GOWA, LABUHANBATU.COM – 27 tahun lalu, tepat 26 September 1999 di Hotel Ambarukmo Yogyakarta, mata rantai perjuangan yang pernah terputus kembali disambung. Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) lahir sebagai kelanjutan cita-cita Partai Muslimin Indonesia (Masyumi) yang dipelopori 16 ormas Islam besar pada 1967.

27 tahun bukan waktu yang sebentar. Parmusi telah bertransformasi dari sebuah partai politik menjadi gerakan dakwah yang membumi. Dakwah yang menyentuh hingga ke pelosok desa melalui Gerakan Desa Madani.

Momen bersejarah itu diperingati di seluruh Indonesia. Di Sulawesi Selatan, tasyakkur Milad ke-27 digelar dalam nuansa sederhana, penuh syukur dan khidmat, pada Sabtu, 26 September 2026 di kediaman Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Parmusi Sulsel, Jalan Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa.

Ketua DPW Parmusi Sulsel, Dr. H. Abubakar Wasahua, SH., MH. pada momen bahagia itu mengingatkan pengurus agar senantiasa menjadikan Parmusi sebagai wadah perjuangan umat.

“Agar organisasi ini bisa menjadi besar, maka Parmusi harus mampu menghimpun dan mengakomodasi semua potensi ulil albab, ulil amri, ulil amwal dan anfus,” harapnya.

Ia juga berpesan enam hal: _Pertama,_ tetap meningkatkan ukhuwah Islamiyah dengan kekuatan umat lainnya. _Kedua,_ Parmusi harus menjadi kekuatan alternatif yang dapat diandalkan. _Ketiga,_ kader Parmusi sejatinya menjadi contoh teladan yang baik di tengah masyarakat. _Keempat,_ program Parmusi hendaknya dilaksanakan secara terukur, terencana, dan sistematis sehingga manfaatnya dapat dirasakan. _Kelima,_ jadikan Parmusi sebagai organisasi yang berguna bagi masyarakat dan sinergikan program kerjanya dengan program pembangunan pemerintah daerah. _Keenam,_ pengurus harus senantiasa merapatkan barisan, bahu-membahu menjadi alat dakwah yang efektif dalam menghadapi tantangan dakwah.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW Parmusi Sulsel, Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum., dalam testimoninya menekankan pentingnya menjaga kebersamaan, ukhuwah, dan komitmen bersama dalam menjalankan roda organisasi, terutama ikhtiar pembangunan Pondok Pesantren Madani Parmusi di Tombolo Pao, Gowa.

“Parmusi tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana, pada setiap lapisan masyarakat. Menjadi penghubung dan menjalin komunikasi antar ormas Islam,” ujar Guru Besar Sastra Unhas ini.

Ia juga mengingatkan komitmen Parmusi pada pendidikan dan dakwah. Pembangunan pondok pesantren yang sedang berjalan menjadi wujud nyata kepedulian Parmusi dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Secara pribadi saya merasa bangga menjadi bagian dari keluarga Parmusi. Semangat persaudaraan dan kekeluargaan ini mesti dipelihara untuk terus berkarya dan mengabdi pada umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 70 = 74
Powered by MathCaptcha