Keputusan Dewan Federal Swiss untuk mengadopsi paket sanksi Uni Eropa terhadap Federasi Rusia pada Februari 2022 menandai titik balik paling dramatis dalam sejarah kebijakan luar negeri negara tersebut sejak Kongres Wina tahun 1815. Selama lebih dari dua abad, Swiss telah memposisikan dirinya sebagai mercusuar netralitas permanen, sebuah identitas yang bukan sekadar pilihan diplomatik tetapi merupakan instrumen keamanan nasional dan perekat kohesi internal bagi bangsa yang memiliki keragaman linguistik dan budaya. Namun, agresi militer Rusia terhadap Ukraina telah memaksa Bern untuk melakukan reevaluasi fundamental terhadap batasan-batasan netralitasnya. Pergeseran ini tidak hanya mencakup pembekuan aset keuangan dalam skala masif, tetapi juga menyentuh aspek-aspek sensitif dalam kerja sama pertahanan, ekspor material perang, dan peran Swiss sebagai mediator global yang kredibel. Analisis ini mengeksplorasi bagaimana tradisi yang telah berusia ratusan tahun mulai retak di bawah tekanan realitas geopolitik baru di Eropa, serta implikasi jangka panjang bagi sektor perbankan dan arsitektur keamanan regional.

Evolusi Historis dan Fondasi Identitas Netralitas Swiss

Memahami signifikansi pergeseran saat ini memerlukan penelusuran mendalam terhadap asal-usul netralitas Swiss yang berakar pada kekalahan militer di Pertempuran Marignano tahun 1515. Sejak saat itu, Swiss mulai menjauh dari ekspansi militer dan beralih ke arah kebijakan yang menghindari keterlibatan dalam konflik antarnegara tetangganya. Pengakuan internasional secara formal baru tercapai melalui Traktat Paris 1815, di mana kekuatan-kekuatan besar Eropa saat itu mengakui bahwa netralitas permanen Swiss berada dalam kepentingan strategis seluruh benua, bertindak sebagai zona penyangga di antara kekuatan-kekuatan yang sering bertikai. Netralitas ini diakui secara formal dalam Act of November 20, 1815, yang menjamin integritas wilayah dan kemerdekaan Swiss dari pengaruh asing sebagai bagian dari kepentingan kebijakan seluruh Eropa.

Secara doktrinal, Swiss membedakan antara hukum netralitas (law of neutrality) dan kebijakan netralitas (policy of neutrality). Hukum netralitas dikodifikasikan dalam Konvensi Den Haag 1907, yang menetapkan kewajiban spesifik bagi negara netral dalam konflik internasional, termasuk larangan memberikan dukungan militer kepada pihak-pihak yang bertikai, larangan menyediakan tentara bayaran, dan kewajiban untuk memastikan perlakuan yang sama dalam ekspor material perang. Sebaliknya, kebijakan netralitas adalah instrumen yang lebih fleksibel, mencakup tindakan-tindakan di luar kewajiban hukum yang diambil untuk menjaga kredibilitas dan efektivitas posisi netral Swiss di mata komunitas internasional. Sepanjang sejarahnya, Swiss telah menggunakan kebijakan ini untuk beradaptasi dengan iklim politik yang berubah-ubah, dari netralitas integral pasca Perang Dunia I hingga netralitas diferensial selama periode Liga Bangsa-Bangsa.

Selama Perang Dunia I dan II, Swiss berhasil mempertahankan netralitas bersenjatanya meskipun berada di tengah kepungan kekuatan Axis. Keberhasilan ini dicapai melalui kombinasi pencegahan militer (armed deterrence) dan konsesi ekonomi yang kontroversial. Pada Perang Dunia II, Swiss menerapkan strategi “National Redoubt”, yaitu memfortifikasi pegunungan Alpen untuk pertahanan terakhir jika terjadi invasi. Namun, sejarah juga mencatat sisi gelap dari periode ini, di mana bank-bank Swiss memfasilitasi penjualan emas jarahan Nazi Jerman, sebuah tindakan yang setelah perang memicu tekanan internasional dan kompensasi besar kepada penyintas Holocaust. Netralitas Swiss juga berfungsi sebagai perekat sosial yang vital; dengan populasi yang terbagi antara kelompok linguistik Jerman, Prancis, dan Italia, posisi netral mencegah pecahnya konflik internal ketika negara-negara tetangga yang memiliki kedekatan budaya tersebut berperang satu sama lain.

Era Sejarah Karakteristik Utama Netralitas Dasar Hukum/Perjanjian Utama
1515 – 1815 Transisi dari ekspansionisme ke unilateralisme Pertempuran Marignano (1515)
1815 – 1914 Pengakuan internasional sebagai zona penyangga Traktat Paris (1815), Kongres Wina
1914 – 1945 Netralitas bersenjata di tengah perang total Konvensi Den Haag (1907), National Redoubt
1945 – 1990 Netralitas aktif dan penyediaan “Good Offices” Kebijakan “Netralitas dan Solidaritas”
1990 – 2022 Integrasi internasional dan keanggotaan PBB Laporan Putih 1993, Aksesi PBB (2002)
2022 – Sekarang Adaptasi terhadap krisis keamanan Eropa Laporan Netralitas 2022, Sanksi Rusia

Krisis Ukraina 2022: Katalisator Perubahan Paradigma Geopolitik

Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022 dipandang oleh Dewan Federal Swiss sebagai pelanggaran berat terhadap norma-norma paling mendasar dalam hukum internasional yang tidak memiliki preseden dalam sejarah modern Eropa. Hanya dalam hitungan hari, tepatnya pada 28 Februari 2022, Swiss mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak dengan mengadopsi sanksi Uni Eropa secara penuh. Langkah ini mencakup pembekuan aset-aset milik individu dan entitas yang masuk dalam daftar sanksi, larangan transaksi dengan Bank Sentral Rusia, serta penutupan ruang udara bagi pesawat Rusia.

Dewan Federal menegaskan bahwa penerapan sanksi ini tetap kompatibel dengan hukum netralitas Den Haag karena Swiss tidak memberikan dukungan militer langsung kepada Ukraina maupun Rusia. Namun, secara politik dan simbolis, Swiss telah menempatkan dirinya secara tegas di blok Barat. Keputusan ini didorong oleh beberapa faktor strategis yang saling berkaitan. Pertama, tekanan dari mitra dagang utama, terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat, sangat besar. Sebagai negara yang sangat terintegrasi dalam pasar keuangan global, isolasi dari rezim sanksi Barat akan membawa risiko ekonomi yang melumpuhkan. Kedua, agresi Rusia dianggap telah merusak arsitektur keamanan Eropa yang selama ini menjamin stabilitas Swiss. Ketiga, ada dorongan moral dan publik di dalam negeri yang menuntut tindakan tegas terhadap apa yang disebut sebagai perang agresi yang “unprovoked”.

Pergeseran ini mencerminkan apa yang oleh banyak pakar disebut sebagai “Zeitenwende” atau titik balik era bagi Swiss. Meskipun pemerintah secara resmi menyatakan tetap netral, Moskow dengan cepat menyatakan bahwa Swiss telah kehilangan statusnya sebagai mediator netral. Rusia memasukkan Swiss ke dalam daftar “negara tidak bersahabat”, sebuah langkah yang merusak peran tradisional Swiss dalam memfasilitasi diplomasi antara pihak-pihak yang bertikai. Analisis mendalam menunjukkan bahwa fleksibilitas yang selama ini dibanggakan dalam kebijakan netralitas Swiss kini sedang diuji hingga batas maksimalnya, menciptakan ketegangan antara tuntutan internasional untuk solidaritas dan tradisi domestik untuk imparsialitas.

Dinamika Pembekuan Aset Rusia dan Batasan Konstitusional

Salah satu aspek yang paling krusial dan kontroversial dari kebijakan baru ini adalah penanganan aset-aset Rusia di bank-bank Swiss. Hingga April 2024, Swiss dilaporkan telah membekukan aset senilai sekitar USD 14,3 miliar (sekitar Rp230 triliun), yang mencakup aset milik negara dan pribadi. Namun, angka ini diperkirakan hanya sebagian kecil dari total kekayaan warga Rusia di Swiss, yang menurut Asosiasi Industri Keuangan Swiss mencapai sekitar USD 213 miliar hingga USD 300 miliar. Credit Suisse sendiri melaporkan telah membekukan aset setara USD 10,4 miliar pada kuartal pertama tahun 2022.

Meskipun pembekuan telah dilakukan, muncul perdebatan hukum mengenai kemungkinan penyitaan (confiscation) aset-aset tersebut untuk mendanai rekonstruksi Ukraina. Pada Februari 2023, Dewan Federal Swiss, berdasarkan klarifikasi hukum dari gugus tugas yang dipimpin oleh Kantor Kehakiman Federal, menyimpulkan bahwa penyitaan aset pribadi yang berasal dari sumber yang sah tanpa kompensasi akan melanggar Konstitusi Federal Swiss dan tatanan hukum yang berlaku. Di bawah hukum Swiss, hak atas properti dilindungi secara ketat, dan penyitaan arbitrer oleh otoritas publik tanpa proses hukum yang adil dan kompensasi pasar adalah perbuatan yang melanggar hukum.

Jenis Aset Status Pembekuan/Penyitaan Dasar Hukum Utama
Aset Pribadi Individu Terdaftar Dibekukan (Frozen) Ukraine Ordinance (berbasis sanksi EU)
Cadangan Bank Sentral Rusia Dihentikan (Immobilized) Larangan transaksi sanksi EU
Aset Yanukovych & Rekanan Proses Penyitaan (Confiscation) Foreign Illicit Assets Act (FIAA)
Crypto-assets & Barang Mewah Dibekukan jika terkait subjek sanksi Ukraine Ordinance (Art. 1)

Terdapat perbedaan prosedur yang signifikan antara pembekuan aset terkait sanksi Rusia pasca-2022 dan aset milik mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang dibekukan sejak revolusi 2014. Dalam kasus Yanukovych, Swiss menggunakan Foreign Illicit Assets Act (FIAA) untuk memulai prosedur penyitaan terhadap aset senilai sekitar CHF 130 juta. FIAA dirancang khusus untuk menangani aset milik “Politically Exposed Persons” (PEP) yang diduga diperoleh secara ilegal dalam situasi keruntuhan kekuasaan di negara asal. Sebaliknya, sanksi terhadap Rusia saat ini bersifat politis dan preventif, di mana tidak ada bukti otomatis bahwa aset yang dibekukan adalah hasil kejahatan, sehingga menyulitkan tindakan penyitaan permanen tanpa merusak kepastian hukum yang menjadi fondasi pusat keuangan Swiss.

Dampak pada Sektor Perbankan dan Reputasi “Safe Haven” Global

Sektor keuangan Swiss, yang secara historis mengelola sekitar CHF 2,2 triliun dalam aset luar negeri, sangat bergantung pada reputasi stabilitas, kepastian hukum, dan kerahasiaan perbankan. Pengadopsian sanksi Rusia telah memicu kekhawatiran serius di kalangan investor dari wilayah non-Barat, terutama dari Tiongkok dan Timur Tengah. Klien-klien kaya dari negara-negara yang memiliki ketidakstabilan politik atau perbedaan ideologi dengan Barat mulai mempertanyakan apakah aset mereka di Swiss masih aman dari sanksi politik di masa depan.

Data dari Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan adanya “eksodus signifikan” aset Rusia dari Eropa ke pusat-pusat keuangan alternatif. Uni Emirat Arab (UEA) tercatat menjadi penerima manfaat utama dari pergeseran ini, dengan pertumbuhan kekayaan deposit sebesar USD 100 miliar dalam satu tahun, menjadikannya pusat offshore dengan pertumbuhan tercepat. Bank-bank swasta Swiss kini harus menghadapi dilema kepatuhan yang semakin rumit; mereka harus menyeimbangkan antara mematuhi rezim sanksi internasional yang semakin ketat dan mempertahankan kepercayaan klien global yang sensitif terhadap retaknya netralitas Swiss.

Selain itu, tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Eropa terus berlanjut agar Swiss lebih proaktif dalam melacak aset tersembunyi. AS melalui OFAC telah menargetkan jaringan transnasional yang memfasilitasi penghindaran sanksi bagi oligarki Rusia, termasuk entitas di Swiss. Munculnya sistem pembayaran alternatif seperti CIPS Tiongkok dan sistem domestik Rusia sebagai pesaing SWIFT juga menambah kompleksitas bagi bank Swiss yang beroperasi secara internasional. Ketegangan ini menunjukkan bahwa status Swiss sebagai safe haven yang absolut kini telah berganti menjadi posisi yang lebih bersyarat dan terikat pada dinamika geopolitik blok Barat.

Dilema Industri Pertahanan dan Kontroversi Re-ekspor Senjata

Retaknya netralitas Swiss juga sangat terlihat dalam kebijakan ekspor material perang. Hukum Swiss secara ketat melarang penjualan senjata ke negara yang sedang berada dalam konflik bersenjata, dan yang lebih kontroversial, melarang negara pembeli untuk melakukan re-ekspor senjata buatan Swiss ke zona perang. Kebijakan ini telah memicu perselisihan diplomatik yang tajam dengan Jerman, Denmark, dan Spanyol. Jerman, misalnya, secara berulang kali meminta izin untuk mengirimkan amunisi tank Gepard buatan Swiss ke Ukraina guna menembak jatuh drone Rusia, namun ditolak oleh Bern atas dasar netralitas.

Dampaknya terhadap industri pertahanan Swiss sangat merusak. Ekspor senjata Swiss turun lebih dari 25% pada tahun 2023. Negara-negara Eropa lainnya mulai ragu untuk memesan senjata dari produsen Swiss karena khawatir mereka tidak akan dapat memberikan bantuan militer kepada sekutu di masa krisis akibat hambatan hukum Swiss. Belanda bahkan telah merespons dengan menghentikan pembelian senjata dari Swiss, dan produsen Swiss mulai dikecualikan dari tender militer besar di Jerman.

Negara Pemohon Jenis Material Perang Status Permintaan Alasan Penolakan/Hasil
Jerman Amunisi 35mm untuk tank Gepard Ditolak (dua kali) Pelanggaran hukum netralitas ekspor
Denmark Kendaraan lapis baja buatan Swiss Ditolak Larangan re-ekspor ke zona konflik
Spanyol Senjata anti-pesawat Ditolak Kepatuhan pada War Materiel Act
Uni Eropa (25 negara) Berbagai material perang Disetujui (2024) Perubahan aturan untuk negara dengan nilai serupa

Menanggapi krisis industri ini, parlemen Swiss pada tahun 2024 mulai melonggarkan aturan. Dewan menyetujui perubahan yang memungkinkan re-ekspor ke 25 negara mitra (termasuk sebagian besar Eropa, AS, Jepang, dan Australia) secara otomatis, meskipun negara tersebut terlibat dalam konflik, asalkan mereka memiliki rezim kontrol ekspor yang serupa dengan Swiss. Namun, aturan ini tidak berlaku surut untuk Ukraina, sehingga amunisi yang dibeli Jerman puluhan tahun lalu tetap tertahan. Langkah ini dipandang sebagai upaya pragmatis untuk menyelamatkan industri pertahanan domestik dengan mengorbankan kemurnian doktrin netralitas.

Reorientasi Strategi Keamanan dan Kerja Sama dengan NATO

Pergeseran paling signifikan dalam arsitektur keamanan Swiss adalah pengakuan bahwa pertahanan otonom murni tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman modern. Sebuah komisi ahli yang ditunjuk oleh Departemen Pertahanan Federal merilis laporan pada pertengahan 2024 yang merekomendasikan pendalaman kerja sama dengan NATO dan Uni Eropa. Laporan tersebut menekankan bahwa penurunan tajam situasi keamanan di Eropa akibat perang agresi Rusia mengharuskan Swiss untuk mencapai “kemampuan pertahanan bersama” (common defense capability).

Swiss telah berpartisipasi dalam program Partnership for Peace (PfP) NATO sejak 1996, namun kini intensitasnya meningkat. Dalam kerangka Individually Tailored Partnership Programme (ITPP) untuk periode 2025-2028, Swiss dan NATO telah menetapkan tujuan untuk meningkatkan interoperabilitas angkatan bersenjata, terutama dalam sistem komunikasi dan angkatan udara. Selain itu, Swiss juga bergabung dengan inisiatif European Sky Shield (ESSI) pada April 2024 untuk memperkuat pertahanan udara regional.

Meskipun pemerintah menegaskan bahwa kerja sama ini tetap dalam batas-batas netralitas—karena Swiss tidak bergabung dengan aliansi militer dan tidak memiliki kewajiban bantuan timbal balik—para pengkritik melihat ini sebagai langkah menuju keanggotaan NATO secara de facto. Peningkatan anggaran pertahanan dari 0,75% PDB menjadi 1% pada tahun 2030 adalah bukti fisik dari keseriusan Swiss dalam memodernisasi militer agar kompatibel dengan standar Barat. Strategi keamanan 2025/2026 akan menjadi dokumen penentu yang secara resmi menggeser orientasi Swiss dari negara “penonton” menjadi mitra aktif dalam stabilitas Eropa.

Kontestasi Politik Domestik: Inisiatif Netralitas SVP

Pergeseran radikal dalam kebijakan luar negeri ini tidak berjalan tanpa perlawanan di dalam negeri. Partai Rakyat Swiss (SVP), partai terbesar di parlemen yang beraliran kanan-konservatif, memandang langkah pemerintah sebagai pengkhianatan terhadap identitas nasional. Pada April 2024, SVP menyerahkan “Inisiatif Netralitas” ke Kanselir Federal dengan lebih dari 129.000 tanda tangan valid. Inisiatif ini bertujuan untuk memasukkan definisi netralitas yang sangat kaku ke dalam Konstitusi Federal Swiss melalui penambahan Pasal 54a.

Jika disetujui dalam referendum, inisiatif ini akan melarang Swiss untuk bergabung dengan aliansi militer apa pun (kecuali diserang langsung) dan, yang paling krusial, melarang partisipasi dalam sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang bertikai kecuali jika diwajibkan oleh Dewan Keamanan PBB. Ini secara efektif akan memaksa pemerintah untuk membatalkan sanksi terhadap Rusia. Para pendukung inisiatif berargumen bahwa netralitas “kasus per kasus” yang fleksibel telah gagal menjaga reputasi Swiss dan justru menyeret negara ke dalam konflik global.

Dewan Federal secara resmi merekomendasikan penolakan terhadap inisiatif ini tanpa usulan tandingan (counter-proposal). Pemerintah berargumen bahwa mengunci netralitas secara kaku dalam konstitusi akan merampas fleksibilitas yang dibutuhkan untuk melindungi kepentingan nasional, ekonomi, dan keamanan dalam situasi internasional yang tidak terduga. Perdebatan ini mencerminkan perpecahan mendalam di masyarakat Swiss antara kelompok yang ingin mempertahankan “netralitas integral” yang isolasionis dan kelompok yang mendukung “netralitas aktif” yang kolaboratif dengan Eropa.

Dampak pada Peran Mediator Global dan Masa Depan “Jenewa Internasional”

Reputasi Swiss sebagai honest broker atau penengah jujur dalam diplomasi internasional telah menjadi salah satu “soft power” utamanya selama puluhan tahun. Jenewa merupakan markas bagi berbagai organisasi internasional dan sering menjadi tempat pertemuan puncak bersejarah, seperti pertemuan antara presiden AS dan Rusia. Namun, keputusan untuk berpihak pada sanksi Barat telah merusak persepsi ketidakberpihakan Swiss di mata banyak negara non-Barat.

Rusia telah secara eksplisit menyatakan bahwa Swiss “telah kehilangan statusnya sebagai mediator netral”. Hal ini terlihat jelas ketika Rusia menolak untuk menghadiri konferensi perdamaian Ukraina di Swiss pada tahun 2024, dengan alasan bahwa Swiss bukan lagi wilayah yang netral secara politik. Jika Swiss tidak lagi dianggap netral oleh salah satu pihak yang bertikai, maka fungsi utamanya dalam menyediakan “jasa-jasa baik” (good offices) akan sangat terdegradasi. Ini memberikan peluang bagi negara-negara lain seperti Turki atau Arab Saudi untuk mengambil alih peran tersebut.

Meskipun demikian, Dewan Federal berargumen bahwa kredibilitas Swiss justru akan rusak jika ia tetap pasif di hadapan pelanggaran hukum internasional yang terang-terangan. Menurut pandangan ini, netralitas tidak boleh disamakan dengan ketidakpedulian moral atau hukum. Swiss tetap berusaha menonjolkan peran kemanusiaannya dan komitmennya pada hukum kemanusiaan internasional sebagai fondasi baru untuk diplomasinya di masa depan. Pertaruhan besarnya adalah apakah “Jenewa Internasional” dapat bertahan sebagai pusat multilateralisme di dunia yang semakin terpolarisasi menjadi blok-blok kekuasaan.

Analisis Skenario Keamanan Eropa 2035 dan Posisi Swiss

Melihat ke depan, para ahli keamanan memprediksi lima skenario utama bagi arsitektur keamanan Eropa yang akan sangat mempengaruhi masa depan netralitas Swiss. Skenario “Antagonism” menggambarkan kelanjutan situasi saat ini dengan hubungan transatlantik yang solid namun konfrontatif terhadap Rusia. Dalam konteks ini, Swiss kemungkinan akan terus mengikuti kebijakan “Status Quo Plus”, yaitu tetap netral secara formal namun semakin terintegrasi dengan struktur keamanan Barat untuk perlindungan praktis.

Skenario yang lebih ekstrem, seperti “Patchwork”, menggambarkan dunia tanpa aliansi yang kuat di mana setiap negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional jangka pendek. Dalam situasi kacau seperti ini, netralitas kaku yang diusulkan oleh SVP mungkin akan terlihat lebih menarik sebagai benteng perlindungan, namun juga sangat berisiko membuat Swiss terisolasi secara ekonomi. Di sisi lain, munculnya “European Defence Union” akan memaksa Swiss untuk mendefinisikan kembali hubungannya dengan Uni Eropa, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara militer, yang mungkin akan mengakhiri netralitas Swiss seperti yang kita kenal selama ini.

Skenario Masa Depan Karakteristik Hubungan Internasional Dampak pada Netralitas Swiss
Antagonism NATO solid, konfrontasi Barat-Rusia berlanjut Fleksibilitas netralitas diuji; kerjasama teknis NATO erat
European NATO AS mengurangi keterlibatan; Eropa memimpin pertahanan Swiss dipaksa memilih integrasi pertahanan Eropa total
Patchwork Aliansi runtuh; nasionalisme meningkat Swiss kembali ke isolasionisme bersenjata (Inisiatif SVP)
Cooperative Co-existence Relaksasi ketegangan; tatanan kooperatif muncul Pemulihan peran mediator universal Swiss

Analisis menunjukkan bahwa Swiss sedang berada dalam periode transisi yang tidak dapat dihindari. Perang di Ukraina bukan sekadar gangguan sementara, melainkan katalisator bagi reorganisasi sistemik sistem internasional. Swiss, dengan ketergantungan ekonominya pada akses pasar global dan ketergantungan keamanannya pada stabilitas Eropa, tidak lagi memiliki kemewahan untuk berdiri di pinggiran tanpa mengambil risiko besar.

Kesimpulan dan Proyeksi Strategis

Retaknya prinsip netralitas Swiss pasca-invasi Ukraina merupakan fenomena yang sangat signifikan dalam politik global. Keputusan untuk membekukan aset Rusia dan mengadopsi sanksi internasional telah mengakhiri mitos bahwa netralitas Swiss adalah posisi statis yang tidak dapat ditembus oleh realitas geopolitik. Swiss telah membuktikan bahwa dalam menghadapi pelanggaran hukum internasional yang ekstrem, ia lebih memilih untuk menjadi “partisipan normatif” daripada “pengamat pasif”.

Masa depan Swiss akan ditentukan oleh kemampuannya menavigasi tiga ketegangan utama:

  1. Antara Hukum dan Politik: Mempertahankan perlindungan konstitusional terhadap hak milik pribadi di tengah tekanan internasional untuk menyita aset Rusia guna rekonstruksi Ukraina.
  2. Antara Keamanan dan Identitas: Mendalamkan kerja sama militer dengan NATO untuk menghadapi ancaman hibrida sambil berusaha mempertahankan label “netral” untuk menenangkan pemilih domestik.
  3. Antara Globalisme dan Regionalisme: Berusaha tetap menjadi pusat keuangan dan diplomasi global yang terbuka bagi semua pihak, sementara secara faktual semakin terintegrasi ke dalam blok keamanan dan ekonomi Eropa-Atlantik.

Meskipun fondasi lama netralitas Swiss mulai retak, ini tidak berarti netralitas itu sendiri telah mati. Sebaliknya, Swiss sedang membangun versi netralitas yang lebih “fleksibel” dan “situasional”. Keberhasilan adaptasi ini akan sangat bergantung pada hasil referendum “Inisiatif Netralitas” dan implementasi Strategi Keamanan 2025. Swiss sedang belajar bahwa untuk tetap relevan sebagai “pulau kedamaian” di abad ke-21, ia harus berani keluar dari bayang-bayang masa lalunya dan berkontribusi secara aktif pada tatanan internasional yang didasarkan pada hukum dan tanggung jawab bersama.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

62 + = 66
Powered by MathCaptcha