Krisis kepercayaan digital yang dipicu oleh kemunculan kecerdasan buatan generatif telah memaksa negara-negara di seluruh dunia untuk mendefinisikan ulang batas antara kebebasan berekspresi dan keamanan publik. Dalam lanskap global ini, India muncul dengan pendekatan yang sangat distingtif, memosisikan regulasi AI bukan sekadar sebagai instrumen hukum teknis, melainkan sebagai sebuah “arsitektur sipil” (civic architecture) yang terintegrasi dengan infrastruktur digital publik. Melalui amandemen Aturan Teknologi Informasi (IT Rules) tahun 2026, India memimpin narasi di mana sistem identitas digital nasional seperti Aadhaar dan platform pembayaran massal seperti Unified Payments Interface (UPI) ditransformasikan menjadi alat verifikasi informasi primer untuk melawan penyebaran hoaks dan deepfake secara struktural. Strategi ini tidak hanya mengandalkan moderasi konten pasif, tetapi mewajibkan platform digital secara hukum untuk memprioritaskan konten yang terverifikasi secara resmi di atas arus konten algoritmik biasa yang didorong oleh metrik keterlibatan. Laporan ini akan menganalisis secara mendalam bagaimana India menggunakan kekuatan birokrasi dan warisan infrastruktur digitalnya untuk menciptakan benteng pertahanan terhadap manipulasi informasi dalam era pasca-kebenaran.
Fondasi Filosofis AI sebagai Arsitektur Sipil
Konsep AI sebagai arsitektur sipil berangkat dari pemahaman bahwa teknologi kecerdasan buatan telah menjadi sangat konsekuensial bagi stabilitas demokrasi sehingga tidak dapat lagi dipandu semata-mata oleh logika pasar atau keuntungan triwulanan. Sebagaimana para reformis era industri membayangkan kembali pabrik sebagai mesin kemakmuran bersama, India menghadapi titik balik serupa dengan AI, menuntut inovasi institusional yang berakar pada nilai-nilai publik. Dalam pandangan ini, AI diperlakukan sebagai institusi sipil yang harus terbuka, melayani seluruh lapisan masyarakat, beroperasi di bawah aturan yang eksplisit dan transparan, serta memiliki mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang mapan.
Pemerintah India, melalui Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi (MeitY), menekankan bahwa terdapat kebutuhan sosial dan keharusan moral untuk menciptakan konten yang diautentikasi. Sekretaris MeitY, S. Krishnan, menyatakan bahwa konten yang telah dikurasi dan diautentikasi secara jelas perlu mendapatkan prioritas dan lebih banyak hak istimewa dibandingkan dengan konten acak yang beredar secara daring. Ini merupakan pergeseran paradigma dari netralitas perantara menjadi tanggung jawab algoritmik, di mana infrastruktur digital nasional diposisikan sebagai “jalur kereta api digital” yang mengangkut kepercayaan, bukan sekadar data.
| Prinsip Utama Arsitektur Sipil AI | Deskripsi Implementatif | Implikasi bagi Platform |
| Keterbukaan Publik | AI harus bekerja untuk kepentingan seluruh masyarakat, bukan hanya kepentingan komersial. | Transparansi penuh pada dataset pelatihan dan logika algoritma. |
| Aturan Transparan | Mekanisme pengambilan keputusan AI harus jelas, eksplisit, dan dapat dipertanggungjawabkan. | Hak pengguna untuk menyanggah hasil keputusan otomatis (contestability). |
| Memori Institusional | Sistem harus memungkinkan pembelajaran berkelanjutan dari kesalahan dan audit berkala. | Kewajiban menyimpan log audit selama 180 hari. |
| Prioritas Autentikasi | Konten dari sumber resmi dan terverifikasi diberikan bobot lebih dalam penyebaran. | Penyesuaian mesin rekomendasi untuk menekan konten sensasional dan hoaks. |
India memposisikan dirinya sebagai model global yang mengintegrasikan teknologi, tata kelola, dan kepentingan publik, di mana media berfungsi baik sebagai partisipan maupun pemangku kepentingan dalam transformasi ini. Melalui prinsip “AI untuk Semua” (AI for All), India berusaha memastikan bahwa manfaat AI didistribusikan secara adil di seluruh spektrum sosial-ekonomi, menggunakan infrastruktur publik untuk menjembatani kesenjangan digital.
Evolusi Tata Kelola Digital India: 2014-2026
Transformasi India menjadi pemimpin tata kelola AI dimulai dengan integrasi strategis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ke dalam administrasi publik sejak tahun 2014. Dekade ini ditandai dengan pergeseran dari birokrasi berat berbasis kertas menuju mekanisme tangkas yang digerakkan oleh teknologi. Visi “Digital India” yang diluncurkan pada tahun 2015 telah menghasilkan infrastruktur digital publik (DPI) yang kini melayani lebih dari 1,3 miliar warga.
Pada fase awal (2014-2017), fokus utama adalah membangun pilar dasar seperti konektivitas internet pedesaan melalui BharatNet dan literasi digital massal. Namun, seiring dengan peningkatan penetrasi internet yang kini mencakup lebih dari 950 juta pelanggan, tantangan disinformasi menjadi semakin akut. Deepfake, yang awalnya dianggap sebagai rasa ingin tahu teknis, kini diakui sebagai ancaman nyata terhadap kohesi sosial, keamanan nasional, dan integritas pemilu.
India menanggapi ancaman ini bukan dengan larangan total, melainkan dengan memperkuat kerangka kerja IT Rules 2021 melalui amandemen progresif. Amandemen terbaru yang diperkenalkan pada Februari 2026 secara eksplisit menargetkan “Informasi yang Dihasilkan secara Sintetis” (SGI) atau Synthetically Generated Information. Definisi SGI mencakup informasi audio, visual, atau audio-visual yang dibuat atau dimodifikasi secara algoritmik sehingga tampak autentik atau nyata dan menggambarkan individu atau peristiwa dengan cara yang tidak dapat dibedakan dari aslinya. Langkah ini menandai pergeseran dari pendekatan non-regulasi menuju tata kelola yang proaktif dan berorientasi pada keselamatan pengguna.
Anatomi Regulasi: Amandemen IT Rules 2026 dan Rezim SGI
Amandemen Aturan Teknologi Informasi tahun 2026, yang mulai berlaku pada 20 Februari 2026, merupakan intervensi regulasi paling agresif di dunia terhadap konten yang dihasilkan AI. Regulasi ini menciptakan kerangka kerja kepatuhan dua tingkat yang memberikan tekanan operasional luar biasa pada platform digital untuk menjadi “penjaga gerbang aktif”.
Kewajiban Teknis dan Pelabelan Permanen
Setiap perantara yang memfasilitasi pembuatan atau penyebaran SGI diwajibkan untuk menerapkan langkah-langkah teknis yang “wajar dan tepat”. Hal ini mencakup penggunaan alat otomatis untuk mencegah pembuatan konten yang dilarang, seperti citra intim non-konsensual (NCII), materi eksploitasi seksual anak (CSAM), instruksi pembuatan senjata, dan dokumen elektronik palsu.
Transparansi kini bukan lagi sukarela, melainkan wajib ditanamkan ke dalam “genetik” konten digital. Amandemen ini mewajibkan:
- Label Visual dan Audio: Konten visual harus memiliki penanda yang jelas dan menonjol, sementara konten audio harus menyertakan disclamer audio di awal pemutaran.
- Metadata Provenans: Platform harus menanamkan metadata permanen dan pengenal unik yang memungkinkan pelacakan asal-usul konten kembali ke alat AI spesifik yang digunakan. Penanda ini dirancang agar tidak dapat dihapus bahkan jika konten tersebut dibagikan di platform lain.
- Deklarasi Pengguna dan Verifikasi Otomatis: Perantara Media Sosial Signifikan (SSMI) diwajibkan untuk meminta pengguna mendeklarasikan apakah konten mereka adalah SGI sebelum publikasi. Lebih jauh lagi, SSMI tidak boleh hanya mengandalkan kejujuran pengguna; mereka secara hukum wajib menggunakan alat verifikasi otomatis untuk memeriksa akurasi deklarasi tersebut.
Kompresi Batas Waktu Takedown: Kecepatan Birokrasi Digital
Salah satu aspek paling kontroversial dari Amandemen 2026 adalah pemangkasan drastis waktu respons terhadap perintah pemerintah atau pengadilan. Jika sebelumnya platform memiliki waktu 36 jam untuk menghapus konten ilegal, batas waktu ini kini dikompresi menjadi hanya 3 jam. Untuk pelanggaran yang paling sensitif, seperti deepfake pornografi non-konsensual, platform hanya memiliki jendela waktu 2 jam untuk bertindak guna meminimalkan trauma korban dan mencegah viralitas berbahaya.
| Kategori Konten | Batas Waktu Respon (Lama) | Batas Waktu Respon (Amandemen 2026) | Implikasi Operasional |
| Perintah Pemerintah/Pengadilan | 36 Jam | 3 Jam | Memerlukan tim hukum dan teknis yang siaga 24/7. |
| Deepfake Nuditas/NCII | 24 Jam | 2 Jam | Memerlukan otomatisasi tingkat tinggi dalam otentikasi keluhan. |
| Grievance Appellate Committee (GAC) | 24 Jam | 2 Jam | Tekanan pada sistem penyelesaian sengketa internal platform. |
| Keluhan Umum Pengguna | 15 Hari | 7 Hari | Peningkatan kapasitas tim moderasi konten lokal. |
| Konten Terkait Individu | 72 Jam | 36 Jam | Fokus pada perlindungan reputasi personal secara cepat. |
Kegagalan untuk memenuhi batas waktu yang sangat ketat ini berakibat pada hilangnya perlindungan “Safe Harbour” berdasarkan Pasal 79 UU IT India. Tanpa perlindungan ini, platform dapat digugat secara langsung seolah-olah mereka adalah pembuat konten ilegal tersebut, membuka pintu bagi tuntutan perdata tak terbatas dan tanggung jawab pidana bagi pejabat kepatuhan residen.
Digital Public Infrastructure (DPI) sebagai Instrumen Verifikasi
Keunggulan India dalam narasi regulasi AI global berakar pada pemanfaatan Digital Public Infrastructure (DPI) yang sudah matang sebagai instrumen verifikasi informasi primer. India tidak hanya mengandalkan deteksi AI versus AI, tetapi menghubungkan konten digital dengan identitas dunia nyata melalui “India Stack”.
Aadhaar: Jangkar Identitas dalam Lautan Deepfake
Aadhaar, sebagai sistem identitas biometrik terbesar di dunia dengan 1,38 miliar kartu yang diterbitkan, berfungsi sebagai lapisan dasar kepercayaan digital. Melalui layanan Aadhaar-as-a-Service (AaaS), platform digital dapat melakukan verifikasi identitas instan melalui API yang aman. Dalam konteks melawan deepfake, integrasi Aadhaar memungkinkan:
- Otentikasi Akun Berpengaruh: Memastikan bahwa akun berita atau tokoh publik terikat pada identitas hukum yang valid, mengurangi risiko impersonasi oleh bot atau AI.
- Deteksi Liveness dan Biometrik: Implementasi pemeriksaan “liveness” (keaktifan) melalui selfie yang divalidasi dengan kedipan mata atau gerakan kepala untuk mencegah penggunaan gambar statis atau deepfake dalam proses KYC (Know Your Customer).
- Verifikasi Offline: Fitur baru pada aplikasi Aadhaar memungkinkan verifikasi identitas tanpa internet dan tanpa harus membagikan nomor biometrik asli, memberikan kontrol privasi lebih besar kepada pengguna sambil tetap memastikan keaslian.
UPI dan Ekonomi Kepercayaan
Unified Payments Interface (UPI) tidak hanya merevolusi pembayaran mikro di India dengan 10 miliar transaksi bulanan, tetapi juga menyediakan data perilaku yang kaya untuk mendeteksi jaringan penipuan yang didorong AI. Penggunaan analitik canggih dan model berbasis graf pada data UPI memungkinkan pemerintah untuk mengidentifikasi pola penyebaran disinformasi yang didanai secara mencurigakan. Dengan menghubungkan identitas keuangan dan digital, India menciptakan ekosistem di mana anonimitas yang berbahaya sulit dipertahankan.
DigiLocker dan ONDC: Ekosistem Data Terpercaya
DigiLocker menyediakan penyimpanan dokumen digital yang terverifikasi, yang dapat digunakan oleh platform berita untuk memvalidasi klaim faktual atau pernyataan resmi pemerintah secara instan. Sementara itu, Open Network Digital Commerce (ONDC) memastikan bahwa interoperabilitas antar platform didasarkan pada standar kepercayaan yang seragam, mencegah monopoli data yang sering kali menjadi sarang algoritma tertutup yang membiarkan hoaks berkembang.
Mandate Prioritasi Konten: Menggeser Kedaulatan Algoritma
Keunikan regulasi India terletak pada mandat eksplisit bagi platform digital untuk memprioritaskan konten yang terverifikasi secara resmi. MeitY berpendapat bahwa teknologi harus digunakan untuk memperkuat jurnalisme yang kredibel dengan memberikan “previlese” lebih besar kepada informasi yang diautentikasi dan dikurasi di atas materi yang tidak terverifikasi.
Transformasi Perantara menjadi Penjaga Gerbang Aktif
Regulasi ini secara fundamental mengubah posisi platform dari “pipa netral” menjadi “kurator aktif” yang bertanggung jawab atas dampak sosial dari algoritma mereka. Hal ini dilakukan melalui:
- Algorithmic Accountability: Terdapat usulan pembentukan “Biro Akuntabilitas Algoritmik” yang bertugas melakukan audit berkala terhadap mesin rekomendasi platform untuk memastikan bahwa mereka tidak secara tidak proporsional mempromosikan konten sensasional atau deepfake demi metrik keterlibatan.
- Broadcast-ification Kreator: Influencer besar kini diklasifikasikan sebagai “Penyiar Berita Digital,” yang mewajibkan mereka mematuhi “Kode Program” yang sama dengan jaringan TV nasional, termasuk persyaratan untuk melakukan pra-kliring konten melalui komite internal.
- Unit Cek Fakta (FCU): Pemerintah telah memberdayakan Unit Cek Fakta yang dinotifikasi untuk menandai konten yang dianggap palsu atau menyesatkan. Platform diwajibkan secara teknis untuk “mencegah” (bukan hanya menghapus) unggahan konten yang telah ditandai sebagai ilegal atau hoaks oleh FCU.
Model Anonimitas Bertingkat (Tiered Anonymity)
India mulai mengeksplorasi konsep di mana kewajiban identitas dan verifikasi diskalakan berdasarkan jangkauan konten. Sebagaimana institusi demokrasi mengelola kekuasaan dengan akuntabilitas yang meningkat, pidato digital juga harus memiliki “gesekan” yang proporsional :
| Tingkat (Tier) | Kategori Akun | Kewajiban Identitas & Verifikasi | Prinsip Desain |
| Tingkat 1 | Akun personal, kelompok hobi | Anonimitas penuh dipertahankan; hanya tunduk pada aturan komunitas dasar. | Melindungi privasi sehari-hari dan spontanitas. |
| Tingkat 2 | Influencer niche, halaman berita lokal | Tautan identitas hukum yang dipegang platform; jendela waktu “cooling-off” sebelum posting. | Memulihkan akuntabilitas pada jangkauan moderat. |
| Tingkat 3 | Merek media nasional, selebriti, influencer massal | Verifikasi identitas publik; pemeriksaan fakta independen berbasis ML per posting sebelum distribusi luas. | Menangani dampak jangkauan massal sebagai penerbit de-facto. |
Model ini bertujuan untuk mengakhiri asimetri di mana hukum melindungi anonimitas secara simetris, sementara platform mendistribusikan pengaruh secara asimetris. Dengan menanamkan biaya atau keterlambatan yang disengaja (friction) pada akun dengan jangkauan besar, India berusaha mendorong deliberasi dan mengurangi kecepatan penyebaran misinformasi massal yang digerakkan oleh AI.
Analisis Komparatif: Paradigma India dalam Konteks Global
India memposisikan strateginya sebagai jalan tengah antara pendekatan Uni Eropa yang preskriptif dan pendekatan Amerika Serikat yang berbasis pasar, namun dengan penekanan unik pada infrastruktur publik.
India vs. Uni Eropa (EU AI Act)
Uni Eropa telah mengadopsi kerangka kerja risiko horizontal tunggal yang mengklasifikasikan sistem AI berdasarkan tingkat bahaya terhadap hak-hak fundamental. Sebaliknya, India lebih memilih pendekatan “hands-off” untuk mendorong pengembangan awal, namun dengan intervensi sektoral yang sangat kuat pada titik distribusi informasi. Jika Uni Eropa fokus pada kepastian hukum melalui klasifikasi, India fokus pada fleksibilitas melalui prinsip-prinsip yang dapat diadaptasi dan tindakan yang ditargetkan. Bagi India, tata kelola AI harus dibenarkan sebagai kepentingan publik, bukan sekadar pematuhan daftar periksa administratif.
India vs. Amerika Serikat
Amerika Serikat saat ini kekurangan undang-undang AI federal yang komprehensif, lebih mengandalkan peraturan sektoral dan standar sukarela. Sementara AS memprioritaskan inovasi tanpa hambatan dan akuntabilitas pemerintah melalui tindakan anti-korupsi, India melihat negara sebagai penyedia infrastruktur “kepercayaan” yang wajib digunakan oleh sektor swasta. India juga menolak model “pemenang mengambil semua” dari raksasa teknologi AS dengan mempromosikan DPI yang interoperabel dan terbuka.
| Fitur Tata Kelola | Uni Eropa (EU AI Act) | Amerika Serikat (State-led/Sectoral) | India (Model DPI & Civic Architecture) |
| Struktur Hukum | Horizontal, Komprehensif | Terfragmentasi per sektor/negara bagian | Prinsip-prinsip berbasis DPI & Amandemen IT Rules |
| Fokus Utama | Hak Fundamental & Privasi | Akuntabilitas Pemerintah & Inovasi Pasar | Inklusi Digital & Kebenaran Informasi |
| Mekanisme Kepatuhan | Penilaian Risiko & Audit Mandatori | Kesesuaian Sektoral & Tindakan Sukarela | Verifikasi Identitas & Penalti Takedown Cepat |
| Peran Infrastruktur | Standar Teknis Internasional | Infrastruktur Milik Swasta Dominan | Digital Public Infrastructure (DPI) Milik Negara |
India menggunakan posisi ini untuk memimpin narasi bagi negara-negara Global South, menawarkan model di mana teknologi tidak hanya “dikonsumsi” dari raksasa global, tetapi “dikelola” melalui arsitektur sipil lokal yang kuat.
Tantangan Operasional dan Kritik Hak Digital
Meskipun model India menawarkan solusi sistemik terhadap deepfake, implementasinya menghadapi kritik tajam dari pakar hukum dan organisasi hak asasi manusia yang melihat birokrasi ini sebagai pedang bermata dua.
Ancaman terhadap Kebebasan Berekspresi dan Sensor Otomatis
Internet Freedom Foundation (IFF) menyatakan bahwa batas waktu takedown 3 jam yang sangat singkat adalah “imposibel” bagi tinjauan manusia yang bermakna. Hal ini memaksa platform untuk melakukan “over-removal” otomatis demi menghindari tanggung jawab pidana, yang dapat membungkam pidato politik yang sah, satir, parodi, dan ekspresi artistik. Rezim ini dianggap menciptakan “pengekangan sebelumnya” (prior restraint) yang tidak kompatibel dengan Pasal 19(1)(a) Konstitusi India.
Risiko Privasi dan Identitas
Kewajiban untuk mengungkapkan identitas pengguna yang melanggar langsung kepada pelapor tanpa melalui perintah pengadilan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap privasi. Hal ini membuka peluang bagi aksi main hakim sendiri, doxing, dan pelecehan terhadap suara-suara minoritas atau berbeda pendapat. Selain itu, persyaratan pelacakan (traceability) untuk SGI dapat memaksa platform untuk melemahkan enkripsi ujung-ke-ujung demi menyertakan metadata provenans yang permanen.
Kesenjangan Teknis dan “Liar’s Dividend”
Terdapat paradoks teknis di mana regulasi mewajibkan pelabelan dan deteksi SGI, namun alat deteksi AI saat ini masih memiliki akurasi yang tidak merata di berbagai bahasa daerah dan dialek India. Lebih lanjut, fenomena “dividen pembohong” (liar’s dividend) menjadi semakin kuat; ketika semua orang tahu bahwa deepfake ada, figur publik dapat dengan mudah menolak bukti rekaman asli sebagai “rekayasa AI,” merusak fondasi kebenaran itu sendiri.
Beban pada Pemain Kecil
Aturan IT 2026 yang ketat, termasuk kewajiban memiliki Pejabat Kepatuhan Residen dan sistem pelaporan bulanan, dapat menciptakan “regulatory capture” yang tidak disengaja. Hanya raksasa teknologi besar yang memiliki sumber daya finansial untuk membangun infrastruktur legal dan teknis 24/7 yang diperlukan, sementara startup dan platform lokal yang lebih kecil mungkin tertatih-tatih atau terpaksa membatasi fitur mereka.
Implikasi bagi Masa Depan Jurnalisme dan Media
Dalam model arsitektur sipil ini, media digital India berada pada titik balik kritis. Kredibilitas, inklusi, dan aksesibilitas kini bukan lagi pilihan, melainkan pusat dari peran media di masa depan.
Prioritas Konten Terverifikasi
Dengan adanya mandat hukum untuk memprioritaskan informasi yang diautentikasi, organisasi berita memiliki peluang untuk merebut kembali otoritas informasi dari algoritma viral. Namun, ini juga berarti media harus tunduk pada standar akuntabilitas yang lebih tinggi dan mungkin harus berintegrasi dengan sistem identitas digital untuk memverifikasi setiap laporan yang dipublikasikan secara daring.
Ekonomi Kreator dan Tanggung Jawab Sosial
Menteri Informasi dan Penyiaran, Ashwini Vaishnaw, menekankan perlunya bagi hasil yang adil bagi kreator konten sambil tetap waspada terhadap kejahatan siber. Kreator tidak lagi dipandang sebagai individu hobi, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur berita nasional yang harus mematuhi kode etik yang ketat. Pengguna yang mengunggah SGI tanpa deklarasi kini menghadapi risiko penangguhan akun segera dan potensi pengungkapan identitas kepada korban.
Menuju India Maju (Viksit Bharat) 2047: Peta Jalan AI
Visi India untuk masa depan adalah mengintegrasikan AI secara mendalam di seluruh ekosistem DPI untuk mendorong pertumbuhan yang resilien dan inklusif. Investasi sebesar USD 1,2 miliar dalam “IndiaAI Mission” dan korpus USD 12 miliar untuk teknologi matahari terbit (sunrise technologies) menunjukkan ambisi India untuk beralih dari konsumen AI menjadi pencipta AI.
Sovereign AI dan Kemandirian Digital
India telah mengumumkan pengembangan lima model AI berdaulat baru yang dirancang untuk menyeimbangkan kebutuhan komputasi dengan kepentingan publik. Melalui inisiatif seperti “AI for All,” India berusaha memastikan bahwa kecerdasan buatan membantu mengurangi ketimpangan melalui platform seperti Bhashini yang menyediakan akses informasi dalam bahasa-bahasa lokal yang kurang terwakili.
Penguatan Keamanan Biometrik Aadhaar
UIDAI terus memperkuat benteng biometrik dengan menonaktifkan lebih dari 25 juta kartu Aadhaar milik orang yang sudah meninggal untuk mencegah penyalahgunaan identitas. Fitur penguncian biometrik dan otentikasi wajah dengan deteksi keaktifan akan menjadi lapisan pertahanan utama terhadap serangan identitas sintetis di masa depan.
Kesimpulan: Realisme Birokrasi dalam Era Pasca-Kebenaran
Strategi India yang bertajuk “Melawan Deepfake dengan Birokrasi” merupakan upaya paling berani di tingkat negara untuk menjinakkan anarki informasi yang dipicu oleh AI generatif. Dengan memosisikan regulasi sebagai “arsitektur sipil,” India menegaskan bahwa ruang digital bukanlah wilayah tanpa hukum, melainkan perpanjangan dari kedaulatan sipil yang memerlukan infrastruktur publik yang kuat untuk menjaga kebenaran.
Pemanfaatan Digital Public Infrastructure (DPI) sebagai alat verifikasi memberikan India keunggulan unik: kemampuan untuk menghubungkan dunia maya yang cair dengan identitas fisik yang konkret. Meskipun tantangan terhadap kebebasan berekspresi dan privasi tetap nyata, model India menawarkan pelajaran penting bagi dunia: bahwa di hadapan ancaman teknologi yang melarutkan realitas, birokrasi yang cerdas, transparan, dan berbasis infrastruktur mungkin merupakan satu-satunya cara untuk membangun kembali fondasi kepercayaan publik. Keberhasilan India dalam menavigasi keseimbangan antara inovasi dan regulasi ini akan menentukan apakah AI akan menjadi alat pemberdayaan atau instrumen manipulasi massa di abad ke-21. India telah memilih jalannya: membangun arsitektur sipil digital di mana kepercayaan tidak lagi diasumsikan, melainkan diverifikasi, diprioritaskan, dan dipertahankan oleh negara demi kepentingan rakyatnya.
