Fenomena Albania di bawah kepemimpinan Enver Hoxha mewakili eksperimen sosial yang paling radikal dan ekstrem dalam sejarah modern, di mana sebuah negara secara formal dan konstitusional menghapuskan Tuhan dari ruang publik dan privat. Deklarasi resmi Albania sebagai “Negara Ateis Pertama di Dunia” pada tahun 1967 bukan sekadar perubahan kebijakan politik, melainkan upaya sistematis untuk merekayasa ulang kesadaran manusia dan identitas nasional melalui penghancuran total institusi keagamaan. Melalui lensa teori politik totaliterisme dan studi keamanan internasional, kebijakan ini dapat dipahami sebagai bentuk “ateisme fundamentalis” yang menggunakan kekerasan negara untuk memaksakan pandangan dunia materialis-ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran yang diakui.
Transformasi Ideologis: Dari Marxisme ke Ateisme Negara
Akar dari kebijakan “Negara Tanpa Tuhan” ini tertanam dalam ideologi Marxisme-Leninisme yang diadopsi secara kaku oleh Partai Kerja Albania (PPSH). Bagi Enver Hoxha, agama bukan hanya “opium bagi rakyat” sebagaimana yang dinyatakan Karl Marx, tetapi juga sebuah ancaman keamanan nasional yang harus diberantas demi kemajuan sosialisme. Sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 1944, rezim komunis telah memulai proses ateisasi yang lambat namun pasti, yang pada akhirnya memuncak pada represi total di tahun 1967.
Latar belakang pribadi Enver Hoxha memainkan peran krusial dalam pembentukan kebijakan ini. Ia tumbuh besar di era Raja Zog tanpa pendidikan agama yang memadai dan sangat dipengaruhi oleh pamannya, Hysen Hoxha, seorang ateis patriotik yang mengajarkan nasionalisme Albania yang keras sebagai tandingan terhadap pengaruh asing. Hoxha memandang agama sebagai instrumen kolonisasi dan pengaruh asing; Katolik dianggap sebagai perpanjangan tangan Italia dan Vatikan, Ortodoks sebagai alat pengaruh Yunani dan Serbia, serta Islam sebagai warisan penjajahan Ottoman. Dengan demikian, pembersihan agama dipandang sebagai tindakan pemurnian nasional dan kedaulatan absolut.
Keunikan Albania dibandingkan dengan negara-negara komunis lainnya di Blok Timur terletak pada tingkat isolasi dan “hyper-Stalinisme” yang diterapkan. Sementara Uni Soviet masih mengizinkan keberadaan gereja di bawah kontrol ketat negara, Albania di bawah Hoxha tidak mentoleransi adanya ruang bagi iman transendental dalam bentuk apa pun. Kebijakan ini merupakan upaya ekstrem untuk menghapus otonomi individu dan memperdalam kontrol totaliter hingga ke dalam hati nurani setiap warga negara.
Kerangka Hukum dan Konstitusionalitas Ateisme
Legitimasi kebijakan “Negara Tanpa Tuhan” dibangun di atas fondasi hukum yang semakin represif. Transisi dari negara sekuler menjadi negara ateis secara formal dilakukan melalui serangkaian dekrit dan amandemen konstitusi yang secara efektif mengkriminalisasi kepercayaan kepada Tuhan.
Dekrit Legislatif No. 4337 (1967)
Pada tanggal 13 November 1967, rezim mengeluarkan Dekrit No. 4337 yang membatalkan status hukum semua organisasi keagamaan di Albania. Dekrit ini menjadi instrumen legal utama untuk menyita seluruh properti keagamaan dan melarang semua praktik ritus. Sejak saat itu, pasal-pasal dalam Konstitusi 1946 yang menjamin kebebasan beragama dan pemisahan gereja-negara dianggap tidak berlaku lagi.
Konstitusi 1976 dan Kode Kriminal 1977
Institusionalisasi ateisme mencapai puncaknya dengan pengadopsian Konstitusi baru pada tahun 1976. Albania menjadi satu-satunya negara di dunia yang secara konstitusional mewajibkan penyebaran ateisme dan melarang agama. Berikut adalah rangkuman pasal-pasal kunci dalam kerangka hukum tersebut:
| Instrumen Hukum | Pasal/Ketentuan | Deskripsi dan Dampak |
| Konstitusi 1976 | Pasal 37 | Negara tidak mengakui agama apa pun dan mendukung propaganda ateis untuk menanamkan pandangan dunia materialis-ilmiah. |
| Konstitusi 1976 | Pasal 49 | Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan komunis bagi anak-anak mereka, melarang doktrin agama di rumah. |
| Konstitusi 1976 | Pasal 55 | Larangan terhadap pembentukan organisasi apa pun yang bersifat religius atau anti-sosialis. |
| Kode Kriminal 1977 | Pasal 55 | Aktivitas keagamaan diklasifikasikan sebagai tindakan yang melemahkan kediktatoran proletar, diancam penjara 3-10 tahun. |
| Kode Kriminal 1977 | Hukuman Mati | Dalam kondisi perang atau konsekuensi serius, praktik agama dapat dihukum mati. |
Penerapan hukum ini menciptakan iklim ketakutan di mana ekspresi iman, bahkan dalam lingkup privat, dianggap sebagai kejahatan terhadap negara. Hukum ini tidak hanya menyasar para klerus, tetapi juga masyarakat awam yang kedapatan menyimpan benda-benda religius atau melakukan doa secara sembunyi-sembunyi.
Penghancuran Fisik dan Alih Fungsi Ruang Suci
Setelah proklamasi tahun 1967, pemerintah meluncurkan kampanye agresif untuk menghapus kehadiran fisik agama dari lanskap Albania. Dengan bantuan tenaga kerja “sukarela” dari kalangan pemuda dan militer, ribuan masjid, gereja, biara, dan tekke (pusat sufi) dihancurkan atau diubah fungsinya secara radikal.
Statistik Penghancuran Infrastruktur Agama
Berdasarkan data resmi dan laporan jurnalistik dari era tersebut, skala penghancuran ini mencakup lebih dari dua ribu bangunan yang selama berabad-abad telah menjadi pusat spiritual dan budaya masyarakat Albania.
| Kategori Bangunan Ibadah | Estimasi Jumlah yang Dihancurkan/Dialihfungsikan |
| Masjid (Sunni dan Bektashi) | 740 |
| Gereja Ortodoks | 609 |
| Gereja Katolik | 158 |
| Tekke dan Pusat Sufi | 530 |
| Total Keseluruhan | 2.169 |
Hanya dalam hitungan bulan, pada Agustus 1967, hampir semua tempat ibadah telah razed (diratakan) atau disita. Penghancuran ini sering kali dilakukan dengan menggunakan dinamit dan tank untuk menunjukkan kekuatan absolut negara atas institusi spiritual.
Alih Fungsi Bangunan sebagai Penghinaan Simbolis
Pemerintah tidak hanya menghancurkan, tetapi juga melakukan tindakan desekrasi (penajisan) dengan mengubah fungsi rumah ibadah menjadi fasilitas sekuler yang bertolak belakang dengan fungsi aslinya. Strategi ini bertujuan untuk mempermalukan umat beragama dan menunjukkan bahwa kebutuhan material negara lebih utama daripada kebutuhan spiritual.
- Katedral Shkodër: Diubah menjadi arena olahraga dan gimnasium.
- Masjid Raja (Mbret) Elbasan: Menjadi studio patung bagi seniman yang membuat patung-patung diktator.
- Gereja Katolik: Banyak yang diubah menjadi bioskop karena tata letak basilika mereka yang memudahkan konversi.
- Masjid Desa: Sering kali diubah menjadi gudang gandum, kandang ternak, atau tempat pembuatan roti (bakery).
- Minaret: Ribuan menara masjid dihancurkan, menyisakan hanya bangunan utama yang diubah menjadi gudang atau pusat kebudayaan pemuda.
Beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah luar biasa, seperti Masjid Ethem Bey di Tirana, dipertahankan sebagai “monumen kebudayaan” tetapi dilarang untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Simbol-simbol agama juga dihapus dari ruang publik, termasuk dari batu nisan di pemakaman, di mana salib dan lambang religius lainnya diganti dengan bintang merah.
Peran Sigurimi: Teror dan Penegakan Ateisme
Keberhasilan rezim Hoxha dalam mempertahankan Albania sebagai negara tanpa Tuhan selama lebih dari dua dekade sangat bergantung pada efektivitas Sigurimi (Direktorat Keamanan Negara). Sebagai polisi rahasia yang paling brutal di Eropa Timur, Sigurimi bertugas memantau ketaatan ideologis warga dan menumpas sisa-sisa praktik keagamaan.
Metode Pengawasan dan Jaringan Informan
Sigurimi memiliki jaringan informan yang merambah ke setiap keluarga. Diperkirakan setiap warga ketiga pernah berurusan dengan Sigurimi, baik melalui interogasi, pengawasan, atau kerja paksa. Markas pusat penyadapan mereka, yang kini dikenal sebagai “House of Leaves” di Tirana, menunjukkan betapa canggihnya teknologi penyadapan dan pengawasan yang digunakan untuk mendeteksi suara doa atau percakapan religius di ruang privat.
Aktivitas Sigurimi tidak hanya terbatas pada pencegahan kejahatan fisik, tetapi lebih pada “kontrol politik dan ideologis”. Mereka mengawasi sekolah, tempat kerja, dan organisasi budaya untuk memastikan tidak ada pengaruh agama yang menyusup.
Kekejaman dan Metode Penyiksaan
Lembaga Studi Kejahatan Komunis di Albania mencatat setidaknya 36 metode penyiksaan yang digunakan oleh Sigurimi untuk menghancurkan mental dan fisik penganut agama dan pembangkang politik.
| Metode Penyiksaan Sigurimi | Deskripsi Dampak |
| Metode Karung Kucing | Korban dimasukkan ke dalam karung bersama kucing, lalu kucing tersebut dipukuli hingga mencakar dan menggigit korban dengan beringas. |
| Sengatan Listrik | Digunakan pada bagian tubuh yang sensitif, termasuk genital, untuk memaksa pengakuan. |
| Eksploitasi Suhu Ekstrem | Korban ditelanjangi di udara dingin atau dibakar dengan kawat panas. |
| Deprivasi Tidur dan Nutrisi | Tahanan dibiarkan kelaparan hingga dalam beberapa kasus terpaksa memakan muntahan mereka sendiri. |
| Penyiksaan Psikologis | Memaksa korban memakan kotoran manusia atau menempatkan mereka dalam peti mati hidup-hidup. |
Selama rezim Hoxha, diperkirakan antara 6.000 hingga 7.000 orang dieksekusi secara langsung, dan lebih dari 300.000 orang dibuang ke kamp kerja paksa di mana mereka bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Rekayasa Identitas: Nama dan Toponimi sebagai Instrumen Politik
Salah satu upaya paling radikal dalam menghapus identitas budaya religius Albania adalah melalui kontrol terhadap nama individu dan nama geografis. Rezim Hoxha percaya bahwa selama nama-nama religius masih ada, pengaruh “reaksi lama” akan terus membayangi masyarakat sosialis yang baru.
Dekrit No. 5354 dan Nama “Illyrian”
Pada tahun 1975, melalui Dekrit No. 5354, pemerintah mewajibkan warga yang memiliki nama “tidak layak” secara ideologis atau moral untuk mengubah nama mereka. Nama-nama yang memiliki konotasi Islam, Katolik, atau Ortodoks harus diganti dengan nama-nama yang dianggap “murni Albania” atau berakar pada tradisi kuno Illyrian.
| Kategori Nama yang Diizinkan | Contoh Nama | Motivasi Ideologis |
| Nama Alam dan Harapan | Agim (Fajar), Drita (Cahaya), Gëzim (Joy), Shpresa (Harapan) | Menanamkan optimisme sekuler dan masa depan cerah di bawah sosialisme. |
| Nama Illyrian/Kuno | Ilir, Taulant, Ardian, Teuta | Menekankan kontinuitas etnis Albania tanpa perantara agama. |
| Nama Nasionalis/Simbolis | Flamur (Bendera), Çlirim (Pembebasan), Valon (Berkibar) | Mengaitkan identitas pribadi langsung dengan simbol negara. |
| Nama Ideologis | Enver (setelah Hoxha), Proleter | Menunjukkan loyalitas absolut kepada pemimpin dan partai. |
Kebijakan ini menciptakan dilema identitas ganda, di mana individu menggunakan nama sekuler di sekolah atau kantor pemerintah, namun tetap dipanggil dengan nama baptis atau nama Islam mereka di dalam rumah secara rahasia.
Pembersihan Nama Geografis
Lebih dari 90 kota, desa, dan situs geografis yang dinamai berdasarkan orang suci atau memiliki makna religius diubah namanya menjadi sekuler. Contohnya, tempat-tempat yang diawali dengan “Shën” (Santo) diganti dengan nama-nama pahlawan perang atau konsep revolusioner. Tindakan ini melenyapkan kaitan historis antara geografi tanah air dengan tradisi keagamaan yang telah ada selama ribuan tahun.
Albanianisme: Agama Baru dari Negara Totaliter
Untuk mengisi kekosongan spiritual yang ditinggalkan oleh penghapusan agama-agama tradisional, Enver Hoxha mempromosikan doktrin “Albanianisme” (Shqiptaria) sebagai agama sipil negara. Berbasis pada tulisan-tulisan para nasionalis abad ke-19, Albanianisme menempatkan bangsa, bahasa, dan partai sebagai objek pemujaan yang sakral.
Sakralisasi Politik
Dalam sistem ini, Hoxha tidak lagi sekadar pemimpin politik, tetapi diposisikan sebagai figur penyelamat (messianic). Penulis pembangkang Arshi Pipa menggambarkan ideologi ini dengan kalimat ironis: “Tidak ada Tuhan, dan Enver Hoxha adalah Nabi-Nya”. Tulisan-tulisan Hoxha menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah, menggantikan kitab suci.
Ritual-ritual keagamaan digantikan oleh perayaan sekuler yang didesain untuk memperkuat mitos pendirian negara komunis. Kalender libur nasional dimodifikasi berkali-kali antara 1945 dan 1972 untuk secara bertahap menghapus hari raya agama dan memperkenalkan festival-festival buruh dan peringatan perlawanan partisan.
| Perayaan Sekuler Pengganti | Makna Ideologis |
| Dita e Verës (14 Maret) | Festival musim semi kuno yang diinterpretasikan sebagai perayaan pembaruan alam tanpa Tuhan. |
| Hari Buruh (1 Mei) | Pengalihan fokus dari pengabdian kepada Tuhan menjadi pemujaan terhadap kelas pekerja dan partai. |
| Hari Pembebasan (29 November) | Mitos pendirian utama rezim, memperingati pengusiran penjajah Nazi sebagai kemenangan komunisme. |
| Tahun Baru (1-2 Januari) | Menjadi perayaan keluarga terbesar, menggantikan Natal dan Idul Fitri sebagai momen puncak kebersamaan. |
Meskipun Albanianisme berhasil menciptakan rasa persatuan nasional di bawah tekanan, hal itu juga menanamkan xenofobia dan paranoia terhadap dunia luar, yang digambarkan sebagai “lingkaran musuh” yang selalu mengancam kedaulatan Albania.
Resistensi Diam: Iman di Balik Bayang-Bayang
Meskipun represi negara begitu menyeluruh, iman keagamaan tidak sepenuhnya mati; ia berpindah ke ruang-ruang gelap dan tersembunyi. Sejarah Albania selama periode 1967-1990 dipenuhi dengan kisah-kisah perlawanan sunyi yang menunjukkan ketangguhan jiwa manusia di hadapan mesin totaliter.
Gereja dan Masjid “Bawah Tanah”
Karena semua tempat ibadah ditutup, ritual keagamaan dilakukan secara klandestin. Keluarga-keluarga Katolik di utara terus membaptis anak-anak mereka secara rahasia. Bishop Simon Kulli dari Sapë mengenang bagaimana kakek-neneknya membaptisnya secara sembunyi-sembunyi saat ia baru berusia satu minggu.
Suster Maria Kaleta, seorang biarawati Stigmatine, menjadi legenda hidup karena keberaniannya memberikan sakramen baptis dan membawa Komuni Suci kepada orang sakit selama dekade-dekade tergelap. Ia menyembunyikan hosti yang dikonsekrasi oleh pendeta di penjara di dalam tumpukan pakaian kotor agar bisa diselundupkan keluar. Di rumah-rumah, warga berdoa secara berbisik dan menggunakan benda-benda rumah tangga biasa sebagai simbol iman; nisan di pemakaman terkadang memiliki ukiran kecil salib yang disembunyikan di bawah lapisan semen.
Pelestarian Artefak dan Manuskrip
Individu-individu pemberani mengambil risiko besar untuk menyelamatkan artefak religius dari penghancuran. Ada laporan tentang keluarga-keluarga yang menyembunyikan naskah Al-Qur’an dan Injil kuno di dalam dinding rumah mereka atau menguburnya di dalam tanah. Sejarawan seni Machiel Kiel melakukan perlawanan intelektual dengan membuat sketsa rahasia dari monumen-monumen Islam sebelum mereka diratakan oleh pemerintah, memastikan bahwa bukti fisik keberadaan mereka tetap tercatat dalam sejarah.
Keteguhan iman ini juga terlihat pada para imam yang menolak untuk bekerja sama dengan Sigurimi meskipun ditawari kebebasan atau jabatan. Banyak dari mereka memilih untuk menghabiskan sisa hidup mereka di penjara atau pengasingan daripada harus mengingkari iman mereka.
Para Martir Negara Ateis
Harga yang harus dibayar untuk mempertahankan iman di Albania sangatlah mahal. Komunitas Katolik, khususnya, mencatat banyak kasus martir yang disiksa hingga tewas karena menolak melepaskan loyalitas mereka kepada Kristus dan Gereja.
| Nama Martir/Tokoh | Kisah Perlawanan dan Penderitaan |
| Maria Tuci | Seorang guru muda yang menolak membocorkan rahasia religius. Ia disiksa dalam karung kucing dan meninggal akibat luka-luka infeksi. |
| Pastor Lazer Shantoja | Disiksa sedemikian rupa hingga tidak bisa berjalan. Ibunya memohon agar ia ditembak mati demi mengakhiri penderitaannya. |
| Ndre Zadeja | Klerus pertama yang dieksekusi oleh regu tembak, menjadi simbol awal perlawanan gereja terhadap komunisme. |
| Ernest Kardinal Simoni | Selamat setelah 28 tahun di kamp kerja paksa. Ia terus melayani umat secara rahasia selama masa penahanan. |
| Dom Simon Jubani | Menghabiskan 26 tahun di penjara. Ia adalah orang yang memimpin misa publik pertama setelah jatuhnya komunisme. |
Kematian para martir ini dilakukan di tempat-tempat yang sengaja dirancang untuk mempermalukan mereka, seperti tembok pemakaman di Shkodra di mana mereka dipaksa berjalan melewati katedral yang telah dinajiskan sebelum ditembak mati. Namun, pengorbanan mereka justru menjadi benih bagi kebangkitan kembali agama di tahun 1990-an.
Perbandingan Global: Mengapa Albania Lebih Ekstrem?
Kebijakan Albania sering dibandingkan dengan upaya de-kristenisasi selama Revolusi Prancis atau penindasan agama di Uni Soviet dan Tiongkok. Namun, Albania tetap menjadi “kasus unik dalam skala global”.
Perbedaan dengan Uni Soviet dan Tiongkok
Di Uni Soviet, setelah era Stalin, terjadi pelonggaran di mana Gereja Ortodoks diizinkan berfungsi sebagai alat diplomasi negara. Di Tiongkok, meskipun Revolusi Kebudayaan menghancurkan ribuan kuil, tidak ada pernyataan konstitusional yang secara formal melarang keberadaan Tuhan di tingkat negara.
Hoxha menganggap Khrushchev di Uni Soviet sebagai “revisionis” karena bersikap terlalu lunak terhadap agama. Isolasi Albania yang ekstrem memungkinkan rezim untuk menerapkan kontrol yang tidak mungkin dilakukan di negara komunis yang lebih besar dan lebih terbuka. Albania secara efektif berubah menjadi sebuah “negara garnisun” di mana setiap bentuk perbedaan pendapat ideologis—terutama agama—dianggap sebagai pengkhianatan tingkat tinggi.
Keruntuhan Rezim dan Restorasi Kebebasan Beragama
Kematian Enver Hoxha pada tahun 1985 dan suksesi oleh Ramiz Alia menandai awal dari pelunakan bertahap, meskipun kebijakan ateisme tetap berlaku secara formal hingga tahun 1990. Tekanan internasional dan gejolak ekonomi domestik akhirnya memaksa rezim untuk memulihkan hak-hak dasar warganya.
Momen-Momen Kunci Restorasi (1990–1991)
Proses pemulihan agama di Albania berjalan dengan cepat dan penuh emosional:
- Misa Publik Pertama (November 1990): Pastor Simon Jubani merayakan misa di pemakaman Shkodra yang dihadiri oleh ribuan orang yang masih dalam ketakutan namun merindukan kebebasan.
- Pencabutan Larangan Hukum (April 1991): Parlemen Albania secara resmi mencabut larangan tahun 1967 terhadap aktivitas keagamaan.
- Pengorganisasian Kembali Komunitas Ibadah: Ordo Bektashi dan komunitas Muslim lainnya mulai mengorganisir diri kembali pada awal 1991, diikuti oleh Gereja Ortodoks yang merayakan Paskah pertama mereka secara terbuka setelah puluhan tahun.
Kunjungan Paus Yohanes Paulus II (1993)
Kunjungan kepausan pada April 1993 menjadi tonggak sejarah yang mengukuhkan kembalinya Albania ke pangkuan komunitas religius internasional. Paus menahbiskan empat uskup baru untuk mengisi kursi kepemimpinan gereja yang telah lama kosong akibat eksekusi dan pemenjaraan klerus sebelumnya.
Warisan Sosiologis: Albania di Masa Kini
Meskipun kebebasan beragama telah pulih sepenuhnya, dampak dari 23 tahun ateisme negara yang dipaksakan telah mengubah struktur sosial Albania secara permanen. Albania saat ini adalah negara sekuler yang sangat unik, di mana identitas keagamaan sering kali lebih bersifat kultural daripada praktis.
Sekularisme dan Toleransi
Hasil survei pasca-komunisme menunjukkan tren menarik dalam religiusitas masyarakat Albania :
- Identitas Atributif: Banyak warga Albania mengidentifikasi diri sebagai Muslim atau Kristen berdasarkan latar belakang keluarga, namun tidak menjalankan ritual secara rutin.
- Tingkat Praktik: Hanya sekitar 21,7% populasi yang mengunjungi tempat ibadah setidaknya sebulan sekali.
- Toleransi Beragama: Pengalaman penderitaan bersama di bawah rezim ateis telah memperkuat ikatan antar-agama. Albania dikenal memiliki tingkat toleransi tertinggi di Balkan, dengan banyaknya pernikahan beda agama dan tradisi merayakan hari raya agama lain bersama-sama.
Tantangan Restitusi dan Modernisasi
Tantangan terbesar yang dihadapi komunitas agama saat ini adalah pengembalian properti yang disita selama era komunis. Banyak lahan masjid dan gereja telah diubah menjadi bangunan komersial atau pemukiman, menciptakan sengketa hukum yang panjang. Selain itu, ada kekhawatiran tentang upaya kelompok radikal luar negeri untuk mengisi kekosongan identitas dengan doktrin yang bertentangan dengan tradisi toleransi lokal.
Kesimpulan: Pelajaran dari Eksperimen “Negara Tanpa Tuhan”
Kebijakan “Negara Tanpa Tuhan” di Albania (1967–1990) berdiri sebagai bukti nyata dari kegagalan totaliterisme dalam upayanya menghapus dimensi spiritual manusia. Meskipun rezim Enver Hoxha berhasil menghancurkan ribuan bangunan fisik dan mengeksekusi para pemimpin agama, mereka gagal mencabut iman yang berakar dalam hati nurani individu.
Kegagalan ini memberikan wawasan mendalam bagi para analis politik dan ahli hak asasi manusia bahwa pemaksaan ateisme melalui kekerasan negara justru sering kali memicu bentuk-bentuk resistensi yang lebih dalam dan mengarah pada pembentukan identitas nasional yang lebih pragmatis namun toleran di kemudian hari. Albania hari ini, dengan segala kompleksitas sekularismenya, adalah monumen hidup bagi kemenangan kebebasan berkeyakinan atas tirani ideologis yang paling ekstrem sekalipun. Strategi “Albanianisme” yang awalnya digunakan untuk memecah belah pengaruh agama asing, secara ironis, kini menjadi bingkai bagi harmoni antar-iman yang menjadi kebanggaan bangsa tersebut di panggung dunia.
