Fenomena hiperinflasi di Zimbabwe pada dekade 2000-an merupakan salah satu eksperimen ekonomi paling ekstrem dan destruktif dalam sejarah modern. Peristiwa ini bukan sekadar kegagalan pasar yang tidak disengaja, melainkan hasil dari serangkaian keputusan kebijakan yang secara sadar mengabaikan prinsip-prinsip dasar manajemen fiskal dan moneter demi kelangsungan politik rezim yang berkuasa. Istilah “hiperinflasi yang direncanakan” merujuk pada penggunaan instrumen pencetakan uang sebagai alat utama untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang tidak teranggarkan, mulai dari pembayaran gratifikasi militer hingga pembiayaan perang di luar negeri, yang secara sistematis menghancurkan nilai tukar mata uang nasional. Melalui ulasan ini, akan dianalisis bagaimana hilangnya logika dalam tata kelola keuangan negara mengubah Zimbabwe dari “lumbung pangan” Afrika menjadi simbol kegagalan ekonomi global yang puncaknya ditandai dengan penerbitan uang kertas pecahan 100 triliun dolar Zimbabwe.

Akar Sejarah dan Pergeseran Paradigma Ekonomi (1980–1996)

Pada saat memperoleh kemerdekaan yang diakui secara internasional pada tahun 1980, Zimbabwe mewarisi salah satu ekonomi paling terdiversifikasi dan menjanjikan di Afrika Sub-Sahara. Dengan infrastruktur yang kuat, sektor pertanian komersial yang produktif, dan basis manufaktur yang berkembang, Zimbabwe awalnya menunjukkan kinerja ekonomi yang impresif. Pertumbuhan PDB riil pada tahun 1980 mencapai 14,6 persen, sementara inflasi tahunan berada pada tingkat yang sangat terkendali sebesar 5,4 persen. Pada periode ini, dolar Zimbabwe merupakan mata uang yang kuat dan stabil, bahkan diperdagangkan dengan nilai yang lebih tinggi daripada dolar Amerika Serikat di pasar resmi.

Pemerintah di bawah ZANU-PF awalnya mengadopsi kebijakan pembangunan sosial yang ambisius, mengalokasikan sumber daya besar untuk sektor pendidikan dan kesehatan. Keberhasilan dalam menyediakan layanan publik primer membuat Zimbabwe mendapatkan pujian internasional, dengan tingkat literasi dan angka harapan hidup yang meningkat secara signifikan. Namun, di balik kemajuan sosial tersebut, tekanan fiskal mulai terakumulasi akibat birokrasi yang membengkak dan inefisiensi perusahaan negara (parastatal).

Pada awal 1990-an, Zimbabwe mencoba melakukan reformasi melalui Economic Structural Adjustment Programme (ESAP) yang didukung oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Program ini bertujuan untuk mentransformasi ekonomi dari sistem yang sangat terkontrol menjadi ekonomi berbasis pasar. Namun, implementasinya menciptakan tekanan sosial yang berat; deregulasi harga dan pemotongan subsidi menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok dan meningkatnya pengangguran. Kegagalan ESAP untuk memberikan pertumbuhan yang cepat, ditambah dengan kekeringan parah pada tahun 1992 dan 1995, mulai mengikis kepercayaan masyarakat terhadap manajemen ekonomi pemerintah.

Indikator Makroekonomi Awal Zimbabwe

Tahun Pertumbuhan PDB (%) Inflasi (%) Defisit Anggaran (% dari PDB) Rasio Utang Luar Negeri/PDB
1980 14.6 5.4 11.0 11.0
1985 1.6 8.5 9.2 45.0
1990 7.0 15.5 8.0 52.0
1995 -0.2 22.6 10.1 65.0

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun ekonomi masih tumbuh, defisit anggaran dan utang luar negeri mulai merangkak naik sejak pertengahan 1980-an, menciptakan kerentanan fiskal yang akan meledak pada dekade berikutnya.

Katalis Kehancuran: Black Friday 1997 dan Beban Veteran Perang

Titik balik krusial yang menandai berakhirnya disiplin fiskal di Zimbabwe terjadi pada tahun 1997. Rezim Robert Mugabe menghadapi tantangan politik serius dari para veteran perang kemerdekaan yang merasa diabaikan secara ekonomi. Di bawah ancaman kerusuhan dan ketidakstabilan kekuasaan, pemerintah secara mendadak menyetujui paket pembayaran kompensasi yang sangat besar dan tidak direncanakan dalam anggaran. Sekitar 60.000 veteran perang diberikan gratifikasi tunai masing-masing sebesar ZWD 50.000 (sekitar USD 3.000 saat itu) serta pensiun bulanan seumur hidup.

Pembayaran ini setara dengan kira-kira 3 persen dari PDB nasional dan menyebabkan defisit anggaran tahun 1997 membengkak secara instan sebesar 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Keputusan ini diambil tanpa adanya mekanisme pendanaan yang jelas, seperti peningkatan pendapatan pajak atau bantuan luar negeri. Sebaliknya, pemerintah memilih untuk membiayai pengeluaran ini melalui pencetakan uang baru dan pinjaman domestik. Reaksi pasar sangat cepat dan menghancurkan; pada 14 November 1997, yang kemudian dikenal sebagai “Black Friday”, dolar Zimbabwe kehilangan 75 persen nilainya terhadap dolar AS dalam satu hari perdagangan. Peristiwa ini menghancurkan kredibilitas moneter Zimbabwe dan memicu ekspektasi inflasi yang tidak pernah pulih kembali.

Ambisi Geopolitik dan Perang Kongo Kedua (1998–2002)

Alih-alih melakukan konsolidasi fiskal setelah guncangan 1997, Zimbabwe justru terjun ke dalam petualangan militer di luar negeri yang sangat mahal. Pada tahun 1998, Zimbabwe mengintervensi Perang Kongo Kedua untuk mendukung rezim Laurent Kabila di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Keterlibatan ini melibatkan pengiriman hingga 11.000 tentara serta peralatan militer berat, termasuk pesawat tempur dan tank.

Biaya perang ini diperkirakan mencapai USD 1 juta per hari, sebuah angka yang sangat fantastis bagi ekonomi yang sedang mengalami kontraksi. Pengeluaran militer yang masif ini dilakukan di luar mekanisme anggaran formal, sering kali melalui pendanaan kuasi-fiskal dari bank sentral yang tidak diawasi oleh parlemen. Keterlibatan militer ini tidak hanya menguras cadangan devisa yang sudah menipis tetapi juga menyebabkan penghentian bantuan dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF, yang keberatan dengan penggunaan dana publik untuk perang regional.

Analisis Belanja Militer Zimbabwe Selama Konflik Kongo

Tahun Belanja Militer (Juta USD Konstan 2000) Belanja Militer (% dari PDB) Belanja Militer (% dari Total Belanja Pemerintah)
1997 259 3.3 9.4
1998 212 2.6 Data tidak tersedia
1999 363 4.7 Data tidak tersedia
2000 355 4.9 Data tidak tersedia
2001 212 3.2 Data tidak tersedia

Peningkatan beban militer dari 2,6 persen PDB pada 1998 menjadi hampir 5 persen pada 2000 menunjukkan prioritas rezim yang lebih mengedepankan keamanan politik dan pengaruh regional daripada stabilitas makroekonomi.

Runtuhnya Pilar Produksi: Land Reform dan Kehancuran Pertanian

Pada tahun 2000, Zimbabwe memasuki fase krisis yang paling menentukan dengan dimulainya Fast Track Land Reform Program (FTLRP) atau “Third Chimurenga”. Program ini melibatkan penyitaan paksa lahan pertanian komersial milik petani kulit putih untuk didistribusikan kepada warga kulit hitam yang tidak bertanah. Meskipun secara politik populer di kalangan pendukung ZANU-PF, eksekusinya yang kacau dan penuh kekerasan menghancurkan pondasi produktif ekonomi Zimbabwe.

Sektor pertanian, yang sebelumnya menyumbang sebagian besar pendapatan ekspor dan lapangan kerja, mengalami keruntuhan total. Banyak petani baru yang menerima lahan tidak memiliki modal, keahlian teknis, atau akses ke kredit perbankan. Akibatnya, produksi komoditas ekspor utama seperti tembakau turun lebih dari 60 persen, sementara produksi pangan pokok seperti jagung turun drastis, mengubah Zimbabwe dari eksportir pangan menjadi negara yang bergantung pada bantuan pangan internasional. Kehancuran sektor pertanian memiliki efek domino terhadap industri manufaktur dan jasa yang bergantung pada input agrikultur, menyebabkan kontraksi PDB riil yang kumulatif sebesar lebih dari 30 persen antara 1999 dan 2007.

Hancurnya sektor ini juga berarti hilangnya jaminan (kolateral) utama bagi sistem perbankan. Tanah, yang sebelumnya memiliki sertifikat hak milik yang jelas, kini menjadi milik negara atau diduduki tanpa kepastian hukum, sehingga bank tidak lagi bisa memberikan pinjaman untuk pembangunan modal. Hilangnya produktivitas nasional ini berarti pemerintah kehilangan basis pajak yang krusial, yang memaksa mereka untuk lebih bergantung pada instrumen moneter—pencetakan uang—untuk membiayai pengeluaran rutin negara.

Rezim Moneter Gideon Gono dan “Ekonomi Kasino”

Penunjukan Gideon Gono sebagai Gubernur Reserve Bank of Zimbabwe (RBZ) pada Desember 2003 menandai awal dari manajemen moneter yang paling tidak konvensional dan destruktif. Gono secara terbuka mengakui bahwa ia melakukan tindakan “luar biasa” untuk menghadapi situasi yang ia anggap sebagai “perang ekonomi” akibat sanksi Barat. Di bawah kepemimpinannya, RBZ berubah fungsi dari pengatur jumlah uang beredar menjadi kementerian pembiayaan de facto yang beroperasi di luar kendali Departemen Keuangan.

Gono memperkenalkan istilah “Ekonomi Kasino” (Casino Economy) untuk menggambarkan kondisi ekonomi Zimbabwe yang penuh spekulasi dan distorsi. Namun, alih-alih memperbaiki kondisi tersebut, kebijakan RBZ justru memperburuknya melalui aktivitas kuasi-fiskal (Quasi-Fiscal Operations/QFO) yang masif. QFO mencakup berbagai program seperti:

  1. Pemberian pinjaman berbunga rendah untuk sektor pertanian melalui program ASPEF yang sering kali disalahgunakan oleh elit politik.
  2. Subsidi langsung untuk perusahaan negara (parastatal) yang merugi.
  3. Pembelian peralatan pertanian, traktor, dan mobil untuk anggota parlemen dan pejabat pemerintah.
  4. Penyediaan valuta asing bersubsidi bagi importir barang-barang tertentu yang memiliki koneksi politik.

Kerugian kuasi-fiskal ini diperkirakan mencapai 75 persen dari PDB Zimbabwe pada tahun 2006 saja. Karena RBZ tidak memiliki pendapatan nyata untuk membiayai kegiatan ini, mereka mencetak uang dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Logika moneter konvensional diabaikan sepenuhnya; pencetakan uang dipandang sebagai cara mudah untuk memenuhi kewajiban negara di tengah menyusutnya pendapatan pajak dan isolasi internasional.

Struktur Kerugian Kuasi-Fiskal RBZ (Estimasi 2003-2007)

Kategori Aktivitas Mekanisme Dampak terhadap Inflasi
Subsidi ASPEF Pinjaman bunga 5% (saat inflasi >100%) Ekspansi uang beredar yang tidak terkendali.
Dukungan Parastatal Dana talangan untuk energi (ZESA) dan pangan (GMB) Monetisasi defisit sektor publik.
Intervensi BACCOSI Subsidi barang kebutuhan pokok langsung ke pengecer Kegagalan pasar dan munculnya pasar gelap.
Pembayaran Utang Luar Negeri Pembelian devisa di pasar gelap untuk membayar IMF Devaluasi cepat dolar Zimbabwe.

Aktivitas kuasi-fiskal ini secara langsung bertanggung jawab atas lonjakan jumlah uang beredar (M3) yang mencapai ribuan persen per tahun, yang pada gilirannya memicu hiperinflasi yang melampaui kemampuan statistik negara untuk mencatatnya.

Spiral Hiperinflasi dan Dekadensi Mata Uang

Zimbabwe secara resmi memasuki era hiperinflasi pada Maret 2007 ketika tingkat inflasi bulanan melewati ambang batas 50 persen. Sejak saat itu, angka inflasi melonjak secara eksponensial. Pada pertengahan 2008, tingkat inflasi tahunan resmi dilaporkan sebesar 231 juta persen, meskipun analis independen dari Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, memperkirakan puncaknya pada November 2008 mencapai 79,6 miliar persen per bulan, atau 89,7 sextillion (10^21) persen per tahun.

Pemerintah menanggapi devaluasi nilai mata uang dengan cara yang sangat tidak logis: terus melakukan redenominasi mata uang tanpa melakukan reformasi fiskal yang mendasar.

  • Agustus 2006: Penghapusan tiga angka nol (1.000 dolar lama menjadi 1 dolar baru) dalam program yang disebut “Operation Sunrise”.
  • Agustus 2008: Penghapusan sepuluh angka nol setelah inflasi membuat transaksi sehari-hari menjadi mustahil dilakukan secara teknis.
  • Februari 2009: Penghapusan dua belas angka nol lagi sesaat sebelum mata uang tersebut akhirnya ditinggalkan sepenuhnya.

Selama periode ini, bank sentral terus menerbitkan pecahan uang kertas dengan denominasi yang semakin fantastis. Uang kertas pecahan 100 miliar dolar Zimbabwe, yang diterbitkan pada Juli 2008, hanya cukup untuk membeli tiga butir telur. Kehancuran logika fiskal ini mencapai puncaknya pada Januari 2009 dengan penerbitan uang kertas 100 triliun dolar Zimbabwe (Z$100,000,000,000,000), denominasi tertinggi yang pernah dicetak dalam sejarah peradaban manusia. Nilai riil uang tersebut turun begitu cepat sehingga para pekerja harus segera membelanjakan gaji mereka dalam hitungan jam sebelum harganya naik kembali, sebuah fenomena yang dikenal sebagai “biaya sol sepatu” (shoe-leather costs) dalam ekonomi.

Evolusi Denominasi Uang Kertas Zimbabwe (1980–2009)

Era Denominasi Tertinggi Konteks Ekonomi
1980 Z$ 20 Mata uang stabil, 1 Z$ > 1 US$.
2003 Z$ 1.000 Awal krisis produktivitas pasca-land reform.
2006 Z$ 100.000 Awal percepatan pencetakan uang kuasi-fiskal.
Jan 2008 Z$ 10.000.000 Kelangkaan uang tunai di ATM mulai kronis.
Mei 2008 Z$ 500.000.000 Inflasi tahunan melampaui 100.000%.
Juli 2008 Z$ 100.000.000.000 Mata uang kehilangan fungsinya sebagai penyimpan nilai.
Jan 2009 Z$ 100.000.000.000.000 Kehancuran total sistem moneter nasional.

Kontrol Harga dan Paradoks Kelangkaan (2007)

Dalam upaya keputusasaan untuk menghentikan inflasi melalui kekerasan, pemerintah Mugabe mengumumkan pada Juni 2007 bahwa inflasi adalah “ilegal”. Pemerintah memerintahkan pembekuan harga secara nasional dan mewajibkan semua pengecer untuk memotong harga barang-barang pokok hingga 50 persen. Rezim mengirimkan aparat kepolisian dan satuan tugas pemantau harga ke pasar-pasar untuk memastikan kepatuhan. Ratusan pemilik toko dan eksekutif perusahaan ditangkap karena menolak menjual barang di bawah biaya produksi.

Hasil dari kebijakan ini sangat dapat diprediksi oleh logika ekonomi dasar namun diabaikan oleh pemerintah: kelangkaan total di pasar formal. Produsen berhenti memasok barang karena setiap penjualan berarti kerugian finansial yang besar. Rak-rak supermarket di Harare dan Bulawayo menjadi kosong dalam hitungan hari. Barang-barang dasar seperti gula, minyak goreng, sabun, dan roti menghilang dari jalur resmi dan bermigrasi sepenuhnya ke pasar gelap (parallel market) dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada sebelum adanya kontrol harga. Rakyat Zimbabwe dipaksa menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengantre di toko-toko yang kosong atau mencari barang di pasar gelap menggunakan sistem barter atau valuta asing ilegal.

Mekanisme Survival dan “Burning Money”

Di tengah keruntuhan sektor formal, masyarakat Zimbabwe mengembangkan mekanisme bertahan hidup yang kreatif namun sangat mendistorsi ekonomi, yang dikenal secara lokal sebagai “Burning Money” atau kukiya-kiya. Ini adalah bentuk transaksi spekulatif di mana individu memanfaatkan disparitas antara nilai tukar resmi yang ditetapkan oleh RBZ dan nilai tukar pasar gelap yang jauh lebih realistis.

Seseorang yang memiliki akses ke dolar Zimbabwe dalam jumlah besar (sering kali melalui koneksi politik atau akses ke kredit bank sentral) akan “membakar” uang tersebut dengan menukarkannya ke dolar AS di pasar gelap. Selisih nilai tukar yang sangat besar memungkinkan spekulan untuk mendapatkan keuntungan ribuan persen hanya dalam satu hari. Elit yang dekat dengan rezim ZANU-PF menjadi sangat kaya melalui skema arbitrase ini, sementara tabungan, dana pensiun, dan asuransi milik rakyat biasa habis tak bersisa karena denominasi dolar Zimbabwe yang mereka miliki menjadi sampah. Fenomena ini memperdalam ketimpangan sosial dan semakin menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi keuangan nasional.

Dampak Kemanusiaan: Runtuhnya Layanan Publik dan Kesehatan

Hiperinflasi Zimbabwe bukan hanya sekadar angka di atas kertas; ia adalah tragedi kemanusiaan yang menghancurkan struktur sosial bangsa. Layanan publik yang dahulu menjadi kebanggaan Zimbabwe mengalami keruntuhan sistemik. Gaji para profesional seperti dokter, perawat, dan guru menjadi sangat tidak berarti sehingga mereka tidak lagi mampu membayar ongkos bus untuk pergi bekerja. Pada tahun 2008, banyak rumah sakit dan sekolah ditutup karena kurangnya staf, peralatan, dan obat-obatan.

Kehancuran infrastruktur air dan sanitasi, akibat ketidakmampuan pemerintah untuk membeli bahan kimia pemurni air yang harganya melonjak, memicu wabah kolera terburuk di Zimbabwe pada akhir 2008. Ribuan orang meninggal dunia akibat penyakit yang sebenarnya sangat mudah dicegah ini. Angka harapan hidup di Zimbabwe merosot tajam, dari 60 tahun pada 1990 menjadi hanya sekitar 44 tahun pada puncaknya krisis. Tingkat pengangguran diperkirakan melampaui 80 persen, dengan jutaan warga negara yang terdidik melarikan diri ke luar negeri untuk mencari penghidupan, menciptakan krisis pengungsi di negara-negara tetangga seperti Afrika Selatan dan Botswana.

Perbandingan Indikator Kesejahteraan Zimbabwe (1990 vs 2008)

Indikator Tahun 1990 Tahun 2008
Angka Harapan Hidup (Tahun) 60 44
Tingkat Pengangguran (%) ~10-15 >80
Populasi di Bawah Garis Kemiskinan (%) <30 >80
Tingkat Literasi (%) >90 Mengalami penurunan signifikan
Akses Air Bersih Perkotaan (%) Sangat Tinggi Sangat Rendah/Erratic

Data ini menunjukkan bagaimana kesalahan manajemen fiskal yang terus-menerus dapat menghapus kemajuan pembangunan selama puluhan tahun hanya dalam waktu kurang dari satu generasi.

Pelunasan IMF yang Kontroversial (2005)

Salah satu anomali paling menarik dalam periode ini adalah pembayaran mengejutkan sebesar USD 120 juta yang dilakukan Zimbabwe kepada IMF pada Agustus 2005. Langkah ini diambil ketika Zimbabwe berada di ambang pengusiran dari keanggotaan IMF karena tunggakan utang yang menumpuk. Robert Mugabe secara pribadi memerintahkan agar pembayaran dilakukan untuk menghindari penghinaan diplomatik di panggung internasional.

Hingga bertahun-tahun kemudian, asal-usul dana ini tetap menjadi misteri yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh IMF. Analis menduga bahwa dana tersebut dikumpulkan melalui “perampokan” sistematis terhadap rekening valuta asing (Foreign Currency Accounts/FCA) milik perusahaan swasta, organisasi non-pemerintah (NGO), dan lembaga bantuan internasional yang disimpan di bank-bank domestik Zimbabwe. Gubernur Gideon Gono kemudian mengakui bahwa ia telah “meminjam” dana tersebut dari rekening swasta tanpa izin untuk menjaga agar kementerian tetap berfungsi, dengan janji akan mengembalikannya di masa depan—sebuah janji yang tidak pernah sepenuhnya ditepati. Ini adalah bukti nyata di mana hukum properti dan kepercayaan perbankan dikorbankan demi kebutuhan politik jangka pendek rezim.

2009: Kematian Dolar Zimbabwe dan Dolarisasi

Krisis akhirnya mencapai titik jenuh pada awal 2009. Setelah pemilihan umum yang penuh kekerasan dan pembentukan Pemerintah Persatuan Nasional (GNU), otoritas moneter terpaksa menyerah pada realitas pasar. Pada tanggal 29 Januari 2009, Menteri Keuangan sementara, Patrick Chinamasa, mengumumkan bahwa warga Zimbabwe diizinkan untuk melakukan transaksi harian menggunakan mata uang asing. Ini adalah pengakuan hukum atas dolarisasi de facto yang telah terjadi di masyarakat selama bertahun-tahun.

Secara resmi, pada Februari 2009, Zimbabwe mengadopsi Multi-Currency System (sistem mata uang jamak), di mana dolar AS, Rand Afrika Selatan, dan Pula Botswana menjadi alat pembayaran yang sah. Penggunaan dolar Zimbabwe dihentikan sepenuhnya dalam semua transaksi publik dan pajak. Dampaknya sangat dramatis: hiperinflasi berakhir hampir dalam semalam. Karena bank sentral tidak lagi bisa mencetak dolar AS atau Rand, disiplin fiskal dipaksakan secara eksternal. Pemerintah terpaksa menjalankan sistem “cash budgeting” (belanja hanya berdasarkan pendapatan tunai yang masuk).

Program Pemulihan Darurat Jangka Pendek (STERP) diluncurkan untuk menstabilkan harga dan memulihkan kapasitas produksi. Meskipun ekonomi mulai tumbuh kembali pada periode 2009–2012, Zimbabwe ditinggalkan dengan beban utang luar negeri yang masif (lebih dari USD 7 miliar) dan sistem keuangan yang hancur total. Tabungan seluruh generasi warga Zimbabwe telah menguap, meninggalkan luka trauma moneter yang membuat masyarakat skeptis terhadap mata uang nasional hingga hari ini.

Kesimpulan dan Pelajaran bagi Manajemen Fiskal Modern

Kasus Zimbabwe pada dekade 2000-an berfungsi sebagai peringatan keras bagi otoritas fiskal dan moneter di seluruh dunia tentang bahaya monetisasi defisit yang tidak terkendali. Hiperinflasi ini bukan merupakan fenomena alam, melainkan akibat langsung dari hilangnya independensi bank sentral dan pengabdian kebijakan ekonomi terhadap kelangsungan hidup politik otokratis.

Beberapa pelajaran utama yang dapat ditarik meliputi:

  1. Independensi Bank Sentral: Ketika bank sentral menjadi “mesin cetak” bagi keinginan pemerintah untuk membiayai pengeluaran unbudgeted, kehancuran mata uang adalah keniscayaan.
  2. Pentingnya Hak Milik: Penghancuran sektor produktif melalui land reform yang serampangan menunjukkan bahwa tanpa kepastian hukum dan perlindungan hak milik, ekonomi tidak dapat berfungsi meskipun uang terus dicetak.
  3. Batas Kebijakan Kuasi-Fiskal: Penggunaan bank sentral untuk melakukan fungsi kementerian keuangan (subsidi, pinjaman sektoral) menciptakan distorsi pasar yang masif dan menyuburkan korupsi serta arbitrase elit.
  4. Psikologi Inflasi: Sekali kepercayaan publik terhadap mata uang nasional hilang, redenominasi dan kontrol harga tidak akan mampu memulihkannya; hanya reformasi struktural yang kredibel dan stabilisasi nilai tukar yang dapat menghentikan spiral inflasi.

Hingga saat ini, Zimbabwe masih terus berjuang dengan instabilitas mata uang, yang membuktikan bahwa warisan dari “hiperinflasi yang direncanakan” pada era 2000-an memiliki dampak jangka panjang yang sangat sulit untuk disembuhkan. Uang kertas 100 triliun dolar Zimbabwe akan selamanya menjadi pengingat fisik tentang apa yang terjadi ketika logika fiskal ditinggalkan demi kekuasaan mutlak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

76 − 74 =
Powered by MathCaptcha