Transformasi mendalam suatu bangsa sering kali tidak dimulai dari perbatasan geografis atau kekuatan militer semata, melainkan dari permukaan tubuh warga negaranya. Pada akhir abad ke-17, Tsar Peter I dari Rusia, yang kemudian dikenal sebagai Peter Agung, meluncurkan salah satu eksperimen rekayasa sosial paling radikal dalam sejarah modern dengan menjadikan janggut sebagai instrumen kepatuhan politik. Kebijakan Pajak Janggut tahun 1698 bukan sekadar instrumen fiskal untuk mengisi pundi-pundi negara yang terkuras oleh peperangan, melainkan sebuah proklamasi simbolis tentang arah baru Rusia yang ingin melepaskan identitas Bizantium-Slavia kuno demi mengadopsi model modernitas Eropa Barat. Melalui regulasi atas penampilan fisik, negara melakukan penetrasi ke dalam ruang paling intim dari individu, mengubah tubuh menjadi situs kontestasi antara tradisi religius yang sakral dan otoritas absolut sekuler yang pragmatis.

Konteks Historis dan Motivasi Kedutaan Besar Agung

Untuk memahami radikalitas kebijakan Pajak Janggut, analisis harus dimulai dari kondisi sosiokultural Rusia sebelum tahun 1698. Rusia pada masa itu merupakan entitas yang secara budaya dan teknologi dianggap tertinggal dari kekuatan-kekuatan Eropa seperti Inggris dan Belanda. Tanpa angkatan laut yang mumpuni dan dengan struktur pemerintahan yang masih sangat dipengaruhi oleh tradisi boyar (bangsawan tinggi) yang kaku, Rusia dipandang sebagai bangsa pinggiran yang eksotis namun tidak berdaya secara geopolitik. Peter I, dengan tinggi badan hampir tujuh kaki dan kepribadian yang penuh vitalitas serta kecerdasan alami, menyadari bahwa negaranya membutuhkan perombakan total untuk bisa berkompetisi di panggung dunia.

Titik balik utama terjadi selama Kedutaan Besar Agung (Grand Embassy) tahun 1697–1698, di mana Peter I melakukan perjalanan penyamaran ke Eropa Barat. Dengan menggunakan identitas palsu sebagai “Sersan Pyotr Mikhaylov”, Tsar muda ini bergabung dalam delegasi yang terdiri dari 250 orang, memungkinkannya untuk membaur dan mempelajari Eropa secara langsung. Ia bekerja di galangan kapal Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) selama empat bulan untuk mempelajari inovasi pembuatan kapal dan kemudian melanjutkan studinya di galangan kapal Angkatan Laut Kerajaan di Deptford, Inggris. Selama perjalanan ini, Peter tidak hanya mempelajari teknologi, tetapi juga mengamati dengan saksama perilaku sosial, etiket istana, dan penampilan fisik masyarakat Eropa.

Hasil dari pengamatan tersebut adalah sebuah kesimpulan tajam: kemajuan teknologi Eropa tidak dapat dipisahkan dari kedisiplinan budaya dan estetika mereka. Peter melihat wajah-wajah klimis pria Eropa sebagai simbol modernitas, efisiensi, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan. Sebaliknya, janggut lebat yang dipelihara pria Rusia selama berabad-abad dianggap sebagai manifestasi fisik dari keterbelakangan, isolasi, dan konservatisme religius yang menghambat kemajuan. Oleh karena itu, sekembalinya ke Rusia pada tahun 1698, agenda utamanya adalah menyerang simbol tradisi tersebut secara langsung.

Peristiwa yang menandai dimulainya era baru ini terjadi secara dramatis pada sebuah resepsi untuk menghormati kepulangannya di Kremlin. Di hadapan para boyar yang bersujud menyambutnya, Peter secara tidak terduga mengeluarkan pisau cukur besar dan secara pribadi mencukur janggut para tamu kehormatannya. Tindakan ini bukan sekadar luapan emosi spontan, melainkan performa kekuasaan absolut yang menegaskan bahwa tidak ada subjek, tidak peduli seberapa tinggi status sosialnya, yang berada di luar jangkauan kehendak Tsar. Peter menyatakan bahwa semua pria di Rusia harus melepaskan janggut mereka, sebuah kebijakan yang segera memicu horor dan elasi di kalangan audiens yang hadir.

Estetika sebagai Instrumen Kepatuhan Politik

Kebijakan Pajak Janggut merupakan implementasi dari apa yang dalam teori politik modern sering dianalisis melalui lensa “anatomi politik”, di mana tubuh subjek didisiplinkan untuk kepentingan perluasan ekonomi dan politik negara. Peter I menyadari bahwa untuk mengubah cara berpikir rakyatnya, ia harus terlebih dahulu mengubah cara mereka berpenampilan dan berperilaku. Penampilan fisik dijadikan barometer kesetiaan politik: pria yang berwajah klimis dan berpakaian ala Eropa dianggap mendukung visi modernisasi Tsar, sementara mereka yang mempertahankan janggut dianggap sebagai simpatisan dari tatanan lama yang stagnan.

Menyadari bahwa larangan total akan memicu pemberontakan yang sulit dikendalikan, Peter mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis melalui sistem perpajakan berjenjang. Kebijakan ini memberikan “ilusi pilihan”: seseorang boleh memelihara janggut asalkan ia mampu membayar hak istima tersebut kepada negara. Struktur pajak ini dirancang secara progresif berdasarkan status sosial, yang mencerminkan beban ekonomi sekaligus tekanan politik yang ingin diberikan pada setiap kelas masyarakat.

Struktur Pajak Janggut Berdasarkan Kelas Sosial

Kategori Sosial Tarif Pajak Tahunan (Rubel) Deskripsi dan Dampak
Bangsawan Tinggi (Boyar) dan Pejabat Istana 600 (Awalnya 100) Tekanan tertinggi pada elit untuk menjadi teladan visual modernitas.
Pedagang Kaya (Guild Pertama) 100 Kelas yang paling sering berinteraksi dengan diplomat dan pedagang asing.
Pegawai Pemerintah, Militer, dan Warga Kota 60 Kepatuhan mutlak diperlukan dalam struktur birokrasi dan tentara.
Penduduk Kota Moskow (Muscovites) 30 Moskow sebagai pusat tradisionalisme menjadi target pengawasan intensif.
Petani (Peasants/Serfs) 2 Setengah Kopek Dibayar setiap kali memasuki atau meninggalkan gerbang kota.

Pajak ini sangat berat jika dibandingkan dengan daya beli masyarakat pada masa itu. Sebagai gambaran, 30 rubel merupakan biaya yang setara untuk membiayai satu prajurit infanteri selama satu tahun penuh. Rubel pada masa Peter mengandung sekitar 312,1 grain perak, sehingga 60 rubel mewakili sekitar 925 gram perak murni, sedangkan 100 rubel mewakili sekitar 1,5 kg perak murni. Bagi banyak orang, membayar pajak ini berarti pengorbanan finansial yang melumpuhkan, yang secara efektif memaksa mereka untuk akhirnya menyerah pada pisau cukur.

Penegakan Pajak Janggut dilakukan melalui mekanisme pengawasan yang ketat di ruang publik. Barbers atau pencukur ditempatkan di gerbang-gerbang kota Moskow dan kota-provinsi lainnya. Pria yang masuk ke kota dengan janggut harus menunjukkan bukti pembayaran pajak. Jika tidak mampu menunjukkan bukti, petugas berwenang untuk mencukur janggut pria tersebut secara paksa di tempat umum, sebuah tindakan yang dianggap sebagai penghinaan luar biasa terhadap martabat pria Rusia. Peter bahkan memberdayakan polisi untuk mencukur siapa pun yang mereka temui di jalan jika orang tersebut tidak memiliki bukti pembayaran pajak.

Token Janggut: Bukti Fisik dan Simbolis

Sebagai bagian dari administrasi pajak, negara mengeluarkan “token janggut” (borodovoy znak) yang berfungsi sebagai tanda terima fisik yang harus dibawa oleh setiap pria yang membayar pajak. Token ini bukan sekadar alat administratif, melainkan artefak yang membawa pesan ideologis negara tentang tubuh yang tidak diinginkan.

Evolusi Desain dan Inskripsi Token Janggut

Token janggut mengalami beberapa kali perubahan desain yang mencerminkan perkembangan legislasi dan pesan politik yang semakin keras dari Tsar.

Versi Tahun Bentuk dan Material Inskripsi Obverse (Muka) Inskripsi Edge / Reverse (Tepi/Belakang)
1698/1699 Kepingan Tembaga Sederhana Bertuliskan “Uang Diambil” (Dengi Vzyaty). Sangat langka, hanya dua spesimen yang ditemukan.
1705 Bulat, Tembaga atau Perak Menunjukkan gambar hidung, mulut, kumis, dan janggut; “Uang Diambil”. Tanggal dalam angka Sirilik (҂АѰЕ ГОДѸ, “Tahun 1705”).
1710 Bulat, Tembaga Sama dengan versi 1705 dengan pembaruan tahun. Angka Sirilik (҂АѰІ, “1710”).
1724/1725 Romboid (Belah Ketupat) Tulisan “Pajak Janggut Telah Diambil” (Sborody Poshlina Vzyata). Tepi: “Janggut adalah Beban yang Berlebihan” (Boroda lishnyaya tyagota).

Penggunaan inskripsi “Janggut adalah beban yang berlebihan” pada versi romboid tahun 1724 menunjukkan pergeseran dari sekadar pengumpulan pajak menuju ejekan terang-terangan terhadap identitas budaya subjek. Negara tidak hanya memungut biaya, tetapi juga secara aktif mendiskreditkan nilai estetika subjeknya melalui objek yang dipaksa mereka bawa sebagai “lisensi janggut”. Kelangkaan token ini di era modern sering kali dikaitkan dengan kebencian nasional terhadap hukum tersebut; banyak token yang dilelehkan kembali setelah pajak tersebut dicabut untuk dijadikan koin kopek biasa.

Resistensi Religius dan Teologi Janggut

Serangan Peter terhadap janggut bukan hanya masalah mode, melainkan serangan frontal terhadap fondasi teologis Gereja Ortodoks Rusia. Dalam pandangan Ortodoks saat itu, penampilan fisik pria bukan merupakan pilihan gaya pribadi, melainkan manifestasi dari kepatuhan terhadap hukum ilahi.

Gereja mengajarkan bahwa janggut mencerminkan citra ilahi karena manusia diciptakan menurut gambar Tuhan. Mengingat Yesus dan para santo selalu digambarkan berjanggut dalam ikonografi suci, mencukur wajah dianggap sebagai tindakan menghujat (blasphemous) yang merusak desain Tuhan. Ivan yang Mengerikan bahkan pernah menyatakan bahwa mencukur janggut adalah dosa yang tidak dapat dihapus oleh darah martir sekalipun. Bagi pria Rusia, janggut adalah simbol kedewasaan, maskulinitas, dan kesalehan.

Resistensi ini dipimpin secara simbolis oleh Patriark Adrian hingga kematiannya pada tahun 1700. Adrian dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan pria tanpa janggut, dan mencukur janggut adalah sebuah “dosa maut”. Banyak pria yang sangat ketakutan bahwa tanpa janggut, mereka tidak akan dikenali oleh Tuhan di hari penghakiman atau tidak akan diizinkan masuk ke surga. Hal ini memicu praktik di mana pria yang terpaksa mencukur janggut akan menyimpan potongan rambut tersebut untuk diletakkan di dalam peti mati mereka saat meninggal, dengan harapan bisa “dipasang kembali” di kehidupan setelah kematian.

Oposisi paling radikal datang dari kaum Percaya Lama (Old Believers atau Raskolniki), kelompok yang menolak reformasi liturgi Nikon dari pertengahan abad ke-17. Mereka memandang Peter I sebagai personifikasi dari Antikristus karena serangannya terhadap tradisi suci Rusia. Muncul rumor luas bahwa Peter yang asli telah dipenjara di Swedia atau dibunuh, dan sosok yang kembali ke Rusia adalah “pengganti” yang dikirim oleh musuh-musuh Rusia untuk menghancurkan iman Ortodoks.

Menghadapi resistensi ini, Peter mengambil tindakan yang semakin represif. Melalui dekret 8 Februari 1716, kaum Percaya Lama diwajibkan untuk mendaftar secara resmi dan membayar pajak kepala ganda (double head tax) selain Pajak Janggut. Mereka juga dipaksa mengenakan pakaian khusus dengan lencana atau tanda pengenal agar bisa dikenali dari kejauhan sebagai kelompok pembangkang. Di banyak wilayah terpencil, komunitas Percaya Lama memilih untuk melarikan diri ke Siberia atau Utara, atau bahkan memilih jalan martir daripada harus mencukur janggut dan meninggalkan iman mereka.

Reformasi Sartorial: Pendisiplinan Melalui Pakaian

Transformasi fisik yang diinginkan Peter I tidak berhenti pada janggut; ia juga memerintahkan perombakan total terhadap cara berpakaian rakyatnya melalui serangkaian dekret pada tahun 1700, 1701, dan 1705. Peter mewajibkan semua boyar, pejabat pemerintah, militer, dan warga kota (kecuali ulama dan petani di ladang) untuk meninggalkan pakaian tradisional Rusia yang panjang dan berat demi gaya Barat yang lebih pendek dan praktis.

Perbandingan Karakteristik Pakaian Tradisional dan Barat

Aspek Pakaian Tradisional Rusia (Pre-Petrine) Pakaian Gaya Barat (Petrine)
Bentuk dan Potongan Panjang, longgar, menutupi mata kaki; lengan menjuntai. Pendek, pas di badan; model coat Prancis atau Saxon, celana Jerman.
Simbolisme Budaya Kesalehan Ortodoks, status boyar yang kaku. Modernitas, profesionalisme, efisiensi militer.
Fungsionalitas Menghambat gerakan; tidak praktis untuk kerja industri atau militer. Mendukung mobilitas tinggi; dirancang untuk aktivitas aktif.
Biaya Produksi Seringkali dibuat di rumah dengan potongan kain lurus sederhana. Memerlukan teknik penjahitan Barat yang kompleks dan mahal.

Untuk memastikan dekret ini dipatuhi, Peter memerintahkan penempatan manekin yang mengenakan pakaian gaya Eropa di dekat dinding kota Moskow sebagai contoh visual. Mereka yang kedapatan mengenakan pakaian tradisional di kota akan dikenakan denda yang signifikan: 40 kopek untuk pejalan kaki dan 2 rubel untuk pengendara kuda. Sebagai gambaran, 16 kg daging pada saat itu hanya berharga sekitar 30-40 kopek, sehingga denda tersebut merupakan hukuman finansial yang serius. Bahkan, ada laporan tentang penjaga gerbang yang secara fisik memotong bagian bawah pakaian tradisional pria yang masuk ke kota agar sesuai dengan panjang standar gaya Eropa.

Reformasi ini juga menjangkau kaum perempuan, yang sebelumnya hidup dalam pengasingan domestik (terem) dan mengenakan pakaian berlapis-lapis yang menutupi seluruh tubuh. Peter memaksa mereka untuk hadir dalam majelis sosial dan pesta dansa dengan gaun gaya Jerman yang lebih terbuka. Rambut perempuan, yang sebelumnya harus disembunyikan karena dianggap sebagai bagian dari ketelanjangan tubuh, kini dipamerkan melalui gaya rambut fashionable dan penggunaan wig. Peter juga merombak standar kecantikan, mendorong penggunaan kosmetik alami Eropa sebagai pengganti kapur timbal tradisional yang berbahaya bagi kesehatan.

Dimensi Ekonomi: Pembiayaan Negara dan Industrialisasi

Meskipun sering dilihat sebagai kebijakan budaya yang eksentrik, Pajak Janggut dan reformasi pakaian memiliki dasar pemikiran ekonomi yang mendalam. Peter menggunakan perubahan estetika ini sebagai instrumen untuk membangun basis manufaktur domestik dan meningkatkan pendapatan negara melalui kebijakan merkantilis.

Transisi ke gaya berpakaian Barat menciptakan permintaan masif akan kain wol dan linen berkualitas tinggi yang sebelumnya harus diimpor dari pedagang Inggris dan Belanda. Untuk mengatasi ketergantungan pada pemasok asing, Peter mendorong pembukaan pabrik tekstil di Rusia. Antara tahun 1700 hingga 1725, jumlah pabrik tekstil melonjak drastis dari sekitar 20 menjadi lebih dari 200 perusahaan. “Great Cloth Court” (Bol’shoi sukonnyi dvor) didirikan di Moskow pada tahun 1705 untuk memproduksi seragam militer dan kain bagi masyarakat sipil.

Untuk mendukung industri baru ini, negara mengadopsi berbagai langkah strategis:

  1. Transfer Keahlian: Peter membawa penjahit dan ahli tekstil asing ke Rusia dan mewajibkan mereka melatih magang lokal agar pengetahuan penjahitan Barat tetap berada di dalam negeri.
  2. Kontrak dan Subsidi: Pemerintah memberikan kontrak jangka panjang (enam tahun) dan pembayaran di muka bagi pemilik pabrik untuk menjamin stabilitas produksi.
  3. Tenaga Kerja Paksa: Pengusaha pabrik diberi hak khusus untuk menggunakan tenaga petani (serfs) sebagai tenaga kerja, dan para pekerja ini sering kali dibebaskan dari pajak kepala (poll tax) untuk memastikan fokus penuh pada produksi kain.

Hasilnya, pada akhir masa pemerintahannya, Rusia berhasil mencapai surplus perdagangan di mana nilai ekspor barang mencapai dua kali lipat dari nilai impor. Industri metalurgi dan tekstil berkembang pesat, menjadikan Rusia salah satu produsen besi kasar terbesar di Eropa. Transformasi estetika fisik secara langsung memicu transformasi struktural dalam ekonomi Rusia.

Analisis Teoretis: Tubuh sebagai Properti Negara

Dari perspektif sosiopolitik, Pajak Janggut Peter I dapat dianalisis sebagai bentuk awal dari kekuasaan disipliner yang diuraikan oleh Michel Foucault dalam karyanya Discipline and Punish. Melalui kontrol atas janggut dan pakaian, Peter menciptakan apa yang disebut Foucault sebagai “tubuh yang patuh” (docile bodies)—tubuh yang dapat dibentuk, digunakan, ditransformasikan, dan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan mesin kekuasaan negara.

Peter melakukan “investasi politik atas tubuh” di mana tubuh subjek tidak lagi dipandang sebagai organisme biologis semata, melainkan sebagai target subjeksi politik dan alat produksi anatomi. Dengan mewajibkan pencukuran janggut, negara menegaskan hak kepemilikannya atas wajah subjeknya. Kekuasaan ini bekerja melalui “mikrofisika kekuasaan”—detail terkecil dari aktivitas fisik dan penampilan mental dianalisis dan dikendalikan untuk memastikan ketaatan serta efisiensi kerja yang maksimal.

Mekanisme ini juga melibatkan “penilaian normalisasi”. Penampilan fisik yang bersih dan berpakaian Barat menjadi standar “normal” yang ditetapkan oleh negara. Mereka yang tidak mematuhi standar ini secara otomatis menjadi “tampak” (visible) sebagai objek pengawasan dan hukuman. Token janggut berfungsi sebagai alat visibilitas; kegagalan menunjukkan token tersebut di gerbang kota membuat individu tersebut rentan terhadap intervensi fisik langsung oleh otoritas negara. Dalam sistem ini, tubuh subjek menjadi entitas yang diproduksi, diposisikan, dan dipenjarakan oleh teknik-teknik politik Tsar.

“Petrine Rift”: Dampak Sosiologis Jangka Panjang

Reformasi radikal Peter I menciptakan apa yang sering disebut oleh para sejarawan sebagai “Petrine Rift”—sebuah perpecahan budaya dan sosial yang mendalam dalam masyarakat Rusia. Kebijakan ini secara efektif membelah Rusia menjadi dua dunia yang berbeda.

Di satu sisi terdapat elit yang ter-Eropakan (Westernized elite)—para bangsawan, perwira militer, dan birokrat yang mencukur janggut, mengenakan pakaian gaya Prancis, dan mengadopsi gaya hidup Barat. Mereka menjadi perpanjangan tangan visual dari visi Peter tentang Rusia modern. Di sisi lain terdapat massa tradisional—kaum tani dan rakyat jelata di pedesaan yang tetap mempertahankan janggut dan pakaian tradisional Rusia. Karena Pajak Janggut bagi petani hanya dibayar saat masuk kota, mereka tetap menjadi basis pelestarian budaya lama Rusia.

Perpecahan ini bukan hanya masalah penampilan, melainkan juga bahasa, nilai, dan orientasi spiritual. Elit Rusia mulai merasa asing di tanahnya sendiri, memandang rakyat mereka sebagai massa yang “terbelakang”, sementara rakyat memandang elit mereka sebagai orang asing yang telah meninggalkan iman Ortodoks demi “kebiasaan jahat” asing. Krisis identitas nasional ini menjadi tema sentral dalam sejarah Rusia selama berabad-abad berikutnya, memicu perdebatan panjang tentang apakah Rusia harus menjadi bagian dari Barat atau tetap setia pada akar Slavia-Ortodoksnya.

Komparasi Global: Politik Pakaian di Kekaisaran Lain

Untuk memberikan perspektif ahli, sangat penting untuk melihat bagaimana Rusia tidak sendirian dalam menggunakan penampilan fisik sebagai instrumen kekuasaan. Kekaisaran besar lainnya di era modern awal juga mengadopsi langkah serupa untuk mengonsolidasi kekuasaan atau menandai identitas komunal.

Perbandingan Politik Pakaian Lintas Kekaisaran

Kekaisaran / Penguasa Kebijakan Utama Tujuan Politik Mekanisme Penegakan
Rusia (Peter I) Pajak Janggut dan Pakaian Barat. Modernisasi dan Westernisasi. Pajak berjenjang, token janggut, cukur paksa.
Ming China (Zhu Yuanzhang) Kembali ke Gaya Tang. Penghapusan pengaruh Mongol (Yuan); legitimasi Han. Kode pakaian ketat (Da Ming ling), hukuman bagi “husu”.
Ottoman (Selim III) Regulasi Warna dan Penutup Kepala. Menjaga hierarki religius (Muslim vs non-Muslim). Petugas dengan gunting memotong kerah yang terlalu lebar; denda.
Tokugawa Japan Hukum Kemewahan (Sumptuary Laws). Menjaga keseimbangan kelas; pembatasan pamer kekayaan. Penyitaan aset (Kessho), pengasingan bagi pelanggar.

Dalam kasus Dinasti Ming, Kaisar Hongwu menggunakan regulasi pakaian untuk menghapus memori tentang penjajahan Mongol, mewajibkan penggunaan jubah berkerah bulat dan sanggul rambut tradisional Tionghoa sebagai tanda kesetiaan subjek. Di Kekaisaran Ottoman, Sultan Selim III secara pribadi melakukan patroli penyamaran untuk memastikan perempuan dan kaum minoritas mematuhi batasan berpakaian untuk menjaga ketertiban sosial tradisional. Sebaliknya, Peter I melakukan langkah yang unik dengan menjadikan gaya berpakaian asing sebagai norma baru yang wajib diikuti, alih-alih melarangnya sebagai pengaruh korup.

Pencabutan Pajak dan Warisan Catherine yang Agung (1772)

Pajak Janggut tetap berlaku selama 74 tahun, melewati masa pemerintahan beberapa penerus Peter, termasuk keponakannya, Anna Ioannovna, yang dikenal sangat keras dalam menegakkan hukum tersebut. Namun, seiring dengan masuknya ide-ide Pencerahan di Rusia, kegunaan praktis dan moral dari pajak ini mulai dipertanyakan.

Pada tahun 1772, Permaisuri Catherine II (Catherine yang Agung) secara resmi menghapus Pajak Janggut. Keputusan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis:

  • Efisiensi Fiskal: Pajak ini tidak pernah menjadi komponen utama pendapatan negara dan biaya administrasinya sering kali tidak sebanding dengan hasilnya.
  • Stabilitas Sosial: Catherine ingin meredakan ketegangan dengan kaum tradisionalis dan Percaya Lama untuk memperkuat stabilitas kekuasaannya. Peraturan mengenai pakaian khusus bagi kaum Percaya Lama mulai direlaksasi.
  • Kedewasaan Budaya: Catherine merasa bahwa tujuan Peter untuk memodernisasi elit Rusia telah tercapai; gaya hidup Barat sudah mengakar kuat di kalangan aristokrasi sehingga tidak perlu lagi dipaksakan melalui pajak.

Meskipun pajaknya dihapus, janggut tetap menjadi simbol kelas di Rusia hingga abad ke-19. Pria bangsawan dan pejabat tetap memilih untuk tampil klimis untuk mempertahankan status sosial mereka, sementara janggut tetap menjadi milik petani dan pemuka agama. Reformasi Peter telah berhasil mengubah “wajah literal” Rusia selamanya, meninggalkan warisan berupa sebuah bangsa yang secara teknis modern namun secara sosiokultural terbelah.

Sintesis Akhir dan Warisan Budaya

Pajak Janggut tahun 1698 merupakan bukti nyata bahwa kedaulatan politik dapat diwujudkan melalui kontrol atas detail terkecil dari eksistensi manusia. Peter I tidak hanya membangun angkatan laut dan birokrasi, ia membangun “subjek baru” yang penampilannya mencerminkan ambisi geopolitik negara. Dengan menjadikan penampilan fisik sebagai instrumen kepatuhan, Peter berhasil mematahkan dominasi tradisi yang dianggapnya sebagai penghambat kemajuan, meskipun dengan biaya sosial dan religius yang sangat tinggi.

Warisan dari kebijakan ini tidak hanya ditemukan pada koin-koin tembaga yang langka di museum, tetapi juga pada cara pandang modern tentang hubungan antara tubuh dan kekuasaan negara. Eksperimen rekayasa sosial ini menunjukkan bahwa modernisasi sering kali bukan merupakan proses evolusi yang organik, melainkan tindakan paksa yang meninggalkan luka budaya permanen. Pajak Janggut tetap menjadi monumen bagi ambisi seorang penguasa absolut yang ingin menyeret bangsanya ke masa depan dengan cara mengubah setiap helai rambut wajah rakyatnya menjadi simbol loyalitas politik dan kemajuan peradaban. Melalui pisau cukur dan token tembaga, Peter I memastikan bahwa Rusia tidak akan pernah lagi terlihat sama di mata dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 10 = 20
Powered by MathCaptcha