Krisis Perumahan dan Paradigma Baru Intervensi Kemiskinan di Pantai Barat Amerika Serikat
Dalam satu dekade terakhir, lanskap perkotaan di Pantai Barat Amerika Serikat, khususnya di kota-kota seperti Portland, Oregon, dan San Francisco, California, telah ditandai oleh krisis tunawisma yang semakin mendalam. Pendekatan tradisional yang mengandalkan birokrasi kaku, penyediaan layanan yang bersifat paternalistik, dan sistem kupon terbatas tampaknya gagal membendung arus penduduk yang jatuh ke dalam kondisi hidup di jalanan. Di tengah kebuntuan ini, muncul sebuah inovasi kebijakan yang kontroversial namun didukung oleh data penelitian yang kuat: pemberian uang tunai langsung atau jaminan pendapatan dasar (Guaranteed Basic Income – GBI) bagi tunawisma. Kebijakan ini, yang sering kali memberikan dana sebesar $500 hingga $1,000 per bulan tanpa syarat, didasarkan pada filosofi “empati radikal” yang berasumsi bahwa individu yang mengalami tunawisma adalah aktor rasional yang paling memahami kebutuhan mendesak mereka sendiri.
Gagasan ini memicu perdebatan sengit di ruang-ruang sidang dewan kota dan di meja makan warga pembayar pajak. Para pendukung melihatnya sebagai cara paling efisien untuk memulihkan martabat dan stabilitas, sementara para kritikus mengkhawatirkan penggunaan dana publik untuk zat adiktif dan menganggapnya sebagai insentif negatif yang memanjakan mereka yang tidak bekerja di tengah krisis biaya hidup. Namun, penelitian terbaru dari University of Southern California (USC) dan lembaga lainnya mulai memberikan bukti empiris yang menantang stereotip lama tentang tunawisma dan pengelolaan uang.
Landasan Filosofis: Dari Paternalisme Menuju Otonomi Individu
Sistem kesejahteraan tradisional di Amerika Serikat sering kali beroperasi dengan asumsi bahwa kemiskinan ekstrem adalah hasil dari kegagalan karakter atau ketidakmampuan mengelola hidup. Akibatnya, bantuan biasanya diberikan dengan banyak syarat (“strings attached”), seperti kewajiban mencari kerja, bukti kesadaran, atau pembatasan penggunaan dana hanya untuk barang-barang tertentu. Pendekatan ini sering kali menciptakan hambatan birokrasi yang melelahkan bagi individu yang sudah terbebani oleh trauma tunawisma.
Kebijakan jaminan tunai langsung membalikkan logika ini. Inti dari argumen ini adalah bahwa tunawisma pada dasarnya adalah masalah kekurangan likuiditas finansial yang diperburuk oleh pasar perumahan yang tidak terjangkau. Dengan memberikan uang tunai tanpa syarat, sistem ini mengakui otonomi individu. Seorang tunawisma mungkin membutuhkan sepatu kerja baru untuk mendapatkan pekerjaan, deposit sewa untuk keluar dari jalanan, atau obat-obatan yang tidak ditanggung oleh asuransi. Birokrasi pusat mustahil dapat memprediksi kebutuhan mikro ini seakurat individu yang bersangkutan.
Kevin Adler, pendiri organisasi nirlaba Miracle Messages di San Francisco, mempopulerkan konsep “kemiskinan relasional” sebagai salah satu pendorong utama tunawisma. Baginya, hilangnya koneksi sosial sama menghancurkannya dengan hilangnya pendapatan. Oleh karena itu, program jaminan tunai seperti “Miracle Money” sering kali dipasangkan dengan dukungan sosial, sebuah model yang dikenal sebagai “Cash Plus”.
Perbandingan Filosofi Intervensi Tunawisma
| Dimensi | Model Tradisional (Layanan) | Model Jaminan Tunai (GBI) |
| Asumsi Dasar | Defisit karakter/keterampilan | Defisit modal/likuiditas |
| Mekanisme | Barang/Layanan yang ditentukan | Uang tunai fleksibel |
| Otonomi | Rendah (Paternalistik) | Tinggi (Mandiri) |
| Fokus Utama | Kepatuhan pada aturan program | Stabilitas dan pilihan individu |
| Hubungan | Pasien – Penyedia Layanan | Tetangga – Komunitas |
Studi Kasus San Francisco: Program Miracle Money dan Dukungan Relasional
San Francisco telah menjadi pusat eksperimen GBI yang paling diawasi secara ketat. Melalui program Miracle Money, individu tunawisma diberikan bantuan finansial bulanan yang signifikan. Pilot program awal memberikan $500 per bulan kepada 14 orang selama enam bulan. Hasilnya mengejutkan banyak pihak: 50% dari penerima manfaat berhasil mengamankan perumahan tetap sebelum program berakhir.
Keberhasilan ini mendorong perluasan program ke dalam bentuk studi terkontrol acak (RCT) yang melibatkan 103 partisipan di San Francisco dan Los Angeles County, dengan pemberian $750 per bulan selama 12 bulan. Studi yang dilakukan oleh USC Suzanne Dworak-Peck School of Social Work ini secara khusus menguji peran “dukungan relasional” melalui program “phone buddy” atau “Miracle Friends”. Dalam model ini, peserta tidak hanya menerima uang, tetapi juga dipasangkan dengan relawan untuk komunikasi rutin, yang bertujuan untuk memecah isolasi sosial yang sering menyertai kehidupan di jalanan.
Analisis Hasil Perumahan Program Miracle Money
Data menunjukkan pergeseran yang sangat signifikan dalam status perumahan peserta. Pada awal penelitian, tingkat hunian tanpa perlindungan (unsheltered) berada pada angka yang tinggi. Namun, setelah enam bulan menerima bantuan tunai, angka tersebut menurun drastis.
| Status Perumahan Partisipan | Sebelum Program (Baseline) | Setelah 6 Bulan Bantuan |
| Mengalami Tunawisma Tanpa Perlindungan | 30% | 12% |
| Keamanan Finansial | Rendah | Meningkat Signifikan |
| Penggunaan Zat Adiktif | Tidak Ada Perubahan | Sedikit Menurun |
Penurunan status tunawisma tanpa perlindungan dari 30% menjadi 12% dianggap sebagai pencapaian yang sangat signifikan secara statistik. Hal ini membuktikan bahwa bagi sebagian besar tunawisma, hambatan utama untuk mendapatkan tempat tinggal bukanlah ketidakinginan untuk memiliki rumah, melainkan ketiadaan modal awal untuk membayar deposit atau sewa bulan pertama.
Program di Portland: Fokus pada Pemuda dan Transisi Foster Care
Di Portland dan negara bagian Oregon secara keseluruhan, eksperimen jaminan tunai mengambil bentuk yang berbeda dengan fokus pada populasi yang sangat spesifik: pemuda tunawisma usia 18-24 tahun, banyak di antaranya baru saja keluar dari sistem asuh (foster care). Program “Direct Cash Transfer Pilot” Oregon memberikan $1,000 per bulan selama dua tahun, ditambah pembayaran lump sum satu kali sebesar $3,000 di awal program.
Logika di balik program ini adalah bahwa pemuda yang keluar dari sistem asuh sering kali tidak memiliki jaring pengaman finansial keluarga yang biasanya membantu orang dewasa muda saat mereka menempuh pendidikan atau memulai karir. Uang tunai ini berfungsi sebagai pengganti dukungan orang tua. Pada akhir fase pertama program Oregon pada Januari 2025, sebanyak 91% dari 117 peserta yang menyelesaikan program melaporkan bahwa mereka berada dalam kondisi perumahan yang stabil.
Namun, program ini juga menghadapi pertanyaan kritis mengenai keberlanjutan jangka panjang. Meskipun 91% berhasil mendapatkan perumahan, para peneliti mencatat bahwa enam bulan setelah pembayaran tunai berhenti, para pemuda tersebut melaporkan tingkat kerawanan pangan yang hampir sama tingginya dengan kondisi sebelum program dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa sementara uang tunai sangat efektif untuk stabilisasi krisis, integrasi dengan pelatihan kerja dan pendidikan jangka panjang tetap diperlukan untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang permanen.
Debat Pengeluaran: Mitos Narkoba vs. Realitas Kebutuhan Dasar
Kekhawatiran yang paling sering dilontarkan oleh penentang GBI adalah bahwa uang tersebut akan digunakan untuk “barang-barang godaan” (temptation goods) seperti alkohol, obat-obatan terlarang, atau rokok. Kritikus berpendapat bahwa menyerahkan uang tunai kepada populasi dengan tingkat gangguan perilaku dan adiksi yang tinggi adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Sebuah survei di California menunjukkan bahwa sekitar 35% tunawisma melaporkan penggunaan narkoba secara rutin.
Namun, data dari program Miracle Money di California memberikan gambaran yang sangat berbeda tentang bagaimana uang tersebut benar-benar dihabiskan. Berdasarkan pelaporan pengeluaran selama enam bulan pertama, mayoritas besar dana dialokasikan untuk kebutuhan yang sangat mendasar.
Rincian Pengeluaran Bulanan Penerima GBI ($750/bulan)
| Kategori Pengeluaran | Persentase Alokasi | Contoh Kebutuhan |
| Makanan | 36,6% | Groseri, makanan siap saji |
| Perumahan | 19,5% | Kontribusi sewa, deposit, hotel |
| Transportasi | 12,7% | Bensin, tiket bus, perbaikan mobil |
| Pakaian | 11,5% | Baju kerja, sepatu, binatu |
| Layanan Kesehatan | 6,2% | Obat, biaya dokter, kebersihan diri |
| Zat Adiktif (Narkoba/Alkohol/Rokok) | 2,0% | Sebagian besar untuk rokok |
| Lain-lain | 11,5% | Kebutuhan darurat, tabungan |
Data ini menunjukkan bahwa hanya 2% dari dana yang diberikan digunakan untuk alkohol, rokok, atau obat-obatan. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan (36,6%) dan perumahan (19,5%) mendominasi anggaran. Hal ini memberikan bukti empiris yang kuat untuk membantah stereotip bahwa tunawisma secara inheren tidak mampu mengelola keuangan. Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa pemberian uang tunai justru meningkatkan fungsi eksekutif dan mengurangi kecemasan, yang pada gilirannya membantu individu membuat keputusan jangka panjang yang lebih baik.
Dinamika Politik dan Anggaran di Portland
Di Portland, isu jaminan tunai dan penanganan tunawisma telah menjadi titik gesekan politik yang utama. Dewan Kota Portland sering kali terbelah dalam menentukan arah kebijakan. Salah satu perdebatan paling sengit terjadi pada akhir 2025 ketika anggota dewan Angelita Morillo mengusulkan untuk memotong anggaran “Impact Reduction Program” sebesar $4,3 juta—program yang bertanggung jawab atas pembersihan kamp tunawisma (sweeps)—dan mengalihkan dana tersebut untuk bantuan perumahan langsung dan layanan pendukung.
Usulan ini ditolak oleh mayoritas dewan, termasuk Walikota Keith Wilson, yang berargumen bahwa pembersihan kamp diperlukan untuk menjaga sanitasi dan keamanan publik. Perdebatan ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak kota besar di AS: apakah mereka harus terus menghabiskan jutaan dolar untuk mengelola kehadiran tunawisma di ruang publik (sanitasi, penegakan hukum) atau mengalihkan sumber daya tersebut untuk menyelesaikan akar penyebabnya melalui bantuan tunai langsung.
Portland juga menghadapi tantangan fiskal yang serius, dengan defisit anggaran yang diperkirakan mencapai $169 juta karena biaya penampungan dan keamanan publik yang membengkak. Dalam konteks ini, program jaminan tunai sering kali dipandang oleh sebagian pihak sebagai pemborosan pajak, terutama ketika warga kelas pekerja sendiri sedang berjuang menghadapi inflasi dan kenaikan pajak properti.
Krisis Kepercayaan: Korupsi dan Kurangnya Pengawasan Non-profit
Salah satu hambatan terbesar bagi penerimaan publik terhadap program jaminan tunai adalah riwayat pengelolaan dana yang buruk di sektor nirlaba yang menangani tunawisma. San Francisco, khususnya, telah diguncang oleh skandal korupsi yang melibatkan United Council of Human Services (UCHS). Mantan CEO organisasi tersebut, Gwendolyn Westbrook, didakwa mencuri lebih dari $1,2 juta dana publik yang seharusnya digunakan untuk layanan tunawisma. Dana tersebut diduga digunakan untuk membeli mobil mewah dan barang-barang desainer seperti Louis Vuitton dan Neiman Marcus.
Skandal ini memperburuk persepsi masyarakat bahwa sistem dukungan tunawisma adalah sebuah “kompleks industri kesejahteraan” yang tidak efisien dan rentan terhadap grift. Ketika pembayar pajak melihat dana jutaan dolar disalahgunakan oleh pengelola program, sulit bagi mereka untuk mendukung kebijakan eksperimental seperti pemberian uang tunai langsung tanpa syarat. Audit menunjukkan bahwa banyak departemen di San Francisco tetap memberikan kontrak besar kepada organisasi nirlaba yang status hukumnya sedang tidak aktif atau bermasalah.
Analisis Ekonomi: GBI vs. Biaya Status Quo
Meskipun kontroversial, banyak ahli ekonomi berpendapat bahwa jaminan tunai jauh lebih murah daripada mempertahankan sistem penanganan krisis saat ini. Individu yang tinggal di jalanan mengonsumsi sumber daya publik yang sangat besar. Biaya satu malam di tempat penampungan (shelter) darurat, satu kali kunjungan UGD, atau satu malam di penjara kota sering kali jauh lebih mahal daripada nilai bulanan bantuan GBI.
Estimasi Penghematan Biaya per Individu (Studi Vancouver/Denver)
Penelitian di Vancouver menunjukkan bahwa pemberian uang tunai lump sum sebesar $7,500 (CAD) menghasilkan penghematan biaya shelter sebesar $8,277 per orang dalam satu tahun. Hal ini berarti program tersebut “membayar dirinya sendiri” dan memberikan keuntungan bersih bagi anggaran kota.
Selain penghematan langsung, GBI juga mengurangi tekanan pada sistem peradilan pidana. Tunawisma yang memiliki uang untuk menyewa kamar informal atau tinggal bersama keluarga tidak lagi menjadi sasaran penangkapan karena berkemah secara ilegal atau melakukan pelanggaran ringan lainnya yang terkait dengan kemiskinan.
GBI dan Model Housing First: Hubungan yang Kompleks
Kebijakan jaminan tunai sering kali dibandingkan dengan model “Housing First,” yang telah menjadi standar nasional di AS selama dekade terakhir. Housing First berfokus pada penyediaan perumahan permanen dengan dukungan layanan sebagai langkah pertama, tanpa mewajibkan kesembuhan dari adiksi terlebih dahulu.
Namun, pembangunan unit perumahan baru di kota-kota seperti San Francisco sangat mahal dan lambat. Biaya konstruksi di San Francisco adalah salah satu yang tertinggi di dunia. GBI menawarkan alternatif yang lebih cepat dengan memungkinkan tunawisma mengakses “perumahan informal” yang sudah ada—seperti menyewa kamar tambahan di rumah seseorang, membayar iuran di perumahan senior, atau berbagi apartemen dengan rekan kerja.
Meskipun demikian, para ahli memperingatkan bahwa GBI tidak bisa menjadi pengganti pembangunan perumahan sosial. Tanpa peningkatan pasokan unit rumah, pemberian uang tunai justru berisiko memicu inflasi harga sewa di pasar bawah karena lebih banyak orang berebut unit yang sangat terbatas. Oleh karena itu, GBI paling efektif jika dianggap sebagai alat untuk meningkatkan daya beli individu, sementara pemerintah tetap harus fokus pada penyediaan stok rumah yang terjangkau.
Dampak pada Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Sosial
Tunawisma bukan hanya masalah ketiadaan atap, tetapi juga kondisi stres kronis yang merusak kesehatan fisik dan mental. Ketidakpastian tentang di mana seseorang akan tidur atau makan menciptakan beban kognitif yang besar. Peserta dalam program Denver Basic Income Project melaporkan peningkatan perasaan aman dan penurunan tingkat kecemasan yang signifikan setelah menerima bantuan tunai.
Di San Francisco, program Miracle Money menekankan pentingnya “martabat” (dignity). Bagi seseorang yang telah lama hidup dalam pengabaian sosial, menerima uang tanpa syarat adalah bentuk kepercayaan yang kuat dari masyarakat. Elizabeth Softky, seorang peserta program, menyatakan bahwa uang tersebut memungkinkannya untuk “kembali ke dunia normal”. Perasaan memiliki agensi—kemampuan untuk membuat pilihan sendiri—terbukti menjadi faktor kunci dalam pemulihan jangka panjang.
Peran Teknologi dan Masa Depan Pekerjaan
Beberapa pendukung GBI di San Francisco, termasuk tokoh-tokoh dari Silicon Valley, melihat program tunawisma ini sebagai laboratorium untuk kebijakan yang lebih luas di masa depan: Universal Basic Income (UBI). Dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi menggantikan banyak pekerjaan kasar dan terampil, kemiskinan sistemik dan tunawisma diperkirakan akan menjadi masalah yang lebih umum.
Dalam pandangan ini, GBI bukan sekadar bantuan kemiskinan, melainkan infrastruktur ekonomi baru untuk dunia di mana tenaga kerja manusia tidak lagi menjadi sumber pendapatan utama bagi semua orang. Meskipun argumen ini masih bersifat futuristik, ia memberikan dimensi ideologis tambahan yang mendukung eksperimen di kota-kota teknologi tinggi seperti San Francisco.
Tantangan Implementasi: “The Benefit Cliff” dan Hambatan Biaya
Meskipun menjanjikan, program GBI menghadapi tantangan teknis yang disebut sebagai “benefit cliff” atau jurang manfaat. Sering kali, ketika seseorang menerima pendapatan tunai tambahan, mereka kehilangan kelayakan untuk program bantuan pemerintah lainnya seperti SNAP (kupon makanan) atau Medicaid. Hal ini dapat menciptakan situasi paradoks di mana penerimaan $1,000 tunai menyebabkan kehilangan manfaat senilai lebih dari $1,000, sehingga kondisi ekonomi individu tersebut justru memburuk.
Negara bagian California telah mencoba mengatasi hal ini dengan memberikan pengecualian hukum agar pendapatan dari pilot GBI tidak dihitung dalam penentuan kelayakan CalWORKs. Namun, koordinasi dengan program federal tetap menjadi tantangan besar. Tanpa sinkronisasi kebijakan di tingkat nasional, efektivitas GBI sebagai alat pengentasan kemiskinan akan selalu terhambat oleh struktur sistem kesejahteraan lama yang masih kaku.
Opini Publik: Ketegangan di Tengah Krisis Biaya Hidup
Ketegangan antara “empati radikal” dan kekhawatiran pembayar pajak paling terlihat dalam survei komunitas dan komentar publik. Di Portland, banyak warga merasa bahwa kota mereka telah menjadi terlalu permisif terhadap kamp tunawisma dan penggunaan narkoba terbuka. Beberapa warga berargumen bahwa memberikan uang tunai tanpa syarat adalah bentuk “enabling” atau memfasilitasi gaya hidup destruktif.
Sentimen “Not In My Backyard” (NIMBY) sering kali meluas menjadi “Not Our Taxes” (NOT). Warga yang bekerja dengan upah minimum sering kali merasa tidak adil jika mereka yang tidak bekerja mendapatkan bantuan tunai yang jumlahnya mendekati pendapatan kerja mereka setelah pajak. Kritikus sering menggunakan istilah “greedflation” dan krisis biaya hidup untuk menekankan bahwa sumber daya publik seharusnya digunakan untuk meringankan beban semua warga, bukan hanya kelompok tertentu.
Kesimpulan: GBI Sebagai Investasi Strategis atau Risiko Moral?
Eksperimen jaminan pendapatan tunai untuk tunawisma di Portland dan San Francisco mewakili pergeseran mendasar dalam cara masyarakat modern memandang kemiskinan. Data dari program Miracle Money, Oregon Youth Pilot, dan Denver Basic Income Project secara konsisten menunjukkan bahwa ketika individu diberikan sumber daya finansial tanpa syarat, mereka cenderung menggunakannya untuk menstabilkan hidup mereka, bukan untuk memperburuk adiksi. Penurunan signifikan dalam jumlah tunawisma tanpa perlindungan dan peningkatan status perumahan permanen adalah bukti nyata efektivitas model ini.
Namun, keberhasilan teknis ini tidak secara otomatis menghapus risiko moral atau tantangan politik. Krisis kepercayaan akibat korupsi di lembaga nirlaba dan kemarahan warga pembayar pajak yang merasa terpinggirkan adalah hambatan nyata yang harus diatasi. Agar jaminan tunai dapat diadopsi sebagai kebijakan permanen, diperlukan sistem pengawasan yang jauh lebih transparan dan akuntabel.
Selain itu, GBI tidak boleh dianggap sebagai solusi tunggal. Ia harus dipadukan dengan reformasi pasar perumahan untuk meningkatkan pasokan rumah dan layanan kesehatan mental yang dapat diakses. Memberi uang tunai adalah bentuk empati radikal yang mengakui martabat manusia, tetapi martabat tersebut hanya bisa dipertahankan jika individu tersebut memiliki tempat yang stabil untuk pulang dan komunitas yang mendukung untuk tumbuh. Masa depan kebijakan ini akan bergantung pada kemampuan para pemimpin kota untuk menyeimbangkan antara inovasi yang berani dan tanggung jawab fiskal yang nyata di hadapan publik.
