Eksperimen kebijakan fiskal pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa Barat memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana struktur perpajakan dapat secara radikal mengubah perilaku manusia, estetika perkotaan, dan kesejahteraan fisik suatu bangsa. Pajak Jendela (Window Tax), yang diterapkan di Inggris dari tahun 1696 hingga 1851 dan di Prancis dari tahun 1798 hingga 1926, muncul sebagai solusi pragmatis bagi negara-negara yang membutuhkan pendapatan besar tanpa harus menginvasi privasi warga melalui pajak penghasilan langsung. Meskipun dirancang sebagai pajak progresif atas kekayaan, kebijakan ini secara tidak sengaja memicu fenomena penutupan jendela secara masal, menciptakan lingkungan perumahan yang gelap dan tidak sehat, serta meninggalkan jejak permanen pada sejarah arsitektur London dan Paris.

Paradigma Fiskal dan Motivasi Awal Penerapan Pajak

Munculnya pajak berbasis properti yang diukur dari indikator eksternal seperti jumlah jendela berakar pada ketegangan antara kedaulatan negara dan privasi individu. Di Inggris pada akhir abad ke-17, pemerintahan Raja William III menghadapi defisit keuangan yang parah akibat perang dengan Prancis dan krisis moneter yang disebabkan oleh praktik “coin clipping” atau pemotongan tepi koin perak. Untuk menutupi kekurangan kas negara, diperlukan instrumen pajak baru yang stabil dan sulit dihindari.

Sebelum Pajak Jendela, Inggris menerapkan Pajak Perapian (Hearth Tax) pada tahun 1662. Namun, pajak ini sangat dibenci karena petugas pajak, yang dikenal sebagai “chimney-men,” harus masuk ke dalam rumah untuk menghitung jumlah tungku dan perapian. Praktik ini dianggap sebagai pelanggaran privasi yang sangat invasif dalam masyarakat Inggris yang menghargai pepatah bahwa “rumah seorang pria adalah kastilnya”. Gagasan tentang pajak penghasilan bahkan lebih kontroversial; pada masa itu, dianggap bukan urusan pemerintah untuk mengetahui berapa banyak pendapatan yang diperoleh seseorang.

Sebagai alternatif, jendela dianggap sebagai proksi yang ideal untuk kekayaan. Logika yang mendasarinya adalah bahwa hanya individu yang makmur yang mampu memiliki rumah besar dengan banyak jendela. Karena jendela dapat dihitung dari luar oleh petugas pajak (sering dijuluki “window peepers”), penilaian pajak dapat dilakukan tanpa perlu memasuki ruang pribadi penghuni. Efisiensi administratif ini menjadikan Pajak Jendela sebagai instrumen pilihan bagi para teknokrat keuangan selama lebih dari satu setengah abad.

Evolusi Legislatif dan Mekanisme Tarif di Inggris (1696–1851)

Undang-undang Pajak Jendela Inggris yang pertama kali diperkenalkan melalui Taxation (No. 3) Act 1695 menetapkan struktur yang pada awalnya terlihat moderat namun secara progresif menjadi lebih berat. Sistem ini dibagi menjadi dua bagian: biaya tetap per rumah dan biaya tambahan variabel berdasarkan jumlah jendela.

Periode Awal (1696) Ambang Batas Jendela Tarif Dasar (Fixed) Tarif Variabel (Variable) Total Pajak per Tahun
Rumah Kecil/Pondok < 10 jendela Dibebaskan Tidak ada 0
Rumah Standar < 10 jendela 2 shilling Tidak ada 2 shilling
Rumah Menengah 10 – 20 jendela 2 shilling 4 shilling 6 shilling
Rumah Besar > 20 jendela 2 shilling 8 shilling 10 shilling

Seiring waktu, kebutuhan pendapatan akibat perang menyebabkan tarif ini meningkat drastis. Pada tahun 1747, struktur pajak dirombak dengan memisahkan biaya rumah tetap sebesar 2 shilling dan memberlakukan tarif per jendela untuk kategori tertentu. Di bawah kepemimpinan William Pitt yang Muda pada akhir abad ke-18, pajak ini dinaikkan tiga kali lipat melalui Triple Assessment Act 1797 untuk mendanai konfrontasi militer dengan Napoleon. Kenaikan ini memicu gelombang penutupan jendela yang belum pernah terjadi sebelumnya karena pajak menjadi beban yang sangat berat, sering kali mencapai 30% hingga 50% dari nilai sewa properti di wilayah perkotaan seperti London.

Definisi tentang apa yang dianggap sebagai “jendela” juga menjadi subjek perdebatan hukum yang sengit. Karena undang-undang tidak memberikan definisi yang kaku, para penilai pajak cenderung menginterpretasikan setiap bukaan di dinding luar sebagai jendela. Ini mencakup lubang udara di gudang makanan, grates ventilasi, celah di ruang bawah tanah, hingga lubang kecil yang tercipta jika sebuah bata jatuh dari dinding. Perluasan definisi ini menyebabkan kemarahan publik yang besar, karena elemen-elemen yang dirancang untuk sanitasi dasar pun menjadi objek pemajakan.

Implementasi di Prancis: Konteks Pasca-Revolusi dan “Quatre Vieilles”

Di Prancis, pajak serupa diperkenalkan jauh setelah Inggris, yakni pada tanggal 24 November 1798 (4 Frimaire an VII) oleh pemerintah Directoire. Dalam konteks krisis keuangan pasca-revolusi, Menteri Keuangan Ramel mencari cara untuk membiayai pengeluaran negara yang membengkak akibat perang dan ketidakstabilan ekonomi. Pajak atas pintu dan jendela (“impôt sur les portes et fenêtres”) menjadi salah satu dari “Quatre Vieilles” atau empat kontribusi langsung utama yang menopang fiskal Prancis selama lebih dari satu abad.

Prinsip perpajakan Prancis mirip dengan Inggris, namun dengan cakupan yang lebih luas yang menyertakan pintu sebagai objek pajak. Penentu tarif tidak hanya didasarkan pada jumlah bukaan, tetapi juga pada kepadatan penduduk di komune tempat bangunan tersebut berdiri, yang dianggap sebagai indikator nilai ekonomi properti.

Populasi Komune Tarif per Bukaan (Franc)
< 5.000 jiwa 0,20 Franc
5.000 – 10.000 jiwa 0,25 Franc
10.000 – 25.000 jiwa 0,30 Franc
25.000 – 50.000 jiwa 0,40 Franc
50.000 – 100.000 jiwa 0,50 Franc
> 100.000 jiwa 0,60 Franc

Salah satu perbedaan krusial di Prancis adalah perlakuan terhadap jendela mullion (fenêtres à meneaux). Jendela-jendela besar yang dibagi oleh palang kayu atau batu sering kali dihitung sebagai empat jendela terpisah, yang secara signifikan meningkatkan kewajiban pajak bagi pemilik bangunan kuno. Ketentuan ini mendorong banyak pemilik rumah untuk menghancurkan detail arsitektur klasik mereka guna menyederhanakan jendela menjadi satu unit tunggal demi penghematan fiskal.

Dampak Arsitektural: Fasad Buta dan “Pitt’s Pictures”

Konsekuensi paling kasat mata dari pajak ini adalah perubahan fisik pada bangunan-bangunan di seluruh Inggris, Skotlandia, dan Prancis. Pemilik properti merespons secara rasional terhadap beban pajak dengan menutup jendela yang sudah ada atau membangun rumah baru dengan bukaan seminimal mungkin. Fasad bangunan Georgian dan Victorian di London sering kali menampilkan jendela-jendela yang diisi dengan bata secara permanen, sebuah praktik yang dikenal sebagai menciptakan “fasad buta”.

Di Inggris, jendela-jendela yang ditutup ini secara satir disebut sebagai “Pitt’s Pictures” (Gambar-Gambar Pitt), merujuk pada Perdana Menteri William Pitt yang dianggap merampas cahaya matahari dari rakyatnya. Di Skotlandia, masyarakat menemukan cara yang lebih kreatif untuk menghindari pajak sekaligus mempertahankan penampilan luar bangunan; mereka sering menutup jendela dengan papan atau bata tetapi mengecatnya agar terlihat seperti jendela asli dari kejauhan, lengkap dengan bingkai putih dan bayangan tirai.

Di Prancis, blokade jendela juga terjadi secara masif, terutama di Paris. Banyak bangunan dari era Haussmann yang masih menunjukkan jendela-jendela yang diblokir atau jendela palsu yang dirancang untuk menjaga simetri fasad bangunan tanpa menambah beban pajak. Penggunaan trompe-l’œil atau lukisan jendela palsu menjadi solusi populer bagi pemilik gedung yang ingin mempertahankan estetika arsitektur yang seimbang sambil menghindari biaya tambahan.

Jenis Adaptasi Arsitektural Mekanisme dan Motivasi Lokasi Umum
Blokade Bata (Bricked-up) Menutup bukaan dengan material dinding untuk menghapus status “jendela” secara permanen London, Paris, Bordeaux
Jendela Palsu (Trompe-l’œil) Melukis jendela di atas dinding buntu untuk menjaga simetri fasad Paris, Nice, Lyon
Desain Minimalis Konstruksi bangunan baru dengan jumlah jendela seminimal mungkin Kota-kota industri baru
Pintu Double Dutch Pintu yang bagian atasnya berfungsi sebagai jendela tetapi secara hukum dihitung sebagai pintu Pedesaan Inggris dan Irlandia

Dampak pajak ini juga meluas ke industri manufaktur. Produksi kaca di Inggris dari tahun 1810 hingga 1851 tercatat tetap statis meskipun terjadi ledakan populasi dan pembangunan rumah, karena pengembang secara sengaja membatasi penggunaan kaca dalam desain mereka guna meminimalkan eksposur pajak bagi calon pembeli atau penyewa.

Analisis Ekonomi: Kerugian Kesejahteraan dan “Takikan” Pajak

Para ekonom sering menggunakan Pajak Jendela sebagai studi kasus klasik mengenai “beban berlebih” (excess burden) atau kerugian bobot mati (deadweight loss). Ini terjadi ketika pajak mengubah perilaku ekonomi individu ke arah yang tidak optimal, menyebabkan kerugian kesejahteraan sosial yang lebih besar daripada jumlah uang yang dikumpulkan oleh pemerintah.

Pajak Jendela memiliki struktur “takikan” (notches), di mana peningkatan satu unit jendela dapat memicu lompatan besar dalam total kewajiban pajak untuk seluruh rumah. Sebagai contoh, di bawah peraturan tahun 1747–1760, sebuah rumah dengan 9 jendela tidak membayar pajak jendela tambahan, tetapi jika pemiliknya menambah satu jendela menjadi 10, ia harus membayar 6 pence untuk setiap jendela, sehingga total pajaknya melonjak dari 0 menjadi 60 pence (5 shilling) hanya karena penambahan satu jendela.

Statistik Ekonomi Pajak Jendela (1747-1757) Nilai / Dampak
Elastisitas Harga Permintaan Jendela 0.1485 (Sangat Inelastis)
Deadweight Loss Total 13.4% dari total pendapatan pajak
Deadweight Loss pada Ambang Batas (Notch) 62% bagi rumah tangga di titik takikan
Beban Marjinal $0.23 kerugian tambahan untuk setiap $1 pendapatan pajak

Data dari catatan pajak lokal menunjukkan adanya “bunching” atau penumpukan jumlah rumah dengan tepat 9, 14, atau 19 jendela—angka-angka yang tepat berada di bawah ambang batas kenaikan tarif. Pemilik rumah secara aktif memodifikasi bangunan mereka agar tetap berada di bawah ambang batas tersebut, yang membuktikan bahwa keputusan arsitektural didikte oleh pertimbangan fiskal alih-alih kebutuhan akan cahaya atau udara.

Bencana Kesehatan Masyarakat: Kota yang Gelap dan Tidak Sehat

Konsekuensi paling gelap dari kebijakan ini adalah dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi kaum miskin di perkotaan. Di kota-kota seperti London dan Edinburgh, kelas pekerja sering tinggal di bangunan tenement atau rumah sewa besar yang disekat-sekat. Meskipun dihuni oleh banyak keluarga, bangunan ini sering dianggap sebagai satu unit tempat tinggal tunggal oleh penilai pajak, yang berarti jendela di seluruh gedung dihitung bersama-sama dan dikenakan tarif tertinggi.

Landlord yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak cenderung menutup jendela sebanyak mungkin untuk menghemat pengeluaran. Hal ini menyebabkan unit-unit sewa menjadi gelap, lembap, dan sepenuhnya tanpa ventilasi alami. Kekurangan sinar matahari dan udara segar menciptakan “inkubator” yang sempurna bagi berbagai penyakit menular yang melanda Eropa pada abad ke-19.

Epidemi dan Penyakit Terkait

Para tenaga medis pada masa itu mulai mendokumentasikan korelasi yang jelas antara ketiadaan jendela dan penyebaran penyakit:

  • Typhus dan Kolera: Penyakit ini menyebar dengan cepat di lingkungan yang pengap dan sesak. Laporan tahun 1845 dari Komite Kesehatan Sunderland menyatakan bahwa penutupan jendela untuk menghindari pajak secara langsung memperparah tingkat kematian akibat epidemi di wilayah tersebut.
  • Smallpox (Cacar): Epidemi cacar sering kali mencapai tingkat kematian tertinggi di pemukiman tanpa ventilasi yang memadai.
  • Rickets (Rakhitis): Kurangnya paparan sinar matahari pada anak-anak di kota-kota Inggris menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang yang parah. Penyakit ini bahkan dikenal di daratan Eropa sebagai “maladie anglaise” atau penyakit Inggris karena prevalensinya yang sangat tinggi di sana.
  • Tuberculosis (TBC): Bakteri TBC berkembang biak di ruangan yang gelap dan lembap di mana sinar matahari (yang mengandung UV pembunuh kuman) tidak dapat menjangkau.

Sebuah laporan medis terkenal oleh Dr. D.B. Reid pada tahun 1845 menggambarkan sebuah rumah di Sunderland di mana setiap jendela yang mungkin bisa ditutup telah ditembok untuk menghindari pajak. Ketiadaan ventilasi menyebabkan bau busuk yang luar biasa dan menjadi sumber penyebaran demam yang akhirnya menewaskan 52 orang di lingkungan sekitarnya.

Kritik Sastra dan Oposisi Publik: “Daylight Robbery”

Ketidakpopuleran Pajak Jendela memicu perlawanan sosial yang luas, yang terekam dalam literatur dan budaya populer masa itu. Istilah “daylight robbery” (perampokan di siang bolong) secara luas dipercaya berasal dari pajak ini, menggambarkan betapa kasarnya tindakan negara dalam “merampok” cahaya matahari yang seharusnya gratis bagi semua orang. Meskipun penggunaan cetak pertama istilah ini baru muncul pada tahun 1916, sentimen yang diwakilinya telah menjadi bagian dari kesadaran kolektif sejak abad ke-18.

Penulis besar seperti Charles Dickens menjadi salah satu kritikus yang paling vokal terhadap pajak ini di Inggris. Dalam terbitannya pada tahun 1850, Dickens menulis dengan nada pedas bahwa “udara dan cahaya tidak lagi bebas sejak pengenaan pajak jendela… rakyat yang tidak mampu membayar terpaksa dikurangi dua kebutuhan hidup yang paling mendesak”. Dickens menekankan bahwa pajak ini tidak hanya membebani keuangan tetapi secara harfiah menghambat kehidupan manusia.

Di Prancis, Victor Hugo memberikan suara bagi penderitaan rakyat melalui novelnya Les Misérables. Hugo mengecam kebijakan tersebut dengan menyatakan bahwa “Tuhan memberikan udara kepada manusia, hukum menjualnya kepada mereka”. Ia menggambarkan bagaimana keluarga miskin, anak-anak, dan orang tua harus tinggal di tempat persembunyian yang gelap dan berpenyakit hanya karena mereka tidak mampu membayar hak untuk memiliki jendela. Kritik dari tokoh-tokoh besar ini membantu mengubah persepsi publik dari sekadar keluhan tentang biaya menjadi masalah moral dan hak asasi manusia atas kesehatan dasar.

Gerakan Kesehatan Masyarakat dan Kampanye Penghapusan

Pada pertengahan abad ke-19, muncul gerakan “hygiénistes” di seluruh Eropa yang didorong oleh kemajuan ilmu kedokteran dan statistik sosial. Para dokter dan ilmuwan mulai memahami hubungan antara kebersihan lingkungan dan penyakit, yang kemudian memicu desakan kuat untuk reformasi perkotaan.

Di Inggris, Health of Towns Association menjadi motor penggerak utama dalam menentang Pajak Jendela. Mereka berargumen bahwa kerugian ekonomi akibat hilangnya produktivitas pekerja karena penyakit jauh melampaui pendapatan yang dikumpulkan dari pajak tersebut. Pada bulan April 1850, sebuah mosi untuk mencabut pajak ini gagal di Parlemen hanya dengan selisih tiga suara, yang memicu kampanye nasional yang lebih agresif sepanjang tahun 1850 dan 1851.

Akhirnya, pada tanggal 24 Juli 1851, Pajak Jendela di Inggris secara resmi dihapus di bawah tekanan publik dan rekomendasi medis yang sangat kuat. Sebagai gantinya, pemerintah memperkenalkan “Inhabited House Duty” yang didasarkan pada nilai sewa properti, sebuah sistem yang dianggap lebih adil dan tidak merugikan kesehatan fisik penghuninya.

Di Prancis, perlawanan serupa terjadi namun pajak ini bertahan jauh lebih lama. Meskipun para ahli kesehatan terus mendesak penghapusannya sejak pertengahan abad ke-19, stabilitas pendapatan yang diberikan oleh “Quatre Vieilles” membuat pemerintah enggan melepaskannya. Baru pada tahun 1926, setelah 128 tahun berlaku, Prancis akhirnya menghapus pajak pintu dan jendela dan menggantikannya dengan pajak penghasilan modern yang lebih progresif.

Warisan Fisik dan Budaya: Dunia Tanpa Pajak Cahaya

Penghapusan Pajak Jendela membawa perubahan segera dalam arsitektur urban. Pada tahun yang sama dengan penghapusan pajak di Inggris (1851), Crystal Palace dibangun di London untuk Pameran Besar. Struktur megah ini, yang terbuat dari 294.000 panel kaca, berdiri sebagai simbol kemenangan cahaya dan udara segar atas kegelapan era fiskal sebelumnya.

Setelah 1851, rumah-rumah Victorian mulai dibangun dengan jendela-jendela yang lebih besar dan lebih banyak, termasuk kemunculan jendela bay (bay windows) yang populer karena memberikan pencahayaan maksimum. Kemajuan dalam teknologi manufaktur kaca piring (plate glass) juga memungkinkan penggunaan panel kaca yang lebih besar dan berat, yang menggantikan desain jendela kecil era Georgian yang sangat dipengaruhi pajak.

Secara budaya, Pajak Jendela tetap menjadi “kisah peringatan” dalam sejarah kebijakan publik. Ini menunjukkan bagaimana pajak yang tampak masuk akal di atas kertas dapat menghasilkan konsekuensi yang menghancurkan jika mengabaikan kebutuhan dasar manusia dan respons psikologis masyarakat.

Kesimpulan dan Pelajaran bagi Kebijakan Modern

Analisis sejarah terhadap Pajak Jendela di Inggris dan Prancis mengungkapkan bahwa kebijakan fiskal tidak pernah bersifat netral. Ia adalah kekuatan arsitektural dan biologis yang mampu membentuk wajah kota dan menentukan tingkat mortalitas warganya. Pelajaran utama dari fenomena ini meliputi:

  1. Distorsi Perilaku: Setiap “takikan” atau ambang batas dalam pajak akan memicu perilaku penghindaran yang sering kali merusak (seperti menutup ventilasi dasar).
  2. Ketimpangan Beban: Meskipun dirancang sebagai pajak kekayaan, dalam praktiknya ia sangat membebani penyewa miskin di perkotaan yang tidak memiliki kendali atas desain bangunan mereka.
  3. Prioritas Kesehatan: Biaya sosial dari sanitasi yang buruk akibat pajak dapat melampaui manfaat pendapatan fiskal bagi negara dalam jangka panjang.

Hingga hari ini, sisa-sisa jendela yang ditutup di London dan Paris bukan hanya sekadar keanehan arsitektur, melainkan pengingat fisik akan masa di mana negara mencoba menjual cahaya matahari kepada rakyatnya—dan bagaimana rakyat merespons dengan memilih untuk hidup dalam kegelapan demi kelangsungan ekonomi. Sejarah ini menegaskan bahwa kebijakan yang paling efektif adalah kebijakan yang selaras dengan kesejahteraan manusia, bukan yang menentangnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 3 = 2
Powered by MathCaptcha