi matematis yang mendefinisikan mesin yang mampu mensimulasikan perilaku mesin komputasi lainnya hanya dengan mengubah instruksi pada pitanya. Ini adalah pertama kalinya pemisahan antara mekanisme fisik (hardware) dan instruksi logis (software) didefinisikan secara formal. Melalui model ini, Turing berhasil memberikan jawaban negatif terhadap Entscheidungsproblem atau masalah keputusan yang diajukan oleh David Hilbert, dengan membuktikan bahwa ada beberapa masalah matematika yang tidak dapat diselesaikan secara algoritmik.

Evolusi Konsep Komputasi Deskripsi Mekanisme Dampak pada Teknologi Modern
Mesin Turing Sederhana Mengoperasikan simbol pada pita tak terbatas berdasarkan tabel status. Definisi dasar dari algoritma dan prosedur komputasi.
Universal Turing Machine (UTM) Mampu membaca instruksi dari pita untuk mensimulasikan mesin lain. Dasar dari konsep komputer yang dapat diprogram (programmable computer).
Stored-Program Concept Menyimpan data dan instruksi dalam memori yang sama. Arsitektur dasar yang digunakan oleh hampir semua komputer saat ini.

Pekerjaan Turing ini menarik perhatian John von Neumann, yang di kemudian hari diakui sebagai salah satu arsitek utama komputer modern. Meskipun ada perdebatan mengenai sejauh mana von Neumann secara eksplisit menggunakan ide Turing, banyak bukti menunjukkan bahwa ia sangat menghargai konsep universalitas Turing sebagai sesuatu yang “sederhana dan rapi” namun mendalam. Interaksi antara keduanya di Universitas Princeton selama masa studi doktoral Turing memperkuat pertukaran ide yang akhirnya membentuk struktur komputasi abad ke-20.

Perang Tersembunyi: Kriptanalisis dan Keselamatan Peradaban

Ketika Perang Dunia II meletus pada tahun 1939, Turing bergabung dengan Government Code and Cipher School di Bletchley Park, sebuah pusat kriptanalisis rahasia di Inggris. Fokus utamanya adalah memecahkan kode Enigma, mesin enkripsi yang digunakan oleh militer Jerman untuk mengamankan komunikasi strategis mereka. Komando tinggi Nazi sangat percaya bahwa Enigma tidak mungkin dipecahkan karena jumlah kombinasi pengaturannya yang fantastis, yang mencapai 159 quintillion kemungkinan.

Anatomi dan Kerumitan Mesin Enigma

Mesin Enigma bekerja berdasarkan prinsip rotor yang berputar setiap kali tombol ditekan, menciptakan sirkuit listrik yang terus berubah untuk setiap huruf. Selain rotor, penambahan papan steker (plugboard) di bagian depan mesin secara drastis meningkatkan kompleksitas enkripsi, memungkinkan pertukaran pasangan huruf sebelum sinyal memasuki sirkuit rotor.

Varian Enigma dan Pengaturannya Jumlah Kemungkinan Kombinasi
Pemilihan Rotor (3 dari 5 atau 8) Hingga 336 variasi
Posisi Awal Rotor 17.576 posisi
Pengaturan Ring (Ringstellung) 26 pilihan per rotor
Plugboard (10 kabel steker) Sekitar 150 triliun kombinasi
Total Kemungkinan Harian 158,962,555,217,826,360,000

Bagi para kriptanalis tradisional, mencoba memecahkan kode ini secara manual adalah hal yang mustahil secara matematis, karena pengaturan mesin diubah setiap 24 jam. Namun, Turing melihat celah dalam implementasi Enigma: mesin tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga sebuah huruf tidak akan pernah dienkripsi menjadi dirinya sendiri. Kelemahan logis ini menjadi kunci bagi strategi Turing untuk mengeleminasi jutaan kemungkinan pengaturan tanpa harus menguji semuanya satu per satu.

Mesin Bombe: Mekanisasi Logika Kontradiksi

Berdasarkan pekerjaan awal kriptografer Polandia, Turing mengembangkan mesin “Bombe”, sebuah perangkat elektromekanis raksasa yang dirancang untuk menemukan pengaturan harian Enigma secara otomatis. Bombe bekerja dengan cara mencari kontradiksi logis. Dengan menggunakan “crib”—yaitu potongan teks polos yang bisa ditebak muncul dalam pesan, seperti laporan cuaca harian—Bombe akan mensimulasikan ribuan pengaturan mesin Enigma secara paralel.

Jika sebuah asumsi pengaturan menghasilkan hasil yang tidak konsisten (misalnya, jika huruf ‘A’ dienkripsi menjadi ‘B’, tetapi ‘B’ tidak kembali menjadi ‘A’ sesuai hukum Enigma), mesin tersebut akan mendeteksi sirkuit yang terputus dan segera menolak pengaturan tersebut. Operasi ini dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi, memungkinkan Bletchley Park untuk memecahkan kode dalam hitungan jam, bukan tahun. Pada puncaknya, tim Turing mampu mendekripsi sekitar 84.000 pesan Enigma setiap bulan.

Intelijen yang dihasilkan dari pekerjaan ini, yang diberi nama sandi “Ultra”, memberikan keunggulan strategis yang tak ternilai bagi Sekutu. Informasi ini memungkinkan Angkatan Laut Inggris untuk melacak posisi U-boat Jerman dalam Pertempuran Atlantik, yang krusial bagi kelangsungan hidup Inggris yang bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat. Jenderal Dwight D. Eisenhower bahkan menyatakan bahwa intelijen dari Bletchley Park adalah “nilai yang tak ternilai” dan telah menyelamatkan ribuan nyawa tentara Inggris dan Amerika. Diperkirakan bahwa tanpa kontribusi Turing, perang di Eropa mungkin akan berlangsung dua hingga empat tahun lebih lama, yang berarti jutaan nyawa tambahan akan hilang.

Bapak Kecerdasan Buatan: Melampaui Batas Komputasi

Setelah perang berakhir, Turing melanjutkan eksplorasinya tentang potensi mesin untuk meniru proses berpikir manusia. Pada tahun 1950, ia menerbitkan makalah yang sangat berpengaruh, “Computing Machinery and Intelligence” di jurnal Mind. Di sinilah ia memperkenalkan “Imitation Game”, yang sekarang secara luas dikenal sebagai Turing Test.

Turing berargumen bahwa pertanyaan “Dapatkah mesin berpikir?” terlalu ambigu untuk dijawab secara ilmiah, sehingga ia menggantinya dengan tes operasional yang objektif. Tes ini melibatkan seorang juri manusia yang berkomunikasi melalui teks dengan satu manusia lain dan satu mesin. Jika juri tersebut tidak dapat membedakan secara konsisten mana yang manusia dan mana yang mesin berdasarkan jawaban yang diberikan, maka mesin tersebut telah lulus tes dan dapat dianggap memiliki tingkat kecerdasan yang setara dengan manusia.

Dalam makalah ini, Turing juga menanggapi berbagai keberatan terhadap gagasan mesin yang berpikir dengan ketajaman yang masih relevan bagi debat AI modern:

  1. Obsepsi Teologis: Klaim bahwa hanya manusia yang memiliki jiwa yang diberikan Tuhan untuk berpikir. Turing menyanggah ini dengan mengatakan bahwa menciptakan mesin yang berpikir bukanlah penghinaan terhadap kekuasaan Tuhan, melainkan penyediaan wadah bagi jiwa yang diciptakan-Nya, serupa dengan proses prokreasi anak.
  2. Argumen dari Kesadaran: Klaim bahwa mesin tidak akan pernah bisa benar-benar “merasakan” emosi atau menulis soneta karena keindahan batin. Turing membalas bahwa ini adalah standar solipsistik; karena kita tidak bisa benar-benar mengetahui apa yang dirasakan orang lain, kita hanya bisa menilai kecerdasan berdasarkan perilaku eksternal.
  3. Ketidakmampuan Membuat Kesalahan: Beberapa kritikus berargumen bahwa mesin terlalu sempurna untuk menjadi manusiawi. Turing mencatat bahwa sangat mudah untuk memprogram mesin agar sengaja membuat kesalahan aritmatika atau menunjukkan keraguan untuk meniru perilaku manusia.

Salah satu kontribusi paling visioner dalam makalah 1950 adalah usulan Turing mengenai “Child Machine”. Ia menyarankan bahwa daripada mencoba memprogram otak dewasa yang lengkap dengan semua pengetahuan dunia, para ilmuwan harus menciptakan program sederhana yang meniru otak anak-anak dan kemudian memberikan proses pendidikan. Ia membayangkan sebuah sistem yang belajar melalui “metode penghargaan dan hukuman,” yang secara langsung mengantisipasi bidang Reinforcement Learning (pembelajaran penguatan) yang menjadi dasar bagi model AI canggih saat ini.

Morfogenesis: Mencari Kode Kimiawi dalam Kehidupan

Di saat-saat terakhir kariernya yang tragis, Turing mengalihkan perhatiannya ke biologi matematis, sebuah bidang yang hampir tidak tersentuh oleh analisis komputasi saat itu. Pada tahun 1952, ia menerbitkan “The Chemical Basis of Morphogenesis,” di mana ia mencoba memecahkan teka-teki bagaimana organisme hidup mengembangkan bentuk fisik mereka—seperti bagaimana embrio yang bulat bisa tumbuh menjadi organisme dengan anggota tubuh dan pola kulit yang spesifik.

Turing mengusulkan model “reaksi-difusi” yang melibatkan dua zat kimia hipotetis yang ia sebut sebagai “morfogen”. Dalam sistem ini, zat aktivator merangsang produksi zatnya sendiri dan zat penghambat (inhibitor), sementara zat penghambat menyebar lebih cepat untuk menekan produksi aktivator. Interaksi antara kedua proses ini menciptakan pola stabilitas yang berbeda, yang secara matematis dapat memprediksi pembentukan bintik-bintik pada leopard atau garis-garis pada zebra.

Pekerjaan ini dianggap sebagai salah satu pencapaian intelektual paling murni karena Turing membangun teori tersebut hampir seluruhnya dari prinsip-prinsip matematika pertama tanpa bantuan data biologi molekuler yang canggih. Enam puluh tahun setelah kematiannya, peneliti di Universitas Brandeis berhasil memvalidasi teori ini secara eksperimental menggunakan sel-sel sintetis, bahkan menemukan pola ketujuh yang tidak terduga yang muncul akibat heterogenitas sistem, sebuah faktor yang Turing sendiri sempat pertimbangkan dalam catatannya.

Kehancuran Sang Pahlawan: Tragedi Persekusi Institusional

Meskipun jasanya terhadap negara sangat besar, kehidupan Turing berubah menjadi mimpi buruk pada tahun 1952. Setelah melaporkan pencurian di rumahnya, Turing secara jujur mengakui hubungan seksualnya dengan seorang pria muda bernama Arnold Murray kepada polisi. Pada saat itu, homoseksualitas masih dianggap sebagai tindak pidana di Inggris di bawah undang-undang “Gross Indecency” tahun 1885—undang-undang yang sama yang digunakan untuk menghukum Oscar Wilde setengah abad sebelumnya.

Turing tidak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan selama persidangan; ia dengan tenang menyatakan bahwa ia tidak percaya tindakannya adalah sebuah kejahatan. Namun, sistem hukum tidak memberi ruang bagi pembangkangan moral semacam itu. Turing diberikan pilihan yang mustahil: hukuman penjara atau masa percobaan dengan syarat menjalani perawatan hormon yang bertujuan untuk menekan libido seksualnya. Khawatir bahwa penjara akan menghentikan pekerjaan risetnya, Turing memilih kebiri kimia.

Dampak Medis dan Psikologis dari Kebiri Kimia

Perawatan hormonal ini melibatkan suntikan estrogen sintetis dalam dosis tinggi selama setahun. Dampaknya terhadap fisik dan mental Turing sangat menghancurkan.

Jenis Dampak Deskripsi Efek yang Dialami Konsekuensi terhadap Kehidupan
Fisik Ginekomasit (pertumbuhan jaringan payudara), impotensi. Kehilangan kendali atas integritas tubuhnya.
Psikologis Depresi berat, ketidakstabilan emosional, perasaan terasing. Menurunkan kualitas hidup dan semangat juang intelektualnya.
Atletik Kehilangan stamina fisik secara drastis. Tidak bisa lagi melakukan hobi larinya yang kompetitif (Turing hampir masuk tim Olimpiade marathon Inggris 1948).
Profesional Pencabutan izin keamanan (security clearance) secara permanen. Dilarang melanjutkan pekerjaan kriptografis untuk GCHQ.

Pencabutan izin keamanan adalah penghinaan yang paling menyakitkan bagi Turing. Seorang pria yang telah dipercaya dengan rahasia paling gelap negara selama masa perang kini dianggap sebagai “risiko keamanan” karena seksualitasnya. Di era Perang Dingin yang penuh paranoia, pemerintah Inggris khawatir bahwa individu homoseksual rentan terhadap pemerasan oleh agen-agen Soviet. Turing merasa dirinya terus diawasi dan dibuntuti oleh polisi, menciptakan lingkungan isolasi yang mencekam bagi seseorang yang selalu menghargai kejujuran dan keterbukaan intelektual.

Kematian yang Ambigu dan Misteri yang Tak Terpecahkan

Pada tanggal 7 Juni 1954, Alan Turing ditemukan tewas di tempat tidurnya pada usia 41 tahun. Pemeriksaan post-mortem menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah keracunan sianida. Sebuah apel setengah dimakan ditemukan di samping tempat tidurnya, dan meskipun apel tersebut tidak pernah diuji secara laboratorium untuk kandungan racun, penyelidikan koroner menyimpulkan bahwa Turing telah mengonsumsi sianida melalui apel tersebut sebagai tindakan bunuh diri.

Namun, kesimpulan ini tetap menjadi subjek perdebatan sengit hingga hari ini. Beberapa teori alternatif telah diajukan oleh para biografer dan sejarawan:

  • Bunuh Diri yang Disengaja: Teori ini didukung oleh fakta bahwa Turing sangat menyukai film Snow White dan adegan apel beracunnya. Ada spekulasi bahwa ia merancang kematiannya agar terlihat seperti kecelakaan demi melindungi ibunya dari rasa malu akan tindakan bunuh diri.
  • Kecelakaan Laboratorium: Turing memiliki kebiasaan menggunakan bahan kimia berbahaya di rumahnya untuk eksperimen penyepuhan emas. Profesor Jack Copeland mencatat bahwa bukti medis lebih konsisten dengan penghirupan uap sianida secara tidak sengaja daripada penelanan melalui makanan. Selain itu, Turing tidak meninggalkan surat wasiat dan bahkan telah menulis daftar tugas yang akan dilakukan setelah liburan akhir pekan tersebut.
  • Konspirasi Perang Dingin: Beberapa orang berspekulasi bahwa Turing mungkin telah “didiamkan” oleh agen rahasia karena ia dianggap sebagai liabilitas keamanan yang terlalu besar di tengah ketegangan nuklir dengan Uni Soviet. Namun, tidak ada bukti forensik yang kuat untuk mendukung teori ini.

Apapun penyebab pastinya, kematian Turing menandai hilangnya salah satu aset intelektual terbesar umat manusia secara prematur. Dunia kehilangan pemikir yang mungkin saja bisa membawa revolusi komputasi ke tahap yang jauh lebih maju dalam waktu yang lebih singkat.

Jalan Panjang Menuju Pemulihan Nama Baik

Butuh waktu lebih dari setengah abad bagi pemerintah Inggris untuk mengakui ketidakadilan yang dilakukan terhadap Turing. Rahasia tentang perannya di Bletchley Park mulai terungkap ke publik pada tahun 1970-an, memicu gerakan masyarakat untuk menuntut pengakuan atas jasanya.

Permintaan Maaf Resmi dan Pengampunan Kerajaan

Pada tahun 2009, sebuah petisi yang ditandatangani oleh ribuan orang mendorong Perdana Menteri Gordon Brown untuk mengeluarkan permintaan maaf resmi yang mendalam. Brown menyatakan bahwa perlakuan terhadap Turing adalah “mengerikan” dan “tidak manusiawi,” mengakui utang budi bangsa yang besar kepadanya.

Pada tahun 2013, di bawah tekanan kampanye yang didukung oleh tokoh-tokoh seperti Stephen Fry dan Benedict Cumberbatch, Ratu Elizabeth II memberikan pengampunan anumerta (Royal Pardon) kepada Alan Turing. Pengampunan ini unik karena biasanya hanya diberikan kepada orang-orang yang secara teknis tidak bersalah, namun dalam kasus Turing, ini adalah simbol pengakuan bahwa hukum itu sendiri yang salah, bukan individu tersebut.

Alan Turing Law (2017)

Pemberian pengampunan hanya kepada Turing memicu kritik karena dianggap mengabaikan puluhan ribu pria lain yang juga dihukum di bawah undang-undang yang sama. Hal ini melahirkan “Alan Turing Law” yang disahkan sebagai bagian dari Policing and Crime Act 2017.

Fitur Utama Alan Turing Law Ketentuan untuk yang Sudah Meninggal Ketentuan untuk yang Masih Hidup
Status Pengampunan Otomatis diberikan kepada semua yang dihukum atas “gross indecency”. Harus mengajukan permohonan melalui proses “disregard”.
Jumlah Terdampak Sekitar 49.000 hingga 65.000 pria. Diperkirakan 15.000 orang masih hidup saat UU disahkan.
Kriteria Kelayakan Perbuatan yang dilakukan tidak lagi menjadi kejahatan saat ini (konsensual, di atas usia 16). Sama, namun memerlukan verifikasi manual dari Kementerian Dalam Negeri.

Meskipun undang-undang ini adalah langkah maju yang besar, banyak aktivis hak asasi manusia mencatat bahwa proses bagi mereka yang masih hidup tetaplah berat dan birokratis, yang mencerminkan betapa sulitnya negara untuk sepenuhnya melepaskan masa lalu diskriminatifnya.

Warisan yang Hilang dan Biaya Sosial dari Diskriminasi

Tragedi Alan Turing bukan hanya tentang penderitaan satu orang, melainkan tentang “biaya inovasi” yang harus dibayar oleh seluruh dunia akibat prasangka sosial. Pada awal 1950-an, Inggris memimpin dunia dalam bidang komputasi elektronik, namun kematian Turing dan penganiayaan terhadap ilmuwan LGBTQ+ lainnya menciptakan “penurunan kepemimpinan” yang memungkinan Amerika Serikat untuk mengambil alih posisi tersebut.

Jika Turing diizinkan hidup secara normal hingga usia rata-rata, sejarawan memperkirakan bahwa kemajuan dalam kecerdasan buatan, pemrosesan bahasa alami, dan bioteknologi mungkin telah terjadi 20 hingga 30 tahun lebih awal. Kehilangan Turing adalah kehilangan kolektif atas kemungkinan-kemungkinan masa depan yang belum sempat ia tuliskan.

Warisan Turing kini dirayakan di berbagai bidang:

  • Sains dan Teknologi: Ia diakui sebagai “Bapak Ilmu Komputer,” dengan Turing Award menjadi penghargaan tertinggi di bidang tersebut.
  • Keamanan Global: Metode kriptanalisisnya menjadi standar dasar bagi intelijen sinyal modern.
  • Hak Asasi Manusia: Perjuangannya menjadi simbol bagi gerakan pembebasan LGBTQ+ di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa kebebasan batin dan integritas pribadi adalah hak yang tidak boleh dirampas oleh negara.

Sebagai penghormatan terakhir, wajah Alan Turing kini menghiasi uang kertas £50 di Inggris, sebuah pengakuan fisik bahwa orang yang pernah dianggap sebagai ancaman keamanan kini adalah salah satu pahlawan nasional terbesar yang pernah dimiliki Inggris. Kisahnya tetap menjadi pengingat yang menyakitkan: bahwa sebuah peradaban yang menghancurkan jeniusnya sendiri hanya karena ketakutan akan perbedaan adalah peradaban yang secara perlahan sedang melenyapkan masa depannya sendiri. Kesuksesan teknologi modern kita saat ini berdiri di atas fondasi yang diletakkan oleh seorang pria yang dunianya sendiri tidak cukup luas untuk menampung kebesarannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 2 =
Powered by MathCaptcha