Krisis iklim global telah memaksa peradaban manusia untuk melakukan transisi energi yang paling ambisius dalam sejarah, beralih dari bahan bakar fosil menuju sistem elektrifikasi yang bergantung pada penyimpanan energi masif. Inti dari revolusi ini adalah baterai litium-ion yang membutuhkan pasokan nikel, kobalt, tembaga, dan mangan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memenuhi target produksi kendaraan listrik global. Di tengah menipisnya cadangan mineral di daratan dan meningkatnya biaya lingkungan serta sosial dari pertambangan terestrial, perhatian dunia kini tertuju pada perbatasan terakhir planet ini: dasar laut dalam. Wilayah abisal ini menyimpan cadangan mineral yang secara teoritis mampu menyokong transisi hijau selama berabad-abad, namun ia juga merupakan rumah bagi ekosistem yang paling sedikit dipahami dan paling rentan di Bumi. Munculnya industri penambangan laut dalam (Deep-Sea Mining atau DSM) menciptakan dilema etika dan teknis yang mendalam, memadukan urgensi mitigasi iklim dengan risiko kerusakan permanen pada integritas ekologis samudera.
Landasan Geopolitik dan Kebutuhan Mineral Strategis
Kebutuhan akan mineral kritis bukan sekadar isu ekonomi, melainkan masalah keamanan nasional bagi banyak negara maju. Mineral seperti kobalt dan nikel dikategorikan sebagai bahan strategis karena fungsinya yang tidak tergantikan dalam manufaktur teknologi tinggi dan infrastruktur energi bersih. Amerika Serikat, misalnya, melalui Perintah Eksekutif dan kebijakan Departemen Dalam Negeri pada tahun 2025, telah mempercepat upaya untuk mengamankan sumber daya mineral lepas pantai guna mengurangi ketergantungan pada pemasok asing yang dianggap tidak stabil atau kompetitif secara geopolitik. Ketergantungan global pada wilayah-wilayah tertentu, seperti Republik Demokratik Kongo untuk kobalt dan Indonesia untuk nikel, menciptakan kerentanan rantai pasok yang signifikan.
Penambangan laut dalam dipandang sebagai solusi desentralisasi pasokan yang mampu menyediakan stabilitas pasar jangka panjang. Cadangan mineral di dasar laut, khususnya dalam bentuk nodul polimetalik, menawarkan konsentrasi logam yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bijih di daratan yang kualitasnya terus menurun. Di daratan, kadar bijih nikel dan tembaga telah menurun secara drastis sejak awal abad ke-20, yang berarti diperlukan lebih banyak energi, air, dan lahan untuk mengekstraksi jumlah logam yang sama. Sebaliknya, nodul di laut dalam mengandung persentase logam gabungan yang mencapai hampir 30 persen dari beratnya, menjadikannya target yang sangat menggiurkan bagi industri ekstraktif.
Karakteristik Sumber Daya Mineral Dasar Laut
Mineral di laut dalam terkonsentrasi dalam tiga jenis deposit utama yang memiliki proses pembentukan dan karakteristik geologis unik. Pemahaman terhadap perbedaan ini sangat penting karena setiap jenis memerlukan teknologi ekstraksi yang berbeda dengan profil dampak lingkungan yang bervariasi.
Nodul polimetalik adalah deposit yang paling menarik secara komersial, ditemukan terutama di dataran abisal pada kedalaman antara 4.000 hingga 6.000 meter. Nodul ini terbentuk melalui proses presipitasi logam yang sangat lambat dari air laut dan sedimen, dengan kecepatan pertumbuhan hanya sekitar 1 hingga 15 milimeter per satu juta tahun. Di Zona Clarion-Clipperton (CCZ) di Pasifik Tengah, nodul ini tersebar secara luas di atas permukaan sedimen, mengandung nikel, kobalt, tembaga, dan mangan dalam jumlah besar, serta elemen tanah jarang (REE) seperti yttrium dan molybdenum.
Deposit kedua adalah kerak feromangan kaya kobalt, yang terbentuk sebagai lapisan keras di atas permukaan batuan gunung laut (seamounts) pada kedalaman 800 hingga 2.500 meter. Kerak ini menumpuk dengan laju 1-6 mm per juta tahun dan dapat mencapai ketebalan hingga 25 cm. Karena kerak ini melekat pada batuan keras, proses pengambilannya jauh lebih sulit secara mekanis dibandingkan dengan memungut nodul polimetalik.
Jenis ketiga adalah sulfida masif dasar laut (SMS), yang terbentuk di sepanjang batas lempeng tektonik melalui aktivitas hidrotermal. Air laut yang super panas dan kaya logam dikeluarkan melalui retakan di dasar laut, mendingin, dan mengendapkan mineral yang membentuk cerobong dan gundukan yang kaya akan tembaga, emas, perak, dan seng. Meskipun area permukaannya lebih kecil dibandingkan deposit nodul, deposit SMS dapat memiliki ketebalan puluhan meter di bawah permukaan laut.
| Parameter | Nodul Polimetalik | Kerak Kobalt | Sulfida Masif (SMS) |
| Kedalaman Operasional | 4.000 – 6.000 meter | 800 – 2.500 meter | 1.000 – 4.000 meter |
| Logam Target Utama | Ni, Co, Cu, Mn, REE | Co, Ni, Cu, Mn | Cu, Au, Ag, Zn |
| Metode Ekstraksi | Penghisapan/Pemungutan permukaan | Penggilingan batuan keras | Pengeboran/Penggalian |
| Laju Pertumbuhan | 1-15 mm / juta tahun | 1-6 mm / juta tahun | Sangat cepat (skala dekade) |
| Luas Area Terpapar | Sangat luas (80-130 $km^2$/thn) | Luas (25-80 $km^2$/thn) | Terpusat (200×200 m) |
Data di atas menunjukkan bahwa penambangan nodul polimetalik memiliki skala dampak area yang paling besar, namun secara teknis paling mudah diakses karena nodul tersebut terletak bebas di atas permukaan sedimen. Karakteristik pertumbuhan yang sangat lambat pada nodul dan kerak menekankan bahwa sumber daya ini, secara praktis, tidak dapat diperbarui dalam skala waktu manusia.
Anatomi Teknologi Ekstraksi dan Infrastruktur Operasional
Penambangan laut dalam memerlukan integrasi teknologi robotika canggih, sistem lift hidrolik, dan platform permukaan yang mampu beroperasi dalam kondisi ekstrem. Komponen inti dari sistem ini adalah kendaraan pengumpul dasar laut (Subsea Collector), yang dirancang untuk menavigasi medan abisal dan mengumpulkan mineral dengan gangguan minimal terhadap sedimen di sekitarnya. Perusahaan seperti Allseas dan Impossible Metals telah mengembangkan kolektor robotik yang menggunakan lengan mekanik atau sistem hisap hidrolik untuk memungut nodul dari permukaan laut.
Setelah dikumpulkan, mineral tersebut kemudian dikirim ke permukaan melalui sistem lift riser (Riser Lift System/RALS). Sistem ini biasanya terdiri dari pipa sepanjang beberapa kilometer yang menggunakan pompa air atau udara untuk mengangkat campuran bijih dan air (slurry) ke Kapal Pendukung Produksi (Production Support Vessel/PSV) di permukaan. Di kapal tersebut, nodul dipisahkan dari air dan sedimen. Air sisa, yang seringkali masih mengandung partikel sedimen halus dan sisa logam, kemudian dikembalikan ke laut melalui pipa pembuangan (discharge pipe) pada kedalaman tertentu.
Tantangan teknis utama dalam operasi ini adalah tekanan hidrostatik yang sangat tinggi dan suhu yang mendekati titik beku di kedalaman 4.000 meter lebih. Energi yang dibutuhkan untuk mengangkat ribuan ton bijih setiap hari dari kedalaman tersebut sangat besar, menjadikannya operasi yang intensif energi dibandingkan dengan pengangkutan di darat. Namun, para pendukung industri berpendapat bahwa efisiensi ini akan terus meningkat seiring dengan kemajuan dalam otomatisasi dan desain sistem lift.
Realitas Empiris: Dampak Penambangan Darat di Indonesia dan DRC
Perdebatan mengenai penambangan laut dalam tidak dapat dipisahkan dari dampak kerusakan lingkungan dan sosial yang sedang berlangsung di situs pertambangan darat utama dunia. Kasus nikel di Indonesia dan kobalt di Republik Demokratik Kongo (DRC) memberikan gambaran kontras yang sering digunakan oleh para pendukung DSM untuk membenarkan perlunya beralih ke sumber daya laut.
Eksploitasi Nikel di Indonesia: Deforestasi dan Krisis Ekologi Pesisir
Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di dunia dan telah menjadi pusat pertumbuhan industri baterai kendaraan listrik global. Namun, kesuksesan ekonomi ini dibayar mahal dengan degradasi lingkungan yang luas di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara. Penambangan nikel laterit di Indonesia umumnya dilakukan dengan metode tambang terbuka di kawasan hutan lindung, yang menyebabkan deforestasi signifikan di hotspot biodiversitas Wallacea.
Di Pulau Halmahera, proyek nikel besar telah menyebabkan hilangnya lebih dari 5.300 hektar hutan, yang merusak habitat spesies endemik dan mengurangi kapasitas penyerapan karbon alami. Dampak ini meluas ke perairan pesisir, di mana sedimentasi dari aktivitas tambang dan pembangunan smelter telah mencemari sungai-sungai vital seperti Sungai Sagea, yang airnya berubah menjadi cokelat keruh. Nelayan lokal melaporkan penurunan hasil tangkapan yang drastis akibat pembuangan air limbah panas dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara yang digunakan untuk memasok energi ke fasilitas pemurnian nikel.
Selain masalah lingkungan, konflik sosial juga meningkat seiring dengan proses akuisisi lahan yang seringkali dianggap intimidatif oleh masyarakat adat. Di beberapa wilayah, transisi dari ekonomi agraris dan nelayan tradisional menuju ketergantungan pada industri tambang telah menciptakan ketimpangan ekonomi yang lebih dalam dan masalah kesehatan masyarakat, termasuk peningkatan penyakit pernapasan akibat polusi udara dari PLTU batubara captive.
Tragedi Kemanusiaan dalam Penambangan Kobalt di DRC
Republik Demokratik Kongo (DRC) menyumbang sekitar 70 persen dari produksi kobalt global, dengan sebagian besar diekstraksi melalui kombinasi tambang industrial dan pertambangan rakyat (artisanal). Amnesty International secara konsisten mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia yang sistemik di sektor pertambangan rakyat, di mana diperkirakan 40.000 anak bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya tanpa alat pelindung diri.
Para penambang rakyat ini menggali lubang-lubang dalam dengan alat tradisional yang rentan terhadap keruntuhan fatal, sementara paparan debu kobalt menyebabkan penyakit paru-paru kronis dan cacat lahir. Di tingkat geopolitik, kekayaan mineral DRC seringkali menjadi bahan bakar bagi konflik bersenjata dan korupsi sistemik, yang semakin memiskinkan populasi lokal meskipun negara tersebut memiliki sumber daya yang sangat berharga bagi dunia modern. Hal ini menciptakan argumen etis yang kuat bagi perusahaan otomotif global untuk mencari sumber alternatif yang lebih transparan dan dapat diawasi secara ketat.
| Dampak Sektor | Penambangan Darat (Indonesia/DRC) | Penambangan Laut Dalam (Proyeksi) |
| Penggunaan Lahan | Deforestasi luas, pemindahan pemukiman | Tidak ada penggunaan lahan terestrial langsung |
| Kesejahteraan Sosial | Pekerja anak, konflik lahan, polusi lokal | Risiko pada nelayan lepas pantai, masalah warisan bersama |
| Biodiversitas | Hilangnya spesies hutan hujan dan pesisir | Hilangnya spesies laut dalam yang belum ditemukan |
| Emisi Karbon | Tinggi (deforestasi + energi smelter) | Potensi lebih rendah (tidak ada deforestasi) |
| Air Tawar | Konsumsi sangat tinggi, polusi sungai | Tidak menggunakan air tawar, polusi kolom air |
Ekosistem Abisal dan Mekanisme Kehancuran Lingkungan
Meskipun penambangan laut dalam menawarkan solusi bagi masalah di daratan, ia membawa serangkaian risiko ekologis yang belum pernah dihadapi manusia sebelumnya. Dasar laut dalam bukan sekadar gurun yang gelap dan sunyi; ia adalah penyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dengan spesies yang telah beradaptasi selama jutaan tahun dalam stabilitas yang luar biasa.
Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati yang Belum Terjamah
Kekhawatiran utama para ilmuwan adalah penghancuran langsung habitat fisik. Di dataran abisal CCZ, nodul polimetalik berfungsi sebagai satu-satunya substrat keras di tengah hamparan sedimen lunak yang luas. Banyak organisme, seperti spons, karang laut dalam, dan anemon, bergantung sepenuhnya pada nodul ini sebagai tempat melekat. Pengambilan nodul secara otomatis berarti penghilangan habitat permanen bagi spesies-spesies ini.
Lebih jauh lagi, diperkirakan bahwa 90 persen spesies yang hidup di zona target penambangan belum pernah dideskripsikan atau diberi nama oleh para ilmuwan. Keanekaragaman ini mencakup megafauna seperti timun laut (seperti Oneirophanta mutabilis), babi laut, dan gurita “Casper” yang bertelur di spons yang menempel pada nodul. Hilangnya spesies-spesies ini bukan hanya masalah kehilangan satu organisme, melainkan potensi gangguan pada seluruh jaring makanan laut dalam yang juga terhubung dengan produktivitas di lapisan permukaan laut.
Dinamika Plume Sedimen dan Toksisitas Kolom Air
Aktivitas mesin kolektor di dasar laut akan mengaduk sedimen halus yang telah mengendap selama ribuan tahun, menciptakan awan partikel yang disebut plume sedimen. Plume ini dapat menempuh jarak yang sangat jauh dan bertahan di kolom air untuk waktu yang lama sebelum akhirnya mengendap kembali. Dampaknya meliputi penyumbatan alat penyaring makanan pada hewan laut, penguburan organisme kecil di dasar laut, dan gangguan pada komunikasi bioluminesensi yang digunakan oleh banyak spesies laut dalam untuk berburu dan kawin.
Selain plume di dasar laut, pelepasan air limbah dari kapal permukaan menciptakan plume di kolom air tengah (mid-water). Air limbah ini mengandung partikel halus, sisa logam, dan bahan kimia yang dapat beracun bagi zooplankton dan ikan di zona mesopelagik. Gangguan pada zona ini sangat kritis karena di sinilah terjadi migrasi vertikal harian massa biologi terbesar di planet ini, yang berperan penting dalam memindahkan karbon dari permukaan ke laut dalam.
Polusi Suara dan Cahaya di Lingkungan yang Paling Stabil
Laut dalam adalah lingkungan yang secara alami gelap gulita dan relatif sunyi. Penambangan akan memperkenalkan kebisingan frekuensi tinggi dan rendah secara terus-menerus serta cahaya buatan yang sangat terang. Kebisingan dari mesin kolektor dan pipa riser dapat mengganggu mamalia laut besar seperti paus yang menggunakan ekolokasi untuk navigasi dan komunikasi. Bagi spesies laut dalam yang memiliki sensitivitas cahaya yang sangat tinggi, paparan cahaya dari robot penambang dapat menyebabkan kebutaan permanen atau gangguan perilaku yang fatal.
Dilema Etika: Antara Utilitarianisme Iklim dan Keadilan Antargenerasi
Perdebatan mengenai penambangan laut dalam seringkali terjebak dalam benturan dua paradigma etika yang berbeda. Di satu sisi, terdapat argumen utilitarian yang menyatakan bahwa kita harus memilih “kejahatan yang lebih kecil” (lesser of two evils) demi keselamatan iklim global. Dalam pandangan ini, kerusakan pada ekosistem laut dalam yang terpencil dianggap sebagai harga yang pantas dibayar untuk menghentikan penggunaan batubara dan mempercepat transisi kendaraan listrik yang akan menyelamatkan miliaran manusia dari bencana iklim.
Namun, pandangan ini ditentang oleh prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dan konsep keadilan antargenerasi. Ekosistem laut dalam adalah bagian dari “Warisan Bersama Umat Manusia” (Common Heritage of Mankind), sebuah prinsip hukum yang menyatakan bahwa sumber daya ini harus dikelola untuk kepentingan seluruh umat manusia, termasuk generasi mendatang. Menghancurkan ekosistem yang memerlukan waktu jutaan tahun untuk pulih hanya demi memenuhi kebutuhan teknologi selama beberapa dekade dianggap sebagai bentuk ketidakadilan antargenerasi yang ekstrem.
Prinsip keadilan lingkungan juga muncul dalam konteks negara-negara kepulauan kecil di Pasifik. Banyak dari negara ini, seperti Nauru dan Kepulauan Cook, melihat penambangan laut dalam sebagai peluang ekonomi untuk meningkatkan ketahanan nasional mereka terhadap dampak perubahan iklim yang justru disebabkan oleh industrialisasi negara-negara besar. Sebaliknya, negara-negara lain seperti Palau dan Fiji menyerukan moratorium karena kekhawatiran bahwa penambangan akan merusak industri perikanan tuna yang menjadi tulang punggung ekonomi dan identitas budaya mereka.
Kerangka Hukum Internasional dan Otoritas Dasar Laut (ISA)
Tata kelola penambangan laut dalam di perairan internasional berada di bawah yurisdiksi Otoritas Dasar Laut Internasional (ISA), sebuah badan otonom yang didirikan berdasarkan UNCLOS. ISA memiliki mandat unik untuk mengatur aktivitas mineral di “Area” sambil memastikan perlindungan lingkungan laut.
Dinamika Sidang ke-30 ISA dan Ketegangan Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi titik kritis bagi ISA karena tekanan untuk menyelesaikan “Mining Code” atau regulasi eksploitasi komersial mencapai puncaknya. Sidang ke-30 yang berlangsung di Kingston, Jamaika, menunjukkan perpecahan yang mendalam antara negara anggota. Di satu sisi, koalisi yang terdiri dari 32 hingga 40 negara, termasuk Prancis, Britania Raya, Jerman, dan Brasil, secara resmi mendukung moratorium atau jeda pencegahan sampai bukti ilmiah yang cukup tersedia bahwa penambangan tidak akan menyebabkan kerusakan serius.
Di sisi lain, perusahaan penambang seperti The Metals Company (TMC) melalui anak perusahaannya, Nauru Ocean Resources Inc. (NORI), terus mendesak agar izin eksploitasi segera diberikan, dengan memanfaatkan celah hukum “aturan dua tahun” yang dipicu oleh Nauru pada 2021. Pada pertengahan 2025, Nauru dan TMC menandatangani pembaruan perjanjian sponsor yang mempertegas niat mereka untuk mulai menambang secara komersial sesegera mungkin.
Tantangan Unilateralisme dan Kedaulatan Hukum
Keadaan semakin rumit dengan langkah Amerika Serikat, yang bukan merupakan pihak dalam UNCLOS, untuk mengeluarkan izin penambangan laut dalam secara sepihak di bawah undang-undang domestiknya sendiri pada April 2025. Tindakan ini dipandang oleh sekretariat ISA dan mayoritas negara anggota sebagai ancaman terhadap sistem multilateralisme dan supremasi UNCLOS sebagai “Konstitusi Samudera”. Konflik yurisdiksi ini menciptakan ketidakpastian bagi pasar global dan berisiko memicu perlombaan liar untuk mengeksploitasi dasar laut tanpa standar lingkungan yang seragam.
Interseksi dengan Perjanjian BBNJ (High Seas Treaty)
Adopsi Perjanjian BBNJ (Keanekaragaman Hayati di Luar Yurisdiksi Nasional) pada Juni 2023 menandai tonggak sejarah baru dalam konservasi laut. Perjanjian ini, yang dijadwalkan mulai berlaku secara internasional pada Januari 2026 setelah mencapai 60 ratifikasi pada September 2025, memberikan kerangka kerja untuk menetapkan kawasan lindung laut (MPA) di laut lepas dan mewajibkan penilaian dampak lingkungan yang ketat.
Meskipun BBNJ tidak menggantikan mandat ISA, ia menciptakan kewajiban bagi negara-negara untuk memastikan bahwa aktivitas penambangan tidak merusak tujuan konservasi keanekaragaman hayati global. Tantangan koordinasi antara ISA dan institusi BBNJ yang baru akan menjadi fokus utama tata kelola laut di tahun-tahun mendatang, terutama dalam mencapai target global “30×30” (melindungi 30 persen laut pada tahun 2030).
Alternatif Strategis: Transformasi Teknologi Baterai dan Ekonomi Sirkular
Salah satu argumen paling kuat yang menentang urgensi penambangan laut dalam adalah kecepatan inovasi dalam teknologi baterai dan potensi ekonomi sirkular. Narasi bahwa dunia akan kehabisan nikel dan kobalt seringkali mengabaikan kemampuan manusia untuk beradaptasi dan berinovasi.
Kebangkitan Baterai Litium Besi Fosfat (LFP) dan Sodium-Ion
Pasar kendaraan listrik sedang mengalami pergeseran besar menuju kimia baterai yang tidak menggunakan nikel atau kobalt—logam utama yang menjadi target penambangan di dasar laut. Baterai Litium Besi Fosfat (LFP) telah tumbuh dari pangsa pasar 7 persen pada 2018 menjadi lebih dari 40 persen pada 2023, dan diperkirakan akan terus mendominasi segmen mobil listrik murah dan sistem penyimpanan energi. Di China, LFP bahkan telah mencakup 60 persen dari pasar baterai EV.
Selain LFP, teknologi baterai natrium-ion (sodium-ion) mulai dikomersialkan oleh raksasa seperti CATL dan BYD. Menggunakan bahan baku natrium yang melimpah dan murah dari garam laut, baterai ini menawarkan alternatif yang jauh lebih berkelanjutan secara etis dan lingkungan dibandingkan baterai yang bergantung pada kobalt Kongo atau nikel dasar laut. Kemunculan baterai padat (solid-state) yang menawarkan kepadatan energi tinggi tanpa risiko keamanan cair juga terus berkembang pesat dengan proyeksi pertumbuhan pasar mencapai USD 15,6 miliar pada 2033.
Paradigma Ekonomi Sirkular dan Daur Ulang Modern
Memperkuat infrastruktur daur ulang dapat secara signifikan mengurangi permintaan akan ekstraksi mineral baru. IEA memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, daur ulang baterai dan mineral lainnya dapat mengurangi kebutuhan akan pembukaan tambang baru sebesar 25 hingga 40 persen. Teknologi daur ulang telah mencapai efisiensi yang luar biasa; metode hidrometalurgi modern mampu memulihkan lebih dari 95 persen logam dari baterai bekas dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah daripada penambangan primer.
Inovasi terbaru dalam “Daur Ulang Langsung” (Direct Recycling) bahkan memungkinkan pemulihan bahan katoda tanpa perlu menghancurkan struktur kimianya, yang secara teoritis merupakan metode yang paling hemat energi dan ramah lingkungan. Kebijakan seperti “Paspor Baterai” dan target kandungan daur ulang wajib (misalnya 16% kobalt daur ulang pada 2031 di Uni Eropa) memaksa industri untuk mengadopsi model sirkular yang akan melemahkan argumen ekonomi bagi penambangan laut dalam yang berisiko tinggi.
| Teknologi | Komposisi Utama | Target Mineral | Status Komersial |
| Baterai NMC | Nikel, Mangan, Kobalt | Nikel & Kobalt (Dasar Laut) | Dominan (EV Jarak Jauh) |
| Baterai LFP | Litium, Besi, Fosfat | Litium | Tumbuh Pesat (Mass Market) |
| Natrium-Ion | Natrium, Karbon | Natrium (Garam) | Tahap Awal Komersial |
| Daur Ulang Hidro | Larutan Kimia | Pemulihan Ni, Co, Li | Tersedia Skala Industri |
| Daur Ulang Langsung | Perbaikan Katoda | Pemulihan Struktur | Tahap R&D / Pilot |
Sintesis dan Rekomendasi Kebijakan
Fenomena penambangan laut dalam mewakili titik puncak dari ambisi teknologi manusia yang berbenturan dengan keterbatasan ekologis planet ini. Data menunjukkan bahwa meskipun laut dalam memiliki potensi mineral yang sangat besar yang dapat mempermudah transisi energi dalam jangka pendek, biaya jangka panjang terhadap fungsi ekosistem global mungkin jauh melampaui manfaat ekonominya.
Keputusan untuk membuka dasar laut bagi eksploitasi industrial tidak boleh diambil secara tergesa-gesa atau hanya berdasarkan tekanan dari satu atau dua perusahaan rintisan. Dibutuhkan setidaknya satu dekade penelitian ilmiah intensif untuk memahami dasar laut abisal sebelum keputusan definitif dapat dibuat. Selama periode ini, fokus global harus dialihkan ke reformasi mendalam pada praktik pertambangan darat guna memastikan bahwa transisi hijau tidak mengorbankan hak asasi manusia di Afrika atau hutan hujan di Indonesia.
Pada akhirnya, solusi sesungguhnya untuk krisis mineral bukan terletak pada penemuan tempat baru untuk dirusak, melainkan pada desain ulang ekonomi kita agar menjadi benar-benar sirkular. Transisi energi yang adil dan berkelanjutan harus menghormati integritas seluruh biosfer, mulai dari hutan hujan tropis hingga dataran abisal yang gelap, demi menjaga kelangsungan hidup umat manusia dan jutaan spesies lain yang berbagi planet ini. Penambangan laut dalam, dalam status pengetahuan ilmiah kita saat ini, tetap merupakan risiko yang terlalu besar untuk diambil.
