Eksistensi Julie d’Aubigny, yang secara profesional dikenal sebagai Mademoiselle Maupin atau La Maupin, mewakili salah satu anomali sosiokultural paling radikal dalam sejarah absolutisme Prancis di bawah pemerintahan Louis XIV. Kehidupannya yang berlangsung antara tahun 1670 atau 1673 hingga 1707 tidak sekadar menyajikan narasi petualangan individu, melainkan sebuah dekonstruksi terhadap norma-norma gender, batasan hukum, dan struktur performatif pada era Grand Siècle. Sebagai seorang pemain opera yang mereformasi jangkauan vokal vokal perempuan melalui kategori bas-dessus, sekaligus sebagai ahli pedang yang disegani dalam budaya duel maskulin, d’Aubigny menantang dikotomi identitas yang lazim pada masanya. Laporan ini akan membedah secara mendalam setiap fase kehidupannya, mulai dari formasi karakter di lingkungan istana Versailles, pelarian kriminalnya yang melibatkan pembakaran biara, hingga karier operatiknya yang gemilang di Académie Royale de Musique.

Genealogi dan Formasi Karakter di Lingkungan Istana

Akar dari perilaku non-konformis Julie d’Aubigny dapat ditelusuri langsung ke pendidikan yang ia terima di bawah pengawasan ayahnya, Gaston d’Aubigny. Gaston bukanlah seorang bangsawan tinggi, namun posisinya sebagai sekretaris untuk Louis de Lorraine-Guise, Comte d’Armagnac—yang menjabat sebagai Grand Écuyer de France atau Master of the Horse bagi Raja Louis XIV—menempatkan keluarga ini dalam kedekatan yang intim dengan pusat kekuasaan dan kemegahan absolut.

Gaston d’Aubigny digambarkan sebagai sosok yang terampil dalam seni pedang namun juga memiliki kecenderungan terhadap berbagai “vices” atau kebiasaan buruk masa itu, termasuk perjudian dan konsumsi alkohol yang berlebihan. Alih-alih memberikan pendidikan domestik tradisional bagi putri tunggalnya, Gaston memutuskan untuk mendidik Julie bersama dengan para pelayan muda (pages) istana di Grandes Écuries (Istal Besar) di Versailles. Pendidikan ini mencakup literasi, menari, dan menggambar, namun yang paling menonjol adalah pelatihan intensif dalam seni anggar dan berkuda.

Struktur Pendidikan Awal Julie d’Aubigny

Bidang Studi Lingkungan Pelatihan Target Kompetensi Implikasi Sosial
Seni Pedang (Anggar) Tuileries / Versailles Penguasaan pedang setara perwira Subversi peran gender sejak usia dini
Literasi & Akademik Versailles Kemampuan membaca dan menulis Kesetaraan intelektual dengan bangsawan pria
Etika Istana & Tari Royal Court Penguasaan gerak tubuh dan performa Dasar kemampuan panggung di opera
Aktivitas Luar Ruang Grand Stables Berkuda dan ketahanan fisik Mobilitas fisik yang tinggi dalam pelarian

Sejak usia 12 tahun, d’Aubigny telah menunjukkan bakat luar biasa dalam anggar, sering kali mengalahkan rekan-rekan laki-lakinya dalam kompetisi resmi maupun tidak resmi. Pada masa ini pula ia mulai mengadopsi pakaian pria, sebuah praktik yang pada awalnya mungkin didorong oleh kenyamanan dalam berlatih fisik, namun kemudian menjadi bagian integral dari identitas sosial dan alat navigasi dalam ruang-ruang publik yang didominasi pria. Lingkungan istana yang maskulin dan penuh persaingan ini membentuk karakter Julie yang berani, impulsif, dan sangat menghargai kehormatan pribadi di atas norma-norma moral konvensional.

Dinamika Hubungan Awal dan Aliansi Kekuasaan

Kehidupan romantis d’Aubigny dimulai dalam konteks yang mencerminkan struktur patronase abad ke-17. Pada usia sekitar 14 atau 15 tahun, ia menjadi gundik dari Comte d’Armagnac, majikan ayahnya. Hubungan ini memberikan Julie akses ke lingkaran kekuasaan tertinggi di Versailles, namun juga menempatkannya dalam posisi yang rentan secara sosial. Untuk menutupi skandal dan memberikan status hukum bagi Julie, d’Armagnac mengatur pernikahannya dengan seorang juru tulis bernama Sieur Jean de Maupin pada tahun 1687.

Pernikahan ini hanyalah sebuah pengaturan administratif. Segera setelah pernikahan, Sieur de Maupin dikirim ke provinsi di Prancis selatan untuk menjabat sebagai pemungut pajak, sementara Julie tetap berada di Paris untuk melanjutkan hubungannya dengan d’Armagnac. Pengaturan ini memberikan Julie gelar “Madame de Maupin” (yang nantinya secara tradisional diubah menjadi “Mademoiselle Maupin” dalam konteks opera), yang memberinya legitimasi hukum tertentu sekaligus kebebasan untuk bertindak tanpa pengawasan suami.

Namun, sifat liar Julie segera melampaui batas toleransi d’Armagnac. Julie kemudian terlibat asmara dengan seorang asisten master anggar bernama Séranne. Ketika Séranne membunuh seorang pria dalam duel ilegal dan harus melarikan diri dari otoritas kepolisian yang dipimpin oleh Nicolas-Gabriel de La Reynie, Julie memilih untuk meninggalkan kemapanan Paris dan ikut melarikan diri bersamanya ke arah selatan. Pelarian ini menandai awal dari kehidupannya sebagai petualang yang berpindah-pindah, bertahan hidup melalui pertunjukan fencing dan nyanyian di kedai-kedai minuman serta pasar malam.

Insiden Biara Avignon: Arson dan Transgresi Suci

Salah satu narasi paling dramatis dalam legenda La Maupin terjadi selama masa perjalanannya di Prancis selatan. Setelah berpisah dari Séranne, d’Aubigny jatuh cinta pada seorang putri saudagar muda di Marseille. Orang tua gadis tersebut, yang merasa terancam oleh pengaruh Julie, mengirim putri mereka ke biara Visitandines di Avignon dengan harapan mengakhiri hubungan tersebut.

Respons Julie terhadap tindakan ini mencerminkan keberanian sekaligus ketidakpeduliannya terhadap institusi keagamaan. Ia mendaftar ke biara tersebut sebagai postulan untuk mendapatkan akses kepada kekasihnya. Rencana pelarian mereka yang nekat melibatkan tindakan kriminal yang sangat serius: ketika seorang biarawati tua meninggal di biara, Julie mencuri jenazahnya, meletakkannya di tempat tidur kekasihnya, dan membakar biara tersebut untuk menutupi pelarian mereka. Tindakan ini bertujuan agar otoritas biara percaya bahwa gadis tersebut telah tewas dalam kebakaran, sehingga menghentikan pengejaran.

Meskipun pelarian ini berhasil untuk sementara, skema tersebut akhirnya terbongkar. Parlemen Aix-en-Provence mengadili Julie in absentia. Menariknya, karena ia sering mengenakan pakaian pria dan identitas aslinya sering dikaburkan, ia dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar di bawah identitas laki-laki (“Sieur de Maupin”). Ironi hukum ini—di mana seorang wanita dihukum mati sebagai pria—menunjukkan betapa cairnya persepsi identitas d’Aubigny di mata hukum pada masa itu.

Karier di Académie Royale de Musique: Evolusi Bas-dessus

Setelah mendapatkan pengampunan pertama dari Raja Louis XIV—sebuah tindakan yang difasilitasi oleh pengaruh Comte d’Armagnac—Julie kembali ke Paris untuk mengejar karier di bidang musik. Ia melakukan debutnya di Paris Opera (Académie Royale de Musique) pada tahun 1690 dalam peran Pallas Athena dalam opera karya Lully. Bakat vokalnya segera menarik perhatian para komposer terkemuka di Paris.

D’Aubigny diklasifikasikan memiliki jangkauan suara bas-dessus, sebuah kategori vokal yang pada abad ke-17 merujuk pada soprano rendah atau apa yang sekarang kita kenal sebagai mezzo-soprano. Kehadirannya di panggung opera bukan sekadar sebagai penyanyi, melainkan sebagai inovator yang memungkinkan komposer untuk mengeksplorasi karakter perempuan yang lebih kompleks, dramatis, dan kuat.

Analisis Kontribusi Vokal dan Repertoar Utama

Karya Opera Komposer Tahun Peran Inovasi Vokal
Didon Henri Desmarets 1693 Female Magician Penggunaan timbre gelap untuk karakter mistis
Hésione André Campra 1700 Priestess of the Sun Ekspansi peran seremonial dalam opera
Tancrède André Campra 1702 Clorinde Peran utama pertama yang ditulis khusus untuk bas-dessus
Iphigénie en Tauride André Campra 1704 Diana / Thétis Fleksibilitas vokal dalam peran dewi mitologis
Alcine André Campra 1705 Mélanie / Vénus Puncak kematangan artistik sebelum pensiun

Karier d’Aubigny di Paris Opera tidak hanya tentang kehebatan vokalnya, tetapi juga tentang kehadirannya yang magnetis. Ia sering kali membawa energi agresif yang ia pelajari dari dunia anggar ke atas panggung, menciptakan interpretasi karakter yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam tradisi tragédie en musique Prancis.

Budaya Duel dan Maskulinitas Performatif: Kasus Dumesny dan d’Albert

Di luar panggung, Julie d’Aubigny terus mempraktikkan kode etik yang biasanya hanya diperuntukkan bagi kaum pria. Kemampuannya menggunakan pedang sering kali menjadi sarana untuk menegakkan keadilan pribadi atau menuntut penghormatan. Salah satu insiden paling terkenal melibatkan penyanyi tenor Louis Gaulard Dumesny, yang dikenal sering melecehkan rekan-rekan perempuan di opera. Ketika Julie menegurnya dan Dumesny menolak untuk meminta maaf atau berduel, Julie menunggunya di lorong gelap, memukulinya dengan tongkat, dan merampas jam saku serta kotak tembakaunya. Keesokan harinya, ketika Dumesny berbohong di depan rekan-rekannya bahwa ia dirampok oleh sekelompok pria, Julie mempermalukannya dengan mengeluarkan barang-barang tersebut dan mengungkap kepengecutannya.

Interaksi lain yang lebih romantis namun tetap diawali dengan kekerasan terjadi dengan Comte d’Albert di Villeperdue. D’Albert, yang mengira Julie adalah seorang pria karena pakaiannya, melontarkan hinaan kasar. Duel pun terjadi, dan Julie berhasil melukai bahu sang Count. Setelah mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah seorang wanita, d’Albert meminta maaf dengan sangat sopan. Julie kemudian merawat lukanya, dan keduanya terlibat dalam hubungan asmara singkat yang berkembang menjadi persahabatan seumur hidup.

Skandal Pesta Bola Palais-Royal dan Pengampunan Kedua

Puncak dari perilaku subversif Julie terjadi pada tahun 1695 di sebuah pesta bola kerajaan di Palais-Royal yang diselenggarakan oleh Philippe d’Orleans (saudara laki-laki raja). D’Aubigny hadir mengenakan pakaian pria dan secara terbuka merayu seorang wanita muda yang cantik di hadapan para tamu undangan. Tindakan ini mencapai puncaknya ketika ia mencium wanita tersebut di tengah lantai dansa, memicu kemarahan tiga pelamar pria yang segera menantangnya berduel.

Julie menerima tantangan tersebut dan mengajak ketiga pria itu keluar ke taman istana. Dalam pertarungan yang luar biasa, ia berhasil mengalahkan ketiganya sekaligus. Karena duel telah dilarang keras oleh dekrit raja untuk mencegah hilangnya nyawa di kalangan bangsawan, tindakan Julie merupakan pelanggaran berat. Ia terpaksa melarikan diri ke Brussels untuk menghindari penangkapan.

Namun, keberuntungan Julie kembali berpihak padanya melalui relasi kekuasaan. Raja Louis XIV, yang dilaporkan merasa terhibur dengan keberanian Julie dan menyukai bakat vokalnya, memberikan pengampunan kedua. Raja secara berseloroh menyatakan bahwa dekritnya melarang duel antar pria, dan karena d’Aubigny adalah seorang wanita, secara teknis ia tidak melanggar hukum tersebut. Logika ini, meskipun merupakan sebuah celah hukum yang dipaksakan, memungkinkan Julie untuk kembali ke Paris dan melanjutkan karier operanya pada tahun 1698.

Pengasingan di Brussels dan Hubungan dengan Elector of Bavaria

Selama masa pelariannya di Brussels antara tahun 1696 hingga 1698, Julie d’Aubigny tidak mengurangi gaya hidupnya yang provokatif. Ia menjadi gundik dari Maximilian II Emanuel, Elector of Bavaria, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Belanda Spanyol. Hubungan ini diwarnai oleh drama intensitas tinggi yang khas d’Aubigny. Dalam satu pertunjukan opera di Brussels, ia dilaporkan sangat terbawa suasana hingga menikam dirinya sendiri dengan belati sungguhan di atas panggung, yang membuat penonton dan sang Elector ngeri.

Hubungan mereka berakhir ketika Maximilian mencoba untuk “memutus” Julie dengan mengirimkan pesangon sebesar 40.000 franc melalui seorang utusan. Julie, yang merasa martabatnya dihina oleh tawaran uang tersebut, melemparkan kantong uang itu ke wajah sang utusan dan segera meninggalkan Brussels. Penolakan terhadap kekayaan demi harga diri ini memperkuat citranya sebagai individu yang tidak dapat dibeli oleh kekuasaan materi.

Hubungan dengan Marquise de Florensac dan Penurunan Emosional

Masa paling stabil dan mungkin paling bahagia dalam kehidupan Julie terjadi setelah kembalinya ia ke Paris, ketika ia menjalin hubungan mendalam dengan Madame la Marquise de Florensac. Florensac sering digambarkan dalam sumber-sumber kontemporer sebagai salah satu wanita paling cantik di Prancis. Berbeda dengan banyak skandalnya yang singkat, hubungan dengan Florensac tampaknya didasarkan pada kasih sayang yang tulus dan mendalam. Keduanya hidup bersama secara terbuka selama beberapa tahun (1703-1705).

Namun, kebahagiaan ini berakhir secara tragis ketika Marquise de Florensac meninggal dunia karena demam pada tahun 1705. Kematian ini menghancurkan mental Julie. Ia jatuh ke dalam depresi berat yang membuatnya kehilangan minat pada panggung opera dan kegaduhan kehidupan sosial Paris. Ia tampil untuk terakhir kalinya dalam opera La Vénitienne karya Michel de La Barre sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri sepenuhnya dari dunia pertunjukan.

Akhir Hayat: Antara Penyesalan dan Pencarian Kedamaian

Setelah pensiun dari opera, Julie d’Aubigny mencari perlindungan di sebuah biara, sebuah pilihan yang ironis mengingat sejarahnya dengan biara di Avignon. Kali ini, motifnya tampaknya adalah keinginan tulus untuk mencari kedamaian batin dan melakukan pertobatan atas masa lalunya yang penuh kekerasan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia sempat berdamai dengan suaminya yang sah, Sieur de Maupin, sebelum akhirnya meninggal dunia pada tahun 1707 pada usia yang sangat muda, yakni 33 atau 34 tahun. Penyebab pasti kematiannya tidak pernah tercatat secara resmi, dan lokasi pemakamannya pun tetap menjadi misteri sejarah.

Analisis Sejarah dan Historiografi: Fakta vs Legenda

Meneliti kehidupan d’Aubigny memerlukan ketelitian dalam memisahkan fakta sejarah yang terdokumentasi dengan legenda yang berkembang kemudian. Sebagian besar informasi tentang petualangannya berasal dari sumber-sumber abad ke-18 yang sering kali bertujuan untuk menghibur pembaca dengan anekdot-anekdot dramatis. Namun, catatan administratif dari Paris Opera dan dokumen pengadilan memberikan fondasi fakta yang tidak terbantahkan mengenai keberadaannya.

Perbandingan Sumber Sejarah Julie d’Aubigny

Jenis Sumber Contoh Dokumen Informasi yang Diverifikasi Tingkat Keandalan
Catatan Opera Libretto Académie Royale Peran, tahun pertunjukan, gaji Sangat Tinggi
Dokumen Hukum Keputusan Parlemen Aix Tuduhan arson, hukuman in absentia Tinggi
Surat Pribadi Surat Comte d’Albert Persahabatan, detail pertemuan Sedang
Biografi Awal Anecdotes Dramatiques (1775) Duel tiga pria, insiden Dumesny Rendah-Medium (Mitologis)
Novel Sastra Mademoiselle de Maupin (1835) Androginisitas, ideal estetika Fiksi Inspiratif

Meskipun beberapa cerita mungkin dibesar-besarkan—seperti jumlah duel yang ia menangkan atau detail spesifik dari pembakaran biara—esensi dari d’Aubigny sebagai individu yang menembus batas-batas gender adalah sebuah realitas sejarah. Ia hidup pada masa di mana peran perempuan sangat dibatasi, namun ia berhasil menegosiasikan kebebasan melalui bakat vokal yang unik dan kemampuan fisik yang luar biasa.

Warisan Budaya dan Signifikansi Kontemporer

Warisan Julie d’Aubigny melampaui kematiannya dalam bentuk pengaruh artistik dan simbolis. Dalam sejarah musik, ia diakui sebagai sosok yang mempopulerkan suara mezzo-soprano dalam opera Prancis, sebuah jangkauan vokal yang memberikan kedalaman emosional baru pada peran-peran perempuan. Tanpa d’Aubigny, perkembangan karakter-karakter heroik perempuan dalam tradisi opera mungkin akan berlangsung sangat berbeda.

Dalam ranah sastra, novel Mademoiselle de Maupin karya Théophile Gautier mengabadikan esensi d’Aubigny sebagai simbol kebebasan artistik dan penolakan terhadap moralitas borjuis yang sempit. Novel ini sangat berpengaruh dalam gerakan dekadensi dan estetisisme di Eropa abad ke-19. Di era modern, Julie telah diadopsi sebagai ikon queer dan feminis, mewakili keberanian untuk hidup sesuai dengan identitas diri meskipun di bawah tekanan struktur kekuasaan yang represif.

Representasi Media dan Budaya Populer Modern

Kehidupan d’Aubigny terus menginspirasi berbagai karya seni hingga abad ke-21, menunjukkan relevansi abadi dari narasinya tentang identitas dan pemberontakan:

  • Sastra: Novel Goddess karya Kelly Gardiner (2014) memberikan perspektif riset sejarah yang mendalam tentang kehidupan Julie.
  • Televisi: Mini-seri Prancis Julie, Chevalier de Maupin (2004) membawa visualisasi petualangannya ke layar kaca.
  • Musik: Grup indie pop Bastille merilis lagu “Mademoiselle and the Nunnery Blaze” (2024) yang menceritakan insiden biara di Avignon.
  • Teater Musikal: Berbagai produksi musikal seperti La Maupin (2017) dan JULIE: The Musical (2022) mengeksplorasi aspek LGBTQ+ dari identitasnya.

Kesimpulan: Dialektika Antara Seni, Pedang, dan Kebebasan

Julie d’Aubigny bukan sekadar karakter eksentrik dari masa lalu; ia adalah sebuah fenomena yang menggambarkan ketegangan antara individu dan kekuasaan absolut. Melalui pedangnya, ia menuntut ruang fisik dan kehormatan yang biasanya ditolak bagi perempuan; melalui suaranya, ia mereformasi estetika pertunjukan yang paling prestisius pada masanya. Keberhasilannya untuk mendapatkan pengampunan raja sebanyak dua kali menunjukkan bahwa bahkan dalam sistem monarki yang paling kaku sekalipun, bakat yang luar biasa dan kepribadian yang magnetis dapat menciptakan anomali hukum.

Meskipun kehidupannya singkat dan sering kali ditandai oleh kekerasan, d’Aubigny meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah budaya Prancis. Ia tetap menjadi pengingat bahwa identitas gender dan peran sosial tidak pernah bersifat statis, melainkan selalu merupakan ruang negosiasi dan performa. La Maupin akan selalu diingat sebagai wanita yang membakar biara demi cinta, memukul pria demi kehormatan, dan menyanyi untuk raja, menciptakan sebuah legenda yang menolak untuk mati di bawah beban waktu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

22 − = 19
Powered by MathCaptcha